5 Alasan Sederhana LGBT Bukan Penyakit

LGBT

Saya malas berargumen soal LGBT pada orang-orang. Pertama, karena terlalu banyak orang yang harus diargumenkan. Kedua, karena orang beragama yang berpegang buta pada keimananya akan selalu menolak sains dan argumen yang berlawanan dengan firman Tuhannya. Baik di Injil ataupun di Quran, Homoseksualitas dilarang. Itu dosa yang pasti. Tapi kita tidak bicara agama ataupun dosa di sini–itu urusan masing-masing ketika menghadap Sang Khalik. Kita bicara soal cinta dan kepedulian saja. Kita bicara soal akal sehat saja. Tapi kalau itu pun Anda sudah tidak punya, pergilah dari laman ini dan bacalah artikel lain. Saya akan menghapus setiap komentar yang isinya teror atau ajakan ribut. Ini bukan blog demokrasi salah arah Indonesia.

1. Pada awalnya, Hubungan Seks Bukan Untuk Reproduksi, tapi Untuk KENIKMATAN; Reproduksi Cuma Salah Satu Fungsinya.

Sudah banyak bukti arkeologi menunjukkan bahwa manusia mengetahui hubungan antara persenggamaan dengan kehamilan ketika mereka mulai menetap dan agraris: mereka menemukan hak milik atas tanah, perempuan dan anak sebagai alat produksi pertanian. Inilah awal ‘Banyak anak banyak rejeki.’ Sebelumnya hubungan seks adalah insting yang bisa dilampiaskan pada apa saja (bukan hanya lawan jenis). Suka masturbasi? Artinya Anda melampiaskan seks pada tangan Anda sendiri. Dan itu biasa saja. Jadi orientasi seks yang bukan heteroseksual sangat mungkin pada manusia dan BUKAN kelainan.

2. Seksualitas adalah spektrum warna-warni & Cinta adalah takdir.

Kita semua punya selera yang berbeda-beda atas siapa yang kita idealkan menjadi jodoh kita. Hari ini, selera itu semakin berwarna-warni dengan hadirnya media massa. Ada gadis yang suka pria tua, ada pria muda yang suka tante-tante, ada tante yang suka gadis muda dan ada pria muda yang suka pria muda yang lain. Kesukaan kita pada orang lain bukanlah hal yang kita atur sendiri. Cinta adalah takdir Ilahi, yang dibentuk dari keadaan tubuh kita (biologis) dan pengalaman kita. Saya menjadi straight dan menikahi perempuan, karena biologi dan pengalaman saya membuat saya straight dan suka pada tipe perempuan yang spesifik. Saya tidak bisa dipaksa menjadi Gay seperti Gay tidak bisa dipaksa menjadi straight! Seperti Efek Rumah Kaca bilang, “Jatuh Cinta Itu Biasa Saja.” Kalau cintanya ditolak, terimalah patah hati. Kalau cintanya diterima, walau bukan lawan jenis, tetap saja namanya cinta. Kalau cinta semacam itu dilarang, kita akan dapat Romeo dan Julio atau Ramona dan Juliet. Tragedi, kawan! Tragedi!

3. Homoseksualitas Tidak Membebani Masyarakat, Masyarakat Membebani Homoseksualitas.

Kalau kamu mati dan masuk neraka, di neraka kamu akan ketemu Michaelangerlo, Leonardo Da Vinci, Alan Turing (penemu komputer) dan banyak lagi orang-orang homoseks. Di akhirat, mereka sudah urusan Allah SWT. Tapi di dunia, mereka tidak membebani siapa-siapa, malah cenderung dibebani. Sekarang, jika saja Alan Turing tidak menemukan komputer pertama untuk memecahkan kode NAZI, mungkin Perang Dunia II takkan pernah berakhir dan Indonesia takkan pernah merdeka. Tapi kalian tahu apa yang Inggris lakukan pada Alan? Mereka menutup semua akses tentang penemuan Alan dan menganggap ia tidak punya peran selama bertahun-tahun sampai setelah ia mati, hanya karena ia GAY. Anda bisa lihat di negara-negara maju, kaum gay berperan besar di masyarakat sebagai pekerja, penemu, penghibur, dan banyak lagi. Itu kalau diijinkan oleh masyarakatnya. Jadi uruslah moral dan agamamu sendiri dan biarkan akhirat jadi urusan Tuhan dan individualnya semata.

4. Homoseksualitas BUKAN penyebab HIV, Masyarakat Bodoh Yang Menyebabkan HIV Menyebar. 

Di awal tahun 80-an, ketika HIV pertama kali menyebar, memang ada teori bahwa HIV disebabkan oleh homoseksualitas. Tapi hari ini, teori itu terbantahkan. HIV disebabkan oleh mutasi virus di salah satu spesies monyet di Afrika dan menyebar ke seluruh dunia melalui hubungan seks dan pertukaran cairan tubuh (transfusi darah). Ia rentan di wilayah-wilayah dimana seksualitas bersifat promiscuos (seks bebas) tanpa pengaman atau sangat dilarang sehingga harus sembunyi-sembunyi tanpa pengaman dan pendidikan reproduksi. Di Papua, HIV menyebar bukan karena orang Papua banyak yang gay, tapi karena banyak pelacur-pelacur yang diimpor dari luar Papua, dan kebiasaan promiscuos tanpa pengaman yang mereka jalankan. Homoseksualitas rentan HIV justru karena kebanyakan mereka tidak punya akses ke pendidikan reproduksi dan kontrasepsi. Ketertutupan, tekanan sosial, dan kerahasiaan membuat kaum LGBT rentan pada seks bebas tanpa pengaman dan HIV.

Data kementrian kesehatan tahun 2015 menunjukkan, bahwa kebanyakan penderita HIV adalah pasangan suami istri, dengan suami yang tidak setia (9000 penderita). Sementara kaum minoritas LGBT yang terkena HIV, masih minoritas dibanding kaum heteroseksual.

5. LGBT tidak bisa disamakan dengan HIV, alkoholik, kekerasan, narkoba atau phedofilia, dan ia tidak menular.

Ketika kita bicara soal HIV kita tidak bicara LGBT, kita bicara pertukaran cairan. Ketika kita bicara alkohol atau narkoba, kita tidak bicara LGBT, kita bicara ketergantungan zat kimia. Ketika kita bicara anak yang disodomi ketika besar akan menyodomi anak lain, kita tidak bicara LGBT, kita bicara lingkaran setan kekerasan dan trauma. Ketika kita bicara phedofilia (seperti yang Ridwan Kamil bicarakan), kita tidak bicara homoseksual. Kita bicara soal orang-orang dewasa yang tidak bertanggung jawab pada kedewasaannya.

Semoga lima alasan ini cukup sederhana untuk Anda cerna. Kalau kurang sederhana, Anda pakai empati saja lah. Apakah Anda mau diperlakukan tidak adil seperti yang sedang dialami kaum LGBT hari ini?

p1030240-1024x768
Photo: Islam & Homosexuality by Shayne Oanes
Iklan