Musik, Portfolio, Uncategorized

Seorang Pelacur dan Dua Anaknya

 

Hujan yang turun terserap ke dalam buminya
Membuncah di bawah menghidupi dunia
Tapi di kota ini tanah tanah telah buta
Tertutupi aspal dan segala istana

Bunda, dimanakah rumah kita
Semua yang pernah terbangun dalam cerita
Pulang menuju ke gelap malam
Adikku tertidur di trotoar jalan

Bising desing mesinnya meninabobokkan
Tapi kutahu bunda tak pernah terlelap
Malam-malam temaram jahanam mencekam
Membawa bunda ke lorong-lorong mendekam

Bunda, mendesah mengerang sayang
Jahanam mencekik, menampar, bernafas parau
Uang sepeser untuk setetes
dan bunda kembali untuk merangkul kami

terusir selalu ke pinggir
tiada makna terpikir
tergusur lalu terkubur
terhapus tanpa mengabur

 

Film/Video, Portfolio, Uncategorized

Cream Scene: Sebuah Komedi Perkosaan

Workshop film MondiBlanc berhasil membuat satu film lagi, yang sayangnya baru akan tayang di youtube setelah selesai ikut festival-festivalan. Film ini ditulis dan disutradarai oleh Agung Setiawan, asisten pengajar di Departemen Filsafat Universitas Indonesia dan saya produseri sendiri. Didukung oleh musik dari band indie Amerika Pimpstrut Local #13 dan band indie lawas Indonesia, Hamba Allah.

Satu menit trailer ini sudah akan mengatakan banyak. Feminis biasanya akan marah melihat wacana eksploitasi seksual, apalagi ketika pemerkosaan dijadikan becandaan. Tapi semoga untuk film ini, tidak begitu. Karena pemerkosaan dalam film ini pun menandung unsur-unsur ketidaksengajaan (ups, spoiler).

Silahkan ditonton trailernya.

Buku, Kurasi/Kritik, Moral Bengkok, Prosa, Uncategorized

A.A. Navis: Robohnya Surau Kami

blogger-image-1147884445
Foto: petunjukzaman.blogspot.co.id

Cerpen ini saya publikasikan dari buku kumpulan cerpen berjudul sama, tulisan salah satu sastrawan Indonesia favorit saya, Haji Ali Akbar Navis*. Di saat dimana orang-orang Muslim banyak yang merasa yakin tindakannya akan membuatnya masuk surga, dan lupa pada introspeksi diri, cerpen ini saya rasa sangat relavan. Mari kita baca (lagi). IQRA!

***

Kalau beberapa tahun yang lalu Tuan datang ke kota kelahiranku dengan menumpang bis, Tuan akan berhenti di dekat pasar. Maka kira-kira sekilometer dari pasar akan sampailah Tuan di jalan kampungku. Pada simpang kecil ke kanan, simpang yang kelima, membeloklah ke jalan sempit itu. Dan di ujung jalan nanti akan Tuan temui sebuah surau tua. Di depannya ada kolam ikan, yang airnya mengalir melalui empat buah pancuran mandi.

Dan di pelataran kiri surau itu akan Tuan temui seorang tua yang biasanya duduk di sana dengansegala tingkah ketuaannya dan ketaatannya beribadat. Sudah bertahun-tahun ia sebagai garin, penjaga surau itu. Orang-orang memanggilnya Kakek.

Sebagai penjaga surau, Kakek tidak mendapat apa-apa. Ia hidup dari sedekah yang dipungutnya sekali se-Jumat. Sekali enam bulan ia mendapat seperempat dari hasil pemungutan ikan mas dari kolam itu. Dan sekali setahun orang-orang mengantarkan fitrah Id kepadanya. Tapi sebagai garin ia tak begitu dikenal. Ia lebih di kenal sebagai pengasah pisau. Karena ia begitu mahir dengan pekerjaannya itu. Orang-orang suka minta tolong kepadanya, sedang ia tak pernah minta imbalan apa-apa. Orang-orang perempuan yang minta tolong mengasahkan pisau atau gunting, memberinya sambal sebagai imbalan. Orang laki-laki yang minta tolong, memberinya imbalan rokok, kadang-kadang uang. Tapi yang paling sering diterimanya ialah ucapan terima kasih dan sedikit senyum.

Tapi kakek ini sudah tidak ada lagi sekarang. Ia sudah meninggal. Dan tinggallah surau itu tanpa penjaganya. Hingga anak-anak menggunakannya sebagai tempat bermain, memainkan segala apa yang disukai mereka. Perempuan yang kehabisan kayu bakar, sering suka mencopoti papan dinding atau lantai di malam hari.

Jika Tuan datang sekarang, hanya akan menjumpai gambaran yang mengesankan suatu kesucian yang bakal roboh. Dan kerobohan itu kian hari kian cepat berlangsungnya. Secepat anak-anak berlari di dalamnya, secepat perempuan mencopoti pekayuannya. Dan yang terutama ialah sifat masa bodoh manusia sekarang, yang tak hendak memelihara apa yang tidak di jaga lagi. Dan biang keladi dari kerobohan ini ialah sebuah dongengan yang tak dapat disangkal kebenarannya. Beginilah kisahnya.

