Anthropology, Ethnography, Filsafat, Kurasi/Kritik, Politik, Racauan, terjemahan

Peradaban Sains Islam Bagian II: Terjemahan Adalah Kunci

Diterjemahkan tanpa izin dari tulisan Hilel Ofek, di jurnal The New Atlantic, no. 30 tahun 2011, halaman 3-23, Why The Arabic World Turned Away From Science. 

Lihat bagian pertama tulisan ini.

7c42ddfa515d78bc584444ff9291e754

Bagaimana Sains Arab Berjaya

Apa yang membuat sains Arab berkembang, dan kapan? Apakah karena kondisi yang menaungi para pemikir berbahasa Arab ini? Tentunya tidak ada satu penjelasan saja untuk perkembangan sains Arab, tidak ada satu pemimpin yang memprakarsainya, tidak ada satu budaya yang membuatnya. Seperti kata sejarawan David C. Lindberg dalam buku The Beginnings of Western Science (1992), sains Arab berjaya selama beberapa abad karena “sebuah rangkaian kompleks dari keadaan yang kebetulan.”

Aktivitas saintifik mencapai puncaknya ketika Islam menjadi peradaban yang dominan di dunia. Jadi salah satu faktor penting dari terbitnya budaya akademik di Zaman Keemasan adalah setting materialnya, yang disediakan oleh sebuah kerajaan yang kuat dan makmur. Tahun 750, Bangsa Arab telah menguasai Jazirah Arab, Iraq, Suriah, Libanon, Palestina, Mesir dan banyak bagian Afrika Utara, Asia Tengah, Spanyol, dan beberapa bagian Cina dan India. Rute-rute baru dibuka menggabungkan India dan Mediterania timur, membuat banyak kekayaan masuk melalui jalur dagang, juga industri pertanian.

Untuk pertama kalinya semenjak rezim Iskandar Agung, wilayah luas disatukan secara politik dan ekonomi. Hasilnya adalah, pertama, kerajaan Arab di bawah khalifah Ummayad (memerintah di Damascus tahun 661-750) lalu kerajaan Islam dibawah dinasti Abbasids secara luas membentuk kehidupan di Dunia Islam, mengubahnya dari kebudayaan tribal dengan sedikit daya baca menjadi kerajaan yang dinamis. Pastinya, kerajaan besar memiliki agama dan etnis yang beragam; tapi batas politik yang dulu membagi daerah dihilangkan; artinya ilmuan dari agama dan etnik yang berbeda bisa bepergian dan berinteraksi dengan ilmuan lain. Batasan bahasa, juga berkurang karena bahasa Arab menjadi bahasa akademis di wilayah yang luas.

Menyebarnya kerajaan membawa urbanisasi, pasar, dan kekayaan yang membantu penyebaran kolaborasi intelektual. Mearten Bosker dari Universitas Utrecht dan koleganya menjelaskan bahwa pada tahun 800, ketika negara Barat berbahasa Latin (dengan pengecualian Italia) “secara relatif terbelakang,” dunia Arab kebanyakan telah menjadi perkotaan, dengan populasi penduduk kota dua kali lipat lebih banyak daripada di Barat. Beberapa kota metropolitan besar –termasuk Bagdad, Basra, Wasit, dan Kufa — disatukan dibawah dinasti Abbasid; mereka berbagi satu bahasa dan berdagang melalui jalur sutra. Khususnya Bagdad, ibukota Abbasid, adalah tempat di mana istana-istana, masjid-masjid, perusahaan saham gabungan, bank, sekolah-sekolah dan rumah sakit berdiri; pada abad ke sepuluh, Bagdad adalah kota terbesar di dunia.

Ketika Kekaisaran Abbasid berkembang, ia juga meluas ke timur, membawa hubungan dengan Mesir, Yunani, India, Cina, dan budaya Persia, yang hasil karyanya siap dinikmati. (Di era ini, Muslim tidak tertarik pada Barat, karena alasan yang jelas: Barat sedang masa kegelapan). Salah satu penemuan penting oleh orang Muslim adalah kertas, yang mungkin ditemukan di Cina sekitar tahun 105 Masehi dan dibawa ke dunia Islam pada abad ke delapan Masehi. Pengaruh kertas pada kebudayaan akademik di masyarakat Arab sangatlah besar: ia membuat reproduksi buku jadi murah dan efisien, dan ia mendukung akademis, korespondensi, puisi, pendokumentasian, dan perbankan.

