Cinta, Eksistensialisme, Puisi

Vanili

Ivan dan Lily malam ini
Tergeletak di jalan sepi
Dua kekasih hati
Sudah dipisahkan mati

Kebut-kebut, rasa menggebu
Gebu-gebu dada berpacu
Pacu-pacu menuju ayahmu
Malam ini kulamar kamu

Berdua sepulang kerja
Lily dan Ivan menatap senja
Dari atas flyover Jakarta
Ivan menyatakan cinta

Sudah bersahabat tahun ke lima
Sudah lewat banyak masa
Dan gagalnya banyak cinta
Tentu saja, Lily bilang iya

Tapi kau harus temui aku punya Papa

Alam, Eksistensialisme, Perlawanan, Puisi, Uncategorized

Jiwa-Jiwa Yang Mati Sia-Sia

Jiwa-jiwa yang mati sia-sia
apa cerita yang bisa kita tapa

Semua yang telah direnggut paksa tak akan ada yang kembali jua
lalu perjuangan ini buat apa selain buat nanti di sebuah masa

Jiwa-jiwa yang mati sia-sia
siapa mereka kita sudah lupa

Semua yang telah terbawa sungai arwah menuju ekor ular
yang dia makan sendiri dan terdaur dalam sungai waktu

Jiwa-jiwa yang mati sia-sia
kenapa harus kita kenang

Semua harus tercatat dan terbahas kita daur ulang dalam karya
agar semu selalu ingat bahwa di sisik-sisik ular ada nyawa-nyawa

Jiwa-jiwa yang mati sia-sia
bagaimana caranya bermakna

Semua boleh terlupa tetapi air sungai yang mengalir tidak boleh sama
sisik ular yang terdaur harus lebih berwarna hingga kiamat tiba