Saya hanya akan merepost sebuah tulisan saya, yang saya temukan di blog lain dan saya tulis pada tahun 2014, ketika saya baru menjadi dosen sosiologi/antropologi dan mulai melihat akhir dari hak politik mahasiswa. Mari diskusi!
Politik menurut kamus Merriem-Webster adalah ‘aktifitas yang berhubungan dengan pemerintahan sebuah Negara atau area lain, khususnya debat atau konflik di antara individual atau kelompok-kelompok, atau mereka yang berharap mendapatkan kekuasaan.’ Dalam definisi ini, ‘area lain’ dan ‘individu’, ‘kelompok’,’yang berharap…kekuasaan’ bisa siapa saja. Ia bisa jadi seorang bocah yang minta dibelikan eskrim oleh orang tuanya, atau remaja yang ngambek dan mogok makan di rumah karena ingin iPhone 6. Atau seseorang yang mem-friendzone setiap orang yang menggebetnya.
Tapi ketika kita bicara soal “Negara”, atau bahasa kerennya “politik makro,” kita tidak bisa melebarkan definisi politik seperti itu. Untuk bisa masuk ke ranah besar itu, ada banyak syarat yang harus dipenuhi seorang individual. Syarat ini sangat bergantung pada kematangan berpikir sebuah Negara dan penghuninya. Semakin sedikit orang yang mampu berdialog dengan bahasa politik ‘kenegaraan’, atau semakin totaliternya Negara terhadap penduduknya, membuat semakin sedikit orang yang bisa terhubung dalam konteks besar itu. Dan menjadi tidak terhubung artinya menjadi tiada.
Ketiadaan bisa dilihat ketika Negara atau yang lebih tinggi dari Negara (multikorporasi, badan multinasional seperti IMF atau Bank Dunia) dengan instrumennya (legalitas, bantuan luar negeri, dan tentara) bisa dengan semena-mena mengeksploitasi alam dan isinya. Karena alam dan isinya dianggap objek yang pasif, sebuah wilayah kosong yang bisa dijamah seenaknya—toh yang menghuninya tidak dianggap ada. Contohnya bisa anda google sendiri, dari eksploitasi hutan dan tambang di Kalimantan, Sulawesi dan Papua, hingga terpinggirkannya warga kota Depok oleh Mal. Ini semua adalah hasil dari kesenjangan politik-ekonomi yang berujung pada kebisuan publik. Publik yang tak mampu bicara bahasa sang opresor, dan karenanya dianggap tidak ada.
Keberadaan Indonesia sebagai Negara diawali dengan kemampuan bicara bahasa penjajah, kemampuan membaca, menulis, dan berpikir. Indonesia diawali dengan keberadaan mahasiswa-mahasiswa yang mewakili bangsanya. Kekuatan kaum intelektual ini terus ada hingga tahun 1966, setelah itu, pemerintah militer berusaha membungkamnya dengan berbagai kebijakan dan pada akhirnya pemerintahan sipil pasca reformasilah yang ironisnya berhasil mengubah universitas-universitas menjadi pabrik tenaga kerja. Akhirnya konteks pergerakan mahasiswa dan produk-produk politiknya mandeg di kampus. Demonstrasi penuh dengan kekalahan argumen, tidak ada ide baru yang dilempar ke publik (ide seperti nasionalisme, demokrasi atau sumpah pemuda). Ini menjadi tambah menyedihkan, ketika aparatur Negara memberi dan mengambil hak politik seenak udel mereka demi mengabsahkan kekuasaan. Seperti raja-raja zaman dulu yang membuat babad atau buku sejarah yang mengklaim mereka keturunan Nabi atau hasil pilihan parlemen surgawi.
