Filsafat, Memoir, Racauan

Ketika Tak Percaya

What’s a moment that made you question reality?

Ketika bangun pagi dan melihat pasanganku tidur di sebelahku.

Ketika hujan badai, dan aku aman dibalik jendela.

Ketika neon-neon kota menyala di tengah malam aku duduk di tepi tempat tidur bersama kasihku menontonnya dari kamar di gedung tinggi.

Ketika aku yang Atheist ini shalat dan membiarkan Tuhan bekerja mengatur dunia semaunya, ke arah yang bikin kita semua susah.

Ketika aku menyadari bahwa aku tidak membantu siapapun, tapi dibantu banyak orang.

Ketika kesempatan datang lagi, seperti de javu, dan aku menjadi piawai menguasai keadaan karena trauma menyelamatkanku.

Ketika kau membaca tulisan ini, diantara milyaran manusia yang tak sempat mampir kemari.

Filsafat, Memoir, Racauan

Pertemuan Luka Lama

Luka lama yang kita bawa, merusak apa yang ada. Kerja keras kita, cinta yang kita bina, dan cerita yang kita cipta.

Luka lama adalah fantasmagoria. Kau lihat ia di sudut mata, menggoda untuk masuk ke dunia niskala. Kau akan terjebak di dalamnya dan tanpa sadar menarik semua yang bahagia menjadi nestapa.

Luka lama diberikan orang tua. Dalam usaha coba-coba membuat manusia, mereka menanamkan kasih sayang hingga mengakar, hanya untuk mencerabutnya dengan cinta atau dengan kasar, meninggalkan lubang pertama, luka terdalam. Tidak ada manusia yang akan luput dari luka yang dibuat orang tua.

Luka lama diberikan saudara kandung, dari perebutan kasih sayang, atau kompetisi menjadi lebih terang. Dalam berjuang, menjadi buah matang atau busuk di pohon yang sama. Tumbuh jadi peneduh atau jadi benalu. Cinta dan benci tiada henti.

Luka lama tinggal selamanya. Pada keluarga ia ditahan dengan tawa dan kebahagiaan serta perjuangan.

Luka lama diberikan yang terkasih. Cinta demi cinta yang berlalu memberikan nikmat dan laknat. Ada yang melukai demi kehormatan, ada yang demi cinta, ada yang demi keluarga, demi diri sendiri, dan demi bintang-bintang, Tuhan dan agama. Ada yang demi kesehatan fisik dan mental, dan yang paling sering terjadi, luka lama cinta dibuat karena luka lama lain.

Luka lama yang kita bawa, merusak apa yang ada. Luka lama adalah gerbang yang indah dan menggoda menuju keniscayaan hidup. Jika kau pikir mengejarnya akan menyembuhkannya, kau adalah golongan yang merugi.

Takdir pernah mempertemukan aku dengan sebuah Luka Lama, dan aku mengajaknya untuk menyembuhkan dan menutup diri. Kupikir, karena tidak kukejar, mungkin ini takdir untuk mengakhiri sakitnya.

Ia bilang, “Tak ada yang perlu dibicarakan.”

Kata-kata terakhir itu menghantui. Dan Luka Lama justru terus ku rawat berdarah, hingga suatu hari ia menganga dan merusak lagi, kali ini bisa membuat aku melukai banyak orang, seperti seorang bocah membawa pistol ke sekolah karena luka lama yang dibuat keluarga dan kawan-kawannya. Dor… Dor … Dor…

Maka untuk bertahan hidup dan membangun kemanusiaan, luka lama harus ditabur garam, antiseptik, atau dibakar. Sakitnya akan membuat sadar, apa yang punya hari ini, dimana kau, siapa yang ada di sampingmu, bagaimana kalian bisa saling kenal dan saling sayang, apa yang sedang dibangun. Luka lama adalah kehidupan yang menyuruh mati pelan-pelan.

Ambil nafas hidupmu dalam-dalam. Dan hiduplah sekarang, yang berlalu detik demi detik, huruf demi huruf. Luka Lama adalah cerita. Tapi sekarang, adalah menulis. Yang kau baca kau tulis di pikiran. Dan jika kau cinta maka kau kerjakan di kenyataan, kau tulis di peradaban.


