Nobody wants to love anybody
If there is love, its not a choice
Because if you want to love somebody
You don’t love, you’re just lonely
I
You see yourself in the mirror
and people say,
you should love yourself first
before you love others
but no matter how beautiful you are
if the love its not there, then its not there
Then like the old cliche
of gratefulness and making happiness
you make the best of yourself
and try to love what you are
and that’s not too bad, though you certainly fail
you never ask to be born anyway
Since only narcissists
who love themselves selfishly
and condemned to be drown
in the self-absorbed ego-maniacal pond
Thus, unable to love others truthfully
socially crippled as a pathological psychopath
or destructive bipolar, hurting others around them
Nothing good comes out of beautiful narcissist
except probably some good selfies taken from one angle
you don’t want to look bad with that amount of ego
and in the end, self mutilating is the only answer
just to make you keep loving yourself
“Vincent Van Gogh Self-Portrait with Cut Ear” by Eric Wayne.
II
Nobody wants to love anybody
because other people is hell
but when it comes like a disease
like death, it is inevitable
like life, it will grow
and like desperation
you will die with it
But love is not a wolf, its not your desire
its not a matter of feeding which wolves
you can deprived it of actions or efforts
you can buried it alive with distractions
but it will stay where it is
alive and kicking
And there will always be moments
that make a glimpse feels like a lifetime
in between your thoughts and works
or on your bed, when you look at the ceiling
You see faces of your loved ones:
one that got away, one that died,
one that never love you back,
and one that sleeps beside you
as a complete stranger
And those moments, my friends,
is what they called
There is a place where we don’t have to choose. We can love each other freely, out of differences or social restraints. This place is an island of mystery and secrets; our mystery, our secret. It is a garden that we nurture, sacred, therefore we need to protect it with all our might.
It has to be kept from the outside world. And the outside has to be kept from it. For when a breach exist, both will ruin one another, and consume us like the giant snake of time. You, me, and the world we live in will cease to exist, thus end life as we know it.
So let us protect it with complications; create a deep labyrinth with tricks and traps, with monsters and demigods. You have your minotaur, I’ll have my Medusa. But beware of the green-eyed cyclops luring from behind the mountain. For it is a blind Shiva, with Uoroboros on his neck, ready to destroy anything on its path. Its eyeball is a mirror of a bitter truth, that will open any secrets, expose every sin, and use it to kill us.
It will pollute our island, defile our garden, and we will be transformed from angels and fairies to be a two shouldered beast. We will eat each other, and when we’re done, we will eat ourselves. From carcasses of our memories we will make our body; a chimera, the undead.
Alas, even to imagine it we quiver with fear, more than we fear death. For death is nothing but eternal sleep, but this clash of two worlds, is a big bang to eternal nightmare. She run through frozen fire and burning ice, and we’ll be her tormented captive. We’ll be forgetful of each torture, so every time we die, we’ll be revived with fresh memories to run with her and die again and again and again…
Thus, to avoid that mare, we meet each other’s eyes, and we lie truthfully. So truthful that we come to believe, that there was no secret island, no sacred garden. Just lonely people who happened to have the same imagination, but never share it to one another.
Nobody will ever know our great golden copulations, our Dionysian ritual, but ourselves, individually. Just a glimpse of an eye, is a thousand years in that island, that secret garden. Keep that secret, and we can die in peace and dignity in reality, while live happily ever after in the island.
Lie to each other, live with each other, life for each other, love one another.
Pikiran bukanlah sungai yang mengalir dari hulu ke hilir. Pikiran adalah lautan yang ketika permukaannya tenang, maka di dalam bertemu arus-arus dengan perbedaan suhu, dan ketika badai, di dalam tersembunyi ketenangan yang tidak disadari. Kedalaman pikiran setiap orang berbeda-beda. Mereka yang dangkal, tidak memiliki banyak kehidupan di pikirannya, mereka yang dalam memungkinkan kehidupan.
