Ethnography, Politik, Racauan

Memori Ojek Pangkalan dan Monopoli Gojek

www.go-jek.com
http://www.go-jek.com

DISCLAIMER:

Dilarang posting iklan. Karena ilmu pengetahuan itu GRATIS!

Kalau Jakarta mau jadi metropolitan yang sebenarnya, Gojek harus memonopoli semua pangkalan ojek. Harus profesional, teratur, terstruktur dan meminimalisir hubungan negosiasi antara tukang ojek (yang disebut driver (supir) oleh Gojek, padahal harusnya Rider (pengendara) karena motor tidak disetir tapi dikendarai)). Akan ada kepastian harga, kepastian keselamatan (asuransi) dan tidak ada ruang main-main atau dipermainkan. Apakah kita mau? Jangan bilang mau begitu saja, itu artinya gampang digodain setan. Coba saya bantu anda dengan memori saya tentang ‘institusi lokal’ yang hendak dibantai modernisme ini.

Anggap saja namanya pak Adi (bukan nama sebenarnya). Dia tukang ojek langganan saya dari Depok-Cilandak waktu saya masih tinggal di Margonda dan bekerja di sebuah sekolah national plus tahun 2009-2011. Pak Adi ini sarjana muda dan kuliah di kampus yang sama dan jurusan yang sama seperti bapak saya. Kalau saya ngobrol sama dia, saya jadi ingat pada bapak saya.

Ada lagi Mamat (juga bukan nama sebenarnya). Dia tukang ojek langganan saya di depan rumah keluarga besar saya di Kebagusan. Selain tukang Ojek, Mamat juga suka jadi tukang parkir, tukang ledeng, tukang bangunan dan tukang lain-lain yang diperlukan keluarga besar saya. Dan dia bisa dipanggil 24 jam karena rumahnya dekat rumah saya. Saya sering ngutang sama Mamat karena jarang bawa duit kecil dan dia jarang punya kembalian. Misalnya saya minta antar Kebagusan-Pasar Minggu (10-15 ribuan), lalu uang saya 50 ribu, mamat suka tak punya kembalian dan bilang, “Yaudah bos nanti aja.” Lain hari duit saya 100 ribu dan lima ribu, saya bayar Mamat cuma lima ribu dan dia bilang lagi, “Yaudah bos, nanti aja.”

Setelah saya menikah dan hendak pindah dari rumah keluarga besar, siang-siang Mamat datang ke rumah dan menagih 85 ribu–bang Mamat tahu saya pindah karena waktu ada acara pengajian di rumah, bang Mamat jadi tukang parkir tamu-tamu keluarga saya. Ketika saya tanya detilnya itu apa saja, dia dengan gampang dan tanpa catatan mengingatkan bulan apa dan tanggal berapa saya diantarnya beserta detil berapa utang saya. Saya kasih 100 ribu, “Bunga nih, bang!” kata saya.

Mamat bilang, “Ih, Nggak ah! Riba! Jangan pake bunga dong.”

“Yaudah, kembaliin 15 rebo,” kata saya.

“Yaah, kaga ada duit kecil,” balas Mamat. “Kalo bonus saya terima dah.” Lanjutnya.

“Heum. Yaudeh-yaudeh, bonus bang.”

“Tengkyu bos.”

Itu dua tukang ojek pangkalan yang saya kenal. Dari saya kecil, ada beberapa lagi yang saya pernah cukup tahu namanya–tapi tidak usah disebutkanlah. Langganan saya waktu SD, langganan saya waktu SMP, dan langganan saya waktu SMA (saya sering pindah rumah, 12 kali selama 30 tahun belakangan ini). Tukang ojek pangkalan menemani hampir tiap fase hidup saya. Mereka yang saya kenal ini, penting di hidup saya.

Lalu nasib sebagai antropolog membuat saya bersinggungan lagi dengan tukang ojek pangkalan sebagai wacana di dalam kelas. Saya ingat seorang kawan saya Edna Caroline pernah membuat riset soal tukang ojek di UI dan gesekan yang ditimbulkan ketika UI membuat mereka terdata dan terstruktur dengan kartu, helm, dan jaket resmi Ojek UI. Lalu di kelas yang saya ajar, dua orang murid saya di angkatan yang berbeda membuat kajian antropologi tentang tukang ojek pula. Yang pertama sebuah esei antropologi oleh Agung Rino Prasetyo (2013) dan yang kedua sebuah etnografi visual berbentuk dokumenter pendek oleh Andrika Fandra Salim (2014)–keduanya belum diterbitkan.

Dari tiga penelitian tentang ojek itu saya jadi mengerti beberapa hal penting soal tukang ojek pangkalan.

Pertama, ojek pangkalan adalah sebuah struktur sosial yang rapih. Andrika dalam presentasi proposal film dokumenternya melaporkan bahwa subjeknya, tukang ojek bernama Daus, adalah salah satu pionir ojek di daerah Palmerah. Dia seorang betawi yang kehilangan pekerjaannya di tahun 1980-an, dan memutuskan untuk menjadi tukang ojek–ini bukan sesuatu yang mudah. Daus sempat hampir dipukuli karena dia tidak paham sistem pangkalan: bahwasannya dia tidak boleh sembarang mangkal di daerah orang. Ketika dia sudah paham itu, akhirnya dia membuat pangkalan ojeknya sendiri.

Dalam pangkalan ojek ada sebuah komunitas, sebuah paguyuban. Daus membuat pangkalan ojeknya sendiri berdasarkan kekosongan pangkalan di daerahnya, dan ia mengumpulkan sanak keluarga dan tetangganya untuk menjadi anggota pangkalannya. Di situ ada hukum sosial yang berlaku, ada antrian, ada bagi-bagi rejeki dan ada pelanggan-pelanggan lokal. Setiap pangkalan akan buat struktur sosialnya kalau tidak ingin ada chaos.

Struktur ini tidak main-main. Dari pengamatan saya, di daerah Lenteng agung, ada tiga pangkalan ojek yang saling bersaing. Yang pertama pangkalan arah Lenteng Agung -Depok, yang kedua arah Stasiun Lenteng-kemanapun, dan yang ketiga arah Lenteng Agung Pasar Minggu. Mereka memang tidak saling bertengkar, tapi tidak juga saling menyatu. Tidak bisa sembarang bercampur karena target penumpangnya beda-beda. Yang di tengah stasiun lenteng targetnya pengguna kereta api, sementara yang di luar targetnya pengguna angkot. Keributan seringkali terjadi ketika ada tukang ojek dadakan yang merebut penumpang tanpa mau antri atau bergabung dengan pangkalan–karena itu artinya dia tidak mau antri.

Sekarang kita punya masalah baru: pertikaian antara GoJek yang modern dengan Ojek Pangkalan. Ini logika yang tidak akan ketemu. Logika GoJek adalah logika Korporat yang ‘profesional’ atas asas kapitalisme liberal yang menggurita: dia hendak mengubah semua tukang ojek menjadi tukang GoJek, sesuai dengan tanggapan pada insiden keributan tukang Ojek dan Gojek:

“Kami memanggil semua ojek pangkalan untuk bergabung dan menikmati keuntungan-keuntungan menjadi Gojek Driver.”

Sementara logika tukang Ojek Pangkalan sederhana: jangan nyelak kalau tidak mau dijitak! Apakah ini logika kampungan, logika tidak modern, atau logika semut yang diajari sejak kita balita? Logika Sopan Santun?

Ya, memang logika sopan santun dan etika ini sudah banyak dilupakan orang karena sopan santun disalah artikan jadi mulut manis basa-basi dan penjilatan. Kalau sudah bicara sopan-santun, apalagi di Jakarta, biasanya kita langsung ingat mulut anak-anak SD (atau orang tua dengan mental anak SD) yang bilang Ahok tidak sopan. Padahal sopan santun ini bisa jadi cuma masalah permisi dan negosiasi yang apik tanpa omong keras apalagi omong kotor. Sesederhana membungkuk ketika lewat orang yang lebih tua dalam budaya Jawa. Masalahnya, Gojek nampaknya tidak perduli dengan logika ini. Ironisnya, ketika Gojek tidak [sudi] menganggap ojek pangkalan sebagai ‘saingan‘. mereka mengajak ojek pangkalan untuk bergabung. Ini skenario lama, modernisasi tipe kolonial gold gospel glory. Buat dapat emas, buatlah semua inlander jadi kristen, dan kita menang. Protestant Ethics. White men’s burden.

Ditambah reaksi netizen dan warga jakarta, juga dukungan Ahok, maka ‘penertiban’ terhadap para pangkalan Ojek ini tinggal tunggu waktu saja. Apalagi semenjak Transjek, yang berdasarkan laporan Prasetyo (2013) moda produksinya sama dengan Gojek, tidak terdengar lagi, Gojek hampir memonopoli industri ojek berteknologi (walau saingannya sudah mulai pada muncul, dan tahun depan mungkin akan dimulai sebuah perang brand). Tawaran Gojek juga begitu menggiurkan: penghasilan lebih pasti dan asuransi. Ojek Pangkalan nampaknya akan jadi sejarah; dan ini tidak pernah adil. Karena ojek pangkalan tidak terepresentasi dengan baik dan dipukul rata sebagai kelompok ‘inlander’ tanpa memperhatikan moda-moda produksinya dan spesifikasi setiap pangkalan yang berbeda-beda. Sifat korporat, birokrat dan kelas menengah yang seperti ini memang sulit berubah.

Tapi tetap ada harapan bagi Ojek Pangkalan untuk bertahan. Ojek pangkalan sering tidak disukai ketika beberapa mereka menerapkan harga seenak jidatnya. kadang-kadang lebih mahal dari taksi. Tidak ada standar tarif yang jelas. Dari sini senjata ojek pangkalan cuma satu: paguyuban. Fungsi paguyuban memang abstrak, tidak bisa diukur. Paguyuban menyediakan asuransi berupa bantuan teman/keluarga dan paguyuban menyediakan kesetiaan yang tak terhitung. Ojek Pangkalan semestinya memang guyub, penuh nepotisme terhadap saudara dan pelanggan tetap. Itu moda produksinya. Kalau ia mau bertahan, ojek pangkalan harus menyatu dengan komunitasnya dan lingkungan pangkalannya–yaitu para pelanggannya. Seperti Adi, Mamat dan Daus.

Walau saya curiga, usaha mempertahankan Ojek Pangkalan itu akan sangat sulit apalagi di Jakarta. Karena tukang ojek membludak, yang picik lebih sering kelihatan daripada yang baik: dari yang bermain harga hingga yang berlagak preman dengan memeras pelanggan atau melarang angkot beroperasi. Terlebih lagi warga Jakarta semakin individual, instan dan semakin ingin kepastian ukuran angka–seperti layaknya kota metropolis lain di dunia ini. Warga Jakarta kebanyakan tidak ingin kenal dengan Adi, Mamat atau Daus secara berkesinambungan. Mereka lebih suka memberi jempol atau bintang pada sebuah aplikasi, daripada direpotkan oleh empati.

223 pemikiran pada “Memori Ojek Pangkalan dan Monopoli Gojek

  1. “Warga Jakarta kebanyakan tidak ingin kenal dengan Adi, Mamat atau Daus secara berkesinambungan. Mereka lebih suka memberi jempol atau bintang pada sebuah aplikasi, daripada direpotkan oleh empati”

    suka sekali dengan bahasanya,,
    ,,,,kena banget buat alay2 metropolis2 Jakarta yang seakan2 bisa membeli dunia….

  2. nice thx om pengetahuannya seru bacanya

    ya pro kontra biasa om.
    ya semoga gojek punya inovasi baru.ya masalah bangsa kita apa sih “ekonomi” wajar lah ojek warga marah.bisa dimengerti koq.

    tawar tuh semua pangkalan. beli semua . jadiin halte gojek. kelar masalah. apa lagi adanya mrt nanti bakal berpengarug buat gojek. sudah pasti dari stasiun nya nnti ojek sekitar berkuasa.dan gojek bakal bangkrut deh.so masukan aja buat gojek.kalian org bisnis pasti paham lah apa yg harus diakukan

    1. Ojek pangkalan kan fbr, you know fbr, hr ni malakin pekerja lapangan dkasi 20rb besok minta 50rb. Bisnisny bukan cm ojek pangkalan, tp malakin org narik kabel, orang buka usaha, ya gitu deh.. Sampah

  3. Saya senyum – senyum sendiri membaca artikel yang di buat oleh antropolog, mungkin karena latar belakang saya hukum sehingga cara saya melihat jauh berbeda dengan anda. Perbedaan pendapat ini biarlah dinilai sebagai bahan pertimbangan yang membangun di kemudian hari.

