Filsafat, Politik, Racauan

Radikal Bahas Radikal

Dari semua agama di dunia, ada satu agama yang hari ini paling ditakuti sama banyak orang termasuk penganutnya sendiri. Ini agama parah banget parnonya, dikit-dikit harus dibela, orang radikalnya galak-galak, rumah ibadah agama lain ditutup atau dilarang-larang dibikin, simbol agama lain dirusak, gak boleh dibikin bahkan yang menyerupai di jalan, kuburan yang beda agama ga boleh disatuin sama kuburan orang seagamanya, kalo demo teriak-teriak bakar, bunuh, ekstrim banget, terus kalo milih pemimpin harus yang seagama dengan dia bodo amat sama track record atau apapun, agama itu adalah agamaaa….

Kristen di Amerika! Buddha di Myanmar! Dan di Indonesia…, Wota. Bisa sampe ga mandi dan cuci tangan setahun setelah event handshake kan ya. Itu dulu sebelom pandemi. Sekarang agak kangen gue sama Wota. Eniwei, tulisan ini mau bahas soal radikalisme agama.

Kita bahas dulu dah dua poin, pertama radikalisme, kedua agama. Radikalisme itu ga buruk atau baik. Kita butuh radikalisme dalam banyak konteks yang urgen. Soal lingkungan, atau soal gender misalnya. Dan semua yang radikal pastinya punya aktivisnya sendiri-sendiri. Radikal berarti berkoar banyak, kekeuh, keras, dan seringkali maksa. Ini paham hadir karena perasaan terpojok, urgen, kepepet, mangkanya dirasa harus dilakukan.

Tindakan-tindakannya bisa dari demo keras-keras rame-rame, sampe tindakan vandal. Kayak Greenpeace bawa lumpur dari lapindo ke kantor Bakrie terus dilempar aje ke situ. Masalah dari gerakan ini adalah, mereka seringkali, demi media massa dan berita, melakukan pertunjukkan yang merugikan orang kecil. Emang dipikir siapa yang berbenah ngepel kantor Bakrie yang dilempar lumpur? Yang jelas bukan mamang rahang itu. OB yang kena megap-megap ngepel capek. Mending kalo ditambahin lembur, boro-boro.

Feminis radikal juga ngerasa kepepet dengan urgensi kayak UU PKS misalnya. Terus ya mereka bikin kampanye-kampanye, diskusi-diskusi, konser dll. Efek buruknya sih menurut gue ya: bias kelas. Coba lo ajak pembokatlo nonton punk cewek-cewek underground, kek mereka ngerti bae. Plus suka ada masalah sama radikal yang laen, radikal agama konservatif.

Tapi kita mah nggak ya, negara kita maju. Toleran! Progresif! Nggak ada yang make-make agama buat pilpres, nggak ada. Kerjanya baik terus membangun kan, infrastruktur bagus-bagus. Jalanan tingkat-tingkat, MRT, LRT, Pak RT, bu RT, semua lengkap lah ya. Nggak ada masalah!

HAM juga beres, semua cinta polisi dan tentara. Apalagi tentaranya doyan sama buku. Eh, kalian ga tau? Tentara kita paling demen sama buku, makanya dibakar-bakar. Nggak tau kan kalian, itu abunya dibawa pulang ke rumah, dicampur air terus diminum biar apal Das Kapital, Manifesto Komunis, dan Di Bawah Lentera Merah.

Ngaku siapa di sini yang waktu ujian nasional bakar buku pelajaran terus minum abunya? Hayo! Siapa di sini yang dateng subuh-subuh ke kelas buat ujian masuk PTN terus nyebar-nyebar tanah kuburan nenek moyang? Beneran tahu itu beneran bisa bikin lo tembus masuk UI. UI men! Kampus terbaik di Indonesia, kata anak UI. Itulah sebabnya waktu gue di UI, ada mahasiswa S3 yang percaya kalo Hitler itu Muslim dan missing link evolusi karena campur tangan alien. Eh serius! True story! Lo bisa tanya ke departemen antrop UI, lulus tuh orang S3!

Keren banget sih sebenernya radikalisme agama ini. Mereka suka banget pamer Tuhan siapa yang paling kuat.

Duh… agama, dari jaman Adam paling sering bikin ribut. Lagian Qabil ada-ada aja sih, ngapain nawarin buah-buahan ke Tuhan coba, dia pikir Tuhan itu Vegan? Kayak Habil dong mengorbankan daging kambing muda. Dari kapan tahu juga Tuhan sukanya dikasih daging. Kambing kek, anak sendiri kek kayak Ibrahim. Yang penting daging. Dari Dewi Hera jaman Herkules, dewa-dewa di Inca dan Maya, sampe Yahweh nya Yahudi yah mintanya daging. Dasar vegan-vegan ini! Mosok tuhan dipaksa jadi frutarian! Gila kalian, vegan! Atheis busuk kalian!

Kaum radikal ini… haduh kaum radikal ini. Gue sih bebas-bebas aja mereka mo radikal apa, cuman gue suka heran mereka suka bawa-bawa anak kalo demo. Ga demo agama, ga demo pilpres, ga demo feminis, ada aja bocah yang ikutan gitu. Ngakunya sih mengajarkan anak tentang agama dan ideologi sejak dini, tapi gue ga nemuin tuh bedanya antara aktivis yang bawa anak demo sama aktivis anti vaksin yang ga mau vaksin anaknya. Well, mungkin bedanya ada sih, kayak aktivis anti vaksin dari awal pilih kasih. Anjingnya divaksin, anaknya kagak. Lebih sayang sama anjing dan kucingnya mereka.

