English, Filsafat, Racauan

Fuckperson

You looked at yourself and you’re thinking how ugly you are and how lonely you are and how no one wants to be with you.

And you start to check people on your phone book or checking their social media accounts to see how their lives are better than yours. You don’t want to use dating apps because the last two persons you meet there are too goddamn condescending or simply broken. While browsing in instagram you see your ex crush–not even your ex, and you remember that this person fucked everyone but you and you started to gain all your courage to ask this fuckperson to fuck you just because you’re so lonely and ugly and you think a fuck will help you up, and you don’t care if you got rejected and you won’t be their friends any more because you feel alone anyway, better take your chances.

Life was unexpected because the fuckperson wanted to fuck you maybe because they’re as ugly as you are now, but no way you’re getting pretty. And in no time you were naked in a hotel room with this fuckperson and heck that body still hot as hell and that face is so yummy but you just can’t get arouse you don’t know why maybe you just need a cuddle, or you just need love and now it’s just too much.

A fuck would be enough but how come you want more than a fuck from a fuckperson, you should’ve called the love person… O yeah…

They are non existent.

At least not for you.

Now the fuckperson left you alone in the hotel, and you’re there staring at the ceiling thinking how the hell can you be happy without anybody. Once a shrink told you that you should love yourself first before you love others but what to love from this wrecked body? This ugly face? This low self esteem? You remember working out and dieting out like hell and still the weight just goes up and up. And you went to a gastronomy doctor, paid almost half your salary just to eat crappy healthy food and work out and your mood got really bad because you’re hungry. You got stomachache then you just fuck it up by eating too many ramens.

So there you are staring at the ceiling thinking how the hell did you not fuck the fuckperson? And then you went to the bathroom just to puke because you feel sick of yourself. Then you looked at the mirror and realize why you did not fuck the very attractive fuck person.

It’s because for the last ten years or so, you’ve been fucking yourself so hard. It’s like you got married to yourself and you are sick of being with you because you got nowhere, it’s boring, and the love is gone and consumed like some sour ice cream fell to the asphalt and melt like your face right now. You remember being pretty, you remember your lovers and all the bitches and the bastards who fucked you hard, and you fight harder, but now there’s only fear and you flight. When did you lost it? When did you lost the love for yourself? Was it during the time you fucked yourself so hard with work and broken hearts and junk food? When was it the last time you embrace whatever left in you?

This food is poison.

Aw, shut up, self, you said. Life is no longer interesting, you think you know it all, you’ve got your dreams and lost it and reality sucks. Now you got no dreams left because you’re just too old for those shits. You want to be loved by yourself and by others, but do you really need it? Love?

You get back to bed naked and cold, you took the duvet to cover your body, take a deep breath five times just like a therapy used to teach you. And in your mind you are in a vast radiant sky, with stars and milky Way. And your fat ugly ass just floating there, like a very disgusting rotten corpse. And it’s okay because in the empty space, no stars will judge you and aliens are uglier than thou. If they’re pretty then they’re no longer aliens because it’s familiar. You’re thinking that aliens might’ve been a specks of sperm or something. So small and lived in space because oxygen kill them. Aliens are not necessary humanlike with limbs and hands and feet. They could be like a space stone that are alive inside.

And they’re absolutely better than you because they are alive and you are dying inside.

There’s so many ways to get self loathing and self blaming. Sometimes you were thinking of dying but you just too lazy and scared to commit suicide. It’s just too many effort.

You can’t even cut a dead chicken head, how come you cut your vein? You don’t like herbal drink, so you’ll just puke the poison. You were thinking to hang yourself but you’re just too fucking heavy, anywhere you tie the rope it’s gonna fall before you lose your breath. You were thinking of carbon monoxide poisoning, but you hate walking in the street and inhaling pollution. So what makes you think putting a tube from the car exhaust to your lungs will work ?

Sleeping pills are fucking expensive and you just quit medication because you prefer to spend your money to fuck strangers in a cheap hotels than buying meds for whatever diagnose your doctor prescribed you. Depression, anxiety, bipolar, borderline all those new stuff that your parents never heard of but you know they got it because your family is a dysfunctional one.

Might as well kill yourself with them.

