Anthropology, Ethnography, Filsafat, Kurasi/Kritik, Politik, Racauan, terjemahan

Peradaban Sains Islam Bagian II: Terjemahan Adalah Kunci

Diterjemahkan tanpa izin dari tulisan Hilel Ofek, di jurnal The New Atlantic, no. 30 tahun 2011, halaman 3-23, Why The Arabic World Turned Away From Science. 

Lihat bagian pertama tulisan ini.

7c42ddfa515d78bc584444ff9291e754

Bagaimana Sains Arab Berjaya

Apa yang membuat sains Arab berkembang, dan kapan? Apakah karena kondisi yang menaungi para pemikir berbahasa Arab ini? Tentunya tidak ada satu penjelasan saja untuk perkembangan sains Arab, tidak ada satu pemimpin yang memprakarsainya, tidak ada satu budaya yang membuatnya. Seperti kata sejarawan David C. Lindberg dalam buku The Beginnings of Western Science (1992), sains Arab berjaya selama beberapa abad karena “sebuah rangkaian kompleks dari keadaan yang kebetulan.”

Aktivitas saintifik mencapai puncaknya ketika Islam menjadi peradaban yang dominan di dunia. Jadi salah satu faktor penting dari terbitnya budaya akademik di Zaman Keemasan adalah setting materialnya, yang disediakan oleh sebuah kerajaan yang kuat dan makmur. Tahun 750, Bangsa Arab telah menguasai Jazirah Arab, Iraq, Suriah, Libanon, Palestina, Mesir dan banyak bagian Afrika Utara, Asia Tengah, Spanyol, dan beberapa bagian Cina dan India. Rute-rute baru dibuka menggabungkan India dan Mediterania timur, membuat banyak kekayaan masuk melalui jalur dagang, juga industri pertanian.

Untuk pertama kalinya semenjak rezim Iskandar Agung, wilayah luas disatukan secara politik dan ekonomi. Hasilnya adalah, pertama, kerajaan Arab di bawah khalifah Ummayad (memerintah di Damascus tahun 661-750) lalu kerajaan Islam dibawah dinasti Abbasids secara luas membentuk kehidupan di Dunia Islam, mengubahnya dari kebudayaan tribal dengan sedikit daya baca menjadi kerajaan yang dinamis. Pastinya, kerajaan besar memiliki agama dan etnis yang beragam; tapi batas politik yang dulu membagi daerah dihilangkan; artinya ilmuan dari agama dan etnik yang berbeda bisa bepergian dan berinteraksi dengan ilmuan lain. Batasan bahasa, juga berkurang karena bahasa Arab menjadi bahasa akademis di wilayah yang luas.

Menyebarnya kerajaan membawa urbanisasi, pasar, dan kekayaan yang membantu penyebaran kolaborasi intelektual. Mearten Bosker dari Universitas Utrecht dan koleganya menjelaskan bahwa pada tahun 800, ketika negara Barat berbahasa Latin (dengan pengecualian Italia) “secara relatif terbelakang,” dunia Arab kebanyakan telah menjadi perkotaan, dengan populasi penduduk kota dua kali lipat lebih banyak daripada di Barat. Beberapa kota metropolitan besar –termasuk Bagdad, Basra, Wasit, dan Kufa — disatukan dibawah dinasti Abbasid; mereka berbagi satu bahasa dan berdagang melalui jalur sutra. Khususnya Bagdad, ibukota Abbasid, adalah tempat di mana istana-istana, masjid-masjid, perusahaan saham gabungan, bank, sekolah-sekolah dan rumah sakit berdiri; pada abad ke sepuluh, Bagdad adalah kota terbesar di dunia.

Ketika Kekaisaran Abbasid berkembang, ia juga meluas ke timur, membawa hubungan dengan Mesir, Yunani, India, Cina, dan budaya Persia, yang hasil karyanya siap dinikmati. (Di era ini, Muslim tidak tertarik pada Barat, karena alasan yang jelas: Barat sedang masa kegelapan). Salah satu penemuan penting oleh orang Muslim adalah kertas, yang mungkin ditemukan di Cina sekitar tahun 105 Masehi dan dibawa ke dunia Islam pada abad ke delapan Masehi. Pengaruh kertas pada kebudayaan akademik di masyarakat Arab sangatlah besar: ia membuat reproduksi buku jadi murah dan efisien, dan ia mendukung akademis, korespondensi, puisi, pendokumentasian, dan perbankan.

