Filsafat, Racauan

Kita Semua Berjudi, tapi Menang bukan Tujuannya

Ada anekdot di film Ballad of a Small Player (2025), arahan sutradara Edward Berger, tentang surga dan nerakanya penjudi. Dalam sebuah percakapan, disebutkan bahwa suatu hari seorang penjudi mati bunuh diri karena tidak pernah menang dan terlilit hutang, dan ia bangun lagi di sebuah Kasino, dimana ia selalu menang dan tidak pernah kalah. Ia bertanya pada bandar, apakah ini surga? Bandar menjawab, bahwa ini neraka.

Ya, kepastian kemenangan adalah neraka bagi penjudi. Karena keinginan menang, dalam teori penceritaan adalah sebuah desire atau hawa nafsu. Sebuah keserakahan yang tidak habis-habis. Tapi keserakahan atas apa? Uang? Bukan. Keserakahan atas taruhan dan validasi. Maka di sebuah dunia dimana seorang penjudi selalu menang, ia bukan lagi penjudi. Ia menjadi keniscayaan. Yang ia cari adalah excitement, sebuah tantangan, sebuah game. Yang ia incar adalah badai pertarungan norepinephrine dan dopamine. Norepinephrine memberikan sensasi tegang, khawatir, takut, stress, dan ketika menang, otak dibanjiri dopamine yang membuat bahagia setengah mati. Keduanya saling melengkapi, dan jika judi selalu dimenangkan, yang didapat adalah kebosanan.

Inilah kenapa manusia menjadi serakah. Kita bisa saja mapan dan stabil, tapi jika itu membosankan, tubuh kita akan selalu mencari yang baru. Bentuknya bermacam-macam korupsi, perselingkuhan, taruhan atau apapun yang memicu adrenaline. Seorang kawan perempuan saya ada yang sering menantang diri dengan olahraga ekstrim, supaya merasa “sedikit hidup”, setelah bekerja setengah mati untuk bisa jadi kaya. Live a little (more), cuma dimungkinkan kalau sudah lumayan mapan. Jika kamu miskin maka motivasimu untuk bertahan hidup saja dulu. setelah itu baru live a little more.

Masalah ada pada orang-orang yang punya trauma parah dan sudah biasa prihatin. Jadi seakan-akan kalau semuanya baik-baik saja, atau ia mulai punya penghasilan stabil, kawan baik, pacar cantik yang setia, ia merasa tidak pantas mendapatkannya karena pikirannya yang ‘nakal.’

Ini adalah sebuah distorsi kognitif karena permasalahan trauma berkepanjangan, yang membuat perubahan atau perkembangan menjadi mimpi buruk, sementara kemiskinan dan permasalahan hidup menjadi sesuatu yang dibiasakan sehingga ia punya alasan mengasihani diri dan lebih cepat menuju kematian. Ini adalah keputusasaan yang ingin dibawa mati. Ini sindrom yang biasanya terjadi pada orang-orang berusia menjelang 30 tahun. Jika sudah lewat 30 tahun dan masih seperti ini, mungkin ia late bloomer.

Kegalauan ini membuka pintu untuk club 27–mereka yang meninggal di usia 27 tahun. Sementara itu yang tetap hidup dan bertahan, kebanyakan bukannya hidup, tapi berhasil mati secara simbolik: membunuh mimpi-mimpi muluk untuk agar bisa mapan dulu, atau mengorbankan keinginan masa muda dengan menikah dan berkeluarga. Mati simbolik hari-hari ini jadi sesuatu yang mewah karena banyaknya tingkat bunuh diri, khususnya di kalangan anak muda.

Dengan banyaknya PHK, dan banyaknya fresh graduate yang jadi pengangguran baru, sementara lapangan pekerjaan tidak bisa menyerap karena AI sudah mengambil alih tugas-tugas remeh temeh, sementara yang muda belum punya modal atau skill untuk menjadi pengusaha atau manager, maka gelombang generasi emas ini bisa jadi senjata makan tuan. Kaum prekariat yang tak punya asuransi, atau gaji tetap merajalela dari usia menjelang 20 hingga 50 tahunan. Pengangguran tidak kentara. Sementara itu kredit macet di pinjol akan mulai menumpuk.

