Ethnography, Kurasi/Kritik, Musik, Politik, Racauan

Agnezmo Takkan Seterkenal Billie Eilish Karena Kita

Saya fans Billie Eilish, dan itu tidak dimulai dari musik. Kesukaan saya pada Eilish dimulai sejak saya menonton film dokumenter “The World’s A Little Blurry,” karya sutradar R. J. Cutler, yang memaparkan proses pembuatan album dan perjalanan Billie dari panggung ke panggung, dan coming of age-nya sebagai seorang superstar. Saya pikir, kenapa anak ini bisa sekeren itu, dalam umur semuda itu punya referensi sebanyak itu, pengetahuan dan filsafat yang dalam, tapi terjebak dengan kebingungan dan masalah hormonal anak seusianya? Sebagai seorang antropolog, ini menarik perhatian saya.

Lalu saya mulai berpikir, siapa di Indonesia yang seperti itu dan bisa mewakili kebudayaan kita? Dari beberapa pilihan, saya memilih Agnezmo yang walau umurnya beda hampir 20 tahun dengan Billie, tapi melalui jalur yang sangat-sangat proper dan berat untuk mencapai ketenarannya. Proper artinya, dia membangun karir dari kecil, dan dari media kita melihat dia cukup didukung keluarga, plus image-nya terjaga dengan baik dari skandal besar. Ini menarik buat saya karena mereka berdua adalah sudah di tingkat yang tinggi sebagai icon kebudayaan Amerika Serikat dan Indonesia, dan mereka sedikit banyak bisa menjadi penanda tidak langsung, sudah sejauh mana kebudayaan kita.

Apa saja persamaan Agnezmo dan Billie Eilish?

Pertama, mereka sejak kecil dididik untuk jadi seniman. Agnes sudah jadi penyanyi dan aktris cilik dari kecil. Waktu remaja, tema pernikahan dini yang sekarang ngetrend lagi karena Dua Garis Biru dan Yuni, sudah duluan dibikin sama Agnes lewat sinetron. Agnes juga sudah berkali-kali ganti imej setiap kali ia melewati fase hidupnya. Sementara Billie Eilish, yang umurnya tentunya jauh di bawah Agnes, hidup di keluarga seniman teater yang memperbolehkannya untuk homeschooling dan belajar merancang kehidupannya sedari kecil. Tidak seperti Agnes yang media exposurenya tinggi dari kecil, Billie mulai dari komunitas dan keluarga. Komunitas ini lah yang menjadi pendengar pertama lagu-lagu yang dibuat kakaknya, Finneas, seorang songwriter/arranger jaman sekarang yang membuat semua rekamannya di rumah.

Kedua, mereka tidak punya skandal besar–besar dalam konteks ini adalah skandal perselingkuhan, video porno bocor, atau apapun itu yang mewarnai infotainment dan lambeturah dengan gibahan keterlaluan. Berarti di balik ketenaran mereka ada korporat dan struktur yang bekerja untuk menjaga image dan asupan media terhadap mereka.

Ketiga, image mereka sangat kontekstual. Agnezmo sudah mendahului Billie bertahun-tahun dan seperti banyak diva pasca MTV yang masih bertahan hingga hari ini, Agnezmo sudah berkali-kali ganti pencitraan dari penyanyi cilik, menjadi gadis remaja yang well behaved, perempuan galau anggun dengan lagu sendu, lalu diva hiphop garang dengan lagu-lagu empowerment (walau duetnya bersama Chris Brown sempet bikin was-was takut dia ditampol kayak Rihanna, tapi sepertinya Agnez lebih berotot dan tampolannya lebih serem). Anyway, dari segala standard industri internasional ke kiblat Amerika, Agnezmo is so far the best. And I don’t think that’s an opinion. Kalau kiblatnya Eropa, Anggun is still my favorite, tapi nanti itu kita simpan untuk tulisan lain. Di sisi lain, Billie baru memasuki fase ke tiganya, perempuan pirang yang elegan, setelah dia jadi anak aneh, anak aneh yang nakal, dan anak aneh yang galau. FYI, anak aneh adalah imaji semangat zaman millenial ini, postmodern banget.

