Eksistensialisme, Perlawanan, Puisi

TEROR

3193080175_ec1291f559

Kau pergi dan teror tak juga berhenti
padahal dulu tekadmu mengakhirinya

Kami tak pernah berniat untuk melawan
kami hanya ingin hidup tenang, tersembunyi

Kau yang nyalakan api bilang, “Kita terteror!
mulut dibungkam, hak dirampas, dan diam

adalah dosa!”

Kau bilang.
Lalu kau maju menantang teror
Lalu mereka bilang kau meneror

Mereka punya muka sepuluh rupa
gada sebesar gala bernama negara
menggodam seluruh nusantara
hingga tak mampu bersuara
bahkan melepas lara

Dan kau masih maju meneror
tanpa bom, tanpa senjata, tanpa apa
hanya dengan kata dan bahasa
terormu tajam mereka rasa

Tapi itu dahulu ketika kau belum berlalu
waktu semua masih punya waktu
untuk diam dalam pilu
pikiran setajam sembilu

Hari ini mereka bawa nama Tuhan,
atau sekedar pura-pura gila
demi surga atau kuasa
mengerjai si putus asa

Dan itulah teror hari ini
sementara kau jadi pahlawan
yang hilang, katanya tidak dilupakan
tapi tak banyak yang meneruskan

Karena pilu membuatmu seperti sembilu
sekali tajam, sudah itu berlalu

Sementara dogma membuat mereka seperti hama
berani kalau ramai, bubar dipestisida

Kau kami ingat, mereka kami lupa
kelupaan lebih mengerikan
Karena kau hilang sendirian
mereka hilang menghilangkan

Teror hari ini lebih mencekam
semenjak kau ditelan malam.

NYC, Januari 2015

Cinta, Perlawanan, Puisi

Taman Kuburan Itu Bernama Istana Negara

Akibat lagu Jingga oleh Efek Rumah Kaca yang selalu meluluhkan air mata

Mari kita bicara soal kematian-kematian
yang tidak pernah boleh dibicarakan
Di taman kuburan tanpa nama, tanpa nisan,
tanpa undak, tanpa kemanusiaan

Taman kuburan itu bernama: istana negara

Ada yang bernyanyi lirih dan menyebut
nama-nama hantu-hantu kupu-kupu
beterbangan dalam bias cahaya doa-doa

Sudah tidak ada lagi sumpah serapah
kutukan amarah dendam dan kebencian

Semua sudah ditelan habis
oleh waktu yang memaksa
untuk merelakan kepergiannya

Yang tinggal adalah kesetiaan
untuk mengabadikan ingatan
tentang tragedi dan kehilangan

Buat orang-orang di masa ini
dan masa depan agar tidak lupa
agar tidak terulang agar tidak
mengulang mendulang nyawa-nyawa

Mereka yang kita kasihi
diambil semena-mena
seperti tak bermakna
seperti tak pernah ada

Monumen ini didirikan sendiri
tanpa uang, tanpa bebatuan,
tanpa tentara dan tanpa propaganda
hanya dengan tubuh payung hitam

Dan kehilangan tak tersembuhkan

Yang hilang menjadi katalis
di setiap kamis nyali berlapis

Sumarsih, ibu dari mahasiswa Universitas Atma Jaya Bernardus Realino Norma Wirawan atau Wawan yang tewas dalam tragedi Semanggi 1, mencium foto anaknya usia melakukan tabur bunga pada peringatan 17 Tahun Tragedi Semanggi 1 di Jakarta, Jumat (13/11).
Sumarsih, ibu dari mahasiswa Universitas Atma Jaya Bernardus Realino Norma Wirawan atau Wawan yang tewas dalam tragedi Semanggi 1, mencium foto anaknya usia melakukan tabur bunga pada peringatan 17 Tahun Tragedi Semanggi 1 di Jakarta, Jumat (13/11). Dalam peringatan tersebut para mahasiswa menuntut agar pemerintah serius dalam menangani kasus kekerasan serta terbunuhnya mahasiswa pada tragedi tersebut. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/ama/15