Datangnya kertas juga membantu memberi kemampuan baca-tulis, yang telah didorong oleh Islam sejak awal melalui dasar aksara mereka, Al-Quran. Muslim Abad Pertengahan menganggap pelajaran agama sangat serius, dan beberapa ilmuan di wilayah itu, besar dengan belajar agama. Ibnu Sina, misalnya, dikatakan telah hafal Al-Quran sebelum ia sampai ke Bagdad. Mungkinkah bisa dikatakan, Islam sendiri  mendukung usaha-usaha keilmuan? Pertanyaan ini bisa menimbulkan banyak jawaban yang berbeda-beda. Beberapa Ulama berargumen bahwa banyak bagian Al-Quran dan Hadis yang menyuruh umatnya untuk berpikir dan berusaha mengerti Allah melalui ciptaanNya dalam semangat keilmuan. Salah satu hadis berkata, “Carilah Ilmu, walau sampai negeri Cina.” Namun ada juga Ulama lain yang berkata bahwa “ilmu pengetahuan” di dalam Al-Quran bukanlah sains, tapi agama, dan mencampur sains dan agama adalah tidak tepat, bahkan naif.

p02xlbqt
BBC.uk

Hadiah dari Bagdad

Alasan paling signifikan kenapa Zaman Keemasan terjadi adalah karena adanya penyerapan dari warisan Yunani Kuno — sebuah perkembangan yang disebabkan oleh gerakan penerjemahan di masa Dinasti Abbasid Bagdad. Gerakan penerjemahan ini, menurut sejarawan Universitas Yale dan ahli budaya klasik Dimitri Gutas, adalah “sama pentingnya dengan, dan memiliki narasi yang sama dengan… Pericles di Athena, Renaissance di Italia, atau revolusi sains pada abad ke enam belas dan tujuh belas.” Orang bisa menyangsikan perkataan Gutas dan ingin membandingkan data, tapi tidak diragukan lagi bahwa gerakan penerjemahan di Bagdad — yang pada tahun 1000 Masehi telah menghasilkan hampir seluruh buku Yunani kuno di bidang kedokteran, matematika, dan filsafat alam ke dalam bahasa Arab — menyediakan dasar untuk belajar sains. Ketika kebanyakan pemikir besar di Zaman Keemasan tidak ada di Baghdad, pusat-pusat kebudayaan dunia Arab yang tersebar tidak akan menjadi besar tanpa gerakan penerjemahan yang dilakukan Bagdad. Karena inilah, luasnya pengaruh Zaman Keemasan di seluruh jazirah ini disebabkan suksesnya Dinasti Abbasid dalam dunia penerjemahan.

Naiknya kekuasaan Kekhalifahan Abbasid di tahun 750 adalah, seperti kata Bernard Lewis dalam buku Sejarah Arab (1950), “sebuah revolusi dalam Sejarah Islam, yang sangat penting sebagai titik balik seperti revolusi Prancis dan Rusia dalam sejarah Barat.” Kekhalifahan Abbasid tidak menggunakan suku dan etnis untuk identitas mereka, malahan mereka menggunakan agama dan bahasa sebagai penyatu identitas negara mereka. Ini membuat masyarakat menjadi kosmopolitan, dan semua Muslim dapat berpartisipasi di dalam kehidupan politik dan budaya. Kerajaan ini hidup sampai tahun 1258, ketika bangsa Mongol menyerang Bagdad dan mengeksekusi Khalifah Abbasid terakhir (bersamaan dengan banyak orang-orang Abbasid yang lain). Namun, peninggalan Abbasid telah membawa pengaruh politik dan kemasyarakatan dari Tunisia sampai ke India.

Gerakan penerjemahan Yunani-Arab di Abbasid Bagdad, seperti usaha akademis lain di dunia Islam, terpusat di institusi-institusi yang tidak begitu akademik–kebanyakan di rumah-rumah bangsawan yang menginginkan prestise sosial. Tapi Bagdad memang agak berbeda: aktivitas filsafat dan sainsnya mendapat dukungan besar dari kebudayaan mereka. Seperti yang dijelaskan Gutas dalam buku Pemikiran Yunani, Budaya Arab (1998), gerakan penerjemahan yang kebanyakan berkembang dari tengah abad ke delapan sampai akhir abad sepuluh, adalah usaha pengabadian diri yang didukung oleh “seluruh elit masyarakat Abbasid: khalifah dan para pangeran, pegawai negeri dan pemimpin militer, pedagang dan bankir, serta siswa dan ilmuan; itu bukanlah proyek satu kelompok saja demi agenda tertentu.” Ini adalah anomali dalam dunia Islam, yang kebanyakan, seperti kata Ehsan Masood, “didukung oleh patron pribadi demi kepentingan pribadi, atau ketika mereka mati, institusinya ikut mati bersama mereka.”

