Politik, Racauan, Workshop

Managemen Konflik part 1: Konflik Hadir dari Cara Orang-orang menghadapi Konflik

Konflik itu tanda kehidupan. Semua orang pasti menghadapi konflik. Tapi justru, karena caranya beda-beda, maka mereka nggak ketemu pemecahanya, komunikasi jadi ancur, hubungan ancur, output… Ya pasti ancur. Jadi ketika terlibat sebuah konflik, kita harus tahu dulu bagaimana cara kita dan orang lain menghadapi konflik, terus kerjasama buat cari cara terbaik untuk mencapai tujuan bersama.

Untuk mengidentifikasi konflik, kita harus paham cara yang sering kita atau orang lain lakukan untuk menghadapi konflik, karena cara-cara inilah yang seringkali justru menghasilkan konflik besar, kalau tidak bisa diatur dengan baik dan tidak dikenali. Ada banyak cara orang menghadapi konflik. Salah duanya adalah kabur, atau mati. Tapi itu ga usah kita itung lah ya. Nggak menyelesaikan masalah. Ini aja, ada 5 cara orang yang cukup berkomitmen untuk tuk menyelesaikan projectnya (bukan masalahnya).

1. Cara kolaborasi

Orang yang menangani konflik dengan cara kolaborasi lebih mementingkan proses daripada hasil, dan cara ini hanya bisa dilakukan kalau prosesnya panjang, intens, dan banyak ngobrol. Tujuannya untuk mencapai hasil terbaik buat semua pihak. Masalah, kalau cara kolaborasi ini dipakai dalam waktu singkat dan terhadap orang-orang yang masih asing. Yang ada bukannya kolaborasi, tapi hasil yang carut marut.

2. Cara Menghindar

Ada orang yang lebih suka menghindari konflik dengan cara mengesampingkannya. Bisa aja ketika dikesampingkan, memang karena ada hal lain yang lebih krusial untuk diurus dulu. Tapi jadi buruk kalau konflik dikesampingkan karena takut untuk dihadapi, atau malas untuk dibahas, terus kamu malah diam aja. Akhirnya akan jadi menumpuk dan sistemnya collapse.

3. Cara Akomodatif

Ada yang ketika mengalami konflik, cenderung lebih mengalah dan memberikan akomodasi terhadap permintaan orang lain. Ini bisa menyelesaikan masalah, tapi bisa membuat masalah lebih besar karena nantinya si orang akomodatif ini bisa tereksploitasi. Cara ini hanya boleh dilakukan  kalau tujuannya bukan hasil, tapi memperkuat hubungan sosial.

4. Cara kompetitif

Ini biasanya dilakukan oleh orang yang berpikir hasil-hasil-hasil. Di sini dia tidak perduli akan orang lain atau grupnya, yang penting hasilnya bagus. Dia bahkan bisa mengerjakan semua sendirian, sangat tidak baik untuk dinamika grup. Konflik tidak diurus, diselesaikan  secara sepihak dengan kekuatannya sendiri. Usahakan jangan pakai cara ini, karena ini merusak hubungan antar personal. Plus, ini bisa bikin gila.

5. Cara Kompromi

Ini biasanya dilakukan oleh people pleaser, untuk memuaskan semua pihak. Biasanya cara ini kita lakukan ketika kita sudah menyerah terhadap hasilnya dan tidak ada waktu lagi. Cara ini efektif untuk bikin konflik dan project kelar. Tapi harus diingat, tidak ada satupun orang akan puas.

Kamu sendiri tipe apa? Jawab dalam hati saja.

**

Nah, kalau kita sudah paham cara-cara orang untuk menghadapi konflik, kita jadi punya mata elang dalam melihat beberapa cara orang-orang dalam menyelesaikan konflik. Sebagai manager/producer/director, kita harus sadar kita cenderung seperti apa, dan bikin jarak: lihat orang-orang di grup kita kayak gimana.

Sekarang mari masuk ke cara mengatur konflik yang mengandung orang dengan cara yang beda-beda dalam menghadapi konflik.

Meta sekali bukan? Konflikception? Hahaha..