    Pertama-tama saya sangat menyayangkan bahwa anda berpandangan sangat-sangat sempit terhadap permasalahan yang sangat-sangat kompleks, sehingga anda gagal memberi solusi untuk memecahkan masalah ini. Kegagalan ini terlihat jelas dari kesimpulan akhir anda

    “Walau saya curiga, usaha mempertahankan Ojek Pangkalan itu akan sangat sulit apalagi di Jakarta. Karena tukang ojek membludak, yang picik lebih sering kelihatan daripada yang baik: dari yang bermain harga hingga yang berlagak preman dengan memeras pelanggan atau melarang angkot beroperasi. Terlebih lagi warga Jakarta semakin individual, instan dan semakin ingin kepastian ukuran angka–seperti layaknya kota metropolis lain di dunia ini. Warga Jakarta kebanyakan tidak ingin kenal dengan Adi, Mamat atau Daus secara berkesinambungan. Mereka lebih suka memberi jempol atau bintang pada sebuah aplikasi, daripada direpotkan oleh empati.”

    Tidak ada solusi, malahan pernyataan terakhir anda berbenturan dengan keseluruhan isi artikel. Atas ketidakmampuan anda maka saya dengan niat baik ingin membantu memberi pencerahan kepada anda.

    Sangatlah keliru apabila anda memutuskan benar/salah, baik/buruk atas sesuatu yang kompleks secara sepihak dari sudut pandang pribadi anda berdasarkan pengalaman anda sendiri menggunakan ojek pangkalan yang notabene adalah “orang-orang yang anda sendiri kenal”.

    Anda sendiri mengakui bahwa banyak tukang ojek pangkalan yang picik dan sering memeras, lalu anda mengajak penduduk Jakarta untuk mempertaruhkan keamanan dan kenyamanan dirinya demi berkenalan dengan tukang ojek yang baik dengan kemungkinan dipermainkan yang sangat besar. Logikanya anda sama saja menyuruh mereka mencari jerami di tumpukan jarum. Lucu sekali bukan?

    Anda juga menulis “Dalam pangkalan ojek ada sebuah komunitas, sebuah paguyuban. Daus membuat pangkalan ojeknya sendiri berdasarkan kekosongan pangkalan di daerahnya,”

    Biar saya jelaskan. Gojek adalah bentuk korporasi pemberi jasa angkutan darat yang lebih modern dari ojek pangkalan, yang memberi sesuatu yang tidak diberikan oleh ojek pangkalan, yaitu :

    1. Keamanan.
    Anda tahu identitas drivernya, apabila terjadi apa-apa maka jelas jalur hukumnya. Berbeda
    dengan ojek pangkalan yang anda tidak tahu identitasnya, meskipun anda sudah berkenalan
    namun anda sendiri tidak tahu apakah identitas yang diberikan kepada anda benar atau salah.

    2. Kenyamanan.
    Tentu nyaman bila anda berkendara dengan atribut yang lengkap, memperoleh pelayanan yang
    memuaskan dan sangat efisien seperti jasa antar pesanan.

    3. Kepastian.
    Ada harga yang pasti, sehingga anda tidak dipermainkan oleh oknum yang picik seperti yang
    anda katakan.

    Lebih lagi, anda sangat keliru bila menyatakan bahwa Gojek memonopoli ojek Jakarta. Monopoli itu sendiri artinya menghalangi pelaku usaha lain untuk berusaha di SEKTOR yang sama (baca UU No. 5 Th 1999). Gojek menawarkan pelayanan yang lebih menarik, lebih efektif, dan lebih efisien daripada tukang ojek pangkalan.

    Haruskah saya berjalan lebih dari 1km untuk mencari pangkalan ojek yang notabene tidak ada di daerah tempat saya tinggal? dapatkah ojek pangkalan mengantar makanan pesanan saya?. Kekalahan ojek pangkalan dalam bersaing anda sebut sebagai “Kesalahan Gojek”. Ini lucu sekali

    Mereka kalah bersaing karena mereka tidak berkembang. Tanpa persaingan apakah hidup kita menjadi lebih baik? tanpa persaingan apakah anda dapat menikmati yang namanya telepon seluler dengan inovasi terbaru? menikmati jasa angkutan udara yang murah meriah?.

    Lebihnya lagi anda menulis
    “Sementara logika tukang Ojek Pangkalan sederhana: jangan nyelak kalau tidak mau dijitak! Apakah ini logika kampungan, logika tidak modern, atau logika semut yang diajari sejak kita balita? Logika Sopan Santun?”

    Apakah menjitak itu anda sebut sopan? kontradiktif sekali, lagipula sopan santun itu bukan LOGIKA.
    Sopan santun itu termasuk salah satu dari NORMA. Apakah tepat apabila anda menyebut Gojek tidak sopan karena menawarkan jasa yang lebih baik kepada pelanggan?

    Kekalahan ojek pangkalan dalam bersaing itu sepenuhnya salah dirinya sendiri, “Mereka tidak berkembang, tidak berubah dan mencoba menjadi lebih baik”.

    Ah panjang sudah keluh kesah saya ini, biar saya tutup solusi bukan dengan keluhan atau keraguan.

    Ojek pangkalan menggunakan sistem paguyuban bukan?, mengapa tidak dikembangkan menjadi menjadi sebuah organisasi bisnis yang berbasis kekeluargaan? Buatkan Koperasi !! toh sama-sama berasaskan kekeluargaan dan ada juga bagi keuntungan. Tiap-tiap pangkalan yang meliputi satu daerah dapat membentuk Koperasi primer dengan anggota minimal 20 tukang ojek pangkalan. Tidak perlu repot membeli tanah dan membuat kantor, cukup menggunakan kediaman salah satu anggota koperasi saja. Mereka dapat menentukan sendiri tarif dasar yang dikenakan kepada konsumen sehingga memberi kepastian harga kepada konsumen, dan membangun sendiri struktur bisnisnya (mulai dari ragam pelayanan hingga atribut anggota).

    Apabila sudah kokoh dan siap bersaing lebih jauh maka bisa ditingkatkan menjadi koperasi sekunder yang meliputi koperasi-koperasi lintas wilayah.

    Bukankah alangkah baiknya apabila ojek pangkalan disatukan dalam sebuah koperasi yang berfokus pada pelayanan jasa angkutan darat? Mereka menjadi lebih terstruktur dan lebih rapi sehingga dapat dipercaya oleh konsumen. Pelayanan kepada masyarakat pun menjadi lebih maksimal, dan lebihnya lagi setiap tukang ojek yang tergabung sebagai anggota koperasi dapat memperoleh berbagai keuntungan yang disediakan oleh Koperasi sebagai bentuk pelayanan terhadap anggotanya, dan juga akses untuk mendapatkan bantuan dana dari lembaga keuangan bank untuk mengembangkan usahanya menjadi lebih mudah.

    Perpecahan lenyap,
    Biar yang tinggal hanya kepuasan,
    Keluhan sepi,
    Biar yang ramai hanya pujian.

    1. Anda ini anak hukum apa anak sastra? Kok ngarang? Mana ada saya bilang “kesalahan gojek.”.

      Dan saya memang nggak mau kasih solusi, saya cuma mempermasalahkan, problematisasi. Pernah kuliah kan? itu ada di bab I.

      Dan saya juga ga nyari salah-benar. Anda keterlaluan nyasarnya. Hahaha. Coba anda cari tempat piknik yang enak terus baca lagi pelan2.

      Pake bismilah.

      1. Saya sudah selesai mengenyam pendidikan hukum pak. Saya legal konsultan untuk korporasi dan memang saya masih melanjutkan pendidikan lagi untuk jenjang selanjutnya.

        Sebagai orang yang kerap berurusan dengan gugatan tentu saya cermat dalam membaca. Jadi tolong diperhatikan.

        Anda memang tidak menyatakan secara tersurat “kesalahan gojek” tetapi secara tersirat anda menyudutkan pihak Gojek sebagai “Pihak yang bersalah” dalam artikel anda. Sesuatu yang tersirat dapat juga digunakan untuk menyampaikan sesuatu kepada pihak lain, sebagai buktinya anda bisa lihat reaksi publik atas tulisan anda di kolom komentar, mereka menangkap apa yang tersirat dari tulisan anda.

        Biar saya kutip agar anda ingat pak antropolog, kalau memang pelupa
        “Apakah kita mau? Jangan bilang mau begitu saja, itu artinya gampang digodain setan”

        secara tersirat anda sebut bahwa “mau menerima tawaran bergabung bersama Gojek sebagai godaan setan (yang anda sebut sebagai kapitalis liberal terlepas dari pertanyaan apakah anda sendiri sebenarnya mengerti apa itu kapitalis dan liberal, melihat kesalahan anda dalam menggunakan istilah monopoli, lagipula kapitalis dari sudut pandang mana anda melihat? Adam Smith? atau siapa?).

        Lebihnya lagi anda menulis sendiri kalimat berikut ini yang menyiratkan bahwa Gojek bersalah atas terjadinya pertentangan antara Gojek dengan Ojek Pangkalan karena Gojek tidak mengindahkan norma kesopanan, simak sendiri tulisan anda

        “Padahal sopan santun ini bisa jadi cuma masalah permisi dan negosiasi yang apik tanpa omong keras apalagi omong kotor. Sesederhana membungkuk ketika lewat orang yang lebih tua dalam budaya Jawa. Gojek nampaknya tidak perduli dengan logika ini. Ironisnya, ketika Gojek tidak [sudi] menganggap ojek pangkalan sebagai ‘saingan‘. mereka mengajak ojek pangkalan untuk bergabung. Ini skenario lama, modernisasi tipe kolonial gold gospel glory. Buat dapat emas, buatlah semua inlander jadi kristen, dan kita menang. Protestant Ethics. White men’s burden.”

        Wah apakah Gojek tidak perduli dengan logika sopan santun? sebab memang tidak pernah ada logika sopan santun, yang ada norma kesopanan. Darimana pula anda berkesimpulan bahwa Gojek tidak memperdulikan sopan santun? Masalah permisi? bukannya setiap korporasi yang didirikan oleh swasta dan telah memperoleh izin usaha berarti juga telah permisi kepada “Penguasa”?

        Anda sebut saya nyasar kejauhan karena anda sebenarnya tidak membenarkan atau menyalahkan salah satu pihak, namun isi artikel anda menyudutkan yang satu dan mendukung yang lain, anda bisa simak sendiri komentar-komentar publik atas artikel anda ini sebagai bentuk reaksi mereka atas pernyataan anda.

        Entah itu disenagaja atau tidak mampu sejak semula untuk memberi solusi sebagai jawaban atas kesimpulan final, hanya anda dan Yang Kuasa yang tahu, lagipula pernyataan ini anda baca darimana “Buat dapat emas, buatlah semua inlander jadi kristen, dan kita menang”, SARA terkadang berbahaya untuk artikel yang sifatnya dilempar ke publik.

        Barangkali andalah yang seharusnya lebih memperhatikan dalam perkuliahan agar dapat memahami bahwa apa yang tersirat dianggap sama dengan pernyataan (Baca KBBI kalau masih bingung).

      2. *tepok jidat*
        Imajinasinya liar sekali. Saya salut lah.

        (1) “….secara tersirat anda menyudutkan pihak Gojek sebagai “Pihak yang bersalah” dalam artikel anda.”—->”tersirat”. Emang bisa di pengadilan pake buti “tersirat.” Hebat bener.

        (2) “menyudutkan yang satu, mendukung yang lain…”…”bisa dilihat dari komentar publik.” Lha anda baca artikel saya apa baca komentar-komentarnya. Saya jelas mendukung tukang ojek yang saya kenal, dan menyudutkan orang-orang seperti anda yang mendewakan gojek tanpa lihat lapangan secara spesifik. Hahaha.

        (3) soal kapitalisme, liberalisme dan “Buat dapet emas..” pernah denger frasa “Gold Gospel Glory?” itu motto kapitalisme awal yang mendasari penjelajahan samudra dan penjajahan demi merkantilisme Eropa. Lha kok dibilang SARA?