Tapi mari kita kembali ke perjudian sebagai sarang norepinephrine dan dopamine tadi. Dalam masa susah, sewajarnya kita khawatir. Otak manusia, yang berevolusi untuk bertahan di hutan dan gurun, tidak pernah benar-benar siap menghadapi bentuk-bentuk ketidakpastian modern — inflasi, algoritma, tender proyek, atau sekadar notifikasi bank yang tak kunjung berbunyi. Motivasi utama dalam masa seperti ini adalah bertahan hidup: menjaga agar keluarga tetap aman, agar kolega dekat tidak tenggelam bersama kita. Semua kembali ke uang, ke angka, ke perasaan bahwa hidup bisa dikendalikan. Survival mode. Dalam mode ini, yang pertama kali harus dibunuh adalah rasa malu untuk mengakui bahwa kita kalah. Ketika rasa malu itu sudah tidak mengganggu, kita bisa mulai meminta bantuan orang untuk berkonsolidasi.

Namun jika kita berhenti di sana, kita hanya akan menjadi bagian dari eksperimen besar biologi dan kapitalisme. Ketika tubuh dipenuhi hormon stres, kita butuh penyeimbang yang bukan berasal dari luar. Di sinilah motivasi internal bekerja: kreativitas. Ia bukan sekadar kemampuan membuat hal baru, tapi juga cara tubuh mengembalikan keseimbangannya. Untuk bisa bertahan, kita harus masuk ke dalam mode flow — keadaan di mana kecemasan dan hasrat menyatu dalam fokus yang tajam. Di situ, waktu melengkung. Pikiran berhenti berlari ke masa depan dan mulai memecahkan masalah hari ini, secara objektif dan imajinatif. Di situ pula muncul rencana, bukan sekadar doa atau keinginan, melainkan skema konkret yang bisa dijalankan dengan seluruh kemampuan yang tersisa.

Yang perlu diperhatikan dalam mode flow adalah, mode ini memungkinkan manusia menembus dimensi ruang dan waktu–karena waktu bisa menjadi sangat cepat atau sangat lambat, tergantung seberapa jauh flow pikirannya difokuskan. Perlu ada mekanisme kontrol dan fokus yang paling awal, flow yang paling penting untuk dikerjakan adalah perencanaan problem solving: menata masalah dan membuat urutan masalah mana duluan yang harus diselesaikan. Ini tidak bisa dilakukan dalam survival mode dimana setiap detik dan setiap hari dipakai untuk bertahan. Cari cara untuk punya waktu keluar dari sana, dan cari bantuan: psikolog, support group atau pasangan.

Maka tulisan ini berakhir, setelah tanpa sadar saya masuk ke dalam flow selama satu jam lebih yang tak terasa: membaca dan menonton video youtube untuk menulis ini, dan membuktikan bahwa mode berpikir ini bisa dilakukan–tinggal cari cara bagaimana melakukannya dengan lebih efisien dan efektif, dengan norepinephrine dan dopamine yang seimbang.


Terima kasih telah membaca sampai habis. Website ini jalan dengan sumbangan, iklannya tak menghasilkan, dengan lisensi Creative Commons, Atribution, Non commercial. Kamu boleh pakai konten ini selama memberikan link sumber dan bukan untuk tujuan komersial. Kalau kamu suka dengan yang kamu baca, silahkan traktir saya kopi murah.

Filsafat, Meditasi Tulis, Racauan

Cogito Ergo Tutus Sum

Mungkin selamanya aku akan dikutuk untuk menjadi sendirian di alam pikiranku. Tempat teraman, menurut Plato hingga Sartre, untuk menjadi bebas sebebas-bebasnya. Dengan atau tanpa konsep, alam pikiran menawarkan lapisan-lapisan kesadaran, yang pada batas tertentu, menghilangkan hubungan dengan dunia nyata sama sekali. Itulah alam tidak sadar, yang hadir sebagai mekanisme ketika penderitaan hidup dan dunia fisik, tidak lagi terperi.

Untuk mencapai tingkatan itu, jika di luar pilihan kita, disebut pingsan atau koma. Koma, tidak mati (titik), hanya bersambung. Jika kita bisa mengaksesnya dengan pilihan, berarti kita berhasil mencapai tahap meditasi yang tinggi. Seperti biksu Tibet yang membakar diri sambil meditasi untuk menunjukkan protesnya, hingga fisiknya mati terbakar.

