Puisi
OPHELIA

I
Di atas air hitam tenang bintang-bintang terlelap
Ophelia putih mengambang seperti bunga leli
Mengambang perlahan, ditidurkan kudung panjang..
–Trompet berburu terdengar dari hutan nan jauh
Seribu tahun tanpa Ophelia nan sedih
Hantu putih di sungai hitam panjang
Seribu tahun kegilaan manisnya
Bergumam dalam balada kabut pagi
Angin mengecup dadanya, merapikan kudungnya
Dalam buaian lembut air;
Dahan-dahan dedalu gemetar menangis di pundaknya.
Bunga-bunga leli yang kusut mendesah di sekitarnya;
Dan di atas semak-semak pohon alder kadang ia berputar-putar.
Ada sarang di mana getaran sayap-sayap kecil lepas,
-Sebuah lagu misterius jatuh dari bintang-bintang emas
II
Oh, Ophelia pucat! Cantik seperti salju!
Kau mati, anakku, dibawa pergi di antara air!
Angin dari gunung-gunung Norwegia
Membisikkan peringatan perihnya kebebasan.
Karena sebuah nafas dibawa suara-suara asing
Pada jiwamu yang resah, menggulung rambut panjangmu,
Hatimu mendengar nyanyian alam
Dalam kemarahan pohon-pohon dan desahan malam
Karena suara-suara memekakkan dari laut liar
Menghancurkan dada kecilmu, begitu manusia dan begitu lembut;
Karena pada sebuah pagi di bulan April, seorang ksatria pucat, tampan,
Seorang bodoh yang hina, bertekuk lutut di kakimu!
Langit! Cinta! Kebebasan! Mimpi-mimpi apa, Ophelia malang!
Kau mencair di sana seperti salju dalam api
Mimpi mencekik kata-katamu
-Ketakutan akan yang maha luas memancar dari matamu.
III
-Dan para penyair berkata kau datang setelah gelap
Dalam cahaya bintang, mencari bunga-bunga yang kaukumpulkan,
Dan di atas air, tidur dalam kudung panjang
Ia melihat Ophelia putih mengambang bagai leli
15 Mei, 1870
Bapak Kami di Neraka

Bapak kami di neraka
Bahasa warisan bapak
Benar salah baik buruk
Dicetak di dalam otak
Semenjak kanak-kanak.
Bapak yang mengatur
semua cara tutur
kalau kita melantur
bapakkah yang ngawur?
Kita tidak boleh membaca
semua yang menentang kuasa
Kalau kritik bicara
kita akan binasa
Bapak atur wacana
sensor dan penerangan
kotor dalam kegelapan
akal sumber bencana
Hari ini semua meradang meledak
kabar prematur dimatangkan media
dibesarkan massa dalam teriak serak
“Kami benci mereka yang berbeda!”
Bapak!
Kami yang durhaka sudah menurunkanmu
menghina-hinamu, membebaskan diri darimu
kau sudah dikubur dalam candi
yang diam-diam kami ludahi
Tapi kenapa bapak tak mati-mati!?
Di tanganmu darah kami bergelimpangan
bibir, dan telinga kami kau jadikan hiasan
lidah kami kau jejalkan pada aspal jalanan
mata kami melotot di propaganda dingin
Di dinding-dinding tercoret mural sejarah
yang kau tutup dengan cat cairan muntah
membusuk jeroan-jeroan mayat membuncah
mahasiswa, aktifis, komunis, penyair, bocah-bocah
generasi hijau hitam putih biru ungu dan merah!
Semua sudah kau buat menjadi anakmu yang durhaka!
Tapi kami tak juga bebas dari bahasamu, dari senyumanmu
dari kebencian yang kau tanamkan pada kami demi kau!
Bapak kami di neraka,
Ampuni kami bebaskan kami dari kedengkian
dan kebencian dan sayangi kami dengan semestinya
dengan sederhana, dengan segala kasih dan sepatutnya
seorang bapak melepaskan anak bujangnya berkelana
Biarkan kami dewasa
Bawalah perangmu ke alam baka
Homunculus

Seorang tua dan anak kecil
Tinggal di belantara pikiranku
Si orang tua penuh bijak dan menganggap
Dirinya tiada
Si anak kecil penuh cinta dan menganggap
Dirinya segala
Si orang tua bersemedi di pohon nan tinggi
Si anak kecil bermain di rimba nan buas
Si orang tua menguasai hari terang
Si anak kecil menguasai hari gelap
Terkadang mereka berseteru
Hutan terbakar jadi debu menderu
Dalam kacau mereka berseru:
Biarkan aku jadi aku!
Tapi terkadang mereka bergandengan
Seperti magrib dan subuh yang meremang
Si muda diangkat, ditimang-timang
Si tua menjingkat, tersenyum senang
Dan begitulah belantaraku
Jinak dan buas, haus dan puas
Lembut dan keras, dingin dan panas
Baik dan jahat, lepas dan lekat
Semua paradoks belantaraku
Tak pernah ia kering
Tak pernah ia habis
Walau selalu terkikis

