English, Memoir, Racauan

Listen to Me, Norman

For in that sleep of death, what dreams may come,
When we have shuffled off this mortal coil,
Must give us pause.

You are in a bad dream.

A group of women, their face painted, naked, bosoms bouncing in their dance, as the twilight sets in blue and purple. They are surrounding a big fire, with yellow and green smoke. You are just lying there, helplessly bared. You can’t move. Your penis erecting. The women starts to hold that little tower of yours, your manhood, your God-given power. And you just lay still. One of them took a knife from inside her cunt, a black and rough, blade like an ancient tooth of a fossilised beast. The others, licking your body, kissing you passionately–no, hungrily. Sucks your tongue out till it hurts like she will ripped it out of your throat; her saliva tastes like the ocean, salty and bitter. The rest touching you, biting your body. You can feel all of these pain.

They  are lining on your right and left side. One of them lifts your head so you can see your erecting mojo, then the one with the knife, caresses your penis, and slowly slicing it. You can feel the slow intense pain of every cut, you can hear the friction of your skin and flesh to the blunt blade. Heart pumping blood gushing tears flowing; you’re screaming in silence. In this dream, you have no voice. No control. The only thing left is senses. The woman holding your head won’t let your eyes close. As your blood splashing and streaming, you pray that your life will be over soon, you believe it will be over soon, you know it will be over soon but somehow it feels like a lifetime.

You see the knife woman ripped your penis and holding it up high. The others hold you up, tie you on a cross, and force you to watch a ceremony, in which they started to sing a lament. The knife woman, touches the fire and walks toward a spike in the middle of the flame, she pierces your penis onto the spike, with its bald head facing up to the purple sky. You starts to feel a new kind of pain, like a million needles impedes your toes, feet, then all over your body. You’re dying but not yet die. The God of dreams wont let you die. Your eyeballs catching fire as cold as immortal ice. Then you see…

Your ceiling. You can move again. You touch your penis, and like you it is afraid and hiding beneath your skin. In a split second you think you really lost it. But no, it is still there, peeping through your prepuce. You’re breathing fast, your chest hurts because your heart is running wild. Then you starts to hear that sound; a slow breathing of the woman you love, sleeping beside you. Your heart knows it has to stop running. You are home. Everything will be alright. Everything. Will. Be. Fine.

So you keep pace with her easiness. Ease your anxiety. You see the clock in the dark, 4.05. Damn. You’re just being asleep for less than ten minutes. And yet it felt like infinite hell. You takes her hand and kisses it. She smiles in her sleep. She must have a good dream. Good.

Then you close your eyes again. You are tired. The whole day people are talking endlessly about insignificant things. And you cannot escape that lightness, small things. These people, wasting emotions for futile emptiness, like debts, gossips, religions, heaven and hell, poverty, ambition of the material world–shits like that. And you think you are the most significant being, the overman who is above everything. Your mind is GOD. You think all the trouble in the world are nothing but noises that can be shut, equalize, filtered, composed. You know what you want, you know that you are a composer of art, you can catch those noises and turns them to music. In that music, you are safe. And you can save other people. You can inspire. You think that you are a painter, taking blood of the innocents, war and terror, happiness and sadness, all this useless chaos, putting them in your palette and locks it in a frame. Structured, balanced, the golden ratio. You feel them, understand them, and yet you separate yourself from them. Taking what you need, and put it in song, in a frame. And you can do that because she’s around. The woman you love. She will keep you safe.

Then you sleep again.

You are in a bad dream.

A group of women, their face painted, naked, bosoms bouncing in their dance, as the twilight sets in blue and purple. One of them lifts your head so you can see your erecting mojo, and then the other, the one with the knife, caresses your penis, and slowly slicing it.

Listen to me, Norman. Do not sleep. Do. Not. Sleep.

