Memoir, Racauan

My Heaven

What are 5 everyday things that bring you happiness?

Sleep well. At least 6 hours.

Eat healthy provided by my most trusted chef and mother figure in our community.

Being able to serve and help others. At least once a day.

Being able to do task at least twice a day.

Being able to treat myself with games, movies or small comfort food once a day, for two to three hours.

I live in heaven. Better with my love partner when she’s available but happiness should be created alone first before involving others.

This blog runs with donation. For Indonesian readers, please click this button.

Contact me in apakabar@eseinosa.com anytime.

Racauan

Ekspektasi Rendah, Standard Tinggi: Gebetan dan PDKT

Salah satu hal yang paling sering bikin orang strest adalah ekspektasi. Mudah memang untuk bilang sama orang yang stres, “kamu harus me-manage ekspektasimu”. Pada kenyataannya tentunya, mengatur ekspektasi sangat susah.

Kita berekpektasi pada banyak hal, pada orang lain, pada diri sendiri, pada keadaan dan pada Tuhan. Dan ketika ekspektasinya meleset, kita stres. Semakin tinggi ekpektasi, semakin depresi ketika tidak tercapai.

Lalu ketika ekspektasi kita bikin rendah, seringkali kita terjebak menjadi hidup dengan standard rendah. Kita jadi tidak bisa berkembang, tidak bisa menjadi lebih baik. Kita kehilangan harga diri dan akibatnya malah tambah parah: hidup jadi tidak berkualitas.

Saya rasa, pada akhirya kita harus mencari bukan jalan tengah, tapi kesinambungan antara ekspektasi dan standard. Apa bedanya?

Ekspektasi berarti sebuah kepercayaan kuat, bahwa sesuatu yang kita inginkan akan terjadi di masa depan, semacam harapan yang ekstrim dan diusahakan sedemikian rupa Sementara itu standard berarti hal yang kita pakai untuk mengukur kualitas, atau membandingkan sesuatu. Tinggi atau rendahnya standard tergantung pengetahuan kita dan pembandingnya.

Dengan kata lain, ekspektasi dimulai dengan khayalan, sementara standard dimulai degan pengetahuan. Mari kita praktikan dengan sebuah contoh klise tentang Gebetan dan PDKT.

Umpamakan ada seorang perempuan bernama Lusi, yang sejak kecil sudah menonton film princess disney, remaja penuh drakor, dan kuliah penuh K-Pop. Di dalam pikirannya ada lelaki ideal yang seperti idolanya, yang akan sayang padanya seperti lelaki-lelaki di drama kesukaannya: anak nakal misterius, yang dibalik kejantanannya menyerah kalah karena cinta, menunjukkan sisi lemahnya pada perempuan yang ia cintai, lalu ia berubah menjadi lelaki baik yang bertanggung jawab dan tidak menarik; semacam bapack-bapack standard.

Lusi berekspektasi seperti itu dari seorang kawan kuliahnya, Dio, yang memang wajahnya dan badanya mirip sama salah satu anggota sebuah boyband korea (yang mana silahkan khayalkan sendiri). Dio seorang fak boi, bad boi, dengan wajah sad boi. Dan Lusi sudah berekspektasi dengan plot di paragraf sebelumnya, dan tentunya berakhir kehilangan keperawanan, lalu dighosting Dio dan Lusi mulai depresi dan seterusnya dan sebagainya sampai bla bla bla move on dan terima kenyataan. Dia jadian lagi sama seorang cowok buruk rupa bernama Antok yang dia harapkan akan setia dan baik, dan ternyata Antok juga mudah tergoda dst dsb. Aih ini klise banget saya sendiri malas nulisnya hahahaha…

Langsung ke analisisnya aja, Lusi berekpektasi tinggi salah, berekspektasi rendah salah juga. Jadi cara terbaik sebelum ekspek apa-apa adalah lihat dulu standardnya Lusi. Jika Dio dan Antok keduanya suka pada Lusi, berarti Lusi punya privilise “make up genetik” secara fisik. Pertanyaannya apakah Lusi bisa punya cukup otak buat menentukan standardnya sendiri? Mengukur kehidupannya? Potensinya? Potensi orang lain? Apakah Lusi punya cukup kesabaran untuk memproses sebuah hubungan perlahan-lahan, membangun hubungan, menyamakan standard baru mengatur ekspektasi dia dan pasangannya?

Karena pada akhirnya hubungan adalah soal standard dan ekspektasi. Jika standard kita tinggi, kita akan berekspektasi partner kita akan mengejar standard itu. Ini sudah ekspektasi salah, Harusnya kita juga analisis standard partner kita dan kompabilitasnya untuk mengejar standard kita. Ini yang membuat Lusi salah pada Dio (ketinggian) dan salah pada Antok (kerendahan). Jadi bagaimana baiknya?

