Pramoedya Ananta Toer, a famous Indonesian author once said that same people are like trees; they are hardened once they get older and prone to be broken by the wind or the storm. So can you Imagine getting old in these time of technological advancement, when everything is changing so fast and rapid. New apps and softwares are being produced everyday to help human life to be more effective and efficient.
I’m 36 years old and I have passed the eras where we were still using type writers, word star, and today we are using computers and Smart Keyboard with auto correct that get smarter day by day.
I still remember learning to edit video from cassettes tape on VHS or Betamax. How hard it was to transfer a file from those tapes to editing computers. And today we have apps to edit video just from our phone, with broadcasting quality.
With these facts, it’s easy to be irrelevant. And being irrelevant is scary, the scariest thing in human life span. But I know some people who are old but updated. I learn a lot from talking to them, and most of them have the sama characteristic.
First, they are avid readers. They read a lot of stuff, books, films, in an old fashion way. These readings has made their brain to develop gracefully to old age, because their imagination is active. Brain, like any other parts of our body, needs exercise.
Second, they refuse to be idle. It might be because post power syndrome or simply habit, these smart old people are so use to work, to the point that they would be sick if they’re not working. Working ethos is a must to get into the trend.
Third and last, they like to listen to young people, not just talking about their experience. They see young people as mentors to live in the new age. Digital native is like an exotic tribe to them, and they want to learn a lot from the young. There is no ego in learning new things.
In a nutshell, I aim to get these three quality. I want to be able to always learning. The older I am, the more things I have to learn. I hope that I can keep being humble, because with age, comes achievements and responsibility. And with those two, life becomes slippery. I just have to walk slowly.
This website is run by donation. If you like what you read, do treat me cheap coffee so I can write more. Click this button, or email me if you’re not Indonesian. Thanks
Galau ditinggal pacar? Kerjaan kamu nggak enak? Pengangguran? Sering bengong dan mempertanyakan, kamu hidup buat apa? Buat siapa? Kemana setelah mati? Apa arti kehidupan? Apakah upil terbuat dari aibon? Kalau iya, apakah kita bisa mabok menjilat atau menghirup upil sendiri? Ini semua adalah pertanyaan eksistensial, dan harus dijawab biar hidupmu lebih berkualitas. Kita kecilkan dulu pertanyaan besarnya dengan sebuah pertanyaan sederhana:
Apa yang kamu mau di hidup ini?
Kalau sudah tahu, bagus. Kalau nggak tahu, wajar. Kebanyakan orang nggak tahu kok makanya gampang kemakan iklan. Diiming-imingi sesuatu yang kita butuh padahal nggak butuh. Dan satu keinginan dari iklan itu merembet ke banyak keinginan lain. Tepu-tepu kapitalisme!
Kebanyakan orang tidak tahu dia ingin apa, atau merasa tahu tapi tidak bisa menjelaskan. Padahal untuk hidup maksimal, kita perlu untuk punya keinginan jangka panjang, yang kita gapai dengan tindakan-tindakan jangka pendek. Dan ini kerennya: kalian nggak perlu tahu atau punya tujuan besar dalam hidup, kalian selalu bisa go with the flow dengan melakukan tiga cara ini: imitasi, kolaborasi, lalu inovasi.
Semua orang belajar hidup dengan mengimitasi orang lain. Kita belajar bahasa hingga perilaku dan membuat cita-cita dari orang lain. Kebanyakan imitasi ini didapat dari keluarga, dan keluarga juga yang membantu kita (secara sadar atau tidak sadar) dalam memilih jalan hidup kita.
Ada keluarga yang sangat mengontrol anak-anaknya, dan berusaha untuk menentukan tujuan hidup si anak dari hal yang mereka tahu saja, lalu membatasi karir si anak. Misalnya, keluarga polisi berusaha membuat semua anaknya jadi polisi, polwan, atau minimal istri polisi. Begitupun keluarga dokter, bahkan filmmaker dan Seniman. Ini juga ada hubungannya dengan jaringan sosial keluarga. Bahwasannya, seseorang bisa aman jika mengikuti jaringan sosial yang dibangun keluarganya.
Di sisi lain, ada orang-orang yang tidak mampu atau tidak sudi mengimitasi keluarga terdekatnya, entah karena trauma, atau karena memang tidak diarahkan untuk menjadi seperti orang tuanya. Si anak harus mencari model sendiri, mau apa dia ke depannya, mau jadi apa dia, siapa yang mau dia imitasi kalau bukan keluarganya?
