Filsafat, Politik, Racauan

Cara Pinjol Membunuhmu

Trigger warning: kalau kamu kepikiran bunuh diri, hubungi psikolog/psiakter. Jangan baca tulisan ini.

Pinjaman Online adalah air di oase covid ini. Bayangkan, kamu bisa ngutang sampe 25 juta per platform, tanpa butuh jaminan. Cuma KTP, NPWP, dan nomor telpon orang lain. Plus, Pinjol online dijamin sama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) resmi dari negara. Tapi kok bisa ada yang bunuh diri karena pinjol? Bukanya debt collectornya cuma nakut-nakutin doang? Belom ada tuh peminjam online resmi yang dibawa ke polisi. Terus ga ada yang barangnya disita juga. Terus kok ini lebih serem dari preman kiriman lintah darat di film setan kredit? Bisa-bisanya yang bunuh dan nyakitin si peminjam adalah diri sendiri!

Ini adalah tulisan penting soal sebuah propaganda atas logika yang salah soal manusia, tentang pencerabutan diri dan identitas kita, tentang pembunuhan pelan-pelan yang dIlakukan pinjol. Ya, yang bunuh diri karena pinjol bukanlah bunuh diri, mereka dibunuh!

Kebanyakan orang bunuh diri tinggal sendiri dan berhasil memutuskan hubungan dengan orang lain dengan cara kabur dan ga tanggung jawab. Karena kebanyakan orang sebel atau kasihan dan ingin kasih kebebasan, dibiarkanlah dia sendirian. Diperbolehkan untuk menyendiri, dan self loathing. Bayangkan kamu adalah orang terjebak pinjol yang bisa kabur dari tanggung jawab dan tinggal sendirian, atau tanggung jawabmu udah diambil orang lain yang sebel sama kamu tapi rela beresin kekacauan yang kamu hasilkan. Ini biasanya yang kamu lakukan hingga dibunuh pinjol.

Bunuh relasi dengan teman dan keluarga

Pinjol diawali dengan jaminan identitas: KTP/SIM/Paspor, NPWP, dan nomor keluarga, lalu nomor teman. Ketika kamu nggak bisa bayar maka keluarga kamu diteror. Sudah habis nama keluarga, kamu kasih nomor teman, sudah habis nomor teman, kamu ganti atau mematikan nomormu. Habis itu debt collector bisa aja dateng ke rumah, bukan cuma buat nagih, tapi buat mempermalukanmu di depan tetangga-tetanggamu, saudaramu, dan temen-temenmu. Kamu udah miskin, masa kehilangan harga diri juga, jadi kamu takut dan membunuh semua relasimu dengan keluarga, teman, tetangga, dan aplikasi pinjol itu, HP kamu, dan semua kontak kerjamu. Identitas sudah kamu gadaikan, kamu ga bisa ngutang lagi dan kamu merasa semua orang kamu bebani. Kamu jadi sendirian.

Bunuh relasi dengan pekerjaan dan sosial media

Karena kamu ga bisa pake identitas dan hubungan sosialmu, kamu tambah susah cari kerja. Kamu malu buka sosial media aslimu, akun aslimu, karena kamu sudah pakai nama keluarga dan temanmu untuk pinjol. Dan kamu takut ditagih di sosial media. Uangnya ga ada, dan kamu nggak tahu gimana cara jelasin bahwa kamu miskin, atau tolol karena make pinjol buat kredit motor biar bisa ngegojek, yang mana udah diambil leasing juga motornya karena ga bisa bayar kredit motor dan kredit pinjol. Sekarang kamu cuma punya HP dan kuota. Perut laper, untung masih ada air.

Bunuh relasi dengan diri sendiri

Kamu nggak pengen jadi kamu. Malu. Banyak utang. Ga bisa kerja. Irrelevan. Menyusahkan orang lain. Maka kamu mulai bentuk diri yang baru di internet, mungkin mengaktifkan akun lama yang palsu yang dulu dibikin buat stalking mantan. Terus kamu mulai jadi manusia impianmu, yang nggak ada utang, misterius, mungkin ganteng/cantik banget, bodynya sempurna, pinter, temennya banyak, kaya.

Sampe kuota habis.

Kamu malu buat keluar numpang wi fi. Kamu malu buat keluar dan ketemu orang dan dunia nyata, malu sama keluarga, malu sama teman. Lalu lama-lama listrik mati. Ga ada duit kuota, gak ada duit listrik. Kamu mau kelaparan aja. Tapi laper dan haus ga enak. Lalu kamu memutuskan untuk…

Bunuh diri

Disini kamu sudah keracunan logika pinjol. Logikanya sederhana: bahwa diri manusia dibuat dari hubungan-hubungan; dengan keluarga, teman, kantor, kolega, dan sosial media. Pinjol memang tidak minta jaminan harta fisik (yang mungkin kamu juga gak punya), pinjol juga ga minta jaminan kredit sebelumnya yang sering diminta sama credit card. Dia nggak minta record utang kamu. Tapi yang dia minta lebih parah lagi: dia minta nyawamu dari awal.

Apa sih nyawa? Nafas yang dikasih Tuhan? Bukan. Nyawa adalah hubunganmu dengan tubuhmu, dengan orang tuamu, dengan saudaramu, dengan kawan-kawan dan musuhmu, dengan pekerjaanmu, dengan pacarmu. Itulah sebabnya kalau hubungan putus, kamu patah hati. Hubungan putus membunuh satu bagian dari nyawamu. Hingga hubungan terakhirnya adalah hubunganmu dengan tubuhmu. Kalau hubungan itu hilang maka nyawamu melayang. Mati kamu.

Nah, kalau logika Pinjol itu kita ikuti, niscaya kita akan mati. Kebanyakan orang bisa dijamin oleh modal sosial itu. Begitu debt collector bilang ke keluarga dan tetangga, maka kalau kamu orang yang (pernah) baik, utangmu pasti dilunasi. Kamu jadi ngutang sama saudara/teman. Dan kamu sebelum terlilit utang dan pengen bunuh diri, adalah orang baik. Sekarang kamu jahat karena rela jual hubungan dengan keluarga dan temen-temen ke pinjol. Itu logis.

Tapi kita kan manusia NGGAK LOGIS! Cinta, benci, marah, keadilan, itu adalah kata-kata abstrak yang artinya beda buat tiap orang. Tuhan kita masing-masing aja walau namanya sama tapi perannya di hidup kita bisa beda-beda. Kamu bebas untuk menjual nama keluarga dan temen-temenmu, kamu bebas untuk bunuh diri juga. Tapi keluarga dan teman-teman juga bebas untuk nggak peduli sama kejahatan dan keegoisan kamu. Kami yang nggak terjebak utang bebas untuk nolong kamu… Asal kami bisa tahu. Tapi semakin jago kamu ngumpet dan mutusin hubungan maka semakin bebas kamu mati.

Dan kami, yang tidak akan pernah siap kamu tinggal, akan bermanuver. Kami akan jadi manusia kepo, manusia sosial nyebelin tukang gosip dan guyub, manusia yang selalu ngecekin kabarmu, dan ngingetin kamu kalau kamu nggak sendirian. Ngingetin kamu, bahwa bukan cuma kamu yang bisa egois. Kami juga egois karena nggak mau kamu tinggal karena kami sayang kamu.

Pinjol itu dijamin OJK, kalau kamu nggak bisa bayar, negara yang bayar dengan ngeblacklist kamu: kamu nggak bisa ngutang online lagi. Kamu akan diganggu debt collector. Kamu akan bertambah banyak utangnya karena berbunga-bunga. Tapi mereka nggak bisa nyita rumah atau barang kamu, atau bawa kamu ke penjara–kecuali kalau kamu penipu. Makanya kamu ditakut-takuti dengan ketidaktahuan dan misteri. Dan saat kamu takut, harusnya kamu tahu gimana cara bertahan: kembali ke teman-teman.

