Memoir, Racauan

Manusia itu Fiktif: Sapiens dan Ceritanya-ceritanya

Manusia sapiens adalah binatang bercerita. Diri mereka dibentuk oleh cerita, peradabannya adalah cerita. mereka hidup dalam cerita, dan menyumbang cerita. Cerita menjebak, cerita membebaskan, cerita merebak, cerita melegenda menjadi mitos, yang terinstitusi jadi agama, yang tidak terinstitusi menjadi dongeng belaka.

Lalu di sinilah kita, kawan. Dalam cerita-cerita yang seringkali tak ada logika. Cerita-cerita yang membangkitkan atau membunuh perasaan. Padahal apalah perasaan selain reaksi kimia dalam tubuh biologi kita. Cerita cuma berpengaruh kalo kita sensi saja.

Ada cerita kesedihan, dari Roman Picisan sampai kisah heroik. Ada cerita sederhana, tentang proyek yang gagal hingga kita saling marah dan bermusuhan. Ada kisah sukses, yang sebenernya selalu berakhir tragis jika saja diteruskan. Tidak ada happy dalam sebuah ending. Kaena bahagia dan kesedihan berputar-putar saja dalam sebuah siklus mood dan hormon. Kesuksesan atau tragedi bisa berasa bahagia atau sedih, tergantung obat apa yang ditelan.

Sekarang aku seperti mengerti banyak perasaan, dan dapat membuat naratif untuk membangkitkan perasaan-perasaan itu, dalam tulisan, dalam lagu, dan dalam film. Tapi di saat yang sama kadang aku merasa kebas karena perasaan-perasaan yang ada dalam naratif karya itu, akhir-akhir ini sulit untuk kurasakan jika aku berpikir logis. Bahwasannya, rasa, emosi, itu tak lebih dari interpretasi otak dan hormonku atas kenyataan, dan jika aku mau tidak terbawa, aku hanya perlu bernafas dengan teratur dan berpikir dengan terstruktur. Dan jika aku mau merasakannya, aku hanya perlu immerse ke dalam naratif tersebut.

Kemampuan untuk mengontrol emosi dan mood ku tidak serta-merta membuatku kurang manusiawi. Seperti orang autis atau psikopatik juga manusia. Merka hanya kurang empati.

Emosi dan rasa kini keluar kalo aku capek atau manic, dan aku langsung bisa tahu bahwa perasaan tidak enak, hadir dari dalam diriku, bukan dari luar. Tidak seru, dan aku butuh ketidakseruan itu. Karena keseruan seringkali bikin musibah saja.

Ini adalah racauan terbaruku yang menggunakan asosiasi bebas, untuk mengungkapkan pikiranku dan kucicil-cicil dalam waktu beberapa hari karena aku sedang sangat sibuk. Sibuk. Yang menyenangkan karena emosiku dan mood ku cukup terkendali dan konsisten buat bisa kerja sehari-hari. Semoga kamu pun begitu, optimis menyingsing tahun 2022.

Di tahun ini aku punya banyak rencana. Film panjang pertamamu ingin kuselesaikan sebagai produser. Lalu aku ingin bikon workshop gratis buat anak-anak muda termarginal. Aku juga sedang semangat belajar soal crypto dan NFT tapi tanpa punya keduanya. Kupikir crypto dan NFT bisa kuubah jadi produk budaya-finansial yang bisa bikin Seniman kita jadi kembali menjadi Seniman rakyat akar rumput. Tunggu tulisanku berikutnya soal hal ini.

Kalau kamu suka yang kamu baca sejauh ini, traktir aku kopilah. Jadi tulisan selanjutnya bisa lebih cepat keluar. Klik link ini.

English, Filsafat, Memoir, Racauan

Irrelevance

If you could learn any skills, downloading knowledge, how do you work in the future?

The Fact is that you are no longer special, everybody can do what you do. Are you irrelevant?

Well yes and no.

Yes, if you enter the market competition. There will always be people cheaper than you, with more skill. Younger, better, faster, cheaper, you won’t stand a chance. You will lose and thus irrelevant.

No, if you collaborate with friends, colleagues and partners. Start making projects that you love, keep learning (or downloading) the skills that you need to make the project real. Community, solidarity, collaboration is the future.

Anybody could do what you do, but nobody could replace your social and political role. You are who you are not because of your skills, but because of your friends, family, and community.

Filsafat, Politik, Racauan

Manusia Era Pandemik

Akulah manusia era pandemik, gampang panik, sering manik, dan suka gimmick seperti film Tilik, aku suka bergidik, sosmed orang kukulik lalu aku sirik, tapi nggak suka dihardik balik. Oh, dan makananku organik, pesan online tinggal klik.

Kelasku menengah, sering jengah gampang gerah nggak mau pasrah dan paling suka marah. Kalau beragama, banyak orang kutuduh bid’ah, kalau tidak beragama banyak orang kutuduh jadah.

Internet duniaku, rumahku kantorku, smartphoneku terhubung dengan otakku. Demi cintaku aku rela jadi otaku, karena semakin kulihat mukaku semakin yakin aku oralaku. Mengejar standar aku tak mampu, cuma orang jelek yang mau padaku padahal tinggi Nian standarku, tapi itu bukan masalahku karena sekarang ada laptopku, ponselku lebih pintar dari aku, VPNku, VR ku, Vagina Palsuku, Vigelku, Vintage gameku, anti Virusku.

Anti Virusku online dan offline, orang bilang aku impoten, tidak berpotensi dan tidak keren, karena aku kurang ngetren, nggak punya fren, dan dibilang cemen. Padahal aku paling ngetren, karena sebelom PSBB diteken, isolasiku udah permanen.

Aku siap menyongsong masa depan yang kosong, karena bukannya sombong, lututku sudah kopong karena kebanyakan dipong artis dewasa nipong dari situs JAV odong-odong.

Kesepian tak jadi masalah, yang penting tak kena musibah. Gempa, tsunami, pandemi, gunung merapi, tak membuatku gelisah. Karena tiada musibah paling bikin resah, selain kuota dan sinyal wi fi yang musnah dari rumah.

*) kalau kamu suka sama apa yang kamu baca, Traktir gue kopi dong di bit.ly/traktirnosa. Biar gue bisa merasa bahwa ada yang baca dan dengerin aja jadi lebih semangat bikin. Heheheh…

Filsafat, Politik, Racauan

Pelukis Tanpa Kelingking

horses2

Kau dan aku adalah debu-debu semesta. Kita begitu kecil dan tak berarti, maka kurasa kita harus menerima kenyataan ini. Semua hal yang kita anggap penting hari ini, dari agama sampai cinta, cuma dongeng belaka. Tenang saja, bahkan ketika kiamat datang, cuma kita yang mati, semesta jalan terus dan akhirat cuma ada di buku-buku dan artefak yang kita tinggalkan.

Baca lebih lanjut