 

 

 

Anthropology, Ethnography, Gender, Kurasi/Kritik, Politik, Racauan

Tubuh Yang Dibenarkan Politik

200606052036-pix1
“Rapuh Namamu Perempuan,” Hamlet babak I:2. (BME)

Adalah Hamlet yang bilang, “Tuhan memberikan perempuan wajah, tapi mereka melukis wajah lain.” Salah satu drama Shakespeare yang paling misoginis. Pertanyaannya adalah siapa sebenarnya yang menentukan standar kecantikan dan tubuh perempuan? Perempuan sendiri, laki-laki, atau jangan-jangan konsumen dari imaji perempuan yang bukan hanya laki-laki, tapi juga perempuan.

Kalimat Hamlet tadi dengan gamblang menyatakan bahwa wajah (atau tubuh) perempuan adalah kanvas yang bisa dilukis dan menjadi objek estetik. Ini terjadi sekian lama, setelah dimenangkannya perang gender oleh laki-laki di peradaban-peradaban tua.

Sejarah Singkat Politik Tubuh

indischer_maler_des_6-_jahrhunderts_001
Gambar Seksualitas di Gua Ajanta (Wikimedia)

Ada zaman dimana perempuan menjadi pemimpin dan menjadi pusat dari peradaban pra-agraris. Zaman ketika orang-orang masih membawa patung kecil Venus (lihat gambar heading) sebagai tanda pengagungan kepada perempuan yang maha subur. Kelompok manusia saat itu seperti lebah atau semut dengan ratu dan lelaki-lekai pekerja. Zaman itu berakhir, secara teoritis, ketika peradaban agraris berubah menjadi peradaban perang modern, dan manusia mulai berpikir soal hak milik atas tanah, harta dan wanita.

Teori lain mengatakan bahwa kemenangan kuasa lelaki (patriarki) adalah ketika ada kebutuhan masyarakat akan institusi keluarga dan perkawinan. Ada zaman ketika hubungan antar manusia bersifat promiscuos, atau seks bebas. Bahwasannya yang benar-benar instingtual dalam seksualitas manusia adalah kebutuhan untuk bereproduksi, tanpa pernah diajarkan objek hasrat seksualnya harusnya apa. Jadilah kita bisa menemukan lukisan-lukisan manusia bersetubuh dengan binatang di goa-goa prasejarah.

Manusia adalah spesies yang tidak butuh musim untuk kawin. Mereka bisa kawin kapan saja dan dimana saja dan kepada apa saja–lawan jenis satu spesies, spesies lain, bahkan benda mati seperti batu, kayu, atau apapun. Kehamilan dan kelahiran seorang anak, dianggap sebuah keajaiban karena butuh waktu ribuan tahun untuk menemukan hubungan antara persenggamaan dan kehamilan. Peradaban manusia memang selambat itu. Karena itu bisa disimpulkan bahwa persetubuhan lelaki dan perempuan adalah sesuatu yang dikembangkan dan diajarkan turun-termurun.

Peradaban dimulai ketika manusia menemukan sistem pertanian untuk menetap. Ditemukan juga istilah-istilah kepemilikan dan kebutuhan akan tenaga kerja dan kebutuhan akan unit ekonomi terkecil: keluarga. Promiscuity menimbulkan kekacauan ketika ibu bisa bersenggama dengan anak atau cucu, ayah bisa bersenggama dengan anak, keponakan atau siapapun, dan anak siapa tidak diketahui asalnya darimana.

Sistem menetap membuat dibutuhkannya semacam struktur hierarki keluarga. maka ketika satu laki-laki bisa membuahi banyak perempuan sekaligus, dan perempuan memiliki ketergantungan ketika hamil, dan bayi pun ketergantungan hingga remaja, dan anak-anak serta perempuan jadi tergantung pada lelaki dewasa—disitulah perang gender dimenangkan lelaki di peradaban-peradaban tua.

Peradaban patriarkal pun dimulai.

