A Poem by Darius Simpson on Black Genocide in USA. It seems, not only Indonesian have “Kamisan.” I can’t say much about this poetry and Darius’s performance. It is Awesome!
A Poem by Darius Simpson on Black Genocide in USA. It seems, not only Indonesian have “Kamisan.” I can’t say much about this poetry and Darius’s performance. It is Awesome!
Ia sudah lupa untuk pamit
pada kedua orang tuanya
karena terlalu sering pergi
katanya membela negara
Dari negara
Itu 17 tahun yang lalu, ingat emaknya
hari ini dialah negara, pahlawan berjasa
Mantan demonstran, turunkan penguasa
dulu bela negara, kini petugas negara
Dulu Ia kasar dan beringas
ia bilang, ia juga heran kenapa
ia bertahan tidak diculik, dibunuh,
atau ditembak, dibuang di selokan
padahal soal menghina, ia paling depan
Sementara kawan-kawan lain
yang seringkali lebih santun
tiba-tiba raib oleh intel dan tentara
Cuma karena kritik, puisi, dan gurauan mereka mati
Sementara ia, hidup hanya dengan mencaci-maki
Hari ini ia terpandang, buat undang-undang
mewakili entah siapa yang ia bilang ia wakili
Kawan-kawannya sudah lama pergi
ada yang mati, ada yang kembali
ke keluarga dan emak-bapaknya
menebus dosa karena bela negara
seringkali membuat durhaka
Sementara itu yang ada padanya
adalah pengepul dapur rumah tangga
beberapa seperti dirinya, bekas serigala lapar
yang kini menghamba jadi anjing rumahan
Bahkan sebagai anjingpun
pahlawan kita tetap durhaka,
tetap perkasa membela negaranya
dari mereka yang dulu ia bela
Negaranya, presidennya, menterinya
partainya dan proyek-proyeknya
melawan jutaan orang yang suaranya
serak dan santun meminta haknya
Kawanannya kembali ke kampung
terus bersama mereka yang dulu dibela
sejak mahasiswa sampai sudah kerja
karena hak asasi tak jua terbagi rata
Dan ia tetap pergi, tak mau pulang
katanya untuk membela negara
dari kebodohan rakyatnya
yang dulu ia bela
Washington DC, Februari 2016
Saya merasa harus mengabadikan link ini di blog saya ini. Produk turunan menurut saya adalah apresiasi paling tinggi dari sebuah karya. Ketika pertama kali mendengar lagu ini, Saya pun punya banyak khayalan seandainya saya membuat videonya. Muhammad “mstmnd” Iqbal, sedikit banyak menghidupkan khayalan saya itu pada bagian “Tiada” yang memang liriknya lugas dan deskriptif. Imajinasi kami berpisah di bagian “Ada” yang memang liriknya lebih metaforik dan puitik. Tapi tetap, perbedaan imajinasi itu tidak membuat lagu dan komikalisasinya ini berkurang nilai kekerenannya.
Great job!
Komik dengan musik (yang kemudian dinamakan komikalisasi, sebagaimana karya komik dari puisi “Hujan Bulan Juni” karya Sapardi Djoko Damono oleh Mansjur Daman dengan musik oleh Ari Reda) ini mulanya saya buat sebagai tugas perkuliahan apresiasi desain, DKV ITS Surabaya.
Komikalisasi yang saya buat ini merupakan persembahan bagi mereka yang gugur dalam memperjuangkan keadilan, dan bagi kehadiran harapan baru. Sebagaimana lirik lagu aslinya yang terbagi atas dua bagian, dengan bagian pertama berjudul “Tiada” yang dimaksudkan untuk Adi Amir Zainun, dan “Ada” untuk Angan Senja, Rintik Rindu dan ‘semua harapan di masa depan’.
Saya menyadari posisi komikalisasi ini yang pada akhirnya memenggal interpretasi kawan – kawan pada lagu ‘Putih’ ini, namun tujuan saya sejatinya hanya berbagi interpretasi saya tentang lagu ini. Maka komik ini sangat terbuka pada apresiasi positif maupun negatif. Dan jika ada dari kawan – kawan yang membuat karya yang serupa, silakan berkabar dan saya akan sangat senang jika dapat belajar darinya.
Ucapan terimakasih : Tuhan YME, Bu Senja Aprela, Mas Tony Midi (terimakasih masukannya), dan kawan – kawan yang sudah sudi menonton karya ini.
NB : terdapat kesalahan lirik yang baru ketahuan sesaat sebelum saya unggah, pada bagian ‘tiba – tiba datang atau dihentikan’, yang seharusnya ‘tiba – tiba datang atau dinantikan’.
Mari kita lupakan yang sudah berlalu
segala pembunuhan, pembantaian, penculikan
itu adalah bagian dari perkembangan peradaban kita
Negara-negara besar bisa besar karena genosida
suku Asli Amerika, Armenia Turki, Yahudi Jerman
biarkan saja mereka semua mati dan hilang
itu adalah bayaran atas peradaban
Jika kau memaksa agar mereka tetap diingat
apa kau mau mengingat pembantaian di Mesopotamia
serangan yang menghabiskan Babylon dan menara gadingnya
Apa kau mau menghitung pembantaian yang dilakukan
suku Maya pada orang rimbanya sebelum orang Eropa datang
Lepaskanlah, lupakanlah
mari kita songsong jaman baru
mari kita bangun peradaban ini
bersama menuju—
Pak
Ya?
Saya tidak kenal orang-orang yang bapak sebut
tapi bapak sudah membunuh saudara
dan kawan-kawan saya
Lalu
Ya minimal saya pengen semua orang tahu
kalau bapak bukan orang baik dan tidak
semestinya berkuasa
Waktu saya menculik dan membunuh dulu
itu adalah demi kebaikan bersama
itu bukan dosa
bukan!
Terserah bapak tapi bapak sudah
menculik dan membunuh
orang tak bersalah
So?
Saya mau bilang itu berulang-ulang
sambil berdiri di sini
Buat apa?
Saya tak lihat saya tak dengar kok
Kau sudah menculik dan membunuh
orang-orang tak bersalah
Kau sudah menculik dan membunuh
orang-orang tak bersalah
Kau sudah menculik dan membunuh
orang-orang tak bersalah
Kau sudah menculik dan membunuh
orang-orang tak bersalah
Kau sudah menculik dan membunuh
orang-orang tak bersalah
— Dan si orator tetap tidur nyenyak di malam hari, dengan bisikan-bisikan itu.