Keempat, mereka nggak modal tampang dan body doang, tapi skillnya gila banget. Waktu saya dengar Billie Eilish di Spotify, saya pikir dia banyak pake vocal effect, karena ada suara serak yang kedengeran double, atau suara autotune yang saya pikir adalah kerjaan sound designer. Tapi waktu nonton dokumenternya dan lihat dia latihan di kamar nggak pake microphone, eh gila, itu bukan kerjaan komputer. Pita suaranya memang bisa menghasilkan suara-suara ajaib itu. Inilah yang kita sebut woman-machine interface ketika komputer mengajarkan manusia teknik vokal baru.

Sementara, sebagai orang yang umurnya cuma beda setahun sama Agnezmo dan tinggal di Indonesia, saya nggak perlu usaha banyak untuk lihat perbedaan vokal dan performance Agnez sejak awal karirnya. Dan perkembangan skillnya kayak belom kelihatan batasnya. Apalagi pasca exposure di US. Saya sempat kecewa dengan single-single awal US nya, apalagi di lagu-lagu yang heavy banget editingnya. Tapi makin ke sini, Agnez berhasil banget ambil kekuasaan di negeri orang dan dia semakin mateng ngatur semuanya sendiri. Muncul vokal aslinya yang damn! Beda banget sama vokal Indonesianya! Sebagai alumni Sastra Inggris, saya tahu banget bahwa bahasa Inggris punya kelebihan bunyi vowel dan konsonan yang jauh lebih beragam dari bahasa Indonesia. Ada kebebasan-kebebasan baru yang Agnes dapat dari nyanyi bahasa Inggris dengan genre yang nggak menye-menye terus untuk kuping Melayu. Topik liriknya pun bisa jauh lebih beragam karena ada banyak hal, konsep, dan ide yang tidak mungkin diterjemahkan dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia.

Dan ini membawa kita ke topik tulisan ini, sebuah fakta dimana Agnezmo nggak mungkin ngejar Billie Eilish dalam soal stardom. For starter, Agnez harus kerja ribuan kali lebih keras dan lebih lama dari Billie untuk bisa masuk ke sebuah struktur industri global. Plus, sekaya-kayanya keluarga Agnez, dan sebagus-bagusnya sekolah dia, akses pada informasi dan sistem pendidikan mumpuni agak susah di Indonesia. Buat belajar yang kreatif aja susah banget karena angkatan kami (Agnez dan saya) ada di bawah rezim yang baru reformasi dan galaunya setengah mati–well angkatan kalian juga sih tapi kami lebih parah karena perploncoan banyak banget dan mikir kritis itu dosa.

Soal fandom… well ini saya nggak mau ngomong. Karena kalau bicara soal fandom dari seorang yang sudah besar, ngomong apapun pasti salah. Tapi satu hal yang bisa saya garis bawahi soal perbedaan fandom US dan Indonesia adalah, fandom di Indonesia kurang banyak kajiannya. Fans itu hal penting dalam industri, dan ketika bicara Billie Eilish saya menemukan paper-paper keren soal hubungan fandom Billie Eilish dengan gerakan politik keanehan (Weirdization) yang menggambarkan semangat zaman seperti generasi X yang pemberontak dan membawa kita ke reformasi–fans Billie dikarakteristikan sebagai kaum dengan selera humor yang gelap dan aneh, khususnya soal politik. Atau penggemar K-Pop yang mulai membuat banyak sekali perubahan-perubahan sosial yang besar. Sementara ketika Agnezmo mulai gerakan-gerakan besar empowerment, belum ada kajian soal fanbase yang mengikuti itu dan membawa campaignnya. Agnezmo sering bicara soal mental health/kesehatan jiwa, atau kesetaraan gender. Fansnya yang sangat banyak itu mungkin juga sudah ada yang angkat bicara. Tapi mana kajiannya?

