Alam, Cinta, Eksistensialisme, Puisi

Kendala Kundera

00.-unbearable

Kita berdua berdiri bergandengan tangan

di pinggir pantai matahari terbenam
dan rembulan perlahan muncul membirukan jingga

Kita berjanji bergandengan tangan
tapi bahtera tak kunjung tiba dan air laut naik
dan kaki kita terjangkar dan kita bergandengan dan kita berciuman dan kita bercinta dan air laut naik ke kaki, ke pinggang, ke perut, dada, leher, ke kepala

Dan kita tenggelam.

Untuk apa semua ini?

Aih, aku benci Milan Kundera
Ini semua akibat dia sakit perut di suatu pagi
dan menciptakan kita dan semua perselingkuhan!

Sial!

Moral Bengkok, Prosa

Duren Sore

Source: http://indoleader.com/index.php/megapolitan/2407-duh-makin-marak-pelacuran-di-jl-hayam-wuruk
Source: http://indoleader.com/index.php/megapolitan/2407-duh-makin-marak-pelacuran-di-jl-hayam-wuruk

Ratna tinggal di sebuah Mes di Cengkareng bersama dengan rekan-rekan seprofesinya. Setiap jam 4 sore, akan ada sebuah mobil kijang yang membawa Ratna dan 3 orang rekannya menuju ke Jalan Gajah Mada, Jakarta Pusat, untuk mulai bekerja. Mereka bekerja di emperan jalan, menunggu orang-orang bermobil datang. Mereka memiliki beberapa penjaga yang menyamar menjadi tukang ojek—menyamar karena tukang ojek-tukang ojek ini tak bermaksud mengantar siapapun kecuali pelacur-pelacur yang dititipkan pada mereka—untuk mengawal perempuan-perempuan ini ke hotel langganan dan memastikan mereka baik-baik saja, aman dari sadisme pelanggan. Namun kadang-kadang, kekerasan bisa jadi sebuah kesempatan. Pelanggan yang agak kasar bisa diperas sekitar 100 ribu untuk satu luka memar.

Baca lebih lanjut