Agama itu, kayak kata pepatah lama, kayak dildo. Boleh dikasih tau ke orang-orang seberapa gedenya dildo lo, seberapa perkasanya vibratornya, tapi jangan dipamerin di muka umum dan jangan dicekokin ke bocah lah! Apalagi dibikin radikal! Sekarang agama kurang kepepet apa sih? Kurang penganut? kaga. Bakal bikin kiamat karena global warming? Kaga.

Agama seinget gue ada untuk membela, bukan buat dibela. Agama dulu bela kaum tertindas, membebaskan budak, membela perempuan jadi bayi perempuan ga dikubur hidup-hidup jaman jahiliah. Sekarang agama minta dibela. Terus mereka bela lingkungan kaga, bela perempuan kaga, bela capres? HOOOOO…. CAPRES! Jadi Pilih nomor 10 ya semuanya! DILDO!

***

Maaf ya kalau ada salah kata, semoga saya tidak kamu kategorikan sebagai Penista. Kalau kamu suka dengan tulisan ini dan mau website ini tetap jalan, boleh traktir saya kopi melalui tombol di bawah ini atau scan gopay code saya. Website ini hanya jalan lewat sumbangan, dan kontenya selalu gratis, karena saya maunya inklusif. Thanks.

Filsafat, Politik, Racauan

Netizen itu Anonim! Jangan dianggep orang!

Kebanyakan kita tidak mengenal lawan debat atau diskusi di internet. Ada seorang jenius agama yang ternyata anak kecil. Ada seorang perempuan cantik yang ternyata pria buruk rupa yang iseng, dan macam-macam orang lagi. Google atau Facebook juga mulai mengembangkan AI yang bisa ngobrol. Tanpa pengetahuan tentang latar belakang lawan bicara, kita terbatas dalam membagi informasi. Belum lagi medium yang kita gunakan adalah tulisan dan seperti yang dikemukakan Plato ribuan tahun lalu, tulisan adalah medium komunikasi yang paling rawan misinterpretasi. Akhirnya kita malah bisa depresi ketika bicara dengan mereka yang anonim.

Filsuf Derrida juga sudah memperingatkan tentang dunia teks yang diluarnya tiada apapun (nothing outside the text). Ketika kita menggunakan medium tulisan, kita berkomunikasi dengan kode-kode, bahasa dan konteks tersendiri. Untuk bisa mengerti sebuah teks, kita harus punya pemahaman lengkap tentang dunia dimana teks tersebut bekerja–termasuk latar belakang penulis teks itu. Ini tentu bukan sesuatu yang bisa kita dapat dengan mudah di Internet. Kita tidak bicara dengan manusia, kita bicara dengan potongan teks yang terbatas.

Saya pernah berpendapat di lapak seorang akademisi yang saya kagumi karena ketajamannya dalam berpikir dan berdiskusi. Kematangannya dalam berdiskusi sangat terlihat ketika komentar saya dengan lugas ia tangkis karena menurutnya melenceng dari artikel yang sedang ia bahas. Dengan tegas dan agak galak, ia mengancam saya, “Jika saudara tidak bisa berargumen dengan dasar yang telah saya sajikan, saya akan menghapus komentar saudara.” Galak sekali.

Tentunya ia jadi segalak itu karena ia tidak kenal pada saya dan karena potongan teks yang saya ketik di lapak diskusinya ia baca sebagai sesuatu yang tidak nyambung dengan artikel yang ia tulis. Ia tidak salah, saya memang berusaha membawa diskusi tersebut ke ranah yang lebih luas. Tapi menyakitkan juga dianggap sebagai orang tolol yang tak mampu berdiskusi. Walau begitu saya jadi belajar banyak. Buat si pak akademisi itu saya anonim–walau saya memakai akun dan nama asli saya untuk berkomentar. Toh si bapak tak punya waktu untuk mencari tahu siapa saya dan sejauh apa kapasitas saya.

Anonimitas di sini tidak sebatas identitas palsu atau tersembunyi. Anonimitas di sini adalah sejauh apa pembacaan seorang subjek terhadap subjek lain di Internet. Jika petunjuk tentang latar belakang seorang komentator hanya komentarnya, nama dan avatarnya, maka hanya itu identitas yang bisa kita lihat. Si komentator bisa jadi siapa saja dan dalam konteks ini, bahkan stereotipe–kebiasaan untuk berasumsi pada orang lain–jadi sulit. Mungkin Avatar dan nama cukup membantu untuk mengidentifikasi. Avatar dengan filter pelangi bisa mengidentifikasi seorang pembicara sebagai pendukung LGBT, misalnya. Namun kapasitasnya sebagai pembicara juga sulit diketahui.

Kadang-kadang, nama dan titel juga bisa membantu. Seorang profesor di bidang tertentu kita harapkan punya kapasitas untuk komentar terhadap wacana yang memang bidangnya. Ketika saya diadujangkrik dengan Tompi karena tulisan saya tentang film Selesai, dr. Tompi sempat ngecek-ngecek dulu saya siapa, dan ketika dia tahu saya pengajar film, tone bicaranya jadi berubah dan diskusi bisa berjalan. Anonimitas di Internet, para netizen kebanyakan ini, sangat kontraproduktif.

Jadi kalau kamu punya lover atau hater yang anonim, anggap saja mereka bot dan bukan orang. Cuma harus hati-hati karena bisa jadi mereka adalah bagian dari skynet yang bisa mengirimkan terminator untuk kita dari masa depan.

