Filsafat, Racauan, Workshop

Memperluas Pandangan Hidup

Salah satu hal yang paling menggaggu saya adalah perasaan bahwa saya kesepian, sendirian, atau bahwa saya subjektif sekali dan tidak ada kebenaran. Saya sadar bahwa ini adalah karena saya, dan kita semua, sebenarnya sangat terbatas cara pandangnya. Kita semua cuma punya satu sudut pandang: POV. Dan POV membuat kita punya titik buta dalam hidup, karena itu memori dan imajinasi dan struktur berpikir harus selalu kira pakai dan kita sempurnakan.

Kita semua hidup dengan POV (Point of View) dari dua mata kita. Akibatnya kita selalu punya titik buta. Titik buta memiliki beberapa konsekuensi yang berbahaya seperti egoisme, narsisistik, atau perasaan kesepian. Subjektif itu sudah bawaan lahir maka objektifitas adalah hal yang menarik untuk dibahas karena seperti kesempurnaan, tidak pernah ada objektifitas yang absolut. Untuk menjadi objektif kita perlu memori, imajinasi, dan struktur berpikir.

Memori kita pasti bercampur imajinasi. Karena ketika mengalami, kita hanya punya satu sudut pandang POV, maka untuk melengkapi memori itu kita memakai imajinasi kita tentang ruang, waktu, warna, cahaya, kata, bunyi. Akibatnya orang yang pikirannya sempit, referensinya kurang, imajinasinya terbatas, cenderung tidak bisa ingat dengan jelas apa yang terjadi pada hidupnya. Sulit untuk melihat hanya bermodalkan POV saja.

Maka imajinasi harus selalu kita kasih makan dan kita perkuat dengan referensi-referensi dari bacaan, tontonan, musik, dan pergaulan. Tapi ada yang harus diingat bahwa tanpa pengetahuan soal struktur atau cara berpikir, imajinasi yang terlalu kaya bisa membuat kamu jadi pembohong patologis, yaitu pembohong yang tidak sadar ia sedang bohong karena imajinasinya begitu kaya. Untuk menghindari itu kamu perlu ngerti gimana caranya bikin struktur pikiran yang logis.

Struktur adalah sebuah bangun yang dibentuk oleh sistem. Sistem adalah cara sebuah bangun bisa terbentuk. Misalnya strukturnta segitiga, sistemnya geometri garis dan sudut yang membentuk struktur itu. Dalam proses berpikir, harus selalu ada evaluasi soal konteks dan data untuk memakai imajinasi dalam menperkaya memori, agar memorinya hidup. Ibarat DNA dinosaurus di Jurrassic Part yang menggunakan DNA amphibi dan reptil untuk menyempurnakan strain yang hilang, imajinasi kita pakai untuk mengisi ruang-ruang kosong atau memperbaiki memori yang rusak.

Saya kasih sedikit contoh. Ada sebuah kalimat, “Saya pergi ke pasar membeli xxx untuk masak di rumah.” Kita lupa apa itu “xxx,” Maka kita cari dengan melacak konteksnya. Masak apa di rumah, apa saja yang jelas kamu ingat, siapa yang di sana. Kalau ternyata banyak yang kosong dan tidak kamu ingat, bisa jadi itu adalah mekanisme pertahanan otakmu tentang apa yang terjadi hari itu, yang bisa menimbulkan trauma atau perasaan nggak nyaman. Mungkin ada baiknya tidak usah diingat. Tapi kalau kamu seperti saya yang kepo, saya akan terus meneliti dengan cara tilas balik dalam tulisan, meditasi, membaca, dll. Saya nggak suka mendem-mendem.

Kita akan terus menyempurnakan ketiga hal itu sepanjang hidup kita sampai di masa prima kita di usia 40an, lalu hidup akan mulai terbalik dan menurun sampai kita menua dan mati. Tapi selama kita bisa meninggalkan memori dan memperkaya imajinasi orang lain semasa jaya kita, maka kita ikut untuk menyempurnakan peradaban yang tidak pernah sempurna.

***

Terima kasih sudah membaca sampai habis. Kalau kamu suka yang kamu baca, boleh lah bantu saya bayar website tahun ini dengan traktir saya kopi di sini:

Filsafat, Memoir, Racauan

Hidup Manual Lebih Baik daripada Matic

Pagi ini ada insiden: sebuah mobil Alphard yang kinclong dan baru menabrak tembok kosan saya dengan sangat parah, kecepatan tinggi, hingga bagian depanya hancur, cairan warna hijau keluar dari mobil, dan asap keluar dari mesin. Kejadian ini berlangsung dengan sangat konyol.

