Ethnography, Filsafat, Memoir, Politik, Racauan

Sastra Jahat, Sastra Data

Sastra adalah ilmu tentang cerita. Cerita apa? Ya semua cerita, dari fakta yang diramu, hingga agama yang dianut; dari fiksi yang dilisan hingga diksi di tulisan. Tidak ada batas belajar sastra, selama kita memakai bahasa, dan karena bahasa membuat kita jadi manusia, sastra memanusiakan manusia.

Di jurusan fakultas Ilmu Budaya, sastra jadi lebih sempit artinya: semua yang tertulis sebagai teks, atau peninggalan artefak. Makanya ilmu sejarah dan arkeologi di UI masuk Fakultas Ilmu Budaya. Sementara yang tak tertulis, lisan, atau butuh pengumpulan riset lapangan yang berdasarkan omongan orang, masuknya ke FISIP.

Ini jadi agak problematik dan bisa diperdebatkan. Karena artinya Sastra Lisan, seperti folklore (bukan dongeng, tapi dongeng adalah salah satunya), tidak masuk Fakultas Ilmu Budaya. Folklore di UI jadi cabang Antropologi, dan di UI Antropologi masuk ke Fakultas Ilmu Sosial Politik. Pertentangan ini membuat di UGM, ilmu Antropologi masuk ke Fakultas Ilmu Budaya. Mana yang masuk akal? Mana yang benar? Ah, itu semua politik kampus saja. Ujung-ujungnya, Ilmu pengetahuan sebenarnya tak lebih dari kisah-kisah saja, Sastra semua! Bisa dibuat-buat dan bisa sangat kuat! Sastra, kisah, tulisan, bisa jadi kepercayaan dan bisa membunuh ribuan bahkan jutaan orang, kalau tidak menyelamatkan mereka.

Sinagog

Hitler membunuh Yahudi dengan narasi bahwa bangsa Arya Jerman adalah Ras unggul, simbolnya swastika. Padahal kalau kita baca teks arkeologi, Ras Arya berasal dari India dan kulitnya gelap-gelap. Swastika pun simbol dari budaya timur. Tapi narasi ‘Sastra’-nya Hitler yang banyak dianut orang Jerman saat itu. Hitler baca Nietzsche dan mengintretasikan tulisan Nietzsche yang campuran filsafat, sejarah, dan sastra, menjadi pembenaran untuk melakukan genosida terhadap Yahudi.

Indonesia, sebagaimana semua narasi tentang negara, adalah sastra juga. Sebuah traktat politik. Sebuah imajinasi yang dibagi. Begitupun institusi-institusi lain dari identitas hingga agama. Di Indonesia, genosida berdasarkan sastra dibuat berkali-kali lewat propaganda pemerintah. Dari mulai pemerintah kolonial terhadap berbagai etnis, pembantaian PKI, dan etnis China-Indonesia. Semua gara-gara cerita, yang kebanyakan tidak bisa terbukti kebenarannya.

Hari ini dengan adanya media sosial, alat propaganda dimiliki banyak orang. Semua bisa sebar cerita, semua bisa sebar hoax. Tukang cerita jadi laku dari jadi wartawan hingga buzzer. Profesi mahal jika bisa menerjemahkan teks-teks teknik yang ribet menjadi teks narasi yang mudah dinikmati. Dan dari semua pabrik cerita, korporat internasional, seperti VOC jaman dulu, punya alat cerita paling besar. Modal paling besar: infrastruktur.

Pemerintah negara kini tidak bisa berbuat banyak, apalagi kalau kementriannya ketinggalan jaman, PNS-nya gagap teknologi. Kita benar-benar sudah hidup di desa global McLuhan, dimana semua orang bisa punya komunitas sendiri-sendiri dengan bias dan persepsinya sendiri. Namun kita menuju ke sebuah singularitas, dimana dunia akan bersatu di bawah payung bank data. Di situ, ketika orang-orang gaptek pada pensiun atau dikerjai oleh sistem yang tidak mereka mengerti, sistem yang objektif, tidak manusiawi, dan hampir tidak bisa dikorup, maka kita semua pun akan jadi manusia yang dikendalikan oleh sistem.

Selama tidak mati , sepertinya kita akan baik-baik saja. Jadi robot biologis.