***

Wah, kamu baca sampai habis racauan saya. Makasih ya. Kalau kamu suka dengan tulisan ini, bolehkah traktir saya kopi biar saya bisa tetep nulis dan bayar domain website ini? Karena kalau nggak ada traktiran kamu, well, saya akan susah nulis konsisten. Klik tombol di bawah ini atau bisa langsung scan QR code gopay ya. Thanks!

Scan saya
Filsafat, Memoir, Politik, Racauan

Phronemophobia Indonesia (Reprised)

Tulisan ini direupload dan direvisi sedikit dari versi tahun 2016. Saya upload ulang karena masih relevan dengan kondisi hari ini.

Trigger warning, adalah tanda bahwa sebuah teks akan memicu pikiran-pikiran yang tidak diinginkan. Ini penting untuk mencegah trauma orang kumat. Tapi ada masalah besar kalau kebanyakan hal jadi trigger untuk pusing, stress, depresi, gila, khilaf. Lihat paha cewek langsung ingin merkosa, misalnya. Lihat duit langsung ingin ditilep, dengar Komunis langsung benci, dengar vaksin langsung bilang babi. Pada lahirnya dia jadi takut berpikir lebih jauh karena takut emosi, takut tersesat, dan takut berubah. Ini kita sebut Phronemophobia.

Phronemophobia adalah ketakutan untuk berpikir. Tulisan ini akan memaparkan pengamatan saya tentang hal-hal yang seringkali takut dipikirkan orang Indonesia di sekitar saya–yaitu kaum kelas menengah kota dan para pengambil kebijakan. Saya punya hipotesa mentah (artinya butuh penelitian lebih lanjut), bahwa akar kebijakan yang stereoptipikal dan kekerasan baik verbal ataupun fisik dalam dunia sosial masyarakat Indonesia adalah karena banyak orang yang terjangkit Phronemophobia.

Penyakit ini hadir karena kombinasi dua hal yang paling krusial dalam masyarakat Indonesia: Agama dan Kapitalisme. Phobia, seperti psikosis lain, adalah penyakit, karena ia menghalangi orang untuk bekerja dan menggunakan otaknya dengan baik dalam kehidupan sehari-hari. Dan seperti banyak psikosis juga, ini sulit disembuhkan kecuali dengan kontrol dari si penyakitan itu sendiri terhadap egonya. Bisa jadi, penyakit ini ia bawa sampai mati.

Mungkin banyak yang heran, bagaimana seseorang bisa takut berpikir? Dalam kadar tertentu, setiap orang punya ketakutan untuk memikirkan sesuatu. Terlalu banyak berpikir bisa membuat kita depresi, bahkan sakit jiwa. Kita punya mekanisme pertahanan untuk memikirkan hanya hal-hal yang perlu kita pikirkan dan menolak hal-hal yang kita takut akan menyesatkan kita. Asal ketakutan berpikir ini adalah sosialisasi semenjak balita tentang apa yang boleh dan tidak boleh kita pikirkan yang membentuk logika dan sekat-sekat di dalam pikiran kita. Membuat sebuah trauma tersendiri dan membentuk rasa takut dan anti pada pengetahuan-pengetahuan baru.

Untuk menjelaskan secara sederhana kenapa orang takut berpikir, saya harus menjelaskan soal pikiran dan pemetaanya terlebih dahulu. Tapi cara termudahnya bisa saya ilustrasikan pada video berikut, soal belajar bersepeda. Jika semenjak kecil orang sudah belajar dan biasa dengan cara bersepeda dan koordinasinya, maka ketika ia diberikan sepeda yang stangnya terbalik (ke kiri adalah ke kanan dan ke kanan adalah ke kiri), orang tersebut akan kehilangan orientasi dan kehilangan kendali. Simak video berikut.

Bayangkan jika seorang yang sejak kecil dididik secara konservatif tiba-tiba harus membiasakan diri dengan setting dunia yang terbalik. Bayangkan juga bagaimana seseorang yang hidupnya biasanya hitam putih, tiba-tiba terjebak di dunia yang warna-warni. Betapa bingung dan betapa paniknya ia jadinya. Tesis saya sederhana: bahwasannya ketakutan untuk berpikir dihasilkan ketika pengetahuan yang disodorkan tidak bisa dimengerti. Saya bicara ini dalam konteks video di atas: bahwa pengetahuan tidak sama dengan pengertian. Pengetahuan cuma informasi, sedang pengertian membutuhkan proses pemikiran dan adaptasi. Seseorang yang tahu, belum tentu mengerti. Seseorang yang mengerti bukan hanya tahu, tapi juga bisa mengejawantahkan lebih jauh karena ia telah melibatkan lebih daripada otaknya–ia telah “menjadi.”

Saya akan membahas phronemophobia melalui dua hal: pertama dengan membahas topografi pikiran manusia melalui dasar-dasar teori Psikoanalis klasik. Kedua saya akan membahas bagaimana topografi ini bekerja untuk membuat sekat-sekat yang menghalangi pengetahuan untuk menjadi pengertian, melalui pemaparan kasar soal agama dan kapitalisme.

