Anthropology, Ethnography, Filsafat, Kurasi/Kritik, Politik, Racauan

Peradaban Sains Islam, Bagian V: Emas Yang Jadi Abu, sebuah Kesimpulan

Diterjemahkan tanpa izin dari tulisan Hilel Ofek, di jurnal The New Atlantic, no. 30 tahun 2011, halaman 3-23, Why The Arabic World Turned Away From Science. 

Baca dari awal bagian I 

Disclaimer penerjemah: Bagian-bagian terakhir dari terjemahan tulisan ini mengandung sedikit bias orientalisme dari penulis. Saya sendiri sebagai Muslim Indonesia, tidak setuju dengan beberapa hal yang dipaparkan penulis, namun demi semangat belajar dan kesetiaan terjemahan, saya akan menulis apa adanya. Saya tidak bertanggung jawab atas apa yang dipaparkan di sini, namun saya akan menulis sebuah kritik terhadap terjemahan ini setelah semua terjemahan ini selesai terbit. Saya harap ini juga bisa memicu diskusi lebih jauh yang berlandaskan fakta-fakta sejarah dan sumber primer yang logis dan berstandar akademik, sepeti teks asli Mr. Ofek. Gambar dan caption di blog ini adalah tanggung jawab penerjemah.

0_1024_ripleyscroll
Alkimia, salah satu peninggalan Zaman Keemasan Islam, yang berusaha mengubah benda-benda jadi emas. Walau hasilnya gagal, tapi ini menjadi dasar ilmu Kimia modern.

Standar Emas?

Dalam usaha menjelaskan kemunduran intelektual dunia Islam, penting untuk menunjuk beberapa faktor penting: otoritarianisme, pendidikan buruk, dan kurang dana (Negara Muslim menghabiskan dana pendidikan lebih rendah daripada riset dan pengembangan di negara berkembang, dalam presentase PNB-nya). Tapi alasan-alasan ini terlalu luas dan masih kasar, dan membuat lebih banyak pertanyaan daripada jawaban. Di level yang lebih rendah, Islam mundur karena ia gagal untuk menawarkan cara untuk menginstitusionalisasi pemikiran bebas. Karenanya, ia gagal untuk menggabungkan antara iman dan rasio. Di banyak titik, masyarakat Islam lebih mundur bukan hanya dibanding dengan dunia Barat, tapi juga lebih mundur dari masyarakat Asia. Dengan beberapa negara pengecualian, setiap negara di Timur tengah yang menjadi bagian dunia Islam, dipimpin oleh otokrat, sekte Islam radikal, atau kepemimpinan suku. Islam tidak memiliki tradisi dalam memisahkan politik dan agama.

Kejatuhan peradaban Islam dan kemunculan peradaban Kristen adalah perkembangan yang memalukan untuk kaum Muslim. Karena Islam cenderung menempatkan kekuatan politiknya melalui klaim bahwa agamanya lebih tinggi dari agama lain, kemunduran kekuasaan duniawi Islam menimbulkan pertanyaan mendalam di mana kesalahan terjadi. Kurang lebih beberapa abad belakangan ini, banyak pembaharu Muslim berdebat, bagaimana cara mendapatkan kembali kehormatan yang hilang. Di periode yang sama, dunia Muslim mencoba, dan gagal, untuk membalik keadaan dengan meminjam teknologi Barat dan ide-ide sosial politiknya, termasuk soal sekularisme dan nasionalisme. Sebaliknya, rasa “modernisasi” ini justru membuat banyak Muslim jauh dari modernisasi. Ini menimbulkan pertanyaan baru: Dapatkah atau haruskah pencapaian Islam di masa lalu menjadi standar untuk Islam masa depan? Lagipula, sudah wajar untuk mengatakan, seperti yang Presiden Obama bilang, pengetahuan tentang sains Arab di zaman keemasan bisa bagaimana pun mendorong dunia Islam untuk berkembang sendiri, dan tidak begitu membenci Barat.

Cerita tentang sains Arab menawarkan jendela bagaimana hubungan antara Islam dan modernitas; mungkin juga, ia memegang prospek Islam kembali ke prinsip-prinsip yang ia sangat butuhkan untuk makmur, seperti persamaan hak antar gender, aturan hukum, dan kehidupan sipil yang bebas. Tapi kebanyakan orang Muslim hari ini lebih banyak berpikir bahwa kehidupan yang baik ditentukan dengan kembali kepada masa lalu yang murni dan saleh — dan bentuk ini terbukti beracun ketika berhadapan dengan modernitas. Islamisme, sebab utama kekerasan yang sering kita lihat di dunia sekarang sayangnya sangat dekat dengan sebuah doktrin yang ditandai nostalgia dalam pada era Islam klasik. Hingga hari ini, bilang bahwa al-Quran tidak setara dengan Allah bisa membuat orang dicap kafir.

Namun tetap saja, perkembangan intelektual dan keterbukaan budaya pernah terjadi di masyarakat Arab. Jadi sepanjang ingin melihat masa lalu, nostalgia salah yang fanatik bisa dijinakan. Beberapa Muslim pembaharu telah menunjukkan bahwa banyak Muslim di abad pertengahan menggunakan rasio dan ide modern sebelum masa modern, dan menggunakannya tidak berarti tidak saleh. Tidak juga berarti keduniawian mengalahkan akhirat. Di tataran intelektual, usaha ini bisa diperdalam dengan menantang ortodoksnya Ash’ari yang telah mendominasi Islam Suni selama seribu tahun — yaitu, dengan menanyakan apakah al-Ghazali dan kaum Ash’ari-nya benar-benar mengerti alam, teologi dan filsafat lebih baik daripada kaum Mu’tazilah.