Filsafat, Politik, Racauan, Uncategorized

Ketakutan untuk Bergerak

Ada seorang kawan anggap saja namanya Joni, memposting sebuah video yang ia ambil dari hpnya di kereta. Ia ambil candid jadi kualitas gambar dan suaranya sangat-sangat buruk. Video itu menunjukkan sepasang suami istri dengan wajah yang sangat sayu dan kelelahan, menggendong anak mereka yang masih diinfus dengan selang.

Si Joni menyebar gambar itu di sosial media dengan sebuah caption, “Pasangan suami istri ini masuk dari Stasiun M. Saya tidak berani bertanya siapa mereka dan kenapa keadaan mereka seperti itu. Semoga dengan mengunggah video ini akan ada yang membantu mereka.”

Tidak ada keterangan apa-apa lagi. Tidak ada nama, latar belakang kejadian, apalagi alamat.

Lalu apa gunanya diunggah? Apa Joni berpikir dengan merekam dan mengunggahnya, maka ia lebih baik daripada para bystanders, penumpang-penumpang lain, yang juga tidak berbuat apa-apa di sana. Apa Joni tidak  berpikir bahwa ia sedang mengeksplotasi kesusahan orang lain, ketika gambar yang ia ambil dan ia sebar sama sekali tidak bisa punya efek apa-apa di dunia nyata selain rasa iba. Mungkin kalau ia edit video itu, kasih slow motion, kasih musik sedih, masih bisa menghibur orang yang menonton–seperti eksploitasi yang biasa dilakukan televisi.

*

Seorang profesor Neurosains Yahudi bernama Simon Baron-Cohen (masih sepupu dengan aktor pemeran Borat, Sacha), membuat buku berjudul “The Science of Evil.” Buku itu membahas  asal usul kejahatan dari sudut pandang neurosains. Kesimpulan dari buku itu adalah secara biologis manusia bisa dilahirkan dengan agresivitas tinggi dan empati rendah, atau sebaliknya agresivitas rendah, empati tinggi. Namun setting sosial juga membantu kita mengatasi agresivitas atau bisa juga membunuh empati kita. Ada beberapa hal yang bisa dibahas dari tesis Baron-Cohen ini.

Pertama, ia melawan tesis eksistensialisme tentang keberadaan mendahului isi. Jika kita membaca karya-karya Eksistensialisme, khususnya Sartre sebagai mantan Marxist, kita bisa menyimpulkan bahwa manusia punya kemampuan buat memilih dan sebuah tindakan adalah tanggung jawab penuh manusia tersebut. Ini pemikiran turunan dari mainfesto komunisme Marx soal kemampuan manusia menjadi agen perubahan dengan pendekatan konflik. Jadi manusia bertanggung jawab penuh dalam menjadi budak atau menjadi revolusioner. Namun buat Baron-Cohen, ada faktor genetik manusia yang membuat seseorang menjadi agresif atau pasif. Potensi menjadi ‘jahat’ berbeda-beda untuk setiap orang.

Kedua, Baron-Cohen memetakan bagaimana biologi punya peran yang sama dengan setting sosial masyarakat dalam membuat kejahatan. Seseorang yang lahir dengan bakat psikopat, jika ia ada di setting sosial yang menyadari potensi-potensi dirinya, maka ia bisa diajarkan mengendalikan dirinya. Seseorang dengan Asperger Sindrom (kadar empati sama dengan psikopat tapi tanpa agresivitas), bisa menjadi seorang jenius dalam setting sosial yang mengenali dirinya. Sebaliknya seseorang yang lahir dengan sensivitas dan empati tinggi, bisa menjadi bipolar atau psikopat dalam setting yang memaksanya menjadi keras untuk bertahan. Kemampuan adaptasi manusia, menentukan kepribadiannya.

Dalam buku itu, Baron-Cohen hendak menjawab pertanyaan yang menggangu dirinya semenjak ia menjadi pengungsi ke Amerika di zaman PD II: apa yang membuat manusia menjadi jahat. Ia tidak menyalahkan tetangga-tetangganya yang hendak membunuhnya pada zaman NAZI. Ia tidak menyalahkan orang-orang Jerman yang anti-semitis. Sebaliknya, ia melihat bahwa pembantaian Yahudi di Jerman adalah sebuah fenomena sosial yang hadir melalui proses biologi, sejarah dan sosialisasi yang sangat panjang.

article-2287071-033365df0000044d-9_964x1039

Sebagai Yahudi yang tahu pasti bagaimana NAZI mempraktekan eksperimen biologi, dan menginterpretasi teori evolusi Darwin menjadi sangat rasis, Baron-Cohen tidak hendak membawa masalah genetik kejahatan ini ke dalam ranah rasisme. Sebaliknya, ia merasa bahwa ini masalah bagi semua manusia. Potensi-potensi agresif, sadis, jika ada di konteks yang tidak sadar akan keberadaannya, bisa berbahaya.