Tulisan ini adalah kulminasi pemikiran yang panjang dan muahal. Sebelum melanjutkan, kalian bisa bikin kopi dulu atau cari cemilan, dan traktir saya kopi dengan menekan tombol di bawah ini:


Topografi Pikiran

Pikiran, kata Plato, adalah hal yang paling ideal, paling sempurna. Dalam hal ini saya juga bisa bilang bahwa pikiran bisa jadi kecacatan yang paling sempurna pula. Semua mungkin di dalam alam pikiran. Dan kemungkinan-kemungkinan ini seringkali tidak logis, surreal, absurd dan kacau. Manusia diberi kemampuan untuk membuat struktur dan kategori-kategori agar tetap bisa waras. Ketika struktur dan ketegori-kategori itu sudah terbentuk, maka ada beberapa hal yang disingkirkan dan ditakutkan. Untuk memudahkan pemahaman ini kita bisa memakai topografi klasik Sigmund Freud soal pikiran, Freud membagi pikiran dalam dua topografi: vertikal dan horizontal.

Topografi Vertikal

Topografi Vertikal adalah sebuah tingkatan dari alam sadar, bawah sadar dan tak sadar. Alam sadar adalah tempat pikiran yang kita sadari ada. Ini kita pakai sehari-hari untuk bekerja dan berkomunikasi. Ketika kita melamun, lamunan kita adalah alam sadar kita.

Alam bawah sadar (subconscious/preconscious) adalah tempat memori kita dan khayalan-khayalan yang tidak kita pikirkan. Kita memakai alam bawah sadar ketika kita tidur atau bermimpi–yang bisa kita ingat (disebut mimpi manifes). Kita juga bisa mengaksesnya ketika kita ingin mengingat sesuatu. Jika kita umpamakan komputer, alam sadar adalah software yang kita gunakan untuk bekerja dan alam bawah sadar adalah harddisk tempat kita menyimpan data.

Sementara itu alam tak sadar adalah tempat hal-hal yang tidak bisa kita ingat sama sekali. Koma adalah keadaan tidak sadar. Mimpi-mimpi yang tidak bisa kita ingat (mimpi laten) adalah keadaan tidak sadar. Alam tak sadar adalah sebuah dimensi tanpa batas tempat hasrat-hasrat yang paling kita takutkan dipendam. Keberadaan alam tak sadar ini bisa dilihat ketika kita mengigau, atau dalam keadaan trans, atau ketika kita mengalami dejavu–merasa pernah ada di suatu tempat atau situasi tapi tidak jelas kenapa. Alam tak sadar menunjukkan dirinya dalam simbol-simbol di mimpi kita. Jika Anda pernah menonton film berjudul Inception, maka alam tak sadar adalah Limbo, dunia ide dan imajinasi tanpa batas, yang hanya bisa diakses dalam ketidaksadaran total, atau dengan hipnosis yang sangat kuat.

Topografi Horizontal

Jika topografi vertikal adalah ruang-ruang  di dalam pikiran, maka topografi horizontal adalah penghubung antara pikiran dengan kenyataan, yaitu bagian pengambilan keputusan. Jika vertikal adalah legislatif, maka horizontal adalah eksekutif. Freud membaginya menjadi Id, Ego dan Superego. Id adalah hawa nafsu dan hasrat yang dekat hubungannya dengan bawah sadar dan tak sadar, ego pengambil keputusan atau diri di dunia nyata, dan superego adalah aturan-aturan yang membatasi ruang gerak ego dan id untuk menuruti hasratnya. Saya beri satu contoh. Misalnya seorang anak ingin mengambil kue di meja (Id). Ada ibunya yang melarangnya, “Jangan! Itu buat tamu!” (superego). Ego si anak tidak jadi mengambil kue itu karena ibunya melarangnya.

Namun, neo-psikoanalis seperti Lacan bilang bahwa Id dan Superego adalah sebuah paradox dalam tubuh yang sama. Id dan superego sebenarnya saudara kembar, dua sisi mata uang yang sama. Superego sebagai aturan yang mengekang hawa nafsu (Id) adalah hawa nafsu dalam bentuknya yang lain (sublime). Ego si anak yang tidak jadi mengambil kue karena nurut pada ibunya adalah untuk memuaskan nafsu yang lain, nafsu yang lebih dalam daripada nafsu makan kue. Inilah nafsu yang masuk di alam tak sadar: nafsu untuk menjadi menurut demi cinta dan pengakuan eksistensi dari si Ibu.

Contoh lain dari paradoks Id-Superego adalah ketika orang sangat-sangat galak dan strict dalam menuruti superego-nya. Zizek memberi contoh pada pemetaan rumah di film Psycho arahan Alfred Hitchcock. Ada tiga lantai di rumah psikopat Norman Bates. Lantai 3 adalah kamar ibunya, lantai 2 adalah losmen yang ia sewakan dan basement adalah tempat ia menyimpan mayat busuk ibunya yang sudah lama mati. Lantai 3 adalah superego di mana kita bisa mendengar teriakan-teriakan ibu Norman yang menyuruhnya ini itu, lantai 2 adalah ego, dan lantai satu adalah id: kenyataan dan hasrat sebenarnya dari Norman untuk mendapatkan pengakuan ibunya dengan…menjadi ibunya. Keinginan “menjadi” ini akan saya bahas di kesimpulan tulisan ini. Dengan kata lain, lantai 3 (superego) dan basement (Id) adalah ruang berbeda, tapi isinya sama: si Ibu yang mendikte.

