Aliran kesadaran adalah teknik menulis tanpa berpikir. Sang pengarang mengerahkan seluruh imajinasinya secara improvisasi tanpa tahu plotnya akan mengarah kemana dan kapan tulisan itu akan selesai. Ini bukan teknik baru, tapi memang mencapai puncak kejayaannya setelah zaman romantik Eropa, ketika psikologi, psikoanalisis dan naturalisme berkembang pesat sejalan dengan revolusi Industri dan kebutuhan manusia Eropa untuk jadi bebas.
Tulisan ini akan membahas bagaimana caranya menulis dengan aliran kesadaran tersebut, hingga penulis bisa bebas dari writers block, dan bisa produktif dengan tulisan yang tetap berkualitas.
1. Perbanyak referensi
Referensi bisa adalah buku, diskusi, film, seni rupa, seni lukis, seni musik atau apapun yang membuat hidupmu terisi dengan luas. Seleramu harus bisa kamu nomor dua kan, dan kamu harus cukup kepo untuk punya banyak referensi. Semangat belajar dan keingintahuan, bisa membantumu sebagai penulis. Jangan lupa jalan-jalan dan ngobrol dengan banyak orang di perjalananmu.
2. Lupakan referensi
Membaca, menonton, dan diskusi harus jadi keseharian dalam hidupmu, dan dengan itu kamu bisa membawa referensimu ke alam bawah sadar dengan cara melupakannya, lalu membaca/menonton/berdiskusi lagi. Berulang-ulang hingga pemahamanmu utuh. Semakin kamu banyak membaca/menonton, kamu akan sadar bahwa kamu tidak akan pernah membaca karya yang sama dua kali. Karena setiap kali kamu membaca ulang, kamu pun berubah.
3. Mulailah menulis dengan berbagai macam struktur
Sebelum melanggar aturan, kamu harus memahami aturan dengan baik. Maka kamu harus bisa menulis dengan baik dan terstruktur. Kamu harus bisa menulis tanpa banyak berpikir lagi karena kamu sudah biasa dengan cara berpikir struktural. Struktur tulisan sudah banyak rumus dan sumbernya, tinggal kamu pakai terus menerus untuk latihan.
4. Mulailah membuat rencana penulisan
Setelah referensi terkumpul dan kamu pahami, dan struktur pun sudah kamu kuasai, kamu bisa membuat rencana yang berisi daftar bacaan, dan target waktu penulisan. Patuhi bahan bacaan itu, baca semuanya. Lalu kamu buat jadwal kamu akan menulis bebas setiap hari selama satu bulan. Tiga jam per hari.
5. Mulailah menulis
Pastikan jadwalmu kosong dan kamu punya tempat dan logistik makan minum yang cukup. Lalu mulai lah menulis sesuai jadwalmu. Kalau kamu merasa stuck, berarti kamu kurang baca, rekreasi atau olah raga. Tambah bahan bakar diotakmu dan selesaikan targetmu, misalnya, minimal 3 lembar per hari. Dalam 30 hari kamu akan dapat 90 lembar-an. 10 lembar lagi, kamu punya novel.
Btw, website ini ada karena ada yang menyumbang. Jadi kalau kamu suka tulisan ini, traktirlah saya kopi supaya saya bisa tetap berkarya dengan berkualitas. Tekan tombol di bawah ini:
Kamu tentu perlu waktu dan uang untuk bisa tetap menulis dengan baik. Kalau jadwalmu benar, kamu bisa menyelesaikan novel aliran kesadaranmu. Biarkan tokoh-tokoh bertambah dan berkurang, cerita terus berkembang, sampai waktu deadline tiba dan kamu sudah 100 lembar, kamu bisa akhiri novelmu. Akhir tidak harus selalu simpul, ia bisa terbuka biar kamu bisa bikin sekuel. Selamat mencoba!
Kalau bicara sutradara, ada buanyak banget tipe sutradara yang harusnya dihindari di industri film di Indonesia, karena semua orang bisa jadi sutradara, jadi kayak milih kucing dalam karung. Ini profesi nggak jelas banget di Indonesia, dan ngukurnya jadi sulit karena sutradara film/video adalah pengarah banyak seni dalam satu media. Jadi mari kita batasi dulu kerja sutradara yang kita maksud sebelum kita bahas seperti apa tipe yang harus dihindari.
Sutradara berkuasa atas konsep dan visi sebuah film. Konsep yang dimaksud adalah “pengalihan media dari naskah/cerita/konsep menjadi seni audio visual.” Maka di dalamnya sutradara harus menguasai 2 bahasa: bahasa sastra di naskah/cerita dan bahasa audio visual antara lain: produksi, suara dan musik, acting, mis-en-scene, komposisi visual, sequencing, editing, dan teknologi audio-visual. Sutradara adalah penerjemah dua bahasa ini.
Jika sutradara tidak menguasai, maka tugas pertama seorang sutradara adalah belajar. Belajarlah dari semua orang yang ingin dikombinasikan skill-skillnya, dan belajarnya harus kritis. Sutradara yang bilang, “Gue nggak bisa semua itu, tapi bisanya mengarahkan maunya gue apa,” bukanlah sutradara. Dia baiknya jadi produser eksekutif aja, nggak usah ngedirect. Sutradara nggak perlu mengerti secara keseluruhan, tapi harus bisa mengerti bagaimana bahasa-bahasa itu bekerja, apa saja hukum-hukumnya.
Dari definisi semacam itu, maka minimal ada 5 sutradara yang harus kalian hindari ketika bekerja film/video.
Tapi sebelum lanjut baca, boleh deh kasih gue kopi buat bikin website ini tetep jalan dan kasih gue tanda bahwa tulisan ini ada gunanya dan ada yang baca. Klik dulu tombol di bawah ini:
1. Sutradara yang kepercayaan dirinya tinggi pada semua orang kecuali dirinya sendiri.
Ini banyak banget kita temui ketika sang sutradara bilang, “Gue percaya sama elo,” dan membiarkan kamu kerja tanpa pengarahan yang jelas. Dia cuma ingin kamu yang menyutradarai tapi nama di kredit adalah nama dia. Dan nanti dia akan berdalih, “Memang siapa yang milih elo dan kasih kesempatan buat elo?”
Buat sutradara semacam ini, mari kita sama-sama mengucap, “MasyaAllah… “, karena dia tidak ubahnya sebagai maling yang mencuri hasil kerja orang lain.
2. Sutradara megalomaniak
Semua didikte seakan-akan kamu boneka. Tidak ada ruang untuk kerja sama, kolaborasi. Tidak ada kepercayaan dan pemahaman bahwa film adalah sebuah karya bersama. Walau dia pinter banget dan filmnya bagus banget, nggak nyaman kerja sama orang kayak gini, karena kita ga bisa mengembangkan diri.
Belom lagi kalau dia nyontoh Hitler, sukanya teriak-teriak, lempar-lempar benda, atau ngerendahin kru atau aktornya. Kalau kata seorang anak mondi, “Kayak filmnya paling penting sedunia aja.”
Nah, kalo dia goblok…. duh luar biasa rasanya…. Tapi mari kita bicarakan kegoblokan di tipe ketiga.
3. Sutradara sotoy mampus
Sotoy adalah defense mechanism orang tolol yang ingin menjaga egonya. Tapi tahukah dia, ketika dia bicara hal yang dia gak ngerti-ngerti amat, dia malah akan kelihatan goblok? Tentunya nggak tahu, karena dia jarang mau melihat dari kacamata orang lain. Sutradara macam ini biasanya suka ngemeng, dan ia juga tahu ilmu cuma separo-separo karena malas untuk mencari sumber ilmu itu, malas untuk kritis. Semakin dia nggak ngerti dia akan semakin ngarang.
Apalagi kalau ia punya orang yang diidolakan dan dianggap mentor, tapi sangking idolanya, dia gagal untuk jadi kritis terhadap pemikiran orang itu. Dia pakai kutipan dan kalimat-kalimat orang lain yang ia idolakan, bebas dari konteksnya.