Saya pribadi, tidak mengimitasi keluarga dengan penuh. Hidup saya adalah campuran dari imitasi-imitasi dari orang-orang yang saya kagumi, yang membuat profesi saya juga tidak jelas-jelas amat, dan banyak kepribadian saya yang tidak nyambung dengan keluarga saya. Saya pembaca akut dan entah itu darimana. Tapi dalam kehidupan saya mengikuti orang-orang yang saya kagumi dan membuat diri saya sendiri tanpa ada yang mengarahkan atau menyuruh saya.
Dan semua skill itu saya dapatkan dengan cara kolaborasi dengan orang lain. Saya minta diajarkan untuk membantu proyek orang, begitupun sebaliknya. Banyaknya ngobrol, observasi, partisipasi dan imitasi membuat saya banyak sekali dapat ilmu yang akhirnya bisa saya kombinasikan menjadi sebuah manifes penting. Misalnya: MondiBlanc Film Workshop.
Mondi adalah gabungan dari dua imitasi. Imitasi pertama atas kawan-kawan saya di New York dan di Muntilan untuk mewujudkan sebuah tempat belajar yang gratis dan siswanya dibayar, dan imitasi kedua ide kawan saya Tito Imanda yang punya impian bikin kampus gratis. Saya coba bikin workshop ini dengan kolaborasi dan kami berhasil mencapai lebih dari 150 orang alumni, dengan karya dan aliran yang beda-beda. Di sini saya berinovasi dengan semua yang sudah saya imitasi dalam hidup saya. Dan saya sudah nekat: saya sudah tinggalkan pekerjaan tetap saya untuk fokus di MondiBlanc dan eseinosa ini.
Tujuan besar saya yang lain adalah sebuah inovasi. Saya ingin membuat film panjang saya sendiri dari institusi yang saya buat sendiri. Jadi sambil bikin film panjang, saya mau membuktikan bahwa institusi saya berhasil membuat orang-orang hebat.
Maka tujuan besar saya sudah jelas dan tujuan kecil-kecilnya sudah dan sedang dilaksanakan. Dan ketika tujuan besar tercapai, saya akan cari tujuan besar lain. Menolak Oscar, misalnya. Keren kan, menang aja jauh banget, tapi kalau menang maunya nolak. Biar keren aja gitu kayak Marlon Brando. Tapi mari kita lihat saja. Karena tujuan besar bisa berubah-ubah disebabkan keadaan dan kenyataan. Dan itu tidak apa-apa, selama kita bersandar pada apa yang ada, dan kita rawat dan kembangkan tanpa terjebak pada hal yang besar-besar. Semua dimulai dari hal kecil. Seperti upil, yang nyangkut di hidung saya. Membuat saya agak mabuk. Mungkin benar, ia terbuat dari aibon.
***
Hai, Terima Kasih sudah membaca post ini sampai habis. Buat yang belum tahu, website ini dibiayai donasi dan hostingnya lumayan mahal. Jika kamu ada rejeki, bolehkah traktir yang nulis kopi gula aren murahan? Klik tombol di bawah ini ya…
Apa itu diri? Menurut filsuf Soren Kierkegaard, diri adalah relasi-relasi yang menghubungkan relasi satu ke relasi yang lain dalam kehidupan seseorang. Artinya, diri tidak pernah menjadi sesuatu yang tetap, tapi selalu berkembang dan berjejaring hingga seseorang itu mati dan dirinya tertinggal sebagai relasi-relasi di diri orang lain.
Pusing kan? Biar tidak jatuh, coba pegangan dulu. Nah, kamu baru saja membuat relasi dengan yang kamu pegang. Kalau kamu pegang nganu mu, maka itulah bagian dari dirimu. Dan relasi itu tidak bisa putus begitu saja, bahkan ketika nganu mu tidak lagi kamu pegang, kamu ingat rasanya, walau kadang lupa namanya.
Maka mari bicara soal relasi-relasi yang putus di kontrak sosial tapi tetap ada di dalam diri. Sesungguhnya inilah relasi terberat yang tak pernah pergi, dari patah hati hingga ditinggal mati. Dan relasi ini menimbulkan sebuah rasa bernama: melankolia.
Buat saya pribadi, melankoli adalah sebuah kerinduan pada sesuatu yang pernah ada namun tak lagi tersedia. Seperti phantom limbs, ilusi yang hadir pasca amputasi, melankoli menyeruak seperti horor ketika kita merasa tangan atau kaki atau organ tubuh kita masih ada padahal sudah hilang. Dan kita belajar melankoli sedari kita bayi. Tahap ini disebut oleh psikoanalis Sigmund Freud sebagai tahap Post-Oedipal.
