Anthropology, Buku, Kurasi/Kritik, Racauan

Bayi Tidak Butuh Makan: Sebuah Catatan Baca Biologi Perilaku

Kali ini kita akan bicara tentang parenting. Saya bukan seorang bapak yang punya anak. Saya punya bapak dan punya ibu dan saya besar di sebuah keluarga yang lumayan solid secara kasih sayang, tapi cukup disfungsional secara pendidikan, sosial, dan politik. Jadi saya besar dalam sebuah lingkungan yang lumayan bercampur-campur. Dan seperti banyak orang lain, saya juga punya apa yang kita sebut trauma masa kecil, yang membuat secara psikologis dan fisik pertumbuhan saya bermasalah. Tapi saya juga tidak bisa menyalahkan orang tua saya karena kehidupan saya adalah kehidupan yang multidimensional. Pola asuh orang tua mungkin hanya berperan sekitar 30% hidup saya dan saya bersyukur pada itu saya pikir itu adalah suatu hal yang cukup ideal daripada pola orang tua yang berpengaruh sampai di angka 70 sampai 90% kehidupan. Jika orang tua sampai menguasai hidupmu sebanyak itu maka kamu tidak akan pernah dewasa.

Photo by Criativa Pix Fotografia on Pexels.com


Tulisan ini akan membahas tentang pengetahuan yang baru saya dapat ketika membaca dan menganalisa teks-teks tentang reparenting (ini artinya kita berusaha untuk menyembuhkan trauma-trauma masa kecil, dalam bentuk sebuah pribadi yang lebih dewasa dalam berkomunikasi dan berperilaku) dan buku Behave karya Robert Sapolsky. Untuk membahas ini saya harus kembali kepada banyak teori-teori dan penelitian-penelitian yang membahas tentang tumbuh kembang seorang bayi menjadi balita menjadi anak-anak menjadi remaja hingga menjadi dewasa. Karena ini adalah blog pribadi, saya tidak akan kasih citation atau sumber bukunya. Kamu bisa cari sendiri teorinya di google atau di buku profesor Sapolsky.


Ketika kita lahir hingga sekitar umur 7 sampai 12 bulan kita ada di tahap yang menurut para psychoanalis disebut pre-oedipal adalah sebuah tahap dimana kita masih merasa menyatu dengan ibu kita, dan bukan dua orang yang berbeda karena kita belum punya yang disebut ego adalah sebuah diri atau kepribadian manusia yang mana ia sudah bisa membedakan antara dirinya sendiri dengan manusia lain. Ia bahkan sudah bisa melihat ke cermin dan mengidentifikasi dirinya sendiri. Ada banyak percobaan-percobaan di awal abad 19 tentang hubungan antara bayi dengan ibunya ada dua mazhab besar yang berusaha menjelaskan ini. Yang pertama adalah mazhab psychoanalysis yang dipelopori oleh Sigmund Freud. Yang kedua adalah masak behaviourism atau masa perilaku yang dipelopori oleh beberapa psikolog lain yang saya lupa namanya. Untuk psychoanalisis, hubungan bayi dan ibunya adalah hubungan yang cukup seksual dan dikendalikan oleh libido juga kebutuhan akan makan. Kebutuhan akan makan adalah segala-galanya bagi seorang bayi yang belum bisa mencari makan sendiri.


Kedua mazhab ini hadir ketika di Eropa banyak orang tua orang tua dari kelas menengah atas yang berpendidikan yang mulai punya ibu susu yaitu orang lain yang menyusui anaknya atau pembantu di rumah para bangsawan merasa bahwa kebutuhan anak bukanlah ibunya semata Dan si ibu berhak dan bisa untuk punya kehidupan sosial setelah bayinya disusui yang terpenting bagi seorang bayi adalah nutrisi dan perawatan yang bisa dilakukan oleh orang-orang yang bukan ibunya analisis ketiadaan ibu di awal-awal perkembangan anak dianggap agak berbahaya karena ada kemungkinan anak itu melewati tahap pre-oediple tidak dengan ibunya tapi dengan pengasuhnya, Maka menurut psychoanalisis, selera dan perilaku si anak ke depan akan seperti pengasuhnya atau dia akan tertarik dengan orang-orang seperti pengasuhnya. Ini tidak salah tapi kurang tepat, karena secara saintifik semua itu adalah kontekstual atau terikat pada konteksnya.