        Anda lulusan hukum nggak diajari sejarah? kurikulum SMA lho itu. hahhaa.

        Mungkin anda yang perlu baca lagi? Entahlah, kan anda yang lulus. saya mah apa….

      3. wah seru ini, padahal lagi nyari berita yg driver Gojek dipukulin, eh malah nyasar kemari, perdebatan dua sisi nih, hukum sama antropolog, diantara bejibun pendapat, asik banget stylenya nih orang hukum, tegas, kritis, pedas, sedikit ngejek juga, bumbu kaya rasa nih (peace bro)

        btw ini abang yg dari sisi hukum kayaknya fresh graduate yang gabung bareng law firm beken itu tuh yg markasnya di bursa efek hahahahaha, namanya unik jadi inget aja gosipan anak Bej, konon baru pindah tali toga udah langsung ditawar tembus 8 digit tuh. Bisa kali bantu dana buat bikin koperasi, ya gak?

      4. Kalo koperasinya untuk paguyuban gue rasa gak bisa tuh bro doi… hahahahah… die nggak ngerti konsep guyub soalnya, nggak ada di KUHAP. Dipikir semua tukang ojek bisa bikin koperasi, bisa pake hp, bisa nyari manager sendiri. Kalo bisa kayal gitu, kaga bakal laku tuh Gojek. haha.

      5. yak anda berhasil tersulut orang hukum, hati-hati bro, pernyataan lu dipake nyerang diri lu sendiri tuh, wkwkwkwk. Itu bro arod tau bener cara mengejek dengan cara yang sopan.
        The best quote nih yang membuat penulis kalah total (T.K.O) di mata pembaca saudara-saudara

        “Atas ketidakmampuan anda maka saya dengan niat baik ingin membantu memberi pencerahan kepada anda.” LOL LOL LOL

      6. Bung saya kurang cerdas untuk mengerti gimana serangan itu. hahaha maap yak.

        Gimana2? itu di kalimat yang mana kutipan..”atas ketidakmampuan…”

        haha. Sori bung. serius ini I am lost.

      7. Ga imbang lah ini ya, timpang diskusinya, gw juga anak hukum kebetulan & bener tuh kata si arod, penafsiran atas yg tersirat itu dipake dalam hukum acara, lawannya asas sans clair tuh, btw pak wonder, itu pasal-pasalnya bukan cman dipake di transaksi kali, itu asas umum.

        maklum sih si wonder kagak ngarti asas-asas umum karna memang bukan bidangnya di hukum, tapi ya jangan nyolot juga nyuruh orang hukum belajar hukum gw juga jadi tersinggung, asal ente tau kang wonder kite orang udah baca bejibun buku hukum sampe BW dalam bahasa aslinya, kang wonder sendiri pasti langsung nyari di google dia pasal-pasalnya tanpa ngarti maksud aslinya dalam asas-asas umum hukum, hukum itu ga sesederhana pikiran awam lah gw bilang, asal googling terus nyerocos ya jadi keliatan beda kelas banding yang belajar step by step day by day.

        Overall jauhlah timpang, terakhir itu kok malah si wonderguitar bilang kalo 1343 sama 1345 kuhper kaga sinkron sama tulisan die, padahal die sendiri malah ga sinkron pas pertama bilang “apa sesuatu yang tersirat bisa dijadiin alat bukti di pangadilan”, ya kan jelas di jawab bisa digunakan karena memang bisa, lagian kang wonder sendiri kaga nyambung dari pertama tiba tiba nyeletuk apa yang tersirat dapat digunakan dalam sidang pengadilan. kan si wonder sendiri yg kaga nyambung dari pertama.

        Btw kalo bisa dilanjutin perdebatannya biar seru, kalah menangnya publik yang nilai lah biar fair, bukan si penulis, sejauh yang gw simak sih masih menang kang arod lah jauh ini, eh itu ada nyinggung alumni hati hati looo apalagi yg disinggung alumni kebanggaan fakultasnya, bisa rame tuh diteriakin wkwkwkwkkw, apalagi dibilang ga level a.k.a beda level, padahal dari penilaian gw sendiri sih ya, malah si wonderguitar yang bener bener wonder atas level die, ga sanggup menang malah di tutup perbincangannya wkwkwkwkwkwk
        -salam damai-

      8. Begini kek nembaknya. Kan tepat sasaran!!

        Ini baru asik.

        Pertama, saya udah bilang saya nggak ngomongin secara legal-formal. Ini blog pribadi jadi saya merasa saya bebas salah dan sotoy di sini. Enak diskusi bisa saling ngata2in tapi tetep santai. Tenang, saya ga bakal tersinggung. Emang nyari batas kekalahan balesin ratusan komentar. Hehe.

        Kedua, masalah tersirat. Ya saya google, gampang kan ketahuannya. Saya ga mau kalah dan saya kepo dong, masa bisa pake tersirat? Ternyata bisa. Tapi coba jelaskan lagi logikanya gimana dalam hukum kok bisa menjadikan “tersirat” sebagai alat bukti. Itu sangay subjektif bukan?

        Ketiga, santaai baee. Itu kutipan anak kecil 12 tahun yg mutusin pacarnya di 9gag kok. Wkwkwkwk…

        Saya ini antropolog yang akan selalu goblok, dan niat saya memang ingin tetap goblok dan belajar. Saya minta maaf lah sama kang Arod dan kang Adi kalo saya nyolot.

        Saya diskusi bukan buat menang kok. Buat cari temen yang sabar sama saya. Hahahaha.

      9. sama kyk komentar di atas saya lagi nyari berita driver gojek dipukulin karena sering langganan juga jadi turut prihatin, malah jadi baca artikel ini dan………………

        sangat sangat membuka wawasan, mulai dari tulisan, komentar, perdebatannya, bagi saya pribadi membaca perdebatan berbobot kyk gini sangat menyenangkan, dapet banyak wawasan baru dari berbagai sudut pandang, ada juga sesi saling nyela dengan cara yang santun, dan itu very very entertaining !!, i mean hey dude both of you are doing amazing !!!! which show us what the real meaning of intelectual debate !!! impressive :))

      10. Terima kasih sudah mampir. Kadang2 saya ngarang2 sok pinter gitu kebanyakan nonton ILC. Hahahahaa.. tapi seneng kok kalo dikalahkan dengan “indah”. Wkwkwkwk….

    2. Oh iya, satu lagi bung arod, Anda salah baca ‘monopoli’ yang saya maksud. Saya bukan ngomong itu dalam konteks legal formal. Jelas-jelas ‘monopoli’ yang saya maksud ada di kutipan pembuka yang asalnya dari vox populi. Artinya itu wacana, bukan fakta.

      Serem ya sistem hukum kita dengan orang-orang kayak anda di baliknya. hahahaha.

      1. hahahah menarik sekali, anda belum paham sistem pembuktian sudah menjustifikasi terlebih dahulu bahwa sesuatu yang tersirat tidak dapat digunakan sebagai alat bukti, hahahahaha saya tertawa sendiri membacanya, biar saya ajarkan kepada anda hahahaha

        Untuk memahami sesuatu yang tersirat digunakan jalan penafsiran, yang ada ketentuannya dalam Pasal 1343 dan 1345 KUH Perdata. Hakim sendiri yang menafsirkan apa yang tersirat malah, kok dibilang hebat sekali hahahahahaha

        Selanjutnya, saya menyelami maksud anda dan apa yang ingin anda sampaikan secara utuh dari komentar-komentar publik, dan tanggapan anda atasnya, sebagai contoh :

        saya membuat artikel berjudul “Kamu jelek”
        lalu muncul berbagai komentar yang merasa tersinggung atas tulisan saya, itu artinya publik menilai saya menyinggung mereka secara general, ngarti pak antropolog? hahahahaha

        Lebihnya lagi malah artikel anda yang ngawur gold gospel glory itu artinya penyebaran agama dan kejayaan dalam konteks imperialisme pak antropolog, tidak mesti nasrani agama lain pun menerapkan 3G berdasarkan keyakinannya seperti Turki, itu paham general bukan sempit pada satu agama hahahaha. Sejarah saya baca, saya mengerti konsep 3G itu, bukan hanya mengutip “kalimat yang ditulis di buku”. Malah anda yang dipertanyakan “pernah mengenyam sekolah dasar atau tidak?” kok sopan santun dibilang logika, sementara sopan santun bagian dari norma, hahahahaha

        Selanjutnya yang mengenaskan adalah anda mengatakan berbahaya apabila ada orang-orang seperti saya di balik sistem hukum, lah yang berbahaya malah anda sendiri, tidak ada solusi, menyulut perpecahan. Saya tidak mendewakan Gojek, saya menyebut Gojek memberikan pelayanan yang lebih baik dan memberi banyak manfaat bagi masyarakat, dan banyak yang membenarkan pendapat saya ini (terbukti dari eksistensi Gojek hingga saat ini). Saya menyadarkan kembali para Ojek Pangkalan bahwa kekalahan dirinya dalam berusaha adalah karena salahnya sendiri, sehingga mereka mau berubah menjadi lebih baik dengan cara yang lebih baik, bukannya menggunakan jalan kekerasan seperti yang terjadi sekarang ini “Gojek dipukuli”, dan anda mendukung mereka melakukan ini, terlihat dari tulisan anda yang membenarkan perumpamaan “jangan nyelak kalau tidak mau dijitak!” berbahaya sekali orang seperti anda

        Anda mendukung secara membabi buta, membuat mereka merasa benar dan patut mempertahankan status quo mereka sekarang, jadi yang lebih berbahaya itu sebenarnya “Anda Sendiri” hahahahaha.

        Yang terakhir, anda sebenarnya mengerti atau tidak kata monopoli? jangan-jangan memang tidak tahu lagi. Penggunaan bahasa anda itu ngawur, di luar konteks legal formal, masih ada KBBI sebagai bahan rujukan dalam mencari definisi, nih arti monopoli dalam KKBI jadi anda tidak dapat menghindar dan seolah-olah “oh fine, sejak semula saya juga tahu” padahal jelas sekali anda ngawur. Nih definisinya dalam KBBI

        “monopoli/mo·no·po·li/ n 1 situasi yg pengadaan barang dagangannya tertentu (di pasar lokal atau nasional) sekurang-kurangnya sepertiganya dikuasai oleh satu orang atau satu kelompok, sehingga harganya dapat dikendalikan: pengusahaan minyak bumi dan gas alam adalah — pemerintah; 2 hak tunggal untuk berusaha (membuat dsb);

        memonopoli/me·mo·no·po·li/ v mempunyai hak tunggal untuk mengusahakan (membuat, memperdagangkan, memiliki, dsb) sesuatu”

        Apabila Gojek memang memonopoli seperti yang anda sampaikan, seharusnya pangkalan ojek sudah dilarang sekarang, dan KPPU sudah bertindak sekarang hahahahahahaha

      2. Lha kok ngaco. Kuliah hukum dimana sih? 1343 dan 1345 KUH Perdata itu untuk soal perjanjian kerjasamaaa bosss… emang saya kerja sama apa sama anda? Wah ngaco anda. dan itu dalam konteks perseteruan dua pihak yang ditengahi oleh hakim. Ini kan yang berdiskusi kita berdua, kalo ada yang berhak interpretasi adalah orang ketiga yang kita kasih kekuatan itu, bukan saya apalagi anda. hahahah

        Lalu apa saya menyulut perpecahan? Sejauh yang saya lihat di media sosial banyakan orang yang seperti anda yang ‘menyamaratakan’ semua tukang ojek. Nggak semua tukang ojek memukuli gojek bung.

        Dan “Jangan nyelak kalo nggak mau dijitak” itu sopan santun biasa di kalangan umum. Bukan status Quo. Kan itu yang saya bilang salah paham.

        Berapa kali juga saya bilang, saya nggak ngomongin legal formal. Lha wong ini ada di bagian racauan blog pribadi saya, bukan untuk kelas. kok ya dianggap legal formal. Itu urusan anda dan otak anda yang ribet.

        Saya akhiri diskusi ini dengan mengulang penjelasan: kata monopoli adalah saran/perkataan orang-orang yang merasa semua sistem ojek harus jadi gojek, itu saya taruh di kutipan. Kalimat saya: “KALAU Jakarta mau jadi metropolitan yang sebenarnya, Gojek harus memonopoli semua pangkalan ojek.”

        artinya bukan Gojek memonopoli ojek tapi KALAU gojek memonopoli ojek. Astaghfirollahalazim. Hahahahah…

        Ding dong. Ups, the elevator stops. It’s time for you to go out to the ground floor. Because you are not my level. This conversation is done.