Phronemophobia

Setelah mengenal pemetaan-pemetaan pikiran yang sederhana dari Freud, mari kita bahas bagaimana cara orang takut dengan pikirannya sendiri. Kewarasan seseorang ditentukan dari kemampuannya membuat struktur dan kategori-kategori di alam sadarnya. Semakin kacau struktur dan kategori-kategorinya, semakin orang mengalami disorientasi, kebingungan, dan kegilaan. Tanpa struktur dan kategori-kategori di alam sadar, orang tidak akan mengenal apapun, termasuk dirinya sendiri. Di situ kemanusiaannya akan raib karena yang membuat manusia menjadi manusia adalah kemampuannya untuk mengidentifikasi dirinya sendiri, egonya. Ia bisa melihat ke cermin dan mengenal dirinya sendiri–tidak seperti binatang atau bayi yang melihat ke cermin dan tidak mengenali objek yang ada di cermin.

Jadi yang harus dimengerti pertama-tama adalah: kategorisasi adalah syarat kewarasan dan represi pikiran adalah sesuatu hal yang wajar. Membebaskan seluruh pikiran atau merepresi seluruh pikiran adalah hal yang tidak mungkin dilakukan–keduanya berarti kegilaan. Lalu bagaimana dengan ketakutan untuk berpikir; bagaimana dengan Phronemophobia?

Ketakutan adalah sebuah mekanisme pertahanan diri. Ia diperlukan untuk menjaga kita agar tidak mati. Tapi phobia bukanlah ketakutan biasa. Phobia adalah ketakutan yang dibesar-besarkan, exaggerated. Maka ketika kita bicara soal Phronemophobia, kita bicara tentang ketakutan akan berpikir yang dibesar-besarkan dengan imajinasi hasil pengalaman traumatis sejak kecil. Sebenarnya kesakitan apa sih yang dimungkinkan dari berpikir? Ternyata banyak, dan sifatnya bukan hanya mental tetapi fisik–ini bekerja secara resiprokatif, dari fisik ke mental-mental ke fisik.

Sebelum saya kasih contoh, saya akan kasih dulu pola yang saya temukan dari ketakutan berpikir di banyak orang Indonesia yang saya kenal. Saya menemukan bahwa semakin sedikit referensi seseorang, maka ia semakin takut untuk berpikir karena berpikir ternyata perlu bentuk. Tanpa referensi, maka bentuk itu akan sangat abstrak, membingungkan dan sulit dipahami. Referensi ini bukan cuma didapat secara akademis, tapi sesuatu yang diketahui melalui observasi-partisipasi. Seorang petani yang tidak bisa baca tulis pun, tidak akan takut berpikir ketika ia punya rasa ingin tahu dan tidak takut mencoba-coba untuk menciptakan sesuatu dari kehidupannya sehari-hari: dari sekedar ritual panen, sampai persilangan bibit unggul yang sederhana.

Ketakutan ini dimulai ketika sejak kecil seorang anak mendapatkan hukuman ketika ia berpikir. Ini bukan hanya terjadi ketika anak dilarang berpikir, tapi bisa juga terjadi di masyarakat yang ‘memaksa’ seseorang untuk berpikir. Hukuman berpikir tidak hanya bisa dilakukan masyarakat, tapi juga bisa dilakukan diri sendiri–yang kedua ini efeknya akan lebih parah. Contoh pelarangan berpikir oleh masyarakat sudah banyak, karena sampai hari ini masih banyak dilakukan di institusi pendidikan di Indonesia, yang lebih banyak mendikte daripada menyuruh berpikir sendiri dan menstimulasi otak murid.

Contoh kedua, banyak terjadi di negara Eropa, misalnya pada anak-anak Eropa yang bergabung dengan ISIS agar mereka bisa mengontrol pikirannya. Pikiran yang tak terkontrol itu rasanya seperti tenggelam dalam lautan pengetahuan yang penuh argumen. Begitu banyak kata, tapi kekosongan di jiwa tidak bisa terjelaskan. Kekosongan yang dibentuk oleh hasrat (Id) yang tidak terlampiaskan. Ergo, berpikir=kesakitan. Rasa ingin tahu=kesesatan. Di sinilah Phronemophobia merusak tidak hanya secara mental tapi secara fisik: ketika ia jadi kompas hidup sehari-hari, diimani sebagai sesuatu yang “paling” riil seperti Agama.

Agama + Kapitalisme = Phronemophobia

Jika seseorang punya alat lain untuk melampiaskan kekosongan ini: bermusik, berkesenian, menulis, beribadah (dengan ritual) maka bisa jadi ia akan stabil. Tapi kebanyakan orang lebih memilih hal paling mudah dan paling instan untuk menjaga pikiran: Agama. Yang saya maksud agama di sini bukan sekedar islam, kristen, hindu, buddha, atau agama resmi lainnya. Agama yang saya maksud juga bukan cuma sekedar ibadah ritualnya, tapi jauh lebih luas dari itu.

Agama yang saya maksud mungkin bisa diilustrasikan Geertz, “(1) sebuah sistem simbol (2) yang bekerja untuk memberikan mood dan motivasi yang kuat, mendalam dan tahan lama (3) dengan memformulasikan konsepsi tentang aturan umum keberadaan dan (4) membungkus konsepsi ini dengan aura faktual yang (5) membuat mood dan motivasi terasa nyata.”

Tapi saya menolak membahas definisi Geertz ini secara antropologis untuk menjelaskan phronemophobia. Saya hendak membawanya ke psikoanalisis. Definisi Geertz ini tidak semata-mata menjelaskan soal agama-yang-kita-tahu sebagai institusi. Lebih jauh dari itu, jika definisi ini adalah sebuah syarat agama, maka prinsip industrial kapitalistik yang membuat seseorang jadi workaholik bisa masuk. Kapitalisme (modal, uang) adalah sebuah sistem simbol yang bisa memberikan mood dan motivasi untuk hidup sehari-hari. Hidup untuk bekerja. Ada formulasi konsepsi soal keberadaan seseorang sebagai mur industri ini,  dan ada aturan umum soal keberadaan seseorang di dunia kerja.