Tapi diingat aja, kalau kamu bisa kami bail out, kamu harus mau ikut kami untuk jadi orang yang fungsional lagi. Ke psikiater biar ga pengen mati, dan banyak-banyak ngobrol. Mau makan tinggal numpang kok, ga perlu ngutang. Kami seneng kok berbagi sama kamu. Kalau kamu nggak punya temen atau keluarga kayak kami, coba cek dimana temen lama pada nongkrong, atau sekali-kali tanya temen dan keluarga apa kabarnya. Reach out. Maka kamu akan menemukan kami.

***

Website ini jalan dengan donasi. Jika kamu lagi miskin, bisa bantu saya sebarin tulisan ini, dan bilang ke orang yang kamu kasih: “Aku sayang kamu, bertahan yuk buat kita”.

Jika kamu menemukan tulisan ini berguna dan lagi ada rejeki, bisa traktir saya kopi dengan menekan tombol di bawah ini, biar tetap semangat dan punya waktu buat nulis dan nggak sibuk kerja lain yang bikin ga sempat nulis. Kopi murahan kok, ga perlu kopi Starbucks.

Politik, Racauan

5 Konteks dimana Konsensual (Suka sama Suka) Tidak Bisa Dilakukan

Konsensual secara sederhana artinya suka sama suka. Secara etika dan moral, kehidupan kita diatur oleh hukum universal ini. Kita minta sesuatu, dan menerima atau ngasih sesuatu berdasarkan kehendak bebas kita sendiri dan orang lain. Kalau ini dilanggar, kita berhak melawan atau membawa ke pengadilan.

Tapi konsensual hanya mungkin dilakukan dalam konteks yang benar. Ada 5 konteks dimana konsensualitas tidak mungkin dilakukan, dan hanya kemanusiaan kita yang bisa membuat kita menjadi beradab.

Pertama, sama-sama bocah, atau satu bocah satu dewasa, tidaklah konsensual. Ada bocah 16 tahun bilang “I love you om, ” Kepada om-om usia 30an, walau tuh bocah jago banget ML karena kebanyakan nonton bokep, tetep aja kita sebut perkosaan. Si bocah belum punya hak legal, belum punya KTP, dan yang paling serem, bisa jadi organnya belum berkembang dan bisa rusak permanen. Hal yang sama kalau ada guru cewek seksi umur 27, ML sama murid ganteng ketua club basket umur 15. Mau dia segede Hanamichi Sakuragi, dan super horny, tetep aja di situ si guru memperkosa muridnya. Kalau ada dua bocah umur 12 ML, orang tua mereka berdua harus dipenjara, bukan anaknya dinikahkan dini. Karena anak masih tanggung jawab orang tua sampai dia umur 18, bahkan 21.

Kedua, yang satu tahu, yang lain nggak tahu, itu juga nggak konsensual. Tejo balik dari kota ketemu Surti dan ngajak ML. Surti mau aja, lalu di pematang sawah, Tejo mengeluarkan kondom, dan Surti mengeluarkan HP. Yang satu mau Making Love, yang satu mau main Mobile Legend. Kalau mereka sudah sama-sama dewasa, mereka harus memutuskan mau ML yang mana.

Masalah besar dan seriusnya adalah ini: kebanyakan hal yang kita tahu soal seksualitas berasal dari film porno, atau mitos-mitos lokal, dan tidak diajarkan secara akademik dan saintifik. Apalagi, ini yang harus digarisbawahi, soal tubuh perempuan. Kompleksitas tubuh perempuan hari ini bisa kita baca di banyak media sahih dan buku-buku. Para dokter ginekologi, psikiater dan psikolog banyak yang sudah jadi selebriti dan kalau kita tidak malas, tidaklah sulit untuk tahu bagaimana memperlakukan tubuh perempuan (oleh laki-laki, atau perempuan itu sendiri).