Sekali hari aku datang pula mengupah Kakek. Biasanya Kakek gembira menerimaku, karena aku suka memberinya uang. Tapi sekali ini Kakek begitu muram. Di sudut benar ia duduk dengan lututnya menegak menopang tangan dan dagunya. Pandangannya sayu ke depan, seolah-olah ada sesuatu yang yang mengamuk pikirannya. Sebuah belek susu yang berisi minyak kelapa, sebuah asahan halus, kulit sol panjang, dan pisau cukur tua berserakan di sekitar kaki Kakek. Tidak pernah aku melihat Kakek begitu durja dan belum pernah salamku tak disahutinya seperti saat itu. Kemudian aku duduk disampingnya dan aku jamah pisau itu. Dan aku tanya Kakek,

“Pisau siapa, Kek?”

“Ajo Sidi.”

“Ajo Sidi?”

Kakek tak menyahut. Maka aku ingat Ajo Sidi, si pembual itu. Sudah lama aku tak ketemu dia. Dan aku ingin ketemu dia lagi. Aku senang mendengar bualannya. Ajo Sidi bisa mengikat orang-orang dengan bualannya yang aneh-aneh sepanjang hari. Tapi ini jarang terjadi karena ia begitu sibuk dengan pekerjaannya. Sebagai pembual, sukses terbesar baginya ialah karena semua pelakupelaku yang diceritakannya menjadi model orang untuk diejek dan ceritanya menjadi pameo akhirnya. Ada-ada saja orang-orang di sekitar kampungku yang cocok dengan watak pelakupelaku ceritanya. Ketika sekali ia menceritakan bagaimana sifat seekor katak, dan kebetulan ada pula seorang yang ketagihan menjadi pemimpin berkelakuan seperti katak itu, maka untuk selanjutnya pimpinan tersebut kami sebut pimpinan katak.

Tiba-tiba aku ingat lagi pada Kakek dan kedatang Ajo Sidi kepadanya. Apakah Ajo Sidi telah membuat bualan tentang Kakek? Dan bualan itukah yang mendurjakan Kakek? Aku ingin tahu. Lalu aku tanya Kakek lagi. “Apa ceritanya, Kek?”

“Siapa?”

“Ajo Sidi.”

“Kurang ajar dia,” Kakek menjawab.

“Kenapa?”

“Mudah-mudahan pisau cukur ini, yang kuasah tajam-tajam ini, menggoroh tenggorokannya.”

“Kakek marah?”

“Marah? Ya, kalau aku masih muda, tapi aku sudah tua. Orang tua menahan ragam. Sudah lama aku tak marah-marah lagi. Takut aku kalau imanku rusak karenanya, ibadatku rusak karenanya. Sudah begitu lama aku berbuat baik, beribadat, bertawakal kepada Tuhan. Sudah begitu lama aku menyerahkan diri kepada-Nya. Dan Tuhan akan mengasihi orang yang sabar dan tawakal.”

Ingin tahuku dengan cerita Ajo Sidi yang memurungkan Kakek jadi memuncak. Aku tanya lagi Kakek, “Bagaimana katanya, Kek?”

Tapi Kakek diam saja. Berat hatinya bercerita barangkali. Karena aku telah berulang-ulang bertanya, lalu ia yang bertanya padaku, “Kau kenal padaku, bukan? Sedari kau kecil aku sudah disini. Sedari mudaku, bukan? Kau tahu apa yang kulakukan semua, bukan? Terkutukkah
perbuatanku? Dikutuki Tuhankah semua pekerjaanku?”

Tapi aku tak perlu menjawabnya lagi. Sebab aku tahu, kalau Kakek sudah membuka mulutnya, dia takkan diam lagi. Aku biarkan Kakek dengan pertanyaannya sendiri.

“Sedari muda aku di sini, bukan? Tak kuingat punya isteri, punya anak, punya keluarga seperti orang lain, tahu? Tak kupikirkan hidupku sendiri. Aku tak ingin cari kaya, bikin rumah. Segala kehidupanku, lahir batin, kuserahkan kepada Allah Subhanahu wataala. Tak pernah aku menyusahkan orang lain. Lalat seekor enggan aku membunuhnya. Tapi kini aku dikatakan manusia terkutuk. Umpan neraka. Marahkah Tuhan kalau itu yang kulakukan, sangkamu? Akan dikutukinya aku kalau selama hidupku aku mengabdi kepada-Nya? Tak kupikirkan hari esokku, karena aku yakin Tuhan itu ada dan pengasih dan penyayang kepada umatnya yang tawakal. Aku bangun pagi-pagi. Aku bersuci. Aku pukul beduk membangunkan manusia dari tidurnya, supaya bersujud kepada-Nya. Aku sembahyang setiap waktu. Aku puji-puji Dia. Aku baca Kitab-Nya.
Alhamdulillah kataku bila aku menerima karunia-Nya. Astagfirullah kataku bila aku terkejut.Masya Allah kataku bila aku kagum. Apa salahnya pekerjaanku itu? Tapi kini aku dikatakan manusia terkutuk.”

Ketika Kakek terdiam agak lama, aku menyelakan tanyaku, “Ia katakan Kakek begitu, Kek?”