Kebencian orang Jerman di PD II pada Yahudi dibangun perlahan dengan konteks kesenjangan kelas sosial dan politik dan mencapai titik puncaknya ketika Hitler yang megalomaniak berkuasa. Hitler memberi ruang pada orang-orang yang kadar psikosisnya tinggi (ia sendiri juga dikenal sebagai psikopat yang obsesif-kompulsif). Genosida hadir ketika semua konteks kejahatan dan kekerasan bersatu padu.

g30s-pki-gestapu-1965-12

Dalam konteks Indonesia dan kekerasan berbasis kebencian yang terjadi pasca kemerdekaan, kita bisa melihat itu bagaimana konteks bisa memfasilitasi kejahatan. Dari tragedi 1965, hingga tragedi-tragedi massif lain yang terjadi karena pergumulan politik elit, konteks justifikasi atas kekerasan dibuat dan diamini sedemikian rupa. Di sini satu kata menjadi kunci: Negara. Negara sebagai leviathan punya kemampuan untuk membendung konflik atau mensponsori genosida atau etnisida. Sebuah pemerintahan yang kuat, menurut Thomas Hobbes, akan membuat orang menjadi takut dan membuat kekerasan massal terbendung.

Namun di sini kita juga bicara soal apa yang disebut Michel Foucault sebagai Governmentality, atau (sederhananya) sifat negara, dimana pembunuhan bisa terjadi atas nama keamanan bersama. Pembunuhan atau opresi besar-besaran terhadap kaum minoritas bisa terjadi atas dasar logika ini: demi keamanan dan kenyamanan bersama, demi demokrasi milik mayoritas. Di sinilah persekusi terhadap minoritas seringkali terjadi, dan ketika negara diam saja, artinya sama saja negara ikut mensponsori persekusi tersebut.

Persekusi terhadap waria yang terjadi di Aceh baru-baru ini adalah contoh yang cukup pas. Daerah Istimewa ini punya hukum Syariah yang dalam banyak hal bertentangan dengan hukum negara Indonesia yang sekuler. Namun dengan adanya otonomi daerah dan status daerah istimewa, negara jadi tidak bisa berbuat apa-apa menanggapi anarki yang terjadi di Aceh, dimana persekusi dilakukan tanpa dasar hukum yang jelas, melanggar hak konstitusional orang: ratusan waria ditangkap, dicukur, dan dipaksa menjadi lelaki.

Di sini, ketika negara diam saja, saya tekankan kembali, negara mensponsori kekerasan.

Kita juga bisa melihat contoh paling sadis yang nampaknya tak pernah berakhir: okupasi Papua oleh Indonesia dan korporasi. Dari sekian banyak okupasi korporasi pada lahan rakyat, Papua adalah yang paling sadis. Kerusakan lingkungan dan kebudayaan terus didukung oleh negara dan kaum elit. Terlebih lagi, presiden Jokowi bermain janji soal membuka Papua untuk wartawan, namun selalu mencekoki wartawan dari sumber militer atau polisi. Sulit untuk mendapatkan berita dan informasi yang valid dari sana. Ketika kekerasan ini ditutup-tutupi ia akan semakin menjadi penyakit, seperti nanah di bisul yang sangat besar. Dan ini rentan disusupi pihak-pihak yang ingin ambil kuasa: kasih senjata ke rakyat, maka resistensi akan berjalan dengan sendirinya dan berapi-api. Seperti pepatah lama, ikan busuk ditutup-tutupi, baunya akan tercium juga.

ulet-ifansasti-papua-indonesia-gold-mine-3

Dari sisi Neo Marxisme, kita bisa melihat kesamaan governmentality Foucault dengan ideological state apparatus milik Althusser. Negara yang mensponsori kekekerasan, turut mengajarkan kekerasan sebagai bagian dari ideologinya. Di Indonesia, ISA menjalankan fungsinya secara berbeda-beda di banyak wilayah. Di beberapa wilayah rakyat dibuat pasif, di wilayah lain dibuat aktif dan reaktif, seperti gerakan-gerakan paramiliter berbasis nasionalisme atau agama. Ini membawa kita pada penutup esei ini: kekerasan sebagai bagian dari politik identitas.