Alam bawah sadar yang diakses dengan pilihan, bukan berarti rasa sakitnya hilang. Justru sebaliknya, rasa sakitnya diterima, bisingnya dunia, semua tekanan, diterima tapi reaksi terhadap semua itu hanya ritme nafas. Fokus yang tinggi hingga bisa memperlambat nafas, denyut jantung, hingga peredaran darah, seperti orang koma/mati suri.

Pendekatan lain adalah pendekatan meditasi dicampur kreatifitas abstrak, dan hiperfokus. Subjek membuat sebuah dunia atau istana yang sangat kompleks di dalam pikirannya, hingga ia tidak butuh lagi kenyataan. Dalam banyak kasus, kondisi ini tidak terkontrol dan menyebabkan subjek menjadi katatonik. Dalam kasus lain, yang terkontrol, subjek biasanya akan kecanduan dan mencari cara untuk meng-enhance pengalamannya, dengan campuran zat kimia, misalnya.

Apapun caranya, dunia di dalam pikiran itulah dunia spirit, dunia abstrak, arwah, Tuhan, Setan atau sang tiada bersemayam. Manusia berusaha mencapai dengan ibadah, narkoba, meditasi, atau bunuh diri. Dunia narsistik yang menawarkan kebebasan tanpa batas yang pada hakikatnya juga tetap terbatas oleh referensi, pengalaman, dan ingatan genetik.

Tapi ada banyak teori lain yang masuk akal, khususnya soal bagaimana kenyataan sebenarnya juga bagian dari alam pikiran dan bukan sebaliknya. Bayangkan jika seandainya pikiran kitalah, secara kolektif yang membuat kenyataan. Bahwa ketika orang lain jahat, dia adalah bagian dari diri kita. Bahwa bencana alam, perang, wabah adalah bagian dari diri kita. Jika ini benar, maka tak ada tempat kabur, kecuali kita bisa mengontrol penuh pikiran kita.

Dan pada tahap paling tinggi, mengontrol pikiran bisa berarti mengontrol dunia fisik. Dari mulai nafas, ke denyut nadi, ke hipnosis diri, hipnosis orang lain, hipnosis massal, persuasi, agitasi, revolusi….

Ah, sudah lah. Lelah berpikir besar. Mari masuk ke dalam diri saja. Mikrokosmos. Atur nafas. Pejamkan mata. Terima semua kekacauan. Biarkan berlalu. Biarkan berlalu. Biarkan berlalu.


Terima kasih telah membaca sampai habis. Website ini jalan dengan sumbangan, iklannya tak menghasilkan, dengan lisensi Creative Commons, Atribution, Non commercial. Kamu boleh pakai konten ini selama memberikan link sumber dan bukan untuk tujuan komersial. Kalau kamu suka dengan yang kamu baca, silahkan traktir saya kopi murah.

Filsafat, jurnalistik, Kurasi/Kritik, Memoir, Politik, Racauan

Gerakan Sosial Indonesia: Dari Tritura ke Era Algoritma

Sejarah Indonesia setelah 1945 bisa dibaca bukan hanya sebagai sejarah negara, tetapi sebagai sejarah rakyat yang berulang kali mengguncang fondasi kekuasaan. Gerakan sosial besar pasca-kemerdekaan selalu lahir dari pertemuan antara aktor, ideologi, medium, dan kebudayaan. Dari pamflet dan spanduk hingga hashtag dan AI generatif, cara rakyat berorganisasi terus berevolusi.

Yang berubah adalah bahasa zamannya. Yang tetap sama adalah kerentanan negara menghadapi energi sosial yang tak bisa dipetakan.


1950–1965: Era Kaum Ideologi

Indonesia muda diisi oleh partai-partai besar yang menguasai ruang publik: PKI dengan Lekra-nya, PNI dengan nasionalisme Sukarnois, serta HMI dan NU dengan Islam politik. Mahasiswa adalah aktor penting, menjadi perantara antara elite partai dan masyarakat kota.

Medium utama gerakan adalah pamflet, koran partai, dan radio. Imajinasi kolektif dibentuk lewat sastra realisme sosialis, lagu rakyat, dan retorika revolusi. Pada masa ini, ideologi diperlakukan seperti algoritma manual: diyakini bisa memetakan jalan revolusi dengan pasti.