“Ia tak mengatakan aku terkutuk. Tapi begitulah kira-kiranya.”

Dan aku melihat mata Kakek berlinang. Aku jadi belas kepadanya. Dalam hatiku aku mengumpati Ajo Sidi yang begitu memukuli hati Kakek. Dan ingin tahuku menjadikan aku nyinyir bertanya. Dan akhirnya Kakek bercerita lagi.

“Pada suatu waktu, ‘kata Ajo Sidi memulai, ‘di akhirat Tuhan Allah memeriksa orang-orang yang sudah berpulang. Para malaikat bertugas di samping-Nya. Di tangan mereka tergenggam daftar dosa dan pahala manusia. Begitu banyak orang yang diperiksa. Maklumlah dimana-mana ada perang. Dan di antara orang-orang yang diperiksa itu ada seirang yang di dunia di namai Haji Saleh. Haji Saleh itu tersenyum-senyum saja, karena ia sudah begitu yakin akan di masukkan ke dalam surga. Kedua tangannya ditopangkan di pinggang sambil membusungkan dada dan menekurkan kepala ke kuduk. Ketika dilihatnya orang-orang yang masuk neraka, bibirnya menyunggingkan senyum ejekan. Dan ketika ia melihat orang yang masuk ke surga, ia melambaikan tangannya, seolah hendak mengatakan ‘selamat ketemu nanti’. Bagai tak habishabisnya orang yang berantri begitu panjangnya. Susut di muka, bertambah yang di belakang. Dan Tuhan memeriksa dengan segala sifat-Nya.

Akhirnya sampailah giliran Haji Saleh. Sambil tersenyum bangga ia menyembah Tuhan. Lalu
Tuhan mengajukan pertanyaan pertama.

‘Engkau?’

‘Aku Saleh. Tapi karena aku sudah ke Mekah, Haji Saleh namaku.’

‘Aku tidak tanya nama. Nama bagiku, tak perlu. Nama hanya buat engkau di dunia.’

‘Ya, Tuhanku.’

‘apa kerjamu di dunia?’

‘Aku menyembah Engkau selalu, Tuhanku.’

‘Lain?’

‘Setiap hari, setiap malam. Bahkan setiap masa aku menyebut-nyebut nama-Mu.’

‘Lain.’

‘Ya, Tuhanku, tak ada pekerjaanku selain daripada beribadat menyembah-Mu, menyebut-nyebut nama-Mu. Bahkan dalam kasih-Mu, ketika aku sakit, nama-Mu menjadi buah bibirku juga. Dan aku selalu berdoa, mendoakan kemurahan hati-Mu untuk menginsafkan umat-Mu.’

‘Lain?’

Haji Saleh tak dapat menjawab lagi. Ia telah menceritakan segala yang ia kerjakan. Tapi ia insaf, pertanyaan Tuhan bukan asal bertanya saja, tentu ada lagi yang belum di katakannya. Tapi menurut pendapatnya, ia telah menceritakan segalanya. Ia tak tahu lagi apa yang harus dikatakannya. Ia termenung dan menekurkan kepalanya. Api neraka tiba-tiba menghawakan kehangatannya ke tubuh Haji Saleh. Dan ia menangis. Tapi setiap air matanya mengalir, diisap kering oleh hawa panas neraka itu.

‘Lain lagi?’ tanya Tuhan.

‘Sudah hamba-Mu ceritakan semuanya, o, Tuhan yang Mahabesar, lagi Pengasih dan Penyayang, Adil dan Mahatahu.’ Haji Saleh yang sudah kuyu mencobakan siasat merendahkan diri dan memuji Tuhan dengan pengharapan semoga Tuhan bisa berbuat lembut terhadapnya dan tidak salah tanya kepadanya.

Tapi Tuhan bertanya lagi: ‘Tak ada lagi?’

‘O, o, ooo, anu Tuhanku. Aku selalu membaca Kitab-Mu.’

‘Lain?’

‘Sudah kuceritakan semuanya, o, Tuhanku. Tapi kalau ada yang lupa aku katakan, aku pun bersyukur karena Engkaulah Mahatahu.’

‘Sungguh tidak ada lagi yang kaukerjakan di dunia selain yang kauceritakan tadi?’

‘Ya, itulah semuanya, Tuhanku.’

‘Masuk kamu.’

Dan malaikat dengan sigapnya menjewer Haji Saleh ke neraka. Haji Saleh tidak mengerti kenapa ia di bawa ke neraka. Ia tak mengerti apa yang di kehendaki Tuhan daripadanya dan ia percaya Tuhan tidak silap.

Alangkah tercengang Haji Saleh, karena di neraka itu banyak teman-temannya di dunia terpanggang hangus, merintih kesakitan. Dan ia tambah tak mengerti dengan keadaan dirinya, karena semua orang yang dilihatnya di neraka itu tak kurang ibadatnya dari dia sendiri. Bahkan ada salah seorang yang telah sampai empat belas kali ke Mekah dan bergelar syekh pula. Lalu Haji Saleh mendekati mereka, dan bertanya kenapa mereka dinerakakan semuanya. Tapi sebagaimana Haji Saleh, orang-orang itu pun, tak mengerti juga.