Saya hendak mengambil jemuran dari teras lantai dua, ketika saya lihat Alphard mewah sedang mundur untuk putar balik. Saya dengar alarm belakang mobil itu sudah bunyi cepat sampai melengking panjang menandai mobil sudah tidak bisa mundur. Tapi kenapa dia terus mundur saya bingung. Apa dia mabuk? Pelan-pelan bagian belakangnya menabrak tiang listrik sampai bunyinya seperti tulang remuk diremas besi pelan-pelan… “KRKKK… ” Ia baru mengerem. Dan kejadian selanjutnya begitu mengejutkan:

Tiba-tiba saja mobil itu ngegas dengan sangat cepat! Kencang sekali seperti melompat, dan sontak menabrak tembok di depannya. Seorang teman saya yang sedang lari pagi lewat di depan mobil itu bilang, “Takut ketabrak gue. “

Kawan saya berjalan menuju mobil yang mundur pelan-pelan. Bagian depan sebelah kanan hancur total. Asap keluar. Klaksonnya rusak terus berbunyi, membuat tetangga-tetangga pada keluar. Kawan yang hampir tertabrak mengarahkan supir supaya bisa melipir dan membuka jalan. Sambil klakson terus berbunyi, saya lihat supir itu berusaha memasukan balon keselamatan yang pastinya keluar dari setirnya. Ia lalu berkata keras-keras kepada semua orang yang berkumpul: “Gasnya terjepit sandal saya! ” Sulit dipercaya, dia panik karena bagian belakang menabrak tiang listrik, lalu ganti gigi dan langsung nabrak depan? Tidak masuk akal.

Tak lama setelah itu saya menuju kantor. Saya pikir, mungkin kalau mobil itu manual, kejadiannya tidak mungkin separah itu. Saya ingat Papa saya sangat anti mobil matic, karena hal-hal seperti ini. “Papa takut nggak bisa ngontrol. ” Yes, Pap. Bener juga. Kalo gigi 1, ngebut dikit lepas kopling pasti mati. Dan kalo kaki kanan kejepit, kaki kiri masih terbiasa injak rem. Tiba-tiba dalam 15 menit menuju kantor, saya berpikir soal hidup. Seperti lagi Drive oleh Incubus.

Tubuh kita tak lebih dari mesin biologis. Dan kita bisa belajar dari mesin, untuk memperpanjang waktu hidup kita dengan berkualitas. Tiap pagi dipanaskan, baru mulai bekerja. Jadi bangun tidur, jangan langsung kerja. Pemanasan dulu, relaksasi, baru… Tidur lagi… Maksud saya mandi lalu bekerja.

Seandainya jarak tempuh adalah pekerjaan dan tujuan adalah cita-cita, maka perjalanan kita dimulai dengan doa, dan digapai sedikit-sedikit saja sesuai kemampuan mesin kita. Setelah dipanaskan, kita mulai perjalanan kita.

Gigi 1, perhatikan rpm. Jangan ganti gigi sebelum rpm sampai ke angka 3 atau 4. Lambat memang, tapi tidak perlu juga ngesot dan drifting di awal-awal. Biarkan kita rasakan jalanan, ingat kapan ada polisi tidur, tanjakan, dan belokan.

Jangan lupa rem dan lihat kiri-kanan sebelum berbelok. Tujuan kita tidak pernah lurus, tapi sembarangan belok bisa berakibat fatal buat kita dan orang lain. Karena di luar sana selalu ada orang yang mulai lebih dulu dari kita dan bisa jadi sudah cepat. Menghalangi jalannya akan membuat kita ditabrak. Terdengar sederhana, tetapi sebenarnya sulit. Sulit untuk mengalah, apalagi kalau orang yang sudah ngebut itu slebor entah karena pengen cepat sampai karena mules, atau memang gila saja.

Tapi tak guna toh menyalahkan orang lain. Biarkan saja ia lewat seperti semua pikiran buruk dan pikiran jahat yang ada di belakang pikiran kita. Biarkan anjing-anjing menggonggong, gerombolan hyena lewat mengejar gerombolan rusa. Toh kita tidak sedang ikut berburu. Baru kita lanjutkan perjalanan, ketika sudah ada ruang buat kita. Sabarlah, ruang akan terbentuk. Dari kita lahir, kita toh sudah menyeruak keluar dari rahim dan menyerusuk masuk ke dunia.

Gigi 2. Cepat sedikit. Kasihan yang di belakang, tapi perhatikan di depan. Jika ramai, pertahankan gigi dua dan satu. Tidak guna gigi tiga jika kita harus berguncang-guncang di dalam. Ketenangan adalah tujuan utamanya. Usahakan ketika mengganti gigi, tidak terasa persneling kita pindah. Santai, sabar, injak kopling perlahan ketika kecepatan sudah stabil. Depan ada ruang, pindah gigi

Gigi 3. Percepat. Kasihan mereka yang di belakang kita sulit mengejar. Tapi jalan kota jakarta non-tol tidak begitu butuh gigi 4, santai saja di gigi 3. Kopling bisa mulai dilepas sampai lalu lintas mulai padat lagi. Jalan kecil berkelok-kelok juga tidak butuh gigi 4. Kita justru harus banyak rem, dan turun gigi. Hidup sesuai konteks. Tidak ada gunanya kebut-kebutan di jalan kecil lalulintas ramai.