        Terima kasih telah membaca.

      3. Pertama-tama niatnya pengen cari berita soal gojek, eh malah mampir dimari. Udah sampe disini, eh jadi tertarik dengan perdebatan soal hukum vs antropolog ini. Berhubung saya jg baru belajar hukum, dan tidak seperti 2 pakar hukum di atas, saya mau numpang belajar hukum dimari yak.. Boleh ya kang wonder, di lapaknya saya numpang belajar hukum?

        Mungkin sama seperti kang Wonder langsung aja saya kutip kalimat kang Arod yang ini, “….secara tersirat anda menyudutkan pihak Gojek sebagai “Pihak yang bersalah”.

        Lah aku jg aneh e, emang bisa gitu bisa dijustifikasi secara tersirat? Kang Arod yg pakar hukum, mendalilkan pasal 1343-1345 KUHPer tentang penafsiran persetujuan sebagai pembenaran. Loh kok dalilnya pake KUHPer? Mumet ndasku, aseli.

        Soale, kalimat yg kukutip tadi, “menyudutkan pihak Gojek sebagai pihak yang bersalah” itu lebih cocok diasosiasikan sebagai perbuatan pidana daripada perbuatan perdata loh ya, itu menurutku yang bukan pakar hukum, mungkin kang Arod dan kang Adi yg pakar hukum itu beda pendapat ya monggo.

        Soale, Kang Arod yang pakar hukum lagi memberikan penjelasan yang bukan ranah perdata atas dalilnya dari pasal KUHPer itu loh, yang aku kutip, “saya membuat artikel berjudul “Kamu jelek”lalu muncul berbagai komentar yang merasa tersinggung atas tulisan saya, itu artinya publik menilai saya menyinggung mereka secara general, ngarti pak antropolog?”

        Seingat saya loh ya waktu dulu belajar hukum. Metode tafsir antara Hukum Pidana dan Perdata itu berbeda, hukum pidana lebih saklek daripada hukum perdata. Contohnya: di hukum pidana haram hukumnya tafsir analogi, klo di perdata mah masih halal, hehehe..

        Terus di hukum pidana itu, saya rasa loh ya.. Perbuatan yang tersirat saja, mana bisa dihukum. Soalnya sebuah perbuatan itu kan harus memenuhi unsur2 delik, ada delik yang mengharuskan dengan sengaja, ada yang tidak.

        Jadi menurut saya yang tidak pakar hukum ini, dalil pasal2 KUHPer td tidak bisa digeneralisir untuk semua perbuatan, mungkin kalo konteksnya persetujuan atau perjanjian ya bisa. Mohon kalo menurut kang arod dan adi yang pakar hukum saya ini keliru, mohon saya dicerahkan. Tapi jangan galak-galak, hehehe..

        Terakhir, ya mungkin kalau dalam artikelnya kang wonder gak memberikan solusi ya biarin aja ga usah dituntut harus ada solusi. Lagipula antropolog itu tugasnya kan menjelaskan fenomena manusia, bener ga kang wonder? Kayaknya saya ini keliru… Hehehehe..

        (bingung mau nempel komennya dimana, saya tempel disini aja. Hehehe…)

  4. kenalan dulu daah,, saya tukang ojek pangkalan ,,
    awalnya menarik baca coment2 yg masuk tpi lama2 kok gk menarik lagi menurut saya,
    kalo ada yg coment tukang ojek pangkalan kasih harga gila2an itu kan menurut asumsi mereka mahal jangan di samain dengan angkot,angkot sekali jalan bawa banyak penumpang sedangkan tukang ojek cuma 1 orang saja itu pikiran praktis hampir smua tukang ojek pangkalan,,
    masalah tarif dekat juga ada bedanya,contoh di gojek tarif dibawah 4km bayar rp 25000, di ojek pangkalan paling besar tarifnya cuma rp 10″ mangkal di daerah kalideres tepatnya di km18 jika ada penumpang kearah bandara dikasih tarif gk lebih dari rp 50000 saja,,
    coba di cross cek dengan gojek dengan ukuran km kira2 berapa yg harus penumpang bayar?
    dari pangkalan saya ke bandara soetta kurang lebih 20km lewat jalan pintas,,( menurut tebakan asal saja)
    tpi klo menurut yg saya tau hitungan tarif gojek per km adalh rp4000 dikalikan 20km terdapat hasil rp80000..
    jadi menurut saya semua ujung2nya duit juga cuma di kasih konsep yg lebih modern saja,,
    klo omongan pak ahok minta ojek pangkalan gabung di gojek itu tergantung si ojek sendiri,,gk bisa smudah itu nyuruh2 orang ikut konsep yg baru buat para tukang ojek yg sbagian adalh orang yg emang pikirannya kolot,,paling klo di tawarin mereka bilangnya enakkan ngojek mangkal,karna sebagian para pengojek itu aslinya gk bisa maju pikiranya( termasuk saya juga kali ya hehee)..
    yg jdi masalah ya itu tadi klo gojek maen ambil penumpang dipangkalan orang tanpa order lewat aplikasinya…
    klo bicara soal penghasilan yg sempat saya baca sih katanya penghasilannya di tambah ngojek sendiri sekitar rp3juta perbulan yaelaah klo segituh maah gk jauh beda sama saya yg ngojek sendiri yg stand by nya udh siang sampe jm10 mlm di potong istirahat plus solat juhur ashar and magrib,,
    balik lgi ke masalah memori ojek,
    setau saya ojek itu udh ada lebih dari 30 tahun klo misalnya mau di tertibkan sperti becak menurut saya itu hal yg tdak akan mudah,,
    kenapa?
    karena tukang ojek itu ciri khas kota jakarta, sebelum di daerah lain ada tukang ojek jakarta udah lebih dulu ada, ,sebab awal adanya ojek adalah karna di jakarta awal2 70an banyak pendatang yg mulai bekerja di jakarta dan butuh alat transportasi yg mendukung para pendatang tersebut maka lahir lah inisiatif penduduk asli jakarta buat cari duit lewat cara ngojek,.

    hadeeeh cape juga ya ngetiknya hehe..
    udah dulu dah comentnya,.

  5. Punya pengalaman buruk naik ojek. Ga jaman sd- kuliah selalu Di mahalin, harus kenalan dulu, akrab dulu, Jd langganan dulu. Baru Jd murah.

    Pendapat yg baik Dr wonderguitar.
    Tapi saya lebih setuju Dengan inovasi Gojek. Tergantung pemerintah bagaimana mau merangkul atau tidak inovasi ini. Dr segi pelayanan, Karena pelayanannya jg lebih baik Dr ojek. Tentunya Karena model institusi inilah yg bs menyeragamkan sop ( sistem operasional prosedur) Dan servis levelnya ya.. Justru inovasi seperti sangat disayangkan tdk pernah muncul Dr pemerintah. Oh Iya, seperti taxi nomor satu Di indo, gojek juga menerima Dan responsif terhadap complain Dr customer mulai Hal kecil sampe yg terbesar. Jelas Hal yg tidak ada Di pangkalan ojek.

    Lalu Untuk menjadi anggota Di pangkalan ojek Justru sistemnya lebih buruk, Karena harus bayar, dulu 1 juta seinget saya. Dan syarat2 lainnya.

    Sekedar komentar. Memang banyak yg hatinya baik, Tukang ojek berjuang Untuk keluarganya. Tpi Klo mau maju harus mau berkembang. Jaman Makin berubah Dan Makin cepat.

    Tidak ada yg tidak berubah selain perubahan itu sendiri.

  6. INTERESTING !

    Saya baru saja membaca sebuah tulisan dari sudut pandang yang sama sekali berbeda. Dari seorang antropolog atau sebut saja sosiolog lah ya.

    Saya kebetulan memiliki latar belakang engineering management – dimana inovasi menjadi titik fokus dari pandangan saya.

    Pandangan mas wonderguitar saya lihat merupakan pandangan konservatif – sama seperti kalangan yang menyayangkan kenapa masyarakat sekarang tidak lagi muter lagu pake kaset pita. Kenapa tidak ada lagi orang yang naik becak. Kenapa tidak ada lagi orang pake nokia communicator yang segede gaban.

    Ini semua merupakan bagian dari Siklus Kehidupan Produk atau istilah kerennya Product Lifecycle.

    Dimulai dari tahap introduction – growth – maturity – dan terakhir; DECLINE.

    Tahun 90an, hampir semua teman sekolah saya punya kaset pita Westlife. Ini merupakan masa-masa dimana kaset pita dianggap sebagai media mendengarkan lagu terefektif. Sekarang? People go digital. Bahkan model bisnis yang sedang berkembang saat ini adalah dimana orang tidak lagi memegang hak milik untuk mendengarkan lagu: STREAMING (Spotify & Apple Music). Perkembangan inilah yang disebut TAHAP GROWTH – namun sebaliknya, kaset pita mengalami DECLINE.

    Miris? Memang. Generasi kelahiran 60an mungkin akan berpikir, betapa dunia ini sudah berubah. Dahulu rasanya begitu romantisnya berdansa sambil mendengarkan alunan musik dari piringan hitam.

    So why do people SWITCH?

    Jawabannya mudah: COMPETITIVE ADVANTAGE.

    Apa itu competitive advantage? Banyak: harga, kemudahan, akses, fitur unik, powerful marketing, dan EFISIENSI.

    Apa yang ditawarkan Go-Jek adalah efisiensi, sejauh mata saya memandang sebagai seorang engineer x economist. Alih-alih abang ojek menunggu di pangkalan, dengan memanfaatkan internet mereka bisa langsung menyambut si penumpang. Hemat WAKTU, hemat BENSIN, hemat TENAGA = harga lebih murah dan lebih masuk akal.

    Dan belum lagi, masyarakat menengah Indonesia bertumbuh sangat pesat – berarti tingkat pendidikan semakin meningkat – orang-orang menjadi semakin kritis. Price-sensitive, feature-conscious, tech-savvy, dan lain sebagainya. Maka dengan mudah mereka akan berpaling kepada yang menawarkan COMPETITIVE ADVANTAGE terbaik.

    Pada akhirnya, seiring berkembangnya peradaban, budaya-budaya lama yang tidak efisien akan tertinggal. Kecuali jika dunia bersepakat mereka tidak lagi ingin berkembang, stagnan pada satu titik ekonomi – WHICH IS IMPOSSIBLE. Dalam hal ini saya melihat, memang dengan adanya disruptive innovation dari Go-Jek akan “menghancurkan” budaya ojek yang sudah obsolete dan tidak efisien. Sudah sewajarnya. Namun jika kita berbicara nilai-nilai sosial, sudah pasti akan ada yang hilang dan surely will be missed.

    1. Mas piknik ke New York deh, banyak becak genjot, semenit 3 dolar. Coba ke Washington DC, dibangun trem listrik baru (yang dulu jakarta punya). Dan banyak sepeda umum. Coba berpikir lebih luas, dunia nggak segampang yang lama ditinggal yang baru pasti lebih bagus. Simple aja sih saya, yang penting pilihan banyak.

      1. Hey, I never said the new is always better than the old one man.

        Pertanyaan saya kembali – emang becak genjot di New York berkembang? Berapa persen tren perkembangannya? Berapa banyak orang naik becak genjot? 5 tahun depan yang make lebih banyak atau lebih sedikit? That’s the thing about business.

        Kalau di sana bisa ada trem dan di Jakarta ga ada, well hey, mungkin di sana trem listrik cater to the needs of the people, tapi di Jakarta mungkin kebutuhannya tidak sesuai.

        FYI, tablet (iPad dkk) juga seperti itu, dikeluarkan duluan oleh bang Gates, tetapi ga berhasil. Why? Karena belum ada kebutuhannya. Namun kenapa si bang Jobs sukses dengan iPad? Because the need is there – at the right moment.

        Hal yang sama lagi – coba Gojek dimunculkan waktu belum banyak orang pake smartphone. DEAD. Perasaan dulu udah ada deh yang mengusung konsep perusahaan “ojek” tapi sekarang udah gak kedengaran lagi. CMIIW.