Tetapi ada alasan-alasan kenapa dorongan untuk meniru nenek moyang Muslim, bisa jadi salah arah. Salah satunya, Islam abad pertengahan tidak menawarkan standar politik yang pantas. Jika dibandingan standar Barat, Sains Arab Zaman Keemasan Islam bukanlah Zaman Keemasan untuk Kesetaraan. Ketika Islam dibilang lumayan toleran dengan penganut agama lain, toleran hari ini berbeda dari toleran zaman Muslim (ataupun Kristen) awal. Seperti yang dikatakan Bernard Lewis dalan Yahudi dalam Islam (1984), memberikan hak yang sama kepada umat dan non-umat tidak hanya dilihat sebagai hal aneh, tapi juga “kelalaian dalam bertugas.” Yahudi dan Kristen adalah warga nomor dua dalam status sosiopolitis ketika awal zaman Muhammad, dan tekanan kekhalifahan Abbasid juga termasuk persekusi dan pemusnahan gereja dan sinagog. Zaman Keemasan juga era dimana perbudakan terhadap orang dengan kelas lebih rendah terjadi secara luas. Dengan semua pencapaian abad pertengahan Arab, cukup jelas bahwa sejarah sosial dan politisnya tidak bisa dipakai sebagai standar hari ini.

Namun ada banyak lagi alasan fundamental kenapa tidak masuk akal untuk menekan dunia Muslim agar kembali ke bagian masa lalunya yang menghargai rasio dan penelitian bebas; kembali ke masa Mu’tazilah tidaklah cukup. Bahkan aliran Islam yang paling rasional pun tidak pernah menekankan pentingnya rasio. Seperti yang dikatakan Ali A. Allawi dalan Krisis Peradaban Islam (2009), “Tidak ada aliran pikiran-bebas dalam Islam klasik —  seperti Mu’tazilah —  yang bisa menerima ide putusnya Allah-Manusia dan mengkritisi validitas al-Quran, walaupun mereka mendukung filsafat rasio.” Maka, di tahun 1889, akademisi Hungaria Ignaz Goldziher mencatat di eseinya “Perilaku Islam Ortodok kepada ‘sains kuno’” bahwa bukan hanya Ash’ari tapi juga Mu’tazilah yang “membuat banyak risalah polemik terhadap filsafat Aristotelian dan logika secara khusus.” Bahkan sebelum serangan al-Ghazali pada kaum Mu’tazilah, membaca filsafat Yunani tidaklah aman di luar kondisi tertentu, itu pun sifatnya sementara.

Tetapi yang lebih penting, mempopulerkan aliran rasionalis yang lama tidak akan mengajak orang Muslim lebih jauh dalam merefleksikan masalah teologi-politik Islam. Atas semua bantuan besar dalam menemukan kembali filsuf Arab yang berpengaruh (khususnya al-Farabi, Ibnu Rushid dan Musa bin Maimun/Maimonides) bisa menyediakan sebuah reinterpretasi Islam yang menantang prinsip pemerintahan komprehensif agama tersebut, dalam cara yang secara bersamaan meyakinkan orang Muslim bahwa mereka benar-benar kembali ke ajaran fundamental Islam ketika memakai sains dan filsafat. Karena belum ada ajaran di tradisi Islam yang bisa mengkritik agamanya sejauh Luther dan Calvin di Kristen.

Walaupun banyak hal yang kurang di dunia Islam, orang Muslim tetap bangga pada warisannya. Yang dibutuhkan justru mengurangi kebanggaan itu dan menambah kritik terhadap diri sendiri.

Ada alasan terpenting kenapa tidak perlu mendorong orang Muslim kembali ke masa lalunya: walaupun banyak hal yang kurang di dunia Islam, orang Muslim tetap bangga pada warisannya. Yang dibutuhkan justru mengurangi kebanggaan itu dan menambah kritik terhadap diri sendiri. Hari ini, kritik Muslim terhadap agamanya hanya dihargai sejauh ia bisa membuat orang Muslim lebih saleh dan rohaninya tidak korup. Dan kebanyakan kritik kaum Muslim adalah ke luar agama Islam, ke Barat. Praduga ini — apa yang disebut Fouad Ajami (merujuk dunia Arab) sebagai “sebuah tradisi politik untuk memerangi rasa rendah diri” — jelas jadi masalah utama Islam. Itu membuat segala informasi yang berlawanan dengan kepercayaan ortodoks jadi irrelevan, dan itu juga menutup debat ilmiah dan sejarah Islam sendiri.

maxresdefault
Salah satu penceramah dengan teknik al-Ghazali yang cukup terkenal hari ini adalah Zakir Naik. Berbeda dengan Mohammed Yusuf, Naik menggunakan logika yang diputarbalik, menghakimi agama dan kepercayaan lain, dan melakukan pertunjukkan-pertunjukkan spektakuler dalam “pura-pura dialog antar agama”, padahal tujuannya menjatuhkan. Akal dan logika seringkali dipakai hanya dalam kerangka ‘mempersalahkan’ pihak lain, jarang mengkritik agamanya sendiri.

Dalam konteks ini, penelitian atas sejarah sains Arab, dan pemulihan serta riset manuskrip era itu, mungkin bisa memberikan keuntungan —  selama dilakukan secara analitis. Artinya orang Muslim harus menggunakannya di dalam tradisi mereka sendiri untuk secara kritis berkenalan dengan kelemahan-kelemahan filosofi, politis, dan kesalahan yang ditemukan. Jika itu terjadi, perkembangan itu bukan karena usaha Barat, tapi akan jadi konsekuensi keinginan, kreatifitas, dan kebijaksaan kaum muslim sendiri –pendeknya, cara-cara itulah yang dipelajari Barat dari kaum Muslim di Zaman Keemasan.