Baiknya jangan berharap, cukup berencana saja. Karena kata orang dulu, manusia cuma bisa berencana, Tuhan juga yang menentukan. Rencanakan yang matang, dengan standard tinggi, dan ekspektasi rendah. Jadi ketika hasilnya tidak sesuai rencana, tidak masalah. Toh, ekspektasimu rendah. Seringkali, dengan ini, kamu akan dapat lebih tinggi sedikit dari ekspektasimu. Ayo kita lihat contoh kasus tadi dengan perspektif ini:

Lusi ditaksir oleh Dio. Standard Lusi sebagai perempuan tinggi. Ia ingin dihargai, dan tak perduli jika tak dapat Dio karena ekspektasinya pada Dio rendah. Suka syukur, ga suka yaudah. Dio makin penasaran karena ga dapet seks. Dia mengancam akan memutuskan Lusi kalau ga dikasih. Lusi sebal diancam, Dio diputuskan duluan. Ada dua kemungkinan, putus permanen, atau Dio mulai belajar jadi lelaki yang menghormati perempuan, menjadi partner dan teman yang baik dan sama-sama belajar. Anggaplah yang terburuk, Dio cabut. Lusi cari bahagia sendiri, kuliah di Korea, dan dapet cowok orang Korea yang gentle dan cerdas, lalu ia menikah dan punya masalah-masalah baru.

Antok? Tidak ada Antok, standard Lusi ketinggian. Haha.

Tapi mungkin ada baiknya ganti subjek jadi Antok, lelaki baik yang buruk rupa. Dengan rumus standard tinggi dan ekspektasi rendah, Antok berusaha mendekati Lusi. Tentunya ditolak. Karena ekspektasi rendah, Antok tidak menderita. Ia memilih untuk bekerja dan bermain game, dan beli barang-barang yang bisa dibeli dengan tabungan gajinya. Kamarnya diberesin, dia pake baju yang dia suka, ke tukang cukur langganan yang dia suka juga nyukur dan mijetnya, hidupnya hepi. Standardnya tinggi. Keluar membuncah kah kharisma nya, dan dia jadi punya usaha sendiri, lumayan mapan, dan suatu haru jatuh cinta dengan Asri, mantan Gebetannya di SMA yang sudah punya anak 2 tapi sudah pada SMA. Perempuan ini baru dicerai karena menolak poligami. Antok dulu patah hati karena berharap pada Asri. Sekarang Anton santai, karena dia berencana menjadi suami dan ayah yang baik buat Asri dan anak-anaknya, tapi ekspektasinya rendah untuk dicintai dan dihargai seperti yang ia mau. Sudah biasa bahagia sendirian juga.

Cerita-cerita ilustrasi di atas cuma karangan saja, fiktif sekedar kasih hiburan, tapi bukan kasih harapan. Karena baik Lusi atau Antok akan selalu punya masalah, harapan bisa selalu pupus, rencana bisa gagal. Tapi semakin hari, kalau kita bisa belajar dan terus evaluasi, kita akan semakin jago bermanuver dari kegagalan. Seperti kata Bob Ross, membuat gagal atau kecelakaan dalam melukis, menjadi ‘happy accidents’.

Jadi berikut kesimpulan-kesimpulannya:

Standard tinggi ekspektasi rendah, standard tinggi untuk kehidupan pribadi kita, ekspektasi rendah untuk orang lain jadi kita tidak kecewa.

Jangan pernah berharap, berencana saja.

Hasil kehidupan cuma 2: sukses atau belajar. Santai saja pada penolakan dan kegagalan.

Karena pada akhirnya semua orang akan gagal dan mati, cara kita gagal menentukan kemenangan kita ketika cabut dari kehidupan ini.

Terima kasih sudah membaca sampai habis. Kalau kamu suka yang kamu baca, bolehlah membantu saya patungan bayar website ini, atau sekedar beliin saya secangkir kopi. Tekan tombol di bawah untuk ke lama trakteer.

Eksistensialisme, English, Meditasi Tulis, Puisi, Racauan

It’s that time again

It’s that time again when I have become sleepless. And in this state of mind, glimpses of horrendous images comes to mind unexpectedly, triggered by unprecedented scene. I will not give you the context of these images. I just want to share these aesthetically awful memories that will haunt me for the rest of my life.

The body of a friend who got hit by a train.

Strains of hair of an ex girlfriend on the sink.

The scar under the belly of a loved one.

The warm chest of my father who just passed, blood on his lips because he bite his tongue.

Corpse of my uncle, skinny, dark, blood from his mouth, ear, eyes, nose. His body bent and stiffed.

The smell of fresh linen out of my crush uniform in High School.

Her smile while giving me warm milk in morning. The taste of that milk.

The rope on my neck on a failed suicide attempt.