***

You don’t remember what time you slept. Might as well be a few hours after sunrise because your window was shut and you don’ see any light from outside. But hell, the phone rang and the lazy receptionist asked whether you will checked out today or not. You said yes. So you wake up, its already 11am, and you took a bath (again, just out of automation), and got dressed then you order a cab to go home.

Its raining outside, and the feelings subside. In the cab, you had a bad feeling; the usual bad feeling that at home your spouse, children and parent are waiting for you ungratefully. You are stuck with them, and there are no lonelier place on earth, than to share a home with all the wrong people. You wished you could stay alone in that hotel room forever, looking at the ceiling counting make believe stars in a make believe universe. With a make believe loveperson in a make believe safe space. You wish.

Photo by Ave Calvar Martinez on Pexels.com

***

Hi, thanks for reading this short until the end. If you like what you read and you are an Indonesian, please treat me coffee so I can write some more by pushing the ‘treat coffee’ button. If you’re outside Indonesia, you can be my patron by clicking on my Patreon. Help me to write and keep giving you a well written content with a good user experience. Thanks.

Filsafat, Politik, Racauan

Cara Pinjol Membunuhmu

Trigger warning: kalau kamu kepikiran bunuh diri, hubungi psikolog/psiakter. Jangan baca tulisan ini.

Pinjaman Online adalah air di oase covid ini. Bayangkan, kamu bisa ngutang sampe 25 juta per platform, tanpa butuh jaminan. Cuma KTP, NPWP, dan nomor telpon orang lain. Plus, Pinjol online dijamin sama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) resmi dari negara. Tapi kok bisa ada yang bunuh diri karena pinjol? Bukanya debt collectornya cuma nakut-nakutin doang? Belom ada tuh peminjam online resmi yang dibawa ke polisi. Terus ga ada yang barangnya disita juga. Terus kok ini lebih serem dari preman kiriman lintah darat di film setan kredit? Bisa-bisanya yang bunuh dan nyakitin si peminjam adalah diri sendiri!

Ini adalah tulisan penting soal sebuah propaganda atas logika yang salah soal manusia, tentang pencerabutan diri dan identitas kita, tentang pembunuhan pelan-pelan yang dIlakukan pinjol. Ya, yang bunuh diri karena pinjol bukanlah bunuh diri, mereka dibunuh!

Kebanyakan orang bunuh diri tinggal sendiri dan berhasil memutuskan hubungan dengan orang lain dengan cara kabur dan ga tanggung jawab. Karena kebanyakan orang sebel atau kasihan dan ingin kasih kebebasan, dibiarkanlah dia sendirian. Diperbolehkan untuk menyendiri, dan self loathing. Bayangkan kamu adalah orang terjebak pinjol yang bisa kabur dari tanggung jawab dan tinggal sendirian, atau tanggung jawabmu udah diambil orang lain yang sebel sama kamu tapi rela beresin kekacauan yang kamu hasilkan. Ini biasanya yang kamu lakukan hingga dibunuh pinjol.

Bunuh relasi dengan teman dan keluarga

Pinjol diawali dengan jaminan identitas: KTP/SIM/Paspor, NPWP, dan nomor keluarga, lalu nomor teman. Ketika kamu nggak bisa bayar maka keluarga kamu diteror. Sudah habis nama keluarga, kamu kasih nomor teman, sudah habis nomor teman, kamu ganti atau mematikan nomormu. Habis itu debt collector bisa aja dateng ke rumah, bukan cuma buat nagih, tapi buat mempermalukanmu di depan tetangga-tetanggamu, saudaramu, dan temen-temenmu. Kamu udah miskin, masa kehilangan harga diri juga, jadi kamu takut dan membunuh semua relasimu dengan keluarga, teman, tetangga, dan aplikasi pinjol itu, HP kamu, dan semua kontak kerjamu. Identitas sudah kamu gadaikan, kamu ga bisa ngutang lagi dan kamu merasa semua orang kamu bebani. Kamu jadi sendirian.

Bunuh relasi dengan pekerjaan dan sosial media

Karena kamu ga bisa pake identitas dan hubungan sosialmu, kamu tambah susah cari kerja. Kamu malu buka sosial media aslimu, akun aslimu, karena kamu sudah pakai nama keluarga dan temanmu untuk pinjol. Dan kamu takut ditagih di sosial media. Uangnya ga ada, dan kamu nggak tahu gimana cara jelasin bahwa kamu miskin, atau tolol karena make pinjol buat kredit motor biar bisa ngegojek, yang mana udah diambil leasing juga motornya karena ga bisa bayar kredit motor dan kredit pinjol. Sekarang kamu cuma punya HP dan kuota. Perut laper, untung masih ada air.