Trend yang saat ini terjadi, pilkada dan pilpres nantinya akan diwarnai dengan politik identitas, yaitu menggunakan kesamaan-kesamaan ideologi baik agama, suku, atau ras dalam mengambil kuasa politik. Ini adalah trend yang sedang berlangsung, khususnya semenjak presiden Trump naik tahta di Amerika Serikat. Banyak ahli politik bilang bahwa trend ini harusnya dipandang biasa-biasa saja, sebagai bagian dari konservatifisme publik. Namun di sisi lain kita bisa melihat kekalahan ideologi multikulturalise dan pluralisme palsu yang digadang-gadang kaum neoliberal–kesemuan perbedaan yang dibayangkan bisa terjadi asal semua ikut sistem timpang yang sama bernama modernisme.

rijik4

Sekarang neoliberal berevolusi menunjukkan wujud aslinya sebagai sebuah ideologi yang kaku dan sangat konservatif, berpegangan pada kepentingan ekonomi dan manipulasi ideologi semata. Buat saya pribadi, trend politik identitas ini juga adalah bentuk kekecewaan terhadap platform-platform pemersatu bangsa, yang sudah puluhan tahun sangat lambat dalam memakmurkan rakyat dan bertekuk lutut pada modal. Sayangnya kekecewaan ini tidak bertujuan untuk mengubah sistem: pada akhirnya para penguasa juga bertindak sebagai kaum aristokrasi yang berpihak pada korporasi, lalu siklus akan sama saja seperti sebelumnya.

**

Kebanyakan masyarakat akan tetap menjadi pasif secara individual dan liar ketika dalam massa yang ramai. Bystanders, eksploitasi terhadap kekerasan, tetap akan terjadi. Di sini yang harus bergerak bukan pemerintah. Rakyat pun tidak bisa berpangku tangan pada korporasi, atau masuk politik untuk mengubah sistem–yang akan menjebak mereka pada akhirnya. Ujung-ujungnya, kekuatan komunitas menjadi kunci untuk perubahan, jaringan-jaringan komunitas dan kedigdayaan komunitas untuk membangun diri dan daerahnya sendiri.

Alat pembuat media sudah menjadi milik publik di banyak wilayah metropolitan atau yang punya akses ke metropolitan. Akhirnya kita akan berkontestasi dalam sebuah perang wacana dan kebudayaan, permainan identitas dan representasi. Komunitas bisa membuat apparatusnya sendiri, komunitas bisa memastikan bahwa orang yang susah harus ditolong secepatnya tanpa menunggu orang lain membantu. Individualisme hasil modernisasi dan ISA harus dilawan dan dihapuskan dengan mengajarkan kepedulian lewat media-media alternatif untuk publik.

Komunitas itu bisa dimulai sekarang, dimana pun Anda berada. Jangan takut untuk mengobrol dengan orang asing, jangan takut untuk bersosialisasi, dan jangan takut untuk menawarkan pertolongan. Lupakan gadget Anda yang bisa merekam itu, berhenti jadi bystander dan mulailah hidup dengan tujuan sederhana saja: membuat dunia yang lebih baik untuk generasi penerus, dunia yang peduli sesama, dunia yang membuat kekerasan dan kejahatan kebencian sulit untuk terjadi dan bukan karena takut pada hukum, polisi dan tentara, tapi karena kesadaran diri dan kemampuan lingkungan sosial untuk membantu mereka yang punya potensi kekekerasan dan kebencian. Dan itu dimulai sekarang!

Filsafat, Politik, Racauan, Uncategorized

Politik Kebodohan

Dalam politik, seringkali tidak diperlukan fakta, ilmu pengetahuan atau logika; namun fakta, ilmu pengetahuan dan logika memerlukan politik untuk bisa memajukan masyarakat.

Itu adalah hal yang saya pelajari ketika melihat bagaimana politik bekerja di banyak masyarakat di dunia. Politik adalah sebuah seni, dan seni selalu melebihi kenyataan, fakta atau logika. Seni memerlukan imajinasi, kreatifitas, dan kecakapan dalam menggunakan peralatannya: kostum, media, dll. Seni politik, sementara itu, adalah seni yang tujuannya hanya satu: kuasa.