Para ahli perilaku menggabungkan keilmuan mereka dengan para ahli biologi ketika mereka mencoba melakukan sebuah eksperimen dengan monyet. Mereka memisahkan bayi monyet dari ibunya dan menempatkan si bayi di antara dua pilihan patung monyet dewasa. Patung pertama bentuknya seperti kerangka besi dan ada dua botol susu di bagian dadanya.Diharapkan bahwa si anak monyet akan menghisap itu ketika insting laparnya aktif. Kepala bonek berbentuk kepala monyet supaya si anak bisa mengidentifikasi bahwa itu adalah ibunya. Boneka kedua tidak memiliki botol susu, tapi ia memiliki selimut dan bulu-bulu di sekitar tubuhnya. Ketika bayi monyet dilepaskan ke dalam kandang dengan dua patung induk monyet, terjadi hal yang paling mengejutkan: bahwasanya bayi monyet tidak memilih patung monyet dengan susu yang sangat ia butuhkan untuk tidur, tapi ia memilih patung monyet dengan selimut yang bisa memberikan dia kehangatan. Para ilmuwan mulai berandai-andai kenapa ini terjadi dan menunggu siapa tahu dalam beberapa jam si bayi monyet yang membutuhkan susu akan pindah ke induk dengan botol susu. Yang mengejutkan, si bayi monyet yang kehausan dan kelaparan tidak pindah dari kehangatan patung induk monyet yang berselimut, menunggu mati kelaparan dan memilih kehangatan sampai mati, daripada makan untuk hidup.

Photo by Tiago Cardoso on Pexels.com

Apa yang bisa kita pelajari dari sini adalah, bayi mamalia khususnya primata akan berpegang pada instingnya untuk menyatu dengan ibunya; bahwasanya secara insting nutrisi bukanlah sebuah kebutuhan utama. Ketika eksperimen yang sama dilakukan di zaman modern dengan scan otak, kita bisa menemukan bahwa kelenjar kortisoid yang biasanya hadir ketika mamalia lapar di bayi monyet mengecil. Jadi iya tidak memiliki keinginan untuk makan jika ibunya tidak makan. Hal yang sama juga terjadi pada manusia dan bayi manusia. Bahwa tanpa ibu atau makhluk yang menghangatkan, kebutuhan si bayi akan makanan dan bertahan hidup hilang begitu saja. Artinya untuk bisa punya keinginan bertahan atau makan, mamalia harus diarahkan oleh perawatnya. Ini membuat keruntuhan teori perilaku dan teori psikoanalisis tentang libido dan kebutuhan primer mamalia. Bahwasanya apa yang di psychoanalysis disebut sebagai kebutuhan seksual dengan mulut atau oral untuk makan, membutuhkan sebuah pengkondisian sentuhan atau kehangatan dari induk atau perawat bayi tersebut. Sementara itu para ahli perilaku juga salah dalam konteks bahwa tidak bisa meninggalkan bayi tanpa ibunya, karena yang terjadi nanti adalah: dengan hubungannya bersama orang lain yang bukan ibunya, si bayi akan mengidentifikasi ibu dengan cara yang berbeda dan ini akan sangat berpengaruh pada pertimbangan moral si anak ketiga dia bertumbuh.

***

Tulisan ini bebas AGI dan sepenuhnya hasil pemikiran saya. Terima kasih sudah membaca. Jika kamu suka yang kamu baca, silahkan share tulisan ini atau kalau ada tambahan rejeki, bisa traktir yang nulis kopi buat terus baca buku. Klik tombol di bawah ini ya.

Memoir, Racauan

My anxiety, my productivity

Straight to the point saja, bagi saya, ada tiga situasi tertentu yang memicu kecemasan. Pertama, saat saya merasa tidak produktif karena depresi, saya merasa bersalah dan malu. Masyarakat telah mengkondisikan kita untuk percaya bahwa kita harus selalu produktif, dan tekanan ini bisa jadi sangat mengganggu. Namun, penting untuk diakui bahwa produktivitas tidak selalu menjadi yang paling penting. Menjaga kesehatan mental dan kesejahteraan kita harus menjadi prioritas.

Kedua, saat saya terlalu produktif. Seperti yang diungkapkan oleh Jacques Lacan, hasrat kita tidak pernah sepenuhnya terpuaskan, dan kita selalu mencari sesuatu yang lebih. Ketika kita mencapai satu tujuan, kita langsung mengarahkan pandangan kita pada tujuan berikutnya, yang bisa mengakibatkan siklus produktivitas dan kecemasan yang tidak pernah berakhir. Sebagai penderita bipolar 1, ini tahap manic yang sering sekali saya alami dan saya kontrol denhan alarm di HP saya.

