English, Filsafat, Memoir, Racauan

The Death of The Author and The Haunting

Image

Okay. I have to admit its hard to release a writing and having disconnected to it. My first experiment went well, the audience are overloading it. But, it’s like having a baby blues syndrome. That piece that used to be inside my head, suddenly brought out and judge by people with various interpretations and comments. Some are adoring and some abusing.

The most tormenting thing is that most of my writings are online. In my previous blog I disabled the comments section. I hate the fact that I can’t stop haunting my own writing. And I am afraid that one day, I’d be a very possesive father. I’d hate myself for that.

Well, I guess everything should be learned. I learned enough to read and write alone, to expose my individual works in a limited scale. It’s time to be a little bit bigger I guess.
But before that, some more procrastinating would be real nice. To write, and be a wiser ghost…

Yes, I defy you Barthes! It’s haunting time!

Prosa, Racauan

Racauan #3

Ada yang merindu. Aku rindu padamu dan mungkin engkau padaku. Malam ini akan ada keramaian dan kita jadi satu dalam kerumunan namun terpisah. Jalanan selalu macet, kita selalu terlambat.

Aih, seperti biasa. Langit yang sama kita puja-puja karena memayungi kita. Ada kemungkinan di bawah payungnya kita akan kuyup. Tahun ini berawal dari hujan yang meraung-meraung tanpa henti. Seperti bayi yang menyesal lahir tapi tak ada pilihan. Seperti kita yang bingung dan putus asa pada lalu lintas.

Jalanan selalu macet. Kita selalu terlambat.

Jadi penutup tahun juga menutup kita. Tak ada percakapan-percakapan apapun yang mau kita mulai. Karena kita sama-sama tahu percakapan bisa menyulut kita dan membakar ladang-ladang yang susah payah kita bangun. Tidak ada basa basi, tidak ada kangen-kangen apalagi maaf. Sudah terlalu banyak kata yang terbuang percuma.

Dan otak kiri sudah menang. Imajinasi sudah tidak bisa dipakai lagi tanpa perhitungan. Kegalauan adalah permainan bocah-bocah. Dan tahun ini kita terlalu muda untuk dibilang tua namun terlalu tua untuk dibilangin.

Tapi hidup takkan pernah kering. Lihat saja hujan ini yang membuat banjir di tahun baru. Selalu ada masalah-masalah yang menyibukkan kita. Hutang-hutang yang ingin kita bayar. Sekarang kita bosan, nanti kita akan senang. Lalu kita akan sedih. Sungguh pemahaman kita soal hidup hampir lengkap.

Tinggal dendam pada lalu lintas saja yang akan kita bawa mati. Sebab kalau Jakarta tidak macet, kemungkinan malam tahun baru ini kita gandengan tangan.

Ahahaha…. ya… ya… aku tahu itu khayalan.

Mana mungkin Jakarta tidak macet. Mana mungkin kita gandengan.

Semua sudah terlambat. Dan penyesalan juga tertinggal di bawah flyover: kedinginan, lapar karena dibuang orang tuanya, kau dan aku. Suatu hari penyesalan akan jadi dewasa dan membunuh kita berdua. Kita sudah siap, toh.

Menyalahkan macet di tahun baru ini.

image

Buku, Memoir

Punya Peta di Norwegian Wood

diambil dari eseinosa.tumblr.com
image

Memasuki Norwegian Wood, saya tak tersesat. Berbeda dengan karya-karya Murakami yang lain, dengan surrealisme dan ruang-ruang tak tertebak, Norwegian Wood sama sekali tak menantang. Bukan hanya karena ini karya ‘terpopuler’ dan ‘teringan’ karya Murakami, tapi juga karena untuk pertama kalinya dalam pengalaman saya membaca novel, saya seperti melihat diri saya sendiri. Begitu dekat, namun lebih dramatis. Novel ini membawa saya melihat kembali masa lalu saya sebagai mahasiswa kelas menengah yang terjebak situasi percintaan kacau balau.

Baca lebih lanjut