Bunuh relasi dengan diri sendiri

Kamu nggak pengen jadi kamu. Malu. Banyak utang. Ga bisa kerja. Irrelevan. Menyusahkan orang lain. Maka kamu mulai bentuk diri yang baru di internet, mungkin mengaktifkan akun lama yang palsu yang dulu dibikin buat stalking mantan. Terus kamu mulai jadi manusia impianmu, yang nggak ada utang, misterius, mungkin ganteng/cantik banget, bodynya sempurna, pinter, temennya banyak, kaya.

Sampe kuota habis.

Kamu malu buat keluar numpang wi fi. Kamu malu buat keluar dan ketemu orang dan dunia nyata, malu sama keluarga, malu sama teman. Lalu lama-lama listrik mati. Ga ada duit kuota, gak ada duit listrik. Kamu mau kelaparan aja. Tapi laper dan haus ga enak. Lalu kamu memutuskan untuk…

Bunuh diri

Disini kamu sudah keracunan logika pinjol. Logikanya sederhana: bahwa diri manusia dibuat dari hubungan-hubungan; dengan keluarga, teman, kantor, kolega, dan sosial media. Pinjol memang tidak minta jaminan harta fisik (yang mungkin kamu juga gak punya), pinjol juga ga minta jaminan kredit sebelumnya yang sering diminta sama credit card. Dia nggak minta record utang kamu. Tapi yang dia minta lebih parah lagi: dia minta nyawamu dari awal.

Apa sih nyawa? Nafas yang dikasih Tuhan? Bukan. Nyawa adalah hubunganmu dengan tubuhmu, dengan orang tuamu, dengan saudaramu, dengan kawan-kawan dan musuhmu, dengan pekerjaanmu, dengan pacarmu. Itulah sebabnya kalau hubungan putus, kamu patah hati. Hubungan putus membunuh satu bagian dari nyawamu. Hingga hubungan terakhirnya adalah hubunganmu dengan tubuhmu. Kalau hubungan itu hilang maka nyawamu melayang. Mati kamu.

Nah, kalau logika Pinjol itu kita ikuti, niscaya kita akan mati. Kebanyakan orang bisa dijamin oleh modal sosial itu. Begitu debt collector bilang ke keluarga dan tetangga, maka kalau kamu orang yang (pernah) baik, utangmu pasti dilunasi. Kamu jadi ngutang sama saudara/teman. Dan kamu sebelum terlilit utang dan pengen bunuh diri, adalah orang baik. Sekarang kamu jahat karena rela jual hubungan dengan keluarga dan temen-temen ke pinjol. Itu logis.

Tapi kita kan manusia NGGAK LOGIS! Cinta, benci, marah, keadilan, itu adalah kata-kata abstrak yang artinya beda buat tiap orang. Tuhan kita masing-masing aja walau namanya sama tapi perannya di hidup kita bisa beda-beda. Kamu bebas untuk menjual nama keluarga dan temen-temenmu, kamu bebas untuk bunuh diri juga. Tapi keluarga dan teman-teman juga bebas untuk nggak peduli sama kejahatan dan keegoisan kamu. Kami yang nggak terjebak utang bebas untuk nolong kamu… Asal kami bisa tahu. Tapi semakin jago kamu ngumpet dan mutusin hubungan maka semakin bebas kamu mati.

Dan kami, yang tidak akan pernah siap kamu tinggal, akan bermanuver. Kami akan jadi manusia kepo, manusia sosial nyebelin tukang gosip dan guyub, manusia yang selalu ngecekin kabarmu, dan ngingetin kamu kalau kamu nggak sendirian. Ngingetin kamu, bahwa bukan cuma kamu yang bisa egois. Kami juga egois karena nggak mau kamu tinggal karena kami sayang kamu.

Pinjol itu dijamin OJK, kalau kamu nggak bisa bayar, negara yang bayar dengan ngeblacklist kamu: kamu nggak bisa ngutang online lagi. Kamu akan diganggu debt collector. Kamu akan bertambah banyak utangnya karena berbunga-bunga. Tapi mereka nggak bisa nyita rumah atau barang kamu, atau bawa kamu ke penjara–kecuali kalau kamu penipu. Makanya kamu ditakut-takuti dengan ketidaktahuan dan misteri. Dan saat kamu takut, harusnya kamu tahu gimana cara bertahan: kembali ke teman-teman.