Kuasa sendiri memiliki makna yang luas, dari yang sederhana dengan menggunakan kekuatan fisik semata, sampai yang kompleks dengan kekuatan simbolik seperti bahasa, referensi, hubungan sosial dan modal. Permainan kuasa, karenanya, menghalalkan apa saja, dari tipuan sampai manipulasi kenyataan. Dari membunuh satu orang martir, sampai membantai jutaan orang dalam sebuah genosida. Yang terpenting adalah tujuannya tercapai, dan tujuan ini tidak pernah sesederhana ‘menguasai dunia’.

 

insides-of-pinky-and-the-brain-80356

Tujuan politik, bahkan yang paling sederhana sekalipun, bergantung pada konteks yang lebih besar dari tubuh individual itu sendiri. Sebuah tindakan pembunuhan dalam masyarakat sederhana, macam Qabil membunuh Habil, mewakili sebuah perebutan kuasa atas tubuh perempuan dan kuasa akan lahan. Setiap individu membawa dalam dirinya representasi-representasi. Keempat anak Adam, misalnya, membentuk oposisi biner dalam budaya agama semit.  Habil sebagai lelaki ideal yang baik dan altruistik, Qabil sebagai lelaki jahat dan egoistik, Lubuda sebagai perempuan buruk rupa, dan Iqlima sebagai perempuan cantik. Di sini lelaki dinilai dari kualitasnya, dan perempuan dinilai dari kuantitasnya.

Representasi-representasi ini adalah imajinasi politik. 

Kuasa politik didapat dengan cara membuat imajinasi politik menjadi kenyataan. Caranya dimulai dengan berbagi imajinasi dengan masyarakatnya. Imajinasi yang pertama kali dibagi adalah melalui bahasa. Bahasa mengajarkan posisi diri sendiri dan orang lain. Ketika seorang bayi belajar menyebut bapak dan ibu, ia pun belajar posisinya sebagai seorang anak yang tidak boleh memanggil bapak atau ibunya dengan sebutan nama langsung, khususnya dalam budaya timur. Dalam keluarga konvensional anak akan belajar bahwa bapak adalah kepala rumah tangga dan ibu adalah ‘milik bapak.’ Bapak adalah imam dan anak istrinya adalah makmum.

Ketika masyakarat menjadi lebih kompleks dan teknologi media berkembang dengan ditemukannya tulisan, mesin cetak, lalu media elektronik, imajinasi-imajinasi semakin dinamis berbenturan satu sama lain, berebut tempat dalam kenyataan. Agama yang pada awalnya hanya dikuasai segelintir orang pemilik kitab suci, tiba-tiba mendapat perlawanan dengan cara-cara yang berbeda dalam menafsirkan firman Tuhan. Mashab-mashab bermunculan, perang saudara, perang agama, masa kegelapan berlangsung hanya demi mewujudkan imajinasi soal Tuhan dan dunia Tuhan yang ia percaya. Dunia dijalankan oleh para psikopat delusional. Masa-masa itu tak pernah berakhir, kita masih bisa melihatnya di Timur Tengah hari ini.

isis-2_2591265a
ISIS. Sumber gambar: The Sun

Imajinasi politik non-agama juga tidak kalah mengerikan. Sejarah mencatat Hitler sebagai salah satu diktator paling parah yang ingin mewujudkan dunia ras Arya. Dia berpikir ke depan dengan cara yang sangat-sangat salah. Efeknya tidak main-main: imajinasi Hitler yang telah membantai jutaan orang, membuat sekelompok ras/agama Yahudi mengamini imajinasi mereka yang lain soal negara bernama Israel. Itu jadi masalah kita hari ini, di mana mereka yang sekuler dan konon ras paling cerdas ini, menduduki Palestina dengan alasan Agama dan janji Tuhan mereka akan tanah Perjanjian. Kelindan antara sekularisme dan agama ini membingungkan, saya tahu. Tapi seperti pembukaan tulisan ini, politik tidak pernah masalah logika, tapi kuasa.

Raving_mad_Hitler.gif

Lalu kita bertemu dengan ilmu pengetahuan, sains, yang logis, matematis, eksakta, dan konon, tidak pernah bohong. Banyak orang atheis atau agnostik berharap bahwa ilmu pengetahuan tidak akan mengkhianati mereka; bahwa Tuhan tidak ada kecuali jika bisa dibuktikan ada secara rasional dan empiris. Selama seratus tahun belakangan ini, banyak dari kita percaya bahwa teknologi dan ilmu pengetahuan adalah mesin anti-politik (anti-political machine). Bahwasannya banyak masalah di dunia ini bisa diselesaikan dengan teknologi dan ilmu pengetahuan, karena itu objektif.