Kajian pop culture dan fandom ini penting sekali untuk membuat sebuah pop icon punya peran besar dalam perubahan peradaban kita. Dan ketika icon-nya sudah bicara, fans-nya sudah ikut, tapi kajiannya nggak ada, kita tidak bisa mereduplikasi metodologi itu ke dalam industri kita, dan hasilnya, bangsa kita nggak maju-maju. Jadi bisa jadi bukan Agnezmo yang tidak bisa mengejar Billie Eilish. Kita saja yang masih berdaya baca rendah, dan lebih sibuk ngambek-ngambek karena nggak dikasih MV baru sama idola kita, misalnya.

Semoga tulisan ini bisa memulai diskusi dan kajian-kajian penting itu. Buat menutup tulisan ini, saya kasih MV Agnezmo sama Chris Brown yang menurut saya, keren.


Website ini dibuat dengan donasi. Kalau kamu suka dengan yang kamu baca, kamu bisa traktir kopi untuk yang nulis dengan menekan tombol di bawah ini:

Filsafat, Memoir, Racauan

Kacau Racauan Ini Fade Out

Terlalu banyak kekecewaan akhir-akhir ini pada orang-orang di sekitar kita, iya kan? Seperti idealisme-idealisme yang hancur karena kemunafikan, dan kira jadi tak tahu mau percaya sama siapa lagi.

Tapi buat apa lagi sih hidup kita ini selain melakukan apa yang biasa paling bisa kita lakukan. Dan jika ada masalah-masalah yang membuat kita meluapkan emosi-emosi yang sebenarnya tidak perlu ya sudah istirahat dulu untuk berjuang lain kali. Dan jika kita sama-sama punya perang yang kita sedang hadapi, ada baiknya kita fokus berperang dulu dan tidak serta merta bertemu hanya untuk bertengkar dan mengatakan hal-hal yang tidak maksud kita katakan satu sama lain.

Tapi menakutkan juga jika momen terlewatkan begitu saja dan kita takut salah satu dari kita mati dan tidak sempat kita memadu kasih satu sama lain. Tapi siapa yang bisa menentukan itu. Tidak ada kontrol di dunia ini dan sebenernya, sebenar-benarnya, dengan seluruh buku, data, dan sains dan agama dan segala tuntunan, kita masih bergerak buta. Arah tidak menentu. Dan aku, yang sudah S2 dan punya pengalaman kerja belasan tahu n, pengalaman cinta, patah hati, ditinggal mati, malah merasa semakin hari semakin bodoh.

Apa kah yang aku ajarkan benar? Adakah gunanya? Apakah jangan-jangan aku membawa orang-orang ke jalan yang salah? Aku sangat yakin pada peta yang kupunya, tapi bisa jadi aku salah baca, atau petanya sudah ketinggalan zaman. Entahlah.

Sial, aku tidak tahu bagaimana cara mengakhiri racauan ini, karena aku masih ingin terus bicara. Aku ingin bicara tentang angin yang tak henti-hentinya berhembus kencang ketika pagi ini aku naik ke bukit untuk mencari sinyal.

Aku mau bicara tentang burung-burung yang bercuit membawa kabar buruk tentang kegagalan-kegagalan di mana-mana. Burung-burung yang bersuara serak karena terlalu sering berteriak, memberaki kepalaku dan membuang reaknya ke mataku.

Aduh, aku yang tak tahu arah ini jadi bhfa, entah kemana aku jalan tapi aku tahu ini bukit jadi aku turun saja. Dan aku terkandung lalu kepalaku terbentur baru dan aku membuka mataku di depan HP dimana aku sedang menulis racauan yang tak ada akhir di draft websiteku dan membayangkan kamu membaca ini dengan khidmat dan terhibur oleh racauan orang gila yang mulai lupa memakai tanda baca untuk menulis dan tidak ada perasaan bahwa ini tulisan akan berakhir mungkin nanti akhirnya akan seperti fade in di lagu- l a g u l a m a d a n b e r l a l u b e g i t u s a j a s e p e r t i o r a n g y a n g k e t i d u r a


Website ini jalan dengan sumbangan. Kalau kamu suka yang kamu baca, traktir penulisnya kopi di tombol bawah ini:

English, Memoir, Racauan

Welcoming Letter to an Old Friend

Hello, M,

My dear friend, my old companion. I owe you my life and my demise and it’s been months since the last time we met. I see you are so fine and healthy and it sickens me, literally.