1. Peka terhadap konflik

Biasanya kalau saya, selalu mulai dengan apakah ada perubahan-perubahan mood dalam ruang kerja. Itu bisa dilihat dari bagaimana orang-orang ngobrol, gosip-gosip terkini, atau… Bagaimana orang-orang TIDAK NGOBROL. Kalau tidak terbaca, perbanyak komunikasi dengan bertanya soal pendapat mereka soal projectnya. Bisa juga dilakukan dengan japri, biar tahu motivasi tiap orang dan cara-cara orang itu menghadapi konflik.

2. Sans sisbro, ambil jarak
Jangan tegang dulu, ambil jarak dan inget-inget orang kayak apa yang sedang konflik. Kalau kamu yang terlibat dalam konflik itu, minta tolong mediasi aja. Tapi jangan ambil dua pilihan ini: fight or flight. Jangan berantem, dan jangan kabur. Terus gimana? Bikin komunikasi yang dewasa, terstruktur dan berdebat secara bergiliran dengan saling mencatat dan mendengarkan keluhan orang. Jadilah NETRAL dan FOKUS KE FAKTANYA. Dan yang terpenting besarkan hati untuk terima fakta bahwa kamu salah.

3. Selidiki situasinya

Sebelum menghadapi konfliknya, ambil waktu buat menyelidiki dengan bertanya  pada pihak-pihak lain yang terkait. Pastikan tidak ada praduga. Bicara pada orang yang berkonflik secara terpisah dan pastikan kamu paham sudut pandang mereka. Biasanya kalau saya sih, saya tanya balik dengan pernyataan mereka untuk memastikan, “jadi lu ngerasa si anu nggak peduli sama project ini, dan banyakan lu yang kerja?”
Atau “Jadi lu ngerasa si Una susah dihubungin dan ga bilang dia butuhnya apa?”

4. Ambil keputusan cara ngehandlenya.

Coba, setelah masalah teridentifikasi, jawab pertanyaan berikut:

– Ini masalah lebay trivial, atau bisa jadi serius buat keseluruhan project? Lebay trivial tuh kayak, “gue ga suka dia banyak ketombe, geli aja.” Masalah serius kayak, “gue nggak suka dia banyak ketombe, ini kan pabrik coklat dan kerjaan dia ngaduk coklat cair. “

– Harus dibawa ke organisasi atau institusi, apa bisa ditanganin sendiri? Kalo cuma ribut antar orang yang ide kreatifnya clash, mungkin bisa dibicarakan internal. Tapi kalo pelecehan seksual, well hajar bae ke bos-bos.

– Ini masalah di dalam lingkaran kamu sendiri, atau jangan-jangan struktural dan harus dibawa ke atasan? Struktural berarti ada masalah aturan main. Coba dibicarakan apa aturan mainya bisa diubah.

– Ada hubungannya dengan legal nggak? Awas jangan sotoy, hukum harus dibicarakan sama orang hukum.

– Perlu kah diwakili oleh organisasi/serikatmu?

– Apakah kamu harus ambil keputusan prerogatif sendiri, atau harus ngumpulin orang untuk musyawarah mufakat atau voting? Semua kembali ke masalah waktu dan output projectnya.

– Apakah butuh waktu untuk emosi mereda sebelum melanjutkan project?

Jawab semua ini, lalu mulai “kerjakan” Solusi masalahnya. Ya, solusi bukan dicari, dia dikerjain satu-satu sampe beres.

5. Kasih semua orang ngomong tanpa interupsi

Kalo ada waktunya, kasih semua orang waktu buat bicara tanpa ada interupsi. Kalo bisa, ngobrol satu-satu sama semua orang yang terlibat secara privat. Pastikan data yang kamu dapat tidak tersebar atau kamu kasih tahu orang lain.

6. Setelah masalah per individual terkumpul, pertemukan semua orang.

Lihat mana yang mereka bisa katakan secara publik dan mana yang nggak. Emosi boleh ada tapi harus dikontrol. Diskusi harus kamu jalankan, tapi juga harus siap intervensi ketika diskusinya terlalu panas. Selain itu, ekplore alasan-alasan kenapa orang tidak setuju. Minta solusi dari semua orang. Ambil waktu istirahat, lalu berefleksi. Setelah itu ambil keputusan dan minta komitmen tiap orang untuk keputusan itu.

7. Pastikan konsisten dan Evaluasi

Jangan pikir masalah sudah kelar. Terus evaluasi dan peka terhadap konflik baru atau lanjutan. Konsisten pada keputusan yang sudah diambil.

