Alam, Film, Kurasi/Kritik, Puisi, Uncategorized

Kehangatan Musim Dingin: Semua Berkat Ubi

Sebuah film dokumenter non naratif yang sangat indah menurut saya. Diambil dengan ketenangan, kamera diam tanpa gerakan, setiap frame bagai lukisan.

Karena seringkali, gerakan kamera tidak diperlukan untuk situasi yang sudah indah. Videografer mengambil momen dan membingkai kenyataan, memberikan perasaan hangat kepada penonton, itu sudah cukup bermakna–tanpa argumen, tanpa statement. Hanya rasa.

Dan kekuatan seorang perempuan sangat saya rasakan di video ini. Terlepas apakah perempuan di video ini adalah model atau bukan, ketiadaan lelaki di video ini, membuat keindahan yang luar biasa dalam menggambarkan independensi perempuan.

Menonton film ini adalah sebuah terapi.

Alam, Eksistensialisme, Perlawanan, Puisi

Homunculus

Source: http://tamrielvault.com/group/character-building/forum/topics/character-build-the-hermit
Source: http://tamrielvault.com/group/character-building/forum/topics/character-build-the-hermit

Seorang tua dan anak kecil
Tinggal di belantara pikiranku

Si orang tua penuh bijak dan menganggap
Dirinya tiada

Si anak kecil penuh cinta dan menganggap
Dirinya segala

Si orang tua bersemedi di pohon nan tinggi
Si anak kecil bermain di rimba nan buas

Si orang tua menguasai hari terang
Si anak kecil menguasai hari gelap

Terkadang mereka berseteru
Hutan terbakar jadi debu menderu
Dalam kacau mereka berseru:
Biarkan aku jadi aku!

Tapi terkadang mereka bergandengan
Seperti magrib dan subuh yang meremang
Si muda diangkat, ditimang-timang
Si tua menjingkat, tersenyum senang

Dan begitulah belantaraku
Jinak dan buas, haus dan puas
Lembut dan keras, dingin dan panas
Baik dan jahat, lepas dan lekat

Semua paradoks belantaraku
Tak pernah ia kering
Tak pernah ia habis
Walau selalu terkikis

Alam, Perlawanan, Puisi

Berlari, Belantara tidak Berpikir tentang Janinmu

running_through_the_woods_by_darkhorses90-d4h8ywn

Berlari, belantara tidak berpikir tentang janinmu
padahal kau selalu menganggap dirimu tanah, bumi, yang subur
yang sakit ketika harapan-harapan gugur
tanpa pernah lahir tanpa pernah terkubur

Bercak-bercak darah
serpihan-serpihan benih
berserakan di lapangan bunga
dan membunuh semua yang hidup

Dasar bodoh,
Alam tidak akan peduli kesakitan, kenikmatan
Ia tidak menangis, tidak mengeluh,
ia tidak mengadili atau menghukum
ia tidak pasif tidak juga aktif
ketika ia muntah bencana dan membunuh kita semua
ketika kiamat yang kau imani itu datang

Ibu kita pertiwi akan tetap kokoh dan melahirkan dan membunuh
tanpa perasaan, tanpa apa. Terus mengada dan menghilang.

Tidak seperti kau!

Makhluk jalang fana, yang bersembunyi di balik
simbol-simbol kepalsuan yang kau buat di atas wajahmu

Lihat!
Langit biru, terik, angin menghilang
akan ada badai datang, sayang
Kau tak mungkin jadi ibu pertiwi
kalau selalu takut badai

Semoga anak itu mati sebelum lahir,
Dan jadilah ia manusia paling beruntung.
Karena ibu sepertimu, adalah bencana
Kau pikir kenapa aku lari?

Washington DC, 12 Juli.