Cinta, Eksistensialisme, Kontributor, Puisi

Lara

Dia cantik, mempesona dan gemerlap
Dia bahagia, memikat dan memukau
Dia hebat, bersinar dan candu
Jalan buntu menghalangi, menghujam, dan mematung
Lara tak dapat ditolak, namun tidak untuk diundang
Tersenyum tak menampak
Tertawa tak melepas
Hanya sebuah karya Tuhan yang mendamba embun
Lalu bagaimana lara membunuhnya?
Biarlah ia mati, dan kan ku hidupkan lagi dia yang lalu

ISMI, 2022

 Ismi Budiawan mengakui dirinya sebagai Perempuan Matahari dan Broadcaster of Happiness

Follow Ismi di @ismibudiawan (instagram)


Ini adalah tulisan pertama dari kontributor eseinosa. Jika kamu ingin berkontribusi, silahkan email tulisanmu ke kontributor@eseinosa.com , dengan subjek “kontributor eseinosa”.

Kamu tidak akan dibayar, tapi saya akan bantu edit dan peer review atau edit esei, cerpen, puisi, review, atau racauanmu, jika sedang ada waktu dan saya suka.

Kontributor, Puisi

Tak Bersayap

Semua mata menatap bengis
Isi kepala memendam kebencian
Nurani tak lagi jernih
Jiwa tak berhati
Mengapa harus tak rela?
Sedang aku sempat mendaki saat kau mendayung
Mengapa tuan tak ikhlas?
Sedang kau berkidung syahdu saat aku beriak, memohon, dan menyembah
Merpati terbang menuju bulan
Cahaya surga mendampingi
“Hai, apa kabar?” katanya
Terlalu melampaui sayapnya mengepak
Hingga patah berhamburan

ISMI, 2022

Ismi Budiawan adalah seorang Perempuan Matahari dan Broadcaster of Happiness.
follow dia di @ismibudiawan (instagram)

Film, Kurasi/Kritik, Racauan

Andibachtiar Yusuf dan Kejamnya Sinema Kita


Semua yang kenal atau pernah mendengar minimal 3 cerita tentang Andi Bachtiar Yusuf (sutradara Love for Sale, Romeo-Juliet dan The Conductor) pasti setuju bahwa Ucup (nama panggilannya) adalah orang yang straightforward, suka bercanda kasar, dan berenergi besar. Sikap itu sudah lama ada padanya sehingga ketika ada kasus kekerasan di set film, sulit untuk membelanya, seakan semua orang tinggal menunggu ia melakukan sesuatu yang bisa menyakiti orang lain sedemikian rupa. FYI, saya orang yang tidak kenal dekat dengan Ucup, tapi tidak sulit untuk tahu dua tiga cerita soal kepribadiannya yang cukup nyentrik–saya rasa dia sendiri juga tidak pernah menyembunyikan itu. Dia cenderung mengglorifikasi kekasaran itu secara publik.

Sebagai seorang penulis opini, saya tidak berniat membela tindakan Ucup. Saya cuma ingin melihat secara lebih objektif, apa yang sebenarnya terjadi di Industri film kita. Sesuatu yang seringkali tersembunyi dari mata orang umum: sebuah kekerasan sistemik yang mendominasi produksi film kita.

Kekerasan sistemik artinya kekerasan berbasis cara kerja sebuah struktur. Ia ada karena dalam konteks kurang uang, kurang waktu dan kurang perhitungan, untuk membangun sebuah sebuah hierarki struktur (baca: produksi film), diciptakanlah kekerasan dan opresi pada pekerja. Secara mudah, kekerasan sistemik ini terjadi karena film adalah sebuah karya kapital yang didalamnya terdapat relasi-relasi kuasa antara pemilik modal, pengambil kebijakan, dan kru. Klasik Marx lah, menyedihkan bicara teori ini hari gini.

Sutradara atau produser ngamuk di set, bukan hal yang tidak biasa. Kepanikan terjadi, jam kerja mulur sampai dua tiga kali lipat, bahkan orang meninggal di set sudah beberapa kali terjadi. Ini karena tekanan syuting begitu besar karena seringkali perhitungan brief ide, modal, dan waktu tidak dikerjakan dengan baik. Janji-janji pada investor, atau ketakutan kehilangan pekerjaan, membuat pekerja film sering tersiksa tapi terus kerja karena kebanyakan mereka freelancer.

