Memoir, Racauan

Kerja adalah Hidup

“Tahu apa yang kau mau itu tidaklah normal”
—-Jack Ma

Permasalahan umum banyak orang adalah untuk tahu mau apa sebenarnya kita dalam hidup. Orang mencari makna besar hidupnya, dan biasanya yang termudah pemaknaan itu diberikan oleh struktur-struktur yang sudah ada dan jadi, seperti agama ataupun keluarga. Agama memberikan sebuah makna bahwa hidup harus digunakan sebaik-baiknya untuk dunia setelah mati. Sementara keluarga biasanya memberikan referensi-referensi pada seseorang untuk jadi seperti apa: keluarga PNS ingin anaknya jadi PNS, keluarga seniman ingin anaknya jadi seniman, keluarga polisi ingin anaknya jadi polisi (atau menikah dengan polisi), dan seterusnya. Dua jalur tadi, agama dan keluarga, menentukan jalur hidup kebanyakan orang. Karena kebanyakan orang tidak tahu maunya apa di dunia ini, maka pilihan yang sudah jelas adalah pilihan teraman, dengan koneksi dan doktrin sosial yang sudah jadi.

Dan menjadi tidak tahu, ikut arus, adalah normal. Yang tidak normal adalah tahu pasti mau jadi apa di usia yang sangat muda. Ini bisa jadi jenius, bisa juga jadi bodoh. Lalu bagaimana caranya mencari kerja, yang bukan sembarang kerja? Kerja yang kita suka yang membuat hidup kita cukup, syukur-syukur bisa kaya?

Pertama, yang terpenting singkirkan dulu definisi kerja untuk memenuhi kebutuhan hidup, walaupun sesungguhnya itu esensinya. Coba kita pikirkan kerja secara eksistensial, yang mendefinisikan diri kita. Ketika kita kenalan sama orang kita selalu bawa-bawa kerjaan thoh? Nosa, videographer; Nyoto, politisi komunis; Jonjin, Karyawan; Atun, artis; dll. Tapi coba lihat di kehidupan, apakah yang mendefinisikan hidupmu? Pekerjaanmu atau pola konsumsimu?

Kalau pekerjaanmu mendefinisikan hidupmu, kemungkinan kau sudah dapat apa yang kau mau. Pekerjaanmu bisa kau kontrol, dan kau suka dan kau jago melakukannya. Kau adalah seorang profesional. Tapi kalau kau bekerja untuk memenuhi pola konsumsi, belanja yang tak ada habisnya, hingga kau merasa lelah dan tak suka pekerjaanmu, itu masalah. Kontrol pola konsumsimu, menabung, lalu carilah pekerjaan lain.

Kedua, berhenti dengarkan orang lain tentang apa yang harusnya jadi pekerjaan idealmu, kau coba saja ikuti orang yang sedang menjalani pekerjaan idealnya. Kerjalah dibawah orang yang sedang berjuang dalam pekerjaan yang mendefinisikan hidupnya. Jalurmu nantinya tidak perlu sama seperti jalurnya, tapi kau akan tahu rasanya berjuang, apalagi kalau umurmu antara 20-30 tahun. Ini saatnya ikut-ikut orang hingga akhirnya kau sendiri yang menjadi pejuang.

Ketiga, dengarkan anak kecil penasaran di dalam jiwamu untuk mencoba-coba segala macam skill, pekerjaanmu adalah sebuah kerja yang panjang, menderita, melelahkan, tapi kau kuat melakukannya karena rasanya seperti bermain.  Kalau pekerjaan ini tidak menghasilkan uang, maka carilah pekerjaan lain yang menghasilkan uang, lebih mudah, dan memberikanmu waktu untuk melakukan perkerjaan kesukaanmu. Jadikan pekerjaan kesukaanmu tujuan hidupmu, cita-cita pensiunmu. Maka, kau akan bahagia—nggak sih bohong, nggak ada orang yang akan benar-benar bahagia seperti nggak ada yang akan benar-benar sedih juga. Intinya, kau jadi punya hiburan yang produktif di hidupmu.

Ini bukan tulisan how-to atau nasihat. Ini adalah sebuah catatan untuk diri saya sendiri karena saya sudah dan sedang melakukannya. Nanti saya akan berbagi hasilnya, tapi so far sih so good. Karena saya menemukan dalam hidup saya hari ini, bahwa satu-satunya yang bisa saya kendalikan adalah pekerjaan saya, melebihi kesehatan, keluarga, apalagi nyawa.

Tabik.

 

Anthropology, Politik, Racauan

Racauan soal TK di I

Sumber Foto: Detik
Sumber Foto: Detik

Kalo tenaga kerja ahli dari luar udah masuk, bisa ngajarin orang sini, tapi orang sininya pas udah jago dibayar 1/10 tenaga ahli mah sama juga boong.

Terus lu pake nanya kenapa orang2 pinter Indonesia banyak yg ga punya nasionalisme dan pengabdian?

Status FB hari ini

Banyak keluhan kita-kita soal persaingan tak sehat antara pekerja profesional kelas menengah Indonesia, dengan mereka yang menyebut dirinya ‘expat’. Masalah inferioritas muncul dari karyawan sampai ke manajemen, yaitu melihat bahwa mereka yang berasal dari luar dihargai lebih dari yang lokal. Ini bukan hanya berlaku bagi bule, tapi juga bagi kawan-kawan lain dari Asia, seperti Filipina misalnya.

Baca lebih lanjut