Tulisan ini bukan bermaksud memprovokasi agar mahasiswa “bergerak” atau “peduli.” Tujuan utamanya adalah untuk mengawali sebuah diskusi tentang sebuah hak politik yang hanya dimiliki orang berusia di atas 17 tahun di Indonesia: hak untuk diakui Negara sebagai manusia dewasa (dengan KTP) dan hak untuk bersuara dalam pembentukan Negara atau hak untuk taat dan tak taat terhadap produk hukum Negara—yang harus berdasarkan pada akal sehat. Karena sebagai kaum terdidik, mahasiswa dan civitas akademika punya tanggung jawab yang lebih besar daripada orang awam: kita punya akses informasi yang besar, metodologi kelilmuan dan kita punya kewajiban untuk mengabdi pada masyarakat dengan ilmu yang kita punya. Setiap pengabdian, sekecil-kecilnya, juga adalah tindakan politik, dan setiap tindakan politik dari ranah akademik semestinya bersifat manusiawi (humanistik), yaitu tindakan yang memberi kekuatan tawar pada setiap individu di Negara ini agar tidak mudah tergilas oleh tiran atau tertipu oleh orang yang lebih pintar.
Tulisan di atas menjadi sebuah Term of Reference diskusi Jumat Kelabu, di Kantin Sastra, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia, di tanggal yang sama. Berikut adalah recapnya.
DISKUSI JUM’AT KELABU
Hari jumat kemarin, tema diskusinya adalah “Hak Politik Mahasiswa.” Diskusi diadakan di kantin sastra FIB UI, di tengah makan sore mahasiswa.
Yang dibicarakan sederhana. Kita saling berbagi tentang pengalaman setiap orang dan politik. Bagaimana politik individual bisa mempengaruhi politik negara, bagaimana gerakan mahasiswa tahun 98, bagaimana gerakan mestinya dilakukan sekarang.
Kesimpulannya sederhana: semua dimulai dari hal kecil. Dari membaca dan sadar wacana politik, hingga mengkritisi melalui diskusi, suray terbuka atau pernyataan di social media.
Para alumni aktivis 98 berbagi tentang peran serta mereka yang dimulai dari kepedulian sosial melalui diskusi akademis di luar kelas, wartawan politik Tika Primandari menceritakan soal pengalamannua sebagai mahasiswa yang mampu mencari dan mengakses informasi sendiri, dan para mahasiswa bercerita tentang sistem pendidikan yang begitu ketatnya, hingga mereka tak sempat berpikir atau bergerak secara politik–demi nilai kuliah dan hidup sehari-hari.
Kesimpulan akhirnya adalah diperlukan sebuah usaha besar untuk melakukan hal-hal kecil, agar bisa ikut berpartisipasi sebagai mahasiswa dan warga negara, khususnya menghadapi pemerintahan dan parlemen yang nampaknya akan bertarung secara sengit 5 tahun ke depan. Mahasiswa sebagai orang-orang yang punya akses terhadap informasi, harus menggunakan akses itu sebaik-baiknya dan mengabdi pada masyarakat sesuai dengan porsinya sebagai civitas akademika. Dengan cara apapun, yang penting berkontribusi.
Film “The Outfit” (2023) adalah sebuah drama yang mengisahkan kehidupan Leonard Burling, seorang tukang jahit yang tinggal di Chicago pada tahun 1950-an. Film ini berfokus pada permainan kuasa antara karakter-karakter yang terlibat dalam dunia mafia. Meskipun storyline-nya cukup klise, film ini menarik perhatian berkat akting para aktor yang memukau dan dinamika antar tokoh yang kompleks, dan treatment teater yang dipakai dalam gaya sinematisnya.
The outfit 2023 bercerita tentang Leonard (Mark Rylance), seorang cutter atau tukang jahit yang bisa membuat jas untuk orang-orang kaya, yang berasal dari Inggris dan tinggal di Chicago pada tahun 1950-an ketika Chicago menjadi salah satu kota yang banyak mafianya. Storylinenya cukup klise, yang saya tidak mau cerita di sini karena kalian bisa nonton sendiri. Yang menarik dari film ini adalah para karakter atau tokoh yang dimainkan aktor-aktor yang sangat hebat dalam hal pembentukan tokoh dan dinamika antar tokohnya. Ini film drama yang hanya bersetting di satu tempat saja jadi rasanya seperti teater yang dibumbui dengan shot-shot sinematik dari pembuatan setelan jas. Saking terasanya nuansa pementasan dalam film ini, ada kritik yang mengatakan bahwa ketika ia tahu film ini tidak diangkat dari drama panggung, ia malah kecewa. Pengalaman menonton filmnya membuat kita sangat merasakan sedang menonton sebuah teater.