Terakhir, jika saya tidak mendapatkan tidur dan makanan yang cukup, saya bisa merasa cemas tentang segala sesuatu. Kesejahteraan fisik kita sangat erat hubungannya dengan kesehatan mental kita, dan mengabaikan salah satunya dapat berdampak negatif pada yang lain. Menjaga kebutuhan dasar kita, seperti tidur dan nutrisi, dapat membantu mengurangi perasaan kecemasan dan mempromosikan perasaan kesejahteraan.

Tekanan untuk selalu produktif dan mencapai lebih banyak lagi dapat memicu kecemasan dan stres. Penting untuk mengakui nilai istirahat dan kesenangan, dan memprioritaskan kesehatan fisik dan mental kita. Seperti yang diungkapkan oleh Slavoj Zizek, “Rumus yang sebenarnya dari ateisme bukanlah Tuhan sudah mati – bahkan dengan mengabaikannya, kita masih mendefinisikan diri kita sebagai berkaitan dengannya. Rumus ateisme adalah Tuhan adalah tidak sadar.” Sebagai ateis yang solat, saya cukup percaya hal ini. Kita harus mengakui dorongan dan hasrat yang tidak sadar yang memotivasi kita, dan berusaha mencari kesadaran itu untuk mendapatkan keseimbangan antara produktivitas dan kesenangan.

***

Tulisan ini tidak bebas AI, tapi berasal dari racauan saya. Paragaph AI di wordpress ikut membantu sebagai bagian dari eksperimen menulis saya. Tulisan ini tetap menggunakan bahan personal. Jika kamu suka yang kamu baca, yuk traktir yang nulis kopi biar saya tetap semangat nulis dan jadi diri sendiri.

MalesBelajar, Racauan

Menghadapi Rasa Bersalah

Disclaimer: Ini adalah teks yang dibuat oleh ChatGPT dari perusahaan OpenAI berdasarkan percakapan publik di grup diskusi MalesBelajar yang diinisiasi oleh MondiBlanc Film Workshop. ChatGPT digunakan sebagai asisten copywriting, untuk mencatat sejarah diskusi-diskusi penting di antara anggota komunitas MalesBelajar.

Guilt atau rasa bersalah merupakan topik yang menarik untuk dibahas. Diskusi ini dimulai oleh Nosa Normanda dari komunitas Males Belajar di MondiBlanc. Ada anggapan bahwa rasa bersalah semakin memburuk seiring bertambahnya usia seseorang. Namun, mungkin hal ini tergantung pada banyak faktor seperti jumlah pilihan hidup yang tersedia di usia yang lebih tua. Beberapa orang berpendapat bahwa otak kita menjadi kurang plastis seiring bertambahnya usia, sehingga semakin sulit untuk mengatasi perasaan bersalah.

Namun, ada pula pendapat yang berbeda. Beberapa anggota komunitas mengatakan bahwa mereka merasa lebih baik di usia yang lebih tua. Mereka berhasil mengoptimalkan potensi yang dimilikinya dan tidak lagi terjebak dalam rasa penyesalan.

Perasaan bersalah dan penyesalan memang dapat menghantui seseorang, terutama ketika mereka merasa semakin terbatas dalam mencapai tujuan hidup mereka di usia yang lebih tua. Namun, jika seseorang mampu menerima keputusan dan tindakan yang diambil di masa lalu, maka mereka dapat menghindari perasaan bersalah yang berlebihan.

Namun, terkadang hal ini lebih mudah diucapkan daripada dilakukan. Beberapa orang mungkin merasa terbebani dengan penyesalan di masa lalu dan merasa kesulitan untuk mengubahnya di masa depan. Ada juga anggota komunitas yang mengungkapkan bahwa orang tua mereka mengalami kesulitan dalam menghadapi perasaan penyesalan di masa tua mereka.

Namun, ada juga cara untuk mengatasi perasaan bersalah, yaitu dengan berpikir positif dan berfokus pada solusi di masa depan. Jika seseorang merasa terbebani dengan keputusan di masa lalu, mereka dapat mencoba memikirkan kemungkinan hasil yang berbeda jika mereka memilih jalur yang berbeda. Namun, yang terpenting adalah menerima keputusan yang telah diambil dan berfokus pada masa depan yang lebih baik.