Nampaknya ada tiga faktor besar yang membuat gerakan penerjemahan ini. Pertama, dinasti Abbasid menemukan bahwa teks Yunani Kuno sangatlah berguna untuk pengembangan teknologi — memecahakan masalah sehari-hari. Karena itulah mereka tidak menerjemahkan puisi, sejarah, atau drama, yang mereka anggap tidak ada gunanya atau lebih rendah daripada filsafat atau ilmu alam. Karenanya, sains di bawah Islam, walaupun adalah bagian dari Sains Yunani, lebih praktis daripada teks aslinya. Terjemahan mencakup matematika, misalnya, biasanya berhubungan dengan teknik dan irigasi, juga untuk menghitung hukum waris. Terjemahan teks Yunani soal kedokteran, jelas memiliki guna praktis.

2aa18844a8c60e8f846e0ad354e20e19
Spherical Astrolabe, Museum of the History of Science, 1480 – 1481. Astrolabe ini dibuat dari perunggu dengan ukiran-ukiran, garis jam, meridian, dan lingkar altitude dari perak. Peta bintang dibuat dari perunggu, dilaminasi dengan perak di bagian gerhana dan lingkar ekuator. Sumber: Artfund.org

Astrologi juga adalah salah satu subjek Yunani yang diterjemahkan di Bagdad: dinasti Abbasid menggunakannya untuk membuktikan bahwa kekhalifahan mereka adalah takdir Allah, titisan dari kerajaan Mesopotamia kuno —  walau klaim tersebut kadang-kadang dikritik kaum Muslim, karena ramalan bintang untuk masa depan sebenarnya bertentangan dengan ajaran Islam (Bid’ah), dan hanya Allah yang punya pengetahuan itu.

Ada juga alasan-alasan praktis untuk agama, ketika mempelajari sains Yunani. Juru Kunci masjid menemukan astronomi dan trigonometri penting untuk menentukan arah kiblat, waktu shalat, dan awal Ramadan. Contohnya, ahli perbintangan Ibnu al-Shatir (meninggal 1375) yang juga bekerja sebagai pengatur waktu di masjid (muwaqqit), di Masjid Raya Damaskus. Motivasi agama lain dalam menerjemahkan teks Yunani kuno adalah untuk keperluan retorika atau apa yang hari ini kita sebut perang ideologi: topik soal Aristotoles, risalah soal logika, digunakan untuk membantu permasalahan agama dengan non-muslim dan gerakan Islamisasi (yang adalah kebijakan negara di bawah dinasti Abbasid).

Faktor kedua yang penting menyoal gerakan penerjemahan ini adalah bahwa pemikiran Yunani telah menyatu dengan daerah tersebut, perlahan-lahan dan dalam masa yang lama, sebelum dinasti Abbasid dan sebelum Islam berkembang. Ini karena, terjemahan Abbasid Bagdad berbeda dengan penggalian Barat terhadap teks Yunani klasik di Athena, yang bertujuan untuk menghidupkan kembali Hellenisme (budaya Yunani). Pemikiran Yunani menyebar cepat selama ekspansi militer Iskandar Agung (Alexander the Great) di Asia dan Afrika utara pada tahun 300 SM, dan pusat peradaban Yunani sudah terbentuk di Alexandria (Mesir) dan Kerajaan Greco-Bactrian (238-140 SM, di daerah yang sekarang Afganistan). Peradaban di sana adalah pusat akademik yang produktif, bahkan ketika kedatangan Kerajaan Romawi. Ketika bangsa Arab mulai menyerang, bahasa Yunani sudah menjadi bahasa yang sering dipakai di wilayah itu, dan Yunani menjadi bahasa administratif di daerah Suriah dan Mesir. Ketika Kristen hadir, pemikiran Yunani disebarkan lebih jauh melalui misi misionaris, khususnya oleh kaum Kristen Nestorian. Berabad-abad berikutnya, di masa pemeritahan Abbasid di Bagdad, banyak kaum Nestorian ini –beberapa adalah orang Arab atau orang Persia yang sudah terarabisasi yang akhirnya menjadi mualaf–menyumbang tenaga teknis mereka dalam menerjemahkan bahasa Yunani ke dalam bahasa Arab, bahkan banyak mengisi posisi penerjemah profesional di administrasi pemerintahan Abbasid.