Hillel Ofek adalah penulis yang tinggal di Texas, Amerika Serikat

Iklan
Anthropology, Ethnography, Filsafat, Kurasi/Kritik, Politik, Racauan, Uncategorized

Peradaban Sains Islam Bagian III: Al-Ghazali yang Mengakhiri Ilmiah dan Mengembalikan Mistisisme

science-in-a-golden-age-chemistry

Diterjemahkan tanpa izin dari tulisan Hilel Ofek, di jurnal The New Atlantic, no. 30 tahun 2011, halaman 3-23, Why The Arabic World Turned Away From Science. 

Lihat bagian I dan bagian II

Disclaimer penerjemah: Bagian-bagian terakhir dari terjemahan tulisan ini mengandung sedikit bias orientalisme dari penulis. Saya sendiri sebagai Muslim Indonesia, tidak setuju dalam beberapa hal yang dipaparkan penulis, namun demi semangat belajar dan kesetiaan terjemahan, saya akan menulis apa adanya. Saya tidak bertanggung jawab atas apa yang dipaparkan di sini, namun saya akan menulis sebuah kritik terhadap terjemahan ini setelah semua terjemahan ini selesai terbit. Saya harap ini juga bisa memicu diskusi lebih jauh yang berlandaskan fakta-fakta sejarah dan sumber primer yang logis dan berstandar akademik, sepeti teks asli Mr. Ofek. Gambar dan caption di blog ini adalah tanggung jawab penerjemah.

Bagaimana Zaman Keemasan Pudar

Sementara Abad Pertengahan berlalu, peradaban Arab mulai kehilangan gairah. Selama abad dua belas, Eropa mulai memiliki sarjana sains melebih dunia Arab, seperti yang dikatakan sejarawan Harvard George Sarton dalam Pengantar Sejarah Sains (1928-48). Setelah abad ke empat belas, dunia Arab hanya menghasilkan sedikit inovasi di lahan yang tadinya mereka kuasai, seperti optik dan kedokteran; sejak saat itu kebanyakan inovasi bangsa Arab bukan di ranah metafisika atau sains, tapi lebih sempit dan praktis, seperti vaksin. “Renaissance, reformasi gereja, bahkan revolusi sains dan Pencerahan, lewat begitu saja tanpa disadari dunia Muslim,” tulis Bernard Lewis dalam Islam dan Barat (1993).

Ada sedikit kelahiran kembali sains di dunia Arab pada abad ke 19, sebagian besar disebabkan oleh ekspedisi Napoleon tahun 1798 ke Mesir, tapi tak lama kemudian jatuh lagi. Lewis mencatat di buku Apa yang Salah? bahwa “Hubungan antara Kristen dan Islam dalam ranah sains jadi terbalik. Mereka yang tadinya murid jadi guru; mereka yang tadinya guru jadi murid, dan seringkali jadi murid yang keras kepala dan pemarah.” Peradaban yang dulu menghasilkan kota-kota, perpustakaan-perpustakaan, dan observatorium perbintangan dan membuka diri kepada dunia kini jatuh menjadi tertutup, pemarah, penuh kekerasan, dan tak ramah pada wacana dan inovasi.

Apa yang terjadi? Untuk mengulang poin penting, kejatuhan ilmiah tidak hanya milik peradaban Arab-Islam. Kejatuhan seperti itu adalah norma sejarah; hanya di Barat memang terjadi sesuatu. Tetapi masih mungkin untuk mencari sebab-sebab spesifik kejatuhan itu –dan mencoba mengerti kenapa, bisa memperdalam pengertian kita tentang dunia Arab-Islam dan ketegangannya dengan modernitas. Seperti Sayyid Jamal al-Din al-Afghani, seorang figur berpengaruh dalam pan-Islamisme kontemporer, berkata di akhir abad sembilan belas, “Boleh saja … bertanya kenapa peradaban Arab, setelah memberikan begitu banyak cahaya ke dunia, tiba-tiba hilang; kenapa obor ini tidak bisa dinyalakan lagi sejak itu; dan kenapa dunia Arab masih terkubur di dalam kegelapan.”

Seperti tidak ada penjelasan sederhana tentang kesuksesan sains Arab, tidak ada juga penjelasan sederhana tentang kejatuhannya– kejatuhan yang tidak tiba-tiba, kata al-Afghani. Faktor paling signifikan adalah faktor fisik dan geopolitik. Sejak awal abad sepuluh atau sebelas, kerajaan Abbasid mulai terfaksi dan terbagi karena banyaknya otonomi propinsi dan pemberontakan. Pada tahun 1258, kekuasaan Abbasid tinggal sedikit sekali karena tersapu invasi Mongol. Dan di Spanyol, Kristen menguasai kembali Kordoba di tahun 1236 dan Seville di tahun 1248. Namun kemunduran Islam dari keilmuan sebenarnya mendahului kejatuhan geopolitik peradaban itu — kita bisa melihatnya dari naiknya aliran Ash’arism yang anti-filfasat diantara para santri Sunni, yang menjadi mayoritas di seluruh dunia Islam.

