Memoir, Racauan

Menghentikan Para Impostor

Maaf, saya telah membuat banyak impostor. Saya mengajar orang, membantunya mewujudkan project atau mimpinya, tanpa sadar sebenarnya lebih banyak saya yang mengerjakan. Mereka yang saya bantu jadi memiliki karya yang bagus dan reputasi sebentar, tapi setelah itu tidak bisa dipertanggungjawabkan. Malah pada akhirnya mempermalukan saya dan institusinya.

Ini yang membuat saya saat ini lebih banyak melakukan pembiaran pada kesalahan atau kekacauan yang dilakukan oleh murid-murid saya. Pada akhirnya saya akan ambil alih projectnya kalau mereka patah dan menyerah saja, dengan berharap semoga karya itu masih bisa diselamatkan.

Tentu banyak kerugian dalam melakukan teknik pembiaran semacam ini. Uang keluar banyak, lelah luar biasa. Hidup bisa lebih gampang, lalu dibikin susah. Kenapa? Kadang ragu juga, apa saya benar-benar bisa. Tapi terus terang, lebih banyak berhasilnya daripada gagalnya. Saya rasa worth it. Iya nggak?

English, Filsafat, Memoir, Racauan

Self-criticism is your only savior from yourself

Are there any possibilities that someone over-criticizes themselves or others? I don’t think so. I put the word critic, critical, as one of the highest modes of thinking. Criticism is what makes dialectic possible. If, and only if, someone is considered overcritical, they probably do it the wrong way.

Critic for me is an action that takes a lot of consideration. You need proper context and deeper thinking, you ought to ask the right questions, and you got to know what you don’t know. Spitting words to degrade someone is not a critic, it’s a bully. Telling yourself wrong and jumping to conclusions about yourself is as bad as bullying.

Thus, critics need to be done at the right time and in the right state of mind. And one has to be always aware of oneself objectively, no matter how one feels. The feeling cannot be criticized since it cannot be controlled. But one can always control one’s behavior if one’s body is healthy enough no matter how one feels.

Now, within this context, let’s talk about self-criticism. Let me first give an example, about myself.

Photo by Dids on Pexels.com

I am diagnosed with manic depression, or Bipolar 1. I haven’t taken any medication for that disorder for almost two years. I am highly functional, and reading and writing therapy has helped me a lot in coping with my mental illness. Today I ‘feel’ like I have complete control of my life. I am content and happy, I am independent and able to help a lot of people, I work my job magnificently and I have doubts about all those good things.

These doubts come because I have experience in being tricked by my feelings whether they are negative or positive feelings. In my experience, being over-optimistic is another red flag of something wrong with me. So I try to write again and examine my writings and my feelings. Then I analyze it as if the person who wrote this journal is not me. Well, philosophically speaking, I am not the person I was when I wrote them. Different feelings, moods, time, and context.

I conclude that I have managed my manic disorder, but in the functionalities of my life, there are hidden suicidal thoughts that are fused with some type of depression. You see, I am quite proud that I can manage, predict, and control my manic state and depression state throughout years of therapy and struggle. I have gained success in terms of my work. I can eat whatever I want, and go wherever I go. I have the lovely girlfriend of my dream, the freedom to make films or teach or learn the things that I adore. In my manic state, I could write, shoot, teach, and produce a lot of things almost simultaneously. Then I will go home and had a deep rest because I was depressed. My depression is controlled. It is a logical consequence of my manic state. So I am functional because I recognize the cycle of my mania and my depression. Good?

Not exactly. Because my life now is just manic and depressed. I have a plan to care more for myself, eat healthy, have a regular sleeping cycle, and work out. But the plan is lost to the depression. And when the depression is gone, I need to get back to work.

There were times when I could overcome this easily. But it is getting harder to fix my life every time a long and hard project that creates irregularities is over. It’s getting harder to get out of bed after depression to reset my room or my body. I binged eating and trying so hard to be unhealthy.

At one point I even think, maybe I am having a subconscious suicidal tendency. I am starting to think that my behavior is a way to self-destruct.

Anyway, I think I need a shrink. Will get back to you guys after a few good sessions. In the meantime, I will enjoy this mood and irrelevancy of my life. It might be just my age factor–a symptom you have when you are almost 40 years old.

If you like what you read, don’t hesitate to treat me a cup of cheap coffee. It helps to know people are actually reading this.

Gender, Memoir, Racauan

Monogami: sebuah Imajinasi

Buat yang ingin tahu, dan bukan yang ingin percaya.

Sudah lama aku tahu, bahkan sebelum pernikahanku yang pertama, bahwa pernikahan itu tidak pernah soal cinta. Hubungan manusia tidak ada yang tak retak, tapi yang merekatkan sepasang suami istri, jelas bukan cinta. Yang memisahkannya juga bukan perselingkuhan, kebencian atau pengkhianatan. Yang membuatku lumayan kesal adalah, tesis yang akan kupaparkan pada kalian adalah tesis lamaku. Ternyata setelah sekali menikah dan gagal, tesis ini tetap tegak.