Post-Oedipal adalah tahap menyakitkan dalam hidup semua orang ketika ia sadar bahwa ibunya, yang selama ini ia cintai sebagai bagian dirinya, telah lepas secara penuh. Ya, patah hati pertama semua orang adalah terhadap figur ibu-nya sendiri. Untuk mengerti konsep ini, saya harus sedikit menjelaskan tiga tahap Oedipus Complex dalam psikoanalisis Freudian.
Tahap pertama adalah pre-Oedipal. Dalam tahap ini seorang bayi merasa bahwa ia dan ibunya adalah satu badan: itulah dirinya, sebuah relasi antara bayi yang masih menyusu dengan ibunya, dimana si bayi mengidentifikasi dirinya sebagai organ si ibu. Sementara ibunya sendiri perlahan mengalami melankolia pula, ketika ia sadar bahwa anak yang ia kandung 9 bulan dan selama ini jadi bagian tubuhnya, pelan-pelan terpisah darinya.
Tapi si anak belum tahu itu sampai ia berhenti menyusu dan mulai bisa berdiri dan berjalan. Tahap pre-Oedipal berhenti ketika si anak mulai bisa mengidentifikasi dirinya sebagai manusia lain. Ia mulai mengenal dirinya sendiri, yang berbeda dengan ibunya. Namun ia masih berada di dalam kasih sayang dan perlindungan si ibu. Di sini ia masuk ke tahap Oedipal: si anak mencintai si ibu.
Tahap itu berhenti ketika tekanan sosial dan pendewasaan organ-organ kelamin membuat si anak harus berpisah secara seksual dari si ibu. Di sini ia mulai galau dan mengalami melankoli itu: post-oedipal. Maka si anak mulai mencari model untuk mengalirkan libidonya, dan ketika ia jatuh cinta pada orang lain, sifat kebayi-an Oedipal nya timbul kembali.
Saya ingin membawa teori klasik ini ke ranah yang lebih luas, bahwasannya tahap post Oedipal bukan hanya berlaku untuk heteroseksual, tapi juga untuk spektrum lain dalam seksualitas. Karena hubungannya tidak semata-mata seks, tapi juga masalah attachment, atau keterikatan, satu individu dengan individu lain. Sebuah ketakutan klasik dalam cara bertahan hidup binatang mamalia: ketakutan akan ditinggalkan (fear of abandonment).
Ketika kita hendak mempertahankan relasi percintaan dengan orang lain di tahap post Oedipal kita, rasa ketakutan ini begitu besar. Kita seperti anak kecil yang mencari ibunya yang hilang. Hilang arah dan orientasi. Hingga ketika kita benar-benar ditinggalkan pasangan kita, rasa itu memuncak dalam sebuah kegamangan bahwa kita sudah dewasa dan harusnya tidak lagi merasa seperti itu. Tapi separuh jiwa kita hilang di kenyataan, tapi begitu nyata adanya di pikiran: sebuah phantom limbs.
Dan ini bukan hanya untuk percintaan dengan kekasih. Bisa juga rasa itu hadir ketika kehilangan sahabat kita, atau orang tua kita, atau siapapun yang berarti banyak di hidup kita. Dari sudut pandang neurosains, diri kita dibentuk oleh trilyunan syaraf yang disebut synapses. Syaraf-syaraf di otak ini tumbuh dan menguat bersama relasi-relasi yang terbentuk dari hubungan kita dengan lingkungan dan orang-orang lain. Dan ketika hubungan itu terputus, synapses kita terganggu dan membuat tubuh berraksi dengan menutup hormon tertentu dan membuka hormon yang lain. Membuat kita menangis sambil menertawai diri sendiri karena di usia ini, kita kembali seperti bayi yang merindukan ibunya yang pergi.
Hormon kebahagiaan tidak diproduksi dengan baik, stress bertambah, agresi keluar untuk menguranginya. Dan ini adalah saat-saat terburuk hidup kita. Kita berusaha untuk tetap membuat relasi-relasi itu ada, dengan mencoba menggapai-gapai orang yang kita cinta tapi tidak lagi bisa mencintai kita. Buat apa? Sampai kapan?
Sampai luka di sinapsis kita sembuh sendiri. Tapi Kierkegaard menemukan, bahwa luka itu akan kita bawa sampai mati. Dia akan terulang kembali dengan relasi-relasi baru yang kita buat dan putus. Tidak akan pernah ada kekebalan itu, sampai syaraf dan hormon kita beradaptasi, atau kita sudah cukup tua untuk jadi fungsional dan mengejar relasi-relasi itu. Hingga di satu titik diri kita berhenti membuat relasi baru.