Cara penyampaian dialog dan aksen setiap tokoh benar-benar terasa dari era 50-an di Chicago di mana komposisi identitas penduduknya adalah keturunan dari Irlandia datang dari selatan Amerika dengan aksen Texas yang kuat dan imigran dari negara di Afrika jajahan Perancis. Apalagi naskahnya merujuk pada karya-karya sastra seperti Oscar Wilde dan sastrawan-sastrawan awal abad 20 dari Inggris. Sungguh wahana yang ditampilkan oleh naskahnya seharusnya adalah sebuah panggung bukan film.
Terlepas dari wahana yang secara subjektif saya rasa kurang tepat, permainan yang memukau dari setiap aktor memberikan sebuah gambaran tentang permainan kuasa yang terjadi antara setiap tokoh. Tokoh sentral di film ini bernama Leonard Burling, seorang tukang jahit dan pembuat setelan jas yang sejak awal film kita lihat sangat tua, lemah, tekun, dan penuh pengabdian kepada pekerjaannya sebagai tukang jahit untuk setelan jas yang dibuat dengan sangat sulit. Ia dibantu oleh seorang gadis bernama Mabel yang adalah warga lokal di daerah tempat toko itu berdiri. Mabel punya cita-cita untuk bisa ke luar negeri secara independen. Latar belakang Mabel adalah anak dari seorang mafia yang mati misterius bertahun-tahun sebelumnya. Di film ini kita melihat bahwa karakter Leonard dan Mabel adalah karakter-karakter yang tidak heroik dan menjadi korban dari sindikat mafia yang ada di Chicago saat itu.
Lalu di pihak mafia ada sebuah keluarga besar dari seorang mafia bernama Roy Boyle. Ia punya anak bernama Richie dan seorang ajudan yang sangat ia banggakan bernama Francis. Sejak awal kita melihat Richie dan Francis kita sudah merasa ada yang aneh di antara hubungan mereka bahwasanya Francis adalah seorang dari jalanan yang sangat sadis tapi bisa yang sama juga mengabdi kepada Roy yang ia anggap ayahnya sendiri dan mengangkatnya dari jalanan.
Saya tak perlu melanjutkan soal cerita ini karena sudah ketebak tapi yang penting dari film ini adalah permainan setiap aktor sebagai tokoh-tokoh itu sangat meyakinkan dan sangat padat sehingga kita pelan-pelan melihat proses perubahan setiap karakter walaupun kita tahu seperti apa endingnya nanti karena ceritanya cukup klise tadi.
Film ini hanya ada dua set. Set minor adalah di tampilan luar toko, dan set mayor yang mendominasi adalah di dalam toko yang terdiri dari tiga ruang: resepsionis/ruang tunggu, ruang pameran dan pengukuran, dan ruang workshop. Di antara dua ruang terakhir ada toilet kecil untuk cuci tangan atau buang air, yang shotnya, seingat saya hanya dari luar.
Film ini tidak memberikan hal baru tentang budaya mafia yang sudah kadung populer di dalam film-film Hollywood. Bahwasanya ada keluarga-keluarga mafia dari para imigran baik dari Italia ataupun Prancis membuat kita cukup akrab dengan tema keluarga mafia di dalam film ini. Yang menjadi pertanyaan sebenarnya kenapa tidak ada mafia Inggris di dalam film-film Hollywood Amerika. Karena tokoh utama kita dalam film The outfit adalah seorang imigran dari Inggris yang tidak terlihat seperti mafia. Apalagi di Inggris geng dan mafia merajalela sudah lebih lama daripada di Amerika Tapi tidak dalam bentuk multikultural seperti di Amerika. Di Inggris tentunya kita kenal punk mod subkultur subkultur yang menjadi semacam dunia mafia sendiri. Dan kita tahu bahwa mod adalah subkultur gangster Inggris dengan baju yang rapi. Jadi bisa disimpulkan bahwa tokoh Leonard dalam film The Outfit adalah dari subkultur mod di Inggris.
Sebagai kesimpulan saya rasa ini film yang penting untuk ditonton para aktor dan sutradara serta produser yang ingin memaksimalkan akting dan production design dalam film mereka. Di Indonesia mungkin bisa dibuat lebih murah, dengan set yang terbatas Tapi maksimal apalagi film drama di Indonesia adalah salah satu genre yang juga sangat disukai orang. Tinggal bagaimana cara mencari penulis aktor produk desain sutradara yang punya kepekaan terhadap sejarah dan pengalaman karakternya. Iya, saya tahu itu artinya semuanya. Haha.
