Memoir, Racauan

Bertahan Hidup

Mati jadi biasa ya, kawan? Nggak ada waktu untuk berkabung. Karena bertubi-tubi kematian datang, tak sempat kita menarik nafas dan mendorong air mata.

Menangis cuma sebentar, habis itu kita lanjut karena kita pun jarang bisa melihat pemakaman. Semua terlalu sibuk dengan bertahan hidup. Panceklik semua.

Kehilangan sahabat dan saudara jadi biasa. Siapa sangka hari ini kita mengalaminya, dengan kemajuan teknologi dan kesehatan, masalah komunikasi, politik, menghambat jalur data dan aksi nyata. Lalu harus bagaimana?

Saya menolak pasrah. Saya buat konsolidasi dan gerakan lokal patron-pasien. Total sudah 40 orang lebih terbantu. Saya sendiri juga terbantu, karena makna hidup saya jadi terbangun dan terjaga. Gerakan ini masih jalan terus karena virus bermutasi terus. Sementara pemerintah lebih sibuk buka tambang membangun infrastruktur, kita sibuk cari uang, ada varian baru yang mengintai dan beberapa dari kita harus tetap waspada.

Untuk itu saya ucapkan banyak terima kasih kepada sahabat dan handai taulan sekalian. Terima kasih karena telah menjadi orang baik, yang menolak diam. Terima kasih karena kalian bertahan dan maju terus untuk menghadapi kenyataan pahit ini bersama-sama. Langkah kecil kita diikuti banyak orang, dan juga diderivasi menjadi pemecahan untuk banyak masalah lain yang membuntuti pandemi ini selain isoman. Contohnya masalah kesehatan jiwa. Tapi itu untuk hari lain.

Filsafat, Memoir, Racauan

Mimpi Kapital adalah Mimpi Orang Dangkal

Tanyakan pada anak-anak baru yang masuk kuliah, kenapa mereka memilih sebuah jurusan? Jawabannya beragam dan kebanyakan hanya menebak-nebak mau jadi apa. Almarhum bapak saya menyuruh saya untuk kuliah di ekonomi biar bisa korupsi biar kaya. Yah, sekolah bisnis dan ekonomi biasanya tujuannya itu, biar kaya. Walau kalau kuliahnya benar, si ekonom akan sadar bahwa ia harus kaya dengan mengubah peradaban. Sedikit orang yang masuk fakultas sastra atau fakultas lain yang sifatnya akademis yang mau kaya. Paling cuma salah seorang murid saya, yang pernah wawancara untuk masuk sekolah film dan bilang pengen kaya.

Photo by Pixabay on Pexels.com

Tapi ini fakta yang saya temukan: cuma orang yang pernah miskin, yang biasanya bilang pengen kaya. Jika ada anak orang kaya yang pengen kaya, biasanya mentalnya miskin sehingga dia selalu lihat yang lebih kaya dari dia. Seperti murid saya itu, atau salah seorang saudara saya yang sedikit-sedikit ngomong duit dan harta padahal dari kecil sudah kaya. Kebanyakan orang yang hidupnya lumayan berkecukupan, tidak pengen kaya. Dalam diagram klasik Maslow, kebutuhan orang yang berkecukupan selanjutnya adalah aktualisasi diri. Karena itu banyak anak-anak di MondiBlanc, biasanya kelas menengah yang pengen aktualisasi diri lewat film.

Orang yang bisa berpikir bebas dan suka menantang dirinya sendiri untuk menikmati hidup sepenuhnya, cuma ingin independensi finansial, karena ia ingin berkarya, berkontribusi, atau sederhana merasakan semua sensasi hidup sebelum ia mati. Dan kebanyakan milenial yang saya kenal, ya, maunya ini. Mereka tidak mau banting tulang kerja untuk sesuatu yang mereka tidak suka. Tapi dengan motivasi untuk mendapatkan aktualisasi diri, mereka mau kerja apa saja. Misalnya, untuk mencari dana membuat film mereka, maka mereka mau kerja keras untuk menyatukan modal membuat film mereka.