‘Bagaimana Tuhan kita ini?’ kata Haji Saleh kemudian, ‘Bukankah kita di suruh-Nya taat beribadat, teguh beriman? Dan itu semua sudah kita kerjakan selama hidup kita. Tapi kini kita dimasukkan-Nya ke neraka.’

‘Ya, kami juga heran. Tengoklah itu orang-orang senegeri dengan kita semua, dan tak kurang ketaatannya beribadat,’ kata salah seorang diantaranya.

‘Ini sungguh tidak adil.’

‘Memang tidak adil,’ kata orang-orang itu mengulangi ucapan Haji Saleh.

‘Kalau begitu, kita harus minta kesaksian atas kesalahan kita.’

‘Kita harus mengingatkan Tuhan, kalau-kalau Ia silap memasukkan kita ke neraka ini.’

‘Benar. Benar. Benar.’ Sorakan yang lain membenarkan Haji Saleh.

‘Kalau Tuhan tak mau mengakui kesilapan-Nya, bagaimana?’ suatu suara melengking di dalam kelompok orang banyak itu.

‘Kita protes. Kita resolusikan,’ kata Haji Saleh.

‘Apa kita revolusikan juga?’ tanya suara yang lain, yang rupanya di dunia menjadi pemimpin gerakan revolusioner.

‘Itu tergantung kepada keadaan,’ kata Haji Saleh. ‘Yang penting sekarang, mari kita berdemonstrasi menghadap Tuhan.’

‘Cocok sekali. Di dunia dulu dengan demonstrasi saja, banyak yang kita perolah,’ sebuah suara menyela.

‘Setuju. Setuju. Setuju.’ Mereka bersorak beramai-ramai.

Lalu mereka berangkatlah bersama-sama menghadap Tuhan.

Dan Tuhan bertanya, ‘Kalian mau apa?’

Haji Saleh yang menjadi pemimpin dan juru bicara tampil ke depan. Dan dengan suara yang menggeletar dan berirama rendah, ia memulai pidatonya: ‘O, Tuhan kami yang Mahabesar. Kami yang menghadap-Mu ini adalah umat-Mu yang paling taat beribadat, yang paling taat menyembahmu. Kamilah orang-orang yang selalu menyebut nama-Mu, memuji-muji kebesaran- Mu,mempropagandakan keadilan-Mu, dan lain-lainnya. Kitab-Mu kami hafal di luar kepala kami.Tak sesat sedikitpun kami membacanya. Akan tetapi, Tuhanku yang Mahakuasa setelah kami Engkau panggil kemari, Engkau memasukkan kami ke neraka. Maka sebelum terjadi hal-hal yang tak diingini, maka di sini, atas nama orang-orang yang cinta pada-Mu, kami menuntut agar hukuman yang Kaujatuhkan kepada kami ke surga sebagaimana yang Engkau janjikan dalam Kitab-Mu.’

‘Kalian di dunia tinggal di mana?’ tanya Tuhan.

‘Kami ini adalah umat-Mu yang tinggal di Indonesia, Tuhanku.’

‘O, di negeri yang tanahnya subur itu?’

‘Ya, benarlah itu, Tuhanku.’

‘Tanahnya yang mahakaya raya, penuh oleh logam, minyak, dan berbagai bahan tambang lainnya,
bukan?’

‘Benar. Benar. Benar. Tuhan kami. Itulah negeri kami.’ Mereka mulai menjawab serentak. Karena fajar kegembiraan telah membayang di wajahnya kembali. Dan yakinlah mereka sekarang, bahwa Tuhan telah silap menjatuhkan hukuman kepada mereka itu.

‘Di negeri mana tanahnya begitu subur, sehingga tanaman tumbuh tanpa di tanam?’

‘Benar. Benar. Benar. Itulah negeri kami.’

‘Di negeri, di mana penduduknya sendiri melarat?’

‘Ya. Ya. Ya. Itulah dia negeri kami.’

‘Negeri yang lama diperbudak negeri lain?’

‘Ya, Tuhanku. Sungguh laknat penjajah itu, Tuhanku.’

‘Dan hasil tanahmu, mereka yang mengeruknya, dan diangkut ke negerinya, bukan?’

‘Benar, Tuhanku. Hingga kami tak mendapat apa-apa lagi. Sungguh laknat mereka itu.’

‘Di negeri yang selalu kacau itu, hingga kamu dengan kamu selalu berkelahi, sedang hasil tanahmu orang lain juga yang mengambilnya, bukan?’

‘Benar, Tuhanku. Tapi bagi kami soal harta benda itu kami tak mau tahu. Yang penting bagi kami ialah menyembah dan memuji Engkau.’

‘Engkau rela tetap melarat, bukan?’

‘Benar. Kami rela sekali, Tuhanku.’

‘Karena keralaanmu itu, anak cucumu tetap juga melarat, bukan?’

‘Sungguhpun anak cucu kami itu melarat, tapi mereka semua pintar mengaji. Kitab-Mu mereka hafal di luar kepala.’

‘Tapi seperti kamu juga, apa yang disebutnya tidak di masukkan ke hatinya, bukan?’

‘Ada, Tuhanku.’