Kedalaman pikiran yang sedalam lautan akan menghasilkan kehidupan bukan hanya di laut, tapi di pulau-pulau pikirannya. Saya tidak percaya pepatah lama bahwa manusia bukanlah pulau. Kita bisa menjadi sebuah pulau, di tengah lautan. Seseorang dengan pikiran yang dalam akan punya banyak pulau, dengan berbagai macam bentuk, tempat ia merenung, tertawa, menangis sendirian. Karena hanya ada dua tempat dimana orang bisa benar-benar sendirian, terputus dari manusia lain, dari alam: di dalam pikiran dan di dalam kuburan.
Yang menyedihkan adalah orang dengan pikiran yang dangkal, maka ia hanya punya sedikit kubangan air, dan sisanya gurun pasir dengan tanah gersang. Beberapa orang dengan pikiran dangkal ini punya keberuntungan, ketika mereka menemukan oase dalam bentuk cinta atau agama–itulah kubangan air tadi. Yang paling menyedihkan adalah mereka yang merasa memiliki oase, menghabiskan hidupnya untuk mengejarnya, untuk mengobati kehausan keberadaanya, namun hanya menemukan fatamorgana.
Kaum fatamorgana ini hidup tanpa banyak referensi, dan dengan buta mengikuti ilusi yang ditunjukkan oleh orang lain. Orang-orang yang jauh dari cahaya Tuhan: kreatifitas. Mereka merasa menemukan jalan yang lurus, jalan yang sudah dibuat orang lain, tanpa sadar bahwa jalan itu tidak akan membawa mereka kemanapun. Beberapa dari mereka hidup dengan ambisi yang sedangkal pikirannya, ambisi akan kekayaan dan kekuasaan. Visi mereka adalah keagungan diri, dan hasrat untuk menguasai orang lain, menguasai alam sekitarnya. Mereka yang disebut orang-orang serakah.
Tapi keserakahan punya akar yang lebih berbahaya, akar yang merusak semua hal di dalam kehidupan: rasa iri, syirik. Inilah sumber penyakit hati, ketika seorang makhluk berakal membandingkan dirinya dengan yang lain, dan mulai menginginkan apa yang dimiliki orang lain, tanpa ada rasa syukur terhadap eksistensi diri sendiri, tanpa punya pencarian tentang apa yang sebenarnya ia butuhkan. Segala cara dijalankan untuk mendapatkan identitas itu, memuaskan hasrat itu, namun tidak mau melewati proses yang dilewati orang lain. Iri hati adalah matahari gelap yang sangat panas, yang berusaha untuk mengisi kehampaan dengan fatamorgana. Kekosongan, diisi kekosongan, menghasilkan sebuah energi jahat yang menghancurkan dirinya sendiri dan segala yang ada disekitarnya.
Lalu bagaimana caranya hidup? Bagaimana caranya membuat lautan? Bagaimana caranya memperdalam pikiran?
Sederhana, ingat perintah pertama salah satu agama terbesar di bumi ini: IQRA. Bacalah. Bacalah buku, bacalah manusia, bacalah keadaan, bacalah alam, bacalah diri sendiri. Bacalah sampai habis. Setelah selesai membaca, refleksi dan evaluasi akan muncul dengan sendirinya. Air kehidupan menjelma lautan, lautan memberi benih-benih kehidupan. Dengan membaca, muncullah lautan di gurun, lalu perlahan muncullah makhluk hidup di dalam laut, yang berevolusi menjadi berbagai macam jenis. Suatu hari ledakan-ledakan bawah laut membuat pulau-pulau. Di pulau-pulau kau bisa mulai menulis, mendesain, membuat tempat-tempat tinggal yang paling sempurna untukmu, yang bisa kau kunjungi dalam setiap kesedihan, kemarahan, kebingungan, atau kesepian. Dan di satu titik, kau bisa mengajak orang lain mengunjungi pulau-pulaumu.
Ini adalah salah satu pulauku, kau boleh datang kemari dan kita bisa berbincang berdua. Dan ketika kita berbincang, kau sedang membawa bagian dari diriku ke dalam laut pikiranmu. Hingga suatu hari kuharap aku bisa berada di pulau mu. Kita bisa berbincang di pulau yang sama, bahkan ketika aku telah jauh darimu.
Dan kita tidak akan pernah kesepian, sesesepi apapun kenyataan kita.
