
Ini adalah cerpen yang saya adaptasi menjadi film pendek, Stalkers. Tentunya karena diadaptasi, maka banyak yang diubah, termasuk penambahan karakter. Cerpen dan filmnya menjadi karya yang benar-benar berbeda.
Cerita-cerita pendek saya soal moral yang akan selalu bengkok dan berkelok-kelok. Yang merasa moralnya lurus baiknya membaca ini.

Ini adalah cerpen yang saya adaptasi menjadi film pendek, Stalkers. Tentunya karena diadaptasi, maka banyak yang diubah, termasuk penambahan karakter. Cerpen dan filmnya menjadi karya yang benar-benar berbeda.

Ratna tinggal di sebuah Mes di Cengkareng bersama dengan rekan-rekan seprofesinya. Setiap jam 4 sore, akan ada sebuah mobil kijang yang membawa Ratna dan 3 orang rekannya menuju ke Jalan Gajah Mada, Jakarta Pusat, untuk mulai bekerja. Mereka bekerja di emperan jalan, menunggu orang-orang bermobil datang. Mereka memiliki beberapa penjaga yang menyamar menjadi tukang ojek—menyamar karena tukang ojek-tukang ojek ini tak bermaksud mengantar siapapun kecuali pelacur-pelacur yang dititipkan pada mereka—untuk mengawal perempuan-perempuan ini ke hotel langganan dan memastikan mereka baik-baik saja, aman dari sadisme pelanggan. Namun kadang-kadang, kekerasan bisa jadi sebuah kesempatan. Pelanggan yang agak kasar bisa diperas sekitar 100 ribu untuk satu luka memar.

Ya Allah, Selamatkan kami dari Tusboler!
Mereka ada dimana-mana, ya Allah. Hafidz, anak hamba yang berusia 8 tahun menonton TV. Ia dan istri Hamba, Fatimah menonton lawakan yang membuat orang serumah tertawa-tawa setengah mati, ya Allah. Pembawa acaranya tusboler. Hamba paksa ganti saluran, acara musik, tusboler juga pembawa acaranya. Tusboler-tusboler itu lucu sekali, ya Allah! Anak-istri hamba tertawa-tawa ya Allah. Ampun Ya Allah. Hamba menahan tawa juga.