Politik, Racauan

Kenapa Demonstrasi Umat Islam Ganyang Koruptor Takkan Pernah Ada

Ketika saya meliput demonstrasi 411 dan 212, saya menanyakan pertanyaan yang sama ke banyak orang soal Ahok, dan jawabannya semua sama: Ahok bersalah karena ia menistakan agama Islam. Ketika saya bertanya, apa ada hubungan demonstrasi ini dengan penggusuran, semua menjawab, “Itu masalah lain.” Sulit untuk tidak mengaitkan gerakan politik Islam 411 dan 212 dengan gerakan #2019gantipresiden, karena ada Persaudaraan Alumni 212 (PA 212) yang berusaha mencari tokoh Islam untuk menjadi pengganti Jokowi.

Related image

Artinya kesejahteraan-keadilan sosial dan isu kelas bukanlah hal yang penting untuk banyak umat muslim di Indonesia. Saya katakan umat Muslim, karena demonstrasi besar-besaran anti Ahok waktu itu melibatkan mobilisasi massa dari seluruh Indonesia. Dengan kata lain, saya rasa cukup valid kalau jutaan orang itu bisa merepresentasikan Gerakan Islam di Indonesia—terlepas apakaha insitusi besar macam Muhammadiyah atau NU merestui gerakan mereka atau tidak. Saya tidak ingin berspekulasi tentang keterlibatan dana-dana ajaib dalam gerakan-gerakan besar tersebut, ataupun peran oposisi politik termasuk gerakan makar (yang penangkapan tersangkanya cuma hangat-hangat taik entok).

Image result for just take my money gif

Namun banyak orang akan setuju, bahwa imbas gerakan Islam hari ini jauh lebih besar dari gerakan-gerakan pendahulunya, seperti gerakan mahasiswa, misalnya. Gerakan buruh pun yang sudah puluhan tahun dibangun, tidak akan mendapatkan hasil seinstan gerakan Islam. Pemerintah tentunya ikut ambil bagian dalam hal ini, dengan mendukung gerakan berbasis agama sambil waspada melihat siapa saja elit oposisi atau calon oposisi yang mengambil keuntungan dari gerakan-gerakan itu.

Image result for anies baswedan gif

Kelindan negara dan agama bukanlah hal baru. Tidak akan ada agama Kristen, misalnya, tanpa persatuan dan perjanjian Kerajaan Romawi dengan para martir dan Santo. Inggris takkan benar-benar ‘merdeka’, tanpa Anglikannya, dan Amerika Serikat tidak akan pernah menjadi negara Adikuasa tanpa etika Protestanismenya. Negara bersekongkol dengan agama itu biasa saja. Tapi agama sebagai perlawanan terhadap penguasa juga hal yang biasa. Muhammad takkan bisa menjadi Nabi, Rasul, dan penguasa Jazirah tanpa melawan kaum Quraisy. Yesus takkan menjadi besar kalau ia tidak disalib Romawi. Namun ujung-ujungnya, seperti pergerakan ideologi lain, ketika agama menang melawan negara, negara tinggal pindah agama (atau mendukung agama mayoritas) dan masalah selesai. Biasanya begitu.

Image result for trump christian catholic gif

Namun ketika kita bicara koruptor, kita bicara soal perbaikan sistem negara modern: transparansi dan proyek-proyek pembangunan ideologi modernitas. Korupsi adalah cara melancarkan kepentingan untuk menggolkan sebuah proyek, atau untuk mengembalikan modal politik. Sempat belum satu dekade lalu, korupsi menjadi salah satu cita-cita yang diinginkan banyak orang ketika ia jadi PNS/Birokrat atau politikus. Secara sederhana korupsi artinya tidak amanat, atau khianat. Itu adalah salah satu dosa besar dalam Islam. Lalu kenapa penistaan agama lebih penting dan lebih banyak massanya dari gerakan anti korupsi?

Satu hal yang pasti, gerakan anti korupsi tak punya aliran dana besar dan organisasi masssa yang sistematis. Pengusaha banyak diuntungkan oleh korupsi, jadi untuk apa memberikan kucuran dana anti-korupsi? Kecuali tentunya untuk memenangkan pertarungan politik, untuk menjebolkan proyek sebesar Meikarta, misalnya.

Terlebih lagi, kesadaran bahwa ada hubungan langsung antara pejabat korup dengan kemaslahatan hidup orang belum banyak. Kita masih terbiasa pada janji kampanye yang tidak pernah ditepati, dan kita juga sering memaklumi orang yang kita anggap jujur ternyata korup. Lebih kompleks lagi, beberapa orang yang jatuh karena korupsi biasanya ditengarai oleh sesama koruptor yang lebih besar, entah sebagai whistle blower, atau sebagai kambing hitam.

