Filsafat, Racauan

Manifesto Pedagogi Pandemi

Mari kita mulai tulisan ini dengan beberapa fakta soal kondisi belajar hari ini:

Pertama, sistem pendidikan sudah ketinggalan zaman dibanding sistem informasi. Pada akhirnya orang melakukan cara belajar sendiri yang otodidak seperti yang dikhayalkan oleh Wachowski bersaudara di film The Matrix: download, biasakan, dan voila! Kamu akan bisa. Hari ini kita punya youtube dan kursus-kursus online. Sudah pasti transfer skill akan menjadi kenyatakan, dan guru di masa depan bukan lagi manusia tapi artificial intelligence, atau data yang sudah dikompilasi.

Kedua, kelas-kelas menjadi tidak relevan. Infrastruktur pendidikan tidak lagi diperlukan kecuali dalam bentuk hardware dan software untuk transfer skill. Untuk bekerja, orang tinggal belajar di internet dan langsung mengerjakan. Untuk mengoperasikan alat, hal yang sama bisa dilakukan karena kebanyakan alat-alat kerja hari ini juga sudah otomatis. Dari mulai mobil sampai autocorrect di HP atau komputer saya.

Ketiga, production based learning. Belajar tidak lagi menjadi proses trial and error. Trial and error adalah proses penelitian yang dilakukan berdasarkan data terdahulu. Itu sudah sebuah kerja. Sisanya, proses belajar akan dilihat sebagai sebuah kerja/project yang menghasilkan sebuah produk. Produknya bisa berkualitas, jika seorang siswa-pelerja ini bisa mengolah data dengan baik.

Dari sinilah saya merasa bahwa program pendidikan di masa depan tidak lagi membutuhkan guru, tapi membutuhkan mentor/tutor yang bertindak sebagai partner kerja, bersama membuat produk atau project, yang menghasilkan  uang dan skill baru di saat bersamaan.

Ini masa depan pendidikan kita yang harus kita jelang bersama.

Politik, Racauan, Uncategorized

HARUSKAH MAHASISWA “SOPAN” PADA DOSENNYA?

Pendidikan harus bikin orang jadi beradab, dan adab itu dimulai dari sopan-santun ketika bicara, email, sms, atau chat WA. Sopan bukan hanya pada dosen, tapi juga pada sesama. Tapi sebelum saya jadi patron kesopanan, saya harus kasih disklaimer dulu bahwa saya bukan orang yang sopan.

Saya dibesarkan di keluarga dengan latar belakang etnis, budaya, dan ekonomi yang berbeda jauh antara dua orang tua saya. Kawan-kawan dan sodara-sodara saya ada yang orang kaya kota, ada juga orang kampung miskin, orang kaya kampung, dan orang miskin kota. Ketidaksopanan saya pelajari dari yang terakhir: orang miskin kota. Orang kampung mau kaya atau miskin biasanya sopan, maklum, guru ngajinya masih pake rotan buat nyabet salah baca Iqra, yang kaya gitu ga ada pilihan kecuali jadi rendah hati dan (seringkali) rendah diri.

Sementara orang miskin kota ada dua macam, yang miskin ekonomi dan yang miskin pendidikan sosial (pensos). Paling nggak sopan yang miskin ekonomi dan miskin pensos, yang begini hidupnya mah senggol bacok. Tapi mahasiswa jaman ini sulit dikategorikan miskin ekonomi. Kuliah mahal bos, BSI aja hari ini lebih mahal daripada UI jaman saya.

Artinya kebanyakan mahasiswa yang dinilai tidak sopan ini adalah produk dari cukup ekonomi dan miskin pensos. Mahasiswa jaman ini yang sering disebut millenial (baca: dari SD sudah kenal gadget), memang kuper. Tapi pertanyaannya apakah itu salah mereka? Memang siapa yang kasih gadget? Atau pertanyaan klasik ibu guru: “Di rumah kamu nggak diajari sopan santun ya?” Dengan enteng, mahasiswa kuper yang tidak sopan akan menjawab, “Iya.”

