Film, Kurasi/Kritik

Barat Membunuh, Timur Mudik: Reaksi Kekalahan Terhadap Kapitalisme dalam Film The Menu dan Hunger

Film porno yang halal adalah film porno makan, dan dua film ini adalah film porno makanan hardcore, BDSM, dengan darah dimana-mana: The Menu dan Hunger. Di The Menu, seorang chef menciptakan hidangan yang aneh dan membunuh pelanggannya satu per satu. Sementara di Hunger, seorang koki jalanan bergabung dengan tim Chef Paul, pemilik catering mewah Hunger, tetapi merasa tidak puas dengan pelanggaran etis yang dilakukan Chef Paul. Dalam esai ini, akan digunakan kerangka teoritis dari Marx, Foucault, Adorno, dan Sahlins, para filsuf yang kepalanya terlalu sering menghadap serong ke kiri, untuk membahas masalah kelas sosial, budaya konsumerisme, dan makanan. Yang dibahas: cerita dan plot filmnya karena saya malas bahas treatment dan visual di luar workshop MondiBlanc. Semoga essay ini bisa membuka diskusi lebih luas, khususnya soal gaya dua film tersebut yang keduanya memiliki keindahan visual dan simbolik yang sangat kaya.

Dalam The Menu, chef dan timnya merencanakan balas dendam dengan menciptakan menu aneh dan membunuh klien super kaya mereka satu per satu. Protagonis dari film ini, Margot yang diperankan oleh Anya Taylor-Joy, adalah orang kelas menengah bawah yang merasa asing dalam acara kuliner sadis yang dipimpin oleh Chef Slowik yang diperankan oleh Ralph Fiennes. Di akhir film, Margot bertahan dan berhasil lolos dari acara itu sambil makan burger, menu terakhir yang dibuat sang Chef, yang merupakan makanan untuk kelas bawah. Para karakter kapitalis dibunuh, kelas bawah tetap jadi kelas bawah.

Di sisi lain, dalam Hunger, Aoy yang diperankan oleh Chutimon Chuengcharoensukying adalah seorang koki berbakat dari restoran jalanan yang bergabung dengan tim Chef Paul yang diperankan oleh Nopachai Jayanama. Setelah belajar selama beberapa waktu, Aoy tidak bisa terima pelanggaran etis Chef Paul, khususnya soal memasak hewan eksotis. Di berhenti kerja dan dengan bantuan investor, dia membuka restoran sendiri, hanya untuk merasa kecewa dan kembali menjadi koki di restoran jalanan keluarganya. Kelas bawah lagi-lagi kembali ke kelas bawah.

Terdapat perbedaan signifikan dalam cara dua film ini menggambarkan gambaran kesenjangan sosial dan budaya.

Pertama: Barat melihat kesenjangan kelas dengan perlawanan fisik dan balas dendam, sementara Asia (baca: timur) melihat masalah sistemik yang diperjuangkan dengan menjadi diri sendiri dan bangga dengan budaya dan tradisi kelas menengah bawah yang kekeluargaan.

Kedua: The Menu, yang mengambil tempat di sebuah pulau pribadi dengan sumber makanan sendiri, tidak mencoba menjelaskan kelas sosial yang direpresentasikan melalui visual di dapur dan restoran, sementara Hunger menunjukkan kesenjangan sosial yang dalam di Thailand, yang mewakili Asia Tenggara. Bahan makanan diambil dari kelas menengah bawah, dirangkai dan dipresentasikan sebagai kemewahan denhan nilai tambahan ratusan kali lipat untuk kelas atas. Nilai tambahan tersebut adalah modal simbolik yang kita sebut prestige.

Ketiga: The Menu menyederhanakan masalah dengan representasi karikatur dan gambar sadis untuk melambangkan konflik kelas, sedangkan Hunger memiliki representasi kesenjangan sosial yang lebih realistis. The Menu terjadi dalam kerangka sempit, sementara kerangka luas muncul dalam simbol-simbol foto lama dan cerita latar. Sementara Hunger secara frontal memaparkan kesenjangan sosial di Thailand, yang mewakili Asia Tenggara, dengan UMKM-UMKM jalanan yang tak bayar pajak dan tanpa aturan sanitasi dan memberi akses makanan kepada orang-orang miskin.