Gerakan Islam anti korupsi, pasti ada. Tapi kecil-kecil dan menyebar-nyebar. Tanpa koordinator dan kucuran dana besar, susah membesarkan gerakan ini. Sementara gerakan-gerakan politik besar seperi #gantipresiden2019 lebih mudah menggema–dengan para pengikut yang hardcore menghardik anak kecil dan ibu-ibu lawan politiknya, dimana pendukung dua kubu sama-sama tolol menggunakan CFD sebagai ajang kampanye prematur. Nyaris tidak ada gerakan besar untuk isu-isu spesifik seperti korupsi atau pelanggaran HAM. Kalau pun ada, mereka tidak bawa-bawa nama Islam.

Maka bagaimana Islam bisa tidak tercoreng, ketika pendomplengan namanya cuma dipakai untuk politik praktis dan terorisme? Mengapa, oh mengapa?

 

Iklan
Ethnography, Musik, Perlawanan, Politik, Portfolio, Puisi

Causa Libre

Lirik oleh: Rhino Ariefiansyah

Niplivrata lugens
Arthropoda penghisap amino
Tanaman padi kering kerontang
Hamparan mati hopperburn

Niplivrata lugens
Causa libre homo sapiens
Perang data wibawa presiden
Petani menggelepar terjerat hutang

Niplivrata lugens
Causa libre homo sapiens
Militer turun ke sawah
Todong senjata buat tengkulak

Niplivrata lugens
Arthropod causa libre

Niplivrata lugens
Antropogenic catastrophes

Niplivrata lugens

Anthropology, Filsafat, Kurasi/Kritik, Politik, Racauan

Noam Chomsky: Neoliberalisme Menghancurkan Demokrasi Kita (Part I)

Bagaimana Elit Politik dari kedua sisi spektrum politik telah merusak persamaan sosial, politik, dan lingkungan kita.

Wawancara ini diambil dari Open Source with Christopher Lydon, program mingguan tentang seni, ide, dan politik. Dengarkan keseluruhan wawancara di sini.

Oleh Christopher Lydon, 2 Juni 2017
Diterjemahkan tanpa izin oleh Nosa Normanda, dari thenation.com

 

Selama 50 tahun, Noam Chomsky telah menjadi Socrates-nya Amerika, mewabahi publik dengan pertanyaan-pertanyaan yang menyengat. Ia bicara tidak kepada penduduk Athena, tapi kepada desa-desa global yang menderita, dan sekarang, sepertinya, dalam bahaya.

Dunia bermasalah hari ini masih mengetuk pintu Noam Chomsky, karena ia sudah lama memperingatkan akan datangnya angin topan. Dunia tidak tahu apa yang harus dilakukan, ketika Chomsky memperingatkan mereka bahwa bencana sedang mereka buat. Ingatlah ketika Chomsky membantai argumen William F. Buckley Jr., pembawa acara TV terkenal di Amerika, soal perang Vietnam di tahun 1969.

Ada hal aneh soal Noam Chomsky: The New York Times menyebutnya “bisa jadi” pemikir publik terpenting hari ini, walau koran itu jarang mengutipnya, atau berdebat dengannya, apalagi bintang-bintang media populer di televisi jaringan. Namun Chomsky tetap mendunia dan dirujuk di usianya yang ke 89 ini: ia adalah ilmuan yang mengajarkan kita untuk berpikir soal bahasa manusia sebagai sesuatu yang terpatri secara biologis, dan bukan akuisisi sosial; ia adalah humanis yang berdemo melawan Perang Vietnam dan memproyeksikan sisi lain kekuatan Amerika, awalnya atas dasar moral dan lama kelamaan untuk pertimbangan praktis. Ia menjadi rock star di kampus-kampus, di Amerika atau di luar negeri, dan ia menjadi semacam Bintang Utara untuk generasi pasca Occupy Wallstreet yang menolak kekalahan Bernie Sanders. 

Sayangnya, Chomsky tetap terasing di dunia dimana kebijakan dibuat. Tapi di markasnya, di Massachusetts Institute of Technology (MIT), ia tetap seorang profesor tua yang terkenal, yang dengan mudah dihubungi, menjawab email, dan menerima pengunjung seperti kami dengan ramah.

Minggu lalu, kami mengunjungi Chomksy dengan sebuah misi pikiran terbuka: Kami mencari pendapat yang tidak umum tentang sejarah terbaru kita, dari seseorang yang terkenal jujur. Kami bersurel-surelan padanya, dan bilang kami ingin tahu bagaimana ia berpikir, bukan apa yang ia pikirkan. Ia membalas surel kami dengan bilang ia bekerja keras dan membuka pikirannya, dan menerapkan, dalam kata-katanya sendiri, “Kemauan gaya Socrates untuk mempertanyakan apakah doktrin konvensional yang diterapkan cukup adil.”

Christopher Lydon: Kami hanya ingin Anda menjelaskan, sedang dimana peradaban kita hari ini–

Noam Chomsky: Gampang itu.

CL: [Tertawa]—Ketika banyak orang ada di tepian sesuatu, sesuatu yang bersejarah. Adakah ringkasan Anda mengenai semua ini?

NC: Ringkasan singkat?

CL: Ya.