Iskandar Agung
Iskandar Agung atau Alexander The Great, dikenal di peradaban Islam sebagai Iskandar Zulkarnain (Zul: Manusia, Karnain: bertanduk dua), karena ia menguasai Barat dan Timur. Banyak teks Muslim mengklaimnya beragama monoteis, tapi artefak-artefak peninggalan Macedonia menunjukkan Iskandar sebagai penganut Pagan dan biseksual. Sumber foto: Artefak Museum Arkeologi Nasional Napoli.

Guna praktis dan pengaruh budaya Yunani memang bisa menjelaskan bagaimana sains berkembang, tapi ia sudah hadir di Jazirah Arab bahkan sebelum Zaman Keemasan; jadi penerjemahan Abbasid bukanlah satu-satunya faktor. Seperti yang dikemukakan Gutas, faktor yang khas, yang membuat pergerakan terjemahan itu adalah usaha-usaha raja-raja Abbasid untuk meligitimasi kekuasaannya dengan budaya Persia, yang saat itu banyak merujuk pemikiran Yunani. Daerah Bagdad, dimana Dinasti Abbasid berkuasa, terdiri dari banyak orang Persia yang memainkan peran besar dalam mengakhiri Dinasti sebelumnya; dus, dinasti Abbasid membuat banyak gerakan simbolik dan politik untuk menyatukan diri mereka dengan bangsa Persia. Sebuah usaha untuk membungkus kekuasaannya dengan dasar pemerintahan yang kuat, Abbasid menggabungkan Zoroasteriasm (agama Persia) dengan ideologi imperial Dinasti Sassanian Persia yang sudah lama hilang, sebagai platform politiknya. Pemerintah Abbasid berhasi menegakkan ide bahwa mereka bukanlah penerus dinasti Ummayad dari Arab, yang jatuh pada tahun 950, tapi penerus dinasti Persia sebelumnya, Sassinian.

Penggabungan dengan ideologi Sassinian ini membawa penerjemahan teks Yunani ke bahasa Arab karena itu dilihat sebagai pemulihan bukan hanya pengetahuan Yunani tapi juga pengetahuan Persia. Orang Persia percaya bahwa teks Zoroastrian kuno tersebar karena penghancuran Persepolis tahun 330 SM oleh Iskandar Agung, dan telah diadaptasi oleh bangsa Yunani. Dengan menerjemahkan teks Yunani ke dalam bahasa Arab, kebijaksanaan Persia bisa dipulihkan.

darius_relief1
Zoroastrianism adalah salah satu agama tertua di dunia (teks terawal yang ditemukan sekitar 2000 SM), dari kebudayaan Mesopotamia dan Babylonia. Nabinya bernama Zoroaster atau Zarathustra, dengan kitab suci Avesta.

Sebelumnya, Muslim Arab sendiri tidak keberatan terhadap gerakan penerjemahan dan studi keilmuan, mereka merasa bahwa penerjemahan itu “tidak mengancam etnis dan sejarah mereka,” kata Gutas. Ini mulai berubah ketika rezim al-Mamun (meninggal tahun 883), khalifah Abbasid ke tujuh, berkuasa. Untuk melawan kerajan Byzantium, al-Mamun mengorientasi ulang gerakan penerjemahan dengan membatasinya hanya untuk ilmu Yunani, bukan Persia.  Di mata Muslim Abbasid di era ini, Yunani Kuno memang tidak punya reputasi ‘murni’ –toh mereka bukan Muslim — tapi paling tidak belum ‘dinodai’ Kristen. Salah satu filsuf Arab, al-Kindi (meninggal tahun 870), bahkan membuat sebuah geneologi yang menghadirkan Yunan, nenek moyang Yunani Kuno, sebagai saudara dari Qahtan, nenek moyang bangsa Arab.