My salty tears, and the wind on my face while driving my motorcycle, after a family tragedy.

That rain when I went home from her house, walking for hours.

The sound of my brother adzan on my father’s grave.

A picture of a woman I love, naked with another man.

These are slide of films, that will bug me for the rest of my life.

And as long as I am alive, my life will always produce it, more and more.

I hope I can be better at editing it.

Baca lebih lanjut
Film, Kurasi/Kritik, Racauan

Andibachtiar Yusuf dan Kejamnya Sinema Kita


Semua yang kenal atau pernah mendengar minimal 3 cerita tentang Andi Bachtiar Yusuf (sutradara Love for Sale, Romeo-Juliet dan The Conductor) pasti setuju bahwa Ucup (nama panggilannya) adalah orang yang straightforward, suka bercanda kasar, dan berenergi besar. Sikap itu sudah lama ada padanya sehingga ketika ada kasus kekerasan di set film, sulit untuk membelanya, seakan semua orang tinggal menunggu ia melakukan sesuatu yang bisa menyakiti orang lain sedemikian rupa. FYI, saya orang yang tidak kenal dekat dengan Ucup, tapi tidak sulit untuk tahu dua tiga cerita soal kepribadiannya yang cukup nyentrik–saya rasa dia sendiri juga tidak pernah menyembunyikan itu. Dia cenderung mengglorifikasi kekasaran itu secara publik.

Sebagai seorang penulis opini, saya tidak berniat membela tindakan Ucup. Saya cuma ingin melihat secara lebih objektif, apa yang sebenarnya terjadi di Industri film kita. Sesuatu yang seringkali tersembunyi dari mata orang umum: sebuah kekerasan sistemik yang mendominasi produksi film kita.

Kekerasan sistemik artinya kekerasan berbasis cara kerja sebuah struktur. Ia ada karena dalam konteks kurang uang, kurang waktu dan kurang perhitungan, untuk membangun sebuah sebuah hierarki struktur (baca: produksi film), diciptakanlah kekerasan dan opresi pada pekerja. Secara mudah, kekerasan sistemik ini terjadi karena film adalah sebuah karya kapital yang didalamnya terdapat relasi-relasi kuasa antara pemilik modal, pengambil kebijakan, dan kru. Klasik Marx lah, menyedihkan bicara teori ini hari gini.

Sutradara atau produser ngamuk di set, bukan hal yang tidak biasa. Kepanikan terjadi, jam kerja mulur sampai dua tiga kali lipat, bahkan orang meninggal di set sudah beberapa kali terjadi. Ini karena tekanan syuting begitu besar karena seringkali perhitungan brief ide, modal, dan waktu tidak dikerjakan dengan baik. Janji-janji pada investor, atau ketakutan kehilangan pekerjaan, membuat pekerja film sering tersiksa tapi terus kerja karena kebanyakan mereka freelancer.

Kekerasan ini tidak hanya terjadi secara fisik dan verbal. Ia paling sering terjadi dengan cara simbolik, melalui aturan kontrak tidak adil, atau dengan dalih solidaritas yang melanggengkan eksploitasi tenaga kerja, atau dengan tekanan-tekanan penyalahgunaan kekuasaan, ancaman black list, dan sebagainya.

Kekerasan simbolis juga bisa berwujud cinta, baik pada persona atau kepada filmnya sendiri yang abstrak: yang penting filmnya jadi. Banyak pekerja film yang berusaha mengerti masalah produser atau sutradara atau astrada, karena mereka teman senasib sepenanggungan. Mereka rela dieksploitasi sedemikian rupa untuk membereskan kebodohan orang lain. Setelah itu hubungan dijaga baik dengan party-party setelah syuting (kalau ada uang tersisa), atau sekedar halal bi halal minta maaf. Syuting sudah seperti sebuah neraka yang harus dilewati untuk mencapai surga. Neraka yang tak terukur dan tidak adil. Karena neraka Tuhan lebih adil: Hitler ditusuk besi panas dari pantat hingga mulut karena apa yang ia lakukan pada Yahudi. Sementara kru salah apa sampai harus merasakan neraka diteriaki, dimaki, tidak tidur, dan kecelakaan tanpa asuransi? Orang film seperti punya lebaran beberapa kali setahun karena sering maaf-maafan, tanpa banyak evaluasi diri.

Dan ini membuat nilai kekerasan jadi relatif. Ucup susah dibela karena perilakunya kasar dan dia mengglorifikasinya, tapi ada yang lebih parah lagi: orang yang perilakunya baik, tapi pas syuting jadi iblis dan semua orang berhasil dimanipulasi biar ikut maunya dia secara konsensual. Mungkin di set tidak marah-marah; mungkin juga terlihat pusing dan menderita seperti kru yang lain, tapi keputusan idealisme dan artistiknya bikin syuting sangat tidak manusiawi: jam kerja panjang, tidak ada safety, tidak ada asuransi, dan memaksa overtime atau pick up shot dalam waktu sangat dekat, sering terjadi. Belum lagi kontrak yang sangat tidak manusiawi, seperti memaksa seorang pekerja untuk mau menerima kontrak project berikutnya tanpa kenaikan upah sesuai inflasi atau profit. Bangsat.