NC: Ringkasan singkat saya pikir bisa dimulai ketika kita melihat sejarah baru-baru ini di Perang Dunia Ke-II, sesuatu yang mengagumkan telah terjadi. Pertama, kecerdasan manusia menciptakan dua palu godam raksasa yang dapat menghancurkan keberadaan kita–atau paling tidak keberadan kita yang terstruktur ini—keduanya berasal dari PD II. Salah satunya cukup mudah dikenali. Bahkan keduanya hari ini mudah dikenali. PD II berakhir dengan penggunaan senjata nuklir. Langsung jelas pada tanggal 6 Agustus, 1945, hari yang sangat saya ingat. Jelas bahwa teknologi akan berkembang ke titik dimana ia akan menjadi bencana mutakhir. Para Ilmuan sudah pasti mengerti ini.

 

Tahun 1947, Bulletin of Atomic Scientists meresmikan Jam Kiamatnya yang terkenal. [Jam kiamat adalah sebuah jam simbolik yang maju mundur menuju kiamat, kiamat adalah tengah malam. Ia meramalkan setiap kemungkinan bencana global dari nuklir, perang antar agama, hingga pemanasan global; sifatnya fluktuatif]. Kamu tahu, seberapa dekat jarum menitnya ke tengah malam? Dan itu dimulai tujuh menit sebelum tengah malam. Tahun 1953, ia dua menit ke tengah malam [menjelang perang nuklir]. Itu adalah tahun dimana Amerika Serikat dan Uni Soviet meledakan bom-bom hidrogen mereka. Tapi kini kita mengerti bahwa di akhr PD II dunia juga memasuki kisah epik geologis yang baru. Epik itu dinamakan Anthropocene, kisah dimana manusia menjadi sebuah perusak atau bencana terhadap lingkungan. Maju lagi ke tahun 2015, lagi di tahun 2016. Langsung setelah pemilihan Trump di akhir Januari tahun ini, jam nya bergerak lagi ke dua setengah menit ke tengah malam, ini yang terdekat sejak tahun ’53.

Jadi ada dua ancaman eksistensial yang kita ciptakan–yang satu kemungkinan perang nuklir menyapu kita semua; dan satu lagi bencana lingkungan hidup, menciptakan akibat parah–lalu ada lagi ancaman lain muncul.

Ancaman ketiga terjadi. Dimulai sekitar tahun 70an, kecerdasan manusia didedikasikan sepenuhnya untuk memusnahkan, atau melemahkan, halangan utama yang bisa menangani dua bencana sebelumnya. Mereka menambah masalah dengan menciptakan neoliberalisme. Ada transisi pada saat itu dari periode yang banyak orang sebut “kapitalisme ter-regimen,” di tahun 50 dan 60-an, periode pertumbuhan besar, pertumbuhan egalitarian, banyak kemajuan di keadilan sosial dan sebagainya–

CL: Sosial Demokrasi…

NC: Ya, sosial demokrasi. Itu juga kadang disebut, “masa keemasan kapitalisme modern.” Itulah yang mengubah tahun 70-an dengan cara pikir era neoliberal yang sampai sekarang kita hidupi. Dan jika Anda tanya diri sendiri, era apakah ini, prinsip utamanya adalah era dimana terjadi pengrusakan mekanisme solidaritas sosial dan dukungan sesama dan keterlibatan populer dalam menentukan kebijakan.

Tapi era ini tidak pernah menyebut dirinya demikian. Apa yang hari ini disebut “kebebasan,” arti sebenarnya adalah manut pada kuasa yang terpusat, tak bertanggung jawab, dan swasta. Itulah arti sebenarnya. Intitusi pemerintahan [demokratis]–atau asosiasi-asosiasi lain yang memperbolehkan masyarakat terlibat dalam pembuatan kebijakan–secara sistematis dilemahkan. Margaret Thatcher mengatakannya dengan gamblang ketika bilang, “tidak ada masyarakat, yang ada hanya individu-individu.”

 

Bersambung ke part II.

Eksistensialisme, Perlawanan, Puisi

GODOT

Semua nabi-nabi telah datang membawa wahyuNya
Kitab-kitab suci telah disebar bersama ulama
Biksu dan pendeta menggumamkan doa-doa
namun yang dinanti tidak juga pernah tiba

Kita membunuhnya
kita membunuhnya

Tak pernah ada lagi yang mengaku mendengar wahyuNya
Bicara pada Tuhan itu waras, mendengarNya gila
untuk berkuasa bicaralah di atas namaNya
Ia maha besar maha rapuh selalu dibela

Kita membunuhnya
kita membunuhnya

dengan mengarang kata-kata
demi harta dan kuasa
untuk mewujudkan surga
di dunia fana

dengan mengumbar doa-doa
mengutuki yang berbeda
untuk panaskan neraka
demi golongannya

Akal dimatikan untuk menghidupkan iman
Iman tanpa ilmu memakan kemanusiaan
Ikut kata Imam yang gumamkan kebencian
Tunduk pada tafsir tanpa pernah memikirkan

Kita membunuhnya
kita membunuhnya