Datangnya kertas juga membantu memberi kemampuan baca-tulis, yang telah didorong oleh Islam sejak awal melalui dasar aksara mereka, Al-Quran. Muslim Abad Pertengahan menganggap pelajaran agama sangat serius, dan beberapa ilmuan di wilayah itu, besar dengan belajar agama. Ibnu Sina, misalnya, dikatakan telah hafal Al-Quran sebelum ia sampai ke Bagdad. Mungkinkah bisa dikatakan, Islam sendiri  mendukung usaha-usaha keilmuan? Pertanyaan ini bisa menimbulkan banyak jawaban yang berbeda-beda. Beberapa Ulama berargumen bahwa banyak bagian Al-Quran dan Hadis yang menyuruh umatnya untuk berpikir dan berusaha mengerti Allah melalui ciptaanNya dalam semangat keilmuan. Salah satu hadis berkata, “Carilah Ilmu, walau sampai negeri Cina.” Namun ada juga Ulama lain yang berkata bahwa “ilmu pengetahuan” di dalam Al-Quran bukanlah sains, tapi agama, dan mencampur sains dan agama adalah tidak tepat, bahkan naif.

p02xlbqt
BBC.uk

Hadiah dari Bagdad

Alasan paling signifikan kenapa Zaman Keemasan terjadi adalah karena adanya penyerapan dari warisan Yunani Kuno — sebuah perkembangan yang disebabkan oleh gerakan penerjemahan di masa Dinasti Abbasid Bagdad. Gerakan penerjemahan ini, menurut sejarawan Universitas Yale dan ahli budaya klasik Dimitri Gutas, adalah “sama pentingnya dengan, dan memiliki narasi yang sama dengan… Pericles di Athena, Renaissance di Italia, atau revolusi sains pada abad ke enam belas dan tujuh belas.” Orang bisa menyangsikan perkataan Gutas dan ingin membandingkan data, tapi tidak diragukan lagi bahwa gerakan penerjemahan di Bagdad — yang pada tahun 1000 Masehi telah menghasilkan hampir seluruh buku Yunani kuno di bidang kedokteran, matematika, dan filsafat alam ke dalam bahasa Arab — menyediakan dasar untuk belajar sains. Ketika kebanyakan pemikir besar di Zaman Keemasan tidak ada di Baghdad, pusat-pusat kebudayaan dunia Arab yang tersebar tidak akan menjadi besar tanpa gerakan penerjemahan yang dilakukan Bagdad. Karena inilah, luasnya pengaruh Zaman Keemasan di seluruh jazirah ini disebabkan suksesnya Dinasti Abbasid dalam dunia penerjemahan.

Naiknya kekuasaan Kekhalifahan Abbasid di tahun 750 adalah, seperti kata Bernard Lewis dalam buku Sejarah Arab (1950), “sebuah revolusi dalam Sejarah Islam, yang sangat penting sebagai titik balik seperti revolusi Prancis dan Rusia dalam sejarah Barat.” Kekhalifahan Abbasid tidak menggunakan suku dan etnis untuk identitas mereka, malahan mereka menggunakan agama dan bahasa sebagai penyatu identitas negara mereka. Ini membuat masyarakat menjadi kosmopolitan, dan semua Muslim dapat berpartisipasi di dalam kehidupan politik dan budaya. Kerajaan ini hidup sampai tahun 1258, ketika bangsa Mongol menyerang Bagdad dan mengeksekusi Khalifah Abbasid terakhir (bersamaan dengan banyak orang-orang Abbasid yang lain). Namun, peninggalan Abbasid telah membawa pengaruh politik dan kemasyarakatan dari Tunisia sampai ke India.

Gerakan penerjemahan Yunani-Arab di Abbasid Bagdad, seperti usaha akademis lain di dunia Islam, terpusat di institusi-institusi yang tidak begitu akademik–kebanyakan di rumah-rumah bangsawan yang menginginkan prestise sosial. Tapi Bagdad memang agak berbeda: aktivitas filsafat dan sainsnya mendapat dukungan besar dari kebudayaan mereka. Seperti yang dijelaskan Gutas dalam buku Pemikiran Yunani, Budaya Arab (1998), gerakan penerjemahan yang kebanyakan berkembang dari tengah abad ke delapan sampai akhir abad sepuluh, adalah usaha pengabadian diri yang didukung oleh “seluruh elit masyarakat Abbasid: khalifah dan para pangeran, pegawai negeri dan pemimpin militer, pedagang dan bankir, serta siswa dan ilmuan; itu bukanlah proyek satu kelompok saja demi agenda tertentu.” Ini adalah anomali dalam dunia Islam, yang kebanyakan, seperti kata Ehsan Masood, “didukung oleh patron pribadi demi kepentingan pribadi, atau ketika mereka mati, institusinya ikut mati bersama mereka.”