        So, mungkin aja ojek tradisional bisa bertahan tahun-tahun mendatang tapi yang cuma 2 kemungkinannya: gak berkembang, atau malah declining jadi niche market yang sangat kecil, yang cuma dipake orang-orang yang memiliki pandangan seperti anda.

      2. Itu semua tergantung bagaimana pemerintah dan pengusaha membuat business plannya. Pasar itu diciptakan bukan diikuti saja. Silahkan cek http://www.manhattanrickshaw.com/

        dan ini trem (streetcar), http://www.dcstreetcar.com/

        dipake oleh orang2 yang pandangannya seperti saya, dan itu banyak sekali ketika diciptakan dengan benar.
        Gojek bagus, tapi lebih bagus lagi kalu semua transportasi publik berfungsi dengan benar, dirapihkan, termasuk soal ojek2 pangkalan. Becak di New York itu bagian dari program pariwisatanya. New York kayak jakarta, macet banget. Punya mobil di New York dianggap bego, karena MRTnya 24 jam, semua rute masuk. Bus ada, dan becak juga ada di tempat2 tertentu. Kan rapih.

        Kemajuan ekonomi, kelas menengah makin banyak itu satu hal. Hal lain adalah empati dan mempertahankan identitas kultural, produksi identitas.

        Please dong ah, perbanyak piknik.

      3. Hahahaha oke ntar saya perbanyak piknik deh 🙂

        Saya udah baca itu webnya mas. Coba lihat lagi deh – itu si becak adalah service pedicab bukan untuk transportasi tapi lebih untuk kepentingan event. Which means? Fitur unik; yang adalah COMPETITIVE ADVANTAGE. Wajar ada marketnya.

        Kalau trem saya kurang ngerti sih kenapa bisa disukai di sana. Ngaku deh saya kalau emg ga tau hahaha..

        Kembali ke ojek.

        What can traditional ojek offer to people?

        Yang Anda bilang benar, pasar bukan hanya diikuti tapi bisa DICIPTAKAN.

        Tapi kemudian pertanyaannya, NILAI apa yang mau DICIPTAKAN oleh ojek untuk kompetisi dengan ojek? Kalau cuma main fisik nendang2in rider gojek yang mau ngambil sewa dekat pangkalan dia, ya masyarakat juga pasti pindahlah ke gojek.

        Daripada Anda suruh saya piknik (dimana saya ga punya uang untuk piknik ke Amerika), mending coba kita diskusi – emang menurut mas si ojek bisa offer apa ke masyarakat kalau emang mas gamau ojek tradisional ilang. Begitu dapat ide yang oke, propose ke mereka. Kalau udah begitu, the next question? Mau ga eksekusi, apa mager? Seperti kata bang Jaka (bukan nama sebenarnya) yang saya baca dari Kompas, alasan mengapa dia gamau gabung Gojek cuma semata-mata males make smartphone.

        If you do not want to innovate you will be left behind.

      4. Mas, saya tekankan lagi yak. saya SEBEL BANGET sama perilaku tukang ojek yang nendang2in rider gojek, belagak preman dll. Saya sudah tulis di atas.

        Pedicap memang dialihfungsikan, tapi tetap ada thoh. Dan tujuannya juga bagus banget, selain wisata, itu juga mengurangi emisi khususnya untuk hutan kota. Central Park NY itu guede banget. Rata2 kota di Amerika punya taman gede. Hong Kong maksa penduduknya untuk sempit-sempitan di apartemen dengan jalan yang sempit demi hutan kotanya.

        Cuma jakarta nih yang hutan kotanya jauh amat, di UI. Ngaco. Sengaco kebanyakan businessmannya. Nah soal gojek, saya salut dah. Tapi bukan itu masalahnya. Tulisan ini bukan soal gojek.

        Tulisan ini soal social management. Bayangin orang tua yang nggak akan mampu lagi pake smartphone. kalo anda bilang, “kasihan sih, tapi namanya juga kapitalisme,” itu namanya anda udah jadi robot.

        Minimal harus dipikirin pemkot juga jaminan sosial buat orang-orang kota yang akan kehilangan pekerjaan karena tidak ada skill. Pemkot harus gabung sama pengusaha karena itu adalah ekses dari perkembangan usahanya.

        Solusinya nggak bisa saya generalisir. tergantung daerahnya. tapi coba kita bikin simulasi sebuah daerah yang kasus sentimen gojeknya tinggi. Let say… UI depok.

        Itu tukang ojek UI sebelom ada gojek udah disistemisasi sama UI. didata, dikasih jaket, helm dan kartu ijin kerja di UI. Sudah dikuota. Tanggung jawab UI adalah mengatur ojek dan berkoordinasi dengan gojek untuk kesejahteraan warganya, civitas akademika UI. Termasuk tukang ojek pangkalan yang sudah mereka angkat sebagai warga UI yang legal formal.

        Ketika birokrasi dan pengusaha nggak jalan bareng, pasti ada masalah sosial.

        ps. piknik jaman sekarang gampang. temen saya anak petani bisa keliling dunia dari nabung ada lho.

    2. Gw setuju sama yang satu ini, apalagi komen pertamanya tuh bawa bawa nokia butut awokaowkoawkok the best quote “introduction – growth – maturity – dan terakhir; DECLINE”

      Sangat greget

    1. Yakin mau kayak jakarta? Di jakarta orang muak lho sama lalulintas. Daripada gojek, bukannya lebih baik kalo fasilitas publik dibenahi. MRT dibangun, infrastruktur dibangun. Pejalab kaki jadi mudah.

  7. Nyimak aja bang ane driver gojek pangkalan ane di kedoya jakarta barat klo ane gk ambil pusing soal post nte bang rezeki masing masing dah ada yg ngatur gojek bisa maju juga karna kehendak yg di atas noh yg kasih nte nafas gratis pula gk pake bayar

  8. jaman sudah berubah, penggunaan teknologi sudah masuk ke sendi kehidupan dan seakan tidak terbendung, emang sebagian besar mau tidak mau cara2 konvensional bakalan hilang, dulu dengerin musik aja pake radio tip gede, sekarang sudah pake hp aja udah bisa.

  9. Jadi inget awal awal keberadaan ‘sevel’ … Hehe.. Sevel begini,sevel begitu . sekarang ?? Cek sendiri dehh cabangnya sudah ada berapa ?! Yang pasti suatu saat nanti baik Ojek ataupun G***k atau juga G******e sama sama jadi MEMORI .memori orang orang yang mencari peruntungan dan rejeki demi diri sendiri,orang tua, anak istri , bahkan cuma untuk di amalkan dari hasil rejekinya. Kapan waktunya untuk jadi memori ?? Ya nanti kalo zaman sudah menghendaki . zaman ialah waktu yg tidak bisa di stop oleh siapapun . insinyurkah ?profesorkah?masterkah?…apalagi cuma dg kata2 ‘intelek’. (Kalo emang bisa di stop saya lebih setuju kalo james watt tidak menemukan mesin uap [naik kuda /onta aja lebih asik] .kalo emng waktu bisa di stop saya setuju kalo Thomas AE Tidak bisa menerangi seantero jagat dg penemuannya [pake damar ceplik yg unik2 bentuknya])… sayangnya waktu terus bergulir berganti zaman seiring kita membuka jendela kamar kita sebagai ventilasi …tuker dg udara yg lebih segar . salam perubahan 👍☺

  10. Apa Gojek gak menawarkan kesempatan berempati utk usernya? Personalisasi yg ditampilkan di aplikasi saat order dan storytelling di SocMed saat Gojek masih disebut produk difusi sosial, menurut saya cukup ngebentuk engagement antara pengendara dan user: ada identitas; foto muka; nomer telepon; minta arahin jalan via telp; penghargaan; dan keramahan serta service dari tangan ke tangan.

    Untuk pemerintah sendiri harusnya Gojek berfungsi dalam hal pendataan penduduk krn syarat jadi pengendara Gojek, Nadiem Makarim meminta identitas secara legal, test, wawancara sampai edukasi berkendara dgn baik. Selama ini saya gak yakin semua abang ojek konvensional punya KK, KTP, SIM C, dll. Beresiko? Saya pikir ini lebih krusial drpd masalah nembak harga – bisa jadi harga sesuai dgn pengalaman dan demand. Itu fair walaupun sebagian melihat yg tidak berpendidikan tinggi dan gak bayar pajak gak pantes masang harga tinggi. Ya tapi gimana dong membenarkan argumen itu kalo Ahok membela Gojek krn “azaz manfaat”? Hahaha pendekatan kasuistik kata beliau jg penting. Saya jd bingung.

    Terlepas dr perkara konstruksi sosial di atas, saya lebih tergiur dgn big data di balik modernisasi ojek. Telco contoh sederhananya 🙂

    Terima kasih nilai nilai dalam tulisan mas. Asik. Salam kenal

    #SharingIsTheNewCurrency

    1. Salam kenal juga.

      Klarifikasi aja, nggak semua ojek pangkalan ngasih empati, kan saya spesifik yg saya kenal deket aja.

      Soal empati gojek, nggak mungkin ada. Adanya mungkin simpati. Karena kontak antara tukang ojek dan penumpang tidak akan seintens ojek pangkalan berlangganan. Gojek berlangganan,mungkin bisa.

      1. Kalau menurut saya balik lagi ke diri masing-masing sih ya. Saya bukan pengguna Gojek rutin, tp saya pengguna Ub** rutin. Bisa dibilang sistemnya mirip lah ya. Nah di Ub** sendiri ada yg namanya Ub**hack dimana kita sms si driver buat merapat ke lokasi kita dulu baru kita pesan Ub**. Tiap saya kerumah mertua, saya selalu sms si driver langganan saya buat merapat kalo saya mau pulang. Sepanjang perjalanan biasanya suami saya dan saya ngobrol sama si driver. Ceritanya macem-macem. Dari A-Z. Jadi semua tergantung penggunanya. Apakah akan jadi pengguna yg ignorant atau tidak.

        Dan menurut saya, Gojek membawa perubahan baru. Karena orang-orang yang tadinya butuh uang tapi tidak tahu harus mencari kemana, bisa mendapat penghasilan baru. Coba bayangkan ngga ada gojek, mereka butuh uang, tapi ngga tahu harus nyari kemana. Mau jadi tukang ojek pangkalan pun belum tentu diterima. Contohnya ada wanita mantan kasir supermarket yg sekarang jadi Gojek Rider. Penghasilannya dari 2.5juta perbulan bisa naik jadi 6 juta perbulan. Pertanyaannya, apakah mungkin si wanita ini jadi tukang ojek pangkalan? Jawabannya udh pasti ngga mungkin dong.

        Karena itu, menilik dari sudut pandang ojek pangkalan boleh, tapi jangan lupa jg lihat dari sudut pandang orang lain. Pengguna secara luas.

      2. Iya emang. Setuju kok saya. Sudut pandang orang lain kan cenderung ke gojek, nggak salah. Saya cuma nunjukin sudut pandang yg jarang dilihat orang aja. Resep tulisan dari kawan saya.

        Btw, uber masih jalan ya? Bukannya udah ga boleh?

  11. Kalau ojek pangkalan mau bertahan, mereka harus buat sistem yang sama atau lebih solid dari Gojek. Ada quality control, pelatihan, bahkan SOP. Empati merupakan suatu yang abstrak, tidak terukur. Tidak bisa diukur sejelas pengeluaran dan pemasukan, keuntungan dan kerugian. Saya tidak bisa mengukur biaya perjalanan saya dalam pekerjaan dengan empati kan? 🙂 Adalah suatu hal yang wajar apabila pembeli/pengguna akan selalu mencari layanan yang paling berkualitas dengan harga yang termurah dan pasti.

    intinya begini, jaman berubah, teknologi berubah, tinggal orangnya mau berubah apa engga. Gojek merupakan sebuah fenomena dari berkembangnya konsep bisnis dan teknologi. Sekarang tinggal para ojek pangkalan mau berkompetisi sehat dengan cara memperbaiki diri dan membuat terobosan, atau bergabung dengan Gojek. Alasan ojek pangkalan tidak mau bergabung dengan Gojek biasanya cukup konyol, misal: tak bisa menentukan tarif (seenaknya) sendiri, tak bisa pakai smartphone, atau malas penghasilannya dipotong sedikit untuk mencicil smartphone jika mereka tak punya. Mereka cuma ingin segalanya instan, gamau susah, mau cari gampangnya saja dengan bermodalkan otot dan arogansi. Bila mereka tetap begitu, maka biarlah mereka terlindas oleh kemajuan jaman, sebagai orang bodoh yang tak mau berkembang.