Ada sebuah drive kuat untuk membentuk identitas diri dan memiiki impact ke identitas orang lain. orang-orang ini, yang saya sebut the misfits, adalah orang-orang saya. Mereka pekerja keras, jago cari duit, tapi menolak buat kaya dengan sederhana. Karena independensi finansial hanya bisa didapat jika kita berada “diantara.” Diantara kerja dan idealisme. Jika orang hanya ingin kaya, maka definisi suksesnya sempit dan sekaya-kayanya dia, selamanya dia tidak akan independen. Karena kalau sudah kaya, lalu dia mau apa? Lebih kaya lagi? Kapan kita mau ke luar angkasa, kalau begitu? Luar angkasa saja imajinasi yang mereka yang cuma pengen kaya untuk kaya, nggak terbayang kecuali sebagai lliburan yang merka bisa beli ketika Space X sudah buka servisnya nanti.

Photo by Pixabay on Pexels.com

Kekayaan itu penting. Tapi kalau kekayaan hanya untuk memperkaya diri dan keluarga, bukan untuk mengubah peradaban, maka akan ada yang hilang dalam hidup. Hidup hanya akan jadi banal dengan gairah kuasa dan eksploitasi. Mereka akan jadi musuh-musuh perdababan, karena tak ada yang bisa hadir dari keegoisan, kecuali kehancuran dan tragedi. Maka mari kita jadi kaya dengan tujuan yang murni. Tujuan yang besar dan jauh, dan mungkin ketika kita mati kaya, itu juga belum tercapai.

Masalah besar jika kita tidak cukup kreatif untuk membuat sebuah tujuan. Ya tujuan itu dibuat, diciptakan, bukan dicari. Tujuan bisa juga didapat dengan mendukung tujuan orang lain, atau mencuri tujuan orang lain yang tidak tercapai. Dan pastikan, untuk mencapai tujuan itu, kita mesti pelan-pelan kaya. Karena kaya yang ideal adalah kaya karena kita benar-benar berguna untuk peradaban. Itu lah kaya yang pantas. Bukan kaya karena warisan, atau kaya karena ingin kaya untuk jadi lebih kaya. Jadilah kaya karena tidak ada cara lain untuk mencapai tujuan mulia mu, selain dengan menjadi kaya.

Tapi mimpi kapital menawarkanmu jalan untuk keluar dari masalah kehidupan sehari-hari, Anakmu butuh susu, keluarga butuh makan. Dan kerja apapun mau kau jalankan supaya dapat uang. Sayapun pernah kerja apapun untuk dapat uang. Dari badut di mal, sampai pedagang keliling. Tapi itu cuma supaya saya punya cukup uang untuk membiayai tanggungan dan punya waktu untuk terus belajar dan mencipta. Dan ketika mencipta membuat saya jadi miskin, yah saya cari uang lagi, supaya bisa mencipta lagi. Kenapa mencipta? Untuk mengubah peradaban. Karena semua orang berakal tahu, peradaban kita lebih baik dari 50 tahun yang lalu, tapi tak pernah jadi baik. Selalu ada masalah dan ketimpangan, yang saya kira bisa kita pecahkan hari ini jika kita mau usaha dan tidak terlalu fokus pada cari uang buat hidup. Cari uang secukupnya, lalu kembali ke pekerjaan penting kita. Untuk membuat dunia dan kehidupan lebih baik untuk kita sendiri dan orang-orang setelah kita. Semakin besar lingkaran pengaruh kita dalam mengubah dunia jadi lebih baik lagi, semakin kita kaya. Itu sudah DIJAMIN dan sepasti gravitasi.

Photo by Ivan Bertolazzi on Pexels.com

Tujuan saya hari ini, adalah mengubah sistem pendidikan, mencerdaskan orang lain, dan mengembangkan kebudayaan dan kesejahteraan orang dengan cara berpikir yang konstruktif. Banyak pekerjaan yang harus kita lakukan untuk membuat rumah kita, wilayah kita dan negara kita jadi ideal buat anak cucu. Dan jadi kaya cuma alat buat bikin masa depan dimana manusia bisa cukup maju untuk menjawab segala tantangan yang akan datang. Kaya harus pintar dan bertanggung jawab. Kaya dan bodoh adalah kombinasi buruk, yang harus kita musuhi bersama-sama karena imbasnya bisa kemana-mana, seperti seorang presiden yang suka mandi kencing perempuan Rusia dan sangat misoginis itu.

Bicara soal pendidikan, selain membuat workshop berbasis beasiswa, saya juga sedang dalam proses membuat beberapa modul yang ingin saya distribusikan dengan gratis dan terbuka sumbangan untuk mendukung sustainability penelitian praktis saya. Modul-modul tersebut ada yang berisi cara financing dan pengembangan karir lewat film pendek, atau cara membaca cepat, menulis akurat, dan mengembangkan ide menjadi sebuah project nyata.