1966: Tritura dan Gerakan Moral Mahasiswa

Ketika inflasi melambung dan kepercayaan publik pada Sukarno runtuh, mahasiswa kota tampil dengan Tri Tuntutan Rakyat: bubarkan PKI, rombak kabinet Dwikora, turunkan harga.

Gerakan ini sederhana, moralistik, dan mudah ditangkap. Tiga tuntutan yang mereduksi kompleksitas bangsa menjadi format yang ringkas—sebuah bentuk awal “datafikasi politik.” Mahasiswa menjadi wajah moral bangsa, meskipun hasil akhirnya adalah naiknya Orde Baru yang kemudian membungkam mereka sendiri.


1998: Reformasi

Tiga dekade kemudian, krisis moneter menghancurkan legitimasi Orde Baru. Mahasiswa kembali jadi aktor utama, tetapi kali ini mereka tak sendirian. Buruh, LSM, jurnalis, dan jaringan internasional ikut menopang.

Mediumnya berubah: bulletin fotokopian, radio kampus, telepon rumah, hingga televisi swasta yang menyiarkan mahasiswa menduduki gedung DPR. Budayanya pun bergeser: jeans belel, musik indie, forum kos-kosan. Ideologi tak lagi dominan; tuntutan lebih pragmatis: demokratisasi, anti-KKN, dan mundurnya Soeharto.

Hasilnya jelas: rezim jatuh. Namun oligarki lama tetap berakar, hanya berganti wajah dalam demokrasi liberal.


2019–2020: Reformasi Dikorupsi & Omnibus Law

Dua dekade setelah Reformasi, generasi baru turun ke jalan. Isunya: RUU bermasalah, pelemahan KPK, dan Omnibus Law.

Aktor kali ini adalah mahasiswa, aktivis digital, dan influencer. Mediumnya: Twitter, Instagram, meme, livestream. Budayanya: kopi susu literan, totebag, sneakers, ilustrasi digital. Gerakan ini bersifat interseksional—menggabungkan feminisme, lingkungan, anti-oligarki, dan hak minoritas.

Namun, fragmentasi isu membuat tuntutan sulit dipadukan. Negara beradaptasi dengan cara baru: buzzer, framing media, dan UU ITE. Solidaritas lahir, tapi algoritma platform ikut menentukan siapa yang viral dan siapa yang tenggelam.


2025: Gerakan Algoritmik

Hari ini, protes kembali mengguncang. Dipicu oleh isu tunjangan DPR yang dianggap berlebihan, dan tragedi Affan Kurniawan—pengemudi ojek yang meninggal tertabrak kendaraan taktis polisi.

Aktor gerakan meluas: mahasiswa, pekerja kreatif, sopir ojek online, ibu-ibu pengguna WhatsApp. Simbolisme organik muncul: palet warna hijau–pink, hijab pink Bu Ana, angka “17+8” sebagai mnemonic tuntutan. Estetika digital menjadi bahasa solidaritas.

Di sisi lain, negara pun tidak tinggal diam. Dari PAM Swakarsa kini bertransformasi menjadi buzzer, influencer sewaan, hingga cyber troops dengan analisis sentimen otomatis. AI bukan lagi sekadar alat, tapi aktor politik.

Di pihak gerakan: AI dipakai untuk membuat poster, infografik, voice-over, dan strategi kampanye.

Di pihak negara: AI dipakai untuk pengawasan, disinformasi, dan framing digital.


Arena politik bukan lagi sekadar jalan raya, tetapi server dan model AI yang saling berkompetisi.



Kesimpulan: Dari Ideologi ke Algoritma

Jika ditarik garis panjang, gerakan sosial Indonesia berevolusi:

1950–1965: ideologi sebagai algoritma manual.

1966: moralitas mahasiswa dengan tuntutan sederhana.

1998: pragmatisme kolektif menjatuhkan rezim.

2019–2020: estetika digital, solidaritas algoritmik.

2025: AI sebagai aktor baru, mengubah format tuntutan dan cara represi.


Negara tetap konsisten dengan satu hal: represi, propaganda, dan adaptasi setengah hati. Rakyat pun tetap konsisten dengan satu hal: menemukan bahasa zamannya untuk menuntut perubahan.

Hari ini, bahasa itu adalah algoritma dan AI. Bukan lagi Tritura, bukan lagi bulletin fotokopian, tetapi perang antar-narasi yang dipercepat mesin.