8. Evaluasi diri sendiri untuk mencegah konflik mendatang

Jangan lupa buat evaluasi cara kamu dalam menangani konflik. Apa yang bisa bikin kamu lebih efektif salam menangani konflik itu? Apa saja yang harus kamu pelajari? Mungkin kamu juga perlua training dalam komunikasi, atau ethnografi untuk mengumpulkan data. Perbanyak bergaul, dan selalu belajar dari konflik.

***

Seperti biasa, Terima kasih sudah membaca sampai habis. Blog ini jalan dengan sumbangan, dan saya ingin bisa berusaha konsisten menulis. Kalau tulisan ini membantu kamu, jadilah patron saya dengan mentraktir saya kopi dengan klik di tombol di bawah ini. Thanks for reading.

Adapted from peoplehum.

Ethnography, Politik, Racauan

Kenapa Kita Harus Melindungi AntiVaksin?

Antivaksin, atau orang yang nggak mau divaksin, ada banyak di mana-mana. Dan penolakan ini sangat wajar dan dalam beberapa konteks sangat diperlukan. Alasannya bisa macam-macam, dari teori konspirasi, alergi, sampai buat riset. Apapun alasannya, salah banget kalau kita marah pada antivaksin, karena jika sama-sama berteriak, maka nggak ada yang akan kedengeran kecuali suara bising. Kita harus lebih bijak untuk bicara dan mendengarkan satu sama lain. Maka mari kita telurusi fakta dasar soal vaksin dan dengan itu kita akan menemukan kenapa antivaksin perlu dilindungi dan bagaimana Demokrasi bisa bekerja tanpa membunuh dirinya sendiri.

Pertama, vaksin ditemukan untuk menipu sel biar kuat. Pengetahuan umumnya, vaksin adalah virus yang dilemahkan atau disimulasikan dan disuntikan ke tubuh kita agar sel-sel kita punya memori tentang sebuah penyakit, sehingga kalau virus sebenarnya menyerang, sel kita bisa mengenali dan melawan. Menyuntikkan vaksin yang adalah kembarannya virus, pasti ada efek sampingnya walau sedikit. Karena, well, kita dimasukin penyakit. Minimal ada lah rasa cenat cenut. Namun dalam beberapa kasus, bisa fatal banget. Ini semua orang harus tahu: vaksin memang bisa berbahaya.

Banyak efek samping dari vaksin. Yang sudah merasakan vaksin dosis pertama covid 19 pasti ada aja gejala macem-macem tergantung kondisi tubuhnya. Ada yang demam, ruam, pegel, bahkan ada yang pingsan. Vaksin-vaksin lain juga ada banyak efek sampingnya, tapi soal yang meninggal karena vaksin, ini harus dicek satuan kasus dan kasusnya dikit banget. Sementara efek samping lain bisa banget ditangani dengan medis, dari pengobatan di rumah, sampai di rumah sakit. Dilihat dari angkanya, efek samping vaksin apapun yang dirilis ke publik sangat bisa ditangani. Dan ini jauh lebih ringan daripada sakit beneran. Namun harus diakui bahwa alergi terhadap vaksin itu ada, dan segelintir orang memang nggak bisa dikasih vaksin.

Kalau memang alergi, maka antivaksin boleh ada dan harus dilindungi. Cuman cara melindunginya cuma satu: bentuk herd immunity! Selama belum ada herd immunity, akses mereka yang tidak divaksin harus dibatasi karena mereka berbahaya untuk dirinya sendiri dan orang lain. Namun ketika herd immunity sudah terbentuk, kita bisa sama-sama melindungi mereka.

Masalahnya ada pada orang-orang tolol yang menganggap bahwa fakta adalah Demokrasi dan opini. Ketidakmampuan membedakan mana yang fakta dan mana yang fiksi ini parah banget diseluruh dunia karena daya kritis itu dibentuk tidak hanya dari pendidikan tapi juga dari pengalaman. Ketika pengalamannya tidak ada, maka sulit untuk menjadi kritis beneran, yang ada logikanya krisis bukan kritis. Selama tidak ada beda antara fakta dan opini, maka Demokrasi tidak bisa berjalan. Perbandingan argumennya tidak apple to apple, ketika pihak satu membawa statistik dan data valid, sementara pihak lain terjebak perasaan dan misinformasi.

