Film, Kurasi/Kritik, Uncategorized

Millenial Menghadapi Zaman Gila

Ini film art yang cukup seru dengan kebermainannya. Pacing editingnya asik banget pula, dan sederhana. Itu yang paling gue suka, kesederhanaannya. Tapi dibalik kesederhanaan itu banyak banget referensi-referensi yang bisa digali, dari pallette warna terang tahunjn 80an, terus adegan-adegan khas Holy Mountain-nya Jodorovsky dan Andy Warhol.

Sabi bet. The video will speak for itself.

 

 

 

Memoir, Racauan

Halo, Saya Ganti Rupa

IMG_5203
Foto oleh Tyagita Silka di Tryst Adams Morgan, Washington DC

Saya melihat diri sendiri di cermin dan merasa tidak kenal dengan pria di cermin itu. Pria itu mirip bapak saya, dan kata Gabriel Garcia Marquez, ketika seorang pria melihat ke cermin dan melihat bapaknya, itulah artinya ia mulai dewasa. Saya dewasa? That must be a joke! 

Semoga saya tidak terlalu dewasa untuk menjadi anak-anak. Tanpa kekanak-kanakan tidak akan ada kreativitas, The child is the father of the man, kata Wordsworth.

Tapi perubahan itu toh selalu terjadi. Tanpa sadar saya sudah ada di negeri orang, dengan seorang partner yang juga sahabat terbaik saya, dan dengan semua tantangan-tantangan hidup baru. 2015 adalah tahun perubahan besar buat saya. Tahun liminal. Saya melepaskan status bujangan, saya melepaskan pekerjaan, saya melepaskan Indonesia. Satu tahun dimana saya sangat sibuk membangun inner-self.  Saya banyak berpikir dan berproses untuk memantapkan pilihan-pilihan di hidup, hingga saya selalu bisa sibuk dalam keadaan apapun.

Deadline saya untuk adaptasi pada Washington DC, pada ketidakpastian tujuan sudah lewat. Tugas saya sudah jelas dan proyek-proyek ke depan sudah tersusun rapih. Pertengahan Januari saya akan sibuk di New York untuk membantu proyek seorang kawan, dan selama tahun 2016 ini saya akan sibuk membangun sebuah kanal informasi baru bersama sahabat-sahabat saya di Bandung dan Jakarta. Ada juga beberapa proyek film dari jauh, sebagai produser bayangan, konsultan, scriptwriter dan lain-lain.

Dan dalam kesibukan-kesibukan itu, seperti biasa saya juga akan tetap mengisi blog ini dengan pemikiran-pemikiran saya yang terpinggirkan tapi tetap worth sharing. Saya persembahkan tampilan baru Esei Nosa untuk Anda sekalian. Semoga kita bisa tetap diskusi dan berbagi pengetahuan dan pengalaman.

Saya juga membuat versi tulisan bahasa Inggris di Medium.com, be sure to check itu out. Versinya agak beda dengan blog ini karena ada beberapa tulisan yang lebih enak ditulis dengan bahasa inggris. Grammar agak kacau karena memang sudah lama saya tidak menulis bahasa Inggris.

Tabik!

Cinta, Eksistensialisme, Puisi, Uncategorized

Siapa Yang Tahu

 

siapa yang tahu

Kesepian menghisap
Keramaian menyekap
Kerinduan mendekap
Kecintaan menyingkap

Kau tahu isi hatiku
Tak ada apa di situ
Tak ada cinta tak ada nafsu
Hanya rasa yang menggebu

Siapa yang tahu?
Rasanya kau kenal padaku?
Begitupun aku
Rasanya kukenal padaku

Siapa yang tahu?
Isi hatimu
Yakin atau ragu
Cair atau beku

Siapa yang tahu
Mata itu
Masih telaga biru
Apa juga musim semi daunan
Atau sudah datang dingin

Siapa yang tahu?

Aku tak peduli
Sakit bila peduli

Aku tak peduli
Biar sakit aku
tak peduli

Ssshh sh sh shhh…

Kemari
Biarkukecup sekali
Agar terkenang sampai mati
Biar hanya sekali
Sampai engkau ingin lagi

Kemari…

2008

Alam, Cinta, Eksistensialisme, Puisi

Pengantar Kepada Lagu-lagu Pengalaman

romanticism_the_titans_goblet_lg

Adaptasi dari puisi William Blake, Introduction to Songs of Experience

Dengarlah suara sang penyair
Yang melihat masa kini, masa depan, dan masa lalu
Yang telinganya mendengar kata-kata kudus
Yang mengendap di antara pohon-pohon purba

Sang Penyair
memanggil jiwa-jiwa pendosa
dan menangis dalam embun malam

Sang Penyair
Yang dapat menguasai kutub-kutub bintang,
dan jatuhlah, jatuhlah cahaya membaharu!

O, Bumi! O, Bumi kembali!
Terbit keluar dari rumput basah;
Malam telah terpakai,
dan pagi,
pagi muncul dari dengkuran orang-orang

“Jangan melihat ke belakang,
kenapa kau berpaling?
Lantai berbintang
pantai berpeluh
telah diberikan padamu sampai akhir hari…”