Today, as usual, you came unannounced. But I should’ve read the signs of your coming since a few days ago, since I’ve been losing sleep, and always worry of nothing. I should’ve read the sign on the sudden storms, and the sudden outburst and sensitivity I had toward my loved ones.

How your boss? Bet she’s busy these days, preparing the upcoming old but new plague. When you are around, I sure miss her, it’s been years since she and I last fucked and yes I do miss her. The way she strangled my neck or cut my wrist, or simply having a joy ride to find her gateway home. Remember that, M, there was always the three of us fucking each other with booze or anything that can get us high and dry.

Your boss has been my best friend as old as you are. But never mind her and her busy schedule. You’re around now, and I just took another lithium so we can be best friends again in my head. Yes, in my head, please. Don’t exposed yourself like today, you almost killed an old lady with a heart attack, and you almost ruin my busines. But I accept you, old friend. Because I remember our ride, and we were happy once so all are forgiven. For today, or for the future, I accept you the way you are, my wicked, radiant, burning, friend.

One of these day, methink, you will get me to your boss. I hope the day never comes but I can’t help but feeling you had a very evil plan for my future.

Whatever. Come to think of it, I have nothing, but too much to lose. Nothing is too much. You are just too much, old friend. I hope you’ll pass by, and let me stay for a while. But if I must go, then I will gladly go.

Come on, let’s hear some more music. It’s not over yet. Keep the lights on.


This site is run by donation. If you like what you read, visit my patreon at patreon or click this button if you are an Indonesian:

Gender, Moral Bengkok, Politik, Racauan

Momentum Pelecehan Seksual dan Kooptasi Oposisi Politik: Dari Sitok sampai @_haye_

Nama pelaku pelecehan  yang disidang massa twitter hari ini, 1 Februari, adalah  Hasan Yahya A (@_haye_) 

Image

Hari ini seorang pelaku pelecehan seksual verbal di twitter dihakimi massa twitter lewat space: digadang, dimaki, dan dihina habis-habisan, setelah ia melecehkan seorang perempuan yang ikut diskusi di Space Twitter di malam sebelumnya. Diskusi yang diikuti adalah tentang ekspedisi, pembuatan film dokumenter, dan aktivisme lingkungan, diadakan oleh orang-orang yang sudah terkenal kritis terhadap rezim, para whistle-blower yang dianggap pahlawan oleh banyak orang. Si peleceh juga adalah orang yang cukup aktif membahas politik dan ia punya lebih dari 20 ribu follower sebagai veteran perang cuitan. 

Ada masa ketika perang cuitan butuh konsentrasi luar biasa, dari kecepatan jari, logika berpikir, dan ketajaman kata makian. Dan si peleceh ini nampaknya adalah Lord of War untuk kata-kata tidak senonoh. Ia tidak punya katup untuk mengendalikan libido dan khayalan joroknya di jagad maya, dan ia pikir semua orang adalah penonton film porno. Rekam jejaknya dalam merendahkan perempuan sudah panjang, tapi kali ini, di tengah kampanye pembelaan sebuah grup aktivis kritis atas misi ekspedisi mereka, si peleceh masuk dan bikin hancur imaji yang sudah rusak. 

Ada pola yang terlihat jelas dalam kasus pelecehan seksual yang melibatkan kelompok politis. Awalnya fokus ke korban, lama-kelamaan akan dibawa menjadi wacana untuk menjatuhkan wacana politik. Dalam kasus Sitok Srengenge dulu, korban cuma jadi pintu masuk untuk merangsek komunitas Salihara dan Gunawan Mohammad. Suara pembelaan dan pendampingan lama-lama hilang dalam makian dan tuduhan-tuduhan kepada komunitas/institusi yang membawahi si pelaku kekerasan seksual. 