Misalnya, dia suka dengan Bong Joon Ho, dan dia pernah dengar fans Bong lain bilang, bahwa Bong pernah bilang, “Saya tidak suka membuat film berbudget besar, karena kewajiban menghabiskan budget membuat saya tidak fokus pada inti utama dari film yang saya buat. ” Lalu ia beridealisme bahwa dia akan selalu membuat film berbudget kecil (dalam konteks Indonesia, di bawah 1 miliar rupiah). Yang dia tidak tahu, film budget kecil buat Director Bong adalah… 13.5 milyar KRW atau 167 milyar rupiah (Parasite). Budget besar sutradara Bong adalah 50 juta USD atau sekitar 720 milyar rupiah (Okja).
Itu orang yang cinta sama Bong Joon Ho. Bisa diperkirakan orang yang idolanya sutradara Indonesia dan salah kutip atau salah konteks kutipan soal sutradara tersebut soal aktor, misalnya. Ada kasus soal sutradara yang mengelompokkan kelas aktor dengan kemampuan menangisnya. Mungkin sutradara itu idolanya adalah Chefnya Ruben Onsu dan yang dicontek adalah bumbu sambel ayam geprek, bukan filmmaking.
Yang lucu kalo ternyata metode sotoy dia ga berhasil buat bikin produksi filmnya jalan, terus dia break down dan ga bisa gerak. Siapa suruh risetnya ga kenceng. Wkwkwkw… #truestory
4. Sutradara teater di set film
Ketika kalimat, “Saya mau ekspresi wajahmu kuat, keluarkan seluruh emosimu di wajahmu! Matamu harus menunjukkan intensitas rasa! ” Tapi shot yang diambil adalah shot wide yang aktornya cuma kelihatan badannya dari jauh, percuma.
Atau dia selalu mengarahkan aktor dan lupa untuk kembali ke meja monitor untuk cek frame, shot dan sequence, maka… Percuma.
Dia sedang mendirect teater, bukan film. Biasanya dia jebolan teater yang baru masuk ke film, dan gagal alih wahana. Artinya bahasa audio visual film dia juga belom ngerti-ngerti amat, tapi harus ambil peran sutradara seakan-akan produksi ini pementasan teater. Dan biasanya juga kalau cara penyutradaraannya seperti ini, di teater pun dia medioker.
5. Sutradara fix all in post
Ini sutradara nyebelin yang biasanya jago ngedit tapi ga bisa ngedirect aktor dengan baik, dan ga bisa fokus pada produksi visual audio di lapangan; atau bisa juga sutradara yang sedang kejar tayang biar syuting bisa cepet.
Gue bisa deh mentolerir sedikit kalau yang mengedit dia sendiri, atau dia bisa ngedit dan mengarahkan editor. Yang paling nyebelin adalah kalo dia sotoy, nggak ngerti teknik dan teknologi, dan berpikir kalo editing itu bisa memperbaiki semua hal. Sebagai editor yang sering dapat footage jelek, saya mau bilang sama sutradara tipe ini: fuck you.
Film adalah gabungan banyak seni, dan sutradara film harus bisa membuat ruang-ruang yang imbang buat para seniman yang tergabung di produksi filmnya. Maka jangan takut konsultasi, jangan takut bicara, minta tolong, dan persiapkan filmmu dengan baik. Sutradara boleh bodoh hanya pas praproduksi, dan ketika produksi, dia harus jadi yang terpintar di set. Dan pintarnya beneran pintar.
Banyak kenalan saya yang nggak bisa BAB di kamar mandi lain selain kamar mandinya. Tidak bisa tidur selain di kamarnya. Bahkan yang kasihan, tidak bisa tidur atau istirahat di rumahnya sendiri. Mungkin karena masih tinggal dengan keluarga yang sudah terlalu lama, atau hidup dengan banyak kekhawatiran. Pada akhirnya, banyak kawan saya hidup tidak layak–jika kelayakan adalah sebuah kenyamanan dan keamanan hidup. Kasihan sekali.