‘Kalau ada, kenapa engkau biarkan dirimu melarat, hingga anak cucumu teraniaya semua. Sedang harta bendamu kaubiarkan orang lain mengambilnya untuk anak cucu mereka. Dan engkau lebih suka berkelahi antara kamu sendiri, saling menipu, saling memeras. Aku beri kau negeri yang kaya raya, tapi kau malas. Kau lebih suka beribadat saja, karena beribadat tidak mengeluarkan peluh, tidak membanting tulang. Sedang aku menyuruh engkau semuanya beramal kalau engkau miskin. Engkau kira aku ini suka pujian, mabuk di sembah saja. Tidak. Kamu semua mesti masuk neraka. hai, Malaikat, halaulah mereka ini kembali ke neraka. Letakkan di keraknya!”

Semua menjadi pucat pasi tak berani berkata apa-apa lagi. Tahulah mereka sekarang apa jalan yang diridai Allah di dunia. Tapi Haji Saleh ingin juga kepastian apakah yang akan di kerjakannya di dunia itu salah atau benar. Tapi ia tak berani bertanya kepada Tuhan. Ia bertanya saja pada
malaikat yang menggiring mereka itu.

‘Salahkah menurut pendapatmu, kalau kami, menyembah Tuhan di dunia?’ tanya Haji Saleh. ‘Tidak. Kesalahan engkau, karena engkau terlalu mementingkan dirimu sendiri. Kau takut masuk neraka, karena itu kau taat sembahyang. Tapi engkau melupakan kehidupan kaummu sendiri, melupakan kehidupan anak isterimu sendiri, sehingga mereka itu kucar-kacir selamanya. Inilah kesalahanmu yang terbesar, terlalu egoistis. Padahal engkau di dunia berkaum, bersaudara semuanya, tapi engkau tak mempedulikan mereka sedikit pun.’

Demikianlah cerita Ajo Sidi yang kudengar dari Kakek. Cerita yang memurungkan Kakek. Dan besoknya, ketika aku mau turun rumah pagi-pagi, istriku berkata apa aku tak pergi menjenguk.

“Siapa yang meninggal?” tanyaku kagut.

“Kakek.”

“Kakek?”

“Ya. Tadi subuh Kakek kedapatan mati di suraunya dalam keadaan yang mengerikan sekali. Ia menggoroh lehernya dengan pisau cukur.”

“Astaga! Ajo Sidi punya gara-gara,” kataku seraya cepat-cepat meninggalkan istriku yang tercengang-cengang.

Aku cari Ajo Sidi ke rumahnya. Tapi aku berjumpa dengan istrinya saja. Lalu aku tanya dia.

“Ia sudah pergi,” jawab istri Ajo Sidi.

“Tidak ia tahu Kakek meninggal?”

“Sudah. Dan ia meninggalkan pesan agar dibelikan kain kafan buat Kakek tujuh lapis.”

“Dan sekarang,” tanyaku kehilangan akal sungguh mendengar segala peristiwa oleh perbuatan Ajo Sidi yang tidak sedikit pun bertanggung jawab, “dan sekarang kemana dia?”

“Kerja.”

“Kerja?” tanyaku mengulangi hampa.

“Ya, dia pergi kerja.”

***

navis

Haji Ali Akbar Navis (lahir di Kampung Jawa, Padangpanjang, Sumatra’s Westkust, 17 November 1924 – meninggal di Padang, Sumatera Barat, 22 Maret 2003 pada umur 78 tahun) adalah seorang sastrawan dan budayawan terkemuka di Indonesia yang lebih dikenal dengan nama A.A. Navis. Ia menjadikan menulis sebagai alat dalam kehidupannya. Karyanya yang terkenal adalah cerita pendek Robohnya Surau Kami. Navis ‘Sang Pencemooh’ adalah sosok yang ceplas-ceplos, apa adanya. Kritik-kritik sosialnya mengalir apa adanya untuk membangunkan kesadaran setiap pribadi, agar hidup lebih bermakna. Ia selalu mengatakan yang hitam itu hitam dan yang putih itu putih. Ia amat gelisah melihat negeri ini digerogoti para koruptor. Pada suatu kesempatan ia mengatakan kendati menulis adalah alat utamanya dalam kehidupan, tetapi jika dikasih memilih, ia akan pilih jadi penguasa untuk menangkapi para koruptor. Walaupun ia tahu resikonya, mungkin dalam tiga bulan, ia justru akan duluan ditembak mati oleh para koruptor itu. (Wikipedia Indoenesia)

Anthropology, Filsafat, Kurasi/Kritik, Politik, Racauan, terjemahan, Uncategorized

Gerakan Konsumen Melawan Hoax

Summary: pendapatan situs-situs berisi berita palsu adalah dari iklan online. Konsumen bisa menghentikan jalur pendapatan mereka dengan memberitahu pada perusahaan pengiklan kalau iklan mereka muncul di situs hoax; kebanyakan perusahaan tidak tahu itu karena iklan dikendalikan oleh bots.