Begitupun dalam banyak kasus-kasus lain. Hari ini, peleceh itu mungkin tak akan diadili sedemikian rupa kalau ia bukan bagian dari grup ekspedisi dan berceloteh di situ. Grup yang sejak minggu lalu ‘bacot-bacotan’ di twitter tentang betapa rendah mereka memberi value pada relawan dan betapa kaya nya salah satu dari mereka–konon si peleceh adalah salah satu board dari production house yang hari-hari ini jadi salah satu yang paling produktif dan jadi bagian proyek ekspedisi. Maka ketika kasus pelecehan di twitter ini meledak tadi pagi, makin hancur pula lah reputasi ‘circle’ proyek ekspedisi ini. Banyak korban-korban si peleceh mengambil momentum buat angkat suara, untuk mendukung korban terbaru. Dan ini menyediihkan.

Menyediihkan karena perlu momentum besar hingga pengadilan rakyat net ini bisa terjadi. Perlu proyek besar yang hendak digagalkan biar suara-suara terbungkam jadi keluar, padahal seharusnya satu kasus saja cukup untuk menghukum si peleceh ini. Salah satu keluhan paling menohok secara politik adalah dari Kalis Mardiasih, si mbak feminis muslimah muda favorit saya, yang menjabarkan betapa aktivisme perempuan selalu disuruh mengalah dan ditinggalkan, dibanding aktivisme-aktivisme lain. Hasilnya, lelaki-lelaki hipermaskulin yang tidak bisa mengendalikan congornya (dan anunya) ini membuat gagal proyek kawan-kawannya yang bisa jadi tulus. Menyedihkan sekali bahwa belum sampai kuartal pertama 2022, sebuah film peraih citra, dan sebuah rencana ekspedisi untuk menyelamatkan alam ternoda sampai bau sangit gara-gara satu orang. Dan seandainya misi gerakan perempuan tidak dikesampingkan, orang-orang ini takkan punya congor dan keberanian untuk melecehkan, korban bisa diminimalisir.

Ada orang-orang yang bilang,”Ini konspirasi untuk menggagalkan proyek kritis, ini semua permainan politik.”

Untuk orang-orang semacam ini saya mau bilang dengan tenang: taik lo.

Ini memang politis, tapi jangan mengkhayal ada sebuah kekuatan besar tak terlihat macam Pasukan Mawar atau BIN yang membuat sebuah konspirasi untuk membuat skandal dan menjatuhkan nama filmmaker/aktivis ini. Ini politis karena gerakan aktivismenya membunuh dirinya sendiri ketika dominasi laki-laki dan bahasa patriarki terus menerus digunakan sebagai narasi utama. Jadi tidak perlu rezim atau intel untuk bikin proyek aktivisme terliihat sangat MUNAFIK. Cukup dengan percaya sama teman tanpa recheck dan tanpa memiliki SOP mitigasi kalau kasus seperti ini terkuak. 

Politis di sini personal dan kolektif karena kasus pelecehan seksual sudah sebegitu mengkhawatirkannya hingga satu kasus saja jadi publik, banyak orang akan kesentil. Apalagi kalau kasus yang jadi publik itu dilakukan oleh seorang selebtwit yang mengaku intelektual dan sering bicara buku dan referensi. Maka belajar dari masa lalu, tidak ada salahnya mengambil momentum, tapi kita harus terus fokus pada tindakan pelecehan dan penanganan korban. Jangan sampai momentum yang diambil ini kembali menjadi ajang untuk, “tutup proyeknya, bubarkan PH-nya, cancel filmnya, hancurkan, bakar.” Sebuah proyek atau kantor yang menghidupi banyak orang, yang mengorbankan banyak hal untuk bisa survive dan membantu orang lain, ingin diluluh lantahkan karena ulah satu orang.

Sementara dalam kemarahan dan kekalapan itu, korban ditinggalkan di belakang. 

Jangan jahat. Jadilah manusiawi.

Tabik!

P.S.: Semoga semua institusi belajar untuk membuat SOP mitigasi ketika ada anggota mereka yang terlibat kasus seperti ini, jadi tidak menunda-nunda tindakan atau melakukan pembelaan-pembelaan tidak perlu. Konsolidasi dan cancel secepatnya orang itu sebelum jadi cancer buat orang banyak.


Website ini jalan dengan sumbangan. Kalau kamu suka apa yang kamu baca, boleh traktir penulisnya kopi dengan menekan tombol di bawah ini: