Moral Bengkok, Prosa

Siksa Neraka Surgawi

Selama hidup, Adam Sujanna adalah seorang mafia di tahun 80an. Ia menemukan tujuan hidupnya ini sejak umurnya 4 tahun dan suka menyiksa kucing. Di internet hari ini, haram hukumnya untuk bicara soal penyiksaan kucing, jadi metode penyiksaan kucing Adam Sujanna baiknya tidak diungkapkan di cerita ini.

Lebih menyenangkan, buat kalian yang suka film Gory, adalah cara Adm Sujanna untuk menyiksa orang dengan berbagai cara. Salah satu kitab utama, manual cara menyiksa orang adalah komik Siksa Neraka yang dibelikan orang tuanya ketika umur Adam 10 tahun dan ia sekolah di Madrasah. Adam mulai belajar untuk menyilet wajah teman sekelasnya, atau menusuk pantat teman sekelas yang lain dengan sapu karena kawannya itu feminin, sambil menuduh-nuduh si kawan sebagai kaum nabi Luth yang pezina dan homoseksual.

Adam Sujanna merawat komik siksa neraka dengan baik, karena komik itu membuat dia jadi punya karir. Kelas 2 SMP, Adam Sujanna selalu pamit sekolah tiap pagi kepada orang tuanya. Tapi ia tidak ke sekolah. Ia main di pasar dan nongkrong dengan Hendrik, tetangganya yang jadi preman/tukang parkir di sana. Hendrik tidak keberatan karena Adam bisa jadi asistennya untuk meminta setoran pada pedagang, dan Adam tidak takut berkelahi. Ia pernah memukul sampai babak belur seorang ibu tukang sayur yang tak mau bayar.

Karir Adam Sujanna meningkat pesat ketika Jimmy, seorang mafia yang punya toko emas di pasar itu melihat Adam berkelahi dengan tiga orang preman lain–salah satunya Hendrik yang mulai gagal menyuruh Adam ini-itu. Adam tanpa ragu melempar Hendrik dari lantai 2 hingga mantan bosnya itu harus dirawat dua bulan dirumah sakit karena rusuk patah dan kepala hampir pecah.

Jimmy Chen adalah salah seorang anggota triad di daerah Gajah Mada. Keluarganya punya jaringan diskotik, trafficking perempuan internasional, dan tentunya narkoba. Bisnis halal keluarganya adalah toko emas, toko elektronik, dan toko sparepart mobil. Kesemua toko untuk cuci uang atau menyeledupkan orang atau Narkoba. Pertama kali melihat Adam Sujanna, umur Jimmy baru 28 tahun, sedang Adam 16 tahun. Tanpa ragu, Jimmy mengajak Adam masuk ke lingkaran triadnya, sebagai tukang pukul. Jimmy memberikan Adam kamar di rumah keluarganya, juga memberikannya baju dan uang saku. Jimmy butuh anak semuda Adam untuk bisa masuk ke sarang musuh tanpa dicurigai. Adam Sujanna berkulit sawo matang, dengan tulang pipi menonjol dan senyum yang lebar, tidak akan pernah dikira orang gila yang sadis.

Maka ketika orang melihat cara Adam bekerja, orang langsung tahu bahwa dia gila dan sadis. Pada Perang gangster besar antara Triad China vs Ambon vs Medan di Pasar Baru tahun 1982, Adam yang cuma bersenjatakan pisau dapur kecil menggorok banyak sekali orang. Di tahun itu, Adam yang berumur 22 tahun, sudah menggorok 70an orang. Tidak ada yang tahu seperti apa wajah Adam karena tak ada yang sempat melihatnya ketika ia bekerja. Semua orang cuma tahu, dia adalah suruhan koh Jimmy, pemimpin muda Triad.

Sebagai anggota Triad, Adam harus mau ditatto. Maka di ulang tahun ke 23, setelah Triad memenangkan perang gangster dan membuat sungai pasar baru menjadi merah pekat, Adam dilantik menjadi salah seorang boss. Ia meminta Tato harimau di tangan kanan dan naga di tangan kiri, sementara di dadanya, ia minta dibuatkan tato tikus yang melubangi jantungnya cuma buat bilang bahwa ia sudah tidak punya hati. Oh, dan shionyantikus.

Sayangnya, Adam mati ditembak bulan Agustus 1983, karena tatonya. Keresahan karena preman membuat pemerintah dan polisi mengurangi jumlah populasi preman, dengan menembak siapapun orang bertato di jalanan.

Adam ditembak ketika sedang pipis di sebuah gang di Kota, di sebuah sore ketika ia menunggu Azizah, pelacur Uzbekistan yang ingin ia kawini, untuk bangun dan bekerja. Azizah menemukan Adam sekarat di depan pintu belakang gedung diskotik tempat ia tinggal, membalik kepala Adam dengan kakinya, lalu menendangnya dan meludahi laki-laki kasar yang selalu memperkosanya hampir tiap malam, memintanya terus melawan dan tidak boleh diam, tapi begitu melawan ia dipukul, tidak melawan pun ia dipukul.

“Lu tahu di neraka pelacur diapain? Pelacur itu ditusuk pake besi panas dari memek sampe keluar di mulutnya.” Kata Adam sambil memasukan sebuah pentungan besi ke vagina Azizah yang sudah meringis dan menangis dan berteriak kesakitan.

Itu satu dari banyak siksaan Adam pada Azizah. Maka melihat Adam sekarat, Azizah mengambil sebuah batu semen dekat situ dan mulai memukul kepala Adam berkali-kali, lalu menginjaknya lagi, dan meludahinya. Di situ, Adam Sujanna yang legendaris mati, bukan karena peluru panas polisi, tapi karena kaki pelacur.

*

Adam bangun di sebuah kamar mewah, yang pernah ia lihat di film-film gangster Hollywood. Ia bangun dalam pakaian tidur dari sutra, dan menemukan di sebelah tempat tidurnya sudah ada minuman berbagai macam dari jus jeruk sampai minuman-minuman mahal beralkohol. Adam berpikir apakah ini mimpi.

Ia minum beberapa gelas cognac terenak yang pernah ia rasakan. Makan roti croissant yang begitu nikmat, dan ia mandi air panas di kamar mandi yang besar dan mewah berjacuzzi. Nikmat sekali. Apa ia ada di surga? Pikirnya.

Setelah mandi ia memilih pakaian di sebuah kamar ganti dengan lemari sangat besar berisi segala jenis pakaian mewah, setelan jas, sepatu-sepatu kulit. Ia ambil setrlan jas warna putih, seperti Al Pacino di film Scarface, pikirnya.

Ia keluar dari kamar itu dan menemukan sebuah lorong besar. Di sana Koh Jimmy berdiri menantinya.

“Yok kerja, Dam.” Kata Jimmy Chen. Adam jelas heran. “Lu tahu lu dimana?”

“Ini di surga ya?” Katanya setengah bercanda.

Jimmy tersenyum. “Kebalik. Ini di neraka. Dan gua asistenlu. Gue jadi Jimmy biar kita kerja akrab aja.”

Jimmy membawa Adam berjalan di lorong dan berhenti di sebuah pintu.

“Lu masuk, terus kerjain yang biasa lu kerjain. Kalo udah selesai, nanti pintu kebuka sendiri. Lu tahu kapan lu selesai. “

Jimmy membuka pintu dan Adam masuk ke dalam. Di dalam pintu ada banyak orang yang terikat sambil berdiri, ada juga yang terbalik, dan di samping setiap mereka ada alat-alat penyiksaan. Di ujung ruangan ia melihat orang yang ia kenal diikat juga, Azizah si pelacur. Ia tertawa.

Azizah kaget melihat Adam.

“Ya, Allah! Astaghfirullah. Kenapa aku di sini! Kenapa engkau sangat tidak adil ya Allah. Adam.. Mas Adam… Ampun… Kenapa mimpi buruk ini? “

Adam mengambil batangan besi dan membakarnya. Azizah berteriak keras sambil meraung-raung.

Tuhan tak kenal keadilan, itu konsep manusia. Tuhan di cerita ini lebih parah. Tuhan di cerita ini nurut pada netizen yang request cerita di instagram, tentang surga yang adalah neraka. Maka buat Azizah dan semua orang yang akan disiksa oleh malaikat baru bernama Adam Sujanna, kalian bisa salahkan Vifick Bolang, fotografer dengan ide gila. Selamat menikmati neraka surgawi kalian.