Terima kasih telah membaca sampai habis. Website ini jalan dengan sumbangan, iklannya tak menghasilkan, dengan lisensi Creative Commons, Atribution, Non commercial. Kamu boleh pakai konten ini selama memberikan link sumber dan bukan untuk tujuan komersial. Kalau kamu suka dengan yang kamu baca, silahkan traktir saya kopi murah.

Cinta, Perlawanan, Puisi

Australopithecus

Alam tidak kenal waktu,

Pembunuhan dimulai dari pagi buta

Karena ada yang lapar dan butuh bertahan

Dan ada yang lemah menjadi makanan

Sementara itu, cinta kumaknai
Seperti pembunuhan alami
Terhadap yang kini asing
Atau yang dulu hantu

Ayo, kita berburu
Sebelum matahari terlalu tinggi
Agar bisa meramu
Mangsa kita hari ini.

Dan kerinduan terobati
Ketika pulang nanti

Filsafat, Memoir, Racauan

Omnis Ardentior Amator Propriae Uxoris Adulter Est

Photo by Myriams Fotos on Pexels.com

Neraka punya satu aturan:

Omnis ardentior amator propriae uxoris adulter est

-cinta kepada hak milik orang lain adalah perzinahan-


Ketika saya baru saja lepas dari belenggu fundamentalisme Islam yang aneh di SMA, saya bercinta dengan seorang perempuan yang takkan pernah saya lupakan sampai saya mati. Percintaan nekat yang melanggar dua hal paling tabu dalam peradaban kita sekarang: [1] dia adalah kekasih pria lain, dan [2] dia Katolik.

Tapi untuk saya, cinta adalah agama paling mulia dan ibadah paling suci. Masih terasa aroma tubuh dengan parfum white musk, kulitnya yang putih dan halus bagai “tugu pualam” (mengutip Shakespeare), dan kalung salib emas kecil dengan satu berlian di tengahnya yang menjadi objek utama saya ketika dia di pangkuan. Vaginanya adalah gerbang ke santuari paling suci, payudaranya adalah kelembutan yang menghangatkan jiwa, bibirnya adalah roti dari daging Yesus, dan liurnya adalah anggur suci, darah dari perjamuan terakhir.

Sementara salib emas itu adalah tujuan hasrat fetisisme saya. Ia memantulkan cahaya lampu kamar menjadi nur suci yang merasuki setiap celah di darah, memompa udara ke dalam jantung dan membersihkan hati dan pikiran dari segala dosa. Peluh dan peluh bercampur, liur dan liur melarut, cairan menyatu, doa menyatu, perasaan menyatu, agama 

menyatu. 

Dan bagi perempuan itu, saya adalah tahanan di ruang asing tertutup yang meraung minta dibuka dan diselamatkan. Ia rela menerobos masuk, melewati batas-batas budaya dan agamanya sendiri, menggenggam tangan saya dan menarik saya keluar. Keluar menuju semesta tanpa batas dengan bintang-bintang dan bimaksakti-bimasakti baru bertaburan. Kami melayang telanjang dalam sebuah persetubuhan transenden sampai

grativasi menarik balik.

Kami

… terjatuh

Dan kami adalah bayi kembar yang baru lahir dan mengalami disorientasi. Kami adalah Adam dan Hawa yang terbuang dan terpisah jauh. Kami anak-anak yang terbawa arus samudra dan terpisah…

Maka Islam tetaplah Islam, dan Katolik tetaplah Katolik. Kembalilah ia kepada makhluk lelaki yang mencintai tubuhnya seperti mencintai perabot tempat ibadah di gerejanya.

Jika saat itu saya mengerti betapa piciknya kebudayaan mememenjarakan kami. Jika saat itu kunci atas kebudayaan ada di saya seperti sekarang ini; kunci pengetahuan dan kunci pembebasan. Maka dunia bisa berubah indah.

Paling tidak dunia kami berubah indah, persetan dan ke neraka buat orang lain yang masih betah di neraka agama saling bunuh, saling siksa, saling hujat menghujat.

Persetan buat kalian yang masih nyaman dalam kebodohan. Setan!

Depok, 24 Nopember, 2008


Terima kasih sudah membaca tulisan lama yang baru saya gali ini. Jika kalian suka yang kalian baca, bolehlah kiranya traktir saya kopi supaya tetap semangat mengisi blog ini, dan merasa ada yang menghargai pemikiran saya. Makasih sudah mampir.