Kematian adalah penyembuh keputusasaan, akhir dari segala melankolia. Kematian adalah kepastian absolut dari kehidupan. Ia pasti datang, dan selalu bisa dipercepat. Lalu kenapa kita tidak mati saja? Karena masih banyak relasi-relasi lain yang membuat kita tetap hidup. Orang yang bunuh diri, adalah orang yang merasa bahwa kehidupannya akan merusak diri orang lain. Kematian bukanlah hal yang egois, tapi sebuah hal altruistik, untuk memberikan ruang kepada diri-diri lain yang masih sanggup hidup untuk menderita dalam melankolia.
***
Terima kasih sudah membaca sampai habis. Website ini butuh bantuan kamu untuk tetap ada, jika kamu merasa kalau apa yang ditulis di sini ada gunanya, boleh lah kamu traktir saya segelas kopi untuk motivasi. Tekan tombol dibawah ini, duhai kawanku yang baik:
Pagi ini ada insiden: sebuah mobil Alphard yang kinclong dan baru menabrak tembok kosan saya dengan sangat parah, kecepatan tinggi, hingga bagian depanya hancur, cairan warna hijau keluar dari mobil, dan asap keluar dari mesin. Kejadian ini berlangsung dengan sangat konyol.
Saya hendak mengambil jemuran dari teras lantai dua, ketika saya lihat Alphard mewah sedang mundur untuk putar balik. Saya dengar alarm belakang mobil itu sudah bunyi cepat sampai melengking panjang menandai mobil sudah tidak bisa mundur. Tapi kenapa dia terus mundur saya bingung. Apa dia mabuk? Pelan-pelan bagian belakangnya menabrak tiang listrik sampai bunyinya seperti tulang remuk diremas besi pelan-pelan… “KRKKK… ” Ia baru mengerem. Dan kejadian selanjutnya begitu mengejutkan:
Tiba-tiba saja mobil itu ngegas dengan sangat cepat! Kencang sekali seperti melompat, dan sontak menabrak tembok di depannya. Seorang teman saya yang sedang lari pagi lewat di depan mobil itu bilang, “Takut ketabrak gue. “
Kawan saya berjalan menuju mobil yang mundur pelan-pelan. Bagian depan sebelah kanan hancur total. Asap keluar. Klaksonnya rusak terus berbunyi, membuat tetangga-tetangga pada keluar. Kawan yang hampir tertabrak mengarahkan supir supaya bisa melipir dan membuka jalan. Sambil klakson terus berbunyi, saya lihat supir itu berusaha memasukan balon keselamatan yang pastinya keluar dari setirnya. Ia lalu berkata keras-keras kepada semua orang yang berkumpul: “Gasnya terjepit sandal saya! ” Sulit dipercaya, dia panik karena bagian belakang menabrak tiang listrik, lalu ganti gigi dan langsung nabrak depan? Tidak masuk akal.
Tak lama setelah itu saya menuju kantor. Saya pikir, mungkin kalau mobil itu manual, kejadiannya tidak mungkin separah itu. Saya ingat Papa saya sangat anti mobil matic, karena hal-hal seperti ini. “Papa takut nggak bisa ngontrol. ” Yes, Pap. Bener juga. Kalo gigi 1, ngebut dikit lepas kopling pasti mati. Dan kalo kaki kanan kejepit, kaki kiri masih terbiasa injak rem. Tiba-tiba dalam 15 menit menuju kantor, saya berpikir soal hidup. Seperti lagi Drive oleh Incubus.
Tubuh kita tak lebih dari mesin biologis. Dan kita bisa belajar dari mesin, untuk memperpanjang waktu hidup kita dengan berkualitas. Tiap pagi dipanaskan, baru mulai bekerja. Jadi bangun tidur, jangan langsung kerja. Pemanasan dulu, relaksasi, baru… Tidur lagi… Maksud saya mandi lalu bekerja.
Seandainya jarak tempuh adalah pekerjaan dan tujuan adalah cita-cita, maka perjalanan kita dimulai dengan doa, dan digapai sedikit-sedikit saja sesuai kemampuan mesin kita. Setelah dipanaskan, kita mulai perjalanan kita.
