English, Memoir, Racauan, Uncategorized

When I Leave

I know I can be hard. So I thank you for staying. But I understand those who left or if you want to leave, since… I can be hard.

Who would bear the circling uttered words of meaningless anxiety, the reckless raging action, the inconsistency of commitment, the constant change of plans, the tender love turn to harsh possessiveness, the lust for betrayal, and the suicidal threat that endangered everyone around me.

No love in the world could manage to constantly stay to something like that. Not even love for one self. If I could, darling, I’d leave myself for good. But one cannot leave one self. One can just stay and live, or leave and die. And you, all of you who come and go, made me live and suffer. And taste a little bit of happiness. And for that I thank you. For that, I love you.

Some of you who stays, hurt me with your love and your disappointment in me, for I cannot be what you wished me to be. And with that, I hurt you back. I used to be sorry for that, but that guilt made me worse. So I have to say, sorry that I am not sorry. I am not sorry for failing your expectation, I am not sorry for hurting your feelings, for breaking promises, for being a bad son, husband, brother, cousin, nephew, colleague, friend, lover. Since I know for sure, and you know for sure too, that I am not always bad. And these days when I am bad, it is never intentional. You can either understand and cope with me in facing my symptom, or you are free to leave. I will be okay.

I will be okay since you will not be the first ones who leave, and will not be the last. I left some people too for my own sake, and I will not hesitate to leave you,

for my own sake.

So do take a break. Hell, do shut your life from me for good.

Because…

You. are. important. to. yourself.

And don’t worry about me. I’ll be okay. I’ll be better off knowing you’re okay without me, than having you around and realizing how much I have been hurting you.

I’ll have my attacks when I don’t know whether you’re okay or not. Sometimes I wonder why’d you leave me and I go berserk. But then I remember again that I also want to leave me. So I laugh, and cried. And I bid you farewell, and wish you a wonderful life without me.

And I hope those who stay can understand that too, when I leave.

Don’t worry, I’m not gonna kill myself again. That ship has sailed. I’m gonna kill somebody else who pissed me off on the road. Haha. I’m kidding.

See ya. Or not.

English, Memoir, Racauan, Uncategorized

Handwriting and Thought-wringing

So I have to get back to a point where it all started, the roots of all my problem: myself, deep inside. I have to re-learn things, this time with more precaution and slower pace. So I will get back to handwriting. Some of the things in my notes people will never see, some I will transcribe here after a deep thought.

Healing is not enough. I have to reconstruct and be honest to myself. I have to accept the fact that people have free will, and so do I. Consent must be respected, discontent discontinued by disregarding regrets.

And so I bid you adieu for this chapter of my life, and welcoming you to a phase of waiting. You will meet me again, as the same person but older and hopefully wiser.

A few projects ahead: I am producing a new horror series for Youtube, composing new songs for my solo (or probably duo) album, and getting back to writing literature.

Some people I know choose not to produce. They are waiting for some sort of muse or something, or a good time that, heck, will never come. I pushed enough to make these people make something out of their miserable life, that I forgot how miserable I am. Fortunately I am blessed with this melancholy and energy to create. So fuck you bystanders, I ain’t gonna wait. You can wait all you fucking want. I’m doing this, secretly, daily, until the day I decided to end my life.

A plan is a plan after all. Without acting, even nothing will refuse to exist.

 

Memoir, Racauan

Kerja adalah Hidup

“Tahu apa yang kau mau itu tidaklah normal”
—-Jack Ma

Permasalahan umum banyak orang adalah untuk tahu mau apa sebenarnya kita dalam hidup. Orang mencari makna besar hidupnya, dan biasanya yang termudah pemaknaan itu diberikan oleh struktur-struktur yang sudah ada dan jadi, seperti agama ataupun keluarga. Agama memberikan sebuah makna bahwa hidup harus digunakan sebaik-baiknya untuk dunia setelah mati. Sementara keluarga biasanya memberikan referensi-referensi pada seseorang untuk jadi seperti apa: keluarga PNS ingin anaknya jadi PNS, keluarga seniman ingin anaknya jadi seniman, keluarga polisi ingin anaknya jadi polisi (atau menikah dengan polisi), dan seterusnya. Dua jalur tadi, agama dan keluarga, menentukan jalur hidup kebanyakan orang. Karena kebanyakan orang tidak tahu maunya apa di dunia ini, maka pilihan yang sudah jelas adalah pilihan teraman, dengan koneksi dan doktrin sosial yang sudah jadi.