Nampaknya ada tiga faktor besar yang membuat gerakan penerjemahan ini. Pertama, dinasti Abbasid menemukan bahwa teks Yunani Kuno sangatlah berguna untuk pengembangan teknologi — memecahakan masalah sehari-hari. Karena itulah mereka tidak menerjemahkan puisi, sejarah, atau drama, yang mereka anggap tidak ada gunanya atau lebih rendah daripada filsafat atau ilmu alam. Karenanya, sains di bawah Islam, walaupun adalah bagian dari Sains Yunani, lebih praktis daripada teks aslinya. Terjemahan mencakup matematika, misalnya, biasanya berhubungan dengan teknik dan irigasi, juga untuk menghitung hukum waris. Terjemahan teks Yunani soal kedokteran, jelas memiliki guna praktis.

2aa18844a8c60e8f846e0ad354e20e19
Spherical Astrolabe, Museum of the History of Science, 1480 – 1481. Astrolabe ini dibuat dari perunggu dengan ukiran-ukiran, garis jam, meridian, dan lingkar altitude dari perak. Peta bintang dibuat dari perunggu, dilaminasi dengan perak di bagian gerhana dan lingkar ekuator. Sumber: Artfund.org

Astrologi juga adalah salah satu subjek Yunani yang diterjemahkan di Bagdad: dinasti Abbasid menggunakannya untuk membuktikan bahwa kekhalifahan mereka adalah takdir Allah, titisan dari kerajaan Mesopotamia kuno —  walau klaim tersebut kadang-kadang dikritik kaum Muslim, karena ramalan bintang untuk masa depan sebenarnya bertentangan dengan ajaran Islam (Bid’ah), dan hanya Allah yang punya pengetahuan itu.

Ada juga alasan-alasan praktis untuk agama, ketika mempelajari sains Yunani. Juru Kunci masjid menemukan astronomi dan trigonometri penting untuk menentukan arah kiblat, waktu shalat, dan awal Ramadan. Contohnya, ahli perbintangan Ibnu al-Shatir (meninggal 1375) yang juga bekerja sebagai pengatur waktu di masjid (muwaqqit), di Masjid Raya Damaskus. Motivasi agama lain dalam menerjemahkan teks Yunani kuno adalah untuk keperluan retorika atau apa yang hari ini kita sebut perang ideologi: topik soal Aristotoles, risalah soal logika, digunakan untuk membantu permasalahan agama dengan non-muslim dan gerakan Islamisasi (yang adalah kebijakan negara di bawah dinasti Abbasid).

Faktor kedua yang penting menyoal gerakan penerjemahan ini adalah bahwa pemikiran Yunani telah menyatu dengan daerah tersebut, perlahan-lahan dan dalam masa yang lama, sebelum dinasti Abbasid dan sebelum Islam berkembang. Ini karena, terjemahan Abbasid Bagdad berbeda dengan penggalian Barat terhadap teks Yunani klasik di Athena, yang bertujuan untuk menghidupkan kembali Hellenisme (budaya Yunani). Pemikiran Yunani menyebar cepat selama ekspansi militer Iskandar Agung (Alexander the Great) di Asia dan Afrika utara pada tahun 300 SM, dan pusat peradaban Yunani sudah terbentuk di Alexandria (Mesir) dan Kerajaan Greco-Bactrian (238-140 SM, di daerah yang sekarang Afganistan). Peradaban di sana adalah pusat akademik yang produktif, bahkan ketika kedatangan Kerajaan Romawi. Ketika bangsa Arab mulai menyerang, bahasa Yunani sudah menjadi bahasa yang sering dipakai di wilayah itu, dan Yunani menjadi bahasa administratif di daerah Suriah dan Mesir. Ketika Kristen hadir, pemikiran Yunani disebarkan lebih jauh melalui misi misionaris, khususnya oleh kaum Kristen Nestorian. Berabad-abad berikutnya, di masa pemeritahan Abbasid di Bagdad, banyak kaum Nestorian ini –beberapa adalah orang Arab atau orang Persia yang sudah terarabisasi yang akhirnya menjadi mualaf–menyumbang tenaga teknis mereka dalam menerjemahkan bahasa Yunani ke dalam bahasa Arab, bahkan banyak mengisi posisi penerjemah profesional di administrasi pemerintahan Abbasid.