Tubuh Yang Dimenangkan

landscape_nrm_1422553268-body-image
Tipografi Tubuh Perempuan Modern (Elle.com)

Kemenangan patriarki atas tubuh perempuan membuat sistem ini membentuk imaji-imaji seperti apa tubuh yang ideal. Walau pada dasarnya bukan hanya perempuan yang diidealkan–karena kita juga membaca sejarah ketampanan lelaki-lelaki legendaris dari Narciscus, David, sampai Yusuf–tapi perempuan menjadi korban utama penubuhan ideal ini karena kebanyakan sistem masyarakat terlanjur menempatkan perempuan sebagai mahluk apolitis (tidak punya suara politik).

Dalam banyak konteks masyarakat tradisional, perempuan sebagai mahluk apolitis ini hadir sebagai akibat distribusi kerja dalam ekonomi dan dalam kerangka pertahanan struktur masyarakat–dapur, sumur, kasur adalah terma yang hadir dari kebutuhan akan perempuan apolitis sebagai istri dan ibu. Dan selama konteksnya masuk, sebenarnya tidak ada masalah besar. Hanya ketika struktur tersebut kemasukan agensi dari struktur lain, dan ada kebutuhan untuk perubahan struktural tentang peran perempuan, barulah pemberdayaan-pemberdayaan bisa dimulai. Pemberdayaan, seperti cinta, adalah sebuah ide yang harus diperkenalkan karena kebutuhan.

Namun pemberdayaan itu tidak semerta-merta menyatarakan. Dalam banyak konteks, logika berpikirnya masih sama dan cenderung memberatkan perempuan. Bayangkan pada masa Perang Dunia I-II ketika banyak lelaki di Eropa dan Amerika pergi perang, perempuan menjadi penggerak ekonomi negara sekaligus keluarga di rumah. Beban kerjanya menjadi ganda. Pasca perang dunia ke II, perempuan di Amerika dipaksa kembali ke rumah dan ini menjadi masalah karena banyak dari mereka sudah pernah bekerja dan ingin tetap bekerja. Terlebih lagi, Amerika pasca PD II butuh tenaga kerja lebih yang membuat pekerjaan ganda perempuan bisa dilakukan tapi sangat-sangat sulit. Walhasil pekerjaan rumah membutuhkan pembantu (yang biasanya kulit hitam sebelum ada aliran pekerja hispanik seperti dua puluh tahun belakangan ini).

Menurut ekonom Hae Joon Chang, salah satu hal yang membuat perempuan jadi bisa bekerja di luar dan meringankan kerja domestik adalah penemuan mesin cuci. Penghematan waktu memungkinkan kerja rumah tangga menjadi lebih cepat dan efisien. Industri-industri perawatan anak dan pembantu rumah tangga panggilan juga membuat wanita karir menjadi mungkin. Di ranah ekonomi, perempuan pekerja membuat ekonomi sebuah negara menjadi booming,  dan kapitalisme nampak membeabaskan. Tapi di saat yang sama ketidakadilannya tetap berjalan.

Dari pekerjaan paling rendah seperti pembantu rumah tangga, sampai pekerjaan paling tinggi seperti aktris hollywood, opresi toh terus berlanjut dengan berbagai macam cara. Dan ini membawa kita kembali kepada topik kita tentang tubuh: bahwa opresi terhadap gender yang kalah hari ini dilakukan dengan lapisan-lapisan pemaknaan yang lebih kompleks dengan permainan aturan political correctness dalam kapitalisme.

Memang kita perlu bersyukur, bahwa kapitalisme dan kebutuhan akan kerja membawa perempuan ke kelas-kelas, ke kantor-kantor, dan ke berbagai bidang yang sebelumnya ditutup. Kapitalisme dalam satu dan lain hal memang membantu. Namun di sisi lain, bantuan ini seringkali juga tidak memecahkan masalah. Masalah yang terbesar adalah soal imaji tubuh perempuan yang kalau kita telurusi kompleksitasnya bisa melebihi sekedar imaji di majalah tapi juga soal ras dan kelas ekonomi.