Sampai kejatuhannya karena invasi Mongol tahun 1258, khalifah Abbasid adalah kekuatan terbesar di dunia Islam dan telah melewati gerakan intelektual paling produktf selama sejarah bangsa Arab. Kaum Abbasid membaca, mengkritik, menerjemahkan dan memelihara karya-karya Yunani dan Persia yang bisa saja hilang. Dengan membuat pemikiran Yunani bisa diakses, mereka juga telah membentuk fondasi Zaman Keemasan Arab. Karya-karya besar filsafat dan sains yang jauh dari Bagdad — di Spanyol, Mesir, dan Asia Tengah — dipengaruhi oleh terjemahan Yunani-Arab, keduanya selama dan setelah kekuasaan Abbasid. Maka, walaupun hanya kebetulan bahwa bangkitnya sains di Barat tergantung sains Arab, tidak diragukan lagi bahwa Barat mendapat banyak keuntungan dari karya Yunani dan akademisi Arab yang mengkritiknya.

Bersambung ke bagian III

Hillel Ofek adalah penulis yang tinggal di Austin, Texas.

Iklan
Anthropology, Kurasi/Kritik

Ketika Dunia Modern Menarik Paksa Mentawai

Teu Kapik Sibajak, left, and Aman Aqwi Sakkukuret, members of the Mentawai tribe, on the island of Siberut in Indonesia.
Teu Kapik Sibajak, kiri, dan Aman Aqwi Sakkukuret, anggota suku Mentawai di Siberut. Kredit foto Sergey Ponomarev untuk The New York Times

DOROUGOK, Indonesia — Orang tua itu hanya memakai selembar kain, menunjukkan ototnya yang kekar dan kulit tebal karena telah puluhan tahun tinggal di hutan. Seperti banyak anggota sukunya yang lain, ia dipenuhi tato dari kepala sampai tumit. Walau ia terlihat kuat, ia telah sedikit bungkuk dan batuk-batuk karena terlalu banyak merokok tembakau.

Teu Kapik Sibajak nama orang tua itu. Suatu pagi ia mengambil kapaknya dan pergi ke hutan untuk menebang sebuah pohon sagu. Pak Kapik menghantam dengan pasti sampai ia dan beberapa kawannya berhasil menebang lalu menggelindingkan sebantang pohon yang berat itu ke rumahnya. “Kerja keras, ini!” katanya.

Tapi usahanya tak sia-sia: dedaunan pohon itu menjadi atap di rumah kayu panjangnya; tepung kanjinya bisa dimasak dan dimakan, atau dijadikan pakan babi, bebek dan ayam ternaknya.

Pak Kapik dan istrinya, Teu Kapik Sikalabai, adalah dua diantara sedikit orang Mentawai yang tersisa, yang hidup secara tradisional di hutan rimba, di dalam kepulauan terpencil Siberut.

Mereka, dan orang-orang seperti mereka, telah puluhan tahun melawan kebijakan pemerintah Indonesia yang menekan orang rimba untuk meninggalkan adat lamanya, dan menerima agama resmi pemerintah, serta pindah ke desa-desa bentukan pemerintah. Perpindahan itu, membawa juga dunia modern kepada anak-anak mereka, yang membuat pemisah  generasi makin melebar di suku Mentawai.

mentawai-3
Suku Mentawai telah hidup di hutan hujan tropis selama ribuan tahun. Kredit foto Sergey Ponomarev untuk The New York Times

Suku Mentawai, yang hari ini berjumlah sekitar 60.000 jiwa, adalah pemilik budaya langka Indonesia yang tidak terpengaruh Hindu, Buddha, atau Islam yang mengguyur selama dua millenia terakhir. Sebaliknya, tradisi dan kepercayaan mereka mirip dengan orang asli Austronesia yang datang ke kepulauan ini dari Taiwan sekitar 4.000 tahun yang lalu. Jika kebudayaan mereka menghilang, salah satu hubungan terakhir kita dengan penghuni Indonesia paling awal akan hilang bersamanya.

Kehidupan mereka yang sangat keras kini menjadi tantangan untuk anak-anaknya. “Mereka harus bekerja walaupun mereka sangat tua, sampai mereka tidak bisa bekerja lagi,” kata Petrus Sekaliou, anak lelaki keluarga Kapik. Pak Sekalio memakai pakaian ala barat, dan tidak seperti orang tuanya, ia bisa bicara bahasa Indonesia, bahasa nasional, dengan lancar.

Pak Sekliou, 42 tahun, hidup di desa Mongorut di luar hutan, sekitar 90 menit jalan kaki dari rumah orang tuanya. Ia bertani dan melakukan kerja serabutan di sana, dan berusaha mengunjungi orang tuanya setiap akhir pekan.