Dan menjadi tidak tahu, ikut arus, adalah normal. Yang tidak normal adalah tahu pasti mau jadi apa di usia yang sangat muda. Ini bisa jadi jenius, bisa juga jadi bodoh. Lalu bagaimana caranya mencari kerja, yang bukan sembarang kerja? Kerja yang kita suka yang membuat hidup kita cukup, syukur-syukur bisa kaya?

Pertama, yang terpenting singkirkan dulu definisi kerja untuk memenuhi kebutuhan hidup, walaupun sesungguhnya itu esensinya. Coba kita pikirkan kerja secara eksistensial, yang mendefinisikan diri kita. Ketika kita kenalan sama orang kita selalu bawa-bawa kerjaan thoh? Nosa, videographer; Nyoto, politisi komunis; Jonjin, Karyawan; Atun, artis; dll. Tapi coba lihat di kehidupan, apakah yang mendefinisikan hidupmu? Pekerjaanmu atau pola konsumsimu?

Kalau pekerjaanmu mendefinisikan hidupmu, kemungkinan kau sudah dapat apa yang kau mau. Pekerjaanmu bisa kau kontrol, dan kau suka dan kau jago melakukannya. Kau adalah seorang profesional. Tapi kalau kau bekerja untuk memenuhi pola konsumsi, belanja yang tak ada habisnya, hingga kau merasa lelah dan tak suka pekerjaanmu, itu masalah. Kontrol pola konsumsimu, menabung, lalu carilah pekerjaan lain.

Kedua, berhenti dengarkan orang lain tentang apa yang harusnya jadi pekerjaan idealmu, kau coba saja ikuti orang yang sedang menjalani pekerjaan idealnya. Kerjalah dibawah orang yang sedang berjuang dalam pekerjaan yang mendefinisikan hidupnya. Jalurmu nantinya tidak perlu sama seperti jalurnya, tapi kau akan tahu rasanya berjuang, apalagi kalau umurmu antara 20-30 tahun. Ini saatnya ikut-ikut orang hingga akhirnya kau sendiri yang menjadi pejuang.

Ketiga, dengarkan anak kecil penasaran di dalam jiwamu untuk mencoba-coba segala macam skill, pekerjaanmu adalah sebuah kerja yang panjang, menderita, melelahkan, tapi kau kuat melakukannya karena rasanya seperti bermain.  Kalau pekerjaan ini tidak menghasilkan uang, maka carilah pekerjaan lain yang menghasilkan uang, lebih mudah, dan memberikanmu waktu untuk melakukan perkerjaan kesukaanmu. Jadikan pekerjaan kesukaanmu tujuan hidupmu, cita-cita pensiunmu. Maka, kau akan bahagia—nggak sih bohong, nggak ada orang yang akan benar-benar bahagia seperti nggak ada yang akan benar-benar sedih juga. Intinya, kau jadi punya hiburan yang produktif di hidupmu.

Ini bukan tulisan how-to atau nasihat. Ini adalah sebuah catatan untuk diri saya sendiri karena saya sudah dan sedang melakukannya. Nanti saya akan berbagi hasilnya, tapi so far sih so good. Karena saya menemukan dalam hidup saya hari ini, bahwa satu-satunya yang bisa saya kendalikan adalah pekerjaan saya, melebihi kesehatan, keluarga, apalagi nyawa.

Tabik.