Ada juga yang meremehkan kru lain yang sakit hati atau depresi. Begini ya, kawan, sakit hati itu relatif. Bisa jadi kebanyakan orang tidak sakit hati, tapi jika ada satu dua orang yang tiba-tiba hilang karena depresi dan jadi suicidal maka jelas ada masalah. Ingat, ini orang bukan angka. Satu dua orang depresi karena kebijakan buruk adalah sebuah tanda kegagalan dalam menjaga lingkungan kerja yang baik.

Lalu ada juga yang masokis dan ngajak-ngajak, tanpa sadar bahwa tidak semua orang masokis seperti dia. Tidak semua orang seambisius dia untuk film dia. Akhirnya, perlahan tim collapse, dan seperti domino, yang repot di post produksi yang harus beresin kesalahan produksi dari mulai sound yang buruk hinggal shot yang tidak punya continuity karena script cont-nya tidak tidur. Ada lagi yang sudah sakit masih maksa syuting, karena mikirin kru dan budget. Udah kayak Jendral Sudirman dibawa-bawa pake tandu ke hutan. Ini efek kebalik tapi sama bahayanya, semoga nggak keulang lagi cinta yang membunuh semacam ini.

Kita menuju ke kemajuan di industri kita: UU perfilman, BPI, Sertifikasi kerja, kucuran dana pemulihan ekonomi, dana abadi kebudayaan dan lain sebagainya memastikan kita bisa produksi film dengan jauh lebih nyaman dan aman dibanding zaman orde baru. Maka baiknya perbaikan terus dilakukan, khususnya soal aturan untuk pekerja film.

UU perfilman yang dibikin, menurut banyak orang, belum berpihak pada pekerja tapi lebih pada pengusaha film. Karena kepentingan pekerja dari mulai jam kerja yang manusiawi sampai jaminan sosial belum tersurat. Terlebih lagi fleksibilitas yang membuat eksploitasi terus jalan, dan akibatnya kata-kata kotor dan konflik kekerasan fisik, verbal, dan simbolik kerap terjadi di set yang stress karena memaksakan budget, timeline, dan ide yang tidak cocok satu sama lain.

Jangan bilang bahwa itu biasa dalam syuting, atau tidak ada syuting yang akan beres 100 persen! Jangan menormalisasi syuting sakit! Itu cuma ocehan kaum budak proletariat yang harusnya sudah punah bersama hantu-hantu Marx. Ada kok yang sudah mempraktekan syuting sehat, tapi mereka belom sempat berbagi ilmu pada banyak tim produksi lain. Mereka belum berhasil mereduplikasi cara mereka untuk bisa, misalnya, jogging sama keluarga di tengah-tengah syuting film panjang, tanpa ganggu jadwal syuting. Sempat menjadi manusia sehat jiwa raga, di tengah kerja keras yang teratur baik, karena manajemen yang rapih dan prioritas yang logis: film nomor dua, kesehatan fisik, mental dan keluarga yang utama.

Nggak mungkin juga mereka yang sehat-sehat ini sering sharing-sharing sebuah ilmu ke semua tim produksi yang sakit di luar sana. Terlalu banyak tim yang sakit daripada yang sehat. Salah-salah mereka yang sehat bisa jadi ikut sakit, karena mereka kan kerjaannya syuting, bukan advokasi. Maka tidak ada cara lain selain memohon perubahan UU menjadi lebih berpihak pada pekerja. Agar persaingan jadi sehat dan tidak memungkinkan pekerja ditekan sedemikian rupa dari atas ke bawah.

Kasihan banget melihat asosiasi film seperti ICS, IFDC, atau ACI jadi seperti kelompok paramiliter atau anarko yang bikin hukum sendiri, padahal mereka harusnya ada di bawah lindungan NKRI. Mereka asosiasi pekerja, pak, bukan Ormas agama yang biasa ngeluarin fatwa.

Penting kita untuk sadar kekerasan yang kita lakukan, sengaja atau tidak sengaja, karena cinta atau benci–semua adalah kekerasan, dan itu harus dihentikan.

Filmmu TIDAK PENTING. Karena film Indonesia belum bisa menjadi penting, jika orang-orangnya yang membuatnya tidak dipentingkan.


Terima kasih sudah membaca sampai habis. Website ini jalan dengan donasi. Kalau kamu suka yang kamu baca, silahkan traktir penulisnya kopi biar semangat nulis lagi. Thanks.