Dan semua saya mulai dengan sebuah niat baik. Kalau saya harus kaya saya tidak akan mengikuti mimpi kapital. Karena semua kebahagiaan, tidak ada artinya, kalau tidak dibagi. Tulisan ini akan saya tutup dengan lagu saya, untuk mengingatkan kalian butk apa kita hidup di dunia ini. Orang memang beda-beda, terserah. Tapi saya mencari orang yang setuju sama saya, kalau hidup itu adalah proses mengumpulkan dan berbagi pengalaman, sehingga ketika kita mati nanti, ada bagian dari kita yang hidup terus, menopang perdaban samapai kiamat.


Website ini jalan dengan donasi. Jika kalian setuju dengan pemikiran saya, dan mau bantu saya mewujudkan project-project ini, bantu saya biar sedikit lebih kaya dengan membelikan saya kopi. Klik tombol di bawah ini. Sementara itu, yang mau kaya dengan ideal, ajak saya ngopi beneran, kita bisa ngobrol untuk kolaborasi project.

Filsafat, Memoir, Racauan

Pabrik Kebahagiaan

Bahagia itu sederhana banget. Itu cuma aliran hormon dan synapsis yang bekerja untuk bikin kamu merasakan kepuasan. Sumbernya, dari perut. Endorphine, serotonin. Cara paling mudah dapetnya, makan. Minum. ML/masturbasi, atur nafas dalam ritual/ibadah. Cara artifisial dapetinnya pake drugs, medication. Dan cara mengamplifikasinta dengan berbagi kebahagian dengan orang lain, apalagi yang kita sayang.

Tapi hari-hari ini di kota ini makin susah mendapat kebahagiaan. Makan nggak enak, tidur nggak enak, selalu diganggu kekhawatiran macam-macam. Dari pandemi, masalah kerja, masalah hutang, masalah tanggung jawab, dan idk, masalah peradaban? Dan mudah untuk terjebak dalam kesedihan. Akhirnya ya, cari cara bahagia.

Bahagia itu dibuat-buat kok. Bukan sesuatu yang harus dicari. Bahagia kayak bikin teh, kopi, atau olahraga. Pada akhirnya kita cuma harus selalu sadar kita dimana, sama siapa, sedang apa, dan menyadari bahwa hal yang membuat kita ga enak, baru saja berlalu. Kemarahan kita seharusnya ikut berlalu, kesedihan kita harusnya sudah lewat begitu masalah tadi lewat juga.

Susah memang, seringkali rasa sakit itu terbawa sampai lama. Kadang membekas jadi trauma. Kadang kita ketrigger, dan terbawa lagi ke sana. Makanya harus bener-bener dilatih, untuk membuat pabrik kebahagiaan di dalam diri kita.

Saya pun masih belajar. Dan semakin hari, reaksi saya semakin baik. Jauh dari sempurna, tapi ada perkembangan. Dan itu membahagiakan.


Website ini jalan dengan donasi. Kalau yang kamu baca bisa menghibur atau membantu kamu, traktir yang nulis kopi di sini:

Memoir, Racauan

Berteman Dengan Kriminal

Kita semua hidup berkoeksistensi dengan berbagai macam manusia, banyak dari mereka adalah orang punya kepercayaan yang sangat berseberangan dengan kita. Saya punya beberapa teman, sahabat dan keluarga yang bersebrangan sama saya pandangannya soal perempuan, kekerasan seksual dan LGBT. Malah ada seorang keluarga saya yang berpendapat bahwa semua orang LGBT harus direhab, dan dia kesal dengan negara yang tidak memperbolehkan itu. Tapi saya tetap berteman dengan mereka, sampai saat dimana saya harus melawan mereka; misalnya nanti ketika negara menangkap orang-orang LGBT dan mulai memaksa rehab. Mungkin saya akan pasang topeng Guy Fawkes dan menggali terowongan ke gedung DPR.