Dalam diskusi ini, terdapat berbagai pendapat mengenai perasaan bersalah dan penyesalan di masa tua. Namun, yang terpenting adalah bagaimana seseorang dapat menghadapinya dengan positif dan berfokus pada solusi di masa depan.

***

Website ini non profit dan jalan dengan sumbangan untuk membiayai hosting dan servernya. Jika kalian suka dengan tulisan di website ini, silahkan traktir kopi buat admin/manager/kurator di website ini dengan mengklik tombol di bawah ini:

Kontributor, Moral Bengkok, Prosa

Simbok

Semua orang yang tinggal di Jalan Kaki Lima, Desa Sukasari, Kecamatan Setiabudi, memanggil penjual nasi uduk/kunung di depan pos kamling dengan sebutan ‘Simbok’. Nama panggilan tersebut telah begitu saja menjadi identitasnya sehingga semua orang tak sadar bahwa itu bukan nama aslinya. Bahkan Pak RT saja, orang yang mengurus dokumen kepindahan Simbok dua tahun lalu, lupa bahwa Simbok punya nama asli. Simbok, bagaimanapun, tak keberatan dipanggil apa pun selama kehidupannya damai sentosa.

Selain menjual nasi uduk/kuning standard berisi tempe orek, telur dadar suwir dan bihun, Simbok juga menjual lauk lain. Seperti, telur rebus dan tongkol balado, serta ayam kecap dan ayam sambal padang. Gerainya di depan pos kamling sederhana, yaitu hanya terdiri dari meja untuk menaruh wadah lauk dan kursi untuk menaruh termos nasi. Jam buka gerai dimulai dari pukul 6 lewat sedikit sampai pukul 8.30. Tapi, jika kau baru datang pada pukul 8, kau mungkin hanya bisa membeli sisa lauknya atau bahkan sudah kehabisan kalau kau sedang kurang beruntung.

Warung Simbok begitu laris. Bukan hanya karena rasanya enak, tapi harganya juga murah meriah serta porsinya besar. Sungguh surga, terutama bagi para pemuda-pemudi indekos yang banyak tinggal di daerah itu. Sekarang tahun 2017, tapi dengan harga 6 ribu rupiah kau sudah bisa menambah satu butir telur atau ikan tongkol balado ke dalam nasi udukmu. Jika kau membeli seharga 8 ribu, kau bisa menambahnya lagi dengan satu ayam, atau dua jika hanya ayam yang kau beli.

Semua orang yang baru pertama kali makan di warung Simbok terkejut mengetahui harga dan melihat betapa dermawannya porsi nasi uduk/kuning yang mereka terima. Beberapa orang khawatir kalau-kalau Simbok tak akan dapat untung. Meskipun ukuran paha dan sayap ayam Simbok terbilang kecil, penjual lain menghargai sebungkus nasi uduk berisi tempe orek/bihun/telur suwir dan telur balado mereka minimal 8 ribu. Saking terlalu murahnya, ada juga yang mempertanyakan kwalitas ayam yang Simbok gunakan. Meski begitu, investigasi lebih lanjut tak dilakukan. Pembeli yang merasa sangsi itu pernah menemukan sehelai rambut di ayam kecap Simbok. Ia simpulkan, kurangnya kebersihan adalah penyebab harganya yang murah. Dan selayaknya penghuni indekos bokek, ia tak keberatan karena toh ia bisa membuang rambut itu.

Rumah Simbok berada di Gang Hamsad I yang ada di sebrang pos kamling. Letaknya tak terlalu dalam, mungkin hanya 80 meter dari pintu gang. Karena itu, ia tak kesulitan meskipun setiap pagi bulak-balik membawa dagangannya ke depan pos kamling sendirian.

Aktivitas Simbok pada umumnya adalah pergi ke pasar pukul 19.00 dan kembali ke rumahnya pada pukul 21.30. Kemudian, ia mencuci bersih ayam, merebus telur sambil menyiapkan bumbu, setelah itu mencuci muka, berganti pakaian, dan tidur. Pukul 2.30, ia bangun dan mulai memasak. Lalu, ia pergi ke pos kamling pada pukul 5.40, memasang gerai dan menata dagangannya. Ia akan pulang ke rumahnya pukul 9.00 setelah membenahi kembali gerainya dan menyapu jalan tempatnya berjualan. Selain saat berdagang dan belanja ke pasar, Simbok selalu berada di dalam rumahnya dan hanya sesekali terlihat saat menyapu di teras.