Untuk mengerti gerakan anti-rasional ini, kita harus kembali ke masa Khalifah al-Mamun dari dinasti Abbasid. Al-Mamun mengambil obor keilmuan yang dinyalakan pendahulunya al-Mansur, dan melarikan obor itu lebih jauh. Ia merespon sebuah krisis legitimasi dengan menekan santri keagamaan yang tradisional, dan secara aktif mensponsori doktrin yang disebut Mu’tazilah, yang banyak dipengaruhi oleh rasionalisme Yunani, khususnya Aristotelian. Di sini, ia menyelidiki semua orang yang tidak setuju dengan gerakan Mu’taziliah, dan menghukum mereka dengan pencambukan, penjara, bahkan pancung. Namun khalifah penerus al-Mamun tidak tertarik mengurus masalah ini, dan lama-kelamaan, keadaan mulai terbalik. Mereka yang mengikuti Mu’tazilah jadi bisa dihukum. Pembalasan terhadap Mu’tazilah sangat sukses: pada tahun 885, setengah abad setelah kematian al-Mamun, bahkan menyalin buku filsafat menjadi kejahatan. Di sinilah awal dari de-hellenisasi kebudayaan tinggi Arab. Pada abad ke dua belas atau tiga belas, pengaruh Mu’tazilah sudah sangat terpinggirkan.

Di tempat sains Arab jatuh muncul Ash’ari yang anti-rasional mendominasi. Dengan bertambahnya kaum ini, etos di dunia Islam mulai berlawanan dengan metode akademis dan sains yang tidak berkontribusi langsung dengan  dunia agama atau kehidupan publik. Ketika kaum Mu’tazilah percaya bahwa Al-Quran diciptakan Allah maka manusia harus menginterpretasinya dengan akal, kaum Ash’ari percaya bahwa al-Quran harus disetarakan dengan Allah — dan karenanya tidak boleh dikaji secara kritis. Inti dari metafisik Ash’ari adalah occasionalisme, sebuah doktrin yang menolak sebab-akibat alamiah. Sederhananya, doktrin tersebut mengatakan bahwa hukum alam tidak bisa ada karena Allah bebas berkehendak. Kaum Ash’ari percaya bahwa Allah adalah sebab utama, jadi dunia hanya sekumpulan kejadian fisik yang bermacam-macam karena kehendak Allah semata [bukan karena ada hukum sebab akibat].

Seperti yang digambarkan Maimonides dalam buku Panduan Orang Bingung (The Guide of the Perplexed), pandangan occasionalisme ini melihat bahwa hal-hal yang alami nampak permanen karena kebiasaan. Api menjadi panas, dan kurang makan jadi lapar karena kebiasaan, bukan kebutuhan, “seperti raja naik di punggung kuda selama jalan di kota, dan raja tidak pernah punya kebiasaan lain; namun akal masih memberi kemungkinan raja jalan kaki.” Menurut pandangan occasionalist, dinginnya hari esok bisa dikarenakan api, dan kenyang bisa dikarenakan kurang makan. Kehendak Allah mencakupi semua kejadian dan Allah tidak akan terikat akal [atau alam]. Ini sama saja sebagai sebuah penolakan terhadap koherensi dan pengertian logis dunia ilmiah. Dalam pidato kontroversial tahun 2006 di Universitas Regensburt, Paus Benedict XVI menggambarkan ide ini dengan mengutip filsuf Ibnu Hazm (meninggal tahun 1064) dengan mengatakan, “Jika itu [benar-benar] kehendak Allah, maka kita harusnya menyembah berhala.” Tidaklah sulit untuk melihat bagaimana doktrin semacam ini bisa membawa kita ke dogma dan akhir dari kebebasan berpikir terhadap sains dan filsafat.

al-ghazali

Suara paling besar dan berpengaruh dalam golongan Ash’ari adalah ahli agama Abu Hamid al-Ghazali (yang juga dikenal sebagai Algazel; meninggal 1111). Dalam buku berjudul Tahafut Al-Falasifah (Kesalahan para Filsuf/The Incoherence of the Philosophers), al-Ghazali secara keras menyerang filsafat dan para filsuf–baik dari Yunani ataupun pengikutnya di dunia Muslim (seperti al-Farabi dan Ibnu Sina). Al-Ghazali khawatir ketika orang terpengaruh argumen filsafat, mereka juga akan percaya para filsuf soal agama, dan membuat Muslim jadi kurang saleh. Rasio, karena mengajarkan cara penemuan, mempertanyakan, dan menginovasi, menjadi musuh Islam; al-Ghazali berargumen bahwa karena filsafat berpegang pada hukum alam, maka ia tidaklah kompatibel dengan ajaran Islam, yang menganggap semua alam dan hukumnya adalah ciptaan Allah dan terserah Allah: “Tak ada satupun di alam ini,” katanya, “yang bisa bergerak sendiri tanpa izin Allah.” Ketika al-Ghazali membela akal, ia membelanya hanya sebagai alat dalam kerangka agama, dan menggunakannya untuk menghancurkan logika filsafat. Kaum Suni mengangkat al-Ghazali sebagai pemenang yang berhasil mengalahkan para pemikir Hellenistik, dan perlawanan terhadap filsafat semakin besar, hingga pemikiran dan penelitian bebas dilarang, dan seringkali dikriminalkan. Namun adalah hal yang berlebihan ketika kita menganggap, seperti Steven Weinberg tulis di Times of London, bahwa setelah al-Ghazali “tidak ada lagi ilmu pengetahuan yang berarti di negara-negara Islam.”‘ Di banyak tempat, khususnya di Asia Tengah, karya-kara ilmiah Arab masih berlanjut cukup lama, dan filsafat masih dipelajari di banyak masyarakat beraliran Syiah. (dalam dunia Suni, filsafat berubah menjadi mistisisme.) Tapi faktanya, kontribusi ilmiah Arab menjadi menyebar ke seluruh dunia justru ketika pemikiran anti-rasional mengusirnya.