Namun trend ini tidak berhasil dikejar sistem pendidikan, apalagi sistem hukum dan perundang-undangan yang masih melihat homoseksualitas sebagai penyakit, perkosaan sebagai penetrasi semata atau fakta sains sebagai opini. Maka jangan heran kalau banyak kasus pelecehan seksual menimbulkan trauma yang luar biasa karena baik yang melakukan atau korbannya tidak punya kata atau cara untuk mendeskripsikan apa yang terjadi pada diri mereka. Contoh paling menohok: tidak ada bahasa Indonesia untuk “catcalling“. Panggilan kucing? Jadi tidak mengherankan kalau korban atau bahkan pelaku tidak bisa bicara kenapa pelecehan tersebut terjadi.

Ketiga, yang satu dikasih kuasa institusi, yang lain diambil haknya. Pelecehan dari bos terhadap anak buah, atau dari suami kepada istri, atau dosen kepada mahasiswa, atau produser/sutradara kepada aktor, atau aktor senior kepada aktor junior atau bapak kepada anak adalah sebuah penyalahgunaan kekuasaan yang diberikan oleh institusi sosial. Tekanan dengan iming-iming atau ancaman posisi profesi, atau hukum, dan ketiadaan pakta integritas internal membuat orang rentan untuk dilecehkan.

Keempat, yang satu waras yang lain sakit jiwa. Ketika berhadapan dengan orang yang sedang depresi, bipolar manic, atau anxious, maka keputusan konsensualnya tidak bisa dianggap sebuah pilihan sadar. Maka ketika berhubungan dengan orang dengan gangguan jiwa, walaupun orang itu nampak menikmati hubungan seksual, atau kecanduan terhadap seks, hubungan tersebut tetap bisa dianggap perkosaan.

Kelima, yang satu sadar, yang lain mabuk. Ini jelas perkosaan atau pelecehan. Orang mabuk tidak mampu untuk mengambil keputusan sadar, maka siapapun orang sadar yang menemaninya harus bertanggung jawab terhadap keselamatan dirinya. Tapi kalau bikin mabuk orang jadi modus operandi untuk eksploitasi, maka di situ terjadi pelecehan dan bisa jadi perkosaan. Kalau dua-duanya mabuk dan salah satu memaksa yang lain, terus pas bangun pagi dua-duanya sudah telanjang? Well, ini sulit. Makanya jangan mabuk sama orang yang juga mau mabuk kalau tujuannya mau mabuk doang tanpa buntutnya. Pastikan minum alkohol dengan bertanggung jawab dengan orang yang dipercaya dan rela ga minum.

Jadi konsensualitas nggak sesederhana nawarin teh atau kopi, atau nusukin jari buat ngambil upil orang. Ada konteks-konteks dimana konsensualitas tidak dimungkinkan, dan di saat itulah kita harus benar-benar jadi beradab untuk tidak ambil keuntungan dari orang lain yang lebih muda, lebih bodoh, lebih lemah, lebih gila, dan lebih mabuk.

***

Terima kasih sudah baca sampai habis, semoga tulisan ini membantu kamu mengerti lebih jauh caranyanjadi manusia beradab. Kalau menurutmu tulisan ini membantumu, bolehkan bantu saya untuk mempertahankan website ini dengan mentraktir saya kopi? Karena saya butuh motivasi supaya tidak merasa sendirian.

Scan untuk traktir go food

Politik, Racauan

3 Macam Agresi untuk Melihat Evolusi Kamu

Kenapa orang stress cenderung agresif? Karena Agresi bisa menurunkan stress. Tapi agresif adalah perilaku yang sifatnya biologis, berasal dari interaksi hormon dan syaraf yang terlalu ribet untuk kita bicarakan di sini. Kalian bisa baca buku Behave karya Sapolsky atau Feeling Good karya Burns untuk tahu lebih jauh. Di sini kita akan bicara yang ringan-ringan saja.

Sederhananya seperti ini: Agresi, atau marah-marah, atau mukul, atau berantemin orang berasal dari mekanisme pertahanan kita yang paling awal. Setiap binatang yang punya otak dan sistem syaraf yang bisa merasakan sakit, cenderung agresif ketika stress, bahkan cacing aja menggeliat kalo diinjek. Tapi manusia punya banyak opsi untuk menghadapi stress, Agresi bisa berubah menjadi tindakan lain yang lebih konstruktif atau dormant (depresi, diam), pada manusia. Energi Agresi yang berubah menjadi kerja atau tindakan fisik lain seperti olah raga atau menyiksa diri dengan ibadah dalam psikoanalisis disebut sublime.