Ada seorang kawan anggap saja namanya Joni, memposting sebuah video yang ia ambil dari hpnya di kereta. Ia ambil candid jadi kualitas gambar dan suaranya sangat-sangat buruk. Video itu menunjukkan sepasang suami istri dengan wajah yang sangat sayu dan kelelahan, menggendong anak mereka yang masih diinfus dengan selang.
Si Joni menyebar gambar itu di sosial media dengan sebuah caption, “Pasangan suami istri ini masuk dari Stasiun M. Saya tidak berani bertanya siapa mereka dan kenapa keadaan mereka seperti itu. Semoga dengan mengunggah video ini akan ada yang membantu mereka.”
Tidak ada keterangan apa-apa lagi. Tidak ada nama, latar belakang kejadian, apalagi alamat.
Lalu apa gunanya diunggah? Apa Joni berpikir dengan merekam dan mengunggahnya, maka ia lebih baik daripada para bystanders, penumpang-penumpang lain, yang juga tidak berbuat apa-apa di sana. Apa Joni tidak berpikir bahwa ia sedang mengeksplotasi kesusahan orang lain, ketika gambar yang ia ambil dan ia sebar sama sekali tidak bisa punya efek apa-apa di dunia nyata selain rasa iba. Mungkin kalau ia edit video itu, kasih slow motion, kasih musik sedih, masih bisa menghibur orang yang menonton–seperti eksploitasi yang biasa dilakukan televisi.
*
Seorang profesor Neurosains Yahudi bernama Simon Baron-Cohen (masih sepupu dengan aktor pemeran Borat, Sacha), membuat buku berjudul “The Science of Evil.” Buku itu membahas asal usul kejahatan dari sudut pandang neurosains. Kesimpulan dari buku itu adalah secara biologis manusia bisa dilahirkan dengan agresivitas tinggi dan empati rendah, atau sebaliknya agresivitas rendah, empati tinggi. Namun setting sosial juga membantu kita mengatasi agresivitas atau bisa juga membunuh empati kita. Ada beberapa hal yang bisa dibahas dari tesis Baron-Cohen ini.
Pertama, ia melawan tesis eksistensialisme tentang keberadaan mendahului isi. Jika kita membaca karya-karya Eksistensialisme, khususnya Sartre sebagai mantan Marxist, kita bisa menyimpulkan bahwa manusia punya kemampuan buat memilih dan sebuah tindakan adalah tanggung jawab penuh manusia tersebut. Ini pemikiran turunan dari mainfesto komunisme Marx soal kemampuan manusia menjadi agen perubahan dengan pendekatan konflik. Jadi manusia bertanggung jawab penuh dalam menjadi budak atau menjadi revolusioner. Namun buat Baron-Cohen, ada faktor genetik manusia yang membuat seseorang menjadi agresif atau pasif. Potensi menjadi ‘jahat’ berbeda-beda untuk setiap orang.
Kedua, Baron-Cohen memetakan bagaimana biologi punya peran yang sama dengan setting sosial masyarakat dalam membuat kejahatan. Seseorang yang lahir dengan bakat psikopat, jika ia ada di setting sosial yang menyadari potensi-potensi dirinya, maka ia bisa diajarkan mengendalikan dirinya. Seseorang dengan Asperger Sindrom (kadar empati sama dengan psikopat tapi tanpa agresivitas), bisa menjadi seorang jenius dalam setting sosial yang mengenali dirinya. Sebaliknya seseorang yang lahir dengan sensivitas dan empati tinggi, bisa menjadi bipolar atau psikopat dalam setting yang memaksanya menjadi keras untuk bertahan. Kemampuan adaptasi manusia, menentukan kepribadiannya.
Dalam buku itu, Baron-Cohen hendak menjawab pertanyaan yang menggangu dirinya semenjak ia menjadi pengungsi ke Amerika di zaman PD II: apa yang membuat manusia menjadi jahat. Ia tidak menyalahkan tetangga-tetangganya yang hendak membunuhnya pada zaman NAZI. Ia tidak menyalahkan orang-orang Jerman yang anti-semitis. Sebaliknya, ia melihat bahwa pembantaian Yahudi di Jerman adalah sebuah fenomena sosial yang hadir melalui proses biologi, sejarah dan sosialisasi yang sangat panjang.