Pemikiran Ash’ari bertahan hingga hari ini. Kita bisa melihat pemikiran ini dalam bentuk paling ekstrim sekte-sekte Islam. Contohnya dalam ideologi yang dibawa Mohammed Yusuf, pemimpin Taliban Nigeria, yang mengatakan bahwa “pendidikan Barat adalah dosa.” Simak penjelasannya soal hujan: “Kita percaya bahwa hujan adalah ciptaan Allah, dan bukanlah uap air yang disebabkan panas matahari.” Pandangan Ash’ari juga mengatakan bahwa bencana alam adalah bentuk hukuman Allah, seperti ketika mereka menanggapi meletusnya gunung api Eyjafjallajökull di Islandia, yang mereka klaim sebagai hukuman Allah karena perempuan-perempuan berpakaian tidak pantas di Eropa. Klaim semacam itu terdengar agak gila buat Barat, tapi kita akan sering mendengarnya dalam dunia Muslim; buat orang Muslim bencana alam sebagai azab tidak gila-gila amat. Seperti yang diargumenkan oleh Robert R. Reilly dalam buku Tertutupnya Pikiran Muslim (The Closing of the Muslim Mind) (2010), “Keterputusan yang fatal antara Sang Pencipta dan pikiran mahlukNya adalah kesengsaraan utama kaum Islam Suni.”

Kekeraskepalaan yang sama juga muncul di ranah hukum. Empat abad pertama sejak muncul, Islam adalah agama yang memiliki tradisi diskusi yang kencang dan fleksibilitas ketika bicara soal hukum; ini adalah tradisi yang disebut ijtihad, atau penilaian independen dan berpikir kritis. Tapi pada akhir abad sebelas, segala ide yang tidak sama dilihat sebagai masalah, dan para pemimpin otokratik khawatir ketika ada perselisihan — jadi “gerbang ijtihad” mulai tertutup untuk muslim Suni: ijtihad [terhadap hukum] dianggap tidak lagi perlu karena semua pertanyaan penting soal hukum dianggap sudah dijawab. Pembacaan baru terhadap Al-Quran dianggap sebagai kejahatan. Yang diperbolehkan hanya kepatuhan terhadap instruksi dari otoritas keagamaan; untuk mengenal moralitas, orang hanya perlu membaca fatwa. Pemikir yang melawan dilihat sebagai penjahat. (Ibnu Rushid, mislanya, diasingkan karena dianggap bid’ah dan buku-bukunya dibakar.)

Bersambung ke bagian IV

[catatan penerjemah: Ijtihad yang dimaksud penulis sebenarnya adalah Ijtihad menyoal hukum syariah Islam, yang  tidak dilarang dalam tradisi Suni, namun hanya boleh dilakukan oleh ahli fiqih atau Mujtahid (baca: orang yang menguasai teologi Islam, bahasa Arab, dll.). Namun Ijtihad dalam bidang-bidang lain, termasuk hukum negara sekuler justru diharuskan untuk seorang Muslim. Ditutupnya “Gerbang Ijtihad” berarti semua permasalahan yang sudah ada hadistnya tidak boleh lagi dikritisi, dianggap sudah jelas, dan kalaupun ada masalah baru, yang boleh berijtihad hanya Mujtahid. Namun nantinya ini jadi masalah besar di negara Islam Suni yang tidak memakai hukum sekuler, atau konsep demokrasi negara modern, karena semua dasarnya syariah, maka  Ijtihad (berpikir kritis, dalam, dan sungguh-sungguh tentang suatu masalah) jadi dilarang untuk banyak hal, cuma Mujtahid yang boleh bicara soal biologi, misalnya–kategorisasi jadi kacau. Di Indonesia (dengan populasi Islam Suni terbesar di dunia), Ijtihad dianjurkan sebagian besar ulama untuk banyak hal kecuali syariah Islam. Karenanya, gerakan seperti Jaringan Islam Liberal, yang menggunakan referensi di luar al-Quran dan Hadist dalam masalah syariah, tidak diperbolehkan oleh kaum Islam Suni kebanyakan. Di sisi lain, masalah juga sering terjadi ketika Mujtahid mulai ikut campur masalah non-agama, seperti yang beberapa kali dilakukan Majelis Ulama Indonesia.] 

Anthropology, Filsafat, Kurasi/Kritik, Politik, Racauan, terjemahan

Peradaban Sains Islam, Bagian I: Kontribusi Ilmuan Arab

Diterjemahkan tanpa izin dari tulisan Hilel Ofek, di jurnal The New Atlantic, no. 30 tahun 2011, halaman 3-23, Why The Arabic World Turned Away From Science. 

 

Islam kontemporer tidak dikenal karena keterlibatannya dalam proyek sains modern. Tapi Islam adalah pewaris “Masa Keemasan” yang legendaris dari sains Arab yang sering dielu-elukan oleh para komentator, supaya Muslim dan Barat bisa saling menghormati dan mengerti satu sama lain. Presiden Obama, contohnya, di pidatonya tanggal 4 Juni 2009 di Kairo, memuji Muslim untuk kontribusi intelektual dan keilmuannya pada peradaban.