Seorang mantan walikota di Bogota, Columbia, Antanas Mockus, berusaha membuat manipulasi sosial untuk mengurangi tingkat kriminalitas dan konflik sosial fisik yang tinggi di kotanya. Menurut mantan dosen filsafat ini, Agresi bisa didedikasikan dari fisik, menjadi verbal, lalu simbolik. Agresi simbolik adalah Agresi tertinggi dalam peradaban manusia karena sifatnya soft power, tidak kelihatan jelas dan bisa mengubah peradaban.

Tulisan ini akan coba membahas tiga jenis derivasi ini.

1. Agresi fisik

Yang menghalangi kebebasan kita adalah kebebasan orang lain, kata Sartre. Dan cara untuk menghalangi kebebasan yang paling gampang adalah dengan opresi fisik: mengikat, membungkam, memukul. Ini dilakukan banyak mamalia yang membela diri, mencari jodoh, atau mempertahankan wilayah kekuasaan. Hukum rimba di ranah premanisme jalanan pun masih memakai cara ini.

Namun cara ini tidak efektif dalam membangun masyarakat dan peradaban. Cara ini membuat banyak kerugian baik fisik ataupun mental, infrastuktur pun bisa sulit dibangun karena dengan mudah bisa hancur. Maka itu, harus berubah menjadi Agresi verbal.

2. Agresi verbal

Agresi verbal itu ngeledek orang dengan kata-kata kasar. Bisa dari berbagai jenis binatang, hingga kotoran-kotoran. Ini lebih baik daripada Agresi fisik namun bisa memicu Agresi fisik.

Tapi kalau orang bisa mengubah Agresi fisiknya jadi Agresi verbal, maka dia punya perkembangan. Otaknya bekerja, referensi katanya bekerja pula. Orang yang banyak bergaul dan banyak referensi, punya Agresi verbal yang macam-macam. Semakin banyak referensi semakin kaya Agresi verbalnya. Ini yang membuat Agresi verbal bisa menjadi Agresi paling efektif dan manipulatif untuk mengubah peradaban: Agresi simbolik.

3. Agresi Simbolik

Ini Agresi yang hanya bisa bekerja dalam konteks spesifik: konteks simbolik. Artinya dia hanya bisa berhasil dalam tataran bahasa dan kebudayaan tertentu. Untuk menggunakannya, pemilik bahasa dan kebudayaan itu harus cukup maju. Jadi untuk masyarakat yang miskin kata dan sistem budayanya sederhana, Agresi ini sulit dilakukan.

Bentuk-bentuk Agresi ini ada banyak macamnya: dari yang sederhana seperti lelucon, sarkasme, satir, hingga yang kompleks seperti Undang-undang, kontrak, atau sistem ekonomi. Intinya, Agresi simbolik hadir supaya Agresi fisik dan verbal bisa dikurangi atau ditiadakan, jadi kerugian bisa diminimalisir.

Sebuah contoh kecil: seorang bini yang cerdas menyindir lelakinya yang pengangguran untuk segera bekerja apa saja yang penting tidak cuma santai-santai di rumah. Sindirannya awalnya sarkas, “produktif sekali kamu hari ini, ” Sampai suaminya sadar itu sarkas dan mulai memukul bininya itu.

Si Bini sebenernya bisa aja membalas pukulan, atau meracuni kopi suaminya, tapi dia cerdas. Dia tahu bahwa dia tidak bisa lapor polisi walaupun kena KDRT, karena sistem hukum negaranya bobrok. Dia ga bisa lapor keluarganya karena keluarga merasa dia tanggung jawab suaminya. Untungnya, si bini adalah anggota pengajian ibu-ibu. Dia cerita soal suaminya, dan para ibu-ibu menyerbu rumah, memarahi si suami, dan memintakan cerai. Perceraian di Kantor Urusan Agama adalah Agresi simbolik yang bisa dilakukan si bini. Akhirnya si suami dipulangkan ke orang tuanya, sementara rumah dan anak-anak menjadi milik si bini yang dibantu teman-temannya untuk membuat usaha hijab dan jadi kaya, anak-anak yang sekolah tinggi, dan lebih cerdas dari ibu mereka yang cuma lulusan SMK tata busana.

