Buku, Kurasi/Kritik

Badut Zarathustra dan Labirin Ruhlelana (Bagian III dari V)

manonwire
Dari Dokumenter Man on WIre (2008)

Saya adalah badut Zarathustra yang sedang menyebrangi tali tipis. Lihatlah bagaimana saya berusaha sampai ke ujung.

Bagian ketiga adalah BLUES. Seperti Jazz, Blues adalah musik yang penuh improvisasi. Namun berbeda dengan Jazz, mood dalam musik blues, seperti namanya adalah kegundahan, kegalauan akan cinta dan kebebasan. Stuart Hall, ahli Kajian Budaya asal Jamaika, menulis bahwa kebudayaan orang kulit hitam di Amerika, yang melahirkan musik Blues, adalah budaya yang ‘rindu’ pada Afrika yang hilang dan mereka ketahui hanya dari cerita-cerita tentang tanah leluhur.[1] Berbeda dengan diaspora orang Cina yang kebanyakan datang atas motivasi politis dan ekonomi, membuat grup-grupnya sendiri dalam pecinan, dan memiliki hubungan langsung dengan benua asalnya, budaya Afrika-Amerika lebih mengenaskan. Orang-orang kulit hitam masuk dari jalur perbudakan. Kristenisasi dan perbudakan membuat mereka tercerabut dan melupakan akar mereka, tanpa punya kebebasan untuk berhubungan dengan benua asalnya. Yang membuat Blues adalah sebuah kerinduan akan akar yang ‘diimajinasikan’. Blues adalah musik yang hadir sebagai campuran dari kesedihan, opresi dan darah, Di tangan para budak kulit hitam, musik Gospel di gereja diinterpretasi ulang menjadi Blues, dengan masalah personal dan sosial di dalamnya.

Baca lebih lanjut

Buku, Kurasi/Kritik, Uncategorized

Badut Zarathustra dan Labirin Ruhlelana (Bagian II dari V)

zarathustra clown

Lihat bagian I.

Saya adalah badut Zarathustra yang berdiri di ujung tiang, melihat tali tipis dan di ujung tali itu adalah bayangan diri saya yang menjadi overman. Di bawah sana orang-orang bagai semut. Memang, semua yang dilihat dari ketinggian adalah kesederhanaan.

Inilah cara saya mengambil makna dalam buku ini: saya tidak melihatnya sebagai karya sastra. Saya melihat buku ini sebagai sebuah labirin yang di dinding-dindingnya ada berbagai macam lukisan yang secara spesifik hadir sebagai anak haram zaman modern. Ervin Ruhlelana adalah hasil perkawinan antara modernitas barat dengan seorang pelacur bernama Indonesia. Seorang anak haram jadah.

Baca lebih lanjut

Buku, Kurasi/Kritik, Uncategorized

Badut Zarathustra dan Labirin Ruhlelana (Bagian I dari V)

BPS4pE8CEAAkUGl.jpg-large

Sebuah pengantar yang saya buat untuk buku kumpulan cerpen Ervin Ruhlelana, “Fiksi-fiksi Benang Merah (dalam 4 Genre).”

Saya adalah badut Zarathustra yang sedang memanjat tiang.

Yang ada di tangan anda seperti Indonesia. Sebuah negeri besar yang memiliki penduduk sangat banyak namun selalu dalam keadaan mengambang dan bingung. Sebuah bangsa yang setiap hari menemukan dirinya terjebak dalam sejarah baru—sejarah yang terus diungkap dan hanya sebagian orang mau melihat kenyataannya, sisanya memilih hidup dengan sejarah yang lebih familiar: ilusi peninggalan Soeharto atau mitologi fabrikasi agama. Sebuah bangsa yang terdiri dari individu-individu sesat arah yang masing-masing sadar atau tidak sadar memilih identitas dan membuat sejarahnya sendiri. Sejarah yang seringkali fiktif. Sejarah diri yang tidak berpegangan banyak pada fakta-fakta tetapi pada mitos dan rumor.

Baca lebih lanjut