Alam, Cinta, Puisi

Muntah Kun!

icelandSebanyak apapun kau muntahkan
Kau akan selalu mual dan muntah
Muntahanmu takkan pernah usai
Hingga kau sumpal dengan wajah

Wajah yang berseri, wajah yang tersenyum
Wajah yang berkata semua baik-baik saja

Hingga kau sendirian dan tak ada mata
Yang mandang wajah sumpalan
Dan kembali mual dan muntah
Isi perutmu tak ada batas

Kau muntahkan cinta, rindu, dendam
Kau muntahkan rasa perih binasa
Kau muntahkan alam semesta
Kenapa tak henti kau pun tak paham

Akal tak bisa menjelaskan
Bagaimana muntah menjelma
Jadi kata, jadi gerak, jadi aksara
Dan dari muntah kau berbagi sengsara

Tidak ada nikmat yang dibawa
Sengsara kembaran samsara

Dan kau sadar, disitulah asal tiada
Pada ia yang kembali ke samsara
Dan membuatmu sengsara
Meratapi pusara
Lara
Ara
Ra
A

Kun fa ya kun!

Allah adalah segala
Ia adalah kita Ia adalah semesta
Ia kekal tak berawal dan tak berakhir
Maka semua  kekal tak berawal tak berakhir

Kun fa ya kun!

Berubah bentuk bereinkarnasi menjadi jadi
Menjadi tanah, menjadi abu, menjadi udara
Menjadi batu menjadi ilmu menjadi lembu
Menjadi ini menjadi itu menjadi hampa dan
Menjadi ada menjadi tiada menjadikan kun!

Kun fa ya kun! Terjadi!
Kun fa ya kun! Mengada!
Kun fa ya kun! Meniada!

Innalilahi wa inna ilaihi raa ji’un!
Maka terjadilah ketiadaan…

English, Filsafat, Memoir, Racauan

The Death of The Author and The Haunting

Image

Okay. I have to admit its hard to release a writing and having disconnected to it. My first experiment went well, the audience are overloading it. But, it’s like having a baby blues syndrome. That piece that used to be inside my head, suddenly brought out and judge by people with various interpretations and comments. Some are adoring and some abusing.

The most tormenting thing is that most of my writings are online. In my previous blog I disabled the comments section. I hate the fact that I can’t stop haunting my own writing. And I am afraid that one day, I’d be a very possesive father. I’d hate myself for that.

Well, I guess everything should be learned. I learned enough to read and write alone, to expose my individual works in a limited scale. It’s time to be a little bit bigger I guess.
But before that, some more procrastinating would be real nice. To write, and be a wiser ghost…

Yes, I defy you Barthes! It’s haunting time!