Suatu hari di akhir November, seorang profesor ilmu Bumi dan Lingkungan bernama Nathan Phillips mengunjungi situs hoax Breitbart News untuk pertama kalinya. Tuan Phillips telah mendengar headline penuh kebencian di situs itu — seperti “Kontrasepsi Membuat Perempuan jadi Jelek dan Gila” — dan bertanya-tanya perusahaan semacam apa yang mendukung pesan-pesan seperti itu dan beriklan di website tersebut. Ketika ia mengklik website itu, ia begitu terkejut karena menemukan iklan universitas-universitas, termasuk kampus pasca sarjana yang menjadi almamaternya sendiri — Sekolah Lingkungan Nicholas, Duke University. “Itu serasa dipukul di perut,” Katanya.

Mengapa program lingkungan dari kampus ternama mau dipromosikan situs yang menolak perubahan iklim? Tuan Phillips menemukan  bahwa pegawai Universitas Duke tidak tahu di mana iklan mereka akan muncul, jadi ia mengirimkan sebuah twit ke Duke tentang hubungan mereka dengan website yang “seksis dan rasis” tersebut. Akibatnya, setelah percakapan berbunga-bunga dengan departemen lingkungan, ia menerima resolusi yang memuaskan — jaminan bahwa iklan kampusnya takkan muncul lagi di Breitbart.

19667681581_56e50e3275_b

Tuan Phillips baru saja terlibat dalam sebuah aktivisme konsumen model baru, yang akan menulis ulang peraturan iklan online. Dalam waktu sebulan setengah, ribuan aktivis mulai menekan perusahaan untuk mengambil sikap terhadap apa yang kita sebut “berita-berita kebencian” — sebuah campuran beracun dari kebohongan, supremasi kulit putih dan bullying yang bisa menginspirasi serangan pada Muslim, gay, perempuan, warga Afrika-Amerika dan lain-lain.

Dengan resolusi itu, maka Tuan Phillips baru saja terlibat dalam sebuah aktivisme konsumen model baru, yang akan menulis ulang peraturan iklan online. Dalam waktu sebulan setengah, ribuan aktivis mulai menekan perusahaan untuk mengambil sikap terhadap apa yang kita sebut “berita-berita kebencian” — sebuah campuran beracun dari kebohongan, supremasi kulit putih dan bullying yang bisa menginspirasi serangan pada Muslim, gay, perempuan, warga Afrika-Amerika dan lain-lain.

Di pertengahan November, sebuah grup twitter bernama Sleeping Giants (Raksasa Tidur) menjadi hub dari gerakan baru tersebut. Giants dan para pengikutnya telah berkomunikasi dengan 1000 perusahaan dan grup-grup non-profit yang iklannya muncul di Breitbart, dan sekitar 400-an dari organisasi itu telah berjanji akan mencoret situs tersebut dari belanja iklan ke depannya.

“Kami fokus ke Breitbart sekarang karena mereka adalah ikan terbesar, ” salah seorang pencetus Sleeping Giants mengatakan pada saya. (Ia meminta anonimitas karena beberapa anggota mereka bekerja di industri media digital.) Dengan itu, Sleeping Giants dapat memperlebar kampanye mereka untuk melawan sekelompok aktor-aktor jahat, tapi mereka membutuhkan pasukan yang lebih banyak, dan “baru satu bulan kami melakukan ini, ” katanya pada saya di Desember. Lalu ia menambahkan,”Ini adalah satu bulan terpanjang selama hidup saya.” Ia mengatakan bahwa ia menemukan ada yang salah di iklan internet di Novermber, saat karena keingintahuan ia mengunjungi situs Breitbart. Seperti tuan Phillips, ia terenyuh dengan apa yang temukan di sana.Ia melihat Breitbart diplaster dengan logo-logo merk Silicon Valley yang ditujukan untuk peminat teknologi, dan millenial yang pro pada keberagaman. “Saya tidak bisa percaya bahwa perusahaan-perusahaan progresif ini membayar untuk Breitbart News,” katanya.

Jadi ia menciptakan akun twitter Sleeping Giants yang membuat dia dan teman-teman aktivisnya bisa secara anonim berinteraksi dengan pengiklan. Lalu mereka mengirim screenshot pada perusahaan seperti Chase, SoFi dan Audi untuk membuktikan bahwa iklan mereka muncul di sebelah konten ofensif. Dalam hitungan jam, mereka mendapatkan respon, dan mereka sadar, mereka telah sampai pada taktik potensial yang kuat.

Laman twitter grup tersebut menawarkan instruksi yang sederhana pada semua orang yang ingin membantu. Langkah 1: “Pergi ke Breitbart dan screenshot iklan di sebelah kontennya.” Langkah 2: “Tweet screenshot itu ke perusahaan dengan catatan yang sopan dan tidak menantang.”

“Kami mencoba untuk menghentikan website rasis dengan memutus uang iklannya,” tulis Sleeping Giants di profil akunnya. “Banyak perusahaan tidak tahu ini terjadi. Ini saatnya kita bilang pada mereka.” Mereka bilang, tindakan ini bukan untuk mengambil hak Breitbart akan kebebasan berpendapat, tapi untuk memberikan konsumen dan pengiklan kontrol terhadap kemana uang iklan mereka bergerak. Laman twitter grup tersebut menawarkan instruksi yang sederhana pada semua orang yang ingin membantu. Langkah 1: “Pergi ke Breitbart dan screenshot iklan di sebelah kontennya.” Langkah 2: “Tweet screenshot itu ke perusahaan dengan catatan yang sopan dan tidak menantang.”

iflix.PNG
Iklan Iflix di Breitbart, 8 Agustus 2017.