Islamlah yang membawa cahaya belajar selama berabad-abad, membuat jalan untuk Reinassance di Eropa dan masa Pencerahan. Inovasi di komunitas Muslim berkembang menjadi aljabar; kompas magnet dan alat navigasi; kemampuan kita menggunakan tinta dan mencetak; dan pengertian kita tentang bagaimana penyakit bisa menular dan bagaimana menyembuhkannya.

Puja-puji untuk era sains Dunia Arab biasanya dibuat untuk melayani titik politik yang lebih luas, karena biasanya ia jadi pendahuluan sebelum membicarakan masalah terkini wilayah tersebut. Puja-puji itu menjadi nasihat yang tersembunyi: Masa kehebatan sains dunia Arab memperlihatkan saat itu tidak ada halangan kategori atau asali untuk menjadi toleran, kosmopilitan, dan untuk maju dalam Islam Timur Tengah.

Siapapun yang sudah tahu soal Zaman Keemasan ini, yang secara kasar terbentang dari abad delapan sampai abad tiga belas masehi, pasti tercengang ketika membandingkannya dengan keadaan Timur Tengah hari ini–apalagi ketika membandingkan Timur Tengah dengan bagian dunia yang lain. Dalam bukunya yang terbit tahun 2002, What Went Wrong? (Apa Yang Salah?), sejarawan Bernard Lewis mencatat bahwa “selama berabad-abad, dunia Islam adalah yang terdepan dalam peradaban dan pencapaian manusia.” “Tidak ada seorangpun di Eropa,” tulis Jamil Ragep, seorang profesor Ilmu Sejarah di Universitas Oklahoma, “yang dapat memberikan titik terang tentang apa yang terjadi di dunia Islam sampai sekitar tahun 1600.” Aljabar, algoritma, alkimia, alkohol, alkali, nadir, zenith, kopi, dan lemon: ini adalah kata-kata turunan bahasa Arab, menunjukan kontribusi Islam kepada dunia Barat.

Namun hari ini, semangat keilmuan di dunia Muslim sekering gurun pasir. Fisikawan Pakistan, Pervez Amirali Hoodbhoy meletakannya dalam statistik menyedihkan di artikel tahun 2007 jurnal Physics Today: Negara-negara Muslim punya sembilan ilmuan, insinyur, dan teknisi per seribu orang, dibanding dengan negara-negara berkembang lain di dunia yang perbandingannya 40:1. Di negara-negara muslim terdapat 1800 universitas, tapi hanya sekitar 312 dari sarjana di sana yang telah menerbitkan artikel jurnal. Dari lima puluh universitas yang paling sering menerbitkan jurnal, dua puluh enam ada di Turki, sembilan ada di Iran, Malaysia dan Pakistan masing-masing punya tiga, Uganda, U.A.E, Saudi Arabia, Lebanon, Kuwait, Yordania, dan Azerbaijan masing-masing punya satu.

Kurang lebih ada 1,6 milyar Muslim di dunia, tapi hanya ada dua ilmuan dari negara Muslim yang memenangkan Hadiah Nobel di Sains (satu untuk fisika tahun 1979, yang lain untuk kimia di 1999). Empat puluh enam negara-negara Muslim jika digabungkan semua hanya berkontribusi 1 persen di literatur keilmuan dunia; Spanyol dan India, masing-masing berkontribusi lebih pada Literatur Sains Dunia dibanding semua negara Islam digabungkan. Malahan, walaupun Spanyol bukan superpower intelektual, Spanyol telah menerjemahkan lebih banyak buku dalam setahun daripada seluruh dunia Arab selama seribu tahun belakangan ini. “Walaupun banyak ilmuan berbakat dari dunia Muslim yang bekerja secara produktif di Barat,” kata peraih Nobel fisika, Steven Weinberg, “selama empat puluh tahun terakhir, saya belum melihat satupun paper oleh fisikawan atau astronomer dari negara Muslim yang pantas dibaca.”

Metriks perbandingan di dunia Arab juga mengatakan hal yang sama. Arab terdiri dari 5 persen dari populasi dunia, tapi hanya menerbitkan 1,1 persen dari buku di dunia, menurut laporan PBB, Arab Human Development Report tahun 2003. Antara tahun 1980-2000, Korea telah menghasilkan 16.328 hak paten, sementara sembilan negara Arab, termasuk Mesir, Saudi Arabia, dan UAE, dalam jangka tahun yang sama hanya menghasilkan 370, itupun kebanyakan didaftarkan oleh orang asing non-Arab. Sebuah studi tahun 1989 menemukan bahwa dalam satu tahun, Amerika Serikat menerbitkan 10.482 paper ilmiah yang banyak dikutip, sementara seluruh dunia Arab hanya menerbitkan empat. Ini mungkin terdengar seperti lelucon yang buruk, tapi majalah Nature menerbitkan sebuah sketsa tentang sains di dunia Arab tahun 2002, wartawannya hanya mengenali tiga area sains yang dikuasai negara-negara Islam: desalinasi (ilmu pemisahan garam), falconry (olah raga berburu dengan elang), dan reproduksi unta. Dorongan untuk membuat riset dan institusi keilmuan baru di dunia Arab jelas masih jauh– digambarkan di artikel in oleh Waleed Al Shobakky (lihat “Petrodollar Science,” (“Sains Dollar-Minyak”) edisi musim gugur 2008).

