Cinta, Eksistensialisme, Perlawanan, Puisi, Uncategorized

Membunuh Jim Morrison

 

tumblr_nie31ptuzs1u3m9fwo1_500

Siapa yang membuat dia terus berdansa? Siapa Homer yang menulisnya dan menempatkannya di antara dewa-dewa? Siapa yang mengumpulkan kutipan-kutipan dan membuatnya menjadi berharga? Menjadi ideal? Menjadi idola?

Apakah para sahabat yang menghargainya? Apa perempuan-perempuan yang menempatkan kelaminnya di kelamin mereka –melaluinya atau melalui imajinasi masturbasi semata? Apakah para pengusaha korporat yang mencari uang? Ataukah semua orang yang ingin romantika masalalu?

Apakah kau? Apakah aku?

Ia diabadikan melalui surat-surat. Kertas-kertas. Puisi-puisi. Siapa yang memilihnya?

Kematian meninggalkan artefak. Artefak diabadikan. Apapun yang tertinggal. Kulit menjadi jubah, Gigi menjadi kalung, Gading menjadi tombak.

 

Kata-kata menjadi doa.

Nekromaniak!

Kalian semua memakan mayat!

Kalian semua memakan mayat!

 

Margonda, 2008.

Cinta, Perlawanan, Puisi, Uncategorized

Pergi

Ia sudah lupa untuk pamit
pada kedua orang tuanya
karena terlalu sering pergi
katanya membela negara

Dari negara

Itu 17 tahun yang lalu, ingat emaknya
hari ini dialah negara, pahlawan berjasa
Mantan demonstran, turunkan penguasa
dulu bela negara, kini petugas negara

Dulu Ia kasar dan beringas
ia bilang, ia juga heran kenapa
ia bertahan tidak diculik, dibunuh,
atau ditembak, dibuang di selokan
padahal soal menghina, ia paling depan

Sementara kawan-kawan lain
yang seringkali lebih santun
tiba-tiba raib oleh intel dan tentara

Cuma karena kritik, puisi, dan gurauan mereka mati
Sementara ia, hidup hanya dengan mencaci-maki

Hari ini ia terpandang, buat undang-undang
mewakili entah siapa yang ia bilang ia wakili

Kawan-kawannya sudah lama pergi
ada yang mati, ada yang kembali
ke keluarga dan emak-bapaknya
menebus dosa karena bela negara
seringkali membuat durhaka

Sementara itu yang ada padanya
adalah pengepul dapur rumah tangga
beberapa seperti dirinya, bekas serigala lapar
yang kini menghamba jadi anjing rumahan

Bahkan sebagai anjingpun
pahlawan kita tetap durhaka,
tetap perkasa membela negaranya
dari mereka yang dulu ia bela

Negaranya, presidennya, menterinya
partainya dan proyek-proyeknya
melawan jutaan orang yang suaranya
serak dan santun meminta haknya

Kawanannya kembali ke kampung
terus bersama mereka yang dulu dibela
sejak mahasiswa sampai sudah kerja
karena hak asasi tak jua terbagi rata

Dan ia tetap pergi, tak mau pulang
katanya untuk membela negara
dari kebodohan rakyatnya
yang dulu ia bela

 

Washington DC, Februari 2016

Cinta, Perlawanan, Puisi

Taman Kuburan Itu Bernama Istana Negara

Akibat lagu Jingga oleh Efek Rumah Kaca yang selalu meluluhkan air mata

Mari kita bicara soal kematian-kematian
yang tidak pernah boleh dibicarakan
Di taman kuburan tanpa nama, tanpa nisan,
tanpa undak, tanpa kemanusiaan

Taman kuburan itu bernama: istana negara

Ada yang bernyanyi lirih dan menyebut
nama-nama hantu-hantu kupu-kupu
beterbangan dalam bias cahaya doa-doa

Sudah tidak ada lagi sumpah serapah
kutukan amarah dendam dan kebencian

Semua sudah ditelan habis
oleh waktu yang memaksa
untuk merelakan kepergiannya

Yang tinggal adalah kesetiaan
untuk mengabadikan ingatan
tentang tragedi dan kehilangan

Buat orang-orang di masa ini
dan masa depan agar tidak lupa
agar tidak terulang agar tidak
mengulang mendulang nyawa-nyawa

Mereka yang kita kasihi
diambil semena-mena
seperti tak bermakna
seperti tak pernah ada

Monumen ini didirikan sendiri
tanpa uang, tanpa bebatuan,
tanpa tentara dan tanpa propaganda
hanya dengan tubuh payung hitam

Dan kehilangan tak tersembuhkan

Yang hilang menjadi katalis
di setiap kamis nyali berlapis

Sumarsih, ibu dari mahasiswa Universitas Atma Jaya Bernardus Realino Norma Wirawan atau Wawan yang tewas dalam tragedi Semanggi 1, mencium foto anaknya usia melakukan tabur bunga pada peringatan 17 Tahun Tragedi Semanggi 1 di Jakarta, Jumat (13/11).
Sumarsih, ibu dari mahasiswa Universitas Atma Jaya Bernardus Realino Norma Wirawan atau Wawan yang tewas dalam tragedi Semanggi 1, mencium foto anaknya usia melakukan tabur bunga pada peringatan 17 Tahun Tragedi Semanggi 1 di Jakarta, Jumat (13/11). Dalam peringatan tersebut para mahasiswa menuntut agar pemerintah serius dalam menangani kasus kekerasan serta terbunuhnya mahasiswa pada tragedi tersebut. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/ama/15
Cinta, Eksistensialisme, Puisi, Uncategorized

Siapa Yang Tahu

 

siapa yang tahu

Kesepian menghisap
Keramaian menyekap
Kerinduan mendekap
Kecintaan menyingkap

Kau tahu isi hatiku
Tak ada apa di situ
Tak ada cinta tak ada nafsu
Hanya rasa yang menggebu

Siapa yang tahu?
Rasanya kau kenal padaku?
Begitupun aku
Rasanya kukenal padaku

Siapa yang tahu?
Isi hatimu
Yakin atau ragu
Cair atau beku

Siapa yang tahu
Mata itu
Masih telaga biru
Apa juga musim semi daunan
Atau sudah datang dingin

Siapa yang tahu?

Aku tak peduli
Sakit bila peduli

Aku tak peduli
Biar sakit aku
tak peduli

Ssshh sh sh shhh…

Kemari
Biarkukecup sekali
Agar terkenang sampai mati
Biar hanya sekali
Sampai engkau ingin lagi

Kemari…

2008