Jadi kesalahannya ya struktural. Pasca reformasi muncul banyak kelas menengah baru Indonesia. Kelas ini pekerja keras, kerja dari pagi sampai malam. Bersamaan dengan itu muncul sekolah-sekolah dan tempat-tempat kursus yang memastikan anak sekolah dan ekskul dari pagi sampai malam, yang tidak ekskul kurang perhatian orang tua. Kalaupun dapat perhatian, banyak juga orang tua yang kawin muda jadi masih terlalu hedon, atau orang tua yang baru punya anak di usia senja hingga susah mengendalikan anaknya. Banyaklah faktornya, namun utamanya sopan santun itu yah didapat di rumah. Bukan di sekolah.

Bagaimana dengan sopan santun pada guru? Bukannya itu di sekolah? Kembali lagi tergantung bagaimana sekolahnya. Pendidikan yang visinya kapitalistis, dan ngejar akreditasi, biasanya lebih memanjakan siswa. Guru-guru diharuskan lebih perhatian, lebih mengerti bahwa kebutuhan setiap anak berbeda. Itu bukan hal buruk kalau dilakukan dengan benar. Tapi akibatnya fatal, kalau standarnya ganda: asal mampu bayar, lulus-lulus saja. Murid yang secara intelektual dan emosional tidak kompeten, jadi bisa masuk perguruan tinggi.

Masalah tidak berhenti di situ. Mahasiswa yang masuk perguruan tinggi punya kejomplangan yang lebar. Ada yang memang pintar sejak SMA, sekolahnya bagus, standarnya bagus, kemampuan sosialnya bagus, bisa menulis dasar, bahasa inggris bagus, dan biasa berpikir kritis; bertemu dengan lulusan sekolah yang standarnya rendah, komunikasi sulit, bahasa inggris pas-pasan, nulis nggak bisa, dan terbiasa didikte.

Akhirnya dosen-dosen kelimpungan. Entah sudah berapa dosen dari beberapa perguruan tinggi berbeda-beda yang saling curhat sama saya tentang ‘keharusan mengejar akreditasi’ dengan non-skripsi lah, dengan kuota kelulusan kelas lah, atau menurunkan standar didik lah, supaya mahasiswa yang masuknya sudah jomplang, bisa paling tidak sinkronisasi otak. Di tempat saya mengajar beberapa tahun ini pun, gejala ini terjadi. Beberapa tahun lalu, saya dengan mudah mengajar dalam bahasa Inggris di kampus internasional. Sekarang dilebur dan yang bahasa inggrisnya bagus dan kritis jadi minoritas.

Dan untuk itu, saya harus turunkan standar ajar, supaya yang lulus banyak. FYI, saya turunkan standar ajar bukan karena kebijakan kampus–secara silabus yang baru belum keluar, tapi kebijakan saya sendiri melihat beberapa anak pekerja keras yang tidak mampu baca buku teks pegangan yang memang untuk kelas internasional. Dulu ada satu dua anak yang begitu. Saya bisa tangani langsung secara personal tanpa harus turunkan standar. Sekarang sudah tidak bisa lagi karena mereka mayoritas.

Kembali ke soal kesopanan, saya akan menutup bahwa menurut saya dosen/guru sekarang yang harus pintar-pintar mengakali ketidaksopanan murid-muridnya. Karena kini murid sudah kencing terbang dengan gadget, media sosial, google, sementara kebanyakan guru dan dosen kencing berlari pake sosmed aja masih gaptek. Soal sopan tidak sopan, tidak penting lah, sistem pendidikannya saja masih kacrut.

Eksistensialisme, Ethnography, Perlawanan, Politik, Puisi, Racauan

3329

Kau anggap tak berdaya
tuk berkuasa
kami tak paham kata
kau telah rampas semua

Kami tak punya peta
namun tak buta
kau pancang tanah mulia
kau telah rampas semua

O, kebebasan
kau paksakan
kau jejalkan

Kau datang bagai Nabi
mengaku suci
tapi engkau pencuri
kau telah rampas semua

Tradisi harus mati
demi rezeki
kau didik anak kami
tuk ikut rampas semua

O, kebebasan
kau paksakan
kebablasan

Negara punya semua penguasa
Agama harus Tuhan yang esa
Negara punya semua penguasa
Agama harus Tuhantuhantu

manokwari