    1. Konteks bro, konteks. Baca diskusi temen2 di bawah deh. Kalo semuanya pake logika pasar, hajar ke semua konteks, ya selesailah kita jadi orang. Emang semua mau diukur? ckckckck.. Pokoke ada yang cocok dan ada yang gak. ga ada ukuruan universal.

      1. konteksnya begini, jaman itu berubah, ukuran angka adalah ukuran paling pasti fair untuk semua pihak, itu logika yang tak terbantahkan. kecuali kalau ada pihak yang memang ingin tidak fair untuk keuntungannya sendiri. Masalah logika pasar, well, itulah dunia bisnis, masbro mau berbisnis, inilah pasar 🙂 face it. Kalau gak suka ya jangan berbisnis.

      2. Ati2 masbro, logika bisnis modelnya banyak. Ga semuanya pake angka dan ukuran. Pasar juga modelnya banyak. Buka pikiran lah.

        Paguyuban juga model bisnis tersendiri asal konteksnya kena. Ga semua bisa ditembak pasar bebas.

        Logika adam smith kayak gitu udah ketinggalan jaman.

      3. Saya tidak menolak paguyuban 🙂 kalau paguyuban punya model bisnis yang lebih solid dan punya terobosan yang bagus, maka dengan sendirinya model itu akan bisa bersaing, bahkan menang. Yang jelas fakta disini adalah teknologi telah mempermudah dan membantu konsumen untuk mendapatkan layanan yang lebih berkualitas 🙂 . Masalah mengenai apa yang konsumen inginkan, kembali ke logika pasar 🙂

      4. Logika pasar yang bikin kan kita2 juga: konsumen.

        Paguyuban ga punya model bisnis, karena paguyuban ADALAH model bisnis. Masalah solid atau tidaknya tergantung bagaimana kelompok tersebut mengenal logika pasarnya.

        Logika pasarnya nggak sama satu tempat dengan tempat lain. Begitu maksud saya.

  12. perlu diperhatikan ketika zaman kolonialisme gold gospel glory akan merugikan subjeknya, sedangkan penawaran bergabung dengan gojek tidak merugikan ojek dan pelanggan, terutama pelanggan ojek yang sering ditipu harga oleh ojek pangkalan ini

  13. awalnya kirain ini tulisan songong soalnya teman ada yang ngutip ke status FB setengah-setengah. Tapi setelah baca full kayaknya penulis ternyata punya pemikiran yang sebenarnya tidak menyerang gojek maupun ojek mangkal, namun mengkritik pendapat kelas menengah yang terlalu mendewakan gojek lalu menawarkan pandangan akan plus minus dari kedua macam jenis ojek.
    Buat daerah jakarta mungkin udah svrem (pake v karena udah parah banget) ojek konvensialnya, sering kena getok harga, kaga dikasih helm SNI juga, alias kalo jatoh insya Allah mati hehe.
    Mau komen panjang lebar juga udah banyak yang nulis canggih pake teori-teori relevan.
    Semoga aja gojek tetap menjadi sistem operasi buat perojekan yang berkualitas dan pemerintah lewat lembaga terkait mengusahakan kontrol hukum buat segala tindak kekerasan di jakarta, mengingat polisinya malah sering saya pergokin malak duit ke pangkalan ojek (mungkin ini kali ya yang bikin harga ojek mangkal digetok abis-abisan).
    Endonesah emang dah kang palak dimana-mana, dari mulai eksekutif, legislatif, yudikatif, aparatur, preman pasar, kang parkir, pengamen nyilet tangan sendiri, dan kang ojek, semuanya premanisme terselubung…

    1. jadi kepikiran untuk tahu ojek tengah kota dan pungli2nya. kayanya ojek tuh jadi mahal banget baru tahun2 belakangan ini deh.

      Bener, mungkin ada banyak variabel2 yang bikin ojek tengah kota jadi mahal, dan itu tidak semata-mata karena tukang ojek semena-mena.

  14. Nosa … Tulisanmu soal Gojek & ojek pangkalan ini menarik banget. Aku lagi survey juga soal ini untuk bikin tulisan di blogku. Boleh nggak artikel ini aku jadiin salah satu referensi dari sekian referensi lain untuk tulisanku nantinya ? Pastinya sih aku bakal nyantumin link ini.

    Thanks

  15. saya punya dua kendaraan: mobil & motor. namun belakangan ini lebih sering naik KRL, karena kemacetan jakarta yang sulit diramal. saya juga langganan ojek, tapi bukan ojek motor, melainkan ojek ontel di kota tua. ojek ontel di kota tua ini ada dua kelompok: kelompok langganan saya adalah yang berseragam dan tergabung dalam paguyuban/organisasi, karena mereka relatif konsisten menunggu pelanggan di area sekitar bank mandiri. kelompok berikutnya adalah yang non-seragam: mereka tidak tergabung dalam sebuah organisasi, dan bekerja lebih malam. kesamaan kedua kelompok ini sama: tidak “merampok” penumpangnya, ongkos mereka tidak berbeda.

    ojek motor ada juga kok, tapi saya cenderung menghindari mereka karena tidak adanya keseragaman harga, yang cenderung lebih mahal. memang, yang minta mahal bisa saja dikatakan oknum, tapi hal yang sama bisa juga dikatakan untuk pengojek yang ramah soal harga: they are not the norm.

    organized online transportation service, atau “aplikasi”, memang memotong satu proses: empati. masyarakat yang melihat dan memilih kemudahan ini tidak bisa dong serta-merta disalahkan, mereka sudah cukup mengalami masalah hidup mereka sehari-hari tanpa ditambah masalah harus nego harga deng pengojek; ini yang dibidik oleh para pengusaha online: one less life problem if you use our service. mau dibungkus dengan “ini godaan setan” juga tidak akan menghalangi mayoritas pelanggan aplikasi ini. ironisnya adalah saya sendiri jarang pakai jasa mereka jika tidak terpaksa, karena lebih murah naik angkot M44 dari stasiun tebet ke lotte avenue misalnya, 4000 rupiah saja, vs ojek pangkalan yang nembak 25-30 ribu rupiah, atau aplikasi 4 huruf yang masih di atas 10 ribu rupiah. ini tentunya tidak lepas dari saya sudah tahu dari awal bahwa naik angkot ongkosnya sudah pasti.

    sewaktu saya masih kerja di mega kuningan, saya sempat memilih ojek sebagai moda transportasi dari kantor ke mal ambasador dan sebaliknya. saya masih rela bayar 5000 rupiah naik ojek ketimbang menunggu shuttle gratis namun jadwalnya terbatas. namun ketika premium naik 1000 rupiah, saya sudah tidak mau lagi naik ojek karena mereka menggetok pelanggannya jadi 7000 rupiah. kenaikan ongkos mereka lebih tinggi persentasenya ketimbang kenaikan harga premium.

    terakhir. saya sempat tidak sengaja berkenalan dengan seorang pemimpin pangkalan ojek lokal, ketika sedang menambal ban mobil, dia sempat membantu sang tukang penambal ban. saya baru tahu keesokan harinya bahwa dia sebenarnya berprofesi sebagai tukang ojek. sayangnya sikap saat menjadi tukang ojek itu lebih mirip preman lokal, sama sekali berbeda dengan sewaktu dia membantu saat menambal ban. ini juga yang membuat saya lebih memilih jalan kaki 10 menit ketimbang naik ojek. singkatnya, jasa mana yang lebih bisa menawarkan kenyamanan di hati penumpang, itu yang akan lebih dipilih.

    1. banyak sekali tipe curhat panjang kayak gini di thread ini. Saya senang, bisa jadi data bagus.

      Terima kasih menanggapi curhat saya ya, Mas Ryosaeba. Saya juga sering jadi korban tukang ojek tengah kota kok. 🙂

  16. Analogi yang boleh jadi mirip. Ketika modern-modern market skala korporat mulai menjajah desa pelosok, pelan-pelan toko-toko kelontong menjadi mati suri.

    Modern market yg dari sudut pandang konsumen, menjanjikan sisi kepraktisan dan transparansi tentu sangat mudah mempengaruhi preferensi konsumen.

    Bahwa ketika mengikuti hukum pasar, dan modern market yg didukung oleh sistem diatas dengan pasokan modal yang tentu jauh lebih kuat daripada pasukan kecil toko kelontong, maka kapitalisasi hanya bisa dibendung oleh regulasi pemerintah.

    Pertanyaannya, pemerintah yang mana yang memperlihatkan keberpihakan pada ekonomi mikro?

    1. pemerintah Orla dan beberapa bagian dari pemerintah orba (dengan konsep koperasi) masih gitu.

      Regulasi pemerintah bukan hanya bertanggung jawab soal pembendungan tapi juga soal penghacuran. Karena yang punya lobbyist cuma pengusaha kan? hehe.

      Seperti yang saya tulis, dalam konteks indonesi yang sudah lama autopilot, pemerintah sebenernya ga banyak berperan untuk proteksi. Jadi semuanya balik ke komunitas aja. Dalam kasus-kasus di luar jakarta—di Pulau Seram, misalnya, Ojek hadir sebagai konsekuensi logis dari adanya industri lokal dari perikanan, persawahan sampai pariwisata. Dan sistem pangkalan berjalan dengan baik di tempat penelitian saya (Seram Bagian Barat) tahun lalu.

      Anda bisa bayangkan, tempat wisata yang lumayan mahal di pinggir laut pulau seram, hanya bisa menggunakan ojek-ojek lokal. Saya wawancara pemilik cottagenya, kenapa tidak bangun jalan mobil saja.

      Dia bilang selain investasinya terlalu tinggi (karena jalurnya dari pulau ke pulau yang dihubungkan jembatan kayu), investasi infrastruktur mobil akan merusak ekosistem (karena harus reklamasi pulau) dan, ini yang penting, akan MERUSAK HUBUNGAN DENGAN WARGA SEKITAR.

      Saya punya draft papernya tapi belum saya selesaikan soal cottage di Seram ini.

  17. Bahasanya bikin saya yg cuma tamatan stm dan gak pernah keluar negeri untuk bahan perbandingan jadi minder. Saya orang yg gak suka di atur waktu, saya ingin membuat diri saya sendiri yg mengatur waktu karena saya memanajemen waktu menjadi 3 sesi.
    1. Waktu untuk mencari nafkah. Dalam sesi ini jelas saya pergunakan waktu saya untuk mencari rezeki yg halal buat keluarga.
    2. Waktu untuk beristirahat. Di sesi ini saya gunakan untuk beribadah, makan, minum, mandi, tidur dan sebagainya.
    3. Waktu untuk keluarga. Ini sesi favorit saya, keluarga saya adalah penyemangat saya menikmati masa2 menjalani kehidupan. Berbagai pekerjaan dan bisnis pernah saya coba. Endingnya saat ini membawa saya sebagai driver gojek sudah 3 bulan terakhir. Ojek pangkalan ? 13 tahun saya jadi ojek pangkalan, tidak full sebetulnya. Putus nyambung dengan kerja dan bisnis yg saya lakoni. Profesi apa pun tidak cukup bisa di ceritakan secara global dengan cara survey atau ngobrol dengan 100 orang pelaku berbeda untuk memberi gambaran standar. Apalagi menilai lewat obrolan rutin antara pelanggan dan langganan. Sesering dan sedekat apa pun tetaplah customer itu raja. Ada batas2 obrolan yg tak bisa di lewati dengan kata2 yg jujur. Merendah dan menjilat itu lumrah saat berbasa basi.

    Saya dongengkan sedikit pengalaman saya selama 13 tahun menjadi ojek pangkalan. Saya mangkal di lingkungan militer. Saat awal2 saya harus kucing2an dengan provost yg melarang mangkal. Kalo tertangkap, saya di pukul dan di suruh push up sampe lemas. Hingga akhirnya kita di koordinir masuk ke dalam penyewa lahan koperasi dengan cara membayar 60.000/bulan. Selesai kah ? Belum.

    Kadang saya berebut dan ribut dengan pangkalan lain. Kadang bersitegang dengan teman sepangkalan untuk urusan sistem di pangkalan dan penetapan tarif standar. Sering gontok2an dengan orang yg ambil sewa dari gang pangkalan kita. Menegur teman sepangkalan yg menunggak bayar ke koperasi. Menegur teman sepangkalan yg memberi nomer telp dan jemput kerumah dll. Waktu terbanyak biasa kita habiskan dengan tidur2an, main gaple, main catur, ngobrol2 dan sebagainya.

    Oh iya, di pangkalan saya tidak ada pribumi (baca betawi), semuanya pendatang. Hingga saya dengar g***k sekitar 2 tahun lalu sebelum booming dan menuai pro kontra serta memberi inspirasi untuk pemikir2 hebat untuk bahan tulisan seperti sekarang. Saya tidak lantas bergabung, dan tidak juga merasa terusik atau tersaingi. Bulan2 belakang ini, sewa dari pangkalan berkurang. Dalam sehari bisa narik 4 X aja udah bagus. Pola pikir saya bukan orang yg diam terima nasib atau uring2an cari kambing hitam dengan alasan2 yg sangat bodoh.

    Gojek, kenapa nggak saya coba, fikir saya waktu itu. Saya ajak teman sepangkalan untuk gabung. Total 4 dari 6 orang di pangkalan saya gabung. Menguntungkan? Sangat. Merugikan ojek pangkalan ? Kalo mau bicara jujur tanpa pengaruh pola pikir kolot kebanyakan ojek2 pribumi (maaf nggak bermaksud rasis, cuma realistis), tidak ada dasar yg bisa di anggap merugikan. Dan saya masih mangkal untuk menghindari kekecewaan sewa2 yg biasa naik dari pangkalan saya. Apakah sistem ini menghancur kan ojek pangkalan ? Entahlah, yg saya rasakan dan saya ketahui asal muasal konsepnya sih tidak.

    Bahkan saya menilai dari kaca mata awam saya tentang ceo gojek itu lebih ke arah sosial ketimbang bisnis. Mungkin saya sudah terdoktrin. Tapi setidaknya saya tidak anti pati dan bersikap close mind. Cuma yg saya lihat sekarang, ojek pangkalan yg masih menganut sistem barbar sedikit mati kutu dalam hal menggetok tarif. Dan sifat kolot serta barbar itu tentu saja akan mencari pembenaran untuk menolak dengan kata pamungkas “LAWAN DAN HANCURKAN”. Sistem paguyuban ojek itu mungkin cuma 25% dari seluruh ojek pangkalan yg ada di jabodetabek, itu faktanya. Saya coba mengungkap kan realita aja, karena saya hidup melewati arus dan kenyataan, bukan dengan pemikiran yg sering kali cuma jadi kata2 indah yg enak untuk di baca atau di dengar. mudah2an keberpihakan saya gak di anggap beriklan.

    1. heran saya orang pada minder sama pendidikan dan luar negeri. itu para koruptor juga pendidikannya tinggi sampe luar negeri masih bego2 aja.

      Btw, nggak apa2 pake merk gojek asal metonimi (keperluan argumen) dan relevan. Bukan copas2 dari website atau blog orang yang jelasin aturan2nya. Hahaha. (beneran lho ada yang niat banget komennya copas website. Nggak mau mikir sama sekali.

      Dan yang gitu bisa aja pendidikannya S3 dan cari gampang. Haahah

      Terimma kasih komentar yang ini mas. Bagus sekali.

      Di banyak tempat memang sudah saatnya berubah. Tapi tidak disemua tempat–justru sedikit tempat yang guyub itu harusnya tidak dikritik negatif tanpa bukti oleh kelatahan kelas menengah kita.

      Saya kutip seorang kawan:

      “Barangkali kita lupa, sebagian tukang Ojek Pangkalan adalah orang orang tua, yang bahkan ponsel saja mereka tak punya. Sebagian dari mereka bahkan terlalu gagap untuk memahami teknologi layar sentuh, yang lain masih belum tahu apa itu Go-Jek. Mereka yang tak paham dengan aplikasi Go-Jek hanya bisa marah, sesederhana, Saya nunggu lama di pangkalan, lha kok ada orang nyelonong ngambil penumpang? Mereka marah tanpa paham bahwa bukan salah si tukang Go-Jek dan bukan salah siapapun.”

      http://midjournal.com/2015/06/agar-pengendara-ojek-tidak-menjadi-sukardal

  18. Di medan belum ada gojek. Ojek juga jarang. Disini pakai becak moyor. Dan walau taksi bluebird mulai masuk (dulu ga ada) bentor msh favorit. Blm neliti sih penyebabny apa. Mungkin krn lbh simpel . tp bagaimnapun perubahan pasti ada yg dikorbankan. Bukannya utu memang hukum alam ya. Yang mengikuti selera pasar dia yg bertahn.cmiiw

    1. sekali lagi saya bilang, hati-hati sama kepercayaan darwin yang dicolong kapitalisme.

      Kapitalisme itu buatan manusia. Kita bisa ubah kalau kita nggak suka. Pasar bukanlah alam, pasar kita yang bikin juga kok.

  19. Aduh bahasanya pada intelek semua. Saya mau komen dgn bahasa saya yg bkn lulusan perguruan tinggi.

    Pertama untuk kalimat : Tawaran Gojek juga begitu menggiurkan: penghasilan tetap dan asuransi.

    Coba di cek ulang ke perusahaannya. Semoga sih anda sudah melakukan observasi mengenai itu. Slnya, setahu saya dengan bertanya ke pengemudi GoJek dan pengemudi GrabBike yg dulunya di Gojek. Di Gojek itu blm ada asuransi log.

    Kemudian, untuk penghasilan tetap. Mana ada. Gak ada angka pasti yg tetap akan mereka peroleh setiap bulannya. Wong dapet duit atau tidaknya jg kembali ke kinerja mereka, apakah mreka rajin mengambil penumpang atau tidak. Jadi tidak ada penghitungan penghasilan tetap yg mereka terima.

    Dan kenapa saya mendukung Ojek Online adalah kenyamanan dan keamanan. Satu, kita tahu siapa pengemudinya, dan terdata diperusahaan. Kalau kenapa2 lebih mudah dilacak. Misalkan terjadi kecelakaan.

    Dua, kenyamanan, helm dan masker yg sudah pasti ada. Anda tahu kn tingkat polusi di Jakarta seperti apa. Masker tidal menghilangkan resiko pencemaran polusi yg masuk ke tubuh kita saat dijalan menggunakan Ojek Online, tp setidaknya menurunkan.

    Tiga. Kepastian harga dan bukti pembayaran. Ini berguna untuk beberapa kalangan (bukti pembayaran), kepastian harga jg penting. Beberapa kali saya menawar Ojek di pangkalan dekat BNI 46, untuk menuju Rusun Petamburan yang notabene sangat dekat. Dengan Ojek Online hanya 25rb, tp Ojek pangkalan menembak harga 50rb. Siapa yg harus kita pilih ?

    Empat. Jangan jadikan memori masa kecil menghalangi kemajuan untuk masa depan. Tidak melulu sejarah Indah dapat mengukir masa depan yg Indah pula. Demi sebuah yg lebih baik, tidaklah salah dan sangat sah kita mengorbankan beberapa hal yg ada.

    Sama seperti ketika dulu becak genjot harus dituntaskan dari Jakarta. Sebuah keputusan yg kontroversi pada jamannua, karena dianggap menekan rakyat kelas bawah, dan bertindak kapitalisme, tp pada nyatanya, keputusan itu tepat. Apakah anda berpikir akan seperti apa Jakarta kalau becak genjot tetap beredar ribuan menjadi moda transportasi sampai sekarang ?

    Jadi, mari kita berpikir logis tidak hanya teringat tentang masa lalu pribadi yg indah tp tidak kepada masa depan Indah banyak orang.

    🙂

    1. Selamat! Anda adalah pengiklan gratis ke…. 10 dalam thread ini. Payung cantiknya bisa diambil di kantor gojek terdekat. :-p

      Okay saya salah soal penghasilan tetap. Saya akan edit jadi “penghasilan lebih pasti.” Terima kasih bung.

      Soal becak genjot dan penuntasan transportasi. Saya kemarin dari New York dan banyak becak genjot. 3 dolar per menit tarifnya. Saya tinggal di Washington DC, dan mereka sedang ujicoba Trem, sesuatu yang Jakarta sudah punya dari zaman kolonial. Kita ketinggalan 30 tahun soal MRT, tapi kita terus2an menggerus transportasi yang sudah ada bukannya bikin struktur yang bagus.

      Coba bung hitung2, berapa banyak transportasi yang “dituntaskan” dan apa perubahannya bagi jakarta? Lebih lancarkah lalu lintas? Lebih kaya kah orang miskin?

      Bung yang pengiklan yang baik, transportasi publik harus banyak, harus diatur. Tapi yang lebih penting buat diatur adalah logika penduduknya.

      1. Hi wonderguitar yang baik, topik dan tulisan Anda memang telah menyebutkan spesifik brand yang hangat dibicarakan tersebut. pengunjung blog dan komentator di sini rasanya juga tak memiliki tendensi beriklan. Hanya saja karena beberapa komen ditulis oleh komentator awam (saya termasuk di dalamnya) jadinya tak sengaja seperti beriklan. Harap dimaklumi. Silakan saja diedit nama brand-nya.. dimulai dari tulisan Anda. hehehe… Salam damai!

      2. Hahahahahha…. tulisan saya namanya metonymy bung. Kalo metonim yah nggak apa2.

        Tapi kalo sampe menjelaskan berulang2 bagaimana cara jadi driver gojek, atau bagaimana gojek harus menggantikan ojek, atau perspektif driver gojek, tandanya 2:

        1. promosi gojek SUKSES BERAT, hingga semua orang HAPAL
        2. sangking berhasilnya, orang lupa kalau saya nggak ngomongin driver gojek yang sudah TEREPRESENTASI dengan baik.

        Saya nggak menghapus komen yang sudah menyebutkan itu kok, tapi kalo ngulang ya ngapain juga kan?

        Begitulah kira-kira bung yang baik.

        Dan saya tidak baik lhoh. Saya orang iseng hehehehe….

  20. aku dulu jg punya ojek langganan snediri… tetangga juga… tp dia bukan anggota gojek… Baik bgt, malah kalo ditanya brp tarifnya, suka bilang, ‘terserah mba aja’… gmn ga kasian jadinya 😀

    Tapi sjk ada gojek, saya prefer gojek kalo tujuannya daerah sudirman.. kenapa, krn ojek langganan saya stnk dan simnya mati.. -__-.. baru ketahuan pas kita kena tilang di daerah blok M.

    sebisa mungkin aku ttp pake jasa ojek langganan asal daerah yg dituju ga bnyk polisi lah… cuma khusus utk ojek pangkalan yg lagaknya kyk preman, trutama di daerah segitiga emas sana, waduuh, itu bnr2 ga sudi deh make mereka.. serius aku lbh milih naik taxi drpd diperas ama ojek2 preman gitu..seenak udelnya ngasih harga..

  21. Sistem Gojek ini baru awal-awal mainnya, pantaslah menawarkan yang baik-baiknya dulu supaya bisa diserap masyarakat dengan luwes. Saya hanya khawatir mereka berkembang menjadi Uber yang bukannya ‘menyerang’ sesama saingan dagang, tetapi melindas hak-hak pekerja mereka sendiri.

    1. hi Risky.. Ada baiknya jika Anda memeriksa data terlebih dahulu..

      Apakah UBER melindas hak-hak pekerja mereka sendiri? Dalam konteks ini saya berasumsi yang dimaksud pekerja ini adalah sekumpulan driver Uber ya?

      Saya selain menggunakan ojek, seringkali pula naik taxi Bl****rd atau Ex****s dan seringkali terlibat dengan pembicaraan menarik dengan para driver ini.. Begitupun ketika ada taxi Uber di Jakarta.
      Fenomena menariknya adalah : biaya taxi saya turun nyaris 3 kali bila saya menggunakan Uber.. Jadi, misalnya 1 trip dengan jarak dan waktu tempuh yang sama saya harus merogoh kocek Rp 45.000,- dengan taksi B, maka saya hanya perlu merogoh kocek sebesar Rp. 15.500,- dengan Uber (ini jam normal dan tanpa tarif promosi) — ini contoh diambil dari kisah nyata.
      Yang menarik adalah, beberapa driver Uber ini ternyata mengungkapkan fakta yang mencengangkan.. pendapatan mereka cukup baik meski saya bayarnya nyaris 3 kali lebih murah daripada naik taxi lain..