Mengambil Kembali Imaji

futurama-gender_war
Sumber Gambar: Futurama/Wikimedia

Kecantikan selalu didefinisikan dari waktu ke waktu dengan berbagai macam bentuk. Perempuan adalah kanvas dimana lelaki menentukan apa yang indah dan apa yang tak indah, apa yang pantas diperebutkan dan apa yang tidak. Dari zaman pra sejarah dimana obesitas jadi bentuk kecantikan, sampai kekurusan Audrey Hepburn. Hari ini, trend perempuan curvy kembali setelah sekian lama, tapi dengan logika yang sama, bahwa tubuh itu masih didikte.

Saya ingat di kelas feminis Intan Paramaditha dulu, kami pernah membahas betapa cairnya kapitalisme. Dia bisa masuk ke ranah apapun yang memberi untung. Sebuah produk sabun cuci piring bisa membuat dua versi iklan, yang pertama mendukung perempuan konservatif ibu rumah tangga yang ingin memberi kesan baik pada mertua, kedua tentang perempuan wanita karir yang jadi bisa kerja ke kantor karena efektifitas mencuci piring. Mereka terkesan tidak perduli ideologi dan hanya bertujuan mengikuti pasar.

Tapi tujuan mengikuti pasar itulah ideologi sebenarnya, itulah kapitalisme yang sebenar-benarnya yang bisa mengubah segala narasi atau karya demi kepentingan political correctness. Kritik saya terhadap Star Wars Episode VII menunjukkan bahwa cerita dan semesta Star Wars yang dibangun sejak tahun 1970an, bisa berubah demi memperluas pasar. Dengan ini apakah kita bisa bilang bahwa ideologi kapitalisme adalah ideologi pasif agresif yang mengikuti pasar saja? Ideologi yang bermain dengan bungkus tanpa peduli isi?

Saya rasa tidak begitu. Saya cenderung setuju dengan tesis yang diajukan Žižek dalam A Pervert’s Guide to Ideology, bahwasannya inti utama kapitalisme adalah adalah semacam kekosongan/kelaparan untuk mengkonsumsi. Ketika London Riot 2011, dimana orang-orang menjarah toko-toko, atau kerusuhan Mei 98 di Indonesia, ideologi yang berlaku adalah kapitalisme semacam itu. Di satu sisi ia bisa mengakomodir gerakan-gerakan politik dan pemberdayaan, di sisi lain ia bisa menghancurkan habis-habisan.

Jadi satu-satunya cara untuk mencari keseimbangan, menurut saya, adalah dengan menjadi kritis dan tetap menggunakan humanisme non-komersial sebagai sebuah alat ukur sejauh mana keserakahan itu mengkonsumsi kita. Melihat secara kritis apa yang dilakukan keserakahan itu ketika ia mengeksploitasi segala macam ideologi untuk kepentingan mengisi perut yang seluas semesta tanpa batas itu. Termasuk eksplotasinya terhadap tubuh perempuan.

HAMLET by Shakespeare,
Perempuan dengan Kamera. (Miriskusnik)

Kuncinya ada di representasi dan perjuangan dalam menghadirkan representasi itu. Dimulai dari siapa yang memegang kamera, siapa yang menyutradarai, memproduseri dan mengedit imaji-imaji itu. Dari situ kita bisa melihat pandangan siapa yang bekerja dan dengan cara apa. Dengan itu kesetaraan benar-benar bisa diraih dan peradaban bisa dimaksimalkan. Kita harus hidupkan kembali kritisisme yang selama ini dihajar habis pemenang perang dingin. Ada perjuangan-perjuangan untuk mendapatkan kontrol dan kuasa dari berbagai pihak, dari negara sosialis hingga negara-negara Islam yang begitu dendam dan tak mengertinya hingga mereka rela menghancuran peradaban.

Tapi saya yakin kebanyakan kita tidak berada di titik-titik ekstrim itu. Kita ada di tengah-tengah, di titik paradox manusia. Dan kitalah yang akan mengendalikan kemana arah peradaban kita. Semoga peradaban ini bisa berlangsung lebih lama daripada Mesopotamia, Mesir, Yunani atau Roma, dan kita bisa meninggalkan makna yang banyak gunanya untuk peradaban-peradaban selanjutnya.