Cinta, Eksistensialisme, Puisi

Lalu

Kita masing masing
sudah menderita

Sendiri-sendiri kita ratapi sepi
pergi dengan beban di pundak
menjauh dari mereka yang teriak
serak sedih berarak

Aku tidur di mobilku, karena aku pengecut

dan kau, seperti biasanya sedang berpindah
dengan ransel yang penuh ransum
kau pergi tinggalkan ia yang membisu

cinta di persinggahan bimbang membeku
minta kau ikut mati dalam waktu

*

Di persimpangan kita bertemu
aku dan mobilku
kau dan ranselmu
lalu kita mulai perjalanan ini
dimulai dari sebuah lagu
dan ciuman menggebu

Telah kita tukar jiwa kita
pada setan untuk sebuah blues
lima purnama berlalu di perjalanan
melewati malam-malam penuh rahasia

Dari motel ke motel di rute 66
menuju entah kemana kita buat cita-cita
karena kita jatuh cinta pada malam

Di pinggir pantai yang mistis
kita sadar ada yang menghantui
monster bermata hijau di pundakku
dan ceruk yang dalam di hatimu

Kita berdua dihantui sepi yang bersembunyi di dalam hati

“Ketika nanti, kau sudah tidak dihantui
mau kah kau mengulang dari nol bersamaku?
Aku akan jadi orang yang berbeda, apa kau masih akan tertarik?”
katamu.

“Kalau kau orang yang berbeda,
apa masih ada untukku cinta?”
kutanya.

“Aku tidak tahu.”

Dan kita kembali berjalan
untuk terakhir kalinya
dua motel mengantar kita
dua botol anggur
diskusi filsafat
dan senggama kesumat
hingga matahari terbit kita menguap
aku ke peraduan yang pengap
kau ke jalanan yang gelap

**

Semakin hari
semakin lupa aku padamu
lupa membuat rindu semakin membara
karena yang kucinta menjadi lara
bukan lagi manusia biasa

kau siapa, aku tak lagi kenal
tapi tak berkurang semua yang terkenang

Hai orang asing,
aku cinta padamu
pulanglah kau padaku.