Maka ada baiknya kita belajar dari bagaimana sel kita bekerja menerima vaksin. Anggap saja bahwa kaum yang kebal fakta ini adalah auto immune yang menganggap bahwa fakta adalah virus. Mungkin ada memori-memori propaganda yang menyakiti mereka, jadi mereka melihat obat sebagai racun. Auto immune semacam ini bisa membuat masyarakat kita bunuh diri, Demokrasi bunuh diri karena oxymoron: “saya boleh jadi anti Demokrasi karena negara kita demokratis, ” Sama seperti sel darah putih yang menyerang bakteri atau organ sehat karena dikira penyakit. Maka untuk menyembuhkannya, kita jangan membunuh atau mengasingkan mereka. Kita harus mencari masalah lainnya, yang membuat sel darah putih jadi keos dan membunuh sel sehat.

Bagaimana caranya, ketika dialog dan diskusi pun tidak bisa dilakukan karena beda konteks? Kalau begitu tidak perlu diskusi dengan mereka, diskusilah dengan pembuat kebijakan yang terhubung dengan jaringan global. Kita jaga jumlah antivax tetap kecil supaya mereka bisa kita lindungi dengan herd immunity kita, sampai mereka mati nanti dan anak-anaknya yang terjebak sistem pendidikan atau ideological state apparatus lain, bisa berubah dan menjadi lebih baik daripada orang tuanya.

Kalau anak-anak yang tidak divaksin ini mati duluan, well, paling tidak anak kita tidak mati. Toh, pilihan sudah mereka ambil. Resiko tanggung sendiri. Bismillah aja.

****

Terima kasih sudah membaca tulisan ini sampai habis. Kalau kamu suka pada yang kamu baca, boleh traktir saya kopi biar saya tetap semangat menulis. Klik tombol di bawah ini yaa….

Buku, Kurasi/Kritik, Racauan, Workshop

5 Produser Yang Bikin Nggak Produktif di Filmmaking

Setelah aktor dan sutradara, kini saatnya bahas soal produser. Produser adalah motornya sebuah film. Film sebagai sebuah barang adalah milik produser–ide nya milik sutradara. Tanpa produser, film hanya akan jadi angan-angan sutradaranya. Semua orang bisa jadi sutradara, tapi jarang yang benar-benar bisa jadi produser, karena dia butuh skill untuk membuat film “terjadi”. Karena kalo produsernya bagus, seringkali tanpa sutradara pun filmnya juga bisa jadi. Tapi tanpa produser, sutradara harus jadi produser biar filmnya jadi.

Tapi kasihan banget kalau sebuah film produsernya nggak produktif. Semua orang jadi susah, komunikasi jadi sulit, dan kalau sampai filmnya jadi, produsernya kemungkinan adalah orang lain atau tenaga gaib di film itu. Berikut adalah 5 produser gak produktif yang sebaiknta kamu hindari kalau diajakin proyekan.

1. Produser Tapi PA

Produser kayak gini sukanya melayani sutradara dan yes-yes aja tanpa bisa jadi sparing partner dalam argumen dan pengembangan ide. Dia nggak punya leadership dan seringkali cuma jadi bonekanya sutradara aja. Dia ga bisa bikin jembatan komunikasi antara sutradara dan kru lain, sehingga kalau dia dapat sutradara yang komunikasinya jelek, atau yang kurang dewasa, produksi filmnya bisa berantakan.

Namanya produser tapi kelakuan kayak PA (production assistant). Padahal tugas dia yang utama adalah mencari jalan supaya dia bisa gabut di set pas syuting karena semua berjalan baik. Perilaku PA-nya ini membuat ketika syuting, bisa jadi dia malah kalang kabut ngurusin semua yang ga keurus karena skala produksi salah perhitungan, atau komitmen kru nggak bisa dijaga.

Etos kerja produser tipe ini dihargai, tapi salah konteks. Mungkin harus belajar lagi ngikut produser lain, atau nyobain jadi sutradara, biar sekali-sekali punya visi.

2. Produser Bossy

Bossy itu berlagak boss tapi ga ada kharismanya. Nggak ngerti konsep, nggak ngerti hierarki, nggak ngerti teknis, terus petantang-petenteng nyuruh orang ini itu. Atau ambil kebijakan yang bakal punya konsekuensi produksi yang bikin rugi banget secara waktu dan uang dan hasil footage.