Iskandar Agung
Iskandar Agung atau Alexander The Great, dikenal di peradaban Islam sebagai Iskandar Zulkarnain (Zul: Manusia, Karnain: bertanduk dua), karena ia menguasai Barat dan Timur. Banyak teks Muslim mengklaimnya beragama monoteis, tapi artefak-artefak peninggalan Macedonia menunjukkan Iskandar sebagai penganut Pagan dan biseksual. Sumber foto: Artefak Museum Arkeologi Nasional Napoli.

Guna praktis dan pengaruh budaya Yunani memang bisa menjelaskan bagaimana sains berkembang, tapi ia sudah hadir di Jazirah Arab bahkan sebelum Zaman Keemasan; jadi penerjemahan Abbasid bukanlah satu-satunya faktor. Seperti yang dikemukakan Gutas, faktor yang khas, yang membuat pergerakan terjemahan itu adalah usaha-usaha raja-raja Abbasid untuk meligitimasi kekuasaannya dengan budaya Persia, yang saat itu banyak merujuk pemikiran Yunani. Daerah Bagdad, dimana Dinasti Abbasid berkuasa, terdiri dari banyak orang Persia yang memainkan peran besar dalam mengakhiri Dinasti sebelumnya; dus, dinasti Abbasid membuat banyak gerakan simbolik dan politik untuk menyatukan diri mereka dengan bangsa Persia. Sebuah usaha untuk membungkus kekuasaannya dengan dasar pemerintahan yang kuat, Abbasid menggabungkan Zoroasteriasm (agama Persia) dengan ideologi imperial Dinasti Sassanian Persia yang sudah lama hilang, sebagai platform politiknya. Pemerintah Abbasid berhasi menegakkan ide bahwa mereka bukanlah penerus dinasti Ummayad dari Arab, yang jatuh pada tahun 950, tapi penerus dinasti Persia sebelumnya, Sassinian.

Penggabungan dengan ideologi Sassinian ini membawa penerjemahan teks Yunani ke bahasa Arab karena itu dilihat sebagai pemulihan bukan hanya pengetahuan Yunani tapi juga pengetahuan Persia. Orang Persia percaya bahwa teks Zoroastrian kuno tersebar karena penghancuran Persepolis tahun 330 SM oleh Iskandar Agung, dan telah diadaptasi oleh bangsa Yunani. Dengan menerjemahkan teks Yunani ke dalam bahasa Arab, kebijaksanaan Persia bisa dipulihkan.

darius_relief1
Zoroastrianism adalah salah satu agama tertua di dunia (teks terawal yang ditemukan sekitar 2000 SM), dari kebudayaan Mesopotamia dan Babylonia. Nabinya bernama Zoroaster atau Zarathustra, dengan kitab suci Avesta.

Sebelumnya, Muslim Arab sendiri tidak keberatan terhadap gerakan penerjemahan dan studi keilmuan, mereka merasa bahwa penerjemahan itu “tidak mengancam etnis dan sejarah mereka,” kata Gutas. Ini mulai berubah ketika rezim al-Mamun (meninggal tahun 883), khalifah Abbasid ke tujuh, berkuasa. Untuk melawan kerajan Byzantium, al-Mamun mengorientasi ulang gerakan penerjemahan dengan membatasinya hanya untuk ilmu Yunani, bukan Persia.  Di mata Muslim Abbasid di era ini, Yunani Kuno memang tidak punya reputasi ‘murni’ –toh mereka bukan Muslim — tapi paling tidak belum ‘dinodai’ Kristen. Salah satu filsuf Arab, al-Kindi (meninggal tahun 870), bahkan membuat sebuah geneologi yang menghadirkan Yunan, nenek moyang Yunani Kuno, sebagai saudara dari Qahtan, nenek moyang bangsa Arab.

Sampai kejatuhannya karena invasi Mongol tahun 1258, khalifah Abbasid adalah kekuatan terbesar di dunia Islam dan telah melewati gerakan intelektual paling produktf selama sejarah bangsa Arab. Kaum Abbasid membaca, mengkritik, menerjemahkan dan memelihara karya-karya Yunani dan Persia yang bisa saja hilang. Dengan membuat pemikiran Yunani bisa diakses, mereka juga telah membentuk fondasi Zaman Keemasan Arab. Karya-karya besar filsafat dan sains yang jauh dari Bagdad — di Spanyol, Mesir, dan Asia Tengah — dipengaruhi oleh terjemahan Yunani-Arab, keduanya selama dan setelah kekuasaan Abbasid. Maka, walaupun hanya kebetulan bahwa bangkitnya sains di Barat tergantung sains Arab, tidak diragukan lagi bahwa Barat mendapat banyak keuntungan dari karya Yunani dan akademisi Arab yang mengkritiknya.

