Terlalu banyak kekecewaan akhir-akhir ini pada orang-orang di sekitar kita, iya kan? Seperti idealisme-idealisme yang hancur karena kemunafikan, dan kira jadi tak tahu mau percaya sama siapa lagi.
Tapi buat apa lagi sih hidup kita ini selain melakukan apa yang biasa paling bisa kita lakukan. Dan jika ada masalah-masalah yang membuat kita meluapkan emosi-emosi yang sebenarnya tidak perlu ya sudah istirahat dulu untuk berjuang lain kali. Dan jika kita sama-sama punya perang yang kita sedang hadapi, ada baiknya kita fokus berperang dulu dan tidak serta merta bertemu hanya untuk bertengkar dan mengatakan hal-hal yang tidak maksud kita katakan satu sama lain.
Tapi menakutkan juga jika momen terlewatkan begitu saja dan kita takut salah satu dari kita mati dan tidak sempat kita memadu kasih satu sama lain. Tapi siapa yang bisa menentukan itu. Tidak ada kontrol di dunia ini dan sebenernya, sebenar-benarnya, dengan seluruh buku, data, dan sains dan agama dan segala tuntunan, kita masih bergerak buta. Arah tidak menentu. Dan aku, yang sudah S2 dan punya pengalaman kerja belasan tahu n, pengalaman cinta, patah hati, ditinggal mati, malah merasa semakin hari semakin bodoh.
Apa kah yang aku ajarkan benar? Adakah gunanya? Apakah jangan-jangan aku membawa orang-orang ke jalan yang salah? Aku sangat yakin pada peta yang kupunya, tapi bisa jadi aku salah baca, atau petanya sudah ketinggalan zaman. Entahlah.
Sial, aku tidak tahu bagaimana cara mengakhiri racauan ini, karena aku masih ingin terus bicara. Aku ingin bicara tentang angin yang tak henti-hentinya berhembus kencang ketika pagi ini aku naik ke bukit untuk mencari sinyal.
Aku mau bicara tentang burung-burung yang bercuit membawa kabar buruk tentang kegagalan-kegagalan di mana-mana. Burung-burung yang bersuara serak karena terlalu sering berteriak, memberaki kepalaku dan membuang reaknya ke mataku.
Aduh, aku yang tak tahu arah ini jadi bhfa, entah kemana aku jalan tapi aku tahu ini bukit jadi aku turun saja. Dan aku terkandung lalu kepalaku terbentur baru dan aku membuka mataku di depan HP dimana aku sedang menulis racauan yang tak ada akhir di draft websiteku dan membayangkan kamu membaca ini dengan khidmat dan terhibur oleh racauan orang gila yang mulai lupa memakai tanda baca untuk menulis dan tidak ada perasaan bahwa ini tulisan akan berakhir mungkin nanti akhirnya akan seperti fade in di lagu- l a g u l a m a d a n b e r l a l u b e g i t u s a j a s e p e r t i o r a n g y a n g k e t i d u r a
Website ini jalan dengan sumbangan. Kalau kamu suka yang kamu baca, traktir penulisnya kopi di tombol bawah ini:
Omnis ardentior amator propriae uxoris adulter est
-cinta kepada hak milik orang lain adalah perzinahan-
Ketika saya baru saja lepas dari belenggu fundamentalisme Islam yang aneh di SMA, saya bercinta dengan seorang perempuan yang takkan pernah saya lupakan sampai saya mati. Percintaan nekat yang melanggar dua hal paling tabu dalam peradaban kita sekarang: [1] dia adalah kekasih pria lain, dan [2] dia Katolik.
Tapi untuk saya, cinta adalah agama paling mulia dan ibadah paling suci. Masih terasa aroma tubuh dengan parfum white musk, kulitnya yang putih dan halus bagai “tugu pualam” (mengutip Shakespeare), dan kalung salib emas kecil dengan satu berlian di tengahnya yang menjadi objek utama saya ketika dia di pangkuan. Vaginanya adalah gerbang ke santuari paling suci, payudaranya adalah kelembutan yang menghangatkan jiwa, bibirnya adalah roti dari daging Yesus, dan liurnya adalah anggur suci, darah dari perjamuan terakhir.
Sementara salib emas itu adalah tujuan hasrat fetisisme saya. Ia memantulkan cahaya lampu kamar menjadi nur suci yang merasuki setiap celah di darah, memompa udara ke dalam jantung dan membersihkan hati dan pikiran dari segala dosa. Peluh dan peluh bercampur, liur dan liur melarut, cairan menyatu, doa menyatu, perasaan menyatu, agama
menyatu.