Hubungan dengan kru nggak terjaga karena komunikasi jelek, dan dia nggak sadar kalau komunikasi jelek karena merasa, well, dia boss. Dia rasa semua baik-baik saja karena dia boss yang maunya tahu beres. Nggak, boy. Produser nggak tahu beres, sebaliknya harus selalu curiga kalau sesuatu beres-beres aja. Minimal jadi punya plan B and plan C sampe Z.

Seringkali ini terjadi karena kurang pengalaman: produser dikerjai oleh sutradara atau kru yang lebih jago jualan daripada dia, sehingga dia terbawa suasana aman dan nyaman, dan nggak bikin planning yang rapih, nggak kritis dalam sebuah produksi. Mungkin cocoknya produser macam ini jadi executive produser saja.

3. Produser nggak gaul

Modal utama produser itu bukan duit tapi pergaulan dan managemen konflik. Dia harus kenal orang banyak yang cukup dekat hingga bisa dia pitch ide-idenya, atau ide sutradaranya. Dia pun harus jago milih teman mana yang mau diajak produksi.

Karena bukan cuma komitmen yang dibutuhkan tapi juga skill, dan skill nggak ada gunanya kalau ga ada komitmen. Produser yang gak gaul biasanya bukan orang yang berkomitmen, karena kalau dia penuh komitmen, maka dia akan punya banyak temen yang ngutang sama dia dan rela bantuin filmnya setengah mati.

Ketidakmampuan managemen konflik dan pergaulan sosial ini jadi masalah sangat besar, karena produksi adalah soal mengatur dan mendesain flow kerja. Produser yang cenderung menghindari konflik, tidak bisa mendamaikan pihak-pihak yang berfriksi, dan tidak bisa menjadi mediator, sebaiknya jangan jadi produser.

Karena kenikmatan produksi film adalah hasil kerja keras pra produksi, ketika semua konflik sudah teratasi, semua orang tersedia, semua fasilitas mencukupi, hingga ketika syuting, semua orang bisa menanggung penderitaan bersama dengan rela dan bahagia.

Syuting yang baik seperti seks yang enak: sakit-sakit-nikmat. Produser keren bisa bikin semua orang orgasme, dan orgasme butuh hubungan dan komunikasi yang enak.

4. Produser sotoy

Sotoy di industri film Indonesia ada di mana-mana. Bayangkan film sebagai media termutakhir saat ini: dia mengandung sastra, teater, seni rupa, seni lukis, seni musik, dan seni-seni lain. Produser yang mau jualan ide dan filmnya harus ngerti luar dalam apa yang dia jual. Tapi kalau dia kalah intelek sama sutradara, production designer, scriptwriter, dll, dia bisa salah jual barang dan ujung-ujungnua dianggap penipu.

Sotoy buat sutradara bisa berujung gak dipake orang lagi, ga ada yang mau kerja sama dia lagi. Tapi sotoy buat produser lebih parah: dia bahkan bisa masuk penjara! Sotoy soal budget, bisa jadi overbudget, sotoy soal konsep bisa dituntut sama eksekutif produser dan investor, sotoy soal seni yang dipakai di filmnya, bisa kena pasal Hak Cipta.

Produser kerjaan yang berat dan kudu teliti dan hati-hati. Orang sotoy di Indonesia punya kesempatan dan tempat buat dipercaya orang lain, tapi hasilnya bisa jadi buruk banget. Jadi produser adalah soal trust dan tanggung jawab. Nama dia akan jelek selama-lamanya kalau filmnya keluar dengan banyak masalah yang membuntutinya.

5. Produser power player

Dia humoris, jago bergaul, jago ngatur budget, jago jualan, tapi dia sering menggunakan posisinya untuk bermain kuasa dengan memeras orang lain baik dengan cara halus, atau dengan modal sosialnya. Dia bisa memeras orang dengan rayuan dan ancaman, dari deal soal harga sampai deal soal seks.

Produser kayak gini baiknya dipenjara saja selama-lamanya. Perilaku patron yang pervert, sudah saatnya hengkang dari muka bumi. Jadi sebelum kerja dengan produser manapun, sejago-jagonya dia, pastikan kalian minta kontrak yang jelas, atau referensi terpercaya sebelum kerja dari kawan-kawan lain kalau memang callingannya harian.