Bersambung ke bagian III

Hillel Ofek adalah penulis yang tinggal di Austin, Texas.

Iklan
Anthropology, Filsafat, Kurasi/Kritik, Politik, Racauan, terjemahan

Peradaban Sains Islam, Bagian I: Kontribusi Ilmuan Arab

Diterjemahkan tanpa izin dari tulisan Hilel Ofek, di jurnal The New Atlantic, no. 30 tahun 2011, halaman 3-23, Why The Arabic World Turned Away From Science. 

 

Islam kontemporer tidak dikenal karena keterlibatannya dalam proyek sains modern. Tapi Islam adalah pewaris “Masa Keemasan” yang legendaris dari sains Arab yang sering dielu-elukan oleh para komentator, supaya Muslim dan Barat bisa saling menghormati dan mengerti satu sama lain. Presiden Obama, contohnya, di pidatonya tanggal 4 Juni 2009 di Kairo, memuji Muslim untuk kontribusi intelektual dan keilmuannya pada peradaban.

Islamlah yang membawa cahaya belajar selama berabad-abad, membuat jalan untuk Reinassance di Eropa dan masa Pencerahan. Inovasi di komunitas Muslim berkembang menjadi aljabar; kompas magnet dan alat navigasi; kemampuan kita menggunakan tinta dan mencetak; dan pengertian kita tentang bagaimana penyakit bisa menular dan bagaimana menyembuhkannya.

Puja-puji untuk era sains Dunia Arab biasanya dibuat untuk melayani titik politik yang lebih luas, karena biasanya ia jadi pendahuluan sebelum membicarakan masalah terkini wilayah tersebut. Puja-puji itu menjadi nasihat yang tersembunyi: Masa kehebatan sains dunia Arab memperlihatkan saat itu tidak ada halangan kategori atau asali untuk menjadi toleran, kosmopilitan, dan untuk maju dalam Islam Timur Tengah.

Siapapun yang sudah tahu soal Zaman Keemasan ini, yang secara kasar terbentang dari abad delapan sampai abad tiga belas masehi, pasti tercengang ketika membandingkannya dengan keadaan Timur Tengah hari ini–apalagi ketika membandingkan Timur Tengah dengan bagian dunia yang lain. Dalam bukunya yang terbit tahun 2002, What Went Wrong? (Apa Yang Salah?), sejarawan Bernard Lewis mencatat bahwa “selama berabad-abad, dunia Islam adalah yang terdepan dalam peradaban dan pencapaian manusia.” “Tidak ada seorangpun di Eropa,” tulis Jamil Ragep, seorang profesor Ilmu Sejarah di Universitas Oklahoma, “yang dapat memberikan titik terang tentang apa yang terjadi di dunia Islam sampai sekitar tahun 1600.” Aljabar, algoritma, alkimia, alkohol, alkali, nadir, zenith, kopi, dan lemon: ini adalah kata-kata turunan bahasa Arab, menunjukan kontribusi Islam kepada dunia Barat.

Namun hari ini, semangat keilmuan di dunia Muslim sekering gurun pasir. Fisikawan Pakistan, Pervez Amirali Hoodbhoy meletakannya dalam statistik menyedihkan di artikel tahun 2007 jurnal Physics Today: Negara-negara Muslim punya sembilan ilmuan, insinyur, dan teknisi per seribu orang, dibanding dengan negara-negara berkembang lain di dunia yang perbandingannya 40:1. Di negara-negara muslim terdapat 1800 universitas, tapi hanya sekitar 312 dari sarjana di sana yang telah menerbitkan artikel jurnal. Dari lima puluh universitas yang paling sering menerbitkan jurnal, dua puluh enam ada di Turki, sembilan ada di Iran, Malaysia dan Pakistan masing-masing punya tiga, Uganda, U.A.E, Saudi Arabia, Lebanon, Kuwait, Yordania, dan Azerbaijan masing-masing punya satu.

