Memoir, Racauan

Halo, Saya Ganti Rupa

IMG_5203
Foto oleh Tyagita Silka di Tryst Adams Morgan, Washington DC

Saya melihat diri sendiri di cermin dan merasa tidak kenal dengan pria di cermin itu. Pria itu mirip bapak saya, dan kata Gabriel Garcia Marquez, ketika seorang pria melihat ke cermin dan melihat bapaknya, itulah artinya ia mulai dewasa. Saya dewasa? That must be a joke! 

Semoga saya tidak terlalu dewasa untuk menjadi anak-anak. Tanpa kekanak-kanakan tidak akan ada kreativitas, The child is the father of the man, kata Wordsworth.

Tapi perubahan itu toh selalu terjadi. Tanpa sadar saya sudah ada di negeri orang, dengan seorang partner yang juga sahabat terbaik saya, dan dengan semua tantangan-tantangan hidup baru. 2015 adalah tahun perubahan besar buat saya. Tahun liminal. Saya melepaskan status bujangan, saya melepaskan pekerjaan, saya melepaskan Indonesia. Satu tahun dimana saya sangat sibuk membangun inner-self.  Saya banyak berpikir dan berproses untuk memantapkan pilihan-pilihan di hidup, hingga saya selalu bisa sibuk dalam keadaan apapun.

Deadline saya untuk adaptasi pada Washington DC, pada ketidakpastian tujuan sudah lewat. Tugas saya sudah jelas dan proyek-proyek ke depan sudah tersusun rapih. Pertengahan Januari saya akan sibuk di New York untuk membantu proyek seorang kawan, dan selama tahun 2016 ini saya akan sibuk membangun sebuah kanal informasi baru bersama sahabat-sahabat saya di Bandung dan Jakarta. Ada juga beberapa proyek film dari jauh, sebagai produser bayangan, konsultan, scriptwriter dan lain-lain.

Dan dalam kesibukan-kesibukan itu, seperti biasa saya juga akan tetap mengisi blog ini dengan pemikiran-pemikiran saya yang terpinggirkan tapi tetap worth sharing. Saya persembahkan tampilan baru Esei Nosa untuk Anda sekalian. Semoga kita bisa tetap diskusi dan berbagi pengetahuan dan pengalaman.

Saya juga membuat versi tulisan bahasa Inggris di Medium.com, be sure to check itu out. Versinya agak beda dengan blog ini karena ada beberapa tulisan yang lebih enak ditulis dengan bahasa inggris. Grammar agak kacau karena memang sudah lama saya tidak menulis bahasa Inggris.

Tabik!

Cinta, Eksistensialisme, Puisi, Uncategorized

Siapa Yang Tahu

 

siapa yang tahu

Kesepian menghisap
Keramaian menyekap
Kerinduan mendekap
Kecintaan menyingkap

Kau tahu isi hatiku
Tak ada apa di situ
Tak ada cinta tak ada nafsu
Hanya rasa yang menggebu

Siapa yang tahu?
Rasanya kau kenal padaku?
Begitupun aku
Rasanya kukenal padaku

Siapa yang tahu?
Isi hatimu
Yakin atau ragu
Cair atau beku

Siapa yang tahu
Mata itu
Masih telaga biru
Apa juga musim semi daunan
Atau sudah datang dingin

Siapa yang tahu?

Aku tak peduli
Sakit bila peduli

Aku tak peduli
Biar sakit aku
tak peduli

Ssshh sh sh shhh…

Kemari
Biarkukecup sekali
Agar terkenang sampai mati
Biar hanya sekali
Sampai engkau ingin lagi

Kemari…

2008

Memoir, Racauan

2015 in review

Saya minta tolong monyet-monyet di WordPress buat lihat keaktifan saya ngeblog. Salah satu intinya, tulisan soal memori Gojek yang disebar selebtwit Arman Dhani, nyampe ke angka 10.242 orang, dan komentar kelas menengah, seperti biasa, banyak yang ngehe-ngehe-in saya. Dasar ngehe. Selamat Tahun baru semuanya. Semoga tahun 2016 orang goblok egois dan orang pinter yang sombong berkurang. Semoga bisa lebih banyak berbagi.

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2015 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

Madison Square Garden can seat 20,000 people for a concert. This blog was viewed about 68,000 times in 2015. If it were a concert at Madison Square Garden, it would take about 3 sold-out performances for that many people to see it.

Click here to see the complete report.

Anthropology, Filsafat, Kurasi/Kritik, Politik, Racauan

PELONCO (extended version)

In The Miracle Years: IPPHOS photographs from the period of struggle for Independence 1945-1950
foto: historia.id

Jika perpeloncoan adalah sebuah tindakan kejahatan oleh yang kuat kepada yang lemah, sebuah pelecehan dengan menggunakan kekerasan fisik dan mental yang berujung pada luka psikis bahkan kematian, maka perpeloncoan adalah masalah yang perlu dihilangkan dari muka bumi ini. Tapi masalahnya definisi barusan bukanlah perpeloncoan. Menurut KBBI Daring:

pelonco 1/pe·lon·co / Jw 1 v pengenalan dan penghayatan situasi lingkungan baru dng mengendapkan (mengikis) tata pikiran yg dimiliki sebelumnya;2 a gundul tidak berambut (tt kepala);
memelonco/me·me·lon·co/ v 1 menjadikan seseorang tabah dan terlatih serta mengenal dan menghayati situasi di lingkungan baru dng penggemblengan: para mahasiswa senior sedang ~ mahasiswa baru2 menggunduli (tt rambut di kepala);

Kalau kita melihat Surat Edaran Mendikbud Anies Baswedan No. 59389/MPK/PD/TAHUN 2015 tentang pencegahan perpeloncoan kepada orientasi peserta didik baru, kita boleh curiga, jangan-jangan Bapak Mendikbud yang senyumnya hangat dan retorikanya mantap itu belum cek KBBI ketika ia membuat surat edaran itu, atau bisa juga KBBI yang tak pernah memperbaharui kata ‘pelonco’ yang sudah mengalami peyorasi yang parah di realitas kita sehari-hari.

Baca lebih lanjut