Kalau ketemu produset macam ini, jangan takut untuk cerita dan melawan balik. Cari temen-temen deket dulu, bikin asosiasi, atau masuk asosiasi. Produser kuat dan serem kayak gini harus dihajar dengan persatuan dan kesatuan!

***

Terima kasih sudah baca sampai habis. Blog ini dibiayai oleh sumbangan kalian, lumayan mahal biaya tahunannya. Kuy! Klik tombol di bawah ini:

Prosa, Tarung Rahwana

Tarung Rahwana (Part III)

RAMA
JIWA TAK LEBIH DARI PARASIT

“Gue mau nawarin elo kerjaan,” kata pemuda usia belasan bertubuh kekar itu kepada Rama ketika ia membereskan barang-barangnya di kamar ganti sebuah rumah mewah di Bintaro. Ia baru saja selesai bertarung di basement rumah itu, rumah milik seorang pemilik perusahaan minyak global. “Gue Robby,” kata anak lelaki berusia sekitar 20 tahun, berambut cepak dan berbadan agak gempal itu, seraya mengulurkan tangannya untuk bersalaman.

“Gue tahu lu siapa,” kata Rama. “Gue nggak tertarik jadi bodyguard lu di sekolah.”

Robby tertawa. Rama tersenyum tipis. Ia tahu kalau ada penonton yang terkagum padanya dan sedikit takut. Karena malam itu, Rama baru saja mematahkan rahang lawannya di dalam ring. Robby ada di bangku ekslusif bersama pemilik rumah, yang bisa melihat langsung pertarungan sekaligus ditonton para penonton. ‘Anak pak bos,’ pikir Rama.

“Anjing lo,” kata Robby. “Gue nggak butuh dilindungin. Gue serius nawarin lo kerjaan, jadi security acara bokap gue. Gue butuh orang kayak lo yang siap berantem tangan kosong kalau-kalau ada apa-apa. Gue bayar DP sekarang 20 juta, sisanya 30 juta setelah acara kelar. Dua hari di Karibia, sekalian lo liburan dari semua ini.”

Rama menutup retsleting di backpack berisi celana pertarungan, handuk berdarah dan P3K.

“Tanya manajer gue si Yuda.”

“Udah, dia bilang langsung ke elo aja.”

“Kapan?”

“Minggu depan lo jalan. Kalo lo tertarik gue kirim tiketnya.”

“Kenapa gue? Dan apa yang lo takutin bakal nyerang di pulau itu?”

“Ya karena lo jago lah. Ini pulau pribadi, harusnya sih ga ada apa-apa. Tapi ini pertemuan klub penting. Klub spiritual bokap. Isinya orang penting dan rahasia semua. Gue udah ngomong sama manajer tarung katanya elu juga orang yang banyak rahasia dan nggak banyak cincong. Cocoklah.”

Rama menghela nafas. Mungkin perlu juga istirahat dari semua ini.

“60 juta, DP 50 persen.” kata Rama.

“Deal.”

“Dan itu belum termasuk bagian si Yuda.”

*

Perjalanan ke Pulau St. Barthelemy memakan waktu seharian. Dari bandara Halim Perdana Kusuma, ada pesawat langsung ke St. Barth, perjalanan sekitar 16 jam. Setelah itu naik sebuah shuttle kecil selama dua jam dan sampai lah Rama ke villa yang dimaksud. Di atas gerbangnya tertulis, “Paradiso Perduto.”

Rama sampai di villa Perduto sendirian, karena Yuda tidak boleh ikut. Tiket hanya untuk mereka yang bekerja. Di villa, Rama disambut Albert, seorang kepala pelayan berkulit hitam yang langsung membawa Rama ke belakang rumah, menuju ke satu rumah untuk para pelayan dan para sekuriti, baik pegawai tetap ataupun pegawai sewaan. Tamu-tamu belum ada yang datang di villa itu.

Villa itu sangat luas, Rama dan Albert harus naik mobil golf menuju ke villa para pelayan. Sepanjang perjalanan, Rama melihat lapangan golf, taman, dan tempat landasan helikopter. Ya, tentu saja, para orang kaya ini tidak akan memakai pesawat komersil dan bersusah-susah transit dan ganti-ganti kendaraan.