Dalam tesis ini, pernikahan adalah kontrak sosial, politik, dan profesional. Bukan kontrak kesetiaan atau kontrak percintaan. Cinta bisa hilang dalam perkawinan, cinta bisa tetap ada setelah perceraian, cinta bisa menyatukan dan memisahkan. Demi cinta kita bisa bersatu dan demi cinta pula, kita rela melepaskan yang kita cinta.

Kontrak sosial berarti persatuan hubungan sosial dua individu. Di dalamnya ada keluarga, teman dan sahabat. Kontrak politik adalah persatuan dua unit kuasa, agama, atau institusional yang dimungkinkan dengan aturan negara atau agama. Kontrak profesional adalah persetujuan soal pembagian kerja, penyatuan finansial, dan hak atas aktualisasi diri. Artinya, sebuah pernikahan akan bertahan (bukan akan bahagia, bukan akan ideal, tapi bertahan), jika ketiga kontrak tersebut tidak dilanggar.

Ketiga kontrak tersebut adalah syarat mutlak dua individu bisa menikah, tak perlu cinta. Kompatibilitas dalam komitmen ketiga kontrak itu adalah segalanya. Sepasang yang beda agama bisa menikah ketika hukum negaranya memperbolehkan dan kedua keluarga setuju bahwa anak mereka akan (1) menikah dengan mempertahankan agama masing-masing, atau (2) salah satunya pindah agama mengikuti yang lain. Tapi jika salah satu keluarga tidak setuju dan keras menentang, maka kawin lari, pengusiran,pemutusan hubungan, dan tragedi bisa terjadi. Bisakah pasangan tersebut menikah? Bisa saja, dengan konsekuensi ketimpangan yang tinggi, ketika salah satu individu tidak lagi punya keluarga inti.

Kontrak sosial juga berarti komitmen keintiman antar individu dengan individu, antar keluarga dengan keluarga, dan dalam lingkaran sosial pasangan tersebut. Hubungan sosial yang terlalu renggang atau terlalu rapat bisa menciptakan keterjebakan. Akibatnya bisa jadi tindakan-tindakan pemberontakan, seperti perselingkuhan atau kecanduan. Secara sosial, perselingkuhan merusak cinta dan kepercayaan pasangan. Tapi selama perselingkuhan masih rahasia dan tidak disebarkan ke lingkaran di luar keluarga inti, maka pernikahan bisa tetap ada dengan konsekuensi hubungan yang rusak dan harus diperbaiki. Jika sampai menyebar, maka tali pertama yang putus bukanlah tali perkawinan sepasang suami istri, tapi tali hubungan kedua keluarga.

Secara politik, pernikahan bisa gagal kalau relasi kuasanya jomplang–bukan timpang. Bedakan ini. Jomplang berarti ada kekuatan kuasa dimana satu pihak menekan pihak lain, dalam konteks dimana pihak yang ditekan sebenarnya punya alat-alat perlawanan seperti hubungan sosial atau hukum negara. Jomplang bisa dipecahkan dengan mediasi atau perceraian. Sementara itu, timpang tetap bisa membuat rumah tangga jalan, karena dalam ketimpangan, biasanya yang dirugikan tidak sadar bahwa ia dirugikan. Ketimpangan juga menutup kemungkinan cerai–misalnya dengan budaya dan agama di wilayah tertentu di dunia, yang mana cerai tidak ada dalam hukum dan kosakatanya. Ketimpangan dapat membuat pernikahan bertahan sampai dipisahkan kematian, namun tidak indah sama sekali, seperti meminum racun setiap hari tanpa pernah mati.

Kontrak ketiga, profesionalitas. Ini berhubungan dengan distribusi kerja dan ekonomi. Ekonomi artinya pengaturan rumah tangga, artinya bagaimana moda produksi sebuah rumah tangga dijalankan oleh keluarga. Di sini pasangan harus sepakat tentang distribusi kerja; siapa yang mengurus anak atau rumah ketika yang lain mencari nafkah; bagaimana mendukung profesi pasangan di saat yang sama memastikan kontrak sosial (keintiman dengan pasangan, keluarga dan teman) dan politik (komunikasi dan pembagian kuasa) tetap terjaga dan stabil. Rumah tangga akan rusak atau disfungsional ketika pasangan tidak bisa mendukung atau terlalu mendukung profesi pasangannya. Tidak bisa mendukung artinya ia tidak setuju sama sekali dengan pekerjaan yang dipilih pasangannya dan membuat pasangannya tertekan, depresi, dan irrelevan di dunia profesionalnya. Terlalu mendukung bisa membuat pasangannya lupa dengan dua kontrak yang lain: kontrak sosial dan kontrak politik dari sebuah perkawinan.

Sains sudah mengajarkan bahwa Cinta adalah hormonal dan zat kimia yang dibentuk dari referensi pengalaman yang membuat preferensi seksual dan sosial. Cinta bisa hilang, bisa habis dan menguap dengan waktu dan konteks yang berbeda. Sebagai primata, manusia tidaklah tercipta sebagai mahluk monogami. Manusia tidak memiliki musim kawin, tidak seperti banyak mamalia lain. Artinya pernikahan yang satu, kemonogamian, adalah sebuah cerita yang dikarang manusia untuk sedapat mungkin dijalankan dan ditepati. Pernikahan monogami seperti kontrak dibuatnya negara, kontrak transaksional politik atau komitmen sosial, yang mengikat dua individu primata poliamoris, yang memaksakan kisah monoamoris dalam hidupnya. Kisah yang pasti gagal dalam rasa, namun bisa berhasil dalam logika politik, sosial, dan profesional.