***

Website ini berjalan dengan donasi, tidak ada iklan pop up yang akan ganggu kalian. Jika kalian suka dengan tulisan di sini, traktir yang nulis kopi hari ini biar dia bisa tetap nulis sampai mati tanpa intervensi dan di neraka nanti dia jadi juru tulis biografi para pendosa. Klik tombol di bawah untuk traktir kopi, atau scan buat traktir gopay. Makasih udah baca sampe habis.

Atau scan ini:

#drama, Film/Video, Workshop

5 Macam Aktor yang Paling Merepotkan Buat Diajak Kerja dan Cara Ngehandlenya


Selama 12 tahun ngajar film, acting, media, nulis, teater dan ngedirect, gue sering ketemu aktor atau orang yang mengaku aktor, yang bikin gue capek banget. Ini konteksnya gue sebagai pengajar, sutradara dan hasil ngeghibah sama temen-temen di industri ya. Kerja bareng aktor-aktor yang nyusahin lumayan sering jadi cukup tahu gimana ngehandlenya, sampe filmnya jadi. Ini 5 macam aktor yang sering ngerepotin gue, dan cara ngehandlenya.

Pertama, aktor yang belajar akting buat jadi bintang atau selebriti. Ini orang-orang menyedihkan yang terpengaruh media atau sosial media soal aktor. Mereka sama sekali nggak paham apa itu akting sebagai seni, dan ingin masuk ke industri sinetron atau apapun yang bisa mewujudkan mimpi glamor mereka. Gue cuma berharap, impian itu cuma jadi pintu masuk untuk menerima sebuah kenyataan bahwa menjadi aktor sama saja seperti pekerjaan seni lainnya seperti melukis, mematung, mengedit, menari, memotret, dll. Tidak ada yang spesial soal seni peran. Ia cuma pekerjaan biasa saja yang perlu bakat dan keterampilan, serta tentunya panggilan hati dan panggilan syuting.

Cara handle: kalo duitnya ga gede, jangan mau kerja sama aktor kayak gini. Kalo duitnya gede, kasih aja apa maunya produserlo. Dan siap-siap tipu-tipu pake kamera aja. Kasih insto buat nangis, siap dubbing, dan siapin astrada buat bacain skrip buat si aktor superstar ini biar dia tinggal ngulang ngomong nggak usah ngehapal. Taik emang, tapi duit, borr.

Kedua, aktor berbakat yang tidak suka membaca. Bisa jadi dia akan jago akting di bawah sutradara yang bagus; bisa jadi dia dapat menyampaikan empati dan perasaan dengan baik, tapi nggak paham subtext naskah, nggak bisa metodologi dalam pendekatan kepada karakter, nggak bisa menjelaskan referensi-referensi yang ia pakai. Sulit kerja sama aktor yang kosakatanya sedikit, susah komunikasi sama dia. Dan metodenya nggak bisa diduplikasi karena banyak yang pake feeling doang, nggak terukur. Terlalu banyak bermain dengan kebetulan. Ga bisa main teknik nafas atau teknik olah tubuh karakter yang bisa mengolah mood dan karakter jadi lebih siap buat di take dan retake.

Cara handle: sediain waktu yang lama buat dia panas. Banyakin ngobrol praporduksi untuk isi kepalanya dengan referensi karena dia biasanya auditory learner, alias males baca seneng ngobrol. Kalo waktunya sedikit, well suruh fake ajalah, pokoknya kelar. Males overtime nungguin doi in the mood. Nggak baca sih, lemot deh.

Ketiga, aktor sotoy metode banyak gaya. Ini ngeselin sih: udah males baca sotoy pula. Dan ini buanyak banget yang gue kenal: dari yang gayanya sok-sok dukun kearifan lokal, gaya orang gila, sampe yang sok rockstar mabok-mabokan di set panggung untuk ngikutin idolanya di jaman orba. Gak jaman bor, kayak gitu. Ini jaman internet, malu lo sama Meissner dan Stanislavski. Brecht muntah di alam kubur gara-gara lo ngomong Verfremdungsteffekt aja ga lancar tapi lo berkoar-koar. Malu lo sama Deadpool yang udah break the fourth wall di bioskop!

Cara ngehandlenya: pecat aja. Suruh suting sama demit atau bikin film art sama Jim Morrison.