Photo by TheBooringLens on Pexels.com

Tapi bisa jadi saya munafik. Semunafik bapak saya yang selalu bilang ke adik saya kalau dia bermasalah sama polisi, bapak saya nggak akan bantu. Kenyataanya almarhum papa pernah pasang badan buat adik saya ketika ia benar-benar kena masalah yang bisa bikin dia di penjara. Saya bisa jadi munafik juga. Saya bisa jadi orang yang plin-plan ketika sahabat saya atau saudara saya tersangkut kasus. Dan mereka yang kenal saya pasti tahu kalau saya pernah membela orang yang kena kasus (soal yang ijo-ijo), biar dia nggak masuk pengadilan. Walaupun dalam hati saya, saya mendukung legalitas ganja, tapi ketika saya membantu orang yang tertangkap dengan mengakali sistem negara, saya telah turut serta membantu kriminal. Soal membiarkan orang kriminal bebas, saya mungkin punya pengalaman. Sayangnya saya nggak bisa cerita detail. Saya takut keluarga mereka atau ‘circle’ saya yang kenal dengan mereka, atau bahkan mereka sendiri membaca artikel ini terus saya dapat masalah. Karena mereka bisa lepas dari jeratan hukum gara-gara punya backingan kuat. Sangking kuatnya, nanti saya kena masalah bukannya keadilan ditegakkan, saya malah masuk penjara karena UU ITE.

Jadi kita bikin pake abstraksi saja. Dari pengalaman saya, saya kenal pelaku kriminal dengan kejahatan yang sangat parah: menghilangkan nyawa orang lain; kejahatan parah: bandar besar sabu, pelecehan seksual dan penyiksaan; dan kejahatan ringan: ganja, klepto, maling karbitan. Semuanya memusingkan. Kita mulai dari yang paling parah, karena deadlock banget.

Ada dua orang yang saya kenal pernah menghilangkan nyawa orang dan bisa bebas jalan-jalan. Satu laki-laki yang sampai sekarang masih suka petantang petenteng, satu lagi perempuan yang terakhir ketemu 8 tahun lalu dan adalah salah satu orang paling baik yang saya kenal. Yang lelaki mabuk, nabrak orang lalu lari ke keluarganya minta perlindungan. Yang perempuan mabuk, nabrak orang, lalu dilarikan keluarganya karena takut malu punya skandal–padahal teman saya itu sempat meraung-raung minta dipenjara saja. Dua-duanya teman saya dan punya backingan kuat. Saya jadi inget ibu-ibu di film Georgia yang berusaha melindungi anak-anak lelakinya yang memperkosa orang hingga meninggal, dengan alasan “mereka masih muda, masa depan merka masih panjang.” Hidup ini memuakkan, dan saya jadi saksinya. Bystander, tidak bisa apa-apa melihat sistem yang memang memihak pada penguasa. Sentimen precariat ini sering bikin depresi, seperti saat ketika saya menulis artikel ini. Saya tidak membela dan tidak berhak menuntut mereka. Saya mendengar, menyimak, dan selalu ada rasa yang aneh ketika saya bertemu orang-orang ini.

Photo by cottonbro on Pexels.com

Tipe kejahatan kedua adalah bandar narkoba besar, pelecehan seksual dan kekerasan seksual. Bandar narkoba besar sudahlah. Ini kasus sudah jelas kalo nggak hukuman mati di nusa kambangan, hidup foya-foya aja. Ada teman yang sekarang dipenjara seumur hidup. Ada juga yang foya-foya dan senoat saya wawancara sebagai narsum berita saya. Tapi mari kita fokus di kekerasan seksual aja. Kali ini, teman-teman saya yang melindungi pelaku yang melecehkan mereka. Ini berkaitan erat dengan video ceramah yang sedang viral soal melindungi aib keluarga. Saya punya beberapa teman–artinya lebih dari dua, yang berusaha menjaga supaya ‘aib’ keluarga tidak keluar dari rumahnya. Mereka datang ke saya karena saya dianggap, entah, mungkin berpengalaman, mungkin moralnya terlalu fleksibel, atau apa. Mereka cerita dan bikin saya muntah di dalam mulut. Ada yang dipukul suaminya, di bagian punggung. Sampe biru-biru. Ada yang diperkosa suaminya. Dan saya sudah bilang, saya punya koneksi ke pendamping KDRT, saya bisa membantu mereka kabur ke Yayasan yang bisa menaungi mereka. Tapi mereka malah marah sama saya, dan takut saya membocorkan aib keluarga mereka. Mereka cuma ingin ada yang mendengar, tapi tidak ingin diusut. Tidak ingin dibela. Salah satu dari mereka ada yang saya suruh mengadu kepada orang tuanya, dan cerita kalau dia pernah melakukan itu tapi malah disuruh pulang ke rumah suaminya dan menyelesaikan masalah keluarga dia. Nampaknya tradisi pukul dan perkosa bini ini, buat beberapa orang dari golongan tertentu itu biasa aja, dan mengeluh soal itu jadi lebay. Menyedihkan. Pada akhirnya saya minta tolong, saya bilang, “kalau kamu tidak mau menolong dirimu sendiri, tolong jangan pernah lagi cerita ke saya soal ini. Ceritalah kalau kamu siap melawan. Saya stand by.