Tapi bisa jadi masalah terbesar kita di abad ini adalah karena ilmu pengetahuan dan sains. Seratus tahun belakangan ini, terjadi banyak revolusi. Dan kerusakan terbesar datang bukan dari revolusi politik, tapi dari revolusi industri dan Iptek. Perang memang membunuh banyak orang, tapi perang-perang seratus tahun belakangan ini bukan semata-mata karena Tuhan. Imajinasi akan negara dan industrialisasi menimbulkan perang-perang akan sumber daya alam. Lalu ilmu pengetahuan dan teknologi yang dikembangan seratus tahun belakangan ini juga berpusat pada eksploitasi terhadap alam dan manusia. Sepanjang sejarah planet ini, sumber daya yang dibentuk ratusan juta tahun, benar-benar dikuras dalam jangka waktu kurang dari seabad. Global warming yang terjadi abad ini adalah yang tercepat dan yang terparah sepanjang sejarah homo sapiens tinggal di bumi.

tumblr_n48sxopo1z1sjwwzso1_500

Pola pikir sains dan Iptek yang seperti mesin ini butuh sentuhan perempuan, sentuhan seorang ibu yang memelihara dan membesarkan alam. Bukan sentuhan seorang bapak yang membentuk alam seperti apa maunya seperti yang selama ini dilakukan. Sains pun ternyata butuh untuk belajar pada suku-suku pedalaman yang memperlakukan alam seperti ibu mereka, termasuk dalam membuat energi terbarukan menggunakan tenaga matahari, tenaga air atau tenaga surya. Film dokumenter “This Changes Everything,” memaparkan perlawanan-perlawanan orang-orang di seluruh dunia terhadap ekspansi sains dan teknologi Industri yang merusak alam dan penghidupan banyak orang lokal. Argumen film tersebut sangat kuat: bahwa sains dan teknologi selama ini dibawa ke arah yang salah, arah eksploitasi sumber daya alam.

Namun tentunya, isu Climate Change juga mengalami perlawanan dari kaum pengusaha konservatif yang penghasilannya dari sumber daya alam. Semua perang yang telah terjadi untuk perebutan sumber daya alam bisa percuma kalau semua konsumen mengkonversi kebutuhan energinya pada matahari, air, atau angin. Teknologi-teknologi baru tersebut harus tetap dibuat mahal dan tak terjangkau, hingga teknologi lama yang eksploitatif tetap bisa laku. Inilah hubungan haram antara politik-ekonomi-teknologi yang harus kita kritisi tanpa lelah. Sudah saatnya sains lebih membuka diri pada apa yang mereka anggap ‘tradisional’, seperti budaya-budaya teknologi lokal, dan mengembangkannya untuk membuat teknologi yang lebih ramah lingkungan dan accessible untuk masyarakat luas. Namun lagi-lagi kita akan mentok pada kebodohan. Di sini saya akan mulai masuk ke Politik Kebodohan.

 

Politik kebodohan adalah sebuah cara menunjukkan kuasa dengan membuat pernyataan yang jelas-jelas salah secara faktual dan logika sederhana, jauh dari bukti atau argumen sahih, tapi toh tetap dimajukan sebagai argumen dan, ironisnya, seringkali dimenangkan.

Biasanya politik kebodohan bisa memungkinkan karena ada yang salah dalam sebuah institusi politik, atau representasi yang diwakili oleh seorang individual yang mengeluarkan pernyataan tersebut. Individualnya salah, namun institusinya memungkinkannya untuk bisa memberikan pernyataan salah tersebut. Contoh yang paling mendunia saat ini adalah Donald Trump.

trump-article-header

Bagaimana mungkin seorang pengusaha yang bukan politikus karir, dengan pernyataan-pernyataan yang seringkali seksis dan rasis, bisa menjadi satu-satunya calon dari partai Republican dan memiliki jutaan pendukung? Untuk itu, kita tidak harus membicarakan Donald Trump. Kita harus membicarakan institusi yang ia wakili: rakyat kulit putih konservatif Amerika dan partai Republican.