Dan bagi perempuan itu, saya adalah tahanan di ruang asing tertutup yang meraung minta dibuka dan diselamatkan. Ia rela menerobos masuk, melewati batas-batas budaya dan agamanya sendiri, menggenggam tangan saya dan menarik saya keluar. Keluar menuju semesta tanpa batas dengan bintang-bintang dan bimaksakti-bimasakti baru bertaburan. Kami melayang telanjang dalam sebuah persetubuhan transenden sampai
grativasi menarik balik.
Kami
… terjatuh
Dan kami adalah bayi kembar yang baru lahir dan mengalami disorientasi. Kami adalah Adam dan Hawa yang terbuang dan terpisah jauh. Kami anak-anak yang terbawa arus samudra dan terpisah…
Maka Islam tetaplah Islam, dan Katolik tetaplah Katolik. Kembalilah ia kepada makhluk lelaki yang mencintai tubuhnya seperti mencintai perabot tempat ibadah di gerejanya.
Jika saat itu saya mengerti betapa piciknya kebudayaan mememenjarakan kami. Jika saat itu kunci atas kebudayaan ada di saya seperti sekarang ini; kunci pengetahuan dan kunci pembebasan. Maka dunia bisa berubah indah.
Paling tidak dunia kami berubah indah, persetan dan ke neraka buat orang lain yang masih betah di neraka agama saling bunuh, saling siksa, saling hujat menghujat.
Persetan buat kalian yang masih nyaman dalam kebodohan. Setan!
Depok, 24 Nopember, 2008
Terima kasih sudah membaca tulisan lama yang baru saya gali ini. Jika kalian suka yang kalian baca, bolehlah kiranya traktir saya kopi supaya tetap semangat mengisi blog ini, dan merasa ada yang menghargai pemikiran saya. Makasih sudah mampir.
“Atas kehendak Tuhan, aku dilahirkan miskin,” kata seorang penulis Yahudi dari MAD MAGAZINE di tahun 1970-an. Dan bukan hanya dia. Saya yakin bahwa saya dan pembaca sekalian pernah, paling tidak sekali dalam hidupnya, menyalahkan Tuhan atas takdir yang terjadi di hidup kita, atas ketidakpuasan-ketidakpuasan. Saya jadi yakin dengan sangat bahwa sumpah serapah pertama pada Tuhan yang ditemukan manusia bukanlah, “Kurang ajar kau, Tuhan!”, bukan juga “Setanlo, Tuhan!”, “Atau F**k you, God!” atau “Goddammit!” tetapi satu pertanyaan besar—ya, ternyata sumpah serapah pertama pada Tuhan bukanlah pernyataan tapi pertanyaan yang diucapkan sambil melihat langit:
“KENAPA!!!!!???”
Pertanyaan ‘kenapa’ ini menjadi ibu sekaligus bapak—ini pertanyaan hermafrodit yang masturbasi dan melahirkan anak-anak berupa pertanyaan-pertanyaan lain yang terus kita cari jawabannya; dari apa, siapa, dimana, kapan? Dari ‘kenapa’ yang menyalahkan Tuhan, peradaban kita berkembang pesat; karena kita mencari jawaban yang tak pernah pasti. ‘Kenapa’ adalah sebuah pertanyaan konkrit dengan jawaban yang tak terhingga. ‘Kenapa’ adalah pertanyaan kritis pertama manusia ketika ia masih jadi seorang anak. Pertanyaan yang tak mungkin bisa dijawab dengan lengkap dan terhenti oleh manusia manapun.
Anak: Kenapa aku ada?
Ortu: Karena mama-papa nikah.
Anak: Kenapa mama-papa nikah.
Ortu: Karena mama-papa saling mencintai.
Anak: Kenapa mama-papa saling mencintai?
Ortu: Karena Tuhan mentakdirkan begitu.
Anak: Kenapa Tuhan mentakdirkan begitu?
Ortu: Meneketehe! Mama-papa kan bukan Tuhan.
Anak: Kenapa meneketehe? Kenapa mama-papa bukan Tuhan?
Ortu: Udah, ah! Meneketehe ya, meneketeheee…
Anak: Kenapa? Kenapa? Kenapa? Kenapa?