Kurang lebih ada 1,6 milyar Muslim di dunia, tapi hanya ada dua ilmuan dari negara Muslim yang memenangkan Hadiah Nobel di Sains (satu untuk fisika tahun 1979, yang lain untuk kimia di 1999). Empat puluh enam negara-negara Muslim jika digabungkan semua hanya berkontribusi 1 persen di literatur keilmuan dunia; Spanyol dan India, masing-masing berkontribusi lebih pada Literatur Sains Dunia dibanding semua negara Islam digabungkan. Malahan, walaupun Spanyol bukan superpower intelektual, Spanyol telah menerjemahkan lebih banyak buku dalam setahun daripada seluruh dunia Arab selama seribu tahun belakangan ini. “Walaupun banyak ilmuan berbakat dari dunia Muslim yang bekerja secara produktif di Barat,” kata peraih Nobel fisika, Steven Weinberg, “selama empat puluh tahun terakhir, saya belum melihat satupun paper oleh fisikawan atau astronomer dari negara Muslim yang pantas dibaca.”

Metriks perbandingan di dunia Arab juga mengatakan hal yang sama. Arab terdiri dari 5 persen dari populasi dunia, tapi hanya menerbitkan 1,1 persen dari buku di dunia, menurut laporan PBB, Arab Human Development Report tahun 2003. Antara tahun 1980-2000, Korea telah menghasilkan 16.328 hak paten, sementara sembilan negara Arab, termasuk Mesir, Saudi Arabia, dan UAE, dalam jangka tahun yang sama hanya menghasilkan 370, itupun kebanyakan didaftarkan oleh orang asing non-Arab. Sebuah studi tahun 1989 menemukan bahwa dalam satu tahun, Amerika Serikat menerbitkan 10.482 paper ilmiah yang banyak dikutip, sementara seluruh dunia Arab hanya menerbitkan empat. Ini mungkin terdengar seperti lelucon yang buruk, tapi majalah Nature menerbitkan sebuah sketsa tentang sains di dunia Arab tahun 2002, wartawannya hanya mengenali tiga area sains yang dikuasai negara-negara Islam: desalinasi (ilmu pemisahan garam), falconry (olah raga berburu dengan elang), dan reproduksi unta. Dorongan untuk membuat riset dan institusi keilmuan baru di dunia Arab jelas masih jauh– digambarkan di artikel in oleh Waleed Al Shobakky (lihat “Petrodollar Science,” (“Sains Dollar-Minyak”) edisi musim gugur 2008).

8cce9f0cc74fd58c3fb422a687df3d55

Melihat bahwa sains Arab adalah yang paling maju di dunia sampai abad ke tiga belas, maka sangatlah menggoda untuk mencari tahu, apa yang salah —  kenapa sains modern tidak muncul dari Baghdad atau Kairo atau Kordoba. Kita akan kembali ke pertanyaan ini belakangan, tapi sangatlah penting untuk ingat bahwa kejatuhan aktivitas sains adalah aturan, bukan pengecualian, dari peradaban-peradaban. Walau sudah umum untuk berasumsi bahwa revolusi keilmuan dan perkembangan teknologi tak terbendung, sebenarnya dunia Barat adalah satu-satunya kisah sukses peradaban yang periode mekarnya cukup lama. Seperti Muslim, Cina Kuno dan Peradaban India, semua pernah lebih maju dari Barat, tapi tidak membuat revolusi keilmuan.

Terlebih lagi, walau kejatuhan peradaban Arab tidak terlalu istimewa, alasan-alasan kejatuhannya menawarkan petunjuk kepada sejarah dan sifat Islam serta hubungannya dengan modernitas. Kejatuhan Islam sebagai kekuatan intelektual dan politik terjadi secara perlahan tapi jelas: sementara Masa Keemasan luar biasa produktifnya, dengan kontribusi yang dibuat pemikir Arab seringkali orisinil dan inovatif, tujuh ratus tahun terakhir telah memberikan cerita yang lain.

Kontribusi Orisinil Sains Arab

Saya harus memperingatkan tentang dua bagian dari istilah “sains Arab.” Ini adalah, pertama, karena ilmuan yang kita diskusikan di sini tidak semuanya Muslim (atau) Arab asli. Bahkan, kebanyakan pemikir terbesar dari era ini tidak berasal dari etnis Arab. Ini tidaklah mengejutkan ketika kita melihat bahwa selama beberapa abad di sepanjang Timur Tengah, Muslim adalah minoritas (sebuah trend yang baru berubah di akhir abad sepuluh). Peringatan kedua tentang “sains Arab,” adalah sains saat itu berbeda dengan sains saat ini. Sains pre-modern, walau tidak buta akan fungsi-guna suatu ilmu, mencari pengetahuan utamanya dalam rangka mengerti pertanyaan-pertanyaan filosofi mengenai makna, keberadaan, kebaikan, dan lain sebagainya. Sains modern, kebalikannya, tumbuh dari revolusi pemikiran yang mengorientasi ulang politik untuk kenyamanan individual, melalui penguasaan terhadap alam. Sains modern menyingkirkan pertanyaan metafisika kuno dan menggantinya jadi (meminjam kata-kata Francis Bacon) usaha untuk mendapatkan kenikmatan dan kesombongan diri. Apapun yang diambil oleh sains modern dari sains Arab, aktivitas intelektual pada abad pertengahan Islam tidak sama dengan revolusi sains Eropa, yang datang dari perpecahan radikal dengan filsafat  kuno. Karena itulah ketika kita menggunakan isitlah “sains” untuk kemudahan membaca, penting sekali untuk ingat bahwa kata ini tidak ditemukan sampai abad ke sembilan belas; kata terdekat dalam bahasa Arab adalah ilm (ilmu), yang artinya “pengetahuan,” dan ilmu belum tentu tentang alam.