Tapi diingat aja, kalau kamu bisa kami bail out, kamu harus mau ikut kami untuk jadi orang yang fungsional lagi. Ke psikiater biar ga pengen mati, dan banyak-banyak ngobrol. Mau makan tinggal numpang kok, ga perlu ngutang. Kami seneng kok berbagi sama kamu. Kalau kamu nggak punya temen atau keluarga kayak kami, coba cek dimana temen lama pada nongkrong, atau sekali-kali tanya temen dan keluarga apa kabarnya. Reach out. Maka kamu akan menemukan kami.

***

Website ini jalan dengan donasi. Jika kamu lagi miskin, bisa bantu saya sebarin tulisan ini, dan bilang ke orang yang kamu kasih: “Aku sayang kamu, bertahan yuk buat kita”.

Jika kamu menemukan tulisan ini berguna dan lagi ada rejeki, bisa traktir saya kopi dengan menekan tombol di bawah ini, biar tetap semangat dan punya waktu buat nulis dan nggak sibuk kerja lain yang bikin ga sempat nulis. Kopi murahan kok, ga perlu kopi Starbucks.

Filsafat, Politik, Racauan

Radikal Bahas Radikal

Dari semua agama di dunia, ada satu agama yang hari ini paling ditakuti sama banyak orang termasuk penganutnya sendiri. Ini agama parah banget parnonya, dikit-dikit harus dibela, orang radikalnya galak-galak, rumah ibadah agama lain ditutup atau dilarang-larang dibikin, simbol agama lain dirusak, gak boleh dibikin bahkan yang menyerupai di jalan, kuburan yang beda agama ga boleh disatuin sama kuburan orang seagamanya, kalo demo teriak-teriak bakar, bunuh, ekstrim banget, terus kalo milih pemimpin harus yang seagama dengan dia bodo amat sama track record atau apapun, agama itu adalah agamaaa….

Kristen di Amerika! Buddha di Myanmar! Dan di Indonesia…, Wota. Bisa sampe ga mandi dan cuci tangan setahun setelah event handshake kan ya. Itu dulu sebelom pandemi. Sekarang agak kangen gue sama Wota. Eniwei, tulisan ini mau bahas soal radikalisme agama.

Kita bahas dulu dah dua poin, pertama radikalisme, kedua agama. Radikalisme itu ga buruk atau baik. Kita butuh radikalisme dalam banyak konteks yang urgen. Soal lingkungan, atau soal gender misalnya. Dan semua yang radikal pastinya punya aktivisnya sendiri-sendiri. Radikal berarti berkoar banyak, kekeuh, keras, dan seringkali maksa. Ini paham hadir karena perasaan terpojok, urgen, kepepet, mangkanya dirasa harus dilakukan.

Tindakan-tindakannya bisa dari demo keras-keras rame-rame, sampe tindakan vandal. Kayak Greenpeace bawa lumpur dari lapindo ke kantor Bakrie terus dilempar aje ke situ. Masalah dari gerakan ini adalah, mereka seringkali, demi media massa dan berita, melakukan pertunjukkan yang merugikan orang kecil. Emang dipikir siapa yang berbenah ngepel kantor Bakrie yang dilempar lumpur? Yang jelas bukan mamang rahang itu. OB yang kena megap-megap ngepel capek. Mending kalo ditambahin lembur, boro-boro.

Feminis radikal juga ngerasa kepepet dengan urgensi kayak UU PKS misalnya. Terus ya mereka bikin kampanye-kampanye, diskusi-diskusi, konser dll. Efek buruknya sih menurut gue ya: bias kelas. Coba lo ajak pembokatlo nonton punk cewek-cewek underground, kek mereka ngerti bae. Plus suka ada masalah sama radikal yang laen, radikal agama konservatif.

Tapi kita mah nggak ya, negara kita maju. Toleran! Progresif! Nggak ada yang make-make agama buat pilpres, nggak ada. Kerjanya baik terus membangun kan, infrastruktur bagus-bagus. Jalanan tingkat-tingkat, MRT, LRT, Pak RT, bu RT, semua lengkap lah ya. Nggak ada masalah!