Seperti pembuka film Vina Sebelum 7 Hari, saya akan kasih disclaimer:
Saya telah menonton film ini dan sempat masuk ke salah satu jebakan Batman yang saya tulis ini. Tapi jika pembaca yang budiman berharap saya akan memberikan spoiler film, mengklarifikasi gosip yang snowballing di twitter dan sosmed lain, atau mendapatkan sebuah kritik estetik dari film ini, pembaca sekalian membaca tulisan yang salah. Saya menolak menceritakan pengalaman menonton, karena setelah menonton film itu, saya harus maraton film-fiilm Jordan Peele dan Ari Aster, plus film-film pendek random dari Mubi, hanya untuk mengembalikan harapan bahwa masih ada masa depan untuk film berkemanusiaan di bumi ini. Tidak ada konten film yang akan dibahas di essay ini, hanya ada konteksnya.
Untuk menulis essay ini, saya bahkan harus menghubungi kritikus-kritikus hebat yang saya kenal, yang namanya baiknya tidak saya tulis di sini biar mereka tidak kena jebakan batman. Tulisan ini adalah hasil konsultasi dengan tiga orang kritikus film yang belum menonton filmnya, maka secara etis, mereka menjaga untuk tidak bicara film yang belum mereka tonton. Saya ambil tanggung jawab penuh secara pribadi dalam menulis ini. Kawan-kawan kritikus ini seperti para psikolog yang sedang mendengarkan masalah-masalah saya dan memberikan rekomendasi terapi.
Maka saya hanya akan membantu tugas filmmaker dan korporasi bioskop, untuk menambah disklaimer buat penonton yang akan jadi korban. Karena disklaimer di film cuma pembenaran filmmaker untuk bikin film, kita yang menonton tidak dipikirin kecuali beli tiketnya. Berikut adalah Vina Sebelum 7 Hari, dan 7 Jebakannya.
Jebakan 1: Film ini bukan biopik, ini horor biasa yang tidak ada trigger warning terhadap adegan sadisnya.
Buat kebanyakan orang, jebakan film horor ini seringkali dikesampingkan, karena kebanyakan penonton film horor berharap mendapatkan adrenalin kencang, jump scare, darah dan gore, serta adegan kesurupan. Tapi film ini dipromosikan sebagai horor mistikbiopik, jadi harapannya adalah adanya ruang drama di film ini. Mistik biopik ini sudah dibikin sama The Conjuring, misalnya. Tapi karena mistik adalah subjektif, nama korban bukan nama asli dan tidak melibatkan realitas sosial seperti perkosaan.
Ini jebakan yang hadir di banyak film horor Indonesia, karena filmmaker kurang peka dan inklusif, serta belum ada peraturan dan perundang-undangannya yang mengharuskan trigger warning di awal film model begini. Kalah sama bungkus rokok. Ingat, terakhir kali ada horor biopik berjudul Pembalasan G30S PKI, muncul banyak kekerasan dan intimidasi ke banyak orang tak bersalah. Padahal walau darah itu merah, Jawa bukanlah kunci dan Aidit bukanlah perokok.
Jebakan 2: Film ini dapat mengaktivasi trauma untuk penyintas Kekerasan Seksual
Film ini harusnya mengandung activation warning keras, bahwa adegan kekerasan seksual, yang jikapun dibuat dengan melibatkan intimacy coordinator (koordinator keintiman untuk menjaga syuting tetap etis), dan dilakukan dengan shot-shot “aman” yang tidak mengandung ketelanjangan, tidak menggambarkan secara langsung orang berhubungan, dengan cara cut-to-cut shot close up antara tokoh pelaku dan tokoh korban, tetap bisa mengaktivasi trauma.
Sumber: Linimassa publik.