Walau begitu, masih ada dua alasan kenapa masuk akal untuk merujuk aktivitas sains di Masa Keemasan sebagai Sains Arab. Pertama, kebanyakan karya filosofis dan keilmuan saat itu diterjemahkan ke bahasa Arab, yang menjadi bahasa kebanyakan sarjana di daerah itu, apapun etnis atau agamanya. Dan kedua, nama alternatif seperti “sains Timur Tengah,” atau “sains Islam,” lebih tidak akurat lagi. Hal ini sebagian disebabkan karena kita tak tahu banyak tentang latar belakang pribadi para pemikir ini. Ini juga disebabkan karena hal lain yang tidak kalah penting untuk diperhatikan soal Zaman Keemasan: ternyata hanya sedikit yang kita tahu pasti tentang konteks historis dan sosial dari zaman ini. Abdehamid I. Sabra, sekarang seorang pensiunan profesor sejarah Sains Arab yang mengajar di Harvard, menggambarkan lapangan penelitiannya di the New York Times tahun 2001, sebagai lahan penelitian yang “bahkan belum dimulai.”

Dengan pengakuan itu, bidang ini telah maju cukup jauh untuk dengan meyakinkan dan mendemonstrasikan bahwa peradaban Arab berkontribusi cukup banyak kepada sains daripada transmisi keilmuan ke Barat yang lain (seperti penomoran dari India dan pembuatan kertas dari Cina). Satu hal yang pasti, bangkitnya akademik di masa dinasti Abbasid Baghdad (751-1258) yang menghasilkan penerjemahan semua karya saintifik klasik Yunani ke dalam bahasa Arab, tidaklah main-main. Tapi di luar penerjemahan (dan komentar tentang) peradaban kuno, pemikir Arab juga membuat kontribusi orisinil, baik melalui tulisan ataupun moteode eksperimentasi, di bidang-bidang seperti filsafat, astronomi, kedokteran, kimia, geografi, fisika, optik, dan matematika.

Mungkin klaim yang paling sering diulang-ulang tentang Masa Keemasan adalah bahwa umat Muslim menciptakan aljabar. Klaim ini benar adanya: pada awalnya ilmu ini diinspirasi dari karya-karya Yunani dan India, lalu ilmuan Persia al-Khwarizmi (meninggal tahun 850), menulis buku yang dari judulnya kita mendapat istilah “aljabar.” Buku tersebut dimulai dengan perkenalan terhadap matematika, dan dilanjutkan untuk menjelaskan bagaimana untuk memecahkan masalah-masalah umum waktu itu mengenai perdagangan, warisan, pernikahan, dan emansipasi budak. (Metodenya tidak melibatkan persamaan atau simbol aljabar, tetapi menggunakan figur-figur geometri untuk memecahkan masalah yang hari ini bisa dipecahkan aljabar.) Walaupun berdasarkan urusan praktis, buku ini ada sumber utama yang berkontribusi pada perkembangan sistem aljabar yang kita tahu hari ini.