Ketika orang tuanya tidak bisa lagi menjaga diri mereka sendiri, Pak Sekaliou bilang, ia berencana untuk meninggalkan anak-istrinya, dan kembali ke hutan sampai orang tuanya meninggal. Cara lain — memindahkan orang tuanya ke desa, dimana banyak motor dan remaja bermain telpon pintar — akan terlalu membebankan usia renta mereka.

“Mereka bahagia di hutan,” katanya. “Inilah yang mereka tahu.”

Pak Kapik, ayahnya, berasal dari kasta tinggi yang disebut Sikkerei — dukun, penyembuh hutan dan penjaga kepercayaan animisme Mentawai. Ia dan istrinya bersikeras mereka tidak akan pergi kemana-mana.

“Saya tidak akan pernah pindah dari sini,” kata bu Kapik.

Sejak sampai di kepulaun Siberut sekitar 2,000 tahun yang lalu, orang Mentawai menjaga jarak dengan dunia luar. Sampai Indonesia merdeka di tahun 1945, dan pemimpin baru negara itu berusaha untuk menyatukan seluruh kepulauan dengan bahasa dan budaya yang sama, barulah kebudayaan Mentawai berubah.

Secara hukum, seluruh Warga Negara Indonesia harus menerima agama resmi Indonesia: Islam, Kristen, Katolik, Hindu atau Buddha. Tapi di Mentawai, seperti banyak pemeluk kepercayaan animisme Indonesia, menolak mengambil agama versi pemerintah.

Pada tahun 1954, kepolisian Indonesia dan para pejabat negara sampai di Siberut untuk mengirimkan ultimatum: Orang Mentawai punya tiga bulan untuk memilih Kristen atau Islam sebagai agama mereka, dan menghentikan praktik tradisional mereka, yang dianggap jahiliyah. Kebanyakan orang Mentawai memilih Kristen, karena agama Islam melarang memelihara babi, yang jadi salah satu elemen utama budaya mereka.

Selama beberapa tahun setelahnya, Polisi Indonesia bekerja dengan pejabat negara lain dan pemimpin agama, mengunjungi desa Mentawai untuk membakar hiasan rambut tradisional, dan artefak ritual agama lokal mereka yang lain.

Keluarga Kapik kabur ke dalam hutan untuk menghindari pemaksaan negara ini, namun tidak berhasil. Bu Kapik ingat bagaimana komandan polisi lokal melarang mereka membuat tato atau mengasah gigi, dua adat kebiasaan Mentawai.

“Saya sangat marah,” katanya. Jadi ia melawan.

Pada akhir tahun 1960, bu Kapik bilang, dia memutuskan akan menghiraukan larangan pemerintah dan membuat tato di kakinya. Komandan polisi saat itu, Nikodemus Siritoitet, melihat tato baru tersebut ketika ia mengunjungi keluarga Kapik di hutan. Ia menghukum bu Kapik dengan memaksanya berladang di bawah terik matahari selama satu minggu, tanpa dibayar.

“Menderita sekali,” katanya. “Saya tidak pernah berani untuk membuat tato lagi.”

Reimar Schefold, seorang antropolog Belanda yang tinggal bersama suku Mentawai di akhir tahun 1960, juga punya masalah dengan pak Siritoitet, yang keberatan soal penelitiannya di sana.

“Waktu itu, banyak warisan tua dihancurkan,” kata Dr. Schefold. “Ketika mereka membuat ritual, polisi akan datang dan membakar peralatan ritual mereka — ‘membakar Tuhan mereka,’ menurut mereka.”

Yang membuat khawatir keluarga-keluarga seperti keluarga Kapik adalah, jika mereka tidak ikut agama pemerintah, maka pemerintah Suharto yang waktu itu baru berkuasa, akan menuduh mereka komunis.

Hanya setelah turis Barat mulai mengunjungi orang rimba di tahun 1990, maka pemerintah lokal mulai mengakui adanya keuntungan ekonomi dalam mengijinkan suku Mentawai hidup bebas. Pada saat itu, satu generasi penuh telah dibesarkan tanpa pernah menyentuh adat tradisional.

Hari ini, menurut antropolog Mentawai Juniator Tulius, hanya sekitar 2000 orang Mentawai yang masih mempraktikan kepercayaan tradisional mereka.