Kekerasan ini tidak hanya terjadi secara fisik dan verbal. Ia paling sering terjadi dengan cara simbolik, melalui aturan kontrak tidak adil, atau dengan dalih solidaritas yang melanggengkan eksploitasi tenaga kerja, atau dengan tekanan-tekanan penyalahgunaan kekuasaan, ancaman black list, dan sebagainya.

Kekerasan simbolis juga bisa berwujud cinta, baik pada persona atau kepada filmnya sendiri yang abstrak: yang penting filmnya jadi. Banyak pekerja film yang berusaha mengerti masalah produser atau sutradara atau astrada, karena mereka teman senasib sepenanggungan. Mereka rela dieksploitasi sedemikian rupa untuk membereskan kebodohan orang lain. Setelah itu hubungan dijaga baik dengan party-party setelah syuting (kalau ada uang tersisa), atau sekedar halal bi halal minta maaf. Syuting sudah seperti sebuah neraka yang harus dilewati untuk mencapai surga. Neraka yang tak terukur dan tidak adil. Karena neraka Tuhan lebih adil: Hitler ditusuk besi panas dari pantat hingga mulut karena apa yang ia lakukan pada Yahudi. Sementara kru salah apa sampai harus merasakan neraka diteriaki, dimaki, tidak tidur, dan kecelakaan tanpa asuransi? Orang film seperti punya lebaran beberapa kali setahun karena sering maaf-maafan, tanpa banyak evaluasi diri.

Dan ini membuat nilai kekerasan jadi relatif. Ucup susah dibela karena perilakunya kasar dan dia mengglorifikasinya, tapi ada yang lebih parah lagi: orang yang perilakunya baik, tapi pas syuting jadi iblis dan semua orang berhasil dimanipulasi biar ikut maunya dia secara konsensual. Mungkin di set tidak marah-marah; mungkin juga terlihat pusing dan menderita seperti kru yang lain, tapi keputusan idealisme dan artistiknya bikin syuting sangat tidak manusiawi: jam kerja panjang, tidak ada safety, tidak ada asuransi, dan memaksa overtime atau pick up shot dalam waktu sangat dekat, sering terjadi. Belum lagi kontrak yang sangat tidak manusiawi, seperti memaksa seorang pekerja untuk mau menerima kontrak project berikutnya tanpa kenaikan upah sesuai inflasi atau profit. Bangsat.

Ada juga yang meremehkan kru lain yang sakit hati atau depresi. Begini ya, kawan, sakit hati itu relatif. Bisa jadi kebanyakan orang tidak sakit hati, tapi jika ada satu dua orang yang tiba-tiba hilang karena depresi dan jadi suicidal maka jelas ada masalah. Ingat, ini orang bukan angka. Satu dua orang depresi karena kebijakan buruk adalah sebuah tanda kegagalan dalam menjaga lingkungan kerja yang baik.

Lalu ada juga yang masokis dan ngajak-ngajak, tanpa sadar bahwa tidak semua orang masokis seperti dia. Tidak semua orang seambisius dia untuk film dia. Akhirnya, perlahan tim collapse, dan seperti domino, yang repot di post produksi yang harus beresin kesalahan produksi dari mulai sound yang buruk hinggal shot yang tidak punya continuity karena script cont-nya tidak tidur. Ada lagi yang sudah sakit masih maksa syuting, karena mikirin kru dan budget. Udah kayak Jendral Sudirman dibawa-bawa pake tandu ke hutan. Ini efek kebalik tapi sama bahayanya, semoga nggak keulang lagi cinta yang membunuh semacam ini.

Kita menuju ke kemajuan di industri kita: UU perfilman, BPI, Sertifikasi kerja, kucuran dana pemulihan ekonomi, dana abadi kebudayaan dan lain sebagainya memastikan kita bisa produksi film dengan jauh lebih nyaman dan aman dibanding zaman orde baru. Maka baiknya perbaikan terus dilakukan, khususnya soal aturan untuk pekerja film.

UU perfilman yang dibikin, menurut banyak orang, belum berpihak pada pekerja tapi lebih pada pengusaha film. Karena kepentingan pekerja dari mulai jam kerja yang manusiawi sampai jaminan sosial belum tersurat. Terlebih lagi fleksibilitas yang membuat eksploitasi terus jalan, dan akibatnya kata-kata kotor dan konflik kekerasan fisik, verbal, dan simbolik kerap terjadi di set yang stress karena memaksakan budget, timeline, dan ide yang tidak cocok satu sama lain.