Rakyat kulit putih konservatif Amerika, yang sebutan stereotipenya adalah kaum Red Neck, mendukung Donald Trump karena alasan-alasan yang sederhana: ketakuan kehilangan kuasa atas tanah dan pekerjaan. Dalam perjalanan saya ke beberapa desa di Amerika, saya menemukan hal-hal yang luar biasa menakutkan untuk saya sebagai pendatang dari Asia: ada sebuah restoran yang menempatkan papan besar, “White people only,” (hanya untuk kulit putih). Ada juga sebuah gubuk kayu besar (Shack) dengan tulisan, “Guns available,” yang menandakan bahwa gubuk itu menjual senjata api secara bebas. Restoran dan gubuk senjata itu berada di dua desa yang berbeda yang tidak perlu saya sebutkan dimana. Toh, jikapun Anda ke sana, seperti saya, kemungkinan Anda tak sudi mampir, kecuali jika ingin merasakan panasnya peluru di pantat Anda. Kesamaan di dua desa ini adalah, banyak di halaman rumah mereka terpampang papan: “TRUMP: MAKE AMERICA GREAT AGAIN.”

12289674_865102096941936_1974828997264139924_n1

 

Sementara itu, politisi partai Republican kalang kabut mendapati Trump menang sebagai calon mereka. Ini membuktikan betapa hancurnya pengkaderan kepimimpinan partai sayap kanan tersebut. Pasca Bush dan 9-11, lalu krisis ekonomi Amerika tahun 2008, partai yang beranggotakan banyak orang Kristen kaya raya ini tidak berhasil membuat kader-kader yang berkualitas. Menurut saya ini terjadi karena cara politik mereka adalah Politik Kebodohan itu: dengan modal hubungan sosial dan modal, mereka tidak perduli apakah pembenaran mereka soal perang Timur Tengah, atau tuduhan merka bahwa Global Warming adalah propaganda itu salah. Mereka hanya perduli pada ‘kepentingan’ (interest) bahwa perang Timur Tengah menguntungkan pengusaha  dan industri senjata, dan jika Global Warming adalah propaganda, maka mereka bisa terus mengeksploitasi sumber daya. Imajinasi inilah yang mereka tekankan terus-menerus, dan akhirnya Trump masuk mengambil momentum. Karena dari semua capres Republican, Donald Trump adalah yang paling TIDAK PERDULI.

Trump tidak perduli kalau ia seringkali tidak konsisten dalam memberi pernyataan. Ia tidak perduli soal partai politik, ia tidak perduli soal ekonomi Amerika, atau politik luar negerinya. Trump adalah entertainer/entrepreneur sejati yang benar-benar mengenal penontonnya: orang kulit putih konservatif, atau orang yang punya ‘interest’ dalam usahanya. Pengalamannya di televisi membuatnya paham bahwa kontroversi menjual, dan media selalu akan membuat orang tolol semakin terkenal, jika orang tolol itu punya kuasa. Seperti anjing menggigit orang, Donald Trump tidak biasa karena dia orang tolol yang sangat kaya, dengan brand yang dekat dengan kata Triumph (menang). Ia ahlinya periklanan ilusi–propaganda industri dan pembangunan brand. Di sini kita bisa melihat satu lagi karakteristik Politik Kebodohan:

Politik kebodohan mengambil kuasa dari memperbodoh orang lain, dengan cara manipulasi informasi, propaganda, dan menghilangkan orang-orang yang memprovokasi massa untuk berpikir. Politik kebodohan berpegangan pada satu prinsip: menjadi bodoh adalah berkah (ignorant is a bliss).

Dalam politik kebodohan, kesederhanaan adalah segalanya. Pesan untuk massa rakyat harus sepopuler mungkin, dan sepopuler mungkin artinya sesingkat dan seklise mungkin. Masyarakat tak perlu tahu tujuan si politikus, tapi masyarakat hanya harus merasa berbagi imajinasi. Imajinasinya harus mendasar dan sederhana, seperti ketakutan akan kehilangan pekerjaan, atau iming-iming uang, atau  (ini yang akan selalu populer) ketakutan akan neraka.