“Mereka akan naik helikopter semua, pak Albert?” tanya Rama. Dalam hatinya ia bertanya, dari mana ia mulai bekerja, apakah semenjak orang-orang itu turun dari helikopter?

“Sekitar dua kilo dari sini,” kata Albert, “ada pangkalan untuk landasan pesawat jet pribadi. Kebanyakan akan dari situ. Landasan ini cuma untuk Pak Win, keluarga, dan… sahabat terdekat mereka.”

Pak Win adalah bapaknya si Robby, pemilik semua ini, termasuk rumah megah di Bintaro tempat Rama bertarung seminggu lalu.

Rama sampai di villa dan turun bersama Albert. Ia ditunjukkan ke sebuah kamar dengan empat tempat tidur bertingkat. Di kamar itu sudah ada tiga orang lain.

“Ini kamar untuk sekuriti bayaran.” Kata Albert. “Mari saya perkenalkan:

“Yang menjadi kepala sekuriti outsource ini adalah bu Annie,” ia menunjuk ke seorang perempuan yang berambut segi, dan bibir kiri atasnya berbekas luka seperti operasi sumbing. Wajahnya mirip dengan artis Indonesia lama, Yati Octavia, di masa mudanya. Ia memakai kaos abu-abu dengan celana pendek, sedang duduk di pinggir jendela sambil merokok.

“Dan seperti yang sudah saya brief sebelum-sebelum ini,” lanjut Abert,” yang boleh merokok di dalam villa pelayan ini hanya bu Annie.” Annie menghembuskan asap rokoknya ke luar jendela.

“Lalu ada Zack,” Albert menunjuk sebuah ranjang di kanan bawah, nampak seorang lelaki botak sedang tidur menghadap tembok. “Dia ahli senjata di sini, kamu bisa meminta senjata kepadanya nanti. Lemari senjata akan ditunjukkan nanti olehnya.”

“Dan ada Garcia,” kata Albert. “Garcia adalah ahli keamanan cyber, dan akan berkerja jadi koordinator komunikasi kalian di ruang kontrol. Selain kalian, kita juga punya 30 orang sekuriti pekerja tetap, kepalanya bernama pak Juan. Nanti malam ketika briefing kalian akan bertemu dia.” Garcia main HP di tempat tidur kiri atas, ia memakai headset dan tak menyadari kehadiran Rama dan pak Albert di situ.

“Semuanya, ini Rama. Dia bawaan tuan muda kita.”

“Silahkan jalan-jalan di sekitar villa ini, bawa selalu nametag ini supaya kamu tidak dikira penyusup.” Setelah memberikan nametag, Albert keluar dari kamar.

Rama menaruh ranselnya di tempat tidur.

“Laci kamu ada di nomor 4,” kata Annie dengan bahasa Indonesia tanpa melihat ke Rama, hanya menunjuk ke sebuah lemari besar dengan empat laci yang sudah dinomori.

Annie mematikan rokoknya. Ia mengambil sepatu lari dari bawah kursinya dan memakainya. Ia berdiri, tubuhnya kekar dan berisi, kausnya nampak kekecilan menunjukkan otot dan lekukan tubuhnya.

“Kamu bawa sepatu lari?”

“Nggak, mbak.” kata Rama sambil melihat sepati conversenya.

“Ya sudah, pakai saja sepatu itu. kalau kamu tidak bawa baju lain selain yang kamu pakai, temani saya lari sekarang saja.”

Rama bengong, Annie sudah beranjak keluar kamar, lalu kepalanya mendongak lagi ke dalam.

That’s an order. I need to brief you.

Rama menyusulnya.

**

Rama berlari di samping Annie dan ia merasa perempuan itu mengagumkan dalam cara yang lumayan mengerikan. Selain codet di bibir atasnya yang semakin dilihat dekat semakin terlihat bukan karena operasi sumbing tapi karena robek pertarungan, nafasnya ketika berlari sangat stabil. Sepatu kulit Rama sangat tidak nyaman untuk dipakai berlari, tapi ia tetap berusaha mengejar Annie.

“Saya minta pada Robby untuk dicarikan seorang petarung tangan kosong, ” kata Annie. “Kamu akan menyamar menjadi salah satu tamu. Tapi sebelumnya… “

Annie berhenti di sebuah lapangan rumput. “Buka sepatu dan pakaianmu, kita pemanasan sedikit.”

Rama melepas sepatunya, dan ketika ia memasang kuda-kuda, Tiba-tiba tendangan Annie mendarat di dadanya. Ia terlempar ke belakang namun secara refleks, membuat kuda-kuda hingga tidak jatuh. Ilmu pernafasan yang ia pelajari sejak umur 3 tahun tidak percuma: ia bisa membuat bagian tubuh manapun menjadi keras dengan oksigen dan udara, dan instingnya sudah terlatih mendeteksi serangan.

Tidak banyak omong, Annie langsung menyerang dengan kecepatan yang luar biasa. Dan tidak seperti film-film yang koreografinya jelas, pertarungan Annie dan Rama sangat brutal: banyak pukulan Annie yang masuk ke wajah dan tubuh Rama, dan seperti biasa, Rama tidak menyerang dulu sampai ia paham kelemahan lawan. Masalahnya, Rama tidak berhasil melihat kelemahan itu.

Rama berpikir, dengan serangan seintens ini, Annie akan lelah dengan sendirinya. Ia salah, sudah hampir lima menit, dan Annie sama sekali tidak mengurangi kecepatan dan kekuatannya. Rama melihat orang-orang mulai berkumpul melihat sparing mereka.

Setiap hantaman terasa begitu menyakitkan dan pada akhirnya Rama yang roboh. Rama heran, ia belum pernah roboh sebelumnya. Rama selalu berhasil bertahan dan menang karena stamuna dan endurance-nya yang luar biasa. Ia heran kenapa kali ini ia seperti lumpuh, tubuhnya tidak menurut. Ia tiba-tiba roboh tidak bisa bergerak, lalu dibopong ke kamar.

Ketika ia dibopong, Rama berpikir kenapa Annie, kepala keamanan acara ini, menyakitinya sedemikian rupa? Apa salah dia? Apakah ia hanya ingin dipermalukan?

“Don’t worry, bruh, ” Kata Garcia yang membopongnya. “It’s gonna get better. Trust me.”

Dan perlahan kesadaran Rama hilang, ia terlelap.

***

Rama bangun di tempat tidur bawah di kamarnya karena dengkuran seseorang. Zack, si ahli senjata tidur di atasnya. Sementara di tempat tidur lain ada Garcia di tempat tidur atas, sementara tempat tidur bawahnya kosong. Tempat tidur Annie.

Rama sudah lama sekali tidak tidur senyenyak itu. Tanpa mimpi, tanpa gangguan apapun. Dan ia bangun dengan sangat segar. Rasanya, tubuhnua ringan sekali. Tapi ia bau, dan ia tidak suka bau. Ia bangun dan mengambil handuk di tasnya lalu beranjak ke kamar mandi.

Di kamar mandi yang besar dengan barisan shower itu, air hangat mengucur mengaliri tubuh Rama dan kulit gelapnya. Rama memperhatikan bekas-bekas pukulan Annie yang anehnya ada di titik-titik tertentu di dada kiri, kanan, tengah, punggung, kaki bagian belakang, tengkuk. Ia teman-teman bagian dengan darah beku itu dan tidak terasa sakit sama sekali. Ia seperti habis diterapi.

“Aliran Chi kamu banyak penyumbatan, ” Suara perempuan terdengar diantara uap-uap air. Annie masuk dengan tubuhnya yang kekar dan telanjang. Ada bekas-bekas luka di sekujur tubuhnya. “Jangan pernah membiarkan luka membusuk terlalu lama.”

Annie mandi dengan cuek di sebelah Rama, seperti dia tidak ada. Setelah apa yang terjadi, Rama tidak berani melihat kepadanya. “Apa yang kamu lakukan padaku tadi?” Tanya Rama.

“Aku nggak mau mempertaruhkan nyawaku sama orang sakit. Paling nggak, sekarang urusanmu tinggal trauma mental saja. Fisik sudah kubereskan. “

Ia selesai mandi dengan cepat dan pergi begitu saja, meninggalkan Rama di kamar mandi, dalam ereksi.

Bersambung…

Jika kamu suka yang kamu baca, boleh traktir saya kopi biar saya tetap semangat menulis dan bisa menyelesaikan cerita ini.