Masa Keemasan juga melihat kemajuan dalam ilmu kedokteran. Salah satu pemikir paling terkenal dalam sains Arab, dan dianggap salah satu dokter terbaik abad pertengan adalah Rhazes (juga dikenal sebagai al-Razi). Dilahirkan di daerah yang sekarang disebut Teheran, Rhazes (meninggal tahun 925) dilatih di Baghdad dan menjadi direktur dua rumah sakit. Ia mengidentifkasi penyakit cacar dan campak, menulis sebuah risalah tentang dua penyakit itu, yang menjadi buku berpengaruh sampai ke luar Timur Tengah, termasuk ke Eropa di abad ke 19. Rhazes adalah dokter pertama yang menemukan bahwa demam sesungguhnya adalah mekanisme pertahanan. Ia juga penulis sebuah ensiklopedia kedokteran sepanjang dua puluh tiga volume. Apa yang paling mengesankan dari karirnya, seperti yang dikatakan Ehsan Masood dalam Science and Islam, adalah Rhazes adalah orang pertama yang secara serius menantang kekokohan dokter Yunani klasik, Galen. Sebagai contoh, ia menantang teori Galen soal keseimbangan cairan tubuh (Humors). Ia membuat sebuah eksperimen untuk melihat apakah mengambil darah, yang sampai abad ke sembilan belas menjadi prosedur yang biasa dilakukan, ada gunanya sebagai prosedur medis. (Ia menemukan, bahwa memang ada gunanya). Rhazes adalah contoh jelas seorang pemikir yang secara eksplisit bertanya, dan secara empiris menguji, teori yang sudah diterima secara luas dan ditulis oleh seorang dokter terkenal, sambil memberikan kontribusi orisinil terhadap sebuah profesi.

4da2ea8dc39ec39a6a0a134328d099c3
Sejarah dunia keilmuan di sebuah madrasah di Reqistan Square, Samarkand, Turkii (Uzbek): Avicenna, Ali Kuschu, Khwarezmi, Muhammad al-Bukhari, Fergane, Farabi, Abdul Hamid el-Turk dll. Photo Credit Alptekin Cevherli (Turki)

Pencapaian besar di dunia medis berlanjut dengan dokter serta filsuf Avicenna (juga dikenal sebagai Ibnu Sina; meninggal tahun 1037), yang dinilai sebagai dokter terpenting semenjak Hippocrates. Ia menulis Canon of Medicine (Kanon Kedokteran), sebuah survey medis multi-volume yang menjadi rujukan penting untuk dokter di wilayah tersebut, dan — pernah diterjemahkan ke dalam bahasa latin — menjadi buku wajib di Barat selama enam abad. Kanon ini adalah kompilasi dari pengetahuan medis dan sebuah manual untuk mengetes obat. Di dalamnya juga ada penemuan-penemuan Ibnu Sina, termasuk tentang bagaimana tuberculosis (TBC) menular.

Seperti Renaissance Eropa setelahnya, Zaman Keemasan juga punya banyak ilmuan multidisiplin (polymath) yang unggul dan maju dalam banyak bidang. Salah satu polymath itu adalah al-Farabi (juga dikenal sebagai Alpharabius, meninggal sekitar tahun 950), seorang pemikir Baghdad yang, selain tulisannya mencakup filsafat Platonik dan Aristotelian, juga menulis fisika, psikologi, alkemi, kosmologi, musik, dan banyak lainnya. Ia begitu cerdasnya, hingga dikenal sebagai “Guru Kedua”–kedua terbaik setelah Aristoteles. Polymath lain adalah al-Biruni (meninggal 1048), yang menulis 146 risalah berjumlah 13,000 halaman tentang semua bidang keilmuan. Buku terkenalnya, Deskripsi India, adalah sebuah karya antropologi tentang Hindu. Salah satu pencapaian terbesarnya adalah pengukuran hampir akurat tentang lingkar bumi menggunakan metode trigonometrinya sendiri; ia hanya kurang 321,89 KM dari lingkar bumi yang benar hari ini, 40072,666 KM. (Namun, tidak seperti Rhazes, Ibnu Sina, dan al-Farabi, karya al-Biruni tidak pernah diterjemakan ke dalam bahasa Latin, karenanya tidak punya pengaruh besar di luar dunia Arab.) Pemikir brilian lain di Zaman Keemasan adalah ahli geometri Ahazen (Juga dikenal sebagai Ibnu al-Haytham; meninggal 1040). Walau warisan terbesarnya tentang ilmu optik — ia menunjukkan kesalahan di teori extramission, yang mengatakan bahwa mata kita mengeluarkan energi yang membuat kita bisa melihat —  ia juga mengerjakan astronomi, matematika, dan teknik. Dan mungkin, ilmuan paling terkenal dari Zaman Keemasan adalah Averroës (juga dikneal sebagai Ibnu Rushid; meninggal 1198), seorang filsuf, ahli agama, dokter, dan ahli hukum yang dikenal karena kritiknya terhadap Aristotles. Dalam 20.000 lembar yang ia tulis selama hidupnya, adalah karya tentang filsafat, kedokteran, biologi, fisika, dan astronomi.

Bersambung ke bagian II