Gigi 1, perhatikan rpm. Jangan ganti gigi sebelum rpm sampai ke angka 3 atau 4. Lambat memang, tapi tidak perlu juga ngesot dan drifting di awal-awal. Biarkan kita rasakan jalanan, ingat kapan ada polisi tidur, tanjakan, dan belokan.
Jangan lupa rem dan lihat kiri-kanan sebelum berbelok. Tujuan kita tidak pernah lurus, tapi sembarangan belok bisa berakibat fatal buat kita dan orang lain. Karena di luar sana selalu ada orang yang mulai lebih dulu dari kita dan bisa jadi sudah cepat. Menghalangi jalannya akan membuat kita ditabrak. Terdengar sederhana, tetapi sebenarnya sulit. Sulit untuk mengalah, apalagi kalau orang yang sudah ngebut itu slebor entah karena pengen cepat sampai karena mules, atau memang gila saja.
Tapi tak guna toh menyalahkan orang lain. Biarkan saja ia lewat seperti semua pikiran buruk dan pikiran jahat yang ada di belakang pikiran kita. Biarkan anjing-anjing menggonggong, gerombolan hyena lewat mengejar gerombolan rusa. Toh kita tidak sedang ikut berburu. Baru kita lanjutkan perjalanan, ketika sudah ada ruang buat kita. Sabarlah, ruang akan terbentuk. Dari kita lahir, kita toh sudah menyeruak keluar dari rahim dan menyerusuk masuk ke dunia.
Gigi 2. Cepat sedikit. Kasihan yang di belakang, tapi perhatikan di depan. Jika ramai, pertahankan gigi dua dan satu. Tidak guna gigi tiga jika kita harus berguncang-guncang di dalam. Ketenangan adalah tujuan utamanya. Usahakan ketika mengganti gigi, tidak terasa persneling kita pindah. Santai, sabar, injak kopling perlahan ketika kecepatan sudah stabil. Depan ada ruang, pindah gigi
Gigi 3. Percepat. Kasihan mereka yang di belakang kita sulit mengejar. Tapi jalan kota jakarta non-tol tidak begitu butuh gigi 4, santai saja di gigi 3. Kopling bisa mulai dilepas sampai lalu lintas mulai padat lagi. Jalan kecil berkelok-kelok juga tidak butuh gigi 4. Kita justru harus banyak rem, dan turun gigi. Hidup sesuai konteks. Tidak ada gunanya kebut-kebutan di jalan kecil lalulintas ramai.
Masuk jalan tol. Padat tapi tidak merayap. Naik gigi 4. Minimal 40 km/jam. Tingkatkan kecepatan ketika jarak sudah aman, 60 km. Jalanan mulai sepi dan panjang. Kecepatan 75. Pindah gigi.
Gigi 5, kecepatan stabil di 80 menuju 100, ambil lajur tengah menuju kanan untuk menyalip. Usahakan tidak lebih dari 100. Usahakan di tengah saja, tidak ambil kanan terus. Jangan melanggar aturan. Jangan menyalip dari kiri. Tapi kadang kita bisa bersnang-senang.
Jalanan lurus. Kosong. Sekali-sekali coba 120 km/jam, dengan kepercayaan mobil terawat baik. Power steering bagus. Rem bagus. Sebentar saja lalu kau lihat lengkungan jalan, lepas gas pelan-pelan, turunkan kecepatan. Menuju gerbang keluar tol, kembali ke gigi 4. 3. 2. 1. Netral. Berhenti. Bayar tol. Keluar dan kembali menanjak pelan-pelan. Masuk kembali ke kota. Kalem lagi.
Sampai di tempat tujuan. Gigi 1. Parkir reverse dengan berbagai macam tips dan trik spion dan manuver. Dengarkan alarm belakang jika ada. Perhatikan spion kiri-kanan dan dalam. Hingga semua baik-baik saja. Posisi gigi netral. Tarik rem tangan. Kamu sampai ke tujuan. Istirahat lalu kerja.
Kopling, gigi, menjaga tetap aman menjaga kecepatan dan kontrol. Kontrol yang didapat susah payah dengan mati-mati mesin, loncat-loncat, dan tabrak menabrak, serempet menyerempet. Paling tidak kalau kaki tersangkut gas, tapi gigi 1, kecepatan cuma di bawah 20 Km/jam. Bayangkan jika gas terinjak dan kaki terjebak sandal di mobil matic. Kaki kiri tidak biasa bekerja, rem tidak bisa ditekan, rem tangan pun dilupakan. Maka bisa jadi hidup kita akan berakhir buruk dengan sangat konyol. Seperti mobil Alphard pagi ini di depan kosan saya.