English, Memoir, Racauan, Teater

2018: Year of Love and It’s Terror

Those who know me probably know that 2018 might be one of the heaviest year of my life. In January, I lost my father. I gain some old and new friends. Lost them. Gain some love, lost them. Gain some weight and mental illnesses—Oh, shit they won’t go away. Probably my closest friends now.

I honestly lost the will to tell you my stories, for they are dull, cliches and most of you who knows me already know. People have disappointed me and I have disappointed people. I woke up tonight crying for the words I have said repeatedly to them; words like “I love you”, “please understand”, “I’m Sorry”, “Don’t leave”, and “Why?”

And their words are echoing in my mind, “I refuse your love”, “Don’t make your illness as an excuse”, “You’re the one who left”, “Up to you, whatever”, “Don’t need to apologize if you don’t feel guilty about it.”

You know that phrase YOLO, or do things you want to do before you regret it, whatever. Well, I did what I wanted to do and said what I needed to say and I still regret them. It’s like everything is a mistake (that is depression). So here I am wordless and worthless. For the world around me is working against me. For the people I love either left me, or can’t be with one another therefore can’t be with me, or keep making shits that made me have to do shits for them, or keep saying they love me and expect just too goddamn much by expressing their pain and need to be with me, or expect me to be something that I am not. I keep give a fuck where I shouldn’t have and I don’t know why.

I honestly, from the bottom of my heart, HATE this year because it’s full of love. Because from those love rise jealousy, and hatred, and mental illness, and all sort of problems with no end or solution on sight. The things that love precedes this year are existential terrors. Culture and institutions have made loving to be so fucking demanding, by creating this “either-or” principles in people’s mind, and terrorizing us with the fear of loving or losing love. So fucking complicated. I hate this year for taking so much of my mind and soul.

This is the year of desperation.

And the scariest part of this year, is the tiny hope it gave me, lurking behind those depressions and unrequited love. The hope that we all can find a balance to be with one another, and loving each other without all the commotion of heartbroken drama and social contracts that goes with it. The hope that life is worth living, because deep inside, we are all missing each other.

If love is a verb, it is a painful one. Since in that action I have to be still and accept the fact that stillness is what most people I love wanted from me. The stillness corrodes me, for expressing my love will do nothing but harm. Love is a tyrant that binds me out of you all, lock me inside of my mind.

But if that is what it takes to live this year and the next, shall be it. For I love you, and nothing can stop that. I’m gonna die a masochist.

I wish you all a happy new year.

Iklan
Moral Bengkok, Prosa, Racauan

Kesepian adalah Persahabatan antara Bosan dan Rindu

Ia pasti bosan, dan bosan adalah siksaan utama keberadaan. Penderitaan yang terberat bagi semua umat manusia, miskin atau kaya, pintar atau bodoh, alim atau kufur, adalah kebosanan, stagnasi, perasaan ketika kehidupan jadi mentok dan monoton.

Manusia adalah mahluk yang adaptif. Siksaan fisik tidak akan sebegitu menyakitkan kalau sudah biasa. Begitupun siksaan mental dan kelelahan jiwa akibat perjuangan yang tak kunjung kelar. Namun tidak ada seorang manusia pun yang bisa membiasakan kebosanan. Ia menghantui di setiap detik, jadi bagian di dalam pikiran yang kita kubur dengan pekerjaan, penderitaan, dan harapan. Tapi tidak ada obat kebosanan yang paling mujarab daripada dosa.

Jadi hari itu, ketika si Janda muda yang biasa bertamu ke rumahnya untuk meminta nasihat spiritual, dan bercengkrama dengan istri dan anak perempuannya, mulai mencuri pandang kepadanya, junjungan kita sang orang suci yang dari mulutnya yang sering berdzikir dan melaknat pendosa, balik memandang dengan matanya yang teduh. Keteduhan yang hanya ditunjukkan kepada orang-orang yang ia hormati dan ia cintai. Keteduhan langka, yang tak pernah ia tunjukkan ketika ia berceramah berapi-api tentang kezaliman penguasa, atau kecongkakan para pendosa, pelaknat, penista agama.

Keteduhan seseorang yang romantis.