Tarikan antara tua dan muda terus terjadi di desa. Tahun 2014, pemerintah Indonesia membuat Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Dua tahun yang lalu, didirikanlah sebuah puskesmas yang menyediakan pengobatan gratis di Saibi Samukop, sebuah desa di pinggir hutan.

Tapi seorang dokter di sana, Winda Anggriana, 26 tahun, bilang masih banyak orang yang menolak jasanya, dan memilih ke dukun di dalam hutan. “Sayang sekali,” katanya, sambil menyebutkan pasien-pasien dengan keadaan medis yang sebenarnya bisa diselamatkan, jadi meninggal karena tidak ke dokter selama dua tahun Anggriana di sana.

Perbedaan yang tajam juga hadir antara gereja-gereja, tentang bagaimana baiknya memperlakukan tradisi animisme Mentawai, yang masih dipercaya banyak warga desa. Di akhir Juli, gereja Lutheran di Mentawai merayakan 100 tahun agama itu menerima orang Kristen Mentawai pertama. Dalam sebuah wawancara, seorang pendeta Lutheran menekankan tidak akan ada sinkronisasi antara Kristen dengan kepercayaan animisme.

Sementara, Gereja Katolik Roma, yang telah berkali-kali meminta maaf atas tindakan mereka terhadap masyarakat suku asli di Amerika Latin dan tempat-tempat lain, lebih terbuka terhadap cara orang Mentawai mempraktikan tradisi asli mereka bersamaan dengan Katolik, kata Tangkas Dame Simatupang, Pastur Gereja Katolik Saibi. Pastur menambahkan, sebagai contoh, masyarakat Katolik Mentawai harus membuat tanda salib dengan jari mereka dulu, sebelum mereka menghubungi nenek moyang mereka.

Usaha-usaha untuk menghidupkan kembali tradisi Mentawai telah dimulai, bagaimanapun lambatnya. Indonesia memulai transisinya ke demokrasi di tahun 1998, dan generasi termuda Mentawai menjadi dewasa di masa yang tidak begitu mengekang. Aktivis telah berhasil mendorong untuk menambahkan budaya Mentawai di kurikulum sekolah-sekolah lokal. Hari ini, tetua Mentawai boleh menyembah dan berpakaian semau mereka.

Tetap saja, banyak orang Mentawai terseret jauh dari budaya mereka yang hilang akibat puluhan tahun opresi pemerintah. “Anak-anak saya tidak tahu tentang apapun soal budayanya,” kata pak Sekaliou, warga desa yang akan kembali ke hutan untuk mengurus orang tuanya.

Pak Sekaliou bilang bahwa ia kecewa dengan kehidupannya di desa, dan ia menanti-nanti saat bisa tinggal dengan orang tuanya nanti. “Secara pribadi, saya lebih memilih tinggal di hutan,” katanya. “Saya lebih bahagia di sana. Tidak perlu stres cari kerja tiap hari.”

Di suatu siang, ketika ia melihat ayahnya kembali dari memberi makan babi, ia menambahkan: “Generasi tua lebih bahagia daripada kami sekarang.”

mentawai-4
Pak Kapik mengurus ayam dan babinya. Anaknya yang berumur 42 tahun, Petrus Sekaliou, sudah memakai pakaian modern dan tinggal di desa di luar hutan. Kredit foto Sergey Ponomarev for The New York Times
Filsafat, Gender, Politik, Racauan

Propaganda dan Islam yang Menipumu (Orang Amerika)

Justin King

Diterjemahkan dari Antimedia.org oleh Nosa Normanda

The relatives of one of the victims of the twin suicide attacks in Beirut mourned during a funeral procession in the city's Burj al-Barajneh neighborhood. Credit Wael Hamzeh/European Pressphoto Agency
The relatives of one of the victims of the twin suicide attacks in Beirut mourned during a funeral procession in the city’s Burj al-Barajneh neighborhood. Credit Wael Hamzeh/European Pressphoto Agency. NYTimes.com

(Antimedia) Propaganda adalah roda yang digunakan pemerintah untuk mengendarai bus bernama negara; biasanya propaganda menyetir negara ke peperangan atau ke ujung jurang kemanusiaan. Mengagumkan berapa banyak orang yang mengaku rasional, tapi mengikuti suara mayoritas dalam merendahkan kemanusiaan musuh nasionalnya.

Baca lebih lanjut