Sebagai Yahudi yang tahu pasti bagaimana NAZI mempraktekan eksperimen biologi, dan menginterpretasi teori evolusi Darwin menjadi sangat rasis, Baron-Cohen tidak hendak membawa masalah genetik kejahatan ini ke dalam ranah rasisme. Sebaliknya, ia merasa bahwa ini masalah bagi semua manusia. Potensi-potensi agresif, sadis, jika ada di konteks yang tidak sadar akan keberadaannya, bisa berbahaya.
Kebencian orang Jerman di PD II pada Yahudi dibangun perlahan dengan konteks kesenjangan kelas sosial dan politik dan mencapai titik puncaknya ketika Hitler yang megalomaniak berkuasa. Hitler memberi ruang pada orang-orang yang kadar psikosisnya tinggi (ia sendiri juga dikenal sebagai psikopat yang obsesif-kompulsif). Genosida hadir ketika semua konteks kejahatan dan kekerasan bersatu padu.
Dalam konteks Indonesia dan kekerasan berbasis kebencian yang terjadi pasca kemerdekaan, kita bisa melihat itu bagaimana konteks bisa memfasilitasi kejahatan. Dari tragedi 1965, hingga tragedi-tragedi massif lain yang terjadi karena pergumulan politik elit, konteks justifikasi atas kekerasan dibuat dan diamini sedemikian rupa. Di sini satu kata menjadi kunci: Negara. Negara sebagai leviathan punya kemampuan untuk membendung konflik atau mensponsori genosida atau etnisida. Sebuah pemerintahan yang kuat, menurut Thomas Hobbes, akan membuat orang menjadi takut dan membuat kekerasan massal terbendung.
Namun di sini kita juga bicara soal apa yang disebut Michel Foucault sebagai Governmentality, atau (sederhananya) sifat negara, dimana pembunuhan bisa terjadi atas nama keamanan bersama. Pembunuhan atau opresi besar-besaran terhadap kaum minoritas bisa terjadi atas dasar logika ini: demi keamanan dan kenyamanan bersama, demi demokrasi milik mayoritas. Di sinilah persekusi terhadap minoritas seringkali terjadi, dan ketika negara diam saja, artinya sama saja negara ikut mensponsori persekusi tersebut.
Persekusi terhadap waria yang terjadi di Aceh baru-baru ini adalah contoh yang cukup pas. Daerah Istimewa ini punya hukum Syariah yang dalam banyak hal bertentangan dengan hukum negara Indonesia yang sekuler. Namun dengan adanya otonomi daerah dan status daerah istimewa, negara jadi tidak bisa berbuat apa-apa menanggapi anarki yang terjadi di Aceh, dimana persekusi dilakukan tanpa dasar hukum yang jelas, melanggar hak konstitusional orang: ratusan waria ditangkap, dicukur, dan dipaksa menjadi lelaki.
Di sini, ketika negara diam saja, saya tekankan kembali, negara mensponsori kekerasan.
Kita juga bisa melihat contoh paling sadis yang nampaknya tak pernah berakhir: okupasi Papua oleh Indonesia dan korporasi. Dari sekian banyak okupasi korporasi pada lahan rakyat, Papua adalah yang paling sadis. Kerusakan lingkungan dan kebudayaan terus didukung oleh negara dan kaum elit. Terlebih lagi, presiden Jokowi bermain janji soal membuka Papua untuk wartawan, namun selalu mencekoki wartawan dari sumber militer atau polisi. Sulit untuk mendapatkan berita dan informasi yang valid dari sana. Ketika kekerasan ini ditutup-tutupi ia akan semakin menjadi penyakit, seperti nanah di bisul yang sangat besar. Dan ini rentan disusupi pihak-pihak yang ingin ambil kuasa: kasih senjata ke rakyat, maka resistensi akan berjalan dengan sendirinya dan berapi-api. Seperti pepatah lama, ikan busuk ditutup-tutupi, baunya akan tercium juga.