Di balik hijab Janda muda itu, junjungan kita membayangkan sebuah dunia baru. Kulit putih yang memerah karena hasrat menggebu, puting merah jambu yang menegang terangsang di puncak gunung yang lengkung sempurna. Ia memerhatikan bibir si Janda, dengan kumis tipis yang konon menandakan tingginya nafsu bercinta. Ketika si Janda berdiri dan mengikuti istrinya untuk berbenah di dapur, ia memperhatikan kemolekan pinggul dan kelincahan pantat dan pahanya, memberi gelombang di balik kain sutra syar’i, begitu jelas lengkungan-lengkungan itu ia lihat.

Subhanallah. Astagfirullah. Subhanallah. Astaghfirullah. Berkecamuk seperti orang yang menyatakan kekafirannya dengan pembaptisan di sungai, megap-megap minta udara. Dan junjungan kita menyadari, udara yang ia ingin hirup adalah yang langka dari hidupnya: sebuah dosa.

Sebelum Janda muda itu mencuri pandang padanya, ia selalu berpikir dan meyakinkan dirinya, bahwa udara itu adalah pahala yang selalu ia kumpulkan. Udara itu adalah kebaikan dan ilmu yang ia tebar. Udara adalah keridhaan ilahi. Namun, yang dicuri oleh si Janda bukan cuma pandangan dan nafasnya. Ia telah mencuri hati, dan itu ditunjukkan dari minaret junjungan kita yang berdiri menunjuk ke arah si Janda. Ia kekang minaret berkubah merah yang tertahan celana dalam di balik baju gamisnya. Seperti si Janda menutup keindahan di balik sutra mahal buatan perancang luar negeri.

Tapi semua akan baik-baik saja, selama si Janda tidak memulai dan menyatakan pandangannya dengan kata apalagi sentuhan. Semua akan baik-baik saja, selama perempuan bisa menjaga dirinya dari hasratnya, dari menunjukkan tubuhnya kepada si lelaki. Ia aman, selama tubuh telanjang itu hanya ada di pikirannya yang ‘normal’. Sang Junjungan kita percaya dan bilang pada semua muridnya, mengajarkan tanpa henti, tentang kekuatan perempuan yang juga jadi kelemahannya: tubuh. Lelaki selalu bisa dipercaya, tapi perempuan tidak. Perempuan dalam agamanya adalah makhluk yang kuat lagi picik, yang sejak awal penciptaan sudah bersekutu dengan setan untuk membuat penderitaan terhadap umat manusia. Selama si Janda tidak menggodanya, semua akan baik-baik saja. Ia hanya harus selalu mengingatkan si Janda untuk menjaga dirinya. Dan setiap nasihat ia isi dengan keteduhan dan cinta yang tak terkatakan.

Maka tanpa Sang Junjungan sadari, hujan asmara jatuh membasahi keringnya nurani si Janda, dan selangkangannya.

Si Janda tidak tahan, ia berani menatap pandangan junjungannya! Iblis! Laknat! Junjungan kita panik setengah mati. Bahkan ketika si Janda pulang. ia masih keringat dingin dalam tahajud yang tidak khusyuk–ia membayangankan pandangan si Janda dan segala kemungkinan dosa yang bisa ia lakukan. 

Dan sial, Junjungan kita benar-benar lupa dengan satu faktor lagi, sebuah jebakan setan kafir laknat yang diciptakan untuk menyebarkan dosa: kamera ponsel, aplikasi obrol, dan sosial media. Awalnya ia hanya mengobrol dengan si Janda melalui ponselnya, mengirim ayat-ayat dan tafsir-tafsir. Entah apa yang merasukinya, pelan-pelan tapi pasti, ia melancarkan puja-puji terhadap kecantikan si Janda, hingga si Janda tahu pasti bahwa pandangan yang ia curi menjelma menjadi birahi. Junjungan kita pun bertransformasi, dari kiai menjadi Rumi. 