Dan pola paling logis dari semua ini bukan revolusi instan, melainkan tekanan berulang yang menghasilkan koreksi kelembagaan. Demokrasi Indonesia akan dipaksa menyesuaikan diri, bukan oleh satu manifesto tunggal, tapi oleh jutaan sinyal, hashtag, dan citra digital yang dikurasi algoritma—dan kini, ikut ditulis oleh AI.

Filsafat, Politik, Racauan

PBB, nunggu aja kau. Pasang badan lah.

Apa gunanya ada PBB kalau tiap kali dunia keos, dia cuma gelar rapat darurat, sambil bilang “kami prihatin,” terus pulangnya makan malam, update press release, dan tidur nyenyak di hotel bintang lima, sementara Gaza gosong, Ukraina beku, Rohingya hanyut, Sudan meledak, dan dunia…


Ah dunia, dunia cuma nonton, karena yang punya veto adalah lima kepala negara brengsek yang kepentingannya kayak gede-gedean k*ntl.


PBB itu mirip bapak-bapak RT yang kaget warganya digrebek warga lain.
Waktu udah ribut, baru dateng terus bilang “tenang dulu, musyawarah,”
Terus mundur teratur pas tahu pelakunya punya backing, punya duit, punya senjata,
dan korbannya cuma gak punya apa-apa. Tokai.

PBB bahkan ga punya hak untuk ikut campur, bahkan lebih keren aktivis yang ditangkep Israel dan dibuang atau dibunuh. Greta Thunberg dipaksa pulang naik pesawat yang ia sumpah gak mau naik.


Yang bisa kita andalkan cuma sistem yang diciptakan untuk gagal,
dirancang untuk diam, dibentuk oleh trauma kolonial dan kepentingan kapital,
tapi dibungkus bendera biru biar kelihatan netral.


Mereka bilang: “PBB itu peacekeeper, bukan peacemaker.”
Wah, canggih bener main katanya.
Jadi kalau ada perang, dia jagain garis, bukan nyetop peluru.
Dia kasih tenda, bukan nyetop rudal.
Dia kirim pasukan dari negara-negara miskin,
suruh jagain konflik yang diciptakan negara-negara kaya.

Terus negara-negara miskin (baca: Indonesia) bangga gitu ngirim pasukan perdamaian yang damai beut.


Dan lucunya, gue masih berharap, lagi.
Masih nonton youtube Sidang Umum kayak sinetron politik.
Masih tepuk tangan pas pidato Palestina digoreng jadi puisi.
Padahal besoknya, veto mendarat dari Washington,
karena senjata yang ngebom anak-anak itu buatan Boeing dan Lockheed Martin.
Dan AS, sobat lama Israel, bilang: “Kami mendukung hak membela diri,”
padahal yang mati semua belum 10 tahun giginya masih susu.

Dan di situ PBB berdiri.
Kayak guru PKN yang tahu siapa yang mukul duluan,
tapi nggak bisa ngasi nilai merah karena anaknya donatur sekolah, anjir.


Apa lo kira PBB bakal nyelametin kita kalau besok meledak?
Kalau Indonesia diganyang, paling kita bikin live tiktok aja.


PBB baru kirim tim investigasi kalau jumlah mayat udah melebihi standar empati.
Kalau ada drone bom, minyak, sorotan kamera dan proyek rekonstruksi.


Tapi gue juga bingung sih. Kita hina PBB, tapi kalau dia bubar, siapa yang ganti?
NATO? BRICS? ASEAN yang sibuk ngurus kuliner dan kutuk mengutuk Israel?

PBB dia nggak pernah diniatkan berhasil, bangsa-bangsa yang mau disatukan ini kek mana? Egois semua. Jaman covid aja lama beut kerjasamanya. Tapi yaudah ditunggu aja bantuan makanan sama infrastrukturnya. Tukang nyebokin aja dia orang, sama kayak USAID yang dibubarin Donal Bebek.


Terima kasih telah membaca sampai habis. Website ini jalan dengan sumbangan, iklannya tak menghasilkan, dengan lisensi Creative Commons, Atribution, Non commercial. Kamu boleh pakai konten ini selama memberikan link sumber dan bukan untuk tujuan komersial. Kalau kamu suka dengan yang kamu baca, silahkan traktir saya kopi murah.