Itu kisah ngarang aja, tapi kelihatan kan kontrasnya antara suami yang masih jadi manusia purba, dengan bini yang sudah jadi manusia sapiens. Sekarang tinggal kalian sendiri, pembaca budiman, mau jadi orang agresif kayak apa?

***

Kalau kalian ingin menjadi sapiens, manusia bijak yang punya cerita dan menghargai cerita, mungkin bisa dimulai dengan sebuah dukungan biar saya bisa tetap menulis bebas di blog saya ini tanpa perantara. Kalian bisa traktir saya kopi dengan menekan tombol traktir dibawah ini, atau menyumbang dana gofood langsung melalui akun gopay saya. Terima kasih ya sudah membaca sampai habis.

Kirim Go Food ke yang nulis:

Filsafat, Politik, Racauan

Radikal Bahas Radikal

Dari semua agama di dunia, ada satu agama yang hari ini paling ditakuti sama banyak orang termasuk penganutnya sendiri. Ini agama parah banget parnonya, dikit-dikit harus dibela, orang radikalnya galak-galak, rumah ibadah agama lain ditutup atau dilarang-larang dibikin, simbol agama lain dirusak, gak boleh dibikin bahkan yang menyerupai di jalan, kuburan yang beda agama ga boleh disatuin sama kuburan orang seagamanya, kalo demo teriak-teriak bakar, bunuh, ekstrim banget, terus kalo milih pemimpin harus yang seagama dengan dia bodo amat sama track record atau apapun, agama itu adalah agamaaa….

Kristen di Amerika! Buddha di Myanmar! Dan di Indonesia…, Wota. Bisa sampe ga mandi dan cuci tangan setahun setelah event handshake kan ya. Itu dulu sebelom pandemi. Sekarang agak kangen gue sama Wota. Eniwei, tulisan ini mau bahas soal radikalisme agama.

Kita bahas dulu dah dua poin, pertama radikalisme, kedua agama. Radikalisme itu ga buruk atau baik. Kita butuh radikalisme dalam banyak konteks yang urgen. Soal lingkungan, atau soal gender misalnya. Dan semua yang radikal pastinya punya aktivisnya sendiri-sendiri. Radikal berarti berkoar banyak, kekeuh, keras, dan seringkali maksa. Ini paham hadir karena perasaan terpojok, urgen, kepepet, mangkanya dirasa harus dilakukan.

Tindakan-tindakannya bisa dari demo keras-keras rame-rame, sampe tindakan vandal. Kayak Greenpeace bawa lumpur dari lapindo ke kantor Bakrie terus dilempar aje ke situ. Masalah dari gerakan ini adalah, mereka seringkali, demi media massa dan berita, melakukan pertunjukkan yang merugikan orang kecil. Emang dipikir siapa yang berbenah ngepel kantor Bakrie yang dilempar lumpur? Yang jelas bukan mamang rahang itu. OB yang kena megap-megap ngepel capek. Mending kalo ditambahin lembur, boro-boro.

Feminis radikal juga ngerasa kepepet dengan urgensi kayak UU PKS misalnya. Terus ya mereka bikin kampanye-kampanye, diskusi-diskusi, konser dll. Efek buruknya sih menurut gue ya: bias kelas. Coba lo ajak pembokatlo nonton punk cewek-cewek underground, kek mereka ngerti bae. Plus suka ada masalah sama radikal yang laen, radikal agama konservatif.

Tapi kita mah nggak ya, negara kita maju. Toleran! Progresif! Nggak ada yang make-make agama buat pilpres, nggak ada. Kerjanya baik terus membangun kan, infrastruktur bagus-bagus. Jalanan tingkat-tingkat, MRT, LRT, Pak RT, bu RT, semua lengkap lah ya. Nggak ada masalah!

