Film, Filsafat, Gender, Kurasi/Kritik, Politik

Cyborg dan Masa Depan

machina_a

Masalah besar manusia adalah ia ingin jadi Tuhan yang cuek pada ciptaannya dan membentuk hierarki bahwa ia yanh Maha Kuasa, dan ciptaannya yang Maha Dikuasai. Ego ketuhanan ini yang akan membuat manusia terus mandeg, ketika kita tak henti-henti mengobjekkan orang lain dan merebut kemanusiaan darinya, lalu lupa memakai empati kita. Toh, Hitler menganggap anjingnya lebih manusiawi daripada Yahudi.

Baca lebih lanjut

Film

Ketika Laron Bermetamorfosis Menjadi Kunang-Kunang: Sebuah Dongeng dalam Film Kunang-Kunang karya Zidny Nafian

kunang2

Pernah diterbitkan di Jakartabeat.

Saat tulisan ini dibuat, seorang kulit hitam tua di depan sebuah kafe di Washington DC sedang mengais-ngais sampah mencari makanan. Ia berbaju tebal dan membawa kereta dorong berisi seluruh hidupnya. Ia bergumam sendiri, dan saya tidak bisa mendengar dengan jelas gumamannya dari balik jendela kafe. Ironis. Homeless di Washington DC, salah satu kota terbaik di dunia, dengan banyak kelas menengah atas. Kota yang konon paling teratur di Amerika Serikat. Mereka (homeless) ada begitu banyak, dan setiap akhir pekan mereka akan berkumpul di taman-taman di dekat objek-objek wisata untuk mengemis pada turis. Saya pernah bertanya pada seorang kawan, warga negara Amerika, kenapa ada banyak sekali Homeless di kota ini. Ia hanya menjawab, “It’s none of my business, there are people getting paid to take care of that.” Mungkin kalau dia ke Jakarta dan bertanya pada saya tentang gembel-gembel di Jakarta, jawaban saya akan lebih sadis: “Bukan urusan saya. Itu salah mereka sendiri, kebanyakan dari mereka penipu kok.”

Baca lebih lanjut

Film

Konspirasi Yahudi di Film Senyap: Teknis, Teater dan Konspirasi

Senyap

Tulisan ini pernah dimuat di Jakartabeat.

Screen Shot 2015-07-12 at 1.31.32 AM

Mohon maaf karena saya menjadi bangsat terkutuk yang mengutip status FB kawan tanpa izin sebagai pembuka naskah. Saya kutip karena saya rasa pertanyaanfilmmaker Sidi Saleh di atas adalah pertanyaan yang sangat penting. Apa motivasi dibalik pembuatan film Jagaldan Senyap oleh Joshua Oppenheimer? Siapa para pemaku kepentingan serta pemilik modalnya? Dengan tujuan apa? Jika film-film ini ingin memberikan daya kritis untuk kita, dan membantu rekonsiliasi antara Negara dengan para korban tragedi pembantaian Komunis 1965, kita pun harus berusaha kritis dulu. Karena tidak ada hal gratis yang dibuat manusia di dunia ini. Kalau kita percaya Lacan, bahkan tindakan paling tulus pun adalah sebuah bentuk narsisisme.

Baca lebih lanjut