HAM juga beres, semua cinta polisi dan tentara. Apalagi tentaranya doyan sama buku. Eh, kalian ga tau? Tentara kita paling demen sama buku, makanya dibakar-bakar. Nggak tau kan kalian, itu abunya dibawa pulang ke rumah, dicampur air terus diminum biar apal Das Kapital, Manifesto Komunis, dan Di Bawah Lentera Merah.

Ngaku siapa di sini yang waktu ujian nasional bakar buku pelajaran terus minum abunya? Hayo! Siapa di sini yang dateng subuh-subuh ke kelas buat ujian masuk PTN terus nyebar-nyebar tanah kuburan nenek moyang? Beneran tahu itu beneran bisa bikin lo tembus masuk UI. UI men! Kampus terbaik di Indonesia, kata anak UI. Itulah sebabnya waktu gue di UI, ada mahasiswa S3 yang percaya kalo Hitler itu Muslim dan missing link evolusi karena campur tangan alien. Eh serius! True story! Lo bisa tanya ke departemen antrop UI, lulus tuh orang S3!

Keren banget sih sebenernya radikalisme agama ini. Mereka suka banget pamer Tuhan siapa yang paling kuat.

Duh… agama, dari jaman Adam paling sering bikin ribut. Lagian Qabil ada-ada aja sih, ngapain nawarin buah-buahan ke Tuhan coba, dia pikir Tuhan itu Vegan? Kayak Habil dong mengorbankan daging kambing muda. Dari kapan tahu juga Tuhan sukanya dikasih daging. Kambing kek, anak sendiri kek kayak Ibrahim. Yang penting daging. Dari Dewi Hera jaman Herkules, dewa-dewa di Inca dan Maya, sampe Yahweh nya Yahudi yah mintanya daging. Dasar vegan-vegan ini! Mosok tuhan dipaksa jadi frutarian! Gila kalian, vegan! Atheis busuk kalian!

Kaum radikal ini… haduh kaum radikal ini. Gue sih bebas-bebas aja mereka mo radikal apa, cuman gue suka heran mereka suka bawa-bawa anak kalo demo. Ga demo agama, ga demo pilpres, ga demo feminis, ada aja bocah yang ikutan gitu. Ngakunya sih mengajarkan anak tentang agama dan ideologi sejak dini, tapi gue ga nemuin tuh bedanya antara aktivis yang bawa anak demo sama aktivis anti vaksin yang ga mau vaksin anaknya. Well, mungkin bedanya ada sih, kayak aktivis anti vaksin dari awal pilih kasih. Anjingnya divaksin, anaknya kagak. Lebih sayang sama anjing dan kucingnya mereka.

Agama itu, kayak kata pepatah lama, kayak dildo. Boleh dikasih tau ke orang-orang seberapa gedenya dildo lo, seberapa perkasanya vibratornya, tapi jangan dipamerin di muka umum dan jangan dicekokin ke bocah lah! Apalagi dibikin radikal! Sekarang agama kurang kepepet apa sih? Kurang penganut? kaga. Bakal bikin kiamat karena global warming? Kaga.

Agama seinget gue ada untuk membela, bukan buat dibela. Agama dulu bela kaum tertindas, membebaskan budak, membela perempuan jadi bayi perempuan ga dikubur hidup-hidup jaman jahiliah. Sekarang agama minta dibela. Terus mereka bela lingkungan kaga, bela perempuan kaga, bela capres? HOOOOO…. CAPRES! Jadi Pilih nomor 10 ya semuanya! DILDO!

***

Maaf ya kalau ada salah kata, semoga saya tidak kamu kategorikan sebagai Penista. Kalau kamu suka dengan tulisan ini dan mau website ini tetap jalan, boleh traktir saya kopi melalui tombol di bawah ini atau scan gopay code saya. Website ini hanya jalan lewat sumbangan, dan kontenya selalu gratis, karena saya maunya inklusif. Thanks.

Filsafat, Politik, Racauan

Netizen itu Anonim! Jangan dianggep orang!