…tindakan ini bukan untuk mengambil hak Breitbart akan kebebasan berpendapat, tapi untuk memberikan konsumen dan pengiklan kontrol terhadap kemana uang iklan mereka bergerak.

Usaha maju-mundur para aktivis ke perusahaan-perusahaan memperlihatkan kabut kebingungan yang melingkupi iklan online. Banyak organisasi sama sekali tidak tahu bahwa iklan mereka akan berdampingan dengan konten yang mengerikan.

Anda mungkin bisa menyalahkan hal ini –sebagian– pada robot-robot (atau dalam istilah IT di Indonesia sering disebut Bot). Menurut riset firma eMarketer, perusahaan Amerika sekarang menghabiskan lebih dari 22 trilyun dollar per tahun pada “iklan yang terprogram,” jenis iklan yang dibeli dengan sedikit pengawasan manusia. Joshua Zeitz, wakil direktur korporat komunikasi di perusahaan ad-tech AppNexus, menjelaskan kepada saya bagaimana pembelian otomatis ini berlangsung. Saat Anda mengklik sebuah tautan, “dalam kurang dari sedetik, sebuah panggilan akan keluar, dan alogritme dan perangkat lunak otomatis langsung melelang klik Anda pada pengiklan untuk meletakkan iklannya di laman yang Anda klik,” katanya. “Jadi mungkin algoritma Nabisco mau menempatkan iklan di situs itu; juga Macy’s dan Honda.” Algoritma yang memberikan harga tertinggi akan memenangkan kesempatan iklan untuk muncul di layar Anda.

Iklan terprogram juga mengikuti individual di sekitar internet, berdasarkan sejarah browsingnya, seperti yang terjadi pada Tuan Phillips. Iklan target tunggal seperti ini mungkin berharga murah, tapi pundi demi pundi bisa bernilai industri milyaran dollar.

Bahkan ketika penempatan iklan secara otomatis, perusahaan-perusahaan masih punya kekuatan untuk mengontrol pengepul neo-Nazi atau berita palsu. Malahan, sebenarnya cukup mudah untuk perusahaan menuntut kebijakan etis, menurut Tuan Zeitz. Benar, perusahaan dia sendiri (yang mengendalikan iklan terprogram untuk organisasi lain) yang baru saja memutuskan untuk mencopot Breitbart News dari pasar iklannya. “Kami tidak mengasingkan mereka karena mereka kanan atau konservatif. Kami mengasingkan mereka dari pasar kami, karena mereka melanggar kebijakan ujaran kebencian kami, yang melarang iklan di situs yang mempromosikan kekerasan dan diskriminasi terhadap minoritas.” (Breitbart sendiri mengatakan bahwa mereka mengutuk rasisme dan bigotri “dalam bentuk apapun.”)

8621752767_af70604d7f_z

…berita palsu bisa lebih menguntungkan dari yang asli.

Tuan Zeitz menunjukkan merk-merek perusahaan yang telah menemukan cara untuk tetap menjaga iklan mereka tidak hadir di situs porno, karena “kau tidak mau iklan sereal sarapan di sebelah video porno hardcore, ” jadi “ada alat-alat yang bisa membuat perusahaan mengontrol kemana iklan mereka.” Sebuah perusahaan dapat memblok situs spesifik seperti Breitbart News dari belanja iklannya. Atau perusahaan bisa juga memilih “daftar putih” dari situs yang sejalan dengan nilai-nilai mereka.”

Tapi untuk melakukan itu, perusahaan-perusahaan harus melalui situs yang didesain untuk mengirimkan dengtan tepat apa yang mereka mau — audiens sebanyak mungkin dengan biaya sekecil mungkin. Pada November, reporter NPR mewawancarai Jestin Coler soal kerajaan berita-palsunya. Tuan Coler dan timnya membuat situs mereka terlihat seperti koran lokal dan mereka menulis headline fantastis dan cerita bohong yang mengundang banyak pembaca. Walau berita itu palsu, iklannya tidaklah palsu. Tuan Coler tidak memberitahu reporter berapa tepatnya penghasilan iklan yang ia dapatkan, tapi ia estimasikan penghasilan iklannya sekitar USD 10.000 (130 juta rupiah) dan USD 30.000 (390 juta rupiah) per bulan.

6348cdcea77dec03dfa96b08da32c535
Jestin Coler, bos besar website Hoax di Amerika

“Pengusaha” semacam itu punya pengaruh luar biasa dalam ranah politik kita. Buzzfeed News melaporkan bahwa selama tiga bulan pemilu, berita-berita hoax telah mengalahkan berita nyata di sosial media. Ini karena orang-orang secara antusias menyebarkan headline pro Trump yang disajikan dengan umpan klik dalam dunia aneh iklan online, berita palsu bisa lebih menguntungkan dari yang asli.