Kenyataannya, mereka tidak pernah lagi cerita sama saya. Semua orang pegang deritanya masing-masing, pada akhirnya, Pilihan masing-masing.

Photo by Damian Barczak on Pexels.com

Tipe ketiga bikin pusing ini pagi buta. Kalau soal yang ijo-ijo, saya udah cerita di atas. Itu kasus yang jadi biasa aja di Jakarta, cepu ngisi kuota. Tapi yang ini lain lagi. Saya punya seorang kawan, dan ini kisah yang sedang terjadi, yang dituduh mencuri namun tidak pernah terbukti. Sudah beberapa kali proyek yang ada dianya, ada barang hilang. Dan dia selalu terbuka untuk diperiksa dan tidak pernah ketahuan. Rumor beredar di kalangan kru, bahwa dialah pencurinya, tapi toh tidak ada yang berani frontal menuduh karena memang tidak ada buktinya. Orang-orang cuma main halus aja, nggak ngajak-ngajak dia proyek. Akibatnya, rejekinya mandeg. Dan dia mulai curhat sama saya minta tolong pinjam uang atau kasih dia kerjaan. Hasil kerjaan dia bagus. Dia orang yang telaten dan mau kerja keras. Tapi tidak ada yang mau kerja sama dia, atau kalau pun mau, kerja jadi tidak nyaman karena orang takut bawa barang. Saya kasihan. Tapi saya nggak bisa egois dan memasukan dia ke tim yang sudah sering omong belakang soal dia. Dan saya juga sulit untuk bicara sama dia kalau teman-teman yang dia anggap teman sebenarnya sangat tidak nyaman. Akhirnya, yah, saya masih berpikir sih mau apa. Kita lihat saja inspirasi ilahi.

Kita hidup di masyarakat majemuk dengan sistem nilai yang berbeda-beda. Dalam konteks tertentu, hukum negara tidak punya nilai dalam konteks adat istiadat, keluarga, atau konsensus komunal. DUI, memukul istri, bisa selamat-selamat saja dengan circle dan budaya yang permisif. Saya punya juga beberapa teman yang ‘konon’ suka melecehkan orang lain secara seksual. Kenapa saya sebut konon, karena dalam pergaulan, itu sudah jadi trademark mereka. Saya tidak kenal dengan Haye tapi teman saya yang seperti itu yah ada. Yang congornya nggak bisa dijaga, yang suka ‘cek ombak’ dengan bicara seks kepada lawan jenis dengan tidak sopan, saya kenal. Tapi selama si korban ikut tertawa, atau tidak cerita sama saya bahwa mereka dilecehkan. Atau, mereka cerita tapi melarang saya intervensi, saya akan menghormati keputusan itu. Ada banget masa-masa dimana korban pelecehan seksual verbal cerita pada saya perilaku om-om dari sebuah lingkaran elit akademik yang genit, dan menyuruh saya untuk ‘let it go,’ padahal mereka yang kena. Saya paham juga sih logikanya kalo dasar hukumnya pun nggak ada, dan sistemnya secara track record jelek. Saya harap sekarang, dengan banyaknya pendamping, dan momentum-momentum besar untuk buka suara, mereka mau mulai mengurus traumanya.

Semeua tindakan itu, menolong seorang kriminal, membiarkan seorang kriminal, atau jadi bystander ketika kejahatan terjadi adalah hal yang manusiawi. Karena itulah ada struktur institusi yang lebih besar daripada hubungan keluarga atau pertemanan. Karena itulah ada negara. Tapi ketika negaranya terdiri dari orang-orang yang juga ‘kekeluargaan’, maka sistemnya akan korup, sekorup insting seorang individu yang punya kawan dan saudara.

Artikel ini direvisi tanggal 5 Februari jam 1:29 pagi.


Website ini berjalan dengan donasi kalian. Kalau kalian merasa yang kalian baca ada gunanya, boleh traktir saya kopi untuk bayar hosting dan domain, atau sebarkan saja artikel ini ke teman kalian yang punya kebutuhan baca ini. Terima kasih sudah membaca ya.