Jebakan 3: Film ini memakai orang yang marah setelah nonton jadi iklan gratis
Jujur, setelah nonton saya sempat marah. Tapi saya tahu, marah tidak akan menyelesaikan masalah, malah filmnya akan semakin berkibar. Maka secara personal saya ungkapkan perasaan saya ke kawan-kawan dekat yang lebih objektif dan tenang. Tidak saya bawa ke publik karena selain saya terdidik secara akademis, alhamdulilah saya juga berpengalaman secara psikologis, khususnya soal sosmed. Kalau pakai I-message, teknik yang saya pelajari dari psikolog dan ditekankan kembali di film Dua Hati Biru, saya jadi bisa bilang, “Saya marah dan kesal, karena film ini tidak berpikir dari sudut pandang korban-korban kekerasan seksual dan malah mengeksploitasi korban yang sudah meninggal dari sudut pandang maskulin dan patriarkis. Saya kesal karena beberapa kawan-kawan dekat saya selamanya akan membawa trauma mereka, dan film ini memperparah kondisi itu. Maka saya dengan niat baik mau mencegah film semacam ini dibuat lagi.
Jebakan 4: Film ini bisa membuat orang yang marah tanpa nonton, jadi kehilangan akal, dan agensi iklan gratis.
Jika kamu sudah cukup umur dan dewasa, kamu harus berpikir logis sebelum mengadili sebuah produk budaya yang terbit dengan keterlibatan banyak unsur: dari PH, lembaga sensor, dan bioskop. Kalau belum menonton filmnya, baiknya kamu menggunakan data sahih yang tersilang referensi untuk menentukan kebijakan atau opinimu. Jika tidak, jangan mengadili sebuah film atau produk budaya yang kamu tidak tonton. Baiknya bicarakan hal-hal fenomena yang kamu saksikan dan terverifikasi.
Sumber: Linimassa publik
Jebakan 5: Film ini membuat orang yang nggak kritis, jadi berbahaya
Mereka yang tidak kritis adalah sasaran pertama film ini. Mereka membawa anak-anak untuk ikut nonton, atau mereka menonton untuk melihat sensasi dan berkomentar tidak senonoh soal korban, atau mereka yang melihat film ini sebagai film horor biasa dan bukan biopik (mewakili kejadian nyata), atau mereka, yang ini paling parah, yang membenarkan perkosaan dan merasa itu wajar atau bilang mau menirunya.
Sumber: linimassa publik.
Seperti banyak film horor 17+ lain, bioskop tidak pedulu dan takut dimarahi pembeli tiket. Sumber: Dokumentasi pribadi.
Jebakan 6: Film ini bisa membuat orang yang kritis jadi krisis
Film ini kebal-kritik, artinya secara estetik film ini tidak bisa dibahas karena konteksnya sudah salah dari awal. Boikot akan membuat film ini semakin laku, dan kita akan menemukan copycat-copycat di masa depan yang dapat membuat film yang modelnya sama, tanpa kena akibat apa-apa. Seperti para kepala daerah yang mulai menyusun strategi bansos pork barrel untuk kampanye, yang mereka pelajari dari Pilpres kemarin. Artinya, kita benar-benar harus konsolidasi, dan membuat penawaran rancangan kebijakan melalui diskusi-diskui publik agar film seperti ini tidak bisa dibuat lagi.
Jebakan 7: Film ini dibuat oleh ahli kontroversi dan troll kebudayaan
K.K. Dheraj adalah salah satu produser paling evil jenius di Indonesia. Dia sudah biasa dicaci maki, dikutuki, dan selalu selamat dari masalah. Dia membuat film-film dengan gimmick bintang porno seperti Terra Patrick dan Sasha Grey. Dia juga pernah memakai sembarangan Intelectual Property Rowan Atkinson untuk jadi gimmick di film Mr. Bean Kesurupan Pocong. Dan dia adalah produser yang dua kali membuat film soal Jokowi (tanpa ijin Jokowi tentunya). Dan seperti Jokowi yang berhasil memenangkan anaknya menjadi wapres dengan bermain MKMK, Bansos, dan hukum yang legal, begitulah pula K.K. Dheraj menjadi filmmaker yang mampu mengubah cancel culture menjadi iklan gratis.
Terima kasih telah membaca sampai habis. Website ini jalan dengan sumbangan, iklannya tak menghasilkan, dengan lisensi Creative Commons, Atribution, Non commercial. Kamu boleh pakai konten ini selama memberikan link sumber dan bukan untuk tujuan komersial. Kalau kamu suka dengan yang kamu baca, silahkan traktir saya kopi murah.