8cce9f0cc74fd58c3fb422a687df3d55

Melihat bahwa sains Arab adalah yang paling maju di dunia sampai abad ke tiga belas, maka sangatlah menggoda untuk mencari tahu, apa yang salah —  kenapa sains modern tidak muncul dari Baghdad atau Kairo atau Kordoba. Kita akan kembali ke pertanyaan ini belakangan, tapi sangatlah penting untuk ingat bahwa kejatuhan aktivitas sains adalah aturan, bukan pengecualian, dari peradaban-peradaban. Walau sudah umum untuk berasumsi bahwa revolusi keilmuan dan perkembangan teknologi tak terbendung, sebenarnya dunia Barat adalah satu-satunya kisah sukses peradaban yang periode mekarnya cukup lama. Seperti Muslim, Cina Kuno dan Peradaban India, semua pernah lebih maju dari Barat, tapi tidak membuat revolusi keilmuan.

Terlebih lagi, walau kejatuhan peradaban Arab tidak terlalu istimewa, alasan-alasan kejatuhannya menawarkan petunjuk kepada sejarah dan sifat Islam serta hubungannya dengan modernitas. Kejatuhan Islam sebagai kekuatan intelektual dan politik terjadi secara perlahan tapi jelas: sementara Masa Keemasan luar biasa produktifnya, dengan kontribusi yang dibuat pemikir Arab seringkali orisinil dan inovatif, tujuh ratus tahun terakhir telah memberikan cerita yang lain.

Kontribusi Orisinil Sains Arab

Saya harus memperingatkan tentang dua bagian dari istilah “sains Arab.” Ini adalah, pertama, karena ilmuan yang kita diskusikan di sini tidak semuanya Muslim (atau) Arab asli. Bahkan, kebanyakan pemikir terbesar dari era ini tidak berasal dari etnis Arab. Ini tidaklah mengejutkan ketika kita melihat bahwa selama beberapa abad di sepanjang Timur Tengah, Muslim adalah minoritas (sebuah trend yang baru berubah di akhir abad sepuluh). Peringatan kedua tentang “sains Arab,” adalah sains saat itu berbeda dengan sains saat ini. Sains pre-modern, walau tidak buta akan fungsi-guna suatu ilmu, mencari pengetahuan utamanya dalam rangka mengerti pertanyaan-pertanyaan filosofi mengenai makna, keberadaan, kebaikan, dan lain sebagainya. Sains modern, kebalikannya, tumbuh dari revolusi pemikiran yang mengorientasi ulang politik untuk kenyamanan individual, melalui penguasaan terhadap alam. Sains modern menyingkirkan pertanyaan metafisika kuno dan menggantinya jadi (meminjam kata-kata Francis Bacon) usaha untuk mendapatkan kenikmatan dan kesombongan diri. Apapun yang diambil oleh sains modern dari sains Arab, aktivitas intelektual pada abad pertengahan Islam tidak sama dengan revolusi sains Eropa, yang datang dari perpecahan radikal dengan filsafat  kuno. Karena itulah ketika kita menggunakan isitlah “sains” untuk kemudahan membaca, penting sekali untuk ingat bahwa kata ini tidak ditemukan sampai abad ke sembilan belas; kata terdekat dalam bahasa Arab adalah ilm (ilmu), yang artinya “pengetahuan,” dan ilmu belum tentu tentang alam.

Walau begitu, masih ada dua alasan kenapa masuk akal untuk merujuk aktivitas sains di Masa Keemasan sebagai Sains Arab. Pertama, kebanyakan karya filosofis dan keilmuan saat itu diterjemahkan ke bahasa Arab, yang menjadi bahasa kebanyakan sarjana di daerah itu, apapun etnis atau agamanya. Dan kedua, nama alternatif seperti “sains Timur Tengah,” atau “sains Islam,” lebih tidak akurat lagi. Hal ini sebagian disebabkan karena kita tak tahu banyak tentang latar belakang pribadi para pemikir ini. Ini juga disebabkan karena hal lain yang tidak kalah penting untuk diperhatikan soal Zaman Keemasan: ternyata hanya sedikit yang kita tahu pasti tentang konteks historis dan sosial dari zaman ini. Abdehamid I. Sabra, sekarang seorang pensiunan profesor sejarah Sains Arab yang mengajar di Harvard, menggambarkan lapangan penelitiannya di the New York Times tahun 2001, sebagai lahan penelitian yang “bahkan belum dimulai.”

Dengan pengakuan itu, bidang ini telah maju cukup jauh untuk dengan meyakinkan dan mendemonstrasikan bahwa peradaban Arab berkontribusi cukup banyak kepada sains daripada transmisi keilmuan ke Barat yang lain (seperti penomoran dari India dan pembuatan kertas dari Cina). Satu hal yang pasti, bangkitnya akademik di masa dinasti Abbasid Baghdad (751-1258) yang menghasilkan penerjemahan semua karya saintifik klasik Yunani ke dalam bahasa Arab, tidaklah main-main. Tapi di luar penerjemahan (dan komentar tentang) peradaban kuno, pemikir Arab juga membuat kontribusi orisinil, baik melalui tulisan ataupun moteode eksperimentasi, di bidang-bidang seperti filsafat, astronomi, kedokteran, kimia, geografi, fisika, optik, dan matematika.

Mungkin klaim yang paling sering diulang-ulang tentang Masa Keemasan adalah bahwa umat Muslim menciptakan aljabar. Klaim ini benar adanya: pada awalnya ilmu ini diinspirasi dari karya-karya Yunani dan India, lalu ilmuan Persia al-Khwarizmi (meninggal tahun 850), menulis buku yang dari judulnya kita mendapat istilah “aljabar.” Buku tersebut dimulai dengan perkenalan terhadap matematika, dan dilanjutkan untuk menjelaskan bagaimana untuk memecahkan masalah-masalah umum waktu itu mengenai perdagangan, warisan, pernikahan, dan emansipasi budak. (Metodenya tidak melibatkan persamaan atau simbol aljabar, tetapi menggunakan figur-figur geometri untuk memecahkan masalah yang hari ini bisa dipecahkan aljabar.) Walaupun berdasarkan urusan praktis, buku ini ada sumber utama yang berkontribusi pada perkembangan sistem aljabar yang kita tahu hari ini.

