Memoir, Racauan

Transisi

Pesanan Putri Ayudya

Sulit banget untuk hidup rutin dan teratur supaya sehat seperti di lagi radiohead Fitter Happier. Selalu saja ada yang mengganggu rutininitas dan kenyamanan yang sudah terbangun, apalagi ketika kerjaan lo adalah Seniman aktif. Waktu project ga ada, lo bisa teratur tapi begitu project masuk semua akan berantakan.

Tapi semakin tua, di umur 30an ini, gue semakin ngerasa butuh banget buat teratur. Karena masalah kesehatan fisik dan mental ternyata sangat bergantung sama bagaimana kita mengontrol dan mengatur kebiasaan. Artinya, setiap habis project, harus ada waktu rehat untuk kembali mengatur keseimbangan diri.

Repotnya kalau projectnya panjang. Project panjang yang keos, membuat lo stress dan waktu yang dibutuhkan untuk healing atau kembali ke keteraturan akan jadi lebih panjang dan sulit. Belom lagi kalau lo BU dan project datang kayak badai yang nggak kunjung selesai.

Tapi gue dapet ide lama yang terbarukan ketika nonton anime macam demon slayer. Dalam satu season, ada dua atau tiga episode mereka healing dan latihan mengimprovisasi diri. Kayak setiap luka parah yang lo dapet dari project, bisa membantu lo berkembang asal semangat lo ga patah dan cukup tahu diri kapan harus mulai bergerak dan berusaha seimbang lagi.

Stamina dan endurance juga akan bertambah, berbanding lurus dengan project yang tambah susah dengan keuntungan yang tambah gede. Tapi perlu diingat juga bahwa ada masa ketika lo perlu pensiun, jadi harus disiapkan masa itu. Normalnya umur 55, dan masa prima lo dimulai, seperti kata Stanislavski, umur 40.

Normalnya, ada waktu 15 tahun untuk jadi manusia super, dari umur 40-55. Rencana gue, gue akan bikin beberapa film panjang pada umur-umur tersebut. Sementara itu, bikin tim dan kumpulin duit dulu lah dengan MondiBlanc, Talemaker, dan tentunya kerjaan-kerjaan sampingan bercuan lumayan.

Life is good. Or probably because I’m on mood balancing drugs. But when I write this, life is good and I think I can be happy about it even for a moment.

English, Filsafat, Memoir, Racauan

Irrelevance

If you could learn any skills, downloading knowledge, how do you work in the future?

The Fact is that you are no longer special, everybody can do what you do. Are you irrelevant?

Well yes and no.

Yes, if you enter the market competition. There will always be people cheaper than you, with more skill. Younger, better, faster, cheaper, you won’t stand a chance. You will lose and thus irrelevant.

No, if you collaborate with friends, colleagues and partners. Start making projects that you love, keep learning (or downloading) the skills that you need to make the project real. Community, solidarity, collaboration is the future.

Anybody could do what you do, but nobody could replace your social and political role. You are who you are not because of your skills, but because of your friends, family, and community.

Filsafat, Politik, Racauan

Manusia Era Pandemik

Akulah manusia era pandemik, gampang panik, sering manik, dan suka gimmick seperti film Tilik, aku suka bergidik, sosmed orang kukulik lalu aku sirik, tapi nggak suka dihardik balik. Oh, dan makananku organik, pesan online tinggal klik.

Kelasku menengah, sering jengah gampang gerah nggak mau pasrah dan paling suka marah. Kalau beragama, banyak orang kutuduh bid’ah, kalau tidak beragama banyak orang kutuduh jadah.

Internet duniaku, rumahku kantorku, smartphoneku terhubung dengan otakku. Demi cintaku aku rela jadi otaku, karena semakin kulihat mukaku semakin yakin aku oralaku. Mengejar standar aku tak mampu, cuma orang jelek yang mau padaku padahal tinggi Nian standarku, tapi itu bukan masalahku karena sekarang ada laptopku, ponselku lebih pintar dari aku, VPNku, VR ku, Vagina Palsuku, Vigelku, Vintage gameku, anti Virusku.

Anti Virusku online dan offline, orang bilang aku impoten, tidak berpotensi dan tidak keren, karena aku kurang ngetren, nggak punya fren, dan dibilang cemen. Padahal aku paling ngetren, karena sebelom PSBB diteken, isolasiku udah permanen.

Aku siap menyongsong masa depan yang kosong, karena bukannya sombong, lututku sudah kopong karena kebanyakan dipong artis dewasa nipong dari situs JAV odong-odong.

Kesepian tak jadi masalah, yang penting tak kena musibah. Gempa, tsunami, pandemi, gunung merapi, tak membuatku gelisah. Karena tiada musibah paling bikin resah, selain kuota dan sinyal wi fi yang musnah dari rumah.

*) kalau kamu suka sama apa yang kamu baca, Traktir gue kopi dong di bit.ly/traktirnosa. Biar gue bisa merasa bahwa ada yang baca dan dengerin aja jadi lebih semangat bikin. Heheheh…

Anthropology, English, Film/Video, Filsafat, Kurasi/Kritik, Politik, Racauan

Conspiracy (kon-spi-ra-si) | LockDown Series Episode 3

For Indonesian language scroll down.

In a YouTube conspiracy theory and fake news channel, a bio terrorism suspect named Juan Dominic is telling the audience how he and his extremist groups started the corona virus. The host of the show, Brian Juno, is setting a trap for Dominic–but Dominic is also setting a trap for Juno, and all humanity.

Dalam sebuah channel teori konspirasi, seorang tersangka bio terorisme bernama kode Juan Dominic membeberkan cara dan alasan penyebaran virus Covid 19. Pembawa acara Brian Juno berusaha menjebak sang teroris. Tapi yang tidak ia sangka, sang teroris juga berusaha menjebaknya; dan seluruh umat manusia.

Me and my friend Camilo made this video to participate in LockDown Series production conducted by MondiBlanc Film Workshop. We usually spent hours talking about philosophy or politics, so what the hell, we just made a fiction out of our usual conversation. This is an essay in a fiction form. Enjoy!

Saya dan sahabat saya Camillo membuat video ini untuk mengikuti rangkaian produksi Lock Down Series yang diprakarsai oleh MondiBlanc Film Workshop. Kami bisa menghabiskan waktu ngobrol berpanjang-panjang soal filsafat dan segala macam teori konspirasi, maka tak ada salahnya kami pakai obrolan kami untuk membuat sebuah karya fiksi yang berdasarkan data dan fakta-fakta— beberapa pastinya ada yang ngawur. Karenanya, ini adalah sebuah esei dialog berbentuk drama fiksi.

Untuk memudahkan penonton Indonesia, saya sudah membuat subtitle bahasa Indonesia untuk episode ini. Silahkan aktifkan close caption youtube dan pilih bahasa Indonesia. Selamat menikmati esei dalam bentuk drama fiksi via zoom ini.