Jangan bilang bahwa itu biasa dalam syuting, atau tidak ada syuting yang akan beres 100 persen! Jangan menormalisasi syuting sakit! Itu cuma ocehan kaum budak proletariat yang harusnya sudah punah bersama hantu-hantu Marx. Ada kok yang sudah mempraktekan syuting sehat, tapi mereka belom sempat berbagi ilmu pada banyak tim produksi lain. Mereka belum berhasil mereduplikasi cara mereka untuk bisa, misalnya, jogging sama keluarga di tengah-tengah syuting film panjang, tanpa ganggu jadwal syuting. Sempat menjadi manusia sehat jiwa raga, di tengah kerja keras yang teratur baik, karena manajemen yang rapih dan prioritas yang logis: film nomor dua, kesehatan fisik, mental dan keluarga yang utama.

Nggak mungkin juga mereka yang sehat-sehat ini sering sharing-sharing sebuah ilmu ke semua tim produksi yang sakit di luar sana. Terlalu banyak tim yang sakit daripada yang sehat. Salah-salah mereka yang sehat bisa jadi ikut sakit, karena mereka kan kerjaannya syuting, bukan advokasi. Maka tidak ada cara lain selain memohon perubahan UU menjadi lebih berpihak pada pekerja. Agar persaingan jadi sehat dan tidak memungkinkan pekerja ditekan sedemikian rupa dari atas ke bawah.

Kasihan banget melihat asosiasi film seperti ICS, IFDC, atau ACI jadi seperti kelompok paramiliter atau anarko yang bikin hukum sendiri, padahal mereka harusnya ada di bawah lindungan NKRI. Mereka asosiasi pekerja, pak, bukan Ormas agama yang biasa ngeluarin fatwa.

Penting kita untuk sadar kekerasan yang kita lakukan, sengaja atau tidak sengaja, karena cinta atau benci–semua adalah kekerasan, dan itu harus dihentikan.

Filmmu TIDAK PENTING. Karena film Indonesia belum bisa menjadi penting, jika orang-orangnya yang membuatnya tidak dipentingkan.


Terima kasih sudah membaca sampai habis. Website ini jalan dengan donasi. Kalau kamu suka yang kamu baca, silahkan traktir penulisnya kopi biar semangat nulis lagi. Thanks.

Buku, Kurasi/Kritik

8 Cara Delusional untuk Bikin Film dengan Mudah – dan Gagal

Sebuah review terbalik tanpa spoiler dari buku “Aku Bikin Film Pendek, Sekarang Aku Harus Ngapain Cuk?” Tulisan Clarissa Jacobson.

“Semua orang bisa bikin film, tapi nggak semua orang bisa bikin film bagus.”

“Film yang bagus adalah film yang jadi.”

“Semua film ada penontonnya.”

Semua jargon di atas cuma omongan saja, dan terlalu abstrak buat dilakukan. Itu sama sekali nggak jelasin apa itu film bagus, nggak ada rumus pastinya. Belum lagi mereka yang ngomong,”ngapain bikin film bagus kalo ga laku?” Atau yang sebaliknya, “film yang bagus nggak harus laku!”

Ah! Kenapa kita nggak bikin film bagus yang laku sih?

Karena susah. Perlu proses, metodologi, pengukuran, penelitian, peer review, development, nyari modal, dan lain-lain. Semua yang susah itu ada di buku “Aku Bikin Film Pendek, Sekarang Aku Harus Ngapain Cuk?” Tulisan Clarissa Jacobson. Ini buku soal distribusi film pendek yang lengkap, lugas, padat, mudah dimengerti, dan susah dikerjakan.

Kalau kalian niat jadi filmmaker dan suka penderitaan yang lebih efektif, kudu baca banget buku ini, tapi nggak harus. Karena saya udah satu dekade lebih jadi filmmaker tanpa buku ini, bisa-bisa aja. Bisa gila. Nggak ada arah, disorientasi, kebanyakan eksperimen, sampai mental saya campur aduk penuh tempe dan ramen. Jadinya temperamental. Jangan, ya. Kalau mau menderita, rencanakan dengan baik. Karena penderitaan yang cukup, adalah sumber kenikmatan, kata para psikonalisis dan peneliti seksual.