Apa saja kegiatan Simbok di rumahnya? Biasanya, ia akan menghabiskan waktunya menonton televisi di sofa sampai ketiduran. Atau lebih tepatnya, tiduran di sofa dengan televisi menyala. Tapi, tiga bulan lalu ia mulai terobsesi dengan drama Korea setelah berkenalan dengan seorang mahasiswa yang tinggal di kosan sebrang rumahnya. Sejak saat itu, waktu bersantainya pun jadi terasa lebih hidup dan mendebarkan. Ia bahkan membeli sebuah laptop untuk mendukung hobi barunya. Mahasiswa itu yang juga membantu memilihkannya.

Drama Korea pertama Simbok adalah The Heirs, dan ia segera jatuh hati pada Lee Min-ho karenanya. Baru-baru ini, ia mengubah meja konsul di dalam kamarnya menjadi altar berisi foto-foto aktor muda tampan itu. Sudah ada lima judul drama Korea yang ia selesaikan. Minggu ini, ia sedang dalam proses menonton yang keenam, drama berjudul Goblin.

Drama Korea jelas berpengaruh pada kesejahterasaan batinnya. Khususnya hari ini, mood Simbok yang baik membuat ia memberi ekstra ayam pada setiap orang yang belanja sebanyak sepuluh ribu. Mereka mungkin bisa menyisihkan sebagian lauknya untuk makan siang. Jualannya pun habis sebelum pukul 8.30. Tapi, saat Simbok sedang berbenah, seorang perempuan paro baya datang. Seketika mata mereka bertemu, Simbok membeku dan di wajahnya muncul kengerian.


Tatapan perempuan paro baya itu kejam, dan caciannya untuk Simbok seperti udara dingin yang menusuk. Simbok masih hanya diam seperti orang yang nyawanya menghilang, tapi keributan yang perempuan paro baya itu buat menarik perhatian orang-orang di sekitar. Tak butuh waktu lama hingga orang-orang mulai berkumpul untuk menonton mereka.


Ada yang berusaha menghentikan perempuan tak dikenal itu, tak tega melihat Simbok yang tubuhnya seperti tiba-tiba menyusut menyedihkan. Tapi, pada akhirnya mereka tak bisa berbuat apa-apa.


“Kalian harus tahu dari siapa kalian membeli sarapan kalian! Dia pembunuh! Dia membunuh anak dan suaminya sendiri!”


Pengumuman mengejutkan itu mengubah suasana menjadi canggung. Keheningan mencekam pun perlahan menelusup. Kini semua mata tertuju pada Simbok. Ada yang menatapnya takut dan curiga, tapi ada juga yang hanya ingin tahu. Mungkin tak ingin cepat-cepat menghakimi.


Simbok masih bungkam, tapi matanya yang beberapa detik lalu tanpa kehidupan tiba-tiba berkilat ngeri, diikuti dengan sebuah senyum aneh yang muncul di wajahnya. Pemandangan yang membuat bulu kuduk berdiri dan membawa keresahan di hati.

“Kau pikir kau bisa hidup damai dan memulai kembali? Apa yang membuatmu berpikir kau pantas?”
Suara tajam perempuan itu yang akhirnya memecah keheningan. Ia tampaknya belum puas meluapkan perasaannya dan tak menunjukan tanda-tanda akan segera berhenti. Tapi, seseorang yang bukan penduduk setempat menyelinap di antara kerumunan dan menariknya pergi. Tentu saja perempuan itu berontak. Sekuat tenaga ia mencoba melepaskan diri sambil tak henti-hentinya meneriaki lelaki yang menyeretnya.

Sepuluh menit kemudian, dua orang asing itu pergi, meninggalkan warga dengan mulut ternganga. Sementara itu, Simbok mulai kembali pada pekerjaannya yang tertunda. Tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya, serta tak sekalipun ia membalas tatapan ingin tahu orang-orang. Ia bersikap seolah tak ada yang terjadi. Tapi, keesokan harinya Simbok tak muncul untuk berjualan. Pun di hari berikutnya dan berikutnya.
Di belakang Simbok, tak hanya keributan tempo hari yang jadi topik pembicaraan, tapi rumor mengenai dirinya yang ternyata mantan narapidana pun mulai menyebar seperti wabah.

Rupanya, bertahun-tahun lalu ia sungguh membunuh dua anaknya yang masih balita. Simbok tak membunuh suaminya seperti yang dikatakan perempuan itu, tapi suaminya mati bunuh diri.
Simbok membayar kejahatannya di dalam penjara dalam waktu lama. Lima tahun lalu, ia akhirnya bebas. Meski begitu, dendam masa lalu tak mau melepas ia begitu saja. Perempuan yang tempo hari datang adalah adik suaminya, orang yang tak akan pernah memaafkannya.