Pada akhirnya manusia cuma ingin teman, companionship. Sebuah impian untuk berbagi kehidupan, karena dalam kematian, kita takkan pernah bersama. Maka apapun asal hubungan romantismemu, hubungan yang lama ditentukan oleh relasi-relasi di luar cinta. Itu kenyataannya, kepercayaanmu tidak penting.

Tapi sebagai mahluk kreatif, bolehlah kamu mengarang cerita atau membuat strategi untuk terus menyalakan bara asmara, selama trinitas sosial, politik, dan profesional terjaga.

Memoir, Racauan

Fragmen Masa Kecil

Original photo by Eseinosa

Buat Gilang.

Ingatan terjauh masa kecil saya adalah ulang tahun saya yang ke lima. Saya ingat meniup lilin di atas kue black forest. Mungkin juga saya ingat detail hari itu, karena ada foto saya dipangku Mama di depan kue black forest berlilin angka lima. Saya memakai baju garis-garis horizontal biru-putih, sementara Mama memakai blazer warna ungu-hijau-hitam dengan shoulder pad khas tahun 1990-an, dan rambut panjang diblow. Saya ingat adik lelaki saya berumur 2.5 tahun, dengan rambut tipis jigrak, berpakaian garis horizontal kuning putih.

Saya ingat setelah ulang tahun adik saya yang ke tiga, saya sempat menggandengnya untuk bermain dan ia terjatuh tapi masih saya seret. Bibirnya luka dan harus dijahit. Itu yang membuat hingga sekarang, bibirnya lebih tebal dari bibir saya. Saya juga ingat di umur itu, adik saya pernah mencontoh permainan tolol saya menggoda kucing dengan menginjak buntutnya. Saya injak lalu menghindar dari cakaran, sementara adik saya menginjak lalu dicakar hingga kakinya berdarah. Aih, saya kakak yang sangat buruk.

Ketika umur saya 7 tahun dan adik 5 tahun, saya ingat di suatu malam kami berdua ada di bawah pohon belimbing wuluh di depan rumah. Adik saya duduk di atas sepeda roda tiga, sementara saya berdiri, memperhatikan ke dalam rumah. Di dalam rumah Mama dan Papa bertengkar karena Mama pulang terlalu malam, dan jarang bertemu anak-anak. Mama mulai banyak proyek yang memberikan keluarga kami mobil baru, tapi ia memang jadi selalu pulang malam. Saya ingat dari luar, saya melihat Papa melempar gelas beling ke arah tembok karena kesal.

Saya ingat di usia itu juga pernah penasaran mengancam bunuh diri dengan pisau dapur di depan pembantu karena nonton sebuah film dengan adegan yang sama. Saya ingat pernah melempar sandal ke om saya yang sedang tidur hanya karena ingin tahu reaksinya. Tentunya saya dijewer habis.

Saya ingat pernah bermain peran jadi satria baja hitam dengan anak-anak tetangga, dan karena tidak ada yang mau jadi monster jadi banyak satria baja hitam berduel satu sama lain setelah henshin bersama. Saya ingat papa membangun sebuah kolam ikan di depan rumah dekat pohon belimbing, mengisinya dengan ikan emas yang sering dimakan kucing, hingga suatu hari diputuskan untuk makan ikan bakar saja dan kolamnya dikosongkan.

Sebagai keluarga kecil, kami selalu berpindah-pindah kontrakan dan tidak punya rumah sendiri. Kami mulai membangun rumah ketika saya beranjak SMA. Tapi itu cerita lain.

Ingatan masa kecil. Apakah itu sebuah memori, atau imajinasi? Entahlah. Tapi mumpung teringat ada baiknya diabadikan. Tak banyak yang tersisa dari masa kecil, selain fragmen-fragmen.

Main di kali yang bertaik di dekat sekolah. Meminyaki tutup panci, mengibaskannya di got untuk mendapatkan nyamuk untuk makanan ikan. Berburu hantu dengan teman-teman lalu pulang dengan memar sabetan merah di punggung. Mencari biji karet dengan berjalan jauh ke lapangan terbang halim perdana kusuma di minggu pagi. Dipukuli anak yang lebih besar di samping mobil tetangga. Menonton vcd porno bersama teman-teman dan heran kenapa mbak di film itu minum pipis masnya. Bertengkar dengan kawan karena egois tidak mau gantian main super nintendo.

Fragmen. Hanya fragmen. Apakah bisa menjadi bahan analisis kepribadian? Atau semacam pencarian jati diri, sebelum saya mati?

***

Terima kasih sudah membaca memoir ini sampai habis. Jika kamu suka yang kamu baca, traktir saya kopi biar semangat nulis.