Dari kedua film ini, kita dapat melihat bagaimana kultur barat dan timur memandang masalah kelas dan kesenjangan sosial. Representasi kesenjangan sosial dalam industri kuliner juga menjadi cerminan dari representasi kesenjangan sosial di masyarakat secara keseluruhan.

Sekarang mari kita coba otak atik film The Menu dan Hunger dengan perspektif teori kritis klasik yang diusung oleh Karl Marx, Michel Foucault, Theodore Adorno dan Marshall Sahlins. Keempat pemikir ini bicara panjang lebar soal politik, kekuasaan, dan media; pemikiran mereka masih sangat relevan, bahkan beberapa baru relevan, ketika kita mengalami masa dimana kesenjangan kelas bukannya menghilang malah semakin terasa hari ke hari, terlepas dari naiknya PDB sebuah negara, atau semakin modernnya teknologi. Mereka adalah para pemikir besar yang membuat fondasi dari seluruh kritik dunia modern dan kapitalisme kita.

Karl Marx dalam bukunya Das Kapital menekankan tentang kelas dan konflik kelas, dimana buruh sebagai kelas proletariat selalu dieksploitasi oleh pemilik modal sebagai kelas bourgeoisie. Dalam The Menu, karyawan restoran yang mayoritas berasal dari kelas pekerja berkonflik dengan chef yang mewakili kuasa kelas atas. Dan chef yang kelas atas, stres dengan kelas atas lain yang harus ia layani–chef Slowik, berasal dari kelas menengah bawah dan memulai karirnya dengan membuat burger, merasa sentimen dan tidak aman karena posisinya, meskipun ada di atas angin, tetap rentan oleh kritikus masakan dan kelaparan tak terbatas kaum 1% itu. Sementara dalam Hunger, konflik terjadi antara koki jalanan yang mewakili kelas pekerja dengan chef yang juga berada di atas. Sentimen dan pengkhianatan terjadi di struktur kuasa dua film–dari para juru masak kepada koki, hingga koki kepada customernya. Ada hierarki dan moda produksi yang bisa jadi skripsi Marxist di dua film tersebut.

Michel Foucault dalam bukunya Power/Knowledge menekankan pada kekuasaan sebagai suatu hal yang terdapat pada segala aspek kehidupan manusia, termasuk dalam dunia kuliner, dan didasarkan pada pengetahuan dan produksi pengetahuan. Dalam The Menu, chef memegang kendali penuh atas hidangan yang disajikan dan memiliki kekuasaan yang sangat besar atas karyawan yang bekerja di bawahnya. Sedangkan dalam Hunger, chef juga memiliki kekuasaan dalam menentukan hidangan dan memperlihatkan perilaku otoriter dalam memimpin timnya. Kedua film mengangkat betapa naif, jahat dan borosnya nya orang-orang kaya yang membeli prestise. Mengutip Chef Paul yang menjadi koki karena miskin dan ingin mencoba caviar, serta menemukan bahwa caviar serasa “seperti tahik.”

Photo by Pixabay on Pexels.com

Teori lain dari Foucault yang bisa dipakai untuk melihat dua film ini adalah teori Panopticon. Dalam konteks dapur industri kuliner dalam The Menu dan Hunger, teori panopticon Foucault dapat diterapkan sebagai bentuk pengawasan yang terus-menerus dan tak terlihat pada karyawan dapur. Dalam teori panopticon, kekuasaan bukan hanya terbatas pada orang yang memiliki kekuasaan langsung, tetapi juga terkait dengan kontrol dan pengawasan yang berkelanjutan. Dalam kedua film, kontrol didapat dengan penempatan setiap karakter dalam sebuah ruang dimana semua orang dapat melihat semua orang. Di situ kebudayaan dan kekuasaan dibentuk, melalui interaksi saling memandang satu sama lain.