Menurut desas-desus, Simbok kehilangan akal setelah mengetahui suaminya selingkuh. Ia lantas membunuh anak-anaknya untuk menghukum suaminya. Ia sudah mencoba bunuh diri untuk menyusul anak-anaknya, tapi gagal. Gosip lain mengatakan, Simbok bergabung dengan sebuah sekte sesat yang memuja setan, dan ia memberikan anak-anaknya sebagai persembahan. Gosip lainnya, kehidupan sebagai ibu rumah tangga yang mendorong Simbok pada kegilaan. Apa pun alasannya, membunuh anak sendiri tetap keji.
Simbok bukannya tak mengetahui itu. Hanya saja, keseruan drama Korea yang dua bulan belakangan menghiburnya membuat ia lupa akan siapa dirinya.

Tapi, di dalam kegelapan kamarnya yang sudah beberapa hari ini tak ia tinggalkan, ia kembali ingat. Apa yang dulu terjadi bermain di dalam kepalanya seperti film yang pemeran utamanya adalah dirinya.
Sambil menonton dirinya sendiri, Simbok menatap wajah Lee Min-ho di altar, yang ketampanannya telah menghipnotis dan menjadikannya tak tahu malu. Simbok pun bangkit dan berjalan mendekati altar. Setelah tersenyum pada Lee Min-ho, ia membuka lemari pakaian dan mengambil sebuah kain. Ia lantas menarik kursi, mengikat salah satu ujung kain pada pipa gantung bekas menghubungkan kipas angin ke plafon, lalu mengikatkan ujung lainnya sehingga membentuk celah yang cukup untuk kepalanya masuk.

Ia berpikir, apa yang selanjutnya mesti ia lakukan? Mungkin sudah saatnya ia pindah tempat tinggal lagi sebagaimana yang biasa ia lakukan setiap kali ia ditemukan oleh mantan adik iparnya. Tapi, orang sepertinya memang tak pantas memulai kehidupan baru. Kalau begitu, daripada susah payah melarikan diri, bukankah lebih baik sekalian saja ia pergi meninggalkan dunia?

Dari sudut matanya, Simbok bisa melihat senyum Lee Min-ho yang memesona. Dengan senyum di wajah, ia pun menendang kursi tempatnya berpijak.


Sakit yang tak tertahankan membuat tangan Simbok susah payah mencari pegangan untuk hidup. Sudah jadi insting manusia untuk menyelamatkan diri saat berhadapan dengan kematian sekalipun itu adalah pilihannya sendiri. Tapi, ia sudah kepalang menyebrangi jembatan maut. Ia tak bisa kembali.

Tok. Tok. Tok.

“Mbok?”
Di tengah pergulatannya dengan maut, tiba-tiba Simbok mendengar pintu rumahnya diketuk. Ia masih dapat mengenali suara yang memanggilnya itu. Itu milik mahasiswa yang mengenalkannya drama Korea. Mungkin ia datang untuk memberikan drama baru.

Tok. Tok.

“Simbok? Mbok ada di dalam?”

Simbok mulai merasa seolah ia sedang melayang, dan suara di depan rumahnya terdengar makin jauh. Saat Simbok merasa tubuhnya makin ringan dan yakin ia sudah sampai pada kematian, tiba-tiba ia terlempar ke lantai.

BUK!

Kain yang menggantungnya terlepas dari pipa, mengalirkan udara ke dalam dadanya yang beberapa detik lalu hampir meledak.

Sesaat setelah Simbok jatuh, pintu digedor.

Duk. Duk. Duk.
“Mbok? Simbok?!”
Duk. Duk. Duk.
“Mbok baik-baik saja?! Mbok!”

Simbok yang terkulai di lantai dengan nafas tersengal dan batuk di sela-selanya, terlalu lemah untuk dapat menjawab.
Air mengalir dari sudut matanya dan perasaan malu menyeruak di dalam hatinya. Diam-diam ia bersyukur telah gagal mati.

***

Terima kasih sudah membaca sampai habis. Website ini jalan dengan sumbangan. Jika kamu suka yang kamu baca dan ingin mendukung penulisnya atau website ini silahkan di share. Jika kamu ingin membantu patungan bayar domain dan server website ini, silahkan klik tombol traktir kopi di bawah ini.