Masa Keemasan juga melihat kemajuan dalam ilmu kedokteran. Salah satu pemikir paling terkenal dalam sains Arab, dan dianggap salah satu dokter terbaik abad pertengan adalah Rhazes (juga dikenal sebagai al-Razi). Dilahirkan di daerah yang sekarang disebut Teheran, Rhazes (meninggal tahun 925) dilatih di Baghdad dan menjadi direktur dua rumah sakit. Ia mengidentifkasi penyakit cacar dan campak, menulis sebuah risalah tentang dua penyakit itu, yang menjadi buku berpengaruh sampai ke luar Timur Tengah, termasuk ke Eropa di abad ke 19. Rhazes adalah dokter pertama yang menemukan bahwa demam sesungguhnya adalah mekanisme pertahanan. Ia juga penulis sebuah ensiklopedia kedokteran sepanjang dua puluh tiga volume. Apa yang paling mengesankan dari karirnya, seperti yang dikatakan Ehsan Masood dalam Science and Islam, adalah Rhazes adalah orang pertama yang secara serius menantang kekokohan dokter Yunani klasik, Galen. Sebagai contoh, ia menantang teori Galen soal keseimbangan cairan tubuh (Humors). Ia membuat sebuah eksperimen untuk melihat apakah mengambil darah, yang sampai abad ke sembilan belas menjadi prosedur yang biasa dilakukan, ada gunanya sebagai prosedur medis. (Ia menemukan, bahwa memang ada gunanya). Rhazes adalah contoh jelas seorang pemikir yang secara eksplisit bertanya, dan secara empiris menguji, teori yang sudah diterima secara luas dan ditulis oleh seorang dokter terkenal, sambil memberikan kontribusi orisinil terhadap sebuah profesi.

4da2ea8dc39ec39a6a0a134328d099c3
Sejarah dunia keilmuan di sebuah madrasah di Reqistan Square, Samarkand, Turkii (Uzbek): Avicenna, Ali Kuschu, Khwarezmi, Muhammad al-Bukhari, Fergane, Farabi, Abdul Hamid el-Turk dll. Photo Credit Alptekin Cevherli (Turki)

Pencapaian besar di dunia medis berlanjut dengan dokter serta filsuf Avicenna (juga dikenal sebagai Ibnu Sina; meninggal tahun 1037), yang dinilai sebagai dokter terpenting semenjak Hippocrates. Ia menulis Canon of Medicine (Kanon Kedokteran), sebuah survey medis multi-volume yang menjadi rujukan penting untuk dokter di wilayah tersebut, dan — pernah diterjemahkan ke dalam bahasa latin — menjadi buku wajib di Barat selama enam abad. Kanon ini adalah kompilasi dari pengetahuan medis dan sebuah manual untuk mengetes obat. Di dalamnya juga ada penemuan-penemuan Ibnu Sina, termasuk tentang bagaimana tuberculosis (TBC) menular.

Seperti Renaissance Eropa setelahnya, Zaman Keemasan juga punya banyak ilmuan multidisiplin (polymath) yang unggul dan maju dalam banyak bidang. Salah satu polymath itu adalah al-Farabi (juga dikenal sebagai Alpharabius, meninggal sekitar tahun 950), seorang pemikir Baghdad yang, selain tulisannya mencakup filsafat Platonik dan Aristotelian, juga menulis fisika, psikologi, alkemi, kosmologi, musik, dan banyak lainnya. Ia begitu cerdasnya, hingga dikenal sebagai “Guru Kedua”–kedua terbaik setelah Aristoteles. Polymath lain adalah al-Biruni (meninggal 1048), yang menulis 146 risalah berjumlah 13,000 halaman tentang semua bidang keilmuan. Buku terkenalnya, Deskripsi India, adalah sebuah karya antropologi tentang Hindu. Salah satu pencapaian terbesarnya adalah pengukuran hampir akurat tentang lingkar bumi menggunakan metode trigonometrinya sendiri; ia hanya kurang 321,89 KM dari lingkar bumi yang benar hari ini, 40072,666 KM. (Namun, tidak seperti Rhazes, Ibnu Sina, dan al-Farabi, karya al-Biruni tidak pernah diterjemakan ke dalam bahasa Latin, karenanya tidak punya pengaruh besar di luar dunia Arab.) Pemikir brilian lain di Zaman Keemasan adalah ahli geometri Ahazen (Juga dikenal sebagai Ibnu al-Haytham; meninggal 1040). Walau warisan terbesarnya tentang ilmu optik — ia menunjukkan kesalahan di teori extramission, yang mengatakan bahwa mata kita mengeluarkan energi yang membuat kita bisa melihat —  ia juga mengerjakan astronomi, matematika, dan teknik. Dan mungkin, ilmuan paling terkenal dari Zaman Keemasan adalah Averroës (juga dikneal sebagai Ibnu Rushid; meninggal 1198), seorang filsuf, ahli agama, dokter, dan ahli hukum yang dikenal karena kritiknya terhadap Aristotles. Dalam 20.000 lembar yang ia tulis selama hidupnya, adalah karya tentang filsafat, kedokteran, biologi, fisika, dan astronomi.

Bersambung ke bagian II