Alam, Cinta, Eksistensialisme, English, Perlawanan, Puisi

The Five of Tens to One

5da00ebc39e2af69c62a70ed6f141c04
The hunger the lost
The will to power over nothing
The running the hiding
The thirst to taste each and everything
The confusion the intrusion
The complication of a conspicuos mind
The pride the ego
The prejudice in interpreting faces
The body the sex
The desire on collecting playable objects

The moments the truths
The misdemenour of a forgotten subaltern
The break the broken
The time to rest upon forever
The silence the dream
The sleep surpassing state of death
The deprivation the population
The society rejects incorporation
The denial the defiance
The illusion of being a free anarchist

The God the angels
The promised heaven that never achieved
The cold the weather
The frozen point of burning guns
The laughter the mask
The wall exhibit emotions
The sickness the sea
The remedy of being a stranded stranger
The music the sirene
The leaves falls composing asphalt

The talk the poetry
The structure of tens of meaningless parable
The lovers the passion
The intercourse of incomprehension
The screen the keyboards
The random codes of exploitations
The island the man
The woman woven waves of wolves
The howling the city
The wind cries engine growls

The road the intersection
The part where chosing is not an option
The searching the roses
The pavement of rotting carcasses
The words the phrases
The pragmatism in losing semantics
The books the bibles
The open and closing of dangerous minds
The spaces the places
The end to start and the start to end

The evil the willing to never get even

Perlawanan, Puisi

Bapak Kami di Neraka

Aebaes and the Sybil in Hades by Jan Brueghelil Vecchio
Aebaes and the Sybil in Hades by Jan Brueghelil Vecchio

Bapak kami di neraka

Bahasa warisan bapak
Benar salah baik buruk
Dicetak di dalam otak
Semenjak kanak-kanak.

Bapak yang mengatur
semua cara tutur
kalau kita melantur
bapakkah yang ngawur?

Kita tidak boleh membaca
semua yang menentang kuasa
Kalau kritik bicara
kita akan binasa

Bapak atur wacana
sensor dan penerangan
kotor dalam kegelapan
akal sumber bencana

Hari ini semua meradang meledak
kabar prematur dimatangkan media
dibesarkan massa dalam teriak serak
“Kami benci mereka yang berbeda!”

Bapak!
Kami yang durhaka sudah menurunkanmu
menghina-hinamu, membebaskan diri darimu
kau sudah dikubur dalam candi
yang diam-diam kami ludahi

Tapi kenapa bapak tak mati-mati!?

Di tanganmu darah kami bergelimpangan
bibir, dan telinga kami kau jadikan hiasan
lidah kami kau jejalkan pada aspal jalanan
mata kami melotot di propaganda dingin

Di dinding-dinding tercoret mural sejarah
yang kau tutup dengan cat cairan muntah
membusuk jeroan-jeroan mayat membuncah
mahasiswa, aktifis, komunis, penyair, bocah-bocah
generasi hijau hitam putih biru ungu dan merah!

Semua sudah kau buat menjadi anakmu yang durhaka!

Tapi kami tak juga bebas dari bahasamu, dari senyumanmu
dari kebencian yang kau tanamkan pada kami demi kau!

Bapak kami di neraka,

Ampuni kami bebaskan kami dari kedengkian
dan kebencian dan sayangi kami dengan semestinya
dengan sederhana, dengan segala kasih dan sepatutnya
seorang bapak melepaskan anak bujangnya berkelana

Biarkan kami dewasa
Bawalah perangmu ke alam baka

Alam, Eksistensialisme, Perlawanan, Puisi

Homunculus

Source: http://tamrielvault.com/group/character-building/forum/topics/character-build-the-hermit
Source: http://tamrielvault.com/group/character-building/forum/topics/character-build-the-hermit

Seorang tua dan anak kecil
Tinggal di belantara pikiranku

Si orang tua penuh bijak dan menganggap
Dirinya tiada

Si anak kecil penuh cinta dan menganggap
Dirinya segala

Si orang tua bersemedi di pohon nan tinggi
Si anak kecil bermain di rimba nan buas

Si orang tua menguasai hari terang
Si anak kecil menguasai hari gelap

Terkadang mereka berseteru
Hutan terbakar jadi debu menderu
Dalam kacau mereka berseru:
Biarkan aku jadi aku!

Tapi terkadang mereka bergandengan
Seperti magrib dan subuh yang meremang
Si muda diangkat, ditimang-timang
Si tua menjingkat, tersenyum senang

Dan begitulah belantaraku
Jinak dan buas, haus dan puas
Lembut dan keras, dingin dan panas
Baik dan jahat, lepas dan lekat

Semua paradoks belantaraku
Tak pernah ia kering
Tak pernah ia habis
Walau selalu terkikis