Ortu: ARRRGGGHHHHH! [adegan Homer Simpson menjambak rambutnya sampai botak mendengar istrinya hamil lagi].
Orang dewasa jarang memaki Tuhan dengan ‘kenapa’ karena Tuhan tak pernah menjawab balik dengan kata-kata yang bisa didengar telinga. Tuhan menjawab dengan firman yang tertulis di atas kitab suci yang didiktekan oleh Nabi/Rasul yang mengaku ‘mendapat’ firman Tuhan.
Dari sini saya mengambil kesimpulan bahwa Tuhan tak punya mulut. Pemenang nobel sastra, Milan Kundera, menulis bahwa ketika ia masih kecil, ia sering berpikir bahwa kalau Tuhan tak punya mulut, maka ia takkan punya tenggorokkan, usus, dan anus. Maka Tuhan tak pernah berak. Dan kalau Tuhan tak pernah berak, ia tidak pernah mengeluarkan tahi. Dan karena tahi itu kotor, bau, mengandung kuman, dan merepotkan orang yang harus membersihkannya, maka Tuhan tidak pernah bersalah atas segala tahi yang tersebar di dunia ini. Karena yang bisa buang tahi adalah mereka yang punya mulut, tenggorokan, usus, dan anus lengkap dengan lubang duburnya.
Tuhan tak punya mulut juga dibuktikan dari tidak adanya satupun kitab suci yang bilang tentang mulut Tuhan—sebesar apa mulutnya, apakah bau atau tidak, apakah giginya putih atau kuning. Itu juga yang membuat kata-kata dari Tuhan disebut Firman. Nabi bersabda, manusia berkata, dan Tuhan berfirman. Ini juga kenapa ada Tuhan Maha Tahu, Tuhan Maha Besar, tapi tidak ada Tuhan Maha Berkoar. Karena Tuhan tidak punya mulut maka ia tidak berleleran dakwah, doktrin, atau promosi seperti kiai-kiai, pendeta, politikus atau tukang obat. Tuhan berfirman, Nabi bersabda firman Tuhan, dan umat manusia menginterpretasi.
Interpretasi inilah yang menjadi masalah karena interpretasi selalu mencoba menjawab pertanyaan (sekaligus makian pada Tuhan), ‘Kenapa?’.
Kenapa burung-burung tiba-tiba muncul Setiap kali ada kamu di sini? Seperti aku, mereka ingin sekali, dekat denganmu.
Yah, itu interpretasi The Carpenters terhadap burung-burung yang tiba-tiba muncul waktu ada kamu. Padahal bisa saja burung-burung itu muncul karena pohon tempat mereka bertengger ditebang orang. Atau bisa saja burung-burung itu muncul untuk memakan kutu-kutu di pundakmu karena kamu kerbau. Masih banyak interpretasi lain yang bisa dinyanyikan si ‘aku’, tapi karena si ‘aku’ pengen deket-deket kamu, makanya dia bilang burung-burung pengen deket sama kamu. Dari sini saya malah bisa interpretasi lagi, jangan-jangan si ‘aku’ itu juga burung dan kamu memang kerbau.
Kalau interpretasi saya salah, dan ternyata si ‘aku’ bukan burung dan kamu bukan kerbau, maka lirik itu tidak salah. Saya yang salah karena saya punya tangan untuk mengetik interpretasi saya terhadap lirik itu dan bilang kamu kerbau.
Inti dari paragraf sampahan saya di atas adalah bahwa teks seperti halnya kitab suci dan Tuhan, tidak punya mulut. Maka yang penting adalah bagaimana teks itu terinterpretasi dan terimplementasikan di dunia kita. Dari interpretasi dan implementasi terhadap firman Tuhan dan teks-teks lain—termasuk budaya dan tradisi, kita mendapatkan segala motivasi tindakan manusia: perang yang terus ada, kemiskinan, pelacuran, kehancuran, kelahiran, jumlah cina yang membeludak, chauvinisme Jawa, dan apapun yang secara asal alias impromptu keluar dari kepala saya yang buluk ini.
Maka pertanyaan sekaligus makian ‘kenapa’ tidak akan pernah dijawab Tuhan. Karena Tuhan tidak menginterpretasi. Tuhan berfirman, Nabi bersabda firmanNya, Da’i berkata Sabda Nabi yang berisi Firman Tuhan, dan umat bergerak, musuh umat melawan, politisi berkoar, ekonom menghitung untung-rugi, perang terjadi, manusia pada mati, dan dari semua itu tiba-tiba global warming terjadi, yang menyebabkan panas naik, tsunami, gempa, cinta semerbak dan gugur dalam sebuah rumah tangga antara sepasang partner dan seorang pecinta salah satu partner, seorang anak botak berkulit hitam lahir di London, sementara selembar daun gugur dari sebuah pohon yang kedinginan di Nebraska. Apa hubungannya? Silahkan interpretasi.