Saya nggak akan kasih bocoran bukunya di artikel ini, biar kalian punya pilihan soal penderitaan panjang tanpa buku ini. Sebaliknya, saya cuma akan kasih 8 hal yang mudah, yang bisa kamu lakukan kalau kamu ingin “bikin film aja”, dan menuju ke masa depan suram filmmaker yang saya dan banyak teman-teman saya alami–kebanyakan dari kami gagal, karena kami nggak ada buku kayak gini dulu. Untungnya saya masih bertahan, karena cinta. #eaaa

Inilah, 8 Cara delusional bikin film pendekmu gagal dan membuatmu menyiksa diri dengan kegagalanmu:

1. Bikin dulu baru mikir

Jangan dipikirin. Ada kamera, ada temen. Bikin aja. Bikin apa? Yah apa kek. Yang kita pengen aja. Ajak aja temen-temen. Ada tugas kuliah, ya bikin. Galau, ya bikin. Bikin aja dulu. Niscaya nanti kebanyakan akan jadi sampah di harddisk.

2. Pilih temen yang ga bisa komit.

Masih mending punya temen. Daripada nggak. Pelacuran sosial ada kunci kekecewaan dan pembullyan publik. Nggak usah milih-milih temen. Ujungnya nanti di credit title banyakan nama kamu daripada nama kru, karena trust issue.


3. Nggak usah diukur, hajar bae

Males baca, males riset, nggak ngerti. Cuma mau bikin film aja. Gampang tinggal record. Edit belajar dari youtube. Nggak usah workshop. Kan cinta itu buta. Bikin film yang penting jadi, kayak nikah ta’aruf. Bisa-bisa aja, mungkin aja berhasil, bisa aja ada keajaiban. Toh, dari 7 milyar orang di Bumi, nabi cuma 25. Dapatkan mukzizat syuting. Kurangi kerja dan riset, perbanyak ibadah.


4. Bikin film aja, nggak perlu skill lain

Iya dong. Kan filmmaker, bukan anymaker. Jadi ga perlu bisa copywriting, ga perlu bisa graphic design, nggak perlu bisa bikin press kit, apa itu canva? Mainan anak magang itu. Pitching ke investor? Showcase? Ah itu tugasnya agen. Serahkan semuanya pada semesta, karena kalau filmmu bagus, niscaya akan di pick up, mungkin nanti 3000 tahun lagi, oleh para alien yang sedang riset arkeologi, dan menemukan filmmu teronggok di sebuah artefak Harddisk berisi 30 persen filmmu dan 70 persen pornografi.

5. Riset bikin mumet, kan ada pengalaman hidup, ngapain riset lagi?

Curhat! Saya cuma mau curhat! Penonton harus lihat curhat saya. Gak perlu riset, saya ngerti banget hidup saya. Hidup orang? Hidup karakter? Meh! Semua mesti berpusat pada diri sendiri saja. Kan director, filmmaker, harus dong punya ego gede. Kalau sampe kalah di festival, yang salah festivalnya, meminggirkan saya.

6. Kata Sartre, orang lain itu neraka, jadi jangan banyak gaul

Nggak suka ke festival, nggak suka nongkrong sama filmmaker lain. Sirik lihat kawan di sosmed yang filmnya jelek tapi official selection. Saya mah introvert. Terus kalo dikritik marah, terus berhenti deh bikin film. Gampang sakit hati. Gampang depresi biar ada alasan buat healing. Rasakan sensasinya.

7. Nggak boleh gagal, jangan sampai kecewa! Harus sempurna! Tapi kirim ke semua festival gratis, ga usah dicek.

Nggak harus tahu penonton yang diincer siapa, ntar juga ada yang nyangkut. Tapi entah dimana nyangkutnya, mungkin di festival abal-abal. Bodo amat festival sembarangan, bodo amat filmnya diapain. Ah, kalah terus di festival. Pasti karena film saya terlalu impactful.

8. Buatlah film paling sempurna!

Jangan dibikin. Pikirin aja. Kata Plato kesempurnaan ada di pikiran.

Jadi penderitaan mana yang mau kau dustakan?

***

Data Buku

“Aku bikin film pendek sekarang aku harus ngapain cuk”

Pengarang: Clarissa Jacobson ; alih bahasa, Edo Wulia, Rayhan Dharmawan, Shara Octaviani ; penyunting, Fransiska Prihadi

Penerbit: Yayasan Kino Media, Denpasar, Bali. 2022.