      Pendapatan mereka bertambah dengan drastis dari sebelumnya saat mereka hanya menyewakan mobil atau hidup dari uang sewa mobil rental. (bahkan ada cukup banyak sopir Uber menyatakan bahwa seumur2 mereka jadi driver — baik rental-an, sopir pribadi, atau narik taxi — gak pernah mereka terima pendapatan sebesar pendapatan dari Uber.. Fakta ini membuat saya kepikir jadi sopir Uber aja jadinya dibanding kerja kantoran.. Anda bisa bayangkan (dan ini bisa dicek ke sopir uber yang ada) ada kalanya mereka terima pendapatan bersih lebih dari 20jt sebulan. Oh my God?! Ini ngawurrrr bener.. kok pendapatan mereka bisa lebih gede dari kaum elit kelas menengah karyawan kantoran sudirman yang berdasi itu ya? hehehe..

      So far, hak-hak nya nampaknya tak ada yang terlindas.. bila ada kekecewaan di antara driver uber, tentu tak bisa disama-ratakan.. penyebabnya pasti ada. Namun adakah data/fakta yang menyebabkan Anda berkesimpulan bahwa hak pekerja dilindas?
      Sebagai catatan saja, driver Uber itu kerja sukarela, jika mau kerja ya tinggal ON kan smartphone nya, terima uang per minggu dari Uber dengan catatan yang cukup akurat.
      Selalu ada syarat dan ketentuan jika seseorang akan join, yaitu punya badan usaha dan mobil minimal 10 buah.. dimana hak dan ketentuan diterakan dalam perjanjian *menurut investigasi saya*

      Jadi, mari menyatakan pendapat dengan fakta ya..

      Sorry panjang komentarnya..

      PS: saya bukan driver Uber ataupun punya rentalan yang didaftarkan ke uber.. Punya mobil satu biji udah dijual di tahun 2011. Sekarang kadang bawa motor sendiri (kalo gak capek), atau kadang naik ojek atau taxi kemana-mana.. kadang naik kopaja 615 Lb. Bulus – Blok M.. dan selalu sukses tidur pules di kendaraan umum tersebut 🙂

      1. Uber di USA sangat nyiksa saya, karena suka lama dan kadang2 cancel seenak jidatnya. 3 kali saya make Uber, dan 2 kali kecewa berat karena terpaksa harus pulang jalan kaki 2 jam, soalnya tengah malam dan udah nggak ada kendaraan umum di kota saya. Tapi di Jakarta kata kawan-kawan saya Uber cukup bagus. Seperti yang bung penumpang ojek yang baik bilang.

        Dan benar, bung risky harus cek data soal Uber. Kalo saya di tulisan saya itu, saya sudah cek data soal Gojek dan insyallah ga ada yang salah–cuma banyak yang saya nggak masukin aja soalnya saya nggak ngomongin driver gojek, cuma sistemnya aja. Sistemnya jelas, tinggal dideduksi secara logis.

      2. Saya merujuk ke Uber di US, dan melihat Gojek dan Uber memakai satu framework, ada porsi bagus untuk kekhawatiran saya.

        Uber disana sudah canggih; mereka memakai fitur rating. setiap pelanggan dipersilahkan untuk merating pengendaranya dari 1-5 bintang. Konsekuensinya, jika satu pengendara dapat total rating dibawah 4,7, mereka bisa langsung dipecat.

        Apakah mudah menjaga penumpang tetap bahagia dan memberikan rating 5 bintang? Jawabannya tidak, since the driver always feels like shit behind the wheel. Di tahun 2013, Uber memasang tarif $2,75/mile (tambahan 60 sen/menit dibawah 11kmph) dan driver dijatahkan 80%. Kalau kerja full time, rata-rata mereka dapat $15-$20/jam. Masih nayamul lah. Tapi kemudian saingan muncul: Lyft. Untuk menjaga kepopuleran, mereka memotong tarif hingga $1.10/mile (tambahan 21 sen/menit). Kalau biaya perbaikan, insuransi, dan biaya bahan bakar ditanggung perusahaan sih drivernya ga bakal ngomel, tapi Uber lepas tangan soal itu. Estimasi IRS , drivernya mesti ngabisin 56 sen per mil. Keuntungan mereka berapa? akhir-akhirnya minimum wage lagi dan mereka menghabiskan waktu 15-17 jam kerja untuk dapetin itu.

        Selalu ada ruang untuk komplain pada perusahaan, tapi Uber cuma bilang ‘kalau lu ga suka, ya berenti aja’. Untuk driver yang punya utang cicilan mobil, atau bahkan satu-satunya investasi hidup adalah mobilnya, mau gimana? yo wes kerja terus.

        Dari Uber nya sendiri klaim “average fare UberX di LA udah naik kok, sekitar 21,4% dari Desember 2013 lalu, dan rata-rata driver Uber sudah menerima kenaikan fares per hour jadi 28%”. Tapi tetap data tidak menunjukkan adanya driver Uber yang menerima uang lebih dengan rate yang diturunkan itu.

        Uber melabeli pekerjanya dengan istilah ‘driver-partner’, tapi pekerjanya ga merasa jadi partner sama sekali, lebih ke pekerja kasar, dieksploitasi dengan cara bait-and-switch yang klasik.

      3. mantab. Saya setuju. mungkin karena tekanan2 itulah, driver uber (palin tidak di kota saya) jadi setengah hati. Uber di US SUCKS. *pelanggan kecewa*

  22. Saya pengguna ojek, baik itu yang mangkal maupun yang tergabung dalam gojek. Pengalaman menyatakan bahwa nampaknya tidak ada yang yang ditekan2 dalam bergabung dengan paguyuban gojek ini. Jadi, komentar penulis di salah satu kolom komen “kalo diteken2 seakan2 ga ada jalan lain… kalo gojek satu2nya jalan, penjajahan sekali jadinya.” jelas tidak relevan.

    Premis anda begitu sederhana dibuat bahwa gojek ini adalah buah dari kapitaslisme dan anda menggunakan asumsi bahwa saat ini kondisinya diciptakan seakan gojek adalah SATU2nya jalan. Jelas TIDAK. Tukang ojek ataupun tukang2 lainnya (jika ada model yang sejenis) jelas boleh memilih kok. Ndak ada yang disuruh, ditekan dan diintimidasi bahwa layanan model ini adalah SATU2nya jalan.. Setahu saya, tak ada orang yang beranggapan demikian.

    Gojek dengan sistim yang baru dikenalkan memang membawa perubahan. Bang Ma’il (tukang ojek langganan saya di kawasan Cilandak, asli betawi) bergabung dan ketika ditanya dia menyatakan banyak sekali manfaat nya.. Dia jadi punya waktu dengan anaknya dibandingkan “berjaga” menanti seharian penumpang yang lewat pangkalan di perkampungan itu. Pasarnya bertambah di jam 9-16 dimana perkampungan tempatnya mencari makan ini sepi karena orang2 bekerja di daerah yang jauh. Ketika dia memutuskan menarik ojek, dia tinggal ON dan kemungkinan order bermunculan.

    Beberapa kali saya menumpang gojek, saya mengenali mereka seperti Anda mengenali Adi, Mamat dan Daus… Saya berbincang dan bahkan ada yang saya tau rumahnya karena tak jauh dari tempat saya tinggal.. Tak ada yang berubah dari struktur sosial ini. Memang, jika dilihat dalam scope perkotaan pasti saya tak akan mengenal semua tukang ojek itu kan? Sama seperti saya tak tau siapa yang kemarin saya tumpangi dari Sudirman ke cilandak dari pangkalan mereka. Yang saya tau adalah tawar menawarnya berlangsung alot dan berakhir dengan menyerah pada harga yang nyaris menyerap semua pendapatan harian saya sebagai karyawan kantoran.

    Perubahan dengan mengenalkan pada sistim yang baru tentu akan banyak pertentangannya..Bila membahas pangkalan ojek dengan lebih teliti, Anda akan menemukan bahwa pertikaian dan keseharian yang keras akan mewarnai hidup mereka. berbagai permainan mengisi waktu luang banyak sekali dilakukan (main kartu, catur, dll) yang tentunya baik2 saja, tapi seringkali berubah jadi ajang perjudian.. belum ketika malam hari pangkalan berisi anggur cap “OT” yang digunakan untuk menghangatkan badan tapi tak jarang sampai memabukkan… Saya tahu ini karena beberapa tetangga adalah pengojek. Mereka berupaya mencari makan dari luar pangkalannya. Di titik ini menurut saya konsep sistim yang dikenalkan gojek jadi sangat membantu mereka.

    Bicara tatakrama dan sopan santun, beberapa kasus pengojek konvensional di pangkalannya di daerah sudirman-kuningan nampaknya tak kenal istilah ini.. Soal harga, pengalaman saya pernah dibuka di 100 ribu dari Setiabudi Building ke Kemang dekat bangka! Gila nembaknya..!
    Yang penting ada uang sesuai dengan deal di muka dan penumpang diantar ke tujuan. Ini belum kalau di tempat tujuan ditembak lagi dengan alasan “macet banget ini bang, tambahin dong..”

    Apakah mereka mengenal satu sama lain di pangkalannya? Ya, bisa jadi.. Tapi kok banyak juga yang tidak ternyata berdasarkan pengalaman naik ojek di kawasan itu selama hampir 5 tahun belakangan ini.

    Sekali lagi, berdasarkan pembicaraan sambil numpang para gojek-ers ini, tak ada yang ditekan. Temen para gojek-ers ini masih banyak yang tak bergabung dengan gojek. Lalu apakah mereka ditekan2? Tidak! Jadi yang gak mau ya nggak apa2 kok bro..
    Kenyataan yang ada sekarang adalah keributan terjadi karena para pengojek di pangkalan yang tak bersedia bergabung dengan gojek lalu merasa gojek adalah perebut lahan ditambah anggapan bahwa gojek adalah simbolisasi korporasi dimana yang kuat mengambil jatah yang lemah.. Lho bukan di situ permasalahannya! Rejeki udah ada yang atur! kalau merasa bahwa dengan mangkal hidupnya akan baik2 saja itu sah.. tapi jangan lalu menyalahkan sistim baru sebagai perusak tatanan. Mari hiduplah berdampingan, toh mereka2 yang bergabung di gojek juga adalah pengojek2 pangkalan tadinya.. Hanya saja sekarang mereka memilih mangkal di rumah untuk bisa punya waktu luang bersama anak istrinya, lalu saatnya narik ojek mereka berkomunikasi dengan calon pelanggan dengan aplikasi yang dibuatkan oleh gojek..
    Pendapatan? Silakan tanya ke para peng-gojek itu.. rata2 naik 100% per hari atau bahkan lebih.. daripada saat mereka mangkal..

    Mari hidup berdampingan tanpa ada intimidasi. Jika Adi, Mamat, dan Daus memang percaya bahwa mangkal di pangkalan adalah pilihan terbaik mereka. Atas nama paguyuban atau apapun itu dalam konteks keilmuan antropologi penulis yang kudu dirawat dan dilestarikan.. Monggo.. Catatan saya adalah.. hidup manusia dalam sebagai makhluk pribadi dan makhluk sosial berevolusi dengan perubahan dan kondisi zaman.. Apa yang baik silakan tetap dirawat, yang perlu dikembangkan untuk terus lebih memanusiakan manusia mari dipupuk.. Silakan saja dilakoni dengan baik. Semoga berkah bagi semua.

    1. Saya setuju 100% dengan bung. Saya cuma sedikit menggelitik para kelas menengah fasis yang argumennya gojek adalah satu2nya jalan untuk para tukang ojek, bahwa tidak ada model2 lain dalam usaha transportasi lokal dan independen.

      Premis saya sederhana, tapi bukan bahwa gojek menjajah. Premis saya: “narasi tentang gojek terlalu dominan dan membunuh narasi2 lain tentang tukang ojek.”

      Bung boleh cek komentar2 orang di blog ini. Keren kan otak “kebaikan dan kepahlawanan absolut dan otoritarian mereka”?

  23. wihh ada juga penulis anti mainstream dukung ojek pangkalan. masuk akal sih, cuma kyk nya jaman terus berubah jadi ojek pangkalan lama-lama akan tergerus juga. either ojek ikutan gojek ataupun ojeknya nyari kerjaan lain selain itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.