HAM juga beres, semua cinta polisi dan tentara. Apalagi tentaranya doyan sama buku. Eh, kalian ga tau? Tentara kita paling demen sama buku, makanya dibakar-bakar. Nggak tau kan kalian, itu abunya dibawa pulang ke rumah, dicampur air terus diminum biar apal Das Kapital, Manifesto Komunis, dan Di Bawah Lentera Merah.

Ngaku siapa di sini yang waktu ujian nasional bakar buku pelajaran terus minum abunya? Hayo! Siapa di sini yang dateng subuh-subuh ke kelas buat ujian masuk PTN terus nyebar-nyebar tanah kuburan nenek moyang? Beneran tahu itu beneran bisa bikin lo tembus masuk UI. UI men! Kampus terbaik di Indonesia, kata anak UI. Itulah sebabnya waktu gue di UI, ada mahasiswa S3 yang percaya kalo Hitler itu Muslim dan missing link evolusi karena campur tangan alien. Eh serius! True story! Lo bisa tanya ke departemen antrop UI, lulus tuh orang S3!

Keren banget sih sebenernya radikalisme agama ini. Mereka suka banget pamer Tuhan siapa yang paling kuat.

Duh… agama, dari jaman Adam paling sering bikin ribut. Lagian Qabil ada-ada aja sih, ngapain nawarin buah-buahan ke Tuhan coba, dia pikir Tuhan itu Vegan? Kayak Habil dong mengorbankan daging kambing muda. Dari kapan tahu juga Tuhan sukanya dikasih daging. Kambing kek, anak sendiri kek kayak Ibrahim. Yang penting daging. Dari Dewi Hera jaman Herkules, dewa-dewa di Inca dan Maya, sampe Yahweh nya Yahudi yah mintanya daging. Dasar vegan-vegan ini! Mosok tuhan dipaksa jadi frutarian! Gila kalian, vegan! Atheis busuk kalian!

Kaum radikal ini… haduh kaum radikal ini. Gue sih bebas-bebas aja mereka mo radikal apa, cuman gue suka heran mereka suka bawa-bawa anak kalo demo. Ga demo agama, ga demo pilpres, ga demo feminis, ada aja bocah yang ikutan gitu. Ngakunya sih mengajarkan anak tentang agama dan ideologi sejak dini, tapi gue ga nemuin tuh bedanya antara aktivis yang bawa anak demo sama aktivis anti vaksin yang ga mau vaksin anaknya. Well, mungkin bedanya ada sih, kayak aktivis anti vaksin dari awal pilih kasih. Anjingnya divaksin, anaknya kagak. Lebih sayang sama anjing dan kucingnya mereka.

Agama itu, kayak kata pepatah lama, kayak dildo. Boleh dikasih tau ke orang-orang seberapa gedenya dildo lo, seberapa perkasanya vibratornya, tapi jangan dipamerin di muka umum dan jangan dicekokin ke bocah lah! Apalagi dibikin radikal! Sekarang agama kurang kepepet apa sih? Kurang penganut? kaga. Bakal bikin kiamat karena global warming? Kaga.

Agama seinget gue ada untuk membela, bukan buat dibela. Agama dulu bela kaum tertindas, membebaskan budak, membela perempuan jadi bayi perempuan ga dikubur hidup-hidup jaman jahiliah. Sekarang agama minta dibela. Terus mereka bela lingkungan kaga, bela perempuan kaga, bela capres? HOOOOO…. CAPRES! Jadi Pilih nomor 10 ya semuanya! DILDO!

***

Maaf ya kalau ada salah kata, semoga saya tidak kamu kategorikan sebagai Penista. Kalau kamu suka dengan tulisan ini dan mau website ini tetap jalan, boleh traktir saya kopi melalui tombol di bawah ini atau scan gopay code saya. Website ini hanya jalan lewat sumbangan, dan kontenya selalu gratis, karena saya maunya inklusif. Thanks.