Di Indonesia, politik kebodohan selalu bekerja dengan baik. Dalam pilpres Prabowo vs Jokowi tahun 2014 lalu, kedua kandidat sesungguhnya memiliki dua sisi tim kampanye: tim kampanye untuk elit politik, dan tim kampanye untuk massa rakyat. Tim kampanye untuk massa rakyat adalah tim yang menggunakan politik kebodohan itu. Prabowo menjual imej pemimpin keras, tegas, galak. Cocok dengan massa rakyat yang maskulin. Sementara itu Jokowi menjual sosok pemimpin yang wajahnya seperti petani, kurus, dan dekat dengan rakyat. Soal politik kebodohan, keduanya sama-sama. 50-50. Seandainya Demokrasi Indonesia diserahkan pada Rakyat sepenuhnya, tidak ada yang akan menang di antara Prabowo dan Jokowi.

14027988871694362327

Yang memenangkan Jokowi adalah politik elitnya. Pecahnya Golkar dengan merapatnya Jusuf Kalla ke Jokowi, serta diikatnya beberapa petinggi militer dan kepolisian dalam perjanjian politiklah yang memenangkan Jokowi. Belum lagi dukungan dari luar negeri seperti Amerika Serikat dan Australia–yang terus terang menentang Prabowo. Dari sisi Prabowo sendiri, kita melihat KMP yang isinya orang-orang oportunis dengan politik dua kaki: celup ke ember manapun yang menguntungkan. Seperti banyak pendapat para ahli, politik Koalisi ini takkan tahan lama begitu tidak dikasih makan kuasa.

Apakah ini artinya politik untuk rakyat adalah politik kebodohan dan politik untuk elit adalah politik sebenarnya? Ya dan tidak.

Pada negara-negara yang demokrasinya sudah maju, setiap rakyat adalah elit. Setiap rakyat sudah punya daya baca dan daya kritis untuk memilih dan paham konsekuensi pilihan politiknya. Kalau mau contoh, kita bisa melihat beberapa negara Eropa, dari pemilihan walikota di London, sampai negara-negara dengan sistem pendidikan dan demokrasi mutakhir seperti Finlandia, atau Islandia yang Perdana Menterinya langsung mundur begitu didemo soal Panama Papers. Tapi kalau daya baca rakyat dan elitnya rendah, dan hubungan antara pemerintah, rakyat dan militernya lebih banyak konflik daripada kerjasama, maka Politik Kebodohan akan mendominasi.

Maka itu muncullah imajinasi-imajinasi yang dipaksakan macam kebangkitan PKI. Imajinasi yang dipaksakan ini adalah sebuah delusi, yang ironisnya banyak dipercaya orang-orang dengan ketidakberdayaan intelektual yang sama. Orang-orang pengidap Phronemophobia akut, yang kebanyakan tidak bisa disembuhkan. Mereka hanya bisa menang lewat penipuan besar-besaran atau kekerasan. Dan ketika kalah argumen, mereka tidak akan mengaku kalah, tapi langsung menuduh dizalimi secara politik atau menuduh orang yang benar sebagai orang yang terdoktrin pihak lain. Kuliah umum Kiki Syahnakri soal Marxisme-Aristotelian, misalnya, jelas-jelas salah dan dihujat habis-habisan di Media Sosial. Tapi toh, nampaknya dia cuek saja.

Kiki Syahnakri tidak sendirian. Di Amerika, seorang pendukung Donald Trump garis keras yang masih misterius namanya, pernah melakukan hal yang sama di tahun 2013 ketika ia protes untuk melengserkan presiden Obama. Politik kebodohan ini adalah masalah universal, dan sesuatu yang terus-terusan dipakai dimana-mana.

mtm2njq0odk5njuzotuzmte5
Orang misterius yang protes melengserkan Obama dengan alasan bahwa Obama adalah Muslim dan Muslim adalah Marxist. Dia muncul lagi dalam kampanye Donald Trump tahun ini untuk mendukung sentimen anti-Islam.

Akhirnya, jika kita mau jadi orang baik, perjuangan utamanya adalah mencerdaskan bangsa. Membuat seluruh rakyat jadi elit yang berdigdaya, yang daya bacanya tidak hanya seperti anak kelas 4 SD jaman Orba. Membuat kesadaran dunia-akhirat, bahwasannya dunia tidak kalah penting dibanding akhirat. Warisan utama yang harus ditinggalkan adalah cara berpikir untuk bisa hidup menjadi manusia unggul yang bisa berfungsi baik secara sosial dan politik, dan mendasarkan hidupnya pada rasio dan empiris yang tidak terlepas dari kenyataan sosial yang ada. Warisan itu hanya bisa dilakukan dengan memenangkan politik kebodohan ini, dengan segala cara.