Filsafat, Memoir, Racauan

Ketika Tak Percaya

What’s a moment that made you question reality?

Ketika bangun pagi dan melihat pasanganku tidur di sebelahku.

Ketika hujan badai, dan aku aman dibalik jendela.

Ketika neon-neon kota menyala di tengah malam aku duduk di tepi tempat tidur bersama kasihku menontonnya dari kamar di gedung tinggi.

Ketika aku yang Atheist ini shalat dan membiarkan Tuhan bekerja mengatur dunia semaunya, ke arah yang bikin kita semua susah.

Ketika aku menyadari bahwa aku tidak membantu siapapun, tapi dibantu banyak orang.

Ketika kesempatan datang lagi, seperti de javu, dan aku menjadi piawai menguasai keadaan karena trauma menyelamatkanku.

Ketika kau membaca tulisan ini, diantara milyaran manusia yang tak sempat mampir kemari.

Filsafat, Racauan

Eseinosa, Akhirat dan Akhir

Cuma manusia, yang bisa membayangkan kalau hidup itu sia-sia. Agar tidak sia-sia, mereka menciptakan cerita. Ada cerita soal akhirat, ada cerita soal akhir.

Cerita akhirat membayangkan adanya dunia setelah kematian, yang ‘mungkin’ tidak sia-sia.

Cerita akhir membayangkan semuanya sementara dan akhir adalah akhir, maka hidup yang sia-sia dipakai untuk hedon, atau beramal baik demi meninggalkan warisan buat mereka yang melanjutkan kehidupan. Kesia-siaan adalah bagian dari cerita kehidupan, dan akan dirasakan semua yang hidup. Dan ketidak sia-siaan adalah milik orang lain selain diri sendiri.

Eseinosa adalah perjalanan spiritual saya, untuk mencapai kewarasan, kebijaksanaan, dan umur yang lebih panjang daripada kehidupan. Karena kalian yang kenal saya, akan tahu bahwa saya Atheist yang shalat.

Saya tidak percaya Tuhan, bahkan jika ia benar-benar ada. Tapi ibadah adalah teknologi, sebuah konsekuensi logis dari punya akal dan tubuh. Ibadah adalah privilise tiga spesies (sejauh ini): Homo Naledi, Neanderthal dan Homo Sapiens.

Dan ibadah bentuknya banyak tergantung apa yang dipercaya. Saya percaya pengetahuan. Karena kepercayaan hanya dimungkinkan oleh ketidaktahuan, kalau sudah tahu maka tidak perlu percaya lagi. Cukup tahu, dan percaya pada yang jelas diketahui saja. Saya tidak butuh kepercayaan, lebih butuh bukti dan argumen logis.

Saya tidak tahu banyak hal. Tapi bahwa menulis dan mencipta adalah hal yang saya tahu dan saya bisa, maka itulah saya ada.

Ketika nanti saya mati, ciptaan saya akan tetap ada, termasuk ide-ide saya di kepala kalian.

Sebentar lagi ada badai dari pikiran saya, tersebar di banyak kanal. Kalian mungkin tidak tahu bahwa itu saya. Nikmati saja, berenang, kalau bisa jangan tenggelam dalam amarah dan benci.

Karena kebodohan kalian bukan urusan saya. Kecerdasan kalian, bisa jadi urusan saya kalau kalian mau diskusi lebih lanjut.

Tabik!

Racauan

Kalau sudah terasing lalu apa?

Aku merasa begitu asing dengan dunia hari ini ketika aku melihat media sosial yang random dan di luar kebiasaanku. Pertama kali membuka Tiktok, sebelum ia merekam apa yang kusuka dan tidak kusuka, aku disuguhi apa yang banyak orang Indonesia suka, dan aku mau muntah. Begitupun ketika melihat facebook video yang random keluar di feed berdasarkan kesukaan banyak orang.

Aku tidak bilang bahwa apa yang orang suka, aku tidak paham. Aku hanya merasa bahwa yang kebanyakan orang suka adalah hal-hal banal, tentang seks, perselingkuhan, atau kisah-kisah agama yang sangat dangkal. Kurasa begitulah kebanyakan manusia hidup. Secara praktis apa yang kubaca dan kupikirkan tidaklah begitu berguna untuk kehidupan.

Inginnya sih berusaha rendah diri, dan melihat secara antropologis dan filosofis tentang eksistensi orang lain. Tapi bahkan aku tidak bisa melihat diriku sendiri dengan lebih dalam secara eksistensial. Semua misteri tentang keberadaan sudah terjawab. Tuhan tidak bisa dipercaya keberadaannya, dan kalaupun dia ada aku pun tidak mempercayai kebijakan dan apapun yang ia buat. Lalu keberadaanku dan seluruh manusia hingga sekarang cuma kebetulan saja dari sebuah struktur biologis yang tumbuh seperti kanker.

Dan dengan kemajuan teknologi media sosial dan kecerdasan buatan, semakin banyak kebodohan yang terlihat–karena orang cerdas memberikan orang-orang tolol kanal bersuara alih-alih membuka komunikasi dengan pendidikan. Aih, racauanku ini seperti tidak ada puasnga bikin masalah.

Namanya racauan, aku meracau saja dulu. Toh pada akhirnya semua ini politik saja. Semua orang berebut kuasa dalam konteksnya sendiri-sendiri, dalal lapisan-lapisan yang berbeda-beda dari borjuis kecil hingga pemilik modal, punya politik horizontalnya masing-masing. Pa

Pada akhirnya semua orang butuh kerja dan diatur masyarakat atau institusi untuk mendapatkan relevansinya masing-masing. Di luar itu manusia akan jadi anarkis atau gila saja.

***

Terima kasih sudah membaca tulisan ini sampai habis. Jika kamu suka yang kamu baca dan ingin dukung aku, traktir aku kopi, boleh? Biar semangat dan bisa nabung bayar website ini. Klik tombol di bawah.

Filsafat, Memoir, Racauan

Omnis Ardentior Amator Propriae Uxoris Adulter Est

Photo by Myriams Fotos on Pexels.com

Neraka punya satu aturan:

Omnis ardentior amator propriae uxoris adulter est

-cinta kepada hak milik orang lain adalah perzinahan-


Ketika saya baru saja lepas dari belenggu fundamentalisme Islam yang aneh di SMA, saya bercinta dengan seorang perempuan yang takkan pernah saya lupakan sampai saya mati. Percintaan nekat yang melanggar dua hal paling tabu dalam peradaban kita sekarang: [1] dia adalah kekasih pria lain, dan [2] dia Katolik.

Tapi untuk saya, cinta adalah agama paling mulia dan ibadah paling suci. Masih terasa aroma tubuh dengan parfum white musk, kulitnya yang putih dan halus bagai “tugu pualam” (mengutip Shakespeare), dan kalung salib emas kecil dengan satu berlian di tengahnya yang menjadi objek utama saya ketika dia di pangkuan. Vaginanya adalah gerbang ke santuari paling suci, payudaranya adalah kelembutan yang menghangatkan jiwa, bibirnya adalah roti dari daging Yesus, dan liurnya adalah anggur suci, darah dari perjamuan terakhir.

Sementara salib emas itu adalah tujuan hasrat fetisisme saya. Ia memantulkan cahaya lampu kamar menjadi nur suci yang merasuki setiap celah di darah, memompa udara ke dalam jantung dan membersihkan hati dan pikiran dari segala dosa. Peluh dan peluh bercampur, liur dan liur melarut, cairan menyatu, doa menyatu, perasaan menyatu, agama 

menyatu. 

Dan bagi perempuan itu, saya adalah tahanan di ruang asing tertutup yang meraung minta dibuka dan diselamatkan. Ia rela menerobos masuk, melewati batas-batas budaya dan agamanya sendiri, menggenggam tangan saya dan menarik saya keluar. Keluar menuju semesta tanpa batas dengan bintang-bintang dan bimaksakti-bimasakti baru bertaburan. Kami melayang telanjang dalam sebuah persetubuhan transenden sampai

grativasi menarik balik.

Kami

… terjatuh

Dan kami adalah bayi kembar yang baru lahir dan mengalami disorientasi. Kami adalah Adam dan Hawa yang terbuang dan terpisah jauh. Kami anak-anak yang terbawa arus samudra dan terpisah…

Maka Islam tetaplah Islam, dan Katolik tetaplah Katolik. Kembalilah ia kepada makhluk lelaki yang mencintai tubuhnya seperti mencintai perabot tempat ibadah di gerejanya.

Jika saat itu saya mengerti betapa piciknya kebudayaan mememenjarakan kami. Jika saat itu kunci atas kebudayaan ada di saya seperti sekarang ini; kunci pengetahuan dan kunci pembebasan. Maka dunia bisa berubah indah.

Paling tidak dunia kami berubah indah, persetan dan ke neraka buat orang lain yang masih betah di neraka agama saling bunuh, saling siksa, saling hujat menghujat.

Persetan buat kalian yang masih nyaman dalam kebodohan. Setan!

Depok, 24 Nopember, 2008


Terima kasih sudah membaca tulisan lama yang baru saya gali ini. Jika kalian suka yang kalian baca, bolehlah kiranya traktir saya kopi supaya tetap semangat mengisi blog ini, dan merasa ada yang menghargai pemikiran saya. Makasih sudah mampir.