Si Janda pun mulai membayangkan puja-puji sang Junjungan kepadanya dalam bentuk aksara, mejadi lisan yang berbisik manja dengan suara berat yang membuat seluruh isi tubuhnya bergetar. Jika cinta anak perawan adalah kupu-kupu di dalam perut, cinta seorang wanita yang pernah merasakan nikmatnya senggama adalah gemuruh debur ombak menampar karang-karang di bawah perutnya. Ia bisa merasakan kumis Junjungan kita menyenggol daun telinganya, hingga tanpa sadar, dalam keadaan setengah tidur, tangan sang Janda merogoh selangkangannya, dan ia bergelinjang bergelimang dosa dan doa. Dosa hawa nafsu, doa agar dosa bisa terlaksana. 

Begitulah sebuah gambaran hasrat, duhai pembaca yang budiman. Saya hentikan cerita ini agar Anda semua merasakan, beratnya rasa penasaran yang darinya rindu tercipta, menyiram arang kehidupan yang redup karena kebosanan, dengan minyak dan angin yang membuat api menyala merambat ke seluruh bagian tubuh dan jiwa. 

Bosan dan rindu menjelma sepi. Di masa lalu, seorang penyair bohemia berteriak serak pada orang-orang semacam Junjungan kita dan Janda idamannya, serta tentunya pembaca penasaran:

“MAMPUS KAU DIKOYAK KOYAK SEPI.”

English, Memoir, Racauan, Uncategorized

When I Leave

I know I can be hard. So I thank you for staying. But I understand those who left or if you want to leave, since… I can be hard.

Who would bear the circling uttered words of meaningless anxiety, the reckless raging action, the inconsistency of commitment, the constant change of plans, the tender love turn to harsh possessiveness, the lust for betrayal, and the suicidal threat that endangered everyone around me.

No love in the world could manage to constantly stay to something like that. Not even love for one self. If I could, darling, I’d leave myself for good. But one cannot leave one self. One can just stay and live, or leave and die. And you, all of you who come and go, made me live and suffer. And taste a little bit of happiness. And for that I thank you. For that, I love you.

Some of you who stays, hurt me with your love and your disappointment in me, for I cannot be what you wished me to be. And with that, I hurt you back. I used to be sorry for that, but that guilt made me worse. So I have to say, sorry that I am not sorry. I am not sorry for failing your expectation, I am not sorry for hurting your feelings, for breaking promises, for being a bad son, husband, brother, cousin, nephew, colleague, friend, lover. Since I know for sure, and you know for sure too, that I am not always bad. And these days when I am bad, it is never intentional. You can either understand and cope with me in facing my symptom, or you are free to leave. I will be okay.

I will be okay since you will not be the first ones who leave, and will not be the last. I left some people too for my own sake, and I will not hesitate to leave you,

for my own sake.

So do take a break. Hell, do shut your life from me for good.

Because…

You. are. important. to. yourself.

And don’t worry about me. I’ll be okay. I’ll be better off knowing you’re okay without me, than having you around and realizing how much I have been hurting you.

I’ll have my attacks when I don’t know whether you’re okay or not. Sometimes I wonder why’d you leave me and I go berserk. But then I remember again that I also want to leave me. So I laugh, and cried. And I bid you farewell, and wish you a wonderful life without me.

And I hope those who stay can understand that too, when I leave.

Don’t worry, I’m not gonna kill myself again. That ship has sailed. I’m gonna kill somebody else who pissed me off on the road. Haha. I’m kidding.

See ya. Or not.

Alam, Cinta, Eksistensialisme, Filsafat, Puisi

Tenang di dalam Gua

Kata-kata menguap, menyerap ke pori-pori
dan kau adalah oksigen ke paru-paru
stimulan kehidupan, memabukkan
tapi hidup,

melenakan tapi hidup,

sementara kesadaran adalah kematian.

Kebebasan, pembebasan, jaga keseimbangan
agar tidak kebablasan, ketersesatan ada di setiap lekukan jalan

Aih, begitu banyak kawan yang jadi penipu, pelacur
pencuri, perusak, permainan berbahaya
bisakah kau dan aku tetap percaya
bahwa kita saling menjaga
bukan lawan main
tapi kolaborator

Biarkan aku menenangkanmu
dan kau, aku
ketika badai itu datang
rengkuh aku dalam gua-gua pikiranmu
dan aku akan nyalakan api Plato

dunia kita buat
dalam mimpi aboriginal

dunia kita buat
menjadi lengkap