Dari sisi Neo Marxisme, kita bisa melihat kesamaan governmentality Foucault dengan ideological state apparatus milik Althusser. Negara yang mensponsori kekekerasan, turut mengajarkan kekerasan sebagai bagian dari ideologinya. Di Indonesia, ISA menjalankan fungsinya secara berbeda-beda di banyak wilayah. Di beberapa wilayah rakyat dibuat pasif, di wilayah lain dibuat aktif dan reaktif, seperti gerakan-gerakan paramiliter berbasis nasionalisme atau agama. Ini membawa kita pada penutup esei ini: kekerasan sebagai bagian dari politik identitas.
Trend yang saat ini terjadi, pilkada dan pilpres nantinya akan diwarnai dengan politik identitas, yaitu menggunakan kesamaan-kesamaan ideologi baik agama, suku, atau ras dalam mengambil kuasa politik. Ini adalah trend yang sedang berlangsung, khususnya semenjak presiden Trump naik tahta di Amerika Serikat. Banyak ahli politik bilang bahwa trend ini harusnya dipandang biasa-biasa saja, sebagai bagian dari konservatifisme publik. Namun di sisi lain kita bisa melihat kekalahan ideologi multikulturalise dan pluralisme palsu yang digadang-gadang kaum neoliberal–kesemuan perbedaan yang dibayangkan bisa terjadi asal semua ikut sistem timpang yang sama bernama modernisme.
Sekarang neoliberal berevolusi menunjukkan wujud aslinya sebagai sebuah ideologi yang kaku dan sangat konservatif, berpegangan pada kepentingan ekonomi dan manipulasi ideologi semata. Buat saya pribadi, trend politik identitas ini juga adalah bentuk kekecewaan terhadap platform-platform pemersatu bangsa, yang sudah puluhan tahun sangat lambat dalam memakmurkan rakyat dan bertekuk lutut pada modal. Sayangnya kekecewaan ini tidak bertujuan untuk mengubah sistem: pada akhirnya para penguasa juga bertindak sebagai kaum aristokrasi yang berpihak pada korporasi, lalu siklus akan sama saja seperti sebelumnya.
**
Kebanyakan masyarakat akan tetap menjadi pasif secara individual dan liar ketika dalam massa yang ramai. Bystanders, eksploitasi terhadap kekerasan, tetap akan terjadi. Di sini yang harus bergerak bukan pemerintah. Rakyat pun tidak bisa berpangku tangan pada korporasi, atau masuk politik untuk mengubah sistem–yang akan menjebak mereka pada akhirnya. Ujung-ujungnya, kekuatan komunitas menjadi kunci untuk perubahan, jaringan-jaringan komunitas dan kedigdayaan komunitas untuk membangun diri dan daerahnya sendiri.
Alat pembuat media sudah menjadi milik publik di banyak wilayah metropolitan atau yang punya akses ke metropolitan. Akhirnya kita akan berkontestasi dalam sebuah perang wacana dan kebudayaan, permainan identitas dan representasi. Komunitas bisa membuat apparatusnya sendiri, komunitas bisa memastikan bahwa orang yang susah harus ditolong secepatnya tanpa menunggu orang lain membantu. Individualisme hasil modernisasi dan ISA harus dilawan dan dihapuskan dengan mengajarkan kepedulian lewat media-media alternatif untuk publik.
Komunitas itu bisa dimulai sekarang, dimana pun Anda berada. Jangan takut untuk mengobrol dengan orang asing, jangan takut untuk bersosialisasi, dan jangan takut untuk menawarkan pertolongan. Lupakan gadget Anda yang bisa merekam itu, berhenti jadi bystander dan mulailah hidup dengan tujuan sederhana saja: membuat dunia yang lebih baik untuk generasi penerus, dunia yang peduli sesama, dunia yang membuat kekerasan dan kejahatan kebencian sulit untuk terjadi dan bukan karena takut pada hukum, polisi dan tentara, tapi karena kesadaran diri dan kemampuan lingkungan sosial untuk membantu mereka yang punya potensi kekekerasan dan kebencian. Dan itu dimulai sekarang!
***
Terima kasi sudah membaca tulisan panjang ini sampai selesai.
Jika kalian suka tulisan ini, bolehkah traktir saya kopi agar saya bisa tetap aktif menulis dengan mengklik tautan ini: