Alam, Eksistensialisme, Memoir, Perlawanan, Puisi

Melihat Indonesia Dari Jauh

freezing_rain_on_tree_branch

Aku di negeri orang dan tadi malam hujan batu menimpa kepalaku
Di kampung halaman aku dipandang terhormat, apa aku mesti pulang?

Melihat Indonesia dari jauh
Ada kerinduan kesumat yang salah alamat
Maksud hati memuja rumah tapi yang terlihat
adalah penjara dengan jeruji keacuhan tingkat

… Dewa

Di kelas, kami membaca teks dari para begawan
soal Indonesia dari mata tajam para ilmuan
kritik kebudayaan yang terasa merendahkan
kami tersinggung, kecewa meyadari pikiran
orang-orang cerdas melihat negeri tiran

Lalu kini kami yang jauh
meneropong negeri lewat jendela
dan kami mulai paham kenapa
para begawan menulis berpeluh

Karena cinta dari kejauhan
jarak dan waktu memberi kejernihan
melihat kebencian dan ketersesatan
lebih jelas daripada di pekarangan

Aih, jiwa ingin kembali
tapi tubuh tercekat
kami ingin kembali
tapi tidak terlalu cepat

Siapa yang tidak kangen
pada keluarga dan sahabat?

Siapa yang kangen
pada kemunafikan dan korupsi?

*

Aku di negeri orang dan tadi malam hujan batu menimpa kepalaku
Di kampung halaman aku dipandang terhormat, apa aku mesti pulang?

Kemanapun aku pergi rumah kubawa di hati
di sana, di rumah hatiku,
selalu hujan belati.

Washington DC, Maret 2016

Memoir, Racauan

Halo, Saya Ganti Rupa

IMG_5203
Foto oleh Tyagita Silka di Tryst Adams Morgan, Washington DC

Saya melihat diri sendiri di cermin dan merasa tidak kenal dengan pria di cermin itu. Pria itu mirip bapak saya, dan kata Gabriel Garcia Marquez, ketika seorang pria melihat ke cermin dan melihat bapaknya, itulah artinya ia mulai dewasa. Saya dewasa? That must be a joke! 

Semoga saya tidak terlalu dewasa untuk menjadi anak-anak. Tanpa kekanak-kanakan tidak akan ada kreativitas, The child is the father of the man, kata Wordsworth.

Tapi perubahan itu toh selalu terjadi. Tanpa sadar saya sudah ada di negeri orang, dengan seorang partner yang juga sahabat terbaik saya, dan dengan semua tantangan-tantangan hidup baru. 2015 adalah tahun perubahan besar buat saya. Tahun liminal. Saya melepaskan status bujangan, saya melepaskan pekerjaan, saya melepaskan Indonesia. Satu tahun dimana saya sangat sibuk membangun inner-self.  Saya banyak berpikir dan berproses untuk memantapkan pilihan-pilihan di hidup, hingga saya selalu bisa sibuk dalam keadaan apapun.

Deadline saya untuk adaptasi pada Washington DC, pada ketidakpastian tujuan sudah lewat. Tugas saya sudah jelas dan proyek-proyek ke depan sudah tersusun rapih. Pertengahan Januari saya akan sibuk di New York untuk membantu proyek seorang kawan, dan selama tahun 2016 ini saya akan sibuk membangun sebuah kanal informasi baru bersama sahabat-sahabat saya di Bandung dan Jakarta. Ada juga beberapa proyek film dari jauh, sebagai produser bayangan, konsultan, scriptwriter dan lain-lain.

Dan dalam kesibukan-kesibukan itu, seperti biasa saya juga akan tetap mengisi blog ini dengan pemikiran-pemikiran saya yang terpinggirkan tapi tetap worth sharing. Saya persembahkan tampilan baru Esei Nosa untuk Anda sekalian. Semoga kita bisa tetap diskusi dan berbagi pengetahuan dan pengalaman.

Saya juga membuat versi tulisan bahasa Inggris di Medium.com, be sure to check itu out. Versinya agak beda dengan blog ini karena ada beberapa tulisan yang lebih enak ditulis dengan bahasa inggris. Grammar agak kacau karena memang sudah lama saya tidak menulis bahasa Inggris.

Tabik!

Filsafat, Kurasi/Kritik, Memoir, Politik, Racauan, Teater

10 Lelucon Žižek Buat Menghina Teman

eTCeejz

Berikut 10 banyolan yang saya dengar di kuliah umum Žižek, saya terjemahkan dan parafrasa. Beberapa lelucon ini sudah ada dalam buku Žižek’s Jokes, dan ia menceritakannya dengan narasi yang hampir sama sebagai ice breaker selama kuliah umum.

Baca lebih lanjut