Masuk jalan tol. Padat tapi tidak merayap. Naik gigi 4. Minimal 40 km/jam. Tingkatkan kecepatan ketika jarak sudah aman, 60 km. Jalanan mulai sepi dan panjang. Kecepatan 75. Pindah gigi.

Gigi 5, kecepatan stabil di 80 menuju 100, ambil lajur tengah menuju kanan untuk menyalip. Usahakan tidak lebih dari 100. Usahakan di tengah saja, tidak ambil kanan terus. Jangan melanggar aturan. Jangan menyalip dari kiri. Tapi kadang kita bisa bersnang-senang.

Jalanan lurus. Kosong. Sekali-sekali coba 120 km/jam, dengan kepercayaan mobil terawat baik. Power steering bagus. Rem bagus. Sebentar saja lalu kau lihat lengkungan jalan, lepas gas pelan-pelan, turunkan kecepatan. Menuju gerbang keluar tol, kembali ke gigi 4. 3. 2. 1. Netral. Berhenti. Bayar tol. Keluar dan kembali menanjak pelan-pelan. Masuk kembali ke kota. Kalem lagi.

Sampai di tempat tujuan. Gigi 1. Parkir reverse dengan berbagai macam tips dan trik spion dan manuver. Dengarkan alarm belakang jika ada. Perhatikan spion kiri-kanan dan dalam. Hingga semua baik-baik saja. Posisi gigi netral. Tarik rem tangan. Kamu sampai ke tujuan. Istirahat lalu kerja.

Kopling, gigi, menjaga tetap aman menjaga kecepatan dan kontrol. Kontrol yang didapat susah payah dengan mati-mati mesin, loncat-loncat, dan tabrak menabrak, serempet menyerempet. Paling tidak kalau kaki tersangkut gas, tapi gigi 1, kecepatan cuma di bawah 20 Km/jam. Bayangkan jika gas terinjak dan kaki terjebak sandal di mobil matic. Kaki kiri tidak biasa bekerja, rem tidak bisa ditekan, rem tangan pun dilupakan. Maka bisa jadi hidup kita akan berakhir buruk dengan sangat konyol. Seperti mobil Alphard pagi ini di depan kosan saya.

English, Filsafat, Memoir, Racauan

Irrelevance

If you could learn any skills, downloading knowledge, how do you work in the future?

The Fact is that you are no longer special, everybody can do what you do. Are you irrelevant?

Well yes and no.

Yes, if you enter the market competition. There will always be people cheaper than you, with more skill. Younger, better, faster, cheaper, you won’t stand a chance. You will lose and thus irrelevant.

No, if you collaborate with friends, colleagues and partners. Start making projects that you love, keep learning (or downloading) the skills that you need to make the project real. Community, solidarity, collaboration is the future.

Anybody could do what you do, but nobody could replace your social and political role. You are who you are not because of your skills, but because of your friends, family, and community.

Filsafat, Politik, Racauan

Manusia Era Pandemik

Akulah manusia era pandemik, gampang panik, sering manik, dan suka gimmick seperti film Tilik, aku suka bergidik, sosmed orang kukulik lalu aku sirik, tapi nggak suka dihardik balik. Oh, dan makananku organik, pesan online tinggal klik.

Kelasku menengah, sering jengah gampang gerah nggak mau pasrah dan paling suka marah. Kalau beragama, banyak orang kutuduh bid’ah, kalau tidak beragama banyak orang kutuduh jadah.

Internet duniaku, rumahku kantorku, smartphoneku terhubung dengan otakku. Demi cintaku aku rela jadi otaku, karena semakin kulihat mukaku semakin yakin aku oralaku. Mengejar standar aku tak mampu, cuma orang jelek yang mau padaku padahal tinggi Nian standarku, tapi itu bukan masalahku karena sekarang ada laptopku, ponselku lebih pintar dari aku, VPNku, VR ku, Vagina Palsuku, Vigelku, Vintage gameku, anti Virusku.

Anti Virusku online dan offline, orang bilang aku impoten, tidak berpotensi dan tidak keren, karena aku kurang ngetren, nggak punya fren, dan dibilang cemen. Padahal aku paling ngetren, karena sebelom PSBB diteken, isolasiku udah permanen.

Aku siap menyongsong masa depan yang kosong, karena bukannya sombong, lututku sudah kopong karena kebanyakan dipong artis dewasa nipong dari situs JAV odong-odong.

Kesepian tak jadi masalah, yang penting tak kena musibah. Gempa, tsunami, pandemi, gunung merapi, tak membuatku gelisah. Karena tiada musibah paling bikin resah, selain kuota dan sinyal wi fi yang musnah dari rumah.

*) kalau kamu suka sama apa yang kamu baca, Traktir gue kopi dong di bit.ly/traktirnosa. Biar gue bisa merasa bahwa ada yang baca dan dengerin aja jadi lebih semangat bikin. Heheheh…