Kamu perlu jadi kreatif untuk membuat safe space kamu dan mencari waktu yang tepat untuk berada di sana. Jika kamu lihat kamarmu sendiri, apakah cukup nyaman buat kamu? Kalau kamarmu berantakan, enak? Kalo enak lanjutkan. Tapi let say kamu merasa hidupmu berantakan, kamu bisa mulai dari kamarmu sendiri untuk membereskan hidupmu. Kamu tata kamarmu sendiri menjadi tempat yng kamu inginkan. Dan setelah beres-beres, dan istirahat sebentar, kami bisa mandi, coli, atau ngapain kek di kamar mandi untuk membuat diri lo jadi keren sebisa kamu. Masalahnya, kamu bisa lebih sulit untuk membuat penampilan yang nyaman buat diri kamu sendiri, daripada beresin kamar.
Ketika ngaca, banyak dari kita yang menyerah duluan melihat diri kita yang gemuk, kurus, jerawatan, dan tidak ‘sempurna’. Kamu harus berpikir ulang lagi, dan bertanya, darimana kamu mendapatkan standar kesempurnaan itu? Apakah perbandingan yang kamu pakai realistis? Atau jangan-jangan kamu dikerjai media? Cara untuk lebih bahagia adalah mencari referensi yang mendekati dirimu, bukan sebaliknya. Jangan ikuti idolamu yang tidak seperti kamu. Cari standard yang mendekatimu, misalnya saya melihat Jim Morrison ketika ia gemuk dan bahagia untuk menjadi model saya setelah gemuk begini. Tapi habis itu, ketika sudah tahu standardbya, saya cari lagi yang sedikit berbeda untuk saya kejar. Misalnya, Orson Welles muda, salah satu aktor/sutradara jenius favorit saya.
Dengan referensi dan perbandingan yang cocok, orang bisa menerima dirinya sendiri, dan mulai bertransformasi perlahan-lahan, untuk menjadi lebih baik lagi. Dengan kepercayaan diri itu, kita bisa mulai memperluas zona nyaman kita, yaitu sebuah zona dimana lingkungan kita bisa menerima kita apa adanya.
Untuk membuat zona nyaman lebih luas, kita bisa mulai dari orang terdekat dan lama-kelamaan teman- teman dan jaringan sosial kita. Caranya bagaimana untuk memperngaruhi mereka dalam menerima kita? Belajarlah komunikasi verbal dan visual untuk menjelaskan konsep identitas diri kita yang relevan. Ambil model idola yang tadi saya sebut di atas.
Kalau idola kita itu saja bisa diterima orang banyak, kita pun bisa. Saya, misalnya, penderita penyakit mental yang sudah didiagnosa dengan bipolar 1. Selama bertahun-tahun saya minum obat, dan berusaha untuk jadi fungsional. Sampai akhirnya ketika pandemi semakin parah, saya berhenti minum obat. Tapi ternyata dunia saya sudah berubah dalam 2-3 tahun ini. Kawan dan saudara sudah menerima kondisi saya, dan sedapat mungkin tidak ambil hati ketika saya kumat. Saya bisa bertahan karena membaca banyak referensi dan terapi bipolar, membaca perjuangan orang-orang dengan penyakit ini, lalu terus berusaha untuk memberikan disclaimer soal kondisi saya kepada keluarga, teman dan kolega.
Pada akhirnya saya merasa nyaman bukan hanya di kamar, tapi juga di kantor dan di tongkrongan. Nyaman di antara orang-orang yang mengerti atau berusaha mengerti saya. Dan dalam ruang-ruang ini saya merasa saya bisa tumbuh dan berkarya. Bersama kawan-kawan dekat.
The End.
PS. Terima kasih telah membaca sampai habis, Kalau suka tulisan ini, boleh lah traktir saya kopi dengan menekan tombol ini:
Disclaimer: #carlinisme adalah teknik naratif yang penuh dengan kata kasar amarah dan hinaan. Jika kamu nggak siap dengan konteks kebebasan ekspresi tanpa batas moral, tolong jangan baca tulisan ini. Tulisan ini adalah anger management saya.