Dari semua ini, interpretasi adalah pencernaan. Manusia memakan, mencerna, dan mengeluarkan Tahi. Jika diinterpretasi dengan otak seorang penyair romantik gila, ia bisa membuat sebuah puisi satu stanza dan satu kalimat:
Mulut memakan daun, mencerna Lalu keluar tahi Otak Memakan Teks, berpikir, lalu keluar opini
Vagina memakan sperma, mencampur sel telur Lalu keluar bayi. Kekotoran dan kesucian ternyata tak terlalu berbeda…
Dalam sebuah kulit kacang [terjemahan bodoh dari nutshell], silahkan memaki Tuhan yang Maha Menerima, Ia takkan membalas makianmu. Tapi cobalah memaki dengan kata purba ‘Kenapa?’ Maka kau dan alam semesta akan menjawabnya dalam sebuah interpretasi. Jika teks bukan firman, maka teks adalah tahi atau bayi. Dan Tuhan tidak bersalah sama sekali atas apapun yang kau makan atau kau feses-kan. Semua adalah murni kesalahan yang punya mulut.
Ini tulisan tahi atau bayi. Kau yang menentukan.
TABIK!!
Depok, 1 Maret, 2009.
Terima kasih sudah membaca tulisan yang sudah lama terkubur ini. Jika kamu suka apa yang kamu baca, bolehlah traktir saya kopi dengan menekan tombol ini:
There is not much of a human in humanity. It’s just a word. A term we invented to tell ourselves that we have meaning in the world. Its the modern word for God or Soul or whatever term we use in describing goodness out of our petty existence. Should we believe that word as people before us believe in God or Good?
It’s up to us, but our belief won’t matter much. You see, many anthropologists stated that human worldview and belief will determined his/her actions and decisions. If we believe in God and Religion, we will act according to that belief, they say. But that’s just bullshit. All men eventually will ruin their belief and faith. Some of us seldom do it, most of us often. It doesn’t mean that we don’t believe in it anymore, we do. But circumstances and practicalities forced us to yield it. Fuck it around. Screw it up and down. And we will ask for forgiveness, just like King Claudius from Shakespeare’s Hamlet. And after that, we will fuck it again and again and again. And in our deathbed, we will ask forgiveness for the last time for having fucked our faith too much.
There is no way to be consistent. Life just does not work that way.
There is this book by Jim Holt, “Why Does The World Exist?”. Holt tried to give reasons of existence from various point of views. Like all philosophy books, Holts’s book problematized our existence deeper, suspending every explanation available. For me, the book was saying that the answer of Why Does The World Exist is nothing and everything. A paradox just like human being. Just like human’s faith. It is problematic, and problem is a big part of existence. If the book were to be compare to a film, I would say it’s Monty Phyton’s The Meaning of Life.
Existence has to be filled with creativity and discovery, we made it from the God-given (or evolution based) instrument called mind. Considering all things are made up based on our mind, so yeah.
For me everything is bullshit. Some of them have to be considered as real shits, others we have to take seriously–especially if it concerns other people that we care about. That’s when we say, “This is serious shit! ” I have a problem in creating a priority scale for myself, but if I stopped thinking about it, it’s gonna be real simple. Do anything necessary to survive and to make people you love, and yourself happy.
Because you know, the real reality that we cannot escape is just death. Everything else are just imaginations made from the dialectic of action and reaction. Death is inevitable, and we spent quite amount of time to pursue it. In every unhealthy and excess actions, we get closer by the seconds. So while we’re at it, might as well enjoy ‘humanity’ for whatever that means. Beside, after we are all gone, the universe remains. Humanity is nothing but everything in our language and short life span.
***
Hi, thanks for reading! Yes, this is the part where I need you to buy me a cup of coffee to keep writing and providing you with this website domain. If you like what you read you can support me on trakteer (if you’re in Indonesia), or Patreon (if you’re outside of Indonesia. Just push the button below and be happy. Take care of yourself and if you can, take caro of others… (Thank you Stephen Dubner for teaching me that closing).