Ezra Englebardt, seorang strategist periklanan, bergabung dengan kampanye Sleeping Giant karena ia percaya akun tersebut menciptakan transparansi yang sangat dibutuhkan dalam dunia iklan online. Ketika banyak orang berbagi foto di iklan yang mereka lihat di layar mereka, di situ bisa dilihat kemana uang iklan pergi, katanya.

Namun, kenyataan pasca-kebenaran membuat semakin sulit untuk mengukur skup masalahnya. Kepala Redaksi Breitbart mengatakan pada Bloomberg bahwa walaupun sudah di-‘ban’, perusahaanya “terus berkembang secara pesat.” Namun, publik komunikasi twitter dan akun berita membuktikan bahwa para pengiklan telah meninggalkan situs tersebut.

Lebih penting lagi, screenshot aktivis memaksa perusahaan untuk berpihak. Setelah tekanan dari konsumen, perusahaan Kellog’s, misalnya, jadi salah satu merk besar yang mengumumkan bahwa ia akan menarik iklannya dari Breitbart News. Sebagai balasannya, Breitbart mengajak boikot dan merk sereal tersebut mendapatkan reaksi keras di media sosial. Di saat yang sama, Kellog’s juga mendapatkan banyak pemberitaan baik karena telah mengambil stance politik; di awal Desember, banyak konsumen mengumumkan bahwa mereka akan menghadiahi perusahaan tersebut dengan membeli semua jenis sup Kellog untuk memberi makan fakir miskin.

Sekarang, melawan rasisme bisa membuat  beberapa pemain inti di Gedung Putih marah, termasuk presiden terpilih, Donald J. Trump, yang mengangkat mantan editor Breitbart sebagai penasihat seniornya.

Saya berharap bahwa perusahaan-perusahaan lain mau menggaungkan pemutusan hubungan mereka dengan Breitbart. Nampaknya mudah untuk P.R. korporasi untuk tahu dan menjauh dari situs-situs rasis yang menulis–“setiap pohon, atap, pagar dan tiang di Selatan Amerika harus mengibarkan bendera konfederasi.”

Tapi ketika saya menghampiri beberapa organisasi yang sepertinya telah bergabung dengan pengasingan Breitbart, mereka tidak mau bicara tentang itu. Sebuah bank dan grup nonprofit tidak merespon pertanyaan saya. Dua perusahaan — 3M dan Zappos — menolak untuk bicara soal itu. Seorang juru bicara dari Patagonia mengatakan bahwa perusahaannya tidak beriklan di situs supremasis — tapi ia tidak mau berkomentar tentang screenshot yang aktivis kirimkan padanya di awal Desember, yang meperlihatkan logo perusahaanya di laman Facebook Breitbart. Warby Parker adalah pengecualian; seorang perwakilan perusahaan tersebut menunjukkan pada saya sebuah pernyataan terimakasih pada seorang aktivis Twitter karena menginspirasi perusahaan itu untuk tidak beriklan di Breitbart.

Dengan perilaku beberapa perusahaan ini, Anda bisa mendeteksi bagaimana norma-norma kita telah bergeser. Dulu, tidak ada akibat yang besar ketika melawan slogan-slogan Neo Nazi secara terbuka. Sekarang, melawan rasisme bisa membuat beberapa pemain inti di Gedung Putih marah, termasuk presiden terpilih, Donald J. Trump, yang mengangkat mantan editor Breitbart sebagai penasihat seniornya. Tuan Trump beberapa waktu lalu membuktikan kerusakan yang bisa ia lakukan pada sebuah perusahaan, dengan mengkritik Locheed Martin di Twitter; setelah itu, saham perusahaan tersebut terjun bebas.

trump-article-header

…bisnis-bisnis sebenarnya mengambil untung dari keberagaman

Namun, gerakan konsumen baru telah terbit, dan para aktivis percaya bahwa ketika surat suara gagal, dompet bisa berkuasa. Perjuangan ini lebih besar daripada sekadar iklan di Breitbart News — ini tentang menggunakan korporasi sebagai tameng untuk melindungi orang-orang yang rawan di-bully dan jadi korban kejahatan kebencian.

Nicholas Reville, anggota dewan di Participatory Culture Foundation, yang bekerja sama dengan Sleeping Giants, menunjukkan bahwa bisnis-bisnis sebenarnya mengambil untung dari keberagaman: “Anda harus menjadi inklusif jika Anda ingin menjual kepada pembeli yang lebih luas.” Dan ia pun menunjukkan aktivisme konsumen bisa menjadi efektif karena banyak orang merasakan merka tidak punya cara lain untuk mengekspresikan ketidaksukaan mereka pada nilai-nilai Trump-ian.

Pencetus Sleeping Giant setuju pada hal ini. “Menakutkan untuk mengatakan ini, tapi mungkin perusahaan-perushaan akan punya standaa moral sekarang,” katanya. Ia menambahkan bahwa banyak perusahaan mendukung kebijakan (paling tidak di atas kertas) yang melarang bully rasisme dan intimidasi seksual. Bahkan jika Presiden Trump menghilangkan aturan ini, korporasi mungkin akan tetap berusaha menerapkannya. “Kita semua melihat bahwa buku kepegawaian memiliki kode etik perilaku,” katanya. “Mungkin di situlah kita harus mulai bersandar sekarang.”