Keempat, aktor yang berbakat, tapi nggak mau ngalah demi egonya. Ini aktor yang cuma perduli sama akting dia sendiri tapi nggak sama pertunjukkan atau filmnya secara keseluruhan. Mikirnya akting harus dia yang nikmat sendirian, orang harus ikut dia semua. Self centered actor kayak gini harus kena producer atau sutradara yang bisa nempeleng dia buat ngingetin kalo akting itu proyek tim, bukan proyek sendirian. Dan hubungan antar aktor dengan rekan sekerjanya yang lain seperti hubungan lelaki dengan perempuan: si lelaki harus bekerja keras untuk memberikan kenikmatan pada si perempuan dengan banyak ngalah dan mendengarkan, karena kalau perempuannya orgasme, seksnya berhasil. Tapi kalau lelakinya doang, well, it’s lame bro.

Cara ngehandlenya: ajak ngobrol dan minta tolong buat saling sayang aja sama satu sama lain. Bikin dia ngerti kalo cuma dia doang yang bagus, film ini jadi jelek dan penonton juga males. Kalo dia nggak mau dan ngancem hengkang, lepasin aja. Berarti dia nggak sayang sama elo, lawan mainnya, dan kru yang lain. Tunda aja dulu syuting sampe dapet yang hatinya lebih tulus.

Ke lima, aktor yang ga mau kelihatan aslinya. Akting itu adalah seni kejujuran, bukan seni pura-pura. Karena untuk pura-pura dalam acting, si aktor harus bisa pura-pura dengan jujur sampai semua orang percaya bahwa dia pura-pura. Aktor yang masih punya banyak tembok untuk nunjukkin sisi lemah dirinya, sisi buruk dirinya, adalah aktor yang nggak siap akting. Dia harus selesai dulu menerima diri apa adanya, untuk bisa berkembang. Dan satu-satunya cara untuk menerima diri itu adalah dengan latihan, latihan dan latihan—dengan guru dan sparing partner yang benar.

Cara ngehandlenya: demi filmnya, fake aja udah. Yang penting ceritanya tersampaikan. Habis itu evaluasi, suruh aja latihan lagi. Tapi film yang sudah dishoot, ya sudah. Salah kamu sendiri pilih dia dari awal. JANGAN PERNAH BERUSAHA NGECRACK DI SET! Aktor kayak gini kalo sampe kamu crack emosinya bisa ga terkontrol. Abis itu ga bisa ganti shot atau take ulang. Cracking emosi itu butuh guru yang bagus.

Jadi, kawan-kawan aktor sekalian, gua harap kalian jadi paham ekspektasi gue sebagai director/producer/scriptwriter/mentor kalian. Tapi kalau kalian nggak bisa memuaskan ekspektasi gue, ya nggak apa-apa juga. Toh, banyak aktor yang gue kenal adalah yang 5 di atas. Tapi berharap kalian jadi lebih keren, boleh dong.

Love and peace out lah!

***

Makasih sudah baca sampe habis. Kalau kamu suka sama blog ini, boleh lah nyumbang om yang nulis kopi dengan klik tombol di bawah ini, biar punya motivasi.

Racauan, Workshop

Bermain Shakespeare (dalam konteks Indonesia)

Tulisan ini diterbitkan pertama kali di website teater katak. Dalam blog ini diedit ulang seperlunya.

Ilustrasi William Shakespeare/Kalya Risangdaru
Ilustrasi William Shakespeare/Kalya Risangdaru

Tulisan ini adalah penjabaran cara memainkan karya-karya William Shakespeare dalam konteks Indonesia yang dikompilasi dari sumber-sumber online dan pengalaman pribadi saya dalam memainkan dan mengkaji drama Shakespeare. Ada tiga hal yang harus saya tekankan sebagai prasyarat pembaca artikel ini. Jika seorang aktor/pembaca tidak memenuhi syarat-syarat di bawah ini, maka saya sarankan untuk mendiskusikan artikel ini dengan aktor/pelatih/sutradara yang berpengalaman ketika mencobanya. Karena drama Shakespeare mau tak mau akan selalu memiliki konflik interpretasi; bahkan untuk penonton berbahasa Inggris sekalipun, dialog Shakespeare seperti bahasa asing.

Baca lebih lanjut