Kebanyakan kita tidak mengenal lawan debat atau diskusi di internet. Ada seorang jenius agama yang ternyata anak kecil. Ada seorang perempuan cantik yang ternyata pria buruk rupa yang iseng, dan macam-macam orang lagi. Google atau Facebook juga mulai mengembangkan AI yang bisa ngobrol. Tanpa pengetahuan tentang latar belakang lawan bicara, kita terbatas dalam membagi informasi. Belum lagi medium yang kita gunakan adalah tulisan dan seperti yang dikemukakan Plato ribuan tahun lalu, tulisan adalah medium komunikasi yang paling rawan misinterpretasi. Akhirnya kita malah bisa depresi ketika bicara dengan mereka yang anonim.

Filsuf Derrida juga sudah memperingatkan tentang dunia teks yang diluarnya tiada apapun (nothing outside the text). Ketika kita menggunakan medium tulisan, kita berkomunikasi dengan kode-kode, bahasa dan konteks tersendiri. Untuk bisa mengerti sebuah teks, kita harus punya pemahaman lengkap tentang dunia dimana teks tersebut bekerja–termasuk latar belakang penulis teks itu. Ini tentu bukan sesuatu yang bisa kita dapat dengan mudah di Internet. Kita tidak bicara dengan manusia, kita bicara dengan potongan teks yang terbatas.

Saya pernah berpendapat di lapak seorang akademisi yang saya kagumi karena ketajamannya dalam berpikir dan berdiskusi. Kematangannya dalam berdiskusi sangat terlihat ketika komentar saya dengan lugas ia tangkis karena menurutnya melenceng dari artikel yang sedang ia bahas. Dengan tegas dan agak galak, ia mengancam saya, “Jika saudara tidak bisa berargumen dengan dasar yang telah saya sajikan, saya akan menghapus komentar saudara.” Galak sekali.

Tentunya ia jadi segalak itu karena ia tidak kenal pada saya dan karena potongan teks yang saya ketik di lapak diskusinya ia baca sebagai sesuatu yang tidak nyambung dengan artikel yang ia tulis. Ia tidak salah, saya memang berusaha membawa diskusi tersebut ke ranah yang lebih luas. Tapi menyakitkan juga dianggap sebagai orang tolol yang tak mampu berdiskusi. Walau begitu saya jadi belajar banyak. Buat si pak akademisi itu saya anonim–walau saya memakai akun dan nama asli saya untuk berkomentar. Toh si bapak tak punya waktu untuk mencari tahu siapa saya dan sejauh apa kapasitas saya.

Anonimitas di sini tidak sebatas identitas palsu atau tersembunyi. Anonimitas di sini adalah sejauh apa pembacaan seorang subjek terhadap subjek lain di Internet. Jika petunjuk tentang latar belakang seorang komentator hanya komentarnya, nama dan avatarnya, maka hanya itu identitas yang bisa kita lihat. Si komentator bisa jadi siapa saja dan dalam konteks ini, bahkan stereotipe–kebiasaan untuk berasumsi pada orang lain–jadi sulit. Mungkin Avatar dan nama cukup membantu untuk mengidentifikasi. Avatar dengan filter pelangi bisa mengidentifikasi seorang pembicara sebagai pendukung LGBT, misalnya. Namun kapasitasnya sebagai pembicara juga sulit diketahui.

Kadang-kadang, nama dan titel juga bisa membantu. Seorang profesor di bidang tertentu kita harapkan punya kapasitas untuk komentar terhadap wacana yang memang bidangnya. Ketika saya diadujangkrik dengan Tompi karena tulisan saya tentang film Selesai, dr. Tompi sempat ngecek-ngecek dulu saya siapa, dan ketika dia tahu saya pengajar film, tone bicaranya jadi berubah dan diskusi bisa berjalan. Anonimitas di Internet, para netizen kebanyakan ini, sangat kontraproduktif.

Jadi kalau kamu punya lover atau hater yang anonim, anggap saja mereka bot dan bukan orang. Cuma harus hati-hati karena bisa jadi mereka adalah bagian dari skynet yang bisa mengirimkan terminator untuk kita dari masa depan.

***

Wah, kamu baca sampai habis racauan saya. Makasih ya. Kalau kamu suka dengan tulisan ini, bolehkah traktir saya kopi biar saya bisa tetep nulis dan bayar domain website ini? Karena kalau nggak ada traktiran kamu, well, saya akan susah nulis konsisten. Klik tombol di bawah ini atau bisa langsung scan QR code gopay ya. Thanks!

Scan saya