Dalam hal ini, Marx sudah mendahului Geertz untuk membuat sebuah tesis soal Agama sebagai candu yang membuat kapitalisme tetap bekerja. Namun saya, seperti Zizek, bisa membuat kesimpulan lebih jauh lagi. Kapitalisme, seperti agama, adalah ideologi. Dan Ideologi kebanyakan tidak disadari oleh pelakunya: seperti kebanyakan orang beragama merasa agamanya paling benar, kebanyakan orang konsumeris merasa ia butuh kerja untuk mengkonsumsi lebih karena ia butuh konsumsi lebih. Agamis seperti konsumeris, tidak bisa membedakan kebutuhan dengan keinginan. Kenapa saya jadi bicara agama dan konsumen, karena, ini punchline yang Anda tunggu-tunggu:

Phronemophobia akut akan diderita oleh seseorang yang hyper-relijius sekaligus hyper-konsumeris.

Jadi religius atau konsumeris saja tidak cukup untuk punya phobia berpikir. Anda harus jadi dua-duanya. Agama bisa menyelamatkan Anda dari konsumerisme. Dengan agama, Anda bisa menahan hawa nafsu Anda. Konsumerisme, sebaliknya, bisa menyelamatkan Anda dari dogma agama, karena pada praktiknya Anda harus kerja dan punya uang untuk hidup foya-foya–tidak melulu ibadah. Tapi siapa yang bisa menyelamatkan Anda, ketika Anda menjadi seorang konsumeris yang religius. Di sini, phobia terbesar Anda adalah berpikir. Anda tidak mau sama sekali berpikir soal apapun, Anda hanya ingin didikte untuk belanja dan mengkafir-kafirkan orang lain yang mengajak Anda berpikir.

Hyper-religius sama dengan hyper-konsumeris, dalam artian apa yang ia konsumsi tidak melulu barang. Konsumeris di sini berarti lebih luas daripada belanja barang dan tidak sama dengan materialistis. Konsumerisme yang saya maksud adalah ketidakmampuan untuk membedakan kebutuhan dengan keinginan, dan bentuknya yang paling mengerikan adalah ‘merasa membutuhkan dunia ideal dengan memaksa orang lain’. Di sini yang orang konsumsi habis-habisan adalah kuasa (power) dan untuk mengonsumsi itu, ayat dan hadist akan ia gunakan sebagai justifikasi. Hyper-religius-konsumeris ini sebenarnya tidak baru-baru amat. Ia sudah ada sejak zaman Indulgensi Katolik sampai zaman ESQ Khofifah: Tuhan doyan duit dan dengan itu maka agama bisa mempertahankan kuasa dan kelas. Dan bukan hanya orang religius saja, orang liberal-agnostik-atheis pun bisa jadi hyper-religius-konsumeris kalau dia haus kuasa pada yang tak sependapat dengannya dan sudah merasa pintar (hingga tak bisa belajar lagi)–lihat saja para dosen postivis zaman orba yang masih mengajar di kampus-kampus dan ngotot pendidikan harus linear.

Argumen tidak akan mempan. Anda sudah terlanjur percaya pada dogma agama dan doktrin kapitalisme, yang sesungguhnya berlawanan, paradoksal, oximoronik! Logika sudah tidak berjalan sama sekali, karena pikiran abstrak itu, yang Anda tidak mengerti, dijalankan mentah-mentah. Di sini, sebagai combo relijius-konsumeris, sebenarnya Anda sudah menderita psikotik! Phronemophobic! Turunan dari phobia ini banyak sekali dan biasanya melibatkan kata anti: anti-semit, anti-LGBT, anti-liberal, anti-komunis dan yang terbaru Antivaksin! … lanjutkanlah sendiri semua anti yang sudah terinstitusi dalam jargon-jargon politik udik dan ormas para-militerstik itu.

Di sini kita bisa kembali ke psikoanalisis Lacan-Zizek tadi. Seandainya agama adalah superego dan konsumerisme adalah Id, maka kegilaan dimulai ketika superego dan Id bercampur di ego yang sama. Ketika agama=konsumeris. Ketakutan utama Norman Bates, tokoh psikopat di film Psycho, adalah ketika ia berpikir soal seks dengan perempuan lain. Superegonya (dalam bentuk sang Ibu), melarang itu dengan menanamkan ketakutan-ketakutan di diri Norman soal perempuan: bahwa semua perempuan itu jahat, kecuali ibunya. Norman takut berpikir soal perempuan dan seks, maka satu-satunya cara untuk bisa hidup tenang adalah membunuh si perempuan. Norman anak baik, tidak boleh membunuh, maka ibunya yang membunuh si perempuan dengan cara ‘merasuki’ Norman. Seperti mereka yang membunuh atas nama Tuhan.