Dalam kedua film, chef dapat melihat dan mengawasi semua aktivitas di dapur, sementara karyawan tidak dapat melihat chef karena sibuk dengan tugasnya. Sehingga karyawan merasa selalu dalam pengawasan dan terus-menerus menyesuaikan perilaku mereka dengan harapan untuk memenuhi standar yang telah ditetapkan. Hal ini dapat dilihat dalam adegan-adegan di mana karyawan dapur bekerja dengan cepat dan sangat disiplin, seolah-olah mereka selalu dalam pengawasan yang ketat.

Namun, di sisi lain, teori panopticon juga dapat diterapkan pada bagaimana chef dan hidangan mereka dipertontonkan kepada penonton sebagai bagian dari sebuah pertunjukan. Dalam kedua film, dapur adalah pusat dari pengalaman kuliner, di mana penonton bisa melihat langsung kegiatan di dapur. Chef dan hidangan mereka dipertontonkan sebagai bintang utama dalam sebuah pertunjukan, di mana penonton menikmati makanan sebagai hasil akhir dari sebuah proses yang rumit dan menarik.

Dalam hal ini, teori panopticon dapat dilihat sebagai bentuk kontrol sosial di mana penonton secara tidak sadar merasa terlibat dalam pengawasan dan pemantauan terhadap kegiatan dapur dan chef, yang pada gilirannya mempengaruhi persepsi mereka terhadap hidangan yang disajikan. Dengan memanfaatkan kekuatan pertunjukan dan pengawasan, dapur industri kuliner dalam The Menu dan Hunger menciptakan pengalaman kuliner yang sangat terkontrol dan terstruktur.

Jika kita melihat lebih jauh lagi dengan mata elang, kita akan menemukan bagaimana teori Adorno bisa dipakai dalam membongkar struktur hierarki semacam ini. Theodore Adorno dalam bukunya The Culture Industry: Enlightenment as Mass Deception menyoroti tentang industrialisasi budaya sebagai suatu bentuk kontrol sosial atas masyarakat. Dalam konteks film The Menu, industri kuliner dianggap sebagai industri budaya yang menghasilkan produk yang dikonsumsi oleh masyarakat kelas atas. Hal ini tercermin pada kisah di dalam film dimana para elit bergantung pada pengalaman gastronomi yang disajikan oleh restoran. Sedangkan dalam Hunger, industri kuliner dianggap sebagai suatu bentuk penghasilan yang berasal dari tradisi masyarakat kelas bawah. Namun, film ini juga menunjukkan bagaimana investor dapat mengambil keuntungan dari industri kuliner dan mengubah pandangan asli terhadap hidangan menjadi suatu komoditas yang dijual ke masyarakat kelas atas.

Pemikiran Marshall Sahlins, profesor sosiologi dan antropologi dari Universitas Chicago dapat digunakan untuk menganalisis tema kuliner di film The Menu dan Hunger. Dalam kedua film tersebut, terlihat jelas bahwa jenis makanan yang disajikan dapat memperlihatkan moda produksi kelas sosial yang ada. Kedua chef dan kelompoknya memasak untuk kaum yang makannya sedikit tapi serakahnya tak ada ujung. Dalam hunger, kaum 1% ini mengeksploitasi habis-habisan orang lain hanya untuk bisa makan dengan prestise tadi, yang semuanya tak lebih dari tampilan dan gaya. Sementara di Hunger, Aoy berusaha memperkenalkan masakan keluarganya dan narasi cinta kasih dalam masakahn sederhana kelas bawah di hadapan orang-orang kaya. Ini berhasil untuk sementara, tapi kalah dengan narasi sup Chef Paul yang menyindir, “hilangkan minyak yang terlalu banyak dari masakan sebelumnya.” Di adegan awal, ketika pertama kali Chef Paul bertemu dengan Aoy, ia juga menyinggung bau badan Aoy yang disebabkan oleh makanan dan tempat kerjanya—sesuatu yang kita temukan dalam film tentang kelas pemenang Oscar yang lain, Parasite karya Boon Joong-Ho.