Sekarang bayangkan ketika orang gila seperti Norman Bates menduduki posisi-posisi penting di masyarakat. Inilah ketakutan khas zaman ini. Ketakutan yang membuat sebuah disparitas sosial dan kesenjangan yang lebih parah dari kesenjangan kelas. Kelas sosial yang berbeda bisa memiliki ketakutan yang sama akan pikiran. Karena itu, dalam banyak wacana publik, seringkali kita temukan opini yang sangat tidak logis dan mengancam Hak Asasi orang lain, yang dikemukakan oleh orang dengan pendidikan dan kuasa tinggi. Bukan hanya di negara berkembang seperti Indonesia, tapi juga di negara maju seperti Amerika Serikat. Tonton saja debat GOP akhir-akhir ini yang anti pada Islam, imigran dan homoseksual. Anda akan paham maksud saya.

Maka saya akan menyimpulkan dengan sebuah benang merah antara topografi klasik Freud, definisi agama Geertz, kritik Kapitalisme Marx, dan Ideologi Zizek. Superego hadir sebagai mekanisme pertahanan di pikiran manusia, ia dibentuk oleh agama dan ideologi semenjak balita dalam proses sosialisasi lingkungan-masyarakat. Lingkungan masyarakat yang cacat logika, akan melahirkan segolongan mayoritas yang cacat pikiran, yaitu mayoritas yang takut pada pikirannya sendiri. Maka berpihaklah pada kebaikan untuk menyembuhkan phobia ini di diri sendiri dan di masyarakat. Apa itu yang baik?

“Jadi berani adalah baik.” Kata Nietzsche.

***

Kalau kamu berhasil membaca sampai di sini, saya ucapkan selamat! Karena kamu pembaca akut! Website ini jalan dengan donasi, karena hostingnya mahal. Jadi kalau kamu belum traktir saya kopi, mungkin ini saatnya, biar saya punya motivasi dan nggak ngerasa sendirian. Hehehe… Klik tombol di bawah ini yaa…

Politik, Racauan, Workshop

Managemen Konflik part 1: Konflik Hadir dari Cara Orang-orang menghadapi Konflik

Konflik itu tanda kehidupan. Semua orang pasti menghadapi konflik. Tapi justru, karena caranya beda-beda, maka mereka nggak ketemu pemecahanya, komunikasi jadi ancur, hubungan ancur, output… Ya pasti ancur. Jadi ketika terlibat sebuah konflik, kita harus tahu dulu bagaimana cara kita dan orang lain menghadapi konflik, terus kerjasama buat cari cara terbaik untuk mencapai tujuan bersama.

Untuk mengidentifikasi konflik, kita harus paham cara yang sering kita atau orang lain lakukan untuk menghadapi konflik, karena cara-cara inilah yang seringkali justru menghasilkan konflik besar, kalau tidak bisa diatur dengan baik dan tidak dikenali. Ada banyak cara orang menghadapi konflik. Salah duanya adalah kabur, atau mati. Tapi itu ga usah kita itung lah ya. Nggak menyelesaikan masalah. Ini aja, ada 5 cara orang yang cukup berkomitmen untuk tuk menyelesaikan projectnya (bukan masalahnya).

1. Cara kolaborasi

Orang yang menangani konflik dengan cara kolaborasi lebih mementingkan proses daripada hasil, dan cara ini hanya bisa dilakukan kalau prosesnya panjang, intens, dan banyak ngobrol. Tujuannya untuk mencapai hasil terbaik buat semua pihak. Masalah, kalau cara kolaborasi ini dipakai dalam waktu singkat dan terhadap orang-orang yang masih asing. Yang ada bukannya kolaborasi, tapi hasil yang carut marut.

2. Cara Menghindar

Ada orang yang lebih suka menghindari konflik dengan cara mengesampingkannya. Bisa aja ketika dikesampingkan, memang karena ada hal lain yang lebih krusial untuk diurus dulu. Tapi jadi buruk kalau konflik dikesampingkan karena takut untuk dihadapi, atau malas untuk dibahas, terus kamu malah diam aja. Akhirnya akan jadi menumpuk dan sistemnya collapse.

3. Cara Akomodatif

Ada yang ketika mengalami konflik, cenderung lebih mengalah dan memberikan akomodasi terhadap permintaan orang lain. Ini bisa menyelesaikan masalah, tapi bisa membuat masalah lebih besar karena nantinya si orang akomodatif ini bisa tereksploitasi. Cara ini hanya boleh dilakukan  kalau tujuannya bukan hasil, tapi memperkuat hubungan sosial.

4. Cara kompetitif

Ini biasanya dilakukan oleh orang yang berpikir hasil-hasil-hasil. Di sini dia tidak perduli akan orang lain atau grupnya, yang penting hasilnya bagus. Dia bahkan bisa mengerjakan semua sendirian, sangat tidak baik untuk dinamika grup. Konflik tidak diurus, diselesaikan  secara sepihak dengan kekuatannya sendiri. Usahakan jangan pakai cara ini, karena ini merusak hubungan antar personal. Plus, ini bisa bikin gila.

5. Cara Kompromi

Ini biasanya dilakukan oleh people pleaser, untuk memuaskan semua pihak. Biasanya cara ini kita lakukan ketika kita sudah menyerah terhadap hasilnya dan tidak ada waktu lagi. Cara ini efektif untuk bikin konflik dan project kelar. Tapi harus diingat, tidak ada satupun orang akan puas.

Kamu sendiri tipe apa? Jawab dalam hati saja.

**

Nah, kalau kita sudah paham cara-cara orang untuk menghadapi konflik, kita jadi punya mata elang dalam melihat beberapa cara orang-orang dalam menyelesaikan konflik. Sebagai manager/producer/director, kita harus sadar kita cenderung seperti apa, dan bikin jarak: lihat orang-orang di grup kita kayak gimana.

Sekarang mari masuk ke cara mengatur konflik yang mengandung orang dengan cara yang beda-beda dalam menghadapi konflik.

Meta sekali bukan? Konflikception? Hahaha..

1. Peka terhadap konflik

Biasanya kalau saya, selalu mulai dengan apakah ada perubahan-perubahan mood dalam ruang kerja. Itu bisa dilihat dari bagaimana orang-orang ngobrol, gosip-gosip terkini, atau… Bagaimana orang-orang TIDAK NGOBROL. Kalau tidak terbaca, perbanyak komunikasi dengan bertanya soal pendapat mereka soal projectnya. Bisa juga dilakukan dengan japri, biar tahu motivasi tiap orang dan cara-cara orang itu menghadapi konflik.

2. Sans sisbro, ambil jarak
Jangan tegang dulu, ambil jarak dan inget-inget orang kayak apa yang sedang konflik. Kalau kamu yang terlibat dalam konflik itu, minta tolong mediasi aja. Tapi jangan ambil dua pilihan ini: fight or flight. Jangan berantem, dan jangan kabur. Terus gimana? Bikin komunikasi yang dewasa, terstruktur dan berdebat secara bergiliran dengan saling mencatat dan mendengarkan keluhan orang. Jadilah NETRAL dan FOKUS KE FAKTANYA. Dan yang terpenting besarkan hati untuk terima fakta bahwa kamu salah.

3. Selidiki situasinya

Sebelum menghadapi konfliknya, ambil waktu buat menyelidiki dengan bertanya  pada pihak-pihak lain yang terkait. Pastikan tidak ada praduga. Bicara pada orang yang berkonflik secara terpisah dan pastikan kamu paham sudut pandang mereka. Biasanya kalau saya sih, saya tanya balik dengan pernyataan mereka untuk memastikan, “jadi lu ngerasa si anu nggak peduli sama project ini, dan banyakan lu yang kerja?”
Atau “Jadi lu ngerasa si Una susah dihubungin dan ga bilang dia butuhnya apa?”

4. Ambil keputusan cara ngehandlenya.

Coba, setelah masalah teridentifikasi, jawab pertanyaan berikut:

– Ini masalah lebay trivial, atau bisa jadi serius buat keseluruhan project? Lebay trivial tuh kayak, “gue ga suka dia banyak ketombe, geli aja.” Masalah serius kayak, “gue nggak suka dia banyak ketombe, ini kan pabrik coklat dan kerjaan dia ngaduk coklat cair. “

– Harus dibawa ke organisasi atau institusi, apa bisa ditanganin sendiri? Kalo cuma ribut antar orang yang ide kreatifnya clash, mungkin bisa dibicarakan internal. Tapi kalo pelecehan seksual, well hajar bae ke bos-bos.

– Ini masalah di dalam lingkaran kamu sendiri, atau jangan-jangan struktural dan harus dibawa ke atasan? Struktural berarti ada masalah aturan main. Coba dibicarakan apa aturan mainya bisa diubah.

– Ada hubungannya dengan legal nggak? Awas jangan sotoy, hukum harus dibicarakan sama orang hukum.

– Perlu kah diwakili oleh organisasi/serikatmu?

– Apakah kamu harus ambil keputusan prerogatif sendiri, atau harus ngumpulin orang untuk musyawarah mufakat atau voting? Semua kembali ke masalah waktu dan output projectnya.

– Apakah butuh waktu untuk emosi mereda sebelum melanjutkan project?

Jawab semua ini, lalu mulai “kerjakan” Solusi masalahnya. Ya, solusi bukan dicari, dia dikerjain satu-satu sampe beres.

5. Kasih semua orang ngomong tanpa interupsi

Kalo ada waktunya, kasih semua orang waktu buat bicara tanpa ada interupsi. Kalo bisa, ngobrol satu-satu sama semua orang yang terlibat secara privat. Pastikan data yang kamu dapat tidak tersebar atau kamu kasih tahu orang lain.

6. Setelah masalah per individual terkumpul, pertemukan semua orang.

Lihat mana yang mereka bisa katakan secara publik dan mana yang nggak. Emosi boleh ada tapi harus dikontrol. Diskusi harus kamu jalankan, tapi juga harus siap intervensi ketika diskusinya terlalu panas. Selain itu, ekplore alasan-alasan kenapa orang tidak setuju. Minta solusi dari semua orang. Ambil waktu istirahat, lalu berefleksi. Setelah itu ambil keputusan dan minta komitmen tiap orang untuk keputusan itu.

7. Pastikan konsisten dan Evaluasi

Jangan pikir masalah sudah kelar. Terus evaluasi dan peka terhadap konflik baru atau lanjutan. Konsisten pada keputusan yang sudah diambil.

8. Evaluasi diri sendiri untuk mencegah konflik mendatang

Jangan lupa buat evaluasi cara kamu dalam menangani konflik. Apa yang bisa bikin kamu lebih efektif salam menangani konflik itu? Apa saja yang harus kamu pelajari? Mungkin kamu juga perlua training dalam komunikasi, atau ethnografi untuk mengumpulkan data. Perbanyak bergaul, dan selalu belajar dari konflik.

***

Seperti biasa, Terima kasih sudah membaca sampai habis. Blog ini jalan dengan sumbangan, dan saya ingin bisa berusaha konsisten menulis. Kalau tulisan ini membantu kamu, jadilah patron saya dengan mentraktir saya kopi dengan klik di tombol di bawah ini. Thanks for reading.

Adapted from peoplehum.