Dalam kedua film tersebut, makanan jelas dipandang sebagai suatu tanda atau simbol yang merepresentasikan status sosial seseorang atau kelompok tertentu. Dalam The Menu, konsumsi makanan menjadi suatu bentuk konsumsi budaya, dimana makanan menjadi alat untuk menunjukkan kekayaan dan status sosial. Sedangkan dalam Hunger, makanan menjadi suatu bentuk identitas budaya, dimana makanan menjadi alat untuk memperlihatkan jati diri daerah tertentu–khususnya Thailand. Kedua film punya makanan kelas miskin: The Menu dengan Cheese burger, dan Hunger dengan Pad-thai. Tapi Padthai bukan hanya bicara kemiskinan, ia adalah makanan khas Thailand. Sementara cheseburger adalah makanan franchise kapitalis barat untuk orang kelas menenga bawah di barat. Di Barat Padthai makanan eksotik orang menengah atas, di Asia tenggara, Cheese burger makanan kelas menengah atas (walau kini sudah banyak yang murahan). Ini masalah lain yang bisa kita kaji sendiri, soal konteks makanan, kelas dan kebudayaan. Dari sini kita bisa melihat bahwa yang dijual oleh kedua chef bukan makanan, tapi identitas. Yang nikmat bukan rasa, tapi identifikasi bahwa diri sang konsumen punya daya dan kuasa untuk menjadi serakah dan lapar tanpa ujung.

Sebagai kesimpulan, kedua film The Menu dan Hunger dapat dianalisis dari perspektif teori kritis yang menyoroti tentang kelas, kekuasaan, dan industri budaya. Konflik antara kelas dan kekuasaan dalam kedua film tersebut dapat dipahami sebagai refleksi dari realitas sosial di dunia kuliner yang sebenarnya, di mana kekuatan ekonomi, politik, dan budaya berperan dalam menentukan siapa yang memiliki kekuasaan dan kontrol atas industri makanan dan minuman.

***

Terima kasih sudah membaca sampai habis. Jika kamu suka tulisan ini, jangan lupa traktir yang nulis kopi murahan biar dia semangat. Klik tombol di bawah ini untuk menuju ke laman trakteer-nya.

Memoir, Racauan

My Heaven

What are 5 everyday things that bring you happiness?

Sleep well. At least 6 hours.

Eat healthy provided by my most trusted chef and mother figure in our community.

Being able to serve and help others. At least once a day.

Being able to do task at least twice a day.

Being able to treat myself with games, movies or small comfort food once a day, for two to three hours.

I live in heaven. Better with my love partner when she’s available but happiness should be created alone first before involving others.

This blog runs with donation. For Indonesian readers, please click this button.

Contact me in apakabar@eseinosa.com anytime.

Racauan

Ekspektasi Rendah, Standard Tinggi: Gebetan dan PDKT

Salah satu hal yang paling sering bikin orang strest adalah ekspektasi. Mudah memang untuk bilang sama orang yang stres, “kamu harus me-manage ekspektasimu”. Pada kenyataannya tentunya, mengatur ekspektasi sangat susah.

Kita berekpektasi pada banyak hal, pada orang lain, pada diri sendiri, pada keadaan dan pada Tuhan. Dan ketika ekspektasinya meleset, kita stres. Semakin tinggi ekpektasi, semakin depresi ketika tidak tercapai.

Lalu ketika ekspektasi kita bikin rendah, seringkali kita terjebak menjadi hidup dengan standard rendah. Kita jadi tidak bisa berkembang, tidak bisa menjadi lebih baik. Kita kehilangan harga diri dan akibatnya malah tambah parah: hidup jadi tidak berkualitas.

Saya rasa, pada akhirya kita harus mencari bukan jalan tengah, tapi kesinambungan antara ekspektasi dan standard. Apa bedanya?

Ekspektasi berarti sebuah kepercayaan kuat, bahwa sesuatu yang kita inginkan akan terjadi di masa depan, semacam harapan yang ekstrim dan diusahakan sedemikian rupa Sementara itu standard berarti hal yang kita pakai untuk mengukur kualitas, atau membandingkan sesuatu. Tinggi atau rendahnya standard tergantung pengetahuan kita dan pembandingnya.

Dengan kata lain, ekspektasi dimulai dengan khayalan, sementara standard dimulai degan pengetahuan. Mari kita praktikan dengan sebuah contoh klise tentang Gebetan dan PDKT.

Umpamakan ada seorang perempuan bernama Lusi, yang sejak kecil sudah menonton film princess disney, remaja penuh drakor, dan kuliah penuh K-Pop. Di dalam pikirannya ada lelaki ideal yang seperti idolanya, yang akan sayang padanya seperti lelaki-lelaki di drama kesukaannya: anak nakal misterius, yang dibalik kejantanannya menyerah kalah karena cinta, menunjukkan sisi lemahnya pada perempuan yang ia cintai, lalu ia berubah menjadi lelaki baik yang bertanggung jawab dan tidak menarik; semacam bapack-bapack standard.

Lusi berekspektasi seperti itu dari seorang kawan kuliahnya, Dio, yang memang wajahnya dan badanya mirip sama salah satu anggota sebuah boyband korea (yang mana silahkan khayalkan sendiri). Dio seorang fak boi, bad boi, dengan wajah sad boi. Dan Lusi sudah berekspektasi dengan plot di paragraf sebelumnya, dan tentunya berakhir kehilangan keperawanan, lalu dighosting Dio dan Lusi mulai depresi dan seterusnya dan sebagainya sampai bla bla bla move on dan terima kenyataan. Dia jadian lagi sama seorang cowok buruk rupa bernama Antok yang dia harapkan akan setia dan baik, dan ternyata Antok juga mudah tergoda dst dsb. Aih ini klise banget saya sendiri malas nulisnya hahahaha…

Langsung ke analisisnya aja, Lusi berekpektasi tinggi salah, berekspektasi rendah salah juga. Jadi cara terbaik sebelum ekspek apa-apa adalah lihat dulu standardnya Lusi. Jika Dio dan Antok keduanya suka pada Lusi, berarti Lusi punya privilise “make up genetik” secara fisik. Pertanyaannya apakah Lusi bisa punya cukup otak buat menentukan standardnya sendiri? Mengukur kehidupannya? Potensinya? Potensi orang lain? Apakah Lusi punya cukup kesabaran untuk memproses sebuah hubungan perlahan-lahan, membangun hubungan, menyamakan standard baru mengatur ekspektasi dia dan pasangannya?

Karena pada akhirnya hubungan adalah soal standard dan ekspektasi. Jika standard kita tinggi, kita akan berekspektasi partner kita akan mengejar standard itu. Ini sudah ekspektasi salah, Harusnya kita juga analisis standard partner kita dan kompabilitasnya untuk mengejar standard kita. Ini yang membuat Lusi salah pada Dio (ketinggian) dan salah pada Antok (kerendahan). Jadi bagaimana baiknya?

Baiknya jangan berharap, cukup berencana saja. Karena kata orang dulu, manusia cuma bisa berencana, Tuhan juga yang menentukan. Rencanakan yang matang, dengan standard tinggi, dan ekspektasi rendah. Jadi ketika hasilnya tidak sesuai rencana, tidak masalah. Toh, ekspektasimu rendah. Seringkali, dengan ini, kamu akan dapat lebih tinggi sedikit dari ekspektasimu. Ayo kita lihat contoh kasus tadi dengan perspektif ini:

Lusi ditaksir oleh Dio. Standard Lusi sebagai perempuan tinggi. Ia ingin dihargai, dan tak perduli jika tak dapat Dio karena ekspektasinya pada Dio rendah. Suka syukur, ga suka yaudah. Dio makin penasaran karena ga dapet seks. Dia mengancam akan memutuskan Lusi kalau ga dikasih. Lusi sebal diancam, Dio diputuskan duluan. Ada dua kemungkinan, putus permanen, atau Dio mulai belajar jadi lelaki yang menghormati perempuan, menjadi partner dan teman yang baik dan sama-sama belajar. Anggaplah yang terburuk, Dio cabut. Lusi cari bahagia sendiri, kuliah di Korea, dan dapet cowok orang Korea yang gentle dan cerdas, lalu ia menikah dan punya masalah-masalah baru.

Antok? Tidak ada Antok, standard Lusi ketinggian. Haha.

Tapi mungkin ada baiknya ganti subjek jadi Antok, lelaki baik yang buruk rupa. Dengan rumus standard tinggi dan ekspektasi rendah, Antok berusaha mendekati Lusi. Tentunya ditolak. Karena ekspektasi rendah, Antok tidak menderita. Ia memilih untuk bekerja dan bermain game, dan beli barang-barang yang bisa dibeli dengan tabungan gajinya. Kamarnya diberesin, dia pake baju yang dia suka, ke tukang cukur langganan yang dia suka juga nyukur dan mijetnya, hidupnya hepi. Standardnya tinggi. Keluar membuncah kah kharisma nya, dan dia jadi punya usaha sendiri, lumayan mapan, dan suatu haru jatuh cinta dengan Asri, mantan Gebetannya di SMA yang sudah punya anak 2 tapi sudah pada SMA. Perempuan ini baru dicerai karena menolak poligami. Antok dulu patah hati karena berharap pada Asri. Sekarang Anton santai, karena dia berencana menjadi suami dan ayah yang baik buat Asri dan anak-anaknya, tapi ekspektasinya rendah untuk dicintai dan dihargai seperti yang ia mau. Sudah biasa bahagia sendirian juga.

Cerita-cerita ilustrasi di atas cuma karangan saja, fiktif sekedar kasih hiburan, tapi bukan kasih harapan. Karena baik Lusi atau Antok akan selalu punya masalah, harapan bisa selalu pupus, rencana bisa gagal. Tapi semakin hari, kalau kita bisa belajar dan terus evaluasi, kita akan semakin jago bermanuver dari kegagalan. Seperti kata Bob Ross, membuat gagal atau kecelakaan dalam melukis, menjadi ‘happy accidents’.

Jadi berikut kesimpulan-kesimpulannya:

Standard tinggi ekspektasi rendah, standard tinggi untuk kehidupan pribadi kita, ekspektasi rendah untuk orang lain jadi kita tidak kecewa.

Jangan pernah berharap, berencana saja.

Hasil kehidupan cuma 2: sukses atau belajar. Santai saja pada penolakan dan kegagalan.

Karena pada akhirnya semua orang akan gagal dan mati, cara kita gagal menentukan kemenangan kita ketika cabut dari kehidupan ini.

Terima kasih sudah membaca sampai habis. Kalau kamu suka yang kamu baca, bolehlah membantu saya patungan bayar website ini, atau sekedar beliin saya secangkir kopi. Tekan tombol di bawah untuk ke lama trakteer.

Eksistensialisme, English, Meditasi Tulis, Puisi, Racauan

It’s that time again

It’s that time again when I have become sleepless. And in this state of mind, glimpses of horrendous images comes to mind unexpectedly, triggered by unprecedented scene. I will not give you the context of these images. I just want to share these aesthetically awful memories that will haunt me for the rest of my life.

The body of a friend who got hit by a train.

Strains of hair of an ex girlfriend on the sink.

The scar under the belly of a loved one.

The warm chest of my father who just passed, blood on his lips because he bite his tongue.

Corpse of my uncle, skinny, dark, blood from his mouth, ear, eyes, nose. His body bent and stiffed.

The smell of fresh linen out of my crush uniform in High School.

Her smile while giving me warm milk in morning. The taste of that milk.

The rope on my neck on a failed suicide attempt.

My salty tears, and the wind on my face while driving my motorcycle, after a family tragedy.

That rain when I went home from her house, walking for hours.

The sound of my brother adzan on my father’s grave.

A picture of a woman I love, naked with another man.

These are slide of films, that will bug me for the rest of my life.

And as long as I